RENJANA PENDEKAR : JILID-38


Sesungguhnya siapakah gerangan si sakit itu? Mengapa Ji Hong-ho beserta yang lain-lain sedemikian takut kepadanya?

Siapa pula sebenarnya Cu Lui-ji dan dari mana asal-usulnya? Kenapa sebanyak itu tokoh-tokoh Bu-Lim harus berkumpul di kota kecil ini hanya untuk menghadapi seorang anak kecil begitu? Bahkan di antara tokoh-tokoh Bu-Lim itu termasuk pula Ang-lian-hoa? Masa Ang-liang-hoa seorang yang suka merecoki seorang anak kecil?

Sesungguhnya penyakit apa yang menghinggapi orang sakit itu? Mengapa dia merawat sakitnya di kota kecil terpencil ini? Jelas tenaganya belum pulih seluruhnya. Sedangkan Ji Hong-ho dan lain-lain pasti tidak pergi begitu saja, seharusnya dia menahan Ji Pwe-giok dan lain-lain di situ, tetapi mengapa dia melepaskan mereka pergi?

Begitulah di dalam benak Pwe-giok penuh tanda tanya yang sukar dipecahkan.

Gin-hoa-nio juga bergumam terus menerus. ”Aneh, si tebese itu mengapa mengembalikan harta benda ini kepadaku? Mengapa begini saja dia membebaskan kita pergi? Masa dia benar-benar tidak mengharapkan sesuatu dari kita?”

Sembari menggerundel ia terus berlari ke depan. Kota kecil itu bermandikan cahaya sang surya, tetapi setiap pintu rumah penduduk tampak tertutup rapat, satu bayangan manusia saja tidak kelihatan.

Baru sekian langkah Kwe Pian-sian berlari, mendadak ia menghadang di depan Gin-hoa-nio.

Cepat Gin-hoa-nio menyembunyikan bungkusan ke belakang punggungnya, lalu tanyanya dengan was-was, “Kau mau apa?”

“Ai, dasar perempuan,” ujar Kwe Pian-sian dengan gegetun. “Sampai perempuan seperti ini juga berpikiran sempit, dalam keadaan begini masa dapat kuincar harta bendamu ini?”

Gin-hoa-nio mengerling genit, katanya sambil tersenyum, “Jika kau telah tahu perempuan berjiwa sempit, kenapa kau sengaja merintangi jalan orang? Apakah kau tidak ingin cepat-cepat pergi dan hendak menunggu kedatangan Ang-lian-hoa?”

“Sudah tentu aku ingin lekas-lekas pergi, tapi aku tak ingin pergi dengan digotong orang,” kata Kwe Pian-sian dengan dingin.

Gin-hoa-nio memandang Ciong Cing sekejap, ucapnya dengan tertawa, “Kami pun ingin pergi dipondong olehmu, tapi sayang, tanganmu tidak ada peluang lagi.”

“Kalau kau terus berlari ke depan, masa tidak bakalan ada orang akan menggotong kau?” kata Kwe Pian-sian.

“Maksudmu... maksudmu kita tidak pergi sekarang?”

“Saat ini kau dan aku jangan harap akan bisa meninggalkan kota kecil ini selangkah pun!”

“Hi-hi-hi, memangnya kau sangka aku ini kegirangan karena mendapatkan kembali harta-bendaku sehingga pikiranku sudah keblinger?” kata Gin-hoa-nio dengan tertawa. ”Sudah tentu aku pun tahu Ji Hong-ho dan rombongannya takkan pergi jauh, besar kemungkinan mereka sudah mengepung rapat kota kecil ini, maka bayangan setan pun tidak kelihatan di sini.”

“Tapi menurut perhitunganmu, karena kau tidak mempunyai permusuhan apa pun dengan mereka, tentu kau akan diberi jalan, maka kau sendiri lantas mau kabur begitu saja tanpa mempedulikan orang lain, begitu bukan?”

“Ai. Aku ini kan perempuan yang berjiwa sempit dan tidak bisa apa-apa, memangnya aku hendak kau suruh bertindak bagaimana? Kalian kan laki-laki gagah perkasa, masa malah memerlukan perlindunganku?”

“Ha-ha-ha-ha! Teman baik, sahabat karib...!” Kwe Pian-sian tertawa bergelak. “Sungguh tidak nyana kau dapat menutupi perbuatannya yang hanya mementingkan diri sendiri ini sebagai tindakan yang menarik, untung kau bukan lelaki, kalau tidak mustahil kalau tidak sejak tadi-tadi kau disembelih orang.”

Gin-hoa-nio tertawa terkekeh, katanya, “Tetapi aku tahu kau pasti tak akan membunuhku, seumpama kau bermaksud menahanku di sini, Ji-kongcu kita yang bijaksana dan luhur budi ini pasti juga tidak tinggal diam dan tentu akan membelaku.”

“Jika kau ingin pergi, tidak nanti aku merintangi kau,” kata Kwe Pian-sian.

“Oya?! Tak tersangka kau juga seorang yang bijaksana dan luhur budi...”

“Tapi dengan membawa satu bungkus barang mestika begini, apakah orang lain juga mau membebaskan kau pergi begitu saja?” jengek Kwe Pian-sian.

Seketika Gin-hoa-nio merasa seperti kena depak orang satu kali, sekujur badan langsung terasa lemas lunglai.

Dengan tenang Kwe Pian-sian menyambung pula, “Makanya, jika kau ingin pergi, mau tak mau bungkusan ini harus kau tinggalkan di sini dan ini berarti... seolah-olah menghendaki jiwamu.”

Mendadak Gin-hoa-nio melonjak lantas berjingkrak, katanya, “Ah, tahulah aku sekarang, sebabnya si tebese itu mengembalikan harta pusakaku ini, maksudnya justru dia hendak mengganduli diriku supaya aku tidak pergi. Ai, orang sudah hampir mampus begitu masih juga banyak akal-bulusnya.”

Mendadak Pwe-giok ikut bicara, “Kalau kau sangka dia sengaja hendak membikin susah padamu, mengapa tidak kau kembalikan harta benda ini kepadanya?”

Gin-hoa-nio mendepakkan kakinya ke tanah kemudian berkata, “Sudah tentu ia pun telah memperhitungkan kalau aku tidak akan rela...” Tapi mendadak ia tertawa dan mengerling genit, sambungnya, “Apa lagi, seumpama tidak ada bungkusan batu permata ini, masa aku sampai hati meninggalkan kalian di sini? Apa yang kukatakan barusan tadi kan cuma bersenda-gurau saja.”

“He-he, lucu ya guraumu?” jengek Kwe Pian-sian.

Gin-hoa-nio memandangnya sambil menengadah, tubuhnya seakan-akan hendak jatuh ke pangkuan orang, dengan suara halus dia berkata, “Ehh, coba katakan, apakah sekarang juga kita harus mundur kembali ke sana?”

“Adalah maha beruntung kalau kita dapat keluar dengan selamat, mana boleh balik lagi ke sana,” ujar Kwe Pian-sian. Nyata sekali ia lebih suka menghadapi Ang-lian-hoa dari pada bermusuhan dengan si sakit yang misterius itu.

“Maju tidak mau, tetapi mundur juga emoh, lalu bagaimana baiknya?” tanya Gin-hoa-nio. “Apakah kita perlu mencari lagi sebuah rumah lain untuk sembunyi? Tapi kalau kepergok si tebese lagi, kan bisa celaka.”

“Tempat yang kucari sekali ini pasti takkan terdapat orang lain...”

“Di mana?” tanya Gin-hoa-nio sebelum ucapan Kwe Pian-sian dilanjutkan.

“Di sana, hotel itu!”

“Ha-ha-ha, kau memang pintar,” puji Gin-hoa-nio dengan tertawa genit. “Orang-orang tadi baru saja meninggalkan hotel itu, besar kemungkinan mereka tak akan kembali ke sana. Hotel itu memang tempat yang paling aman di kota ini, cuma...” dia pandang Pwe-giok sekejap, sambil menggigit bibir dia menyambung pula, “Ji-kongcu kita yang terhormat ini apakah juga mau bersembunyi bersama kita?”

“Dia pasti ikut,” kata Kwe Pian-sian.

“Oo... pasti?” Gin-hoa-nio merasa sangsi.

“Ya,” kata Kwe Pian-sian. “Setelah sekian lama Ji Hong-ho bersama rombongannya tidak melihat suatu gerak-gerik di sini, tentu mereka akan kembali lagi ke sini. Maka kalau kita sembunyi di hotel itu, kebetulan dapat menjadi penonton tanpa bayar.”

Dia tersenyum bangga, lalu menyambung pula, “Saat ini Ji-heng tentu juga penuh diliputi tanda tanya, kalau urusan ini tidak ikut terpecahkan hingga jelas, betapa pun Ji-heng pasti tidak rela tinggal pergi. betul tidak Ji-heng?”

Pwe-giok tersenyum hambar, jawabnya, “Apa lagi saat ini aku memang tidak ada tempat tujuan untuk pergi.”

Di hotel itu memang benar sunyi senyap tiada bayangan seorang pun, sampai-sampai pengurusnya dan pelayannya juga sudah kabur entah ke mana, seakan-akan mereka pun sudah tahu di sini bakal tertimpa bencana, maka cepat-cepat cari selamat lebih dulu.

Sebagai pemrakarsa, Kwe Pian-sian berjalan paling depan, dia tidak mencari kamar tamu biasa, juga tidak menuju ruangan tempat tinggal Ji Hong-ho tadi, tapi langsung menuju ke dapur.

Api tungku di dapur hampir padam tapi belum padam, satu wajan nasi tanak sudah hampir hangus. Di atas meja sayur terdapat segebung sayur asin yang sudah dirajang sebagian, di suatu mangkuk juga ada telur ayam yang sudah diaduk, agaknya si koki tadi sedang siap-siap mengolah sayur asin goreng telur, tapi belum selesai dibuat.

Gin-hoa-nio celingukan kian kemari, sambil tertawa ia berkata, “Penghuni hotel mungkin kabur dengan tergesa-gesa sehingga tidak sempat sarapan pagi. Apa lagi mereka diusir oleh Ji Hong-ho dan begundalnya.”

“Ji Hong-ho tidak perlu mengusir mereka. Sesudah mengalami kekacauan tadi, masakah mereka masih berani tinggal di tempat yang penuh penyakit ini?” kata Kwe Pian-sian.

“Mungkin pemilik hotel ini lagi sial juga, akhir-akhir ini penghuni hotel ini kebanyakan orang mati melulu...” sambil bicara Gin-hoa-nio terus menyembunyikan bungkusannya ke bawah onggokan kayu bakar. Lalu dia mengambil mangkuk dan mengisi nasi, terus dimakannya dengan lauk sayur asin.

Kwe Pian-sian juga mengisi satu mangkuk nasi kemudian disodorkan kepada Ciong Cing. Katanya dengan tertawa, “Ini, kau pun makanlah sedikit, meski nasi ini rada sangit, tapi pasti tidak beracun.”

Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Selama hidupku sungguh tidak pernah dahar nasi seharum dan sesedap ini, kau...”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba mangkuk yang dipegang Kwe Pian-sian telah disampuk jatuh Ciong Cing. Nona itu menangis tergerung-gerung sambil meratap, “Aku sudah orang setengah mati, aku tahu nanti pasti kau tinggalkan diriku. Untuk apa pula aku makan nasi segala... Biarlah aku mati kelaparan saja, lebih cepat mati lebih baik!”

Kwe Pian-sian tidak menjadi marah, ucapnya dengan suara halus, “Kutahu pikiranmu lagi risau, tetapi kan tidak apalah kalau hanya kehilangan Kungfu saja. Aku toh tidak bakalan minta perlindunganmu, kau mahir ilmu silat atau tidak kan tidak menjadi soal bagiku?”

“Kau... kau tidak perlu berpura-pura di depanku,” kata Ciong Cing dengan suara terputus-putus. “Coba jawab, sudah tegas-tegas kau katakan kepadaku bahwa kau sudah putus segala hubungan dengan Kun Hay-hong, tapi sekarang kenapa kau tidak berani bertemu dengan dia, apa yang kau takuti?”

Air muka Kwe Pian-sian tampak berubah.

Pada saat itulah mendadak ada suara orang batuk satu kali, seketika ke empat orang itu lantas bungkam.

Di tengah keheningan itu sayup-sayup terdengar di luar ada suara langkah orang yang sangat perlahan. Di samping tungku dapur ini terletak pintu belakang hotel, maka suara langkah itu terdengar seperti menuju ke pintu belakang.

Dari celah-celah pintu Kwe Pian-sian dapat mengintip keluar, dilihatnya dua orang sedang menuju ke sini, seorang mendekap mulut, jelas orang yang baru saja batuk.

Orang ini tinggi kurus, bermuka putih, pedang melintang tersandang di punggung, untaian benang sutra merah penghias garan pedang berpadu dengan bajunya yang hijau pupus sehingga kelihatan sangat menyolok.

Seorang lagi juga tinggi kurus, sinar matanya tajam. Sekali pandang saja Kwe Pian-sian lantas tahu Ginkang kedua orang ini pasti tidak lemah.

Dua orang ini berjalan dari kanan dan kiri terpisah beberapa kaki jauhnya, langkah mereka sangat hati-hati, agaknya ingin menyelidiki keadaan di sini dan kuatir mengejutkan si sakit yang menakutkan di atas loteng kecil itu.

Gemerdep sinar mata dari Kwe Pian-sian. Tiba-tiba ia membuka pintu dan tertawa kepada mereka. Tentu saja kedua orang itu jadi melengak. Segera pula Kwe Pian-sian menyurut mundur. Dengan sendirinya pintu masih terbuka sambil mengeluarkan suara ”keriat-keriut” karena tertiup angin.

“Mengapa kalian tidak lekas masuk ke sini?” kata Kwe Pian-sian dengan suara tertahan.

Gin-hoa-nio tahu maksud Kwe Pian-sian hendak memancing dua orang itu masuk ke sini untuk ditanyai gerak-gerik di pihak Ji Hong-ho sana. Padahal maksud tujuan kedatangan kedua orang ini adalah untuk menyelidiki keadaan di sini, tetapi sekarang mereka malah menjadi sasaran perangkap orang, diam-diam Gin-hoa-nio tertawa geli.

Rupanya Kwe Pian-sian sudah memperhitungkan dengan baik bahwa jika mengetahui di dapur hotel ini ada orang, biar pun harus menyerempet bahaya juga kedua orang itu akan masuk ke sini untuk melihat apa yang terdapat di tempat ini.

Siapa tahu, meski pun sudah ditunggu sekian lama, orang di luar masih juga tidak masuk kemari, bahkan tiada terdengar suara sedikit pun.

Kembali Gin-hoa-nio merasa heran, segera ia mendesis, “Sstt, mengapa kedua orang itu sedemikian penakut?”

“Kukenal satu di antara mereka, namanya Ko Tiong, anak murid Tiam-jong-pay, orang ini cukup terkenal di daerah Hunlam dan Kuiciu, tidak nanti dia takut urusan...”

Belum habis ucapannya, “kriuut,” daun pintu terpentang tertiup angin. Ternyata bayangan kedua orang tadi sudah tidak kelihatan lagi.

“Hah, jelaslah kedua orang itu memang berhati kecil melebihi tikus,” Gin-hoa-nio berolok-olok.

Kwe Pian-sian berkerut kening. Dia coba melongok lagi keluar, dilihatnya Cu Lui-ji entah sejak kapan telah turun dari lotengnya dan sedang memetik bunga di halaman sana.

Rupanya ada setangkai bunga mawar yang menongol keluar pagar halaman sana, harum semerbak tampaknya bunga mawar itu.

Cu Lui-ji sedang menengadah ke atas sambil berjinjit. Tangannya yang kecil itu meraih tangkai bunga mawar itu. Mendadak lengan bajunya merosot ke bawah hingga kelihatan tangannya yang putih bersih.

Orang yang dikenal bernama Ko Tiong dan lelaki berbaju hijau tadi tampak melangkah ke sana dan berdiri tidak bergerak di belakang Cu Lui-ji, mereka memandangi anak dara itu dengan termangu-mangu.

Setelah memetik bunga mawar itu, tanpa berpaling lagi Cu Lui-ji lantas kembali ke loteng sana.

Ko Tiong dan lelaki baju hijau itu terpesona, wajah mereka tampak linglung seperti tergila-gila kepada anak dara itu sehingga lupa daratan.

Kwe Pian-sian jadi terheran-heran, dia tidak mengerti apa sebab apakah kedua orang ini berubah seperti orang kehilangan ingatan.

Padahal, sekali pun Cu Lui-ji memang seorang dara yang cantik, betapa pun usianya baru 11-12 tahun, masa dua laki-laki setengah umur begini juga tergila-gila kepadanya?

Tertampak langkah Cu Lui-ji yang lemah gemulai, bajunya yang tipis bergerak terhembus angin, tubuhnya yang lemah itu seolah-olah juga melayang ke sana tertiup angin. Tiba-tiba anak dara itu menoleh sambil tersenyum, sorot matanya yang bening itu seperti tidak sengaja melirik sekejap ke arah Kwe Pian-sian.

Seketika Kwe Pian-sian merasa dirinya hampir melupakan usia anak dara yang masih kecil itu, yang tampak olehnya hanya liuk pinggang si nona yang sangat menggiurkan, selebihnya ia tak tahu lagi. Hampir-hampir saja ia pun mengintil ke sana.

Tapi apa pun juga dia memang lebih kuat dan dapat mempertahankan diri, hatinya hanya terguncang sekejap saja setelah itu tenang kembali. Sementara itu Cu Lui-ji juga berjalan kembali ke ujung rumah sana, Ko Tiong dan temannya mengikutinya kemudian juga ikut lenyap di balik pintu sana.

Sejak tadi Gin-hoa-nio juga mengikuti kejadian tersebut dan baru sekarang dia menghela napas dan berkata, “Siluman, budak cilik ini betul-betul siluman, sekecil itu sudah mampu memikat dua lelaki sebesar itu. Pada waktu aku berusia sebaya dia, akulah yang ikut kian kemari di belakang lelaki.”

Sesudah berhenti sejenak, mendadak dia tertawa dan berkata pula, “Hi-hi-hi, untung iman tuan Kwe kita cukup teguh, kalau tidak, hampir saja tuan Kwe kita juga ikut terperangkap olehnya”

“Bukan karena lwekang-ku tinggi, melainkan pengalamanku dengan perempuan jauh lebih banyak dari pada kedua orang itu,” kata Kwe Pian-sian dengan tertawa.

“Sungguh aku tidak paham, untuk apakah budak cilik itu memikat kedua lelaki itu?” ucap Gin-hoa-nio dengan tertawa. Mendadak sinar matanya mencorong terang, ia berseru pula, “Ah, tahulah aku, budak cilik itu sedang memancing ikan, bila mana kedua orang tolol itu terpancing ke atas loteng sana, maka segenap kungfu mereka pasti akan terhisap ludes oleh si sakit tebese itu.”

“Ya, memang begitu,” kata Kwe Pian-sian

“Sungguh tak tersangka, sekecil itu dia sudah mahir memancing ikan dengan ‘Bi-jin-keh’ (akal dengan memperalat perempuan cantik),” ujar Gin-hoa-nio dengan tertawa. “Tanpa disadari kedua orang tolol tadi, tahu-tahu telah terjebak.”

“Agaknya, sebabnya Ang-lian-hoa dan lain-lain datang ke sini untuk mencarinya memang juga cukup beralasan,” kata Kwe Pian-sian sambil memandang Ji Pwe-giok.

“Memangnya tidak cuma sekali ini saja perbuatan nona cilik itu?” tanya Pwe-giok.

Melihat caranya bertindak tidak canggung-canggung itu, jelas sudah tidak sedikit korban yang terjebak di tangannya, makanya Ji Hong-ho mengerahkan orang sebanyak ini untuk melayani dia,” ujar Kwe Pian-sian.

“Ya, kukira begitu,” kata Pwe-giok. “Kalau tidak, tokoh semacam Ang-lian-hoa tidak nanti sudi diperintah oleh Ji Hong-ho.”

Hal ini mungkin tidak diketahui orang lain namun cukup diketahuinya dengan jelas, sebab Ang-lian-hoa juga sudah menaruh curiga terhadap ‘Ji Hong-ho’ itu.

“Hah, sungguh menarik,” kata Kwe Pian-sian dengan tertawa, “seorang anak perempuan berumur belasan ternyata demikian besar kesaktiannya. Orang macam begini jelas bukan orang sembarangan, mungkin tidaklah mudah bagi Ang-lian-hoa untuk melayaninya.”

Gin-hoa-nio tertawa ngikik, katanya, ”Bagaimana pun hebatnya dia toh sudah pernah juga merasakan tamparanku.”

Sembari bicara ia angkat tangannya hendak memberi contoh saat dia menampar Cu Lui-ji, tapi mendadak... ia merasa dirinya juga seperti kena gampar orang satu kali, seketika ia tak dapat tertawa dan tak dapat berbicara lagi.

Pwe-giok dan Kwe Pian-sian memandangnya. Wajah Gin-hoa-nio yang biasanya selalu tersenyum manis itu kini mendadak berubah pucat laksana mayat, matanya yang jeli kini juga menampilkan rasa kejut dan cemas yang tidak terhingga sambil menatap tangannya sendiri. Malahan sekujur badannya lantas menggigil.

Tanpa terasa Pwe-giok dan Kwe Pian-sian ikut memandang tangan Gin-hoa-nio. Hanya sekejap saja mereka memandang, seketika air muka mereka pun berubah, sorot mata mereka pun menampilkan rasa kejut yang tak terhingga.

Tangan Gin-hoa-nio yang putih bersih dan halus mulus itu kini telah berubah menjadi hitam kemerah-merahan mirip cakar setan.

“He, kenapa bisa begini?” seru Pwe-giok terkesiap.

Dengan suara gemetar Gin-hoa-nio berkata, “Ak... aku pun tidak tahu mengapa bisa jadi... jadi begini, sedikit pun tidak kurasakan apa-apa dan tangan ini tahu-tahu sudah... sudah berubah menjadi begini.”

“Bisa bergerak tidak tanganmu ini?” tanya Kwe Pian-sian.

“Seperti masih... masih bisa bergerak, cu... cuma...”

Belum habis ucapan Gin-hoa-nio, mendadak Kwe Pian-sian mengangkat sepotong kayu terus menghantam punggung tangan Gin-hoa-nio.

“Plok,” kayu bakar itu cukup besar, cara menghantamnya juga cukup keras, tangan siapa pun kalau terpukul pasti juga akan menjerit kesakitan, siapa tahu Gin-hoa-nio sama sekali tidak berteriak sakit, bahkan tidak merasakan apa pun meski tangan terpukul sekeras itu.

“Sakit tidak?” tanya Kwe Pian-sian.

“Ti... tidak,” jawab Gin-hoa-nio.

Dipukul tanpa merasa sakit, sepantasnya dia bergembira, tapi setelah menjawab begitu, seketika air mata Gin-hoa-nio berlinang-linang. Ia merasa tangan sendiri sekarang telah berubah menjadi kayu belaka, kaku dan mati rasa seperti bukan tangannya sendiri lagi. Dia menyaksikan Kwe Pian-sian memukulkan kayu tadi, namun yang dipukul seolah-olah tangan orang lain.

Kwe Pian-sian berkerut kening pula, dilihatnya di meja sana ada bendo yang biasa di buat potong sayur. Mendadak bendo itu disambarnya terus dibacokkan ke punggung tangan Gin-hoa-nio.

Meski bendo itu amat tajam, jika digunakan untuk memenggal tangan seseorang rasanya mudah terlaksana, tetapi siapa tahu, begitu bendo itu mengenai sasarannya, tangan Gin-hoa-nio yang terbacok itu hanya bertambah satu luka kecil saja, bahkan tiada tetes darah yang mengucur keluar.

Nyata tangan Gin-hoa-nio telah berubah lebih keras dari pada kayu.

Bahwa tangannya tidak mempan dipenggal orang, seharusnya Gin-hoa-nio bergembira. Tapi mukanya justru bertambah pucat dan ketakutan setengah mati.

“Trang,” Kwe Pian-sian melemparkan bendo tadi, katanya sambil menggelengkan kepala, “Wah, nonaku yang baik, tamparanmu tadi mungkin telah menimbulkan kesulitan.”

“Tapi... tapi waktu kupukul dia, sedikit pun tidak... tidak terasa apa pun,” kata Gin-hoa-nio.

“Justru racun yang tidak menimbulkan perasaan apa-apa inilah yang lihai,” ujar Kwe Pian-sian. “Tanpa terasa tahu-tahu racun itu sudah merembes ke dalam darahmu, merasuk ke dalam tulangmu. Bila pada saat kejadian kau rasakan apa-apa tentu kau akan tertolong.”

“Dan sek... sekarang apakah sudah tidak tertolong lagi?” tanya Gin-hoa-nio dengan suara gemetar.

Padahal dia sendiri juga ahli racun, sudah tentu dia pun tahu betapa hebat racun sudah masuk tubuhnya. Hanya dalam keadaan cemas dia masih menaruh setitik harapan atas pertolongan orang lain.

“Mungkin tak tertolong lagi,” jawab Kwe Pian-sian sambil menggeleng.

Gin-hoa-nio menubruk maju sambil berteriak. “Kutahu kau pasti mampu menolong diriku, kau pun ahli racun, kau... kau...”

Seperti menghindari makhluk berbisa saja, dengan cepat Kwe Pian-sian meloncat mundur sambil berkata, “Betul, aku pun tergolong kakeknya ahli racun, tapi racun yang selihay ini selamanya belum pernah kulihat... Nona yang baik, kau sendiri terkena racun, sebaiknya jangan kau bikin susah lagi kepada orang lain, lekas kau cari satu tempat yang baik untuk menantikan ajalmu saja.”

Seketika Gin-hoa-nio menjadi lemas dan roboh terkulai.

Pwe-giok juga tercengang menyaksikan racun yang sudah meresap di tubuh Gin-hoa-nio itu. Mendadak ia mendorong pintu dan berkata, “Mari ikut padaku!”

“Akan... akan kau bawa ke mana diriku?” tanya Gin-hoa-nio.

“Orang lain tidak mampu menolong kau, orang yang meracuni kau pasti dapat,” kata Pwe-giok.

Seketika Gin-hoa-nio melonjak bangun, serunya, “Ya, betul, dia pasti dapat menolongku. Meski sudah kupukul dia, namun antara dia dan aku sebenarnya tiada permusuhan apa-apa, bila kuminta maaf dan memohon dengan sangat, mungkin dia masih mau menolong jiwaku.”

Padahal dia pun menyadari urusan ini tidak sedemikian sederhana. Tetapi maklum saja, orang yang sudah mendekati ajalnya layaknya kalau berusaha menghibur dirinya sendiri.

Mendadak Kwe Pian-sian berseru, “Ji-heng, masa betul hendak kau bawa dia kembali ke atas loteng itu?”

“Ya,” jawab Pwe-giok

“Kedua orang yang berada di sana itu jelas bukan manusia baik-baik, untung kau dapat meninggalkan tempat itu, jika kau pergi lagi ke sana, mungkin kau sendiri juga tidak akan kembali lagi,” seru Kwe Pian-sian.

Pwe-giok tersenyum hambar, katanya, “Jika aku harus mati, entah sudah berapa kali aku telah mati.”

“Perempuan begini masa ada harganya bagimu untuk kau bela dengan taruhan nyawamu, Ji-heng?”

“Sekali pun orang semacam Kwe-heng, kalau terancam bahaya juga akan kutolong tanpa pamrih,” kata Pwe-giok, sembari bicara ia lantas melangkah pergi bersama Gin-hoa-nio.

Kwe Pian-sian menggeleng sambil bergumam, “Orang macam begini sungguh jarang ada, aku tidak mengerti untuk apakah dia...”

Pada saat itulah mendadak terdengar Gin-hoa-nio berteriak-teriak di kejauhan sana, “Ang-lian-hoa, Kun Hay-hong, lekas kalian kemari, Kwe Pian-sian bersembunyi di dapur hotel sana...”

Air muka Kwe Pian-sian segera berubah pucat, dengan gemas ia menggerutu, “Keji amat hati perempuan ini.”

Ia cepat memondong Ciong Cing, lantas diambil lagi bungkusan yang disimpan di bawah onggokan kayu bakar tadi.

Ciong Cing mendongak memandangnya, tiba-tiba ia mengucurkan air mata pula, katanya dengan suara terputus-putus, “Aku... aku sudah begini. tapi... tapi kau tidak melupakan diriku, padahal sudah... sudah banyak perempuan yang kau kenal, mengapa... mengapa kau masih begini baik padaku?”

“Jika kau tutup mulut, mungkin aku akan lebih baik lagi padamu,” jengek Kwe Pian-sian.

********************

Sambil berteriak-teriak, setiba di bawah rumah berloteng tadi Gin-hoa-nio telah terengah-engah. Dilihatnya Pwe-giok sedang memandangnya, dia pun menyengir dan menjelaskan, “Betapa pun takkan kubiarkan dia kabur begitu saja, dia yang lebih dulu bertindak kejam padaku, betul tidak?”

Pwe-giok menarik napas panjang, katanya, “Jangan kau kira aku akan menyalahkanmu, sekarang aku sudah tahu di dunia ini masih banyak orang yang terlebih busuk darimu. Kau baru mencelakai orang lain apa bila orang bersalah padamu, tetapi ada sementara orang...” mendadak ucapannya tak dilanjutkan, ia membalik badan dan hendak mengetuk pintu.

Tanpa terduga di dalam rumah lantas ada orang berseru, ”Pintu tidak terkunci, masuklah sendiri!”

Gin-hoa-nio menggigit bibir, desisnya, “Kiranya dia telah memperhitungkan kepergian kita tadi pasti akan datang kembali, makanya kita dibiarkan pergi begitu saja.”

Meski ucapannya sangat lirih, siapa tahu tetap terdengar juga oleh orang di dalam rumah. Terdengar Cu Lui-ji berucap dengan tak acuh, “Kan sudah kukatakan, kami tidak pernah memohon sesuatu kepada orang lain, kami hanya menunggu orang lain yang akan datang memohon kepada kami.”

Gin-hoa-nio mengira Cu Lui-ji berada di balik pintu. Setelah pintu didorong, tak tahunya di ruangan bawah situ ternyata tiada bayangan seorang pun.

Tapi suara Cu Lui-ji lantas berkumandang dari atas loteng, katanya, “Setelah masuk, pintu jangan kalian palang, bisa jadi sebentar lagi ada orang lain akan datang juga!”

Gin-hoa-nio menggertak gigi dengan mendongkol, pikirnya, Tajam betul telinga budak ini.”

Sudah tentu dia tidak berani bersuara lagi. Dia ikut Pwe-giok naik ke atas loteng dengan perlahan, tirai jendela tertutup rapat, suasana terasa seram.

Cu Lui-ji kelihatan duduk di kursi kecil di samping tempat tidur, melirik saja tidak kepada kedatangan mereka, dengan mata terbelalak nona cilik itu mengawasi Sacek atau paman ke tiganya yang berbaring di tempat tidur.

Kedua orang yang terpancing masuk tadi juga kelihatan berlutut di kanan kiri tempat tidur, sikap mereka tampak amat ketakutan, seperti ingin kabur kalau bisa, tapi sayang, tenaga untuk kabur ternyata tidak ada.

Si sakit tetap berbaring dengan memejamkan mata, air mukanya tampak mulai bersemu merah pula, selang sejenak, mendadak uap mengepul di atas kepalanya.

Gigi Ko Tiong kedengaran bergemerutuk, mendadak dia berseru dengan suara parau dan lemah, “Am... ampun Cianpwe, ampun...” semakin lama suaranya semakin lirih, sampai akhirnya bahkan suaranya tak terdengar sama sekali.

Sebaliknya Cu Lui-ji lantas berkata, “Sacek hanya pinjam pakai tenaga kalian dan tidak ingin mencabut nyawa kalian, bila setitik Kungfu kalian ini dapat diberikan kepada Sacek, ini kan rejeki dan kebanggaan kalian.”

Belum habis ucapannya, mendadak tangan si sakit dikendorkan, kontan Ko Tiong berdua jatuh terjengkang dengan napas ngos-ngosan seperti kerbau.

Cu Lui-ji lantas mengusap keringat sang paman dengan sapu tangannya sambil bertanya dengan perlahan “Bagaimana Kungfu kedua orang ini?”

Si sakit menghela napas, gumamnya, “Ada nama tanpa isi... ada nama tanpa isi. Kenapa dunia Kangouw sekarang penuh manusia-manusia yang bernama kosong belaka?”

Sambil berkerut kening Cu Lui-ji berkata, “Sudah selanjut ini usia kalian, mengapa kalian tidak berlatih sebaik-baiknya, apa bila latihan dipergiat sedikit, tentu sekarang kalian akan jauh lebih berjaya.”

Ternyata dia menghendaki orang lain berlatih Kungfu sebaik-baiknya agar dapat ‘dipinjam’ oleh pamannya. Ucapan yang mau menang sendiri ini sungguh keterlaluan, sampai Pwe-giok juga geleng-geleng kepala.

Tapi bagi Cu Lui-ji, ucapannya itu ternyata sangat beralasan, bahkan makin omong makin jengkel, mendadak sebelah kakinya mendepak, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu kedua orang yang menggeletak di lantai itu terus mencelat keluar jendela, selang sejenak baru terdengar suara gemuruh genteng pecah, mungkin keduanya jatuh di atap rumah sebelah.

Bahwa dua orang itu berani menaksir gadis orang, apa yang mereka alami adalah akibat salahnya sendiri. Tetapi melihat cara anak dara ini turun tangan sekeji itu, mau tidak mau Pwe-giok geleng-geleng kepala pula dan menghela napas gegetun.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner