RENJANA PENDEKAR : JILID-40


Perlahan-lahan orang sakit itu memejamkan mata lagi sambil berkata, “Selama hidup aku paling suka menyendiri, sejak mengalami sesuatu kejadian, aku lantas merasa di dunia ini tiada seorang pun yang cocok bagiku, siapa pun yang kutemui kalau bisa ingin langsung kumampuskan dengan sekali bacok.”

Belum habis dia bercerita kisah kehidupan Siau-hun-kiongcu, mendadak ia bicara tentang wataknya sendiri. Tentu saja semua orang merasa heran, namun mereka tetap diam saja dan mendengarkan dengan cermat, tiada seorang pun berani menyeletuk.

Terdengar si sakit menyambung kembali dengan perlahan, “Tetapi tidak mungkin kubunuh habis manusia di dunia ini, terpaksa akulah yang menjauhi mereka. Tatkala itu lagi musim semi, di sekitar pantai Hokciu di propinsi Hokkian banyak kapal dagang yang hilir mudik ke kepulauan timur. Kupilih sebuah kapal layar yang kuat dan gesit, kemudian aku melompat ke atas kapal itu dan mengusir seluruh anak buahnya, aku berlayar sendirian. Sudah tentu perbekalan di atas kapal itu cukup lengkap dan banyak sehingga aku tidak akan kelaparan dan kehausan, kurasakan jagat raya yang luas ini benar-benar bebas merdeka dan tiada seorang pun yang akan mengganggu diriku lagi. Kurasakan hidup yang tenang dan sunyi, rasa kesal yang terpendam sekian lama akhirnya terasa buyar.”

Mendengar sampai di sini, samar-samar orang dapat merasakan cerita orang ini pasti ada sangkut pautnya dengan kisah hidup Siau-hun-kiongcu itu, sangkut pautnya justru terletak pada kapal layar ini.

Terdengar si sakit menyambung pula ceritanya, “Entah sudah berapa lama aku berlayar, suatu hari aku berduduk di buritan kapal sambil menikmati matahari terbenam yang indah, tiba-tiba kulihat sesosok tubuh manusia terombang-ambing di laut yang luas itu, sekujur badan orang itu berlumuran darah, dengan mati-matian berusaha tetap berpegangan erat-erat pada sepotong kayu, keadaannya amat payah dan tampak lebih banyak mampusnya dari pada hidup.”

Diam-diam Kwe Pian-sian membatin, “Bila mana orang ini masih bisa hidup, mungkin kau takkan menolong dia. Tetapi lantaran orang itu pasti akan mati, kau pun lagi iseng karena kesepian, bisa jadi akan kau tolong dia malah.”

Dalam pada itu si sakit telah berkata pula, “Waktu itu aku sudah terlampau benci kepada setiap manusia di dunia ini, mestinya tiada niatku akan menolong dia, tapi melihat lukanya begitu parah, aku menjadi tidak tega dan kutanya dia apa yang terjadi, siapa yang melukai dia separah itu? Kupikir bila mana di sekitar sana ada bajak laut, malah kebetulan bagiku karena akan dapat kusikat mereka untuk melampiaskan rasa gemasku.”

Mendengar uraian si sakit yang penuh emosi itu, diam-diam Pwe-giok membatin, “Meski pun orang ini penuh dendam kepada sesamanya, tapi bagaimana pun juga dia tidak mau sembarangan membunuh, malah bajak laut yang ingin ditumpasnya, dari sini terbukti hati nuraninya belum lagi gelap sama sekali, tindak tanduknya tetap bersifat seorang pendekar sejati.”

Berpikir demikian, tanpa terasa timbul juga rasa hormatnya kepada si sakit ini.

Tapi mendadak si sakit melotot padanya dan bertanya, “Sekarang apakah kau tahu siapa orang yang kutolong itu?”

Pwe-giok melengak, benaknya bekerja cepat, serunya, “Jangan-jangan orang yang dititipi surat oleh Tonghong Bi-giok itu.”

Sorot mata si sakit yang dingin untuk pertama kalinya menampilkan secercah senyum, katanya, “Tepat sekali tebakanmu.” Dengan cepat senyumnya itu lantas lenyap, dengan ketus dia menyambung lagi, “Dan tahukah kau siapa yang turun tangan keji kepadanya?”

Belum lagi Pwe-giok bersuara, mendadak Kwe Pian-sian menyela, “Tonghong Tay-beng!”

“Betul,” kata si sakit. “Rupanya setelah dia berhasil mencapai Put-ya-sia di Jit-goat-to dan setelah dia menyerahkan surat kepada Tonghong Tay-beng, selagi dia menunggu hadiah besar dari penerima surat itu, siapa duga Tonghong Tay-beng malah mengerahkan anak buahnya, kemudian segenap rombongan pengantar surat yang berjumlah 37 jiwa itu telah dibunuhnya sama sekali tanpa tersisa satu pun. Untung pengantar surat itu hanya terluka parah dan belum tewas, sekuatnya ia berusaha lari, tujuannya hanya ingin membeberkan rahasia yang diketahuinya mengenai Tonghong Bi-giok.”

“Mungkin dia memang ditakdirkan harus membeberkan rahasia yang diketahuinya, maka Thian mengantarkan dia untuk bertemu dengan Cianpwe,” sela Pwe-giok pula.

Namun Kwe Pian-sian berkata dengan menyesal, “Jika aku menjadi dia, hakekatnya aku tak mau mengantarkan surat itu. Masa urusan sepenting itu dan harus dirahasiakan boleh diserahkan begitu saja kepada orang yang baru dikenal, mana mungkin Tonghong Tay-beng membiarkan dia pergi lagi dengan hidup setelah menerima surat itu.”

“Tapi pada umumnya orang yang sudah biasa berlayar kian kemari rata-rata adalah orang licin, dengan sendirinya segala kemungkinan juga sudah dipikirnya.” kata si sakit. “Setelah dia menerima upah dari Tonghong Bi-giok, cukup baginya kalau surat itu dibakar saja dan segala urusan beres, ke mana Tonghong Bi-giok akan mencarinya lagi. Tetapi sayangnya dia telah berbuat suatu kesalahan, timbul rasa ingin tahunya akan surat antarannya itu. Ia pikir isi surat itu pasti sangat penting, kalau tidak tentunya tidak perlu disuruh mengantar dengan upah yang besar. Maka secara diam-diam ia telah mencuri baca isi surat itu.”

Gin-hoa-nio menghela napas, katanya, “Jika aku menjadi dia, rasanya aku pun ingin tahu apa isi surat itu.”

“Makanya orang macam begitu tidak perlu penasaran kalau mampus,” jengek si sakit.

Gin-hoa-nio menunduk dan tidak berani bersuara lagi.

“Sesungguhnya apa isi surat itu? tanya Pwe-giok tiba-tiba.

“Binatang Tonghong Bi-giok itu telah menyatakan di dalam surat bahwa dia yang terpelet oleh Cu Bi dan berada dalam bahaya, maka diharapkan pertolongan Tonghong Tay-beng. Dalam surat itu pun dinyatakan dengan tegas bahwa setelah menerima surat itu, supaya Tonghong Tay-beng memberikan upah kepada si pengantar surat satu jumlah harta yang tak habis terpakai selama hidup.”

“Mungkin pengantar surat itu telah terpancing oleh pesan Tonghong Bi-giok itu, karena itu sedapatnya dia berusaha menyampaikan surat itu ke Put-ya-sia.

Padahal kalau dia mau berpikir secara cermat, di dunia ini mana ada kekayaan yang tidak habis terpakai selama hidup? Betapa pun besar jumlahnya, harta kekayaan ada kalanya juga akan habis dan ludes, kecuali orang itu mati seketika, dengan begitulah baru benar-benar tidak akan habis terpakai selama hidup.”

“Betul, dengan pesan itu Tonghong Bi-giok justru menghendaki ayahnya membinasakan si pengantar surat apa bila surat itu telah diterimanya,” sela Kwe Pian-sian. “Cuma sayang, bocah itu mungkin sudah keblinger oleh janji upah yang amat besar itu sehingga dia tidak memperhatikan arti yang terkandung di dalam pesan itu.”

“Bukan cuma itu saja, justru Tonghong Bi-giok sudah memperhitungkan bahwa di tengah jalan si pengantar surat itu pasti akan mencuri baca suratnya, maka di dalam suratnya itu dia sengaja menulis pesan yang bermakna ganda itu untuk memancingnya,” kata si sakit. “Manusia mati karena harta, burung mati karena makanan, jadi orang itu memang pantas mampus. Tetapi apa yang terjadi itu pun dapat menggambarkan betapa kejinya Tonghong Bi-giok.”

“Jangan-jangan lantaran Cianpwe merasa perbuatan orang ini terlalu keji, maka Cianpwe ingin membunuhnya demi kesejahteraan umum, karena itu Cianpwe terus putar balik dari pelayaranmu itu?” tanya Pwegiok.

“Kalau melulu soal ini mungkin aku tidak akan kembali lagi ke daratan sini,” tutur si sakit dengan perlahan. “Justru sebelum mati orang itu telah bercerita pula apa yang dialaminya, saking gusarnya barulah aku ingin bertindak.”

“Apa lagi yang diceritakan orang itu?” tanya Pwe-giok.

“Bahwa Tonghong Bi-giok mau mempercayakan surat sepenting itu kepadanya, tentunya orang itu pun mempunyai hubungan cukup erat dengan dia, betul tidak?” tanya si sakit.

“Ya, tapi Tonghong Bi-giok kan sudah hidup menyepi...”

“Tahukah kau bahwa tempat yang paling baik untuk menyepi adalah justru tempat yang ramai?” tanya si sakit tiba-tiba.

Seketika itu Kwe Pian-sian berkeplok dan membenarkan, katanya, “Betul, untuk menyepi, artinya bersembunyi menghindari pencarian orang, tempat yang baik memang tidak harus di pegunungan atau tempat terpencil. Apa bila kau sembunyi di tempat begitu, terkadang malah lebih mudah ditemukan orang. Tapi orang semacam Cu-kiongcu, bila bersembunyi di suatu kota kecil biasa dan hidup tenteram seperti orang lain, tentu jejaknya akan sukar ditemukan orang.”

Tergerak pikiran Pwe-giok, lalu dia berseru, “He, jangan-jangan di kota kecil inilah dahulu Cu-kiongcu bertirakat?”

Si sakit menghela nafas, tuturnya, “Kota ini dibilang kecil juga tidak kecil, dikatakan besar juga tidak besar, tetapi kehidupan di sini aman tenteram, penduduknya hidup rukun dan damai, tak nanti sengaja mencari tahu rahasia pribadi orang lain. Sekali pun kadang kala ada orang Kangouw yang melintas di sini juga takkan menaruh perhatian keadaan di sini, jadi memang suatu tempat tirakat yang baik. Sungguh cerdik Cu Bi dapat memilih tempat sebaik ini. Kalau saja Tonghong Bi-giok tidak berubah pikirannya, sungguh pun dia tinggal seratus tahun di sini juga orang lain takkan menyangka nyonya rumah yang biasa di kota kecil ini sebenarnya adalah Siau-hun-kiongcu dan dikabarkan sudah mati itu.”

“Ya, memang benar tak terduga oleh siapa pun juga,” kata Pwe-giok.

“Pelaut yang dititipi surat oleh Tonghong Bi-giok itu bernama Li Bo-tong, dia aslinya juga penduduk kota kecil ini, cuma sejak muda sudah mengembara ke mana-mana sehingga hampir dilupakan oleh penduduk setempat. Kebetulan sekali tahun itu ia pulang kampung halaman, kebetulan pula tempat tinggalnya sebelah menyebelah dengan rumah Cu Bi. Pada waktu Tonghong Bi-giok mengetahui orang she Li ini tidak lama akan berlayar lagi, pada saat itulah dia lantas bersahabat dengan dia.”

“Cu-kiongcu adalah orang yang cerdik, masa sedikit pun dia tidak menaruh curiga?” tanya Kwe Pian-sian.

Si sakit menjawab, “Waktu itu Cu Bi mencurahkan segenap perhatiannya untuk merawat anaknya, apa lagi pergaulan antara tetangga kan juga jamak,” kata si sakit.

“Betul, dia sudah bertempat tinggal di situ, jika tidak bergaul dengan tetangga malah akan menimbulkan curiga orang lain,” ujar Pwe-giok. “Apa lagi orang biasa seperti Li Bong-tong itu tentu juga takkan tahu-menahu rahasia persembunyiannya.”

“Tapi penduduk di sekitar sana tahu bahwa Cu Bi adalah isteri yang baik dan ibu rumah tangga yang teladan, rajin dan hemat, bahkan sangat pandai meladeni sang suami,” kata orang sakit itu.

“Sepulangnya Li Bong-tong di rumah tentu dia pun mendengar cerita tetangga itu,” ujar Kwe Pian-sian.

“Betul, makanya setelah membaca surat Tonghong Bi-giok itu, ia sangat terkejut,” tutur si sakit. “Sungguh ia tidak percaya seorang isteri teladan dan ibu rumah tangga yang terpuji itu asalnya adalah seorang iblis yang ditakuti. Tapi ia pun menganggap Tonghong Bi-giok tidak pantas berbuat khianat terhadap istrinya sendiri. Namun waktu itu ia sudah keblinger oleh janji upah besar, yang terpikir olehnya hanya harta benda yang takkan habis dipakai selama hidup. Ketika sudah mendekati ajalnya barulah timbul hati nuraninya, barulah dia menceritakan seluk beluk urusan itu padaku.”

Habis bicara, kembali tangannya hendak menggabruk meja lagi. Karena sepanjang tahun dia berbaring di situ, dalam anggapannya di sebelahnya adalah meja kecil, tidak teringat olehnya bahwa meja itu tadi sudah digebrak hingga hancur.

Dengan sendirinya gebrakan ini mengenai tempat kosong, dan mungkin akan mengenai pinggir tempat tidur dan bisa jadi tempat tidur itu pun akan hancur. Untunglah mendadak Cu Lui-ji menjulurkan tangannya. dengan enteng tangan sang paman dipegangnya sambil berkata dengan suara halus,

“Sacek, maukah kau jangan marah-marah lagi?”

Tindakan Cu Lui-ji itu mungkin takkan mengherankan orang lain, namun bagi pandangan Pwe-giok dan Kwe Pian-sian yang sudah tergolong jago silat kelas satu, melihat itu hati mereka jadi terkesiap.

Maklumlah, betapa cepat dan betapa kuat pula gebrakan tangan si sakit, namun dengan ringan saja Cu Lui-ji dapat menangkapnya.

Secara diam-diam Kwe Pian-sian membatin, “Budak cilik ini selain mahir memikat lelaki, Kungfunya ternyata juga tidak rendah dan tampaknya tidak di bawahku.”

Padahal si sakit sudah dalam keadaan senin-kemis, tapi masih mampu mendidik seorang nona cilik dengan Kungfu setinggi itu, mau tak mau Kwe Pian-sian merasa ngeri.

Dilihatnya tangan Cu Lui-ji yang kecil itu sedang mengelus-elus tangan si sakit yang kurus seperti cakar itu. Lambat laun rasa gusar si sakit pun mereda, dia menghela nafas dan berkata,

“Sesudah mendengar penuturan Li Bong-tong waktu itu, aku tidak tahan lagi dengan rasa gusarku. Sungguh tak pernah terpikir olehku di dunia ini ada manusia tak berbudi macam Tonghong Bi-giok. Segera kuminta Li Bong-tong untuk melukiskan letak pulau kediaman Tonghong Tay-beng. Sesudah memberi keterangan Li Bong-tong lantas menghembuskan nafas penghabisan.”

“Dan Cianpwe lantas memburu ke Put-ya-sin di Jit-goat-to untuk mencari Tongheng Tay-beng?” tanya Pwe-giok.

“Betul,” jawab si sakit. “Cuma sayang, waktu itu Tonghong Tay-beng sudah meninggalkan pulaunya. Dalam gusarku, aku mengobrak-abrik seluruh pulau itu hingga morat-marit. Aku pikir kepergian Tong hong Tay-beng itu tentu akan mengundang bala bantuan lagi, untuk itu tentu akan makan waktu, jika segera menyusul ke Li-toh-tin, bisa jadi jiwa Cu-Bi dapat kuselamatkan. Maka aku cepat-cepat berlayar pulang ke daratan sini, tetapi siapa tahu... kedatanganku masih tetap terlambat satu langkah.”

Sampai di sini, bagi Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio kisah Siau-hun-kiongcu itu sudah jelas sebagian besar, tetapi diam-diam mereka pun heran atas diri si sakit, pikir mereka, “Kalau orang ini telah sedemikian benci terhadap sesamanya, saking bencinya seakan-akan baru puas bila mana setiap manusia di dunia ini sudah mau terbunuh habis, lalu untuk apa dia terburu-buru pulang ke sini hanya untuk menolong Cu Bi?”

Hanya Ji Pwe-giok saja yang berbeda pendapat. Meski pun masih muda, tetapi dia sudah kenyang dengan macam-macam pengalaman. Dia pun seorang yang berperasaan halus dan pecinta yang luhur. Lamat-lamat dia dapat menerka isi hati si sakit itu, diam-diam dia berpikir,

“Dari nada ceritanya, sebabnya dia berubah menjadi ekstrim dan ingin membunuh setiap manusia di dunia ini, jangan-jangan lantaran dia sendiri juga mengalami persoalan yang menyakitkan hati, misalnya dikhianati kekasihnya, maka dia dendam kepada setiap orang yang berhati palsu dan suka mengkhianati. Bahwa dia memburu ke Li-toh-tin, katanya hendak menolong Cu Bi, siapa pula yang tahu bahwa tujuannya justru hendak membunuh Tonghong Bi-giok yang tidak setia terhadap anak istrinya itu.”

Dilihatnya si sakit telah memejamkan mata pula dengan nafas terengah-engah.

Orang bicara tampaknya tidak perlu tenaga, tetapi lantaran dia terkenang kepada kejadian dahulu, karena emosi, jantungnya lantas berdetak keras.

Mestinya Pwe-giok ingin bertanya kisah lanjutan Siau-hun-kiongcu, cara bagaimana dia mati dan bagaimana pula akhirnya dengan nasib Tonghong Bi-giok, juga tentang Tonghong Tay-beng yang katanya juga telah dibunuh semuanya olehnya, mengapa pula dia sendiri bisa terkena racun separah ini?

Namun pertanyaan itu hanya berputar saja dalam benak Pwe-giok, ia tidak tega berucap melihat keadaan si sakit yang payah itu.

Didengarnya Cu Lui-ji berkata, “Tentu kalian sudah lapar, nasi sudah kusiapkan, biarlah kuambilkan untuk kalian,”

Cepat Kwe Pian-sian berbangkit dan berkata, “Ah, mana berani kami merepotkan nona?”

Tapi Cu Lui-ji tidak menanggapinya, ia mengusap air matanya, lalu turun ke bawah loteng.

Gin-hoa-nio tidak tahan lagi, cepat dia berseru dengan suara gemetar, “Nona, kumohon sudilah engkau menolong jiwaku, jika terlambat, mungkin...”

Tanpa menoleh Cu Lui-ji mendengus, ucapnya, “Barang siapa sudah mendapatkan kitab pusakaku, berarti ia telah masuk perguruanku. Selamat atau celaka, untung atau malang, apa pun yang akan terjadi tetap harus tunduk kepada perintahku. Barang siapa tidak taat kepada perintahku dia pasti akan binasa...”

Apa yang diucapkannya ini adalah amanat Siau-hun-kiongcu yang terukir di dinding istana di bawah tanah itu. Tempo hari, sesudah Pwe-giok dan Kim Yan-cu mendapatkan kitab pusaka Siau-hun-pit-kip, kemudian timbul bermacam-macam kejadian. Karena itulah kitab pusaka itu mereka buang di sembarang tempat. Lalu terjadi lagi hal-hal lain dan mereka pun tidak memperhatikan kitab pusaka itu sehingga dapat ditemukan oleh Gin-hoa-nio.

Tentu saja Gin-hoa-nio kegirangan seperti mendapat rejeki nomplok. Dapat kitab pusaka itu, setiap ada tempo senggang ia lantas berlatih menurut petunjuk di dalam kitab. Dasar wataknya memang berdekatan dengan isi pelajaran kitab itu, dengan sendirinya hasilnya juga memuaskan sehingga maju pesat.

Sebab itulah begitu melihatnya tadi si sakit langsung mengetahui pada tubuh Gin-hoa-nio terdapat ilmu memikat ajaran Siau-hun-kiongcu, karena itulah ia menegurnya apakah dia murid Siau-hun-kiongcu.

Tapi lantaran kitab pusaka itu diperolehnya dengan tidak halal, dia tidak berani mengaku. Orang yang tidak mengakui perguruannya sendiri dalam dunia persilatan dianggap khianat dan dosanya tak terampunkan. Sekarang didengarnya ucapan Cu Lui-ji yang cocok sekali dengan amanat tinggalan Siau-hun-kiongcu itu, seketika hati Gin-hoa-nio tergetar, tubuh menjadi lemah dan jatuh terkulai.

Tiba-tiba bayangan Cu Lui-ji berkelebat ke atas loteng lagi. Gin-hoa-nio ketakutan hingga mandi keringat. Tak terduga yang dituju Cu Lui-ji bukanlah dia melainkan Kwe Pian-sian. Dengan mata melotot dia bertanya,

“Nona di bawah itu apamu?”

“O, dia... dia kawanku,” jawab Kwe Pian-sian dengan tergagap.

“Hmm, kukira tidak cuma kawan saja?!” jengek Lui-ji.

“Pandangan nona memang tajam,” terpaksa Kwe Pian-sian mengakui dengan menyengir.

“Jika begitu, kenapa kau tinggalkan dia di bawah tanpa menghiraukannya?” damprat Lui-ji.

Diam-diam Kwe Pian-sian mendongkol. Dia pikir, justru kalian yang mencelakai dia, masa sekarang kau malah membela dia dan menyalahkan aku?

Walau pun begitu pikirnya, sudah tentu tidak berani diutarakannya. Dengan menyengir ia menjawab, “Kukira tidak... tidak leluasa kalau dia kubawa naik turun, maka kubiarkan dia menunggu saja di bawah.”

“Hmm,” Cu Lui-ji menjengek, “kiranya kau pun seorang yang tak berperasaan.”

Karena dituduh ‘tidak berperasaan’, seketika Kwe Pian-sian berkeringat dingin. Dia tidak berani bersuara lagi, cepat dia berlari ke bawah dan membawa Ciong Cing ke atas.

Selang tidak lama kemudian, Cu Lui-ji naik lagi ke atas dengan membawa satu bakul nasi yang masih mengepul. Cuma sekarang hati setiap orang sama merasa tertekan, siapa pun tidak bernapsu makan lagi.

Selagi Pwe-giok termenung sambil memegangi mangkuk nasinya, dalam benak pemuda ini bergolak bermacam-macam persoalan. Pada saat itu pula tiba-tiba si sakit mendesis,

“Sssst, ada orang datang!”

Suasana saat itu sunyi senyap, sampai suara angin pun tidak terdengar, mana ada suara orang segala.

Diam-diam Pwe-giok menyangka si sakit ini telah terlampau lama menggeletak di tempat tidurnya sehingga telinganya mungkin juga rada tuli.

Tetapi selang sejenak mendadak di bawah ada suara pintu diketuk, suaranya rada aneh, seperti pintu itu diketuk dengan sesuatu benda tajam. Lalu suara seorang berseru dengan lantang,

“Sepada! Adakah orang di atas? Wanpwe Dian Ce-hun datang mengantarkan surat!”

“Surat? Mengantar surat apa?” gumam Cu Lui-ji sambil berkerut kening, “Siapa pula Dian Ce-hun ini?” Sembari bergumam dia terus turun ke bawah.

Mendadak si sakit memberi pesan, “Ginkang dan Lwekang orang ini tidak lemah, bahkan seperti pernah berlatih kungfu sebangsa Eng-jiau-kang (tenaga cakar elang), jika kau tidak mampu merintangi dia, biarkan saja dia naik ke sini!”

“Aku tahu,” jawab Lui-ji. Walau pun begitu ucapnya, namun di dalam hati merasa sangat penasaran.

Pwe-giok maklum, dari suara ketukan pintu itulah si sakit menilai kungfu pendatang yang mengaku bernama Dian Ce-hun itu dan dari suaranya dapat diukur pula tenaga dalamnya. Selain itu kedatangannya ini ternyata tidak didengar oleh orang-orang yang berada di atas loteng, dari sini dapat diketahui ginkang-nya pasti sangat tinggi.

Setelah berpikir, Pwe-giok lantas berkata, “Wanpwe juga ingin turun untuk melihatnya.”

Setibanya di bawah, Pwe-giok melihat pintu telah dibuka oleh Cu Lui-ji. Di bawah cahaya sang surya yang terang benderang, di luar pintu tampak tegak seorang pemuda jangkung dan berwajah cakap serta berbaju ungu.

“Kau yang mengantar surat kemari?” tegur Lui-ji. “Di mana suratnya?”

Orang yang mengaku bernama Dian Ce-hun itu memandang sekejap kepada Lui-ji, lalu dia pun menjawab dengan tersenyum. “Surat ini tidak boleh kuserahkan kepada anak kecil, bolehkah aku masuk ke situ?”

Dia bicara dengan tersenyum, namun sikapnya angkuh.

Lui-ji tersenyum, jawabnya, “Jika hanya pengantar surat saja, mana boleh sembarangan menerobos tempat orang? Jika suratmu tidak mau diserahkan padaku, silakan kau bawa pulang saja.”

“Tajam amat mulut nona cilik,” Dian Ce-hun berkata sambil tertawa, “Tetapi apakah nona sanggup menerima suratku ini?”

Dia benar-benar mengeluarkan sepucuk surat dari dalam baju, lantas disodorkan lurus ke depan dengan dipegang kedua tangan. Surat itu disodorkan tepat ke Cu Lui-ji, tampaknya sopan dan sangat menghormat.

Namun Pwe-giok dapat melihat dua tangan orang sedikit melengkung, jelas mengandung tenaga dalam yang sukar dijajaki. Tampaknya saja tenang-tenang, tapi diam-diam dia siap siaga. Apa bila Lui-ji benar-benar menjulurkan tangan untuk menerima surat itu, bisa jadi nona cilik itu akan kecundang.

Selagi Pwe-giok hendak memburu maju, tiba-tiba Lui-ji berkata dengan ketus, “Boleh kau taruh suratmu di lantai saja!”

Gemerdep sinar mata Dian Ce-hun, ucapnya dengan tersenyum, “Masa nona cilik tidak berani menerima suratku ini?”

“Hmm, percuma saja kau ini kelihatan seperti orang terpelajar, masa persoalan lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan juga tidak tahu?” jengek Lui-ji.

Dian Ce-hun tertawa, katanya, “Ha-ha, lihay amat nona cilik, pantas sekian banyak orang terjungkal di tanganmu.”

Di tengah suara tertawanya, dua tangannya terus mendorong ke depan bersama sampul surat yang dipegangnya. Tampaknya sampul surat itu hanya benda yang tipis, akan tetapi terpegang di tangannya tiada ubahnya seperti baja tipis yang tajam.

Belum lenyap suaranya, angin berkesiur, tahu-tahu Dian Ce-hun sudah menyelinap lewat di samping Lui-ji tanpa menyenggol ujung bajunya. Betapa pun Lui-ji tak sempat lagi untuk mencegatnya.

Terdengar Dian Ce-hun berkata dengan tertawa, “Lelaki dan perempuan tak boleh saling bersentuhan, biarlah kuantar surat ini langsung ke atas saja.”

Tapi mendadak seorang menanggapi dengan tegas, “Tidak perlu, serahkan padaku di sini kan sama saja.”

Suara Dian Ce-hun terhenti seketika, dilihatnya seorang pemuda maha cakap dan sopan santun sudah berdiri di ujung tangga dengan mengulum senyum, tempat berdiri pemuda cakap itu tepat merintangi jalan lewatnya.

Biasanya Dian Ce-hun amat angkuh, menganggap dirinya maha cakap tiada bandingnya. Tapi demi melihat pemuda di depannya ini, mau tak mau dia terkesiap dan merasa kalah. Segera dia bertanya dengan tertawa, “Apakah Anda tuan rumah di sini?”

Pemuda cakap itu adalah Pwe-giok, dia lalu menjawab, “Tuan rumah sedang tidur siang, hendaklah anda...”

Tetapi Dian Ce-hun lantas memotong dengan tertawa, “Jika Anda bukan tuan rumahnya, mana boleh kau terima surat ini?”

Segera ia mendorong ke depan pula sampul surat itu dengan kedua tangannya. Ternyata Pwe-giok tidak mengelak dan juga tidak menghindar, sebaliknya kedua tangannya lantas memapak tangan lawan, gerak tangannya cepat luar biasa.

Kedua alis Dian Ce-hun berjengkit, dampratnya perlahan, “Apakah kau benar-benar ingin menerima surat ini? Kau mampu?” Mendadak jarinya menjentik, sampul surat diselentik masuk ke dalam lengan baju sendiri, sedangkan tangannya terus menindih ke bawah.

“Plak!” seketika empat tangan beradu dan kedua orang sama-sama terkejut.

Maklumlah, pembawaan tenaga sakti Ji Pwe-giok jarang ada bandingannya, tapi pemuda she Dian ini ternyata dapat menindih tangannya hingga tertekan beberapa inci ke bawah, hampir saja Pwe-giok tidak sanggup menahannya.

Sebaliknya Dian Ce-hun juga tidak mengira kalau pemuda cakap yang tampaknya lemah lembut ini, ternyata memiliki tenaga sakti sekuat ini. Dia menahan dari atas, jadi posisinya lebih menguntungkan, tapi ternyata kedua tangan lawan ternyata tetap keras bagai baja, betapa pun dia mengerahkan tenaga lagi tetap tak mampu menekannya ke bawah.

Karena beradu tenaga, hanya sekejap saja kedua orang sudah sama-sama berkeringat. Diam-diam Dian Ce-hun menyesal, tidak seharusnya dia mengadu tenaga dalam dengan lawan.

Dalam pada itu, diam-diam Cu Lui-ji sudah memutar ke samping Dian Ce-hun, katanya, “Silakan kalian mengukur tenaga di sini, suratnya serahkan saja kepadaku.”

Sebelah tangannya lalu terjulur dari belakang untuk meraba sampul surat yang tersimpan di dalam baju Dian Ce-hun.

Dalam keadaan begini, bila mana Dian Ce-hun menghindar, tentu bagian depannya akan tak terjaga. Peluang itu akan memberi kesempatan kepada Ji Pwe-giok untuk menyerang dirinya. Apa lagi pada saat tangan kiri Cu Lui-ji meraba suratnya, tangannya yang lain juga sudah siap untuk menyerang.

Diam-diam Pwe-giok berkerut kening, menyaksikan tindakan Cu Lui-ji itu, ia merasa tidak pantas bila nona itu mengancam orang selagi lawan kepepet. Tapi keadaan telah terlanjur begitu, kalau dia menarik diri, mungkin lawan akan terus mendesak dan dirinya yang bakal celaka.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa panjang. Bayangan tubuh Dian Ce-hun mendadak melayang ke atas.

Pwe-giok sedang berdiri di ujung tangga, jarak papan loteng dengan kepalanya tidak lebih dari setengah meteran, tapi siapa tahu tubuh Dian Ce-hun yang melayang ke atas itu bisa memberosot ke atas loteng dengan jalan menempel papan loteng selicin ikan.

Ginkang yang diperlihatkan ini benar-benar sangat mengejutkan dan sukar dibayangkan. Baik Pwe-giok mau pun Cu Lui-ji sama terkejut.

Terdengar suara Dian Ce-hun di atas loteng, “Wanpwe Dian Ce-hun ingin menyampaikan surat, mohon Cianpwe sudi menerima.”

Padahal saat itu dia sudah melihat jelas orang berbaring di tempat tidur, andaikan si sakit tidak mau menerimanya, juga sukar mengelakkan diri.

Dengan tak acuh orang sakit itu hanya memandang Dian Ce-hun sekejap, lalu bertanya, “Kedatanganmu ini atas suruhan siapa?”

“Inilah suratnya, setelah Cianpwe membacanya tentu akan tahu sendiri,” jawab Dian Ce-hun. Kedua tangannya lalu menjulur ke depan, perlahan dia mengangsurkan sampul surat yang dibawanya, tanpa berkedip ia pandang si sakit.

Sementara itu Cu Lui-ji sudah memburu ke atas dan berseru, “Awas tangannya, sacek...”

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba tangan si sakit menggapai perlahan, entah dengan cara bagaimana tahu-tahu sampul surat yang dipegang erat-erat oleh kedua tangan Dian Ce-hun telah berpindah ke tangan orang lain.

Air muka Dian Ce-hun rada berubah dan dia menyurut mundur dua-tiga langkah, katanya sambil membungkuk, “Tugas Wanpwe sudah selesai, sekarang juga kumohon diri.”

Sambil bicara dia melangkah mundur dua tiga tindak sehingga menyurut sampai di ujung tangga, tetapi sebelum melangkah ke bawah loteng, mendadak dia turun tangan secepat kilat, tahu-tahu pergelangan tangan Cu Lui-ji dicengkeramnya.

Lui-ji tidak pernah menduga akan disergap begitu, keruan badannya lantas lemas dan tak berdaya, ia hanya sempat berteriak, “Sacek...!”

Dian Ce-hun lantas berkata dengan suara tertahan, “Bila kalian memikirkan keselamatan nona ini, hendaklah kalian jangan sembarangan bergerak, Cayhe hanya ingin membawa dia pergi untuk menemui seseorang, habis itu pasti akan kuantar pulang ke sini dengan selamat.”

Sambil bicara, selangkah demi selangkah ia terus mundur ke bawah loteng, semua orang hanya dapat menyaksikan kepergiannya dengan mata terbelalak tanpa mampu bertindak apa-apa.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner