RENJANA PENDEKAR : JILID-37


Sambil memandangi bungkusan yang dipegang Gin-hoa-nio itu, mendadak Kwe Pian-sian mendengus, “Hmm, padahal boleh juga kalau kau ingin pergi, bahkan bungkusan itu boleh kau bawa sekalian!”

Gin-hoa-nio melengak. ”Betul?” katanya dengan curiga.

Dengan dingin Kwe Pian-sian menjawab, “Kenapa tidak kau periksa dulu isi bungkusanmu itu?”

“Apa isi bungkusan ini?” tukas Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Ha-ha-ha, tanpa melihatnya aku tahu apa isinya.”

Tetapi ia pun merasakan ucapan Kwe Pian-sian itu ada sesuatu maksud tertentu, meski begitu ucapannya di mulut, bungkusan yang dipegangnya itu lantas ditimang-timang dan diraba-raba, mendadak ia melonjak kaget dan berteriak, ”Wah, celaka!”

Sesudah bungkusan itu dibuka, mana ada batu permata atau harta pusaka apa segala, isinya hanya pecahan genteng melulu.

Begitu bungkusan itu terbuka, seketika Gin-hoa-nio mirip kena dibacok orang satu kali, hampir saja dia jatuh kelenger. Ji Pwe-giok dan Ciong Cing juga terkesiap. Hanya Kwe Pian-sian saja yang tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, dia malah mengejek,

“Nah bagaimana? Apa isinya? Tidak perlu dibuka kan sudah kau ketahui?”

Dengan suara terputus-putus Gin-hoa-nio berkata, “Dan dari... dari mana kau tahu...”

Kwe Pian-sian tersenyum hambar, katanya, “Kalau isi bungkusan ini adalah batu permata yang berharga tentu suara langkahnya pada waktu naik ke atas loteng ini berbobot lain... Memangnya kau kira mata dan telingaku sama tidak bergunanya seperti dirimu?”

Mendelik Gin-hoa-nio, ucapnya dengan menggigit bibir, “Tapi... tapi siapa pula yang telah mempermainkan diriku, siapa yang telah menukar barangku? Padahal waktu menyimpan barangku ini telah kulakukan dengan sangat hati-hati, bukan cuma jendela dan pintu saja kututup rapat, bahkan lampu juga kupadamkan, siapa yang dapat mengetahui rahasiaku?”

Dia mengitari ruangan kamar sambil terus bergumam, “Jangan-jangan Ji Hong-ho... ya, benar, hanya rase tua ini yang paling mencurigakan. Dia datang ke sini dan menempati kamar yang pernah kutinggali, bisa jadi segenap pelosok kamar itu sudah diperiksanya seluruhnya.”

“Kalau benar harta pusaka itu telah ditemukan dia, mungkin selama hidup ini jangan kau harap akan kau dapatkan kembali,” kata Pwe-giok.

Kwe Pian-sian juga diam saja, dia hanya memandangi si sakit dengan termangu. Orang sakit itu sejak tadi tidak pernah bergerak sedikit pun.

Tanpa terasa pandangan Gin-hoa-nio ikut menjurus ke sana. Tiba-tiba dia melihat si sakit yang tampaknya kurus kering tinggal kulit membalut tulang itu. Di tempat tidurnya yang tertutup selimut itu tampak menonjol tinggi ke atas, di dalam selimut seperti tersembunyi apa-apa.

Saat itu cahaya matahari menyorot miring masuk dan menyinari selimut itu, kelihatan di dalam selimut itu ada sesuatu yang bergerak-gerak.

Gemeredep sinar mata Gin-hoa-nio. Tiba-tiba saja dia tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Tak tersangka aku telah berubah menjadi orang buta melek, sampai apa yang terdapat di depan mata tidak kulihat.”

Sembari menyeringai segera ia mendekati tempat tidur orang sakit itu.

“He, kau mau apa?” seru Pwe-giok dengan dahi berkerut.

Gin-hoa-nio tertawa terkikik-kikik, katanya, “Di dalam selimut seperti ada permainan yang menarik, ingin kusingkapnya agar kita dapat melihatnya.”

Sementara itu dia sudah berada di depan tempat tidur, segera tangannya terjulur.

Siapa tahu orang sakit itu mendadak membuka matanya lantas berkata sambil mendelik, “Asal sedikit saja kau singkap selimut ini, mungkin kau akan segera mati tanpa terkubur.”

Si sakit yang tampaknya sudah senin-kemis itu mendadak bisa mengucapkan kata-kata begitu, matanya yang semula tampak sayu dan guram itu kini mendadak memancarkan sinar yang tajam.

Entah mengapa, hati Gin-hoa-nio merasa ngeri, tangan yang terjulur itu tidak jadi meraih selimut, sebaliknya ia malah menyurut mundur.

Perlahan si sakit pejamkan matanya pula, mukanya tersorot cahaya sang surya, tampak tidak banyak bedanya dengan mayat. Tidak mungkin sakitnya ini cuma pura-pura belaka.

Setelah tenangkan diri, dengan tertawa. Gin-hoa-nio berkata pula, “Apakah betul selimut ini tidak boleh disingkap?”

“Ya,” jawab si sakit.

“Tetapi pembawaanku tidak percaya dengan hal-hal yang mustahil, semakin tidak boleh dilihat, semakin ingin kulihatnya,” kata Gin-hoa-nio

Si sakit menghela napas, katanya kemudian “Kalau begitu, Lui-ji, boleh kau perlihatkan kepadanya.”

Waktu dia bicara begitu, jelas Cu Lui-ji masih berada di bawah loteng, tetapi baru selesai ucapannya, tahu-tahu Cu Lui-ji sudah naik ke atas, katanya sambil melototi Gin-hoa-nio, “Benar-benar kau ingin melihatnya? Kau tidak akan menyesal?”

“Menyesal apa? Memangnya di dalam selimut ini ada makhluk aneh?” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa, walau pun begitu, di dalam hati sebenarnya sudah rada ngeri...

Padahal kedua orang ini, yang satu anak kecil kurus pucat, yang lain sedang sakit keras, jelas tidak mungkin dapat menyerang orang. Gin-hoa-nio sendiri tidak tahu sesungguhnya apa yang menakutkan dirinya?

Dilihatnya Cu Lui-ji lantas turun ke bawah. Waktu naik lagi ia membawa sebuah mangkuk besar penuh berisi air jernih. Dia keluarkan sebuah kotak kecil warna hitam, dengan kuku jari dicukitnya setitik bubuk hitam yang disentilkan ke dalam air. Air semangkuk penuh itu seketika berubah menjadi hitam seperti tinta.

Gin-hoa-nio memandangnya dengan kesima, ia pun tidak dapat menerka permainan apa yang sedang dilakukan nona cilik itu.

Lalu Cu Lui-ji menaruh mangkok besar itu di sudut kamar. ia pandang Gin-hoa-nio sambil tersenyum, katanya, “Tunggu sebentar lagi hal-hal yang menarik segera akan muncul.”

Senyuman nona itu seakan-akan mengandung sesuatu yang sangat misterius, sampai Ji Pwe-giok juga rada tegang. Mata Gin-hoa-nio juga terbelalak lebar.

Tertampaklah selimut yang menutupi badan si sakit itu mulai bergerak, makin lama makin keras, bergolak seperti ombak samudera. Loteng kecil ini biar pun terang benderang oleh sinar matahari, akan tetapi mendadak seperti berubah dingin menyeramkan.

Saking ketakutan Ciong Cing sudah berjongkok dan meringkuk menjadi satu, kaki beserta tangannya sudah dingin seluruhnya.

Gin-hoa-nio tak tahan, katanya, ”Apa pun yang ter... terdapat di dalam selimut, aku... aku tidak ingin... tidak lagi ingin melihatnya...”

“Baru sekarang kau tidak ingin melihatnya, tapi sudah terlambat,” kata Cu Lui-ji.

Pada saat itulah dari dalam selimut mulai menongol sesuatu, kiranya seekor kelabang.

Kelabang ini tidak besar, malah jauh lebih kecil dari pada kelabang umumnya, akan tetapi seluruh badannya merah terang mirip mainan buatan dari batu jade. Di belakang kelabang ini mengikut pula dua-tiga puluh ekor kelabang lain yang warnanya beraneka dan besar kecilnya tidak sama. Satu persatu seperti berbaris merayap keluar secara teratur. Jelas setiap ekor kelabang ini beracun sangat jahat.

Gin-hoa-nio tertawa mengikik, “Hi-hi kukira barang apa yang bisa menakuti orang, kiranya cuma kawanan kelabang saja. Pada waktu berumur tiga tahun sudah biasa kutangkap dan main-main dengan kelabang yang lebih besar.”

Apa yang dikatakannya memang tidak bergurau. Orang Thian-can-kau masa takut pada kelabang? Cuma kawanan kelabang ini bisa merayap keluar dari dalam selimut orang ini betapa pun juga satu kejadian yang aneh.

Biar pun Gin-hoa-nio masih tertawa akan tetapi tertawanya sudah mulai berubah menjadi menyengir.

Di belakang barisan kelabang tadi ternyata mengikuti pula barisan tokek, lalu muncul lagi sejumlah ular berbisa, katak buduk, kalajengking dan macam-macam serangga berbisa lain yang belum pernah dilihat Gin-hoa-nio, namun semuanya seperti mendapat perintah, satu persatu merayap keluar secara teratur.

Akhirnya Gin-hoa-nio tak bisa tertawa lagi.

Ciong Cing menjerit dan jatuh kelengar.

Benar-benar sukar untuk dibayangkan. Orang sakit yang sudah hampir mati itu bisa tidur bersama makhluk-makhluk berbisa sebanyak itu, di satu tempat tidur dan di dalam satu selimut. Malahan kelihatannya dia dapat tidur dengan aman dan tenang.

Mau tak mau merinding juga Gin-hoa-nio. Meski pun sejak kecil ia hidup di tengah-tengah gerombolan makhluk berbisa, tapi kalau dia disuruh tidur di sini seperti si sakit ini, biar pun dibunuh juga dia tidak akan berani.

Sementara itu barisan makhluk-makhluk berbisa itu satu persatu mulai merambat turun ke bawah tempat tidur, menuju ke sudut ruangan tempat mangkuk berisi air tadi.

Cu Lui-ji lantas memasang dua tangkai sumpit di kanan kiri tepi mangkuk, dengan sumpit sebagai jembatan, kawanan makhluk berbisa itu lantas merayap ke dalam mangkuk besar itu, sesudah mandi dalam air lalu merayap turun melalui jembatan sumpit di sebelahnya. Makhluk berbisa yang tadinya tampak berbahaya dan sangat gesit, sehabis mandi lantas kelihatan lesu dan lemas.

Begitulah beratus ekor binatang berbisa itu bergantian mandi di air mangkuk besar itu, lalu satu persatu menyusup kembali ke dalam selimut.

Sementara itu air mangkuk yang tadinya hitam seperti tinta lambat laun mulai berubah menjadi putih. Ketika beberapa ekor ular berbisa yang tak diketahui namanya habis mandi di air mangkuk, lalu air mangkuk mulai berbuih, malahan terus mengepulkan hawa panas, mirip air yang baru di masak dan mendidih.

Butiran keringat di muka Kwe Pian-sian juga mulai berketes-ketes.

Air mangkuk dari hitam sekarang telah berubah menjadi putih, dari putih lantas jernih dan kembali seperti asalnya. Bedanya air semangkuk penuh itu sekarang seperti air mendidih yang habis dimasak.

Sementara itu kawanan makhluk berbisa tadi seluruhnya kini telah menyusup kembali ke dalam selimut. Di ruangan loteng kecil ini kembali sunyi senyap seperti tidak pernah terjadi apa pun. Yang terdengar hanya suara pernapasan yang berat di sana sini, siapa pun tidak ada yang bicara.

Cu Lui-ji lantas mengangkat mangkuk besar tadi, dengan tertawa disodorkannya kepada Gin-hoa-nio, katanya, “Nasi belum selesai dimasak, kalau nona lapar, silakan minum dulu air mukjizat ini. Sesudah ditambahi bumbu sebanyak ini, rasa air ini pasti jauh lebih segar dari pada kuah ayam.”

Kontan Gin-hoa-nio menyurut mundur dan menggoyang-goyang tangan, katanya sambil menyengir, “O, jang... jangan sungkan, silakan... nona minum sendiri saja.”

Sungguh pun dia memang berasal dari keluarga ahli racun, pengetahuannya banyak dan pengalamannya luas, sekarang sudah dilihatnya bubuk hitam yang dicampurkan ke dalam air oleh Cu Lui-ji tadi sesungguhnya adalah semacam obat mujarab. Dengan obat itulah kawanan makhluk berbisa tadi dipancing keluar supaya menuangkan racunnya ke dalam mangkuk.

Sekarang racun beratus ekor binatang berbisa itu telah tertuang ke dalam air mangkuk. Jangankan diminum, tersentuh saja mungkin bisa celaka, tubuh orang biasa kalau kena satu tetes air itu, bisa jadi seluruh badan akan membusuk.

Siapa tahu Cu Lui-ji malah tersenyum dan berkata, “Kuah segar dan lezat ini, kalau para tamu tak sudi minum, terpaksa akan kuminum sendiri saja.” Sambil bicara ia terus angkat mangkuknya dan benar-benar diminum seluruhnya, habis itu mulutnya malah berkecap-kecap seperti orang habis merasakan makanan yang paling lezat.

Pwe-giok tidak memperlihatkan perasaan apa-apa menyaksikan perbuatan nona cilik itu, tapi air muka Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio lantas berubah seketika, sebab mereka tahu betapa hebat kadar racun di dalam air itu, sungguh mimpi pun tidak terbayangkan oleh mereka ada yang sanggup meminumnya setetes atau dua tetes, tapi sekarang nona cilik ini justru minum semangkuk penuh, bahkan tidak terlihat terjadi sesuatu. Apakah mungkin isi perut nona ini gemblengan dari baja?

Dengan tenang-tenang Cu Lui-ji berkata lagi, “Penyakit Sacek sudah sangat parah hingga merasuk tulang, dan berkat hawa dingin kawanan makhluk berbisa inilah jiwa sacek dapat dipertahankan hingga kini. Maka, kalau kami kiranya bersikap kurang sopan, hendaklah para tamu sudi memberi maaf.”

“Penyakit apakah yang diderita Sacek-mu?” tanya Gin-hoa-nio dengan mengiring tawa.

Lui-ji menghela nafas, jawabnya dengan rawan; “Penyakit ini tidak diketahui namanya, tapi kalau kalian ingin tahu...”

Belum lanjut ucapannya, mendadak di bawah ada orang mengetuk pintu, habis itu lantas terdengar suara seorang tua berseru, ”Ji Pwe-giok, Ji-kongcu apakah berada di atas? Ang-lian Pangcu kami sengaja berkunjung kemari dan mohon bertemu!”

Itulah suara Bwe Su-bong. Kejut dan girang Pwe-giok, ia tidak tahu untuk apakah Ang-lian Pangcu mencarinya.

Dalam pada itu air muka Kwe Pian-sian menjadi pucat, katanya dengan parau, “Lekas kau turun ke sana dan men... mencegah mereka... aku pergi dulu...”

Pada saat itulah kembali pintu diketuk lagi lebih gencar, suara seorang perempuan muda sedang berteriak, “Buka pintu, Ji-kongcu! Kun-hujin kami juga berkunjung padamu!”

Bahwa selain Ang-lian-hoa, ternyata Hay-hong-hujin juga datang, keruan wajah Kwe Pian-sian bertambah pucat. Cepat ia melompat ke jendela, perlahan ia membuka daun jendela dan mengintip keluar. Ternyata loteng kecil ini sudah penuh dikepung orang, atap rumah di sekitar loteng dan setiap tempat yang dapat dibuat berdiri sudah penuh dengan orang.

Terdengar orang berteriak lagi di bawah, ”Kun-Hujin dengan Ang-lian Pangcu berkunjung kemari, kenapa Ji-kongcu tidak lekas membuka pintu?”

Cepat Kwe Pian-sian menarik Pwe-giok, katanya, “Apakah mereka tahu kalau aku berada di sini?”

“Cara bagaimana aku tahu,” jawab Pwe-giok.

“Untuk apa mereka mencari kau?” tanya Kwe Pian-sian pula.

“Aku pun tidak tahu,” ujar Pwe-giok sambil mengangkat bahu.

“Mereka sudah mengepung rapat tempat ini, tampaknya mereka hendak memusuhi kita, menghadapi musuh bersama, jangan... jangan kau buka pintu,” kata Kwe Pian-sian.

“Jika pintu tidak kubuka, memangnya mereka tidak dapat mendobrak dan masuk dengan paksa?” ujar Pwe-giok sambil menghela nafas.

Dalam pada itu suara perempuan muda tadi sedang berteriak kembali, “Ji-kongcu, kami sudah minta dibukakan pintu dengan sopan, jika pintu tetap tidak dibuka, terpaksa kami menerjang masuk!”

Biji mata Gin-hoa-nio berputar, tiba-tiba ia tertawa genit dan berseru, “Ji-kongcu lagi sibuk di kakus, bila sekarang kalian menerobos masuk, tentu akan kebagian bau sedap. Tunggu saja sebentar, bila mana dia selesai kuras gudang, pintu tentu akan dibuka, masa kalian begini terburu-buru?”

Di bawah terdiam sejenak, kemudian perempuan muda itu pun tertawa ngikik dan berkata, “Baiklah, akan kami tunggu sebentar, asalkan dia tidak kecemplung dalam jamban, masa pintu takkan dibuka?”

Pwe-giok berkerut kening memandang Kwe Pian-sian, lalu katanya, “Masa kau pun tidak berani bertemu dengan Hay-hong-hujin? Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan dia?”

Kwe Pian-sian hanya batuk-batuk saja dan tidak menjawab. Dalam pada itu Ciong Cing sudah siuman, perlahan dia mengurut punggungnya dengan rasa cemas.

Ji Pwe-giok menghela napas, katanya pula dengan perlahan, ”Betapa pun juga akhirnya mereka toh akan naik ke sini, rasanya pintu harus kubuka, sebaiknya kau cari akal saja.”

Orang sakit yang sudah kempas-kempis itu mendadak membuka matanya dan berkata, “Aku ada akal! Coba dekatkan telingamu ke sini, akan kubisiki kau,” kata orang itu.

Dengan girang Kwe Pian-sian mendekatinya, namun baru dua tiga langkah mendadak dia berhenti. Teringat olehnya hal-hal yang amat misterius pada diri si sakit ini, tanpa terasa ia menyurut mundur lagi.

Rupanya Ciong Cing jauh lebih gelisah dari pada Kwe Pian-sian, tanpa pikir ia mendekati orang sakit itu dan berkata, “Apa bila Cianpwe ada akal yang dapat menolong dia, silakan beri-tahukan kepadaku, sungguh Tecu akan sangat berterima kasih.”

Orang itu berkerut kening, lalu tanyanya, “Siapa kau? Anak murid perguruan mana?”

Ciong Cing ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berkata juga, “Tecu Ciong Cing dari Hoa-san.”

“Anak murid Hoa-san terhitung juga golongan murni...” orang itu bergumam, lalu segera menambahkan,” Baik, coba kemari, akan kuberi-tahu.”

Butiran keringat memenuhi muka Ciong Cing, teringat olehnya makhluk-makhluk berbisa yang memenuhi kolong selimut itu. Dia merinding dan kaki pun terasa lemas, tetapi demi orang yang dicintainya, betapa pun dia tabahkan hati dan mendekat ke sana.

Tiba-tiba orang sakit itu bertanya pula, “Sudah berapa lama kau berlatih Kungfu?”

Meski tidak tahu untuk apa orang bertanya urusan ini, namun Ciong Cing menjawab juga, “Sudah sebelas tahun.”

Wajah orang sakit yang kurus dan kuning itu menampilkan secercah senyuman, katanya, “Bagus, bagus...” mendadak sebelah tangannya terjulur, pergelangan tangan Ciong Cing terpegang. Tampaknya dia sudah kempas-kempis dan setiap saat bisa menghembuskan napas penghabisan, tapi begitu bergerak ternyata cepatnya luar biasa.

Sampai-sampai orang macam Kwe Pian-sian dan Ji Pwe-giok juga tidak melihat jelas cara bagaimana orang sakit itu menjulurkan tangannya, malah Ciong Cing sendiri menjerit saja tidak sempat dan tahu-tahu sudah diseret lebih dekat sana.

“Apakah yang hendak Anda lakukan?” tanya Pwe-giok dengan was-was.

Sesudah orang sakit itu memegang pergelangan tangan Ciong Cing, dia tidak melakukan gerakan lain lagi. Sebaliknya dia lantas memejamkan mata.

Meski merasakan tangan orang sangat dingin, Ciong Cing mulai tenang juga karena orang tidak bertindak lain lagi. Dia lantas bertanya, “Sesungguhnya Cianpwe mempunyai akal apa? Tecu siap mendengarkan.”

Sambil tetap memejamkan mata orang itu berkata dengan perlahan, “Kalian tetap tunggu saja di sini dan tidak perlu buka pintu.”

“Hanya... hanya begini saja masa terhitung akal?” seru Ciong Cing dengan mendongkol.

Dengan tak acuh orang sakit itu berkata, “Asalkan kalian tidak membuka pintu, di seluruh kolong langit ini tiada seorang pun berani naik ke atas loteng ini.”

Meski merasa bualan orang agak terlalu besar, tetapi mengingat tindak-tanduk orang ini sangat misterius, mau tak mau dia pun percaya separoh-separoh. Dia tidak merasakan air muka sendiri kini telah mulai pucat dan makin pucat, sebaliknya air muka si sakit yang tadinya kuning mayat kini mulai bersemu hawa orang hidup.

Dalam pada itu suara teriakan di bawah loteng bergema pula, maka orang lain pun tidak memperhatikan perubahan air muka mereka. Suara teriakan orang di bawah makin ramai dan kasar, tapi benar juga, tiada seorang pun berani mendobrak pintu.

Terdengar Bwe Su-bong berteriak pula, “Ji-kongcu, Bengcu bersama Bu-siang Lojin juga berkunjung padamu, masa kau tetap tidak mau turun?”

Semula Pwe-giok bermaksud turun, tetapi sekarang dia menjadi ragu-ragu. Untuk apakah orang-orang itu terburu-buru ingin bertemu dengan dirinya?

Perempuan muda tadi pun berteriak lagi, “Ji-kongcu, kalau kau tidak menghendaki kami naik ke atas, bolehlah kau turun dan bicara sepatah kata saja dengan kami... Ji-kongcu, sebanyak ini orang yang ingin bertemu denganmu, kenapa engkau menolak maksud baik orang banyak?”

Orang-orang itu ternyata tidak bermaksud naik ke atas, ini menandakan sasaran mereka bukan terhadap Kwe Pian-sian. Namun mereka menghendaki Pwe-giok turun ke bawah, apakah memang ada intrik tertentu?

Makin didesak, semakin ragu Pwe-giok. Saat itulah mendadak Ciong Cing menjerit, orang sakit itu telah melepaskan tangannya, kontan Ciong Cing roboh terkulai.

Cepat Kwe Pian-sian memayangnya bangun, tetapi tubuh Ciong Cin terasa lunak seperti kapas, tangan pun sukar terangkat. Waktu Kwe Pian-sian memeriksa napasnya, ternyata juga sangat lemah.

“He, kenapa kau?” teriak Kwe Pian-sian kaget.

Air muka Ciong Cing tampak ketakutan setengah mati, serunya dengan suara lemah dan gemetar, “Ib... iblis ini bu... bukan manusia dia...” dengan kaku ia memandang ke tempat jauh dan berulang-ulang mengucapkan kata-kata yang sama, dia seperti tidak waras lagi saking takutnya, ditanya juga tidak dapat menjawab lagi.

Kwe Pian-sian memandangi si sakit, air mukanya tampak mulai bersemu merah, nyata tenaga dalam latihan belasan tahun Ciong Cing tanpa terasa telah dihisap oleh orang itu.

Mendadak Kwe Pian-sian bangkit dengan sorot mata yang sangat ketakutan. Sebaliknya si sakit tampaknya sudah terpulas, Cu Lui-ji sedang merapikan selimutnya.

Diam-diam Gin-hoa-nio menarik Kwe Pian-sian dan Ji Pwe-giok ke samping sana, lantas berkata dengan suara tertahan, “Sesungguhnya apa yang terjadi ini?”

Keringat dingin tampak memenuhi dahi Kwe Pian-sian, dengan suara parau ia mendesis, “Menghisap sari tenaga orang lain untuk menambah kekuatan sendiri, tidak kusangka di dunia ini benar-benar ada Kungfu selihai ini. Kalau sekarang kita tidak mempergunakan kesempatan ini untuk menumpas dia, mungkin kita pun akan mati tak terkubur.”

Gin-hoa-nio menghela nafas, katanya kemudian, “Jika kau berani turun tangan lebih dulu, pasti akan kubantu kau.”

Kwe Pian-sian jadi melengak dan tak dapat menjawab.

Sunyi seperti kuburan di loteng kecil ini, Pwe-giok seperti ingin bertindak sesuatu, namun pada saat ini juga di bawah telah berkumandang suara Ji Hong-ho, “Kalau dia tidak mau turun, tentu dia sudah ikut berkomplotan dengan mereka. Kini kita sudah berkumpul, bila tidak segera turun tangan mungkin akan terjadi perubahan...”

Mendadak terdengar Hay-hong-hujin menyeletuk, “Apakah Bengcu sudah menyelidikinya dengan jelas?”

“Bukti dan saksi sudah lengkap di sini. Ang-lian Pangcu juga sudah melihat sendiri,” kata Ji Hong-ho.

Tiada terdengar suara Ang-lian-hoa, mungkin secara diam-diam ia membenarkan.

Selagi Pwe-giok menerka urusan apa sesungguhnya yang dimaksudkan mereka, tiba-tiba terdengar suara deru angin yang sangat keras, beberapa bola hitam sebesar semangka telah menerobos jendela dengan membawa api yang berkobar.

Hakekatnya Pwe-giok dan lain-lain tidak tahu benda apakah ini. Seketika mereka menjadi bingung, tidak tahu bagaimana harus menghadapi bola berapi itu, maka terpaksa mereka menyingkir saja menghindari.

Si orang sakit yang tampaknya tertidur itu mendadak menjulurkan kedua tangannya yang tadinya tertutup selimut, kesepuluh jarinya menyelentik susul-menyusul. Terdengar suara “crat-crit” berulang-ulang seperti desing anak panah di udara, dan belasan bola hitam tadi kontan terjentik kembali keluar.

Kiranya selentikan jari si sakit itu membawa semacam tenaga yang tidak berwujud, tapi keras dan tajam seperti senjata. Apa lagi ia menyelentik susul-menyusul sehingga tenaga jari yang tidak kelihatan ini terpancar lebih kuat, sekali pun ilmu tenaga jari sakti ‘Sian-ci-sin-thong’ yang terkenal di dunia persilatan juga tak selihai ini. Keruan semua orang sama terkesiap.

Setelah bola-bola hitam tadi terjentik keluar, lalu terdengarlah suara “blang-blung” yang keras disertai lelatu api yang berhamburan. Suara ledakan menggelegar tak ada hentinya. Suasana menjadi kacau, terdengar jeritan di sana sini disertai suara orang yang berlari ketakutan. Loteng kecil itu pun tergetar seakan-akan hendak ambruk.

“Apakah ini senjata api buatan Pi-lik-tong (nama pabrik mesiu jaman kuno) yang terkenal di daerah Kanglam itu?” kata Gin-hoa-nio dengan terkejut.

“Betul,” jawab Kwe Pian-sian dengan gegetun. “Kalau saja bola api tadi meledak di sini, andaikan tubuh kita tidak hancur lebur, sedikitnya tentu akan babak-belur dan mungkin pula cacat selama hidup.”

“Makanya tentunya sekarang kalian sudah tahu,” sela Cu Lui-ji sambil menoleh tertawa. “Meski Sacek telah meminjam pakai kekuatan belasan tahun latihan nona ini, tapi Sacek juga telah menyelamatkan jiwa kalian berempat. Jual beli ini kan tidak merugikan kalian?”

Daun jendela sudah jebol diterjang bola-bola hitam tadi. Sembari bicara Cu Lui-ji lantas merapatkan tabir jendela, agaknya tidak suka kalau keadaan di dalam ruangan ini terlihat orang luar.

Kedua tangan si sakit telah disembunyikan kembali ke dalam selimut, air mukanya mulai pucat lagi. Sungguh, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tak akan percaya orang yang sudah sekarat ini mempunyai kungfu selihai tadi.

Pwe-giok tidak tahan, dia coba bertanya, “sesungguhnya Ji Hong-ho itu ada permusuhan apa dengan Anda?”

“Bermusuhan denganku? Hm, dia belum sesuai!” jengek orang sakit itu.

“Jika demikian, untuk apa dia bertindak sekeji ini terhadap Anda?” tanya Pwe-giok pula.

“Dari mana kau tahu yang dia tuju adalah diriku dan bukan kalian?” ujar orang itu.

“Tapi Ji Hong-ho tidak bermain catur di tempat lain, dia justru datang ke kota kecil yang terpencil dan amat sepi ini. Tadinya aku heran sekali, tapi baru sekarang aku tahu tujuan kedatangannya ialah Anda.” kata Pwe-giok pula dengan gegetun.

Tapi orang sakit itu tidak menanggapi, ia memejamkan mata pula.

Pwe-giok berkata lagi, “Ada lagi, Anda tidak tetirah di tempat lain, tetapi justru datang ke kota kecil ini, ini pun kejadian yang maha aneh. Sungguh tak habis aku menerka, di mana letak daya tarik kota kecil ini sesungguhnya?”

Tapi orang sakit itu tetap tidak menggubrisnya, maka Pwe-giok tidak dapat bicara lagi.

Selang sejenak, tiba-tiba Cu Lui-ji berkata, “Yang mereka tuju bukanlah Sacek melainkan diriku!”

“Dirimu?” Pwe-giok menegas dengan melenggong. “Usiamu sekecil ini, untuk apa mereka mencari kau?”

“Apakah usiaku terhitung masih kecil?” ujar Lui-ji sambil tertawa.

“Biar pun orang she Ji itu manusia berhati binatang, tapi dalam kedudukannya selaku Bu-lim-bengcu, mana bisa dia mengerahkan tenaga sebanyak itu untuk menghadapi seorang anak kecil seperti dirimu ini?” kata Pwe-giok pula.

“Bu-lim-bengcu? Huh!” jengek Cu Lui-ji. “Memangnya berapa harganya satu kati Bu-lim-bengcu begitu? Tidak perlu Sacek, aku saja tidak memandang sebelah mata padanya.”

Padahal Hong-ti-tayhwe atau pertemuan besar Hong-ti adalah sebuah sidang paripurna dunia persilatan yang mengikat, Bengcu atau ketua perserikatan yang diangkat di dalam sidang itu dihormati dan disegani setiap ksatria dan pendekar di dunia ini. Tetapi anak perempuan kecil ini menyatakan tidak pandang sebelah mata terhadap sang Bengcu.

Tentu saja hal ini amat luar biasa. Memangnya kedudukan anak perempuan ini jauh lebih terhormat dan lebih agung dari pada Bu-Lim-bengcu?

Pwe-giok jadi semakin heran.

Selagi ia hendak bertanya pula, mendadak Gin-hoa-nio bersorak gembira, serunya, “Aha, orang-orang itu sudah pergi semua, bersih tanpa seorang-pun yang ketinggalan!”

Cepat Kwe Pian-sian menyingkap tabir jendela. Memang betul, di luar sana tiada nampak bayangan seorang pun.

“Mengapa mesti heran?” dengan hambar Cu Lui-ji berkata pula, “Setelah orang-orang itu mengetahui kungfu Sacek sudah pulih, memangnya mereka berani tinggal lebih lama lagi di sini untuk menunggu kematian?”

Bahwa orang-orang seperti Ji Hong-ho, Kun Hay-hong dan lain-lain itu seakan-akan juga sangat jeri terhadap orang yang sakit ini, maka dapat diperkirakan orang sakit ini pasti luar biasa asal-usulnya. Sesungguhnya siapakah dia?

Tentu Pwe-giok juga amat heran, terkejut dan juga tertarik, tetapi saat itu juga Kwe Pian-sian sudah memondong Ciong Cing dan berkata, ”Hayolah kita berangkat sekarang!”

“Betul, tidak berangkat sekarang mau tunggu kapan lagi?” tukas Cu Lui-ji dengan dingin.

Pwe-giok lantas berkata, “Kalau mereka mendadak kembali lagi, apakah kalian...”

“Urusan Sacek tak perlu kau ikut campur,” ucap Lui-ji dengan angkuh. “Mengenai diriku... apakah aku akan hidup atau mati lebih-lebih tidak perlu diresahkan orang lain.”

Dengan suara gemetar mendadak Ciong Cing berteriak, “Jika demikian, kenapa... kenapa kalian men... mencuri tenagaku?”

“Kan kalian yang dating sendiri ke sini. Kami tidak mencari kau, mengapa kau salahkan orang lain?” jawab Cu Lui-ji dengan ketus.

Ciong Cing melengak, mendadak ia menangis tergerung-gerung.

Tiba-tiba si sakit buka suara dengan perlahan, “Mengingat kedatangan mereka ini tidaklah sia-sia, barang itu boleh kau berikan saja kepada mereka.”

“Tapi barang-barang ini memang milikku, kenapa harus kuberikan kepada mereka?” ujar Cu Lui-ji.

“Hanya sedikit batu permata begitu apa artinya? Kenapa kau berubah menjadi sebodoh ini?” ujar si sakit sambil berkerut kening.

Lui-ji mengiakan sambil menunduk. Tanpa bicara lagi ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari almari dinding sana terus dilemparkan ke depan Gin-hoa-nio.

Ketika ujung bungkusan itu terlepas sedikit, tertampaklah cahaya gemerlapan, nyata itulah harta benda Gin-hoa-nio yang hilang itu.

Meski di dalam hati penuh tanda tanya, tetapi Gin-hoa-nio tidak berani banyak bicara lagi. Setelah tertegun sejenak, mendadak dia angkat bungkusan itu terus lari ke bawah loteng secepat terbang.....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner