RENJANA PENDEKAR : JILID-39


Gin-hoa-nio melangkah maju memberi hormat kepada Lui-ji, lalu katanya sambil mengiring tawa, “Nona Cu, tadi mataku buta dan berani bertindak sembrono terhadapmu. Kuharap engkau jangan marah lagi dan sudi memaafkan diriku.”

“Aku memang sudah biasa digampar orang, mana berani aku marah padamu,” jawab Lui-ji dengan dingin.

Gin-hoa-nio tahu rasa gusar orang sebelum lagi hilang, mendadak tergerak pikirannya, dia terus berlutut di depan si sakit, air mata pun berderai, ratapnya, “Semenjak kecil aku telah yatim piatu, apa bila Cianpwe sudi menolong jiwaku, selanjutnya sekali pun dijadikan kuda atau kerbau, selama hidup akan kuladeni Cianpwe di sini.”

Dia tidak langsung memohon pertolongan kepada Cu Lui-ji, tapi malah memohon kepada si sakit, inilah kecerdikan Gin-hoa-nio. Ia tahu pasti, banyak lelaki berhati lemah terhadap perempuan, lebih-lebih bila melihat air mata perempuan. Sebaliknya perempuan terhadap perempuan biasanya tak kenal ampun. Kalau sakit ini telah menyanggupi akan menolong tentu Cu Lui-ji tidak berani membantah.

Betul juga si sakit lantas membuka matanya dan memandangnya sejenak. Tiba-tiba saja dia bertanya, “Apakah kau murid Siau-hun-kiongcu?”

Pertanyaan mendadak ini membuat Pwe-giok ikut terperanjat.

Dengan terkejut Gin-hoa-nio menjawab, “Dari mana... dari mana Cianpwe...”

Mestinya dia hendak bilang “Dari mana Cianpwe tahu”, sebab dia sudah masuk ke Siau-hun-kiong, yaitu istana di bawah tanah tempat kediaman Siau-hun-kiongcu, ia pun sudah menyembah kepada amanat tinggalan Siau-hun-kiongcu yang terukir di dinding, jadi telah terhitung sebagai murid Siau-hun-kiongcu.

Namun tiba-tiba teringat olehnya, pada masa hidupnya Siau-hun-kiongcu hampir dimusuhi oleh setiap tokoh dunia persilatan, jika dirinya mengaku sebagai murid Siau-hun-kiongcu, lalu siapa pula yang mau menolongnya?

Karena pikiran inilah dia menelan kembali sebagian ucapannya.

Si sakit lantas bertanya pula, “Apakah kau murid Siau-hun-kiongcu?”

“Bukan!” jawab Gin-hoa-nio.

Sejenak si sakit memandangnya, kemudian menghela napas panjang, katanya, “Sayang... sayang sekali…!”

“Sayang?” Gin-hoa-nio menegas dengan bingung.

Si sakit lantas memejamkan matanya dan tidak menghiraukannya lagi.

Beberapa kali Gin-hoa-nio sudah pentang mulut, tetapi tidak berani bertanya, dia menjadi gelisah dan mulut terasa kering.

Selang sejenak mendadak terdengar Cu Lui-ji berucap, “Sudah belajar ilmu silat Siau-hun-kiong, itu berarti sudah menjadi murid Siau-hun-kiongcu, dan kalau sudah menjadi murid Siau-hun-kiong mengapa tidak berani mengaku? Orang yang lupa pada perguruan dan berkhianat begini, siapa pula yang sudi menolong kau?”

Keringat Gin-hoa-nio berketes-ketes, ucapnya dengan suara gemetar, “No... nona bilang apa?”

Tapi Cu Lui-ji juga lantas memejamkan mata dan tidak menggubris kepadanya.

Seketika keadaan menjadi hening dan menyesakkan napas.

Gin-hoa-nio memandang si sakit, memandang pula Cu Lui-ji, gigi mulai gemerutuk.

“Sayang, sungguh sayang!” tiba-tiba seorang berseru dengan menghela napas panjang.

Ternyata Kwe Pian-sian adanya. Entah sejak kapan dia sudah ikut naik ke atas dan duduk di ujung tangga sana.

Gin-hoa-nio tidak tahan lagi, dengan suara parau dia lantas bertanya, “Sayang katamu? Sesungguhnya apanya yang harus disayangkan?”

“Bila mana tadi kau mengaku sebagai murid Siau-hun-kiongcu, bukan mustahil nona Cu ini akan menolong kau,” kata Kwe Pian-sian.

“Sebab apa?” tanya Gin-hoa-nio.

Kwe Pian-sian tertawa, katanya, “Masa sampai sekarang kau masih tidak dapat menerka siapakah nona Cu ini?”

“Memangnya siapa... siapa dia?” tanya Gin-hoa-nio.

Mendadak Kwe Pian-sian berdiri dan memberi hormat kepada Cu Lui-ji, katanya, “Dengan sendirinya nona Cu inilah puteri kesayangan Cu-nio-nio dari Siau-hun-kiong.”

Kata-kata ini membikin Pwe-giok ikut terkejut. Serentak Gin-hoa-nio lantas berdiri, tapi dia cepat berlutut pula ke bawah, tanyanya dengan terbelalak terhadap Cu Lui-ji, “Apakah... apakah benar engkau puteri Siau-hun-kiongcu?”

Tapi Cu Lui-ji sama sekali tidak menjawab, wajahnya tetap kaku dingin tanpa emosi. Anak umur belasan tahun ini seolah-olah berubah menjadi nyonya setengah baya yang kenyang asam garamnya kehidupan.

Sekujur badan Gin-hoa-nio terasa dingin, tiba-tiba ia berteriak dengan suara parau, “Tidak, tidak mungkin! Siau-hun-kiongcu sudah meninggal 30 atau 40 tahun yang lampau, tidak mungkin mempunyai anak perempuan sekecil ini!”

Kwe Pian-sian menghela napas, katanya, “Dunia persilatan memang penuh rahasia dan banyak teka-teki yang tidak terpecahkan, perempuan muda belia seperti kau ini bisa tahu apa?”

“Apa... apakah kau tahu?” tanya Gin-hoa-nio.

“Meski aku tahu sedikit, tapi tidak berani kukatakan,” ujar Kwe Pian-sian.

Mendadak si sakit menukas, “Kalau tahu, mengapa tidak berani dikatakan?”

Kwe Pian-sian bangkit dan memberi hormat katanya, “Jika demikian kehendak Cianpwe, tentu saja Cayhe menurut.” Lalu dengan perlahan ia bertutur, “Menurut cerita yang sudah turun temurun, satu di antara rahasia besar dunia persilatan adalah mengenai teka-teki kematian Siau-hun-kiongcu...”

“Tapi dengan mata kepalaku sendiri kulihat jenazahnya,” kata Pwe-giok.

“Konon itu bukan Siau-hun-kiongcu yang tulen,” ujar Kwe Pian-sian, “itu adalah jenazah salah seorang pelayannya saja. Karena dia hendak menghindari pencarian musuh, maka menggunakan akal begitu.”

Meski dia sedang menjawab pertanyaan Ji Pwe-giok, tetapi matanya terus memandang si sakit.

Dilihatnya si sakit tetap berbaring tanpa bergerak, seperti sudah tertidur dan entah dengar tidak ucapannya.

Kwe Pian-sian berdehem, lalu menyambung, “Meski tindak-tanduk Siau-hun-kiongcu amat dirahasiakan, tapi entah mengapa, akhirnya jejaknya diketahui orang, orang pertama yang mengetahui rahasianya konon ialah Tonghong-sengcu...”

“Tonghong-sengcu?” Pwe-giok menegas. “Apakah yang kau maksudkan adalah Tonghong Tay-beng dari Put-ya-seng (kota tanpa malam) di pulau Jit-goat-to yang merajai 72 pulau lautan selatan itu?”

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya, “Betul, tidak menjadi soal kalau sekarang kau sebut namanya, tetapi konon di masa jayanya, bila mana ada orang berani langsung menyebut namanya, maka orang itu mungkin sukar hidup satu jam lebih lama lagi.”

Mendadak si sakit membuka mata dan menatap Pwe-giok, tanyanya dengan bengis, “Dari mana kau tahu nama Tonghong Tay-beng?”

Pwe-giok merasa mata orang yang tadinya guram itu mendadak mencorong terang dan menggetar sukma, meski diam-diam terkejut, tetapi dia tetap tenang saja dan menjawab, “Ayahku pernah bercerita kepadaku bahwa Tonghong-sengcu ini adalah seorang di antara sepuluh tokoh terkemuka dunia persilatan. Cuma tempat tinggalnya jauh di lautan selatan sehingga kebanyakan orang Kangouw tidak kenal kelihaiannya. Ayahku juga mengatakan bahwa sepuluh tokoh yang memang amat hebat itu kebanyakan jarang bergerak di dunia Kangouw, padahal ilmu silat mereka rata-rata di atas pimpinan ke-13 aliran dan perguruan yang paling ternama sekarang ini.”

“Siapa2 saja kesepuluh tokoh yang dimaksudkan?” tanya si sakit.

“Cayhe tidak ingat lagi seluruhnya, cuma kecuali Tonghong-sengcu ini, cayhe masih ingat di antaranya ada lagi Nikoh sakti Eng-hoa Taysu dari Eng-hoa-kok, It-gun, si unta terbang dari gurun utara, Lo-cinjin dari Jing-sia-san, Sin-liong-kiam-khek, yang jejaknya sulit diraba itu, lalu ada lagi Li Thian-eng dari Sin-hong-nia...”

Belum habis ucapannya, si sakit seperti tidak sabar lagi mendengarkan, ia berkerut kening dan mendengus, “Hmm, jadi mereka itu yang dimaksudkan sepuluh tokoh tertinggi? Apa mereka sesuai?” Lalu dia memejamkan mata dan memberi tanda kepada Kwe Pian-sian, “Lanjutkan!”

Kwe Pian-sian berdehem pula, lalu menyambung, “Konon permusuhan Tonghong-sengcu dan Siau-hun-kiongcu sangat dalam, maka sesudah mendapat kabar di mana beradanya Siau-hun-kiongcu, segera dia mengumpulkan belasan Tocu dari ke-72 pulau laut selatan, diundang pula Li-thian-ong, Oh-lolo dan lain2, dicarinya Siau-hun-kiongcu untuk menuntut balas.”

“Ahh, ingatlah aku sekarang,” seru Pwe-giok mendadak. “Oh-lolo itu pun termasuk satu di antara sepuluh tokoh tersebut, konon ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi kemahirannya menggunakan racun konon jarang ada bandingannya di dunia ini.”

“Tujuan Tonghong-sengcu mengundang Oh-lolo untuk ikut menghadapi Siau-hun-kiongcu justru supaya meng... Hk, hkk...” mestinya Kwe Pian-sian hendak omong “menggunakan racun untuk menyerang racun”, akan tetapi demi melihat wajah Cu Lui-ji yang masam itu, seketika dia telan kembali ucapannya itu dengan batuk2.

“Apakah orang2 itu sudah mengetahui tempat sembunyi Siau-hun-kiongcu?” tanya Pwe-giok.

“Dengan sendirinya tahu,” jawab Kwe Pian-sian.

“Dan dapatkah mereka menemukan Siau-hun-kiongcu?” tanya Pwe-giok pula.

“Mungkin ketemu,” kata Kwe Pian-sian.

“Wah, pertarungan sengit itu pasti luar biasa dan jarang terjadi di dunia ini,” ujar Pwe-giok. “Lalu bagaimana kesudahannya?”

“Itulah aku pun tidak tahu,” kata Pian-sian.

“Kau pun tidak tahu?” Pwe-giok menegas.

“Ya, bukan cuma aku saja yang tidak tahu, mungkin di dunia ini juga tiada orang lain lagi yang tahu,” kata Pian-sian sambil menyengir.

“Memangnya sebab apa?” tanya Pwe-giok heran.

“Tindak-tanduk Tonghong Tay-beng dan rombongannya sudah tentu sangat dirahasiakan, tetapi pada waktu mereka hendak mulai bergerak, konon lebih dulu mereka mengadakan pesta pora di Gak-yang-lau (nama restoran terkenal di tepi danau Tongting). Kebetulan di dekat Gak-yang-lau juga ada orang yang sedang pesiar dengan perahu di bawah bulan purnama, tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan rombongan Tonghong-sengcu itu, maka diketahuilah berkumpulnya tokoh-tokoh top dunia persilatan itu adalah hendak menghadapi Siau-hun-kiongcu.”

“Dengan begitu beritanya lantas tersiar?” tanya Pwe-giok.

“Orang yang mendengar pembicaraan rombongan Tonghong-sengcu itu bukan orang yang suka usil mulut, karena inilah berita itu tidak tersiar dengan luas. Namun orang Kangouw umumnya memang sukar menjaga rahasia, akhirnya urusan itu tetap juga didengar orang, diam-diam ada orang menyelidiki kejadian itu, betapa pun mereka ingin tahu bagaimana kesudahan pertarungan sengit antara tokoh-tokoh top itu.”

“Apakah kejadian itu tetap tak dapat diselidiki mereka?” tanya Pwe-giok pula.

“Ya, tidak ada yang berhasil menyelidikinya,” jawab Kwe Pian-sian.

“Sebab apa?” tanya Pwe-giok.

Kwe Pian-sian menghela nafas gegetun, lantas katanya, “Sebab tokoh-tokoh top macam Tonghong-sengcu, Oh-lolo dan lain-lain itu untuk selanjutnya lantas lenyap tanpa bekas, seolah-olah mereka mendadak hilang dari permukaan bumi ini, tak ada seorang pun yang dapat menemukan mereka.”

Terperanjat Pwe-giok, tanyanya, “Masa orang-orang itu semua... semua disikat Siau-hun-kiongcu...?” dia pandang Cu Lui-ji sekejap dan tidak melanjutkan ucapannya.

Kwe Pian-sian menjawab, “Meski Siau-hun-kiongcu adalah tokoh ajaib di dunia persilatan, tapi menurut perkiraan umum, rasanya tidak mungkin sekaligus dia dapat menyikat tokoh-tokoh top sebanyak itu...” tiba-tiba dia pun memandang Cu Lui-ji sekejap dan tidak bicara lebih lanjut.

Tiba-tiba saja terdengar si sakit bersuara, “Apakah kalian ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya dari peristiwa itu?”

“Sudah tentu sangat kuharapkan, asalkan ada yang sudi memberi-tahu,” ujar Kwe Pian-sian dengan tertawa.

“Baik, akan kukatakan kepada kalian,” tutur si sakit. “Tonghong Tay-beng, Li Thian-ong, Oh-lolo beserta 19 Tocu ke 72 pulau di lautan selatan itu, seluruhnya telah kubunuh, satu pun tidak tersisa!”

Dia bicara dengan acuh tak acuh, seolah-olah kejadian itu hanya sesuatu yang biasa, tapi Kwe Pian-sian dan Ji Pwe-giok jadi melongo.

Biar pun mereka tidak pernah menyaksikan sendiri betapa lihay Tonghong Tay-beng, Oh-lolo dan lain-lain, tapi kalau Kungfu mereka diketahui jauh lebih tinggi dari pada pimpinan 13 perguruan ternama jaman kini, maka dapatlah dibayangkan sampai di mana kelihaian mereka, sedangkan para Tocu dari laut selatan itu konon juga bukan jago lemah, bahkan ada di antaranya yang mampu menandingi Hui-hi-kiam-khek hingga tiga hari tiga malam dan tetap belum terkalahkan.

Tokoh lihay macam begitu, satu saja sukar dilawan, apa lagi sekaligus berkumpul sampai 20 orang, sebaliknya si sakit yang sudah kempas kempis ini menyatakan telah membunuh tokoh-tokoh top itu tanpa tersisa satu pun. Keruan Pwe-giok dan Kwe Pian-sian melongo kaget dan tidak sanggup bersuara pula.

Dengan perlahan si sakit berkata lagi, “Selain itu harus kuberi-tahukan bahwa ibu Lui-ji, Cu Bi yang kalian kenal sebagai Siau-hun-kiongcu itu, dia meninggalkan istananya bukan lantaran takut dengan pencarian musuh, tapi kepergiannya itu hanya karena sudah bosan dengan kehidupan yang kesepian, tiba-tiba ia jatuh cinta kepada seorang dengan setulus hati, sebab itulah dia tidak sayang mengorbankan segalanya lantas pergi bersama orang yang dicintainya itu untuk meneruskan sisa hidupnya sebagai suami istri seperti khalayak umumnya.”

Pwe-giok dan Kwe Pian-sian memandang dengan terkesima, diam-diam mereka berpikir, “Jangan-jangan orang yang dimaksudkan ialah kau sendiri? Jangan-jangan kau inilah ayah Cu Lui-ji?” Dengan sendirinya pikiran mereka ini tidak berani dikemukakannya.

Si sakit itu tiba-tiba bertanya, “Apakah kalian ingin tahu siapakah yang berhasil merebut hati Cu Bi itu?”

“Kalau Cianpwe keberatan untuk menjelaskan juga tidak menjadi soal,” ujar Kwe Pian-sian dengan mengiring tawa.

Tapi si sakit lantas menjelaskan, “Orang itu adalah putera Tonghong Tay-beng, Tonghong Bi-giok.”

Kwe Pian-sian dan Pwe-giok sama menghela nafas panjang, dalam hati mereka seperti agak kecewa.

Dalam pada saat itu Cu Lui-ji telah maju ke sana mendekap di samping si sakit.

“Pemuda itu bernama Bi-giok (kemala indah), dari namanya dapat dibayangkan dia pasti seorang pemuda cakap,” sambung si sakit. “Sebab itulah, meski pun Cu Bi sudah cukup berpengalaman, dia jatuh hati juga terhadap bocah yang usianya hampir cuma separuh umurnya itu. Tentunya kalian dapat memaklumi, perempuan seperti Cu Bi, apa bila sudah jatuh cinta benar-benar, maka tidak tanggung-tanggung lagi dan sukar dicegah.”

Selagi Pwe-giok dan Kwe Pian-sian tidak tahu cara bagaimana harus menanggapi, tiba-tiba Gin-hoa-nio menghela nafas dan berkata, “Ya, memang betul!”

“Tapi Tonghong Bi-giok itu selain cakap, ternyata jiwanya justru sangat kotor dan rendah,” kata pula si sakit.

Di hadapan Cu Lui-ji dia mencaci-maki ayahnya, akan tetapi anak dara itu ternyata tidak menghiraukan, seakan-akan dia memang pantas dicaci-maki. Diam-diam Pwe-giok dan Kwe Pian-sian menjadi heran.

Terdengar si sakit menyambung lagi, “Sesudah Cu Bi menjadi isterinya, dia meninggalkan segala kebiasaannya yang hidup mewah dan suka memerintah. Ia menjadi isteri yang baik seperti perempuan umumnya. Setiap hari dia mengurus rumah tangga dan meladeni sang suami, sebab dia ingin melupakan segala apa yang telah lalu di tengah kehidupan masa itu. Betapa mendalam cintanya terhadap Tonghong Bi-giok tentu dapat kalian bayangkan pula.”

Pwe-giok menghela nafas, katanya di dalam hati, “Seorang lelaki bila mendapatkan isteri sebaik ini, apa pula yang diharapkannya lagi?”

Diam-diam Gin-hoa-nio juga membatin, “Kelak bila mana aku jatuh cinta pada seseorang, entah aku akan bertindak begitu atau tidak...? Tapi, aihh, jiwaku saja sukar dipertahankan, untuk apa kupikirkan hal ini?”

Juga Kwe Pian-sian diam-diam berpikir, “Siau-hun-kiongcu itu sudah kenyang merasakan asam garamnya kehidupan manusia. Dia merasa hanya dengan memperlihatkan tindakan nyata itulah baru dapat membuktikan cintanya yang tulus. Tapi Tonghong Bi-giok adalah pemuda yang masih hijau, mungkin ia merasa kehidupan yang begitu itu malah terlampau kaku dan bersahaja sehingga tidak menarik.”

Begitulah tiga orang tiga macam pikiran, sudah tentu tidak ada seorang pun yang berani memberi komentar.

Si sakit lalu menyambung lagi, “Meski Cu Bi telah mencurahkan cintanya dengan segenap jiwa raganya, siapa tahu Tonghong Bi-giok justru bosan terhadap kehidupan mereka itu, berulang-ulang dia membujuk agar Cu Bi mau kembali ke Siau-hun-kiong.”

Kwe Pian-sian tersenyum puas, ia bangga karena merasa dugaannya tadi cocok dengan kejadian yang sebenarnya. Sedangkan Pwe-giok diam-diam menggeleng kepala.

Gin-hoa-nio yang lantas bertanya, “Dan dia... dia pulang ke Siau-hun-kiong atau tidak?”

“Dengan sendirinya Cu Bi tidak mau,” tutur si sakit. “Saat itu usianya tidak tergolong muda lagi, namun dia mahir bersolek sehingga tampaknya masih tetap cantik bagaikan bidadari, sebab itulah Tonghong Bi-giok juga masih berat untuk meninggalkan dia...”

Kwe Pian-sian memandang sekejap ke arah Cu Lui-ji, pikirnya, “Dalam usia sekecil dia ini sudah dapat memikat kaum lelaki, maka tidak perlu ditanyakan lagi betapa cantik ibunya. Sayang, aku sendiri sok mengaku kenyang main perempuan macam apa pun, akan tetapi ternyata tidak dapat bertemu dengan perempuan seperti Siau-hun-kiongcu.”

Gin-hoa-nio juga sedang membatin, “Biar pun Cu Bi sudah meninggalkan kehidupannya yang mewah, tapi dalam hal-hal tertentu dia pasti dapat membuat Tonghong Bi-giok lupa daratan. Kelak entah aku dapat menandingi dia atau tidak?”

Ia pandang Pwe-giok, anak muda itu tampak sedang menghela nafas gegetun.

Terdengar si sakit bertutur kembali, “Umumnya perempuan yang suka berdandan paling pantang melahirkan, dengan sendirinya Cu Bi juga tahu hal ini, sebab itulah selama hidup bersama dua tahun dia pun tidak mengandung. Tetapi lambat laun usia Cu Bi juga makin bertambah, cita-citanya tentang menjadi ibu juga bertambah keras sehingga akhirnya dia tidak menghiraukan soal kecantikan lagi dan lahirlah seorang puterinya.”

Dia pandang Cu Lui-ji sekejap, anak dara itu menunduk dengan air mata berlinang.

Gin-hoa-nio tidak tahan, dia bertanya, “Sesudah melahirkan anak, apakah dia betul-betul berubah menjadi tua?”

Kalau orang lain sama asyik mendengarkan cerita yang misterius ini, hanya Gin-hoa-nio saja yang justru memperhatikan soal kecantikan Siau-hun-kiongcu.

Si sakit menghela nafas, katanya, “Ya, tidak sampai setengah tahun sesudah melahirkan anak ini, perempuan yang maha cantik itu lantas berubah keriput dan ubanan, seketika seperti bertambah berpuluh tahun lebih tua.”

Gin-hoa-nio menghela nafas, ia tidak bicara lagi, tapi diam-diam membatin, “Kalau begitu, biar pun kepalaku harus dipenggal juga aku tidak mau melahirkan anak.”

Tak terduga Pwe-giok juga menghela nafas dan berkata, “Bila Tonghong Bi-giok itu sudah mulai timbul rasa... rasa bosannya terhadap Cu kiongcu, maka selanjutnya... selanjutnya mungkin...” dia memandang Cu Lui-ji sekejap dan menelan kembali kata-kata yang belum terucap itu.

Tetapi si sakit lantas berkata, “Cu Bi sangat cerdik, masa dia tidak tahu Tonghong Bi-giok mulai berubah pikiran terhadapnya. Ia cuma tidak berpikir bahwa setelah melahirkan anak dia bisa berubah tua secepat itu. Suatu hari dia berkaca dan melihat rambut sendiri pun sudah mulai rontok, segera terpikir olehnya bahwa sekali ini pasti sukar merebut kembali hati Tonghong Bi-giok yang memang sudah goyah itu.”

Diam-diam Gin-hoa-nio membatin, “Kalau aku menjadi dia, akan lebih baik kubunuh saja Tonghong Bi-giok, dengan demikian, biar pun aku tidak mendapatkan dia lagi, orang lain pun jangan harap akan memiliki dia.”

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa dia melirik ke arah Pwe-giok, dilihatnya bekas luka di muka anak muda itu, seketika dia menunduk dan tidak berani mendongak lagi.

Didengarnya si sakit telah menyambung ceritanya lagi, “Malam itu diam-diam ia menangis sambil menimang anaknya. Semalam suntuk dia menangis, esoknya sebelum lagi terang tanah dia lantas membangunkan Tonghong Bi-giok.”

Gin-hoa-nio tidak tahan dan menyela pula, “Apakah... apakah mereka tidak tidur bersama di dalam satu kamar?”

“Sejak anak ini lahir, Tonghong Bi-giok lantas tidur di sebuah kamar tersendiri,” jawab si sakit. “Katanya dengan demikian supaya Cu Bi bisa momong anaknya dengan lebih baik, padahal... Hmm…”

Diam-diam Kwe Pian-sian membatin, “Hal ini pun tidak dapat menyalahkan dia, bila mana aku, tentu aku pun tidak sudi tidur bersama seorang nenek-nenek...” mendadak ia merasa sorot mata si sakit tertuju kepadanya, cepat dia berkata dengan mengiring tawa, “Entah untuk apakah Cu-kiongcu membangunkan dia?”

Orang sakit itu menghela nafas, katanya kemudian, “Mungkin kalian pun tidak akan dapat menerka apa maksudnya.”

Seketika semua orang terdiam, siapa pun tak berani buka mulut. Selang sejenak barulah si sakit menyambung lagi, “Tujuannya membangunkan dia adalah mohon diri kepadanya.”

“Mohon diri?!” serentak Ji Pwe-giok, Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio sama melenggong.

“Betul,” kata si sakit. “Dia tahu keadaannya tidak mungkin disukai lagi oleh Tonghong Bi-giok, ia menyatakan tak mau membebani Tonghong Bi-giok lagi, setelah berpisah bolehlah Tonghong Bi-giok mencari gadis lain yang sembabat kemudian berumah tangga lagi yang bahagia. Cu Bi sendiri sudah tak mau lagi bertemu dengan dia, yang dia harapkan adalah Tonghong Bi-giok dapat hidup bahagia. Asalkan dapat membesarkan anak mereka, maka puaslah dia.”

Bila mana membayangkan betapa pedihnya waktu Cu Bi mengucapkan kata-katanya itu, tanpa terasa hati semua orang ikut remuk redam.

Sampai-sampai Kwe Pian-sian juga merasa terharu, pikirnya, “Tak tersangka Cu Bi benar-benar mencintai Tonghong Bi-giok dengan suci murni, seorang laki-laki bila mendapatkan cinta setulus itu dari seorang perempuan, maka tidak penasaranlah hidupnya ini.”

Pwe-giok juga terharu, ia berkata, “Sesudah mendengar ucapan itu, apakah Tonghong Bi-giok tega tinggal pergi begitu saja?”

Si sakit menjawab, “Tidak, dia tidak pergi, sebaliknya setelah mendengar kata-kata Cu Bi itu lantas bersumpah segala, katanya cintanya terhadap Cu Bi tidak akan berubah sampai dunia kiamat. Sungguh pun Cu Bi berubah tua dan betapa jelek juga, dia tidak mungkin meninggalkannya.”

Pwe-giok menarik nafas panjang, katanya, “Jika demikian, Tonghong Bi-giok ini bukanlah manusia yang tidak setia.”

“Betul, dia memang bukan manusia yang tak setia, sebab hakekatnya dia memang bukan manusia,” tukas si sakit mendadak. Sampai di sini wajahnya yang semula tenang-tenang itu seketika berubah menjadi emosi, sorot matanya berapi-api, butiran keringat merembes keluar di dahinya.

Perlahan Cu Lui-ji mengusap keringat sang paman, air mata anak dara itu pun berderai.

Semua orang sama ternganga menyaksikan kejadian itu, tiada yang berani buka suara. Seketika suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara sedu-sedan Cu Lui-ji yang amat berduka itu.

Selang sejenak akhirnya si sakit menghela nafas, katanya, “Setelah mendengar sumpah setia Tonghong Bi-giok itu, hati Cu Bi menjadi terharu dan berterima kasih. Memang dia juga merasa berat untuk berpisah, ia hanya rela berkorban baginya. Sekarang Tonghong Bi-giok tegas-tegas menyatakan setianya, dengan sendirinya Cu Bi juga tak menyinggung lagi soal berpisah.”

“Jangan-jangan Tonghong Bi-giok itu ada... ada rencana tertentu?” kata Pwe-giok.

Si sakit tidak menjawab, tetapi ia melanjutkan ceritanya, “Sejak itulah Cu Bi mencurahkan segenap tenaganya untuk menjaga anak sambil merawat Tonghong Bi-giok dengan lebih rajin. Lewat dua tahun lagi, tiba-tiba ayah Tonghong Bi-giok, yaitu Tonghong Tay-beng itu bahkan membawa serta 20 tokoh Bu-lim terkemuka.”

Si sakit memandang sekejap Pwe-giok bertiga, kemudian menyambung, “Padahal tempat tinggal Cu Bi itu sangat dirahasiakan, maklum dia sendiri musuhnya terlalu banyak. Lalu cara bagaimana Tonghong Tay-beng berhasil menemukan tempat kediamannya? Apakah kalian dapat membayangkan hal ini?”

“Ya, Wanpwe juga sedang heran,” kata Kwe Pian-sian.

“Bukan cuma kau saja yang heran, waktu itu Cu Bi juga sangat heran,” ujar si sakit. “Dia baru paham duduknya perkara setelah melihat tindakan Tonghong Bi-giok. Ia tidak kaget, bahkan... bahkan dia terus berlari menggabungkan diri dengan mereka...” si sakit berseru dengan suara parau.

“Brakk!” mendadak sebuah meja kecil di ujung tempat tidur dihantamnya hingga hancur.

Tergerak hati Pwe-giok, Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, secara lamat-lamat mereka bisa menerka bahwa kedatangan Tonghong Tay-beng dan rombongannya itu bukan mustahil justru Tonghong Bi-giok sendiri yang membocorkan tempat tinggalnya ini, namun mereka tak sampai hati untuk memberikan komentar. Mereka mendengar nafas si sakit terengah-engah, jelas gusarnya tidak kepalang.

Dengan menahan tangis Cu Lui-ji berkata, “Sacek, tenagamu belum pulih, untuk... untuk apa kau...”

“Di seluruh kolong langit ini belum ada orang lain yang tahu akan rahasia ini,” seru si sakit dengan suara bengis. “Sekali pun aku harus mati sehabis bercerita juga akan kubeberkan, tak dapat kubiarkan ibumu menanggung nama busuk meski sudah mati.”

Cu Lui-ji tak tahan lagi, dia mendekap di tempat tidur dan menangis sedih.

Dengan suara serak si sakit bercerita pula, “Kiranya binatang Tonghong Bi-giok itu diam-diam telah berkhianat, satu tahun setelah Cu Bi melahirkan, pada waktu kecantikan Cu Bi sudah luntur, diam-diam binatang itu menyewa seorang saudagar yang biasa berlayar ke luar lautan, dengan upah besar dia minta orang itu menyampaikan suratnya ke Jit-goat-to, ke Put-ya-seng, kepada ayahnya. Tentu saja dengan janji muluk-muluk dan upah besar agar saudagar itu mau melaksanakan tugasnya. Cuma Jit-goat-to sangat sulit ditemukan, karena itulah beberapa tahun kemudian surat itu baru sampai di tangan Tonghong Tay-beng...”

Meski sejak tadi semua sudah menduga akan kemungkinan kejadian ini, namun mereka belum lagi berani percaya Tonghong Bi-giok itu ternyata sedemikian kejinya. Sekarang hal ini diceritakan sendiri oleh si sakit, tanpa terasa semua orang ikut gemas juga, sampai-sampai Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio juga merasa tindakan Tonghong Bi-giok itu terlalu kejam.

Mendadak dengan sinar mata yang tajam si sakit melototi Kwe Pian-sian, katanya, “Aku tahu kau ini pun orang yang tak berbudi, tetapi bila kau yang menjadi Tonghong Bi-giok, apakah kau tega berbuat begitu...? Coba jawab dengan sejujurnya!”

Kwe Pian-sian jadi gelagapan, “O, Cayhe... Wanpwe...”

Ia merasa sinar mata si sakit setajam sembilu yang hendak membedah dadanya sehingga untuk berdusta saja dia tidak berani. Ia menghela nafas, kemudian menyambung dengan menyengir,

“Jika... jika Wanpwe, paling-paling kutinggal pergi begitu saja dan habis perkara.”

“Betul, bila orang lain, betapa pun keji orang itu, paling-paling cuma tinggal pergi saja dan habis perkara.” kata si sakit. “Tapi Tonghong Bi-giok si binatang itu benar-benar lain dari pada yang lain. Ia tahu betapa tinggi Kungfu Cu Bi dan betapa keji caranya turun tangan. Dia takut bila melarikan diri mungkin Cu Bi akan menemukan kembali, dia kuatir jiwanya tetap tak bisa lolos dari tangan Cu Bi.”

“Tapi... tapi Cu-kiongcu kan sudah rela mau berpisah dengan dia, mengapa dia bertindak pula sekeji itu?” tanya Pwe-giok dengan gemas.

Jawab si sakit, “Meski Cu Bi hendak berpisah setulus hati dengan dia, tetapi dia khawatir tindakan Cu Bi itu hanya pura-pura saja dan hendak mengujinya. Apa lagi waktu itu dia juga telah mengirim surat kepada ayahnya, maka demi kepentingan sendiri dan agar tidak menimbulkan bahaya di kemudian hari, dengan sendirinya ia harus menyaksikan kematian Cu Bi barulah dia merasa aman. Jadi apa yang dikatakannya kepada Cu Bi itu hanyalah sekedar untuk menghiburnya agar Cu Bi tetap tinggal di situ.”

Mendengar sampai di sini, tanpa terasa Kwe Pian-sian turut bicara, “Keji amat hati orang ini, sungguh sangat kejam.”

“Kemudian apakah... apakah Cu-kiongcu benar-benar mati di tangan mereka?” tanya Pwe-giok.

Muka si sakit tampak masam dan dia tidak segera menjawab. Selang sejenak barulah dia berkata, “Kukira kalian lupa bertanya sesuatu padaku.”

“Dalam hal apa?” tanya Pwe-giok.

“Kalian lupa tanya padaku dari mana aku tahu semua kejadian ini,” kata si sakit.

Mendingan juga dia tidak omong, begitu dia katakan, mau tak mau semua orang menjadi heran. Memang betul juga, kalau peristiwa itu sedemikian dirahasiakan, dari mana pula si sakit mendapat tahu? Bahkan demikian jelas seperti ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri di tempat kejadian.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner