RENJANA PENDEKAR : JILID-41


Si Sakit sedikit pun tidak terlihat cemas, dia malah bertanya lagi dengan suara perlahan, “Hendak kau bawa dia untuk menemui siapa?”

“Guruku...,” jawab Dian Ce-hun.

Tiba-tiba si sakit mendengus, “Hmm, jika dia ingin menemuinya, suruh dia sendiri datang ke sini.” Sambil bicara mendadak tubuhnya melayang melintang dari tempat tidurnya.

Ketika berbaring tampaknya dia sudah kempas-kempis dan tak mampu bergerak, namun sekarang begitu melayang ke atas, gerak tubuhnya itu tampak begitu gesit dan tangkas.

Wajah Dian Ce-hun menjadi pucat, bentaknya, “Apakah Cianpwe tidak memikirkan dia lagi...” belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong si sakit sudah menubruk ke arahnya, segera lehernya hendak dicengkeramnya.

Ketika Dian Ce-hun merasa angin keras menyambar tiba, begitu kuat sehingga napas pun terasa sesak, mana dia sempat mencelakai Cu Lui-ji lagi, ingin lari saja tidak sempat. Terpaksa ia mengerahkan segenap tenaga, kedua tangannya menangkis ke atas.

Tak terduga si sakit yang sedang mengapung di atas udara itu ternyata dapat melakukan perubahan dengan gesit, sekali putar badan, secepat kilat urat nadi pergelangan tangan Dian Ce-hun telah kena dicengkeramnya.

Sekejap itu, semua orang sama melenggong menyaksikan apa yang terjadi. Semua orang tahu si sakit ini pasti bukan tokoh sembarangan, tapi tidak ada yang menduga kungfunya sedemikian mengejutkan. Kungfu dari perguruan dan aliran mana pun di dunia ini, apa bila dibandingkan dengan gerakan si sakit barusan, hakekatnya boleh dikatakan hanya seperti permainan anak kecil belaka.

Diam-diam Kwe Pian-sian terkejut, pikirnya, “Bocah she Dian ini benar-benar cari penyakit sendiri. Sekarang tangannya telah dicengkeram orang, mungkin segenap kungfunya akan dipinjam pakai juga oleh orang.”

Baru saja terlintas pikiran demikian, mendadak terdengar si sakit mendamprat perlahan, “Inilah sedikit hajar adat padamu agar selanjutnya kau tahu diri. Nah, enyahlah kau!”

Di tengah bentakannya itu tubuh Dian Ce-hun telah diangkatnya ke atas, lalu dilemparnya ke luar jendela seperti anak kecil melempar bola. Sampai lama sekali barulah terdengar suara “bluk” di luar sana.

Habis itu si sakit melayang kembali ke tempat tidurnya dan berbaring pula seperti semula, hanya napasnya tampak terengah-engah.

Selang sejenak baru terdengar suara Dian Ce-hun berkumandang dari luar jendela sana, “Kungfu Cianpwe sungguh hebat luar biasa. Kelak Wanpwe masih ingin minta petunjuk lagi.”

Bicara sampai kata terakhir itu suaranya kedengarannya sudah berada di tempat beratus tombak jauhnya. Nyata anak muda ini tidak cuma kepala batu, dan tidak kenal apa artinya kapok, bahkan nyalinya juga besar dan tidak takut apa pun.

Diam-diam timbul rasa suka dan sayang dalam hati Pwe-giok terhadap pemuda she Dian itu, pikirnya dengan gegetun, “Sungguh lelaki yang hebat, entah dia anak murid siapa?”

Didengarnya si sakit sedang berkata dengan megap-megap, “Melulu Ji Hong-ho dan para begundalnya itu tidak nanti berhasil mendidik anak murid seperti ini.”

“Betul,” tukas Pwe-giok. “Dia tidak mungkin murid salah satu ke-13 perguruan terkemuka jaman ini. Sebab itulah Wanpwe merasa heran, entah dia berasal dari mana?”

Orang sakit itu memejamkan mata, ia cuma menggeleng dan tidak bicara lagi.

Tiba-tiba Cu Lui-ji bertanya, “Sacek, mengapa kau lepaskan dia?”

“Perang antara dua negara tidak boleh membunuh utusan musuh,” kata si sakit dengan dingin. “Apa lagi biar pun dia kurang sopan, masa aku pun bertindak ngawur seperti dia?”

“Tetapi kulihat kedatangannya itu tidak melulu untuk mengantar surat saja, tentu dia ingin tahu keadaan di sini. Sesudah dia tahu penyakit Sacek belum sembuh, sepulangnya ini mungkin akan datang lagi dengan membawa orang lain.”

“Biar pun membawa orang lain, lantas mau apa?” kata si sakit dengan gusar. “Sekali pun kita harus mati juga tak boleh bertindak sesuatu yang memalukan, tahu tidak?”

Cu Lui-ji mengiakan dengan menunduk. Ia pun tidak berani bicara lagi.

Diam-diam Pwe-giok bertambah kagum terhadap kepribadian si sakit.

Sejak tadi Kwe Pian-sian diam saja, kini ia pun tidak tahan, katanya, “Sekali pun Cianpwe harus membebaskan dia, mengapa tidak kau pinjam pakai dulu Kungfunya itu?”

Si sakit meliriknya sekejap dengan sorot mata dingin dan penuh rasa menghina, dia pun tidak menjawabnya.

Cu Lui-ji lantas mendengus, “Sekali pun Sacek suka pinjam pakai Kungfu orang lain, kalau bukan orang itu suka rela tentulah akibat perbuatan orang itu sendiri. Kalau tidak, kungfu-mu kan juga tidak lemah, mengapa Sacek tidak pinjam pakai?”

Kwe Pian-sian jadi ngeri sendiri dan tidak berani bicara lagi. Biasanya dia juga angkuh dan tinggi hati, tentu saja dia tetap penasaran karena merasa dihina. Selang sejenak dia tidak tahan dan berkata pula, “Mungkin nona hanya bergurau saja. Di seluruh dunia ini mana ada orang yang suka rela meminjamkan kungfu-nya yang dilatihnya dengan susah payah selama hidup kepada orang lain?”

Mendadak Cu Lui-ji melirik Gin-hoa-nio sekejap, lantas mendengus, “Mungkin ada, siapa tahu?!”

Gin-hoa-nio merasa bingung kenapa anak dara itu meliriknya, maka seketika ia merinding sendiri. Selagi ia hendak mencari alasan untuk bertanya, tiba-tiba Pwe-giok telah bertanya lebih dulu, “Entah apa yang tertulis di dalam surat itu?”

Setelah bertanya, hati Pwe-giok menjadi menyesal, ia menyangka si sakit pasti tidak akan memberi-tahukannya dan hal ini berarti dirinya mendapat malu sendiri.

Tetapi siapa tahu si sakit lantas menyerahkan surat tadi kepada Lui-ji dan berkata, “Coba kau bacakan bagi mereka.”

Lui-ji lantas merobek sampul surat itu, diloloskannya secarik surat, lebih dahulu dilihatnya satu kali, habis itu baru dibacanya dengan perlahan, ”…Locianpwe yang terhormat, sudah lama kami kagum dengan pribadimu, tidak tersangka sekarang Cianpwe bertirakat di sini. Nama Cianpwe termashur bijaksana, tentunya Cianpwe tak akan membela puteri... Pada tengah malam nanti kami akan berkunjung kemari, diharapkan Cianpwe tak akan menolak kedatangan kami. Hormat Ji Hong-ho dan kawan-kawan berjumlah 12 orang.”

Tampak isi surat itu ditulis secara tergesa-gesa sehingga kalimatnya tidak diperbaiki lagi, namun cekak-aos, singkat dan jelas. Akan tetapi waktu membacanya, Cu Lui-ji sengaja melompati beberapa nama yang tidak dibacanya.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Nama pada bagian depan surat itu tentulah nama orang sakit ini dan nama di bagian lain pasti menyebutkan nama orang tua nona Cu ini, dengan sendirinya juga tidak dibacakannya.”

Tiba-tiba saja si sakit mendengus, “Hmm, Ji Hong-ho dengan kawan-kawannya berjumlah 12 orang... huhh, hanya mereka itu saja berani menemui aku dengan menjanjikan waktu berkunjung segala?”

Dengan suara tertahan Cu Lui-ji berkata, “Jika cuma mereka saja tentu saja tidak berani menulis surat ini, tapi sekarang kukira mereka tentu sudah mempunyai beking yang kuat, makanya nyali mereka tambah besar.”

Pwe-giok saling pandang sekejap dengan Kwe Pian-sian, diam-diam mereka mengagumi kecepatan berpikir nona cilik ini. Memang mereka juga sudah memperkirakan Ji Hong-ho pasti mendapatkan bala bantuan yang tangguh.

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Rasanya tokoh andalan mereka pasti bukan Dian Ce-hun yang mengantar surat ini, tapi pasti lebih lihay dari pada Dian Ce-hun, jangan-jangan orang yang dimaksud adalah guru pemuda she Dian itu?”

Berpikir demikian, diam-diam dia berkuatir bagi si sakit. Dilihatnya orang sakit itu sudah memejamkan mata pula. Sesudah termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata dengan suara perlahan, “Jika mereka telah mengirim surat secara sopan padaku rasanya kita pun harus membalasnya dengan cara yang sama... Lui-ji, boleh kau pergi ke sana, katakan kepada mereka bahwa aku tetap menantikan kedatangan mereka di sini.”

“Tidak, aku tidak mau ke sana,” di luar dugaan Lui-ji menjawab dengan menggeleng.

“Kau tidak mau pergi?” si sakit menegas dengan berkerut kening.

Untuk sekejap Lui-ji menyapu pandang ke arah Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio, katanya kemudian dengan menunduk, “Aku akan mengiringi Sacek di sini, aku tidak mau pergi ke mana-mana.”

Pwe-giok tahu sebabnya nona cilik itu tidak mau pergi adalah karena kuatir terhadap Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio. Dia harus tetap tinggal di sini untuk mengawasi gerak-gerik kedua orang itu. Dari sini terbuktilah bahwa saat ini si sakit berada dalam keadaan gawat, sisa tenaganya sudah tidak cukup untuk melayani Gin-hoa-nio dan Kwe Pian-sian berdua, apa lagi untuk menghadapi Dian Ce-hun dan gurunya yang pasti jauh lebih lihay.

Berpikir demikian, tanpa terasa Pwe-giok terus berseru, “Kalau nona Cu harus meladeni Cianpwe di sini, biarlah aku saja yang mewakili Cianpwe pergi ke sana.”

Sekonyong-konyong si sakit membuka mata dan bertanya, “Kau ingin pergi?”

Pwe-giok tertawa, jawabnya, “Ya, jika sekiranya Cianpwe tidak merasa keberatan.”

Sorot mata si sakit yang tajam itu menatapnya sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Coba kemari kau!”

Semenjak tadi Ciong Cing berduduk melongo di samping sana, kini timbul rasa kuatirnya ketika dilihatnya Ji Pwe-giok disuruh mendekati orang sakit itu, hampir saja dia berteriak, “He, jangan kau mendekati dia. Kungfu-mu akan dipinjam pakai juga olehnya.”

Namun tanpa prasangka apa pun Pwe-giok tetap mendekati si sakit dengan sikap tenang, katanya, “Cianpwe hendak memberi pesan apa lagi?”

Si sakit lalu memberi tanda, Pwe-giok terus mendekatkan telinganya ke mulut orang itu. Dengan mata terbelalak Ciong Cing menyaksikan si sakit berbisik-bisik sekian lamanya di tepi telinga Pwe-giok.

Suaranya sangat lirih sehingga tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dikatakannya. Hanya terlihat air muka Pwe-giok lambat-laun memperlihatkan rasa girang, mendadak dia memberi hormat dan berucap, “Terima kasih, Cianpwe.”

“Kau sudah paham?” tanya si sakit.

Pwe-giok memejamkan matanya dan berpikir sejenak, tiba-tiba kedua tangannya bergerak beberapa kali di udara, seperti menggores beberapa lingkaran yang besar-kecilnya tidak sama.

Orang lain tidaklah merasakan apa-apa atas perbuatan Pwe-giok itu, tetapi Kwe Pian-sian menjadi terkejut. Nyata dia merasakan pada setiap lingkaran yang dibuat oleh Ji Pwe-giok itu mengandung satu jurus serangan mematikan yang amat lihay.

Makin lama makin cepat lingkaran yang dibuat Ji Pwe-giok itu, tapi dari cepat mendadak berubah lambat, habis itu lantas berhenti. Pwe-giok menarik napas panjang-panjang, air mukanya bersemu merah, lalu dia memberi hormat kepada si sakit dan bertanya,

“Apakah begini caranya?”

Sorot mata si sakit menampilkan rasa girang, katanya sambil mengangguk, “Bagus sekali, bolehlah kau berangkat!”

Pwe-giok memberi hormat pula, tanpa bicara lagi ia terus bertindak pergi dengan langkah lebar.

Kini Kwe Pian-sian dapat menerka bahwa mungkin si sakit kuatir Pwe-giok akan dianiaya atau dihina waktu mengantar surat ke sana, maka si sakit sengaja mengajarkan sejurus kungfu yang maha lihay kepadanya.

Diam-diam Kwe Pian-sian menyesal, “Tahu begitu, tentu tadi kudahului mencalonkan diri sebagai pengantar surat.”

Tapi setelah menyesal ia menjadi heran pula, “Orang sakit ini hanya berbisik-bisik sejenak kepada Ji Pwe-giok ini dan anak muda itu lantas dapat menguasai jurus serangan maha lihay itu, mengapa dia dapat belajar secepat ini?”

Dia tidak tahu bahwa pandangan si sakit sangat tajam. Dari gerak-gerik Ji Pwe-giok sejak tadi sudah dapat dirabanya asal-usul ilmu silatnya. Apa yang diajarkannya barusan adalah kungfu yang berdekatan dengan kepandaian yang telah dikuasai Pwe-giok, apa lagi anak muda itu memang cerdas luar biasa, diberi-tahu satu segera paham tiga, diberi petunjuk sebelah sini serentak tahu pula apa yang ada di sebelah sana. Setelah diberi-tahu kunci-kuncinya oleh orang kosen, dengan sendirinya segera dapat dikuasainya dengan cepat.

Dalam pada itu kedengaran si sakit telah mendengkur, agaknya sudah tertidur pulas pula.

Sebaliknya wajah Cu Lui-ji sekarang tampak agak pucat, dia bergumam, “Tengah malam nanti... waktunya tinggal lima-enam jam lagi...” mendadak pandangannya beralih ke arah Gin-hoa-nio dan berkata dengan dingin, “Setelah lima enam jam lagi mungkin kau akan...”

Gin-hoa-nio menjadi ketakutan setengah mati. Belum habis ucapan anak dara itu, segera dia berlutut sambil menyembah, mohonnya dengan suara gemetar, “Mohon belas kasihan nona, sudilah mengingat sesama perguruan dan tolonglah diriku.”

“Jadi sekarang kau mau mengaku sebagai orang perguruan kita?” tanya Cu Lui-ji.

Gin-hoa-nio menunduk, jawabnya dengan terputus-putus, “Aku... aku...”

“Hm, apakah tidak terlalu terlambat pengakuanmu sekarang?” jengek Lui-ji

Gin-hoa-nio merasa sekujur badan lemas seluruhnya dan hampir jatuh terkulai. Meski dia biasa mempermainkan setiap lelaki, namun di depan anak perempuan ini dia benar-benar mati kutu dan tidak sanggup bertingkah sama sekali.

Tak terduga, lewat sejenak, tiba-tiba saja Lui-ji berkata pula, “Jika kau ingin hidup, kukira masih ada jalannya.”

“Apa jalannya?” tanya Gin-hoa-nio cepat,

“Masa kau sendiri tidak dapat menerkanya?” ucap Lui-ji dengan hambar.

Diam-diam Gin-hoa-nio menggreget, pikirnya dengan gemas, “Budak sialan, budak ingin mampus, kalau aku dapat memikirkan jalan baik, masa perlu kuminta pertolongan kepada budak hina macam kau?”

Sudah tentu dia tidak berani memperlihatkan rasa penasarannya itu, sebaliknya ia malah menjawab dengan mengiring tawa, “Ahh, aku ini terlampau bodoh sehingga perlu minta petunjuk kepada nona, mana sanggup kucari jalan yang lebih baik. Hendaklah nona saja sudi menolong, budi kebaikanmu tentu takkan kulupakan selama hidup ini.”

Tapi Cu Lui-ji lantas melengos ke sana seperti tidak mendengar ucapannya itu.

Keruan Gin-hoa-nio tambah gelisah, saking gregetan hampir saja ia mencaci-maki.

Tak terduga Kwe Pian-sian lalu menimbrung dengan perlahan, “Jalan keluarnya mungkin dapat kuterka.”

Gin-hoa-nio melengak, tanyanya, “Kau tahu?”

“Ehmm,” Kwe Pian-sian mengangguk.

“Meng... mengapa tidak lekas kau katakan?” seru Gin-hoa-nio.

“Untuk apa harus kukatakan?” jawab Kwe Pian-sian dengan ketus.

Gin-hoa-nio jadi tertegun, mukanya sebentar pucat dan sebentar hijau, saking gemasnya diam-diam ia menggertak gigi, tapi wajahnya segera menampilkan senyum menggiurkan, katanya, “Kumohon dengan sangat, sudilah kau katakan padaku, selama hidupku...”

“Ahh, justru aku tidak berharap agar selama hidupmu akan selalu teringat padaku,” tukas Kwe Pian-sian.

“Tapi bukan saja aku tak akan melupakan budi kebaikanmu, bahkan apa pun kehendakmu atas diriku pasti akan kuberikan,” sambung Gin-hoa-nio pula.

Kwe Pian-sian melirik sekejap ke arah bungkusan benda mestika sana, katanya, “Barang apa pun juga, katamu?”

“Ya.” jawab Gin-hoa-nio dengan menunduk.

Terdengar suara keriat-keriut di sebelah sana, kiranya saking gregetan Ciong Cing telah menggertak giginya. Maklumlah, makna kata ‘barang apa pun yang kau kehendaki’ terlalu luas dan meliputi macam-macam hal.

Kwe Pian-sian tertawa cerah, katanya, “Tentang jalan keluarnya, tadi kudengar nona Cu bilang ada sementara orang yang secara suka rela mau meminjamkan kungfu-nya kepada Cianpwe ini. Saat itu aku merasa bingung, tapi sekarang aku telah paham arti ucapannya itu.”

Teringat waktu bicara tadi Cu Lui-ji pernah melirik ke arahnya, tiba-tiba Gin-hoa-nio juga paham apa yang dimaksudkan, seketika keringat dingin membasahi tubuhnya.

Terdengar Kwe Pian-sian menyambung pula, “Dan jika kau mau meminjamkan kungfu-mu kepada Cianpwe ini, maka racun yang mengeram pada tubuhmu dengan sendirinya juga akan terhisap bersih oleh Cianpwe ini dan jiwamu juga tidak akan menjadi soal lagi.”

Gemetar Gin-hoa-nio, katanya, “Tetapi... tetapi kalau terjadi begini, bukankah be... beliau sendiri pun akan keracunan?”

Meski ucapannya ini ditujukan kepada Kwe Pian-sian, dia pun tahu Kwe Pian-sian pasti tidak mampu menjawab, yang sanggup menjawab pertanyaannya ini hanya Cu Lui-ji saja.

Benarlah, dengan tenang Cu Lui-ji lantas berkata, “Sedikit racun di tubuhmu itu memang cukup berat bagimu, tetapi bila berada di tubuh Sacek, racun itu sama sekali tidak ada artinya.”

Gin-hoa-nio melenggong pula dengan berkeringat dingin, sebentar-bentar dia pandang si sakit dan sebentar-bentar lagi memandang tangannya sendiri. Tiba-tiba saja dia berteriak dengan suara parau, “Baiklah! Akan... akan kupinjamkan kepadamu!”

“Hm, kau mau, tapi masih perlu dipertimbangkan lagi apakah kami mau terima,” jawab Cu Lui-ji dengan tertawa dingin.

Kembali Gin-hoa-nio melengak, ucapnya pula dengan terputus-putus, “Habis sebenarnya apa.. apa kehendakmu?”

Lui-ji hanya tertawa dingin saja tanpa bersuara.

Tapi Kwe Pian-sian lantas menyeletuk, “Jika orang tidak mau menerima, apakah kau tidak dapat memohon lagi?”

Gin-hoa-nio terkesima lagi untuk sekian lamanya, akhirnya ia menarik napas panjang dan berkata dengan air mata bercucuran, “Ya, kumohon... kumohon dengan sangat sudilah... sudilah nona...”

Sesungguhnya dia sangat penasaran dan menahan dendam, suaranya menjadi tersendat dan hampir-hampir sukar diucapkan.

Sebaliknya diam-diam Ciong Cing merasa senang sekali, pikirnya, “Tak tersangka orang semacam kau sekarang juga mendapat ganjaran yang setimpal.”

Sejenak kemudian barulah Cu Lui-ji tersenyum hambar, katanya, “Baiklah, tapi kau harus ingat, kau sendiri yang memohon padaku, aku tidak pernah memaksa kau, betul tidak?”

Gin-hoa-nio tidak tahan lagi, ia menjatuhkan diri di lantai dan menangis sedih.....

********************

Saat itu baru saja lewat lohor, sang surya sedang memancarkan sinarnya yang cerlang cemerlang, tapi suasana di kota kecil ini terasa seram dan suram.

Di pojok dinding sana meringkuk seekor anjing tua, mungkin binatang itu sudah terbiasa oleh keramaian, kini juga merasakan suasana yang luar biasa ini sehingga ketakutan dan tidak berani sembarangan bergerak.

Walau pun kecil tapi Li-toh-tin semula adalah sebuah kota kecil yang cukup ramai, namun sekarang keadaan kota ini sunyi senyap, suara kokok ayam dan gonggong anjing pun tak terdengar, karena itulah terasa seram laksana sebuah kota hantu.

Pwe-giok berjalan sendirian di jalan raya satu-satunya ini. Dilihatnya pintu toko di kedua samping jalan sama tertutup rapat, hanya papan merek toko saja yang bergoyang-goyang tertiup angin, mau tak mau timbul juga rasa seramnya.

Setelah berjalan lagi sekian lamanya ke depan, mendadak terlihat di hutan di depan sana ada bayangan manusia. Pwe-giok mengira orang-orang yang hendak dicarinya itu sedang bersembunyi di hutan sana, maka segera dia mendekatinya dengan langkah lebar.

Siapa tahu, setelah dekat, dilihatnya di tengah hutan itu penuh berjubel orang-orang, ada yang duduk di atas batu, ada yang berkerumun di bawah pohon, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, entah berapa jumlahnya. Rupanya Ji Hong-ho sudah menggiring segenap penduduk Li-toh-tin ke hutan ini.

Wajah orang-orang itu sama mengunjuk rasa takut dan cemas, begitu banyak orang yang berkerumun di situ, tapi tiada seorang pun yang berani bersuara, sampai bayi-bayi dalam pangkuan ibunya juga dibungkus rapat-rapat dengan selimut sehingga suara tangisannya tidak tersiar. Semua orang merasa seakan-akan ditimpa oleh mala petaka.

Pwe-giok menghela napas, pikirnya, “Orang she Ji itu sengaja menggiring penduduk Li-toh-tin ke sini, tentu saja dengan alasan demi keselamatan penduduk itu sendiri agar tidak menimbulkan korban orang yang tidak berdosa, padahal penduduk di sini adalah rakyat jelata yang hidup tertib, mana pernah mengalami kejadian seperti ini...?”

Kedatangan Pwe-giok disambut orang-orang di tengah hutan itu dengan pandangan yang curiga dan benci, mereka seakan-akan hendak berkata, “Sesungguhnya kau ini manusia macam apa? Mengapa kalian mengganggu ketenangan kami?”

Pwe-giok tak berani memandang mereka, dengan kepala tertunduk ia lalu ke sana. Tiba-tiba dua lelaki berpakaian ketat melompat keluar dari balik pohon sana dan menghadang di depan Pwe-giok.

“Kawan ini datang dari mana dan ada keperluan apa?” segera seorang menegur.

Kedua orang ini tadi tidak ikut ke Li-keh-can, sebab itu mereka tidak mengenal Pwe-giok. Sebaliknya dari dandanan mereka Pwe-giok dapat menerka, mereka pastilah anak buah langsung orang she Ji itu. Ia menjadi gusar. Tapi sedapatnya ia menahan perasaannya, jawabnya dengan ketus,

“Aku datang mengantar surat, dapatkah kalian memberi petunjuk jalannya?”

Orang itu tertawa lebar, katanya, “Bengcu sudah tahu pasti ada orang yang akan datang dengan membawa surat, makanya kami berdua ditugaskan menunggu di sini. Perhitungan Bengcu yang maha jitu ini sungguh luar biasa, kawan merasa kagum tidak?”

Pwe-giok hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Orang itu melototinya sekejap, seketika ia pun menarik muka dan berkata, “Jika kau ingin menyampaikan surat, marilah ikut padaku. Kalau saja tiada pesan Bengcu... Hm!”

Melihat lagak orang, Pwe-giok berbalik tidak marah, pikirnya, “Jika anak buah orang she Ji itu melulu terdiri dari orang-orang tolol begini, malah jadinya lebih baik.”

Setelah menyusuri hutan itu tampaklah di depan sana ada sebuah biara.

Hampir seluruh penduduk Li-toh-tin itu she Li, patung yang dipuja di biara ini ialah Thay-siang-lo-kun yang aslinya juga she Li. Rupanya penduduk Li-toh-tin menganggap mereka adalah keturunan Thay-siang-lo-kun, karena itulah biara ini dibangun dan dirawat dengan sangat megah dan bagus, bahkan besarnya tak kalah dengan biara ternama di kota-kota besar.

Tapi sekarang suasana biara itu pun senyap, kedua sayap daun pintu bercat hitam hanya terbuka sedikit, pohon di depan biara adalah pohon tua yang berumur ribuan tahun.

Setiba di depan pintu, kedua pengantar itu menoleh dan berkata, “Tunggu dulu di sini, biar kami laporkan bagimu, jangan sembarangan bergerak, tahu?”

Jika orang lain diperlakukan kasar begini, bisa jadi kedua orang itu akan kontan dipersen dengan dua kali gamparan. Tapi Pwe-giok memang pemuda sabar, dia hanya tersenyum hambar dan menjawab, “Baiklah, terima kasih.”

Kedua orang itu melotot lagi sekejap, lalu melangkah ke dalam biara sambil mendengus.

Sejenak kemudian di balik pintu sana berkumandang suara mereka, “Bengcu melukiskan pihak lawan sedemikian lihaynya, tetapi kulihat pengantar surat ini mirip seorang penari belaka, cuma sayang mukanya ada bekas luka.”

Pwe-giok tidak menjadi marah oleh olok-olok itu, sebaliknya malah ia tertawa senang.

Kebanyakan anak muda berdarah panas dan lekas marah, tinggi hati, tak mau kalah. Apa lagi dihina orang. Dengan sendirinya Pwe-giok juga begitu. Tapi kini sesudah mengalami berbagai macam gemblengan, sudah kenyang dengan pengalaman pahit, dia justru takut bila orang lain memperhatikan dan menghargainya. Semakin orang memandang rendah padanya, semakin meremehkan dia, dalam hatinya justru semakin girang. Sebab dia tahu hanya orang demikian inilah takkan dibenci dan dicemburui orang lain dan juga takkan dicelakai orang. Meski usianya masih muda, tapi pengetahuannya sekarang sudah terlalu banyak.

Selang tak lama, terdengar di balik pintu ada suara orang bertanya, “Di mana si pengantar surat?”

Pwe-giok tahu pertanyaan orang itu berlebihan, sebab jelas-jelas diketahuinya pengantar surat berada di luar, untuk apa mesti bertanya lagi. Segera ia membetulkan bajunya dan menjawab, ”Di sini!”

Tanya jawab ini sebenarnya memang tidak perlu, tetapi kalau tidak ada permainan begini, rasanya sandiwara ini menjadi kurang menarik.

Tetapi setelah bertanya-jawab, dari dalam tetap tiada orang muncul. Pwe-giok menunggu lagi sejenak, sekali pun dia cukup sabar, tidak urung dia tidak tahan dan mengulangi lagi jawabnya,

“Di sinilah pengantar suratnya...” Dua kali dia mengulangi ucapannya itu, suaranya juga tambah keras, tapi di balik pintu tetap sunyi senyap tanpa reaksi apa-apa.

Dia menunggu lagi sebentar, tiba-tiba dia berseru dengan tertawa, “Jelas-jelas anda tahu kedatangan pengantar surat, mengapa tinggal diam dan tidak menggubrisnya? Apakah anda tidak suka menerima surat ini? Sungguh cayhe tidak paham apa maksud anda?”

Namun di balik pintu tetap tiada suara jawaban.

Dengan perlahan Pwe-giok berkata lagi, “Tetapi Cayhe sudah menerima tugas dan harus melaksanakan kewajiban. Bila surat sudah kuantar kemari, betapa pun harus kuserahkan kepada yang wajib menerima.” Sembari bicara dia terus mendorong pintu dan melangkah ke dalam.

Halaman dalam kelihatan guram, suasana juga hening sekali, bahkan kedua orang yang membawanya kemari tadi juga sudah menghilang entah ke mana.

Tanpa melirik ke kanan mau pun ke kiri, Pwe-giok langsung menuju ke ruangan tengah sana dengan melintasi halaman itu.

Di ruangan pendopo biara itu tampak asap dupa bergulung-gulung, patung Thay-siang-lo-kun di altar kelihatan khidmat, sebuah Hiolo (tungku dupa) terbuat dari perunggu yang biasanya terletak di tengah-tengah pendopo kini sudah disingkirkan ke pinggir.

Hiolo itu tingginya melebihi manusia, meski pun bertenaga raksasa juga tampaknya sukar memindahkannya kecuali kalau belasan orang bertenaga kuat menggesernya bersama. Tapi Hiolo itu cuma berkaki tiga, bagian lain boleh dikatakan licin sekali dan sulit dipegang, biar pun belasan orang hendak mengangkatnya sekaligus rasanya juga sukar sekali.

Sungguh Pwe-giok tidak paham. Siapakah yang memindahkan Hiolo raksasa itu dan cara bagaimana menggesernya?

Setelah Hiolo itu dipindahkan, nampak di ruang pendopo itu kini sudah dipasang 12 kursi besar dari kayu merah. Namun ke 12 kursi itu belum satu pun diduduki orang.

Sampai di sini Pwe-giok tidak melangkah lebih maju lagi. Sekarang dia pun mulai paham duduknya perkara. Pikirnya, “Rupanya mereka pun tahu bahwa orang sakit itu juga akan menggunakan alasan mengirim surat balasan dan sekaligus untuk mencari tahu kekuatan mereka, sebab itu mereka sama menyingkir dan tiada seorang pun mau memperkenalkan diri. Tetapi orang she Ji, Lim Soh-Koan dan lain-lain kan tidak perlu lagi menyembunyikan jejak mereka. Satu-satunya yang tak ingin memperlihatkan wajah aslinya mungkin adalah tokoh andalan mereka yang lihai itu.”

Lalu siapakah tokoh andalan mereka itu? Mengapa mesti bertindak misterius seperti ini? Apakah mungkin dia kuatir kedatangannya diketahui oleh si sakit? Bisa jadi si sakit akan kabur bila mana mengetahui kedatangannya?

Timbul juga rasa ingin tahu Pwe-giok. Ia mengerling sekeliling ruangan itu, mendadak dia menjura kepada kursi besar di bagian tengah yang kosong itu sambil berkata, “Cayhe Ji Pwe-giok sengaja berkunjung kemari untuk menemui Bengcu.”

Dia menjura dengan sikap yang sangat hormat, sama seperti kalau waktu itu Ji Hong-ho benar-benar duduk di kursi itu. Dalam keadaan demikian, bila mana Ji Hong-ho tidak mau kehilangan pamornya sebagai seorang Bengcu, maka mau tidak mau dia harus keluar memperlihatkan dirinya.

Selang sejenak, benarlah terdengar suara Ji Hong-ho yang berkumandang dari belakang sana, katanya dengan tertawa,” Sungguh tidak pernah kuduga si pengantar suratnya ialah Ji-kongcu, maaf jika tiada penyambutan yang layak.”

Ramah juga nada ucapannya, tapi belum lama lagi lenyap suaranya, sekonyong-konyong seorang berteriak di samping, ”Jadi kau inikah pengantar surat Hong Sam?”

Baru sekarang Pwe-giok tahu orang sakit itu bernama Hong Sam. Didengarnya orang itu bicara dengan nada keras dan cepat, jelas orang yang berbicara ini berwatak keras dan pemberang.

Pada umumnya orang yang berwatak keras dan pemberang tentu sukar melatih kungfu dengan baik, namun tenaga dalam orang itu justru begini kuat, setiap katanya bergetar seperti bunyi genta sehingga anak telinga pendengarnya terasa sakit.

Tanpa melihat orangnya saja Pwe-giok sudah tahu bahwa tinggi ilmu silat orang ini benar-benar belum pernah dilihatnya selama hidup. Jelas memang lebih tinggi satu tingkat kalau dibandingkan dengan para ketua dari ke-13 perguruan terkemuka jaman ini.

Selagi Pwe-giok tercengang, agaknya orang itu tidak sabar menunggu lagi, dengan gusar ia menegur pula, “Kutanya padamu, mengapa tidak lekas kau jawab?”

Maka Pwe-giok cepat-cepat berkata, “Betul, Cayhe memang mengantar surat bagi Hong-Locianpwe...”

“Kau pernah apanya Hong Sam?” tanya pula orang itu dengan suara bengis.

“Cayhe dan Hong-Cianpwe bukan sanak bukan kadang, hanya...”

“Bukan sanak bukan kadang?” orang itu memotong dengan suara gusar. “Lalu untuk apa kau menjadi pengantar suratnya? Apakah kau makan kenyang dan terlalu iseng?”

Setiap kali ucapannya belum habis lantas dipotong oleh orang itu, maka diam-diam Pwe-giok mendongkol dan juga geli, pikirnya, “Watak orang ini begini keras, jelas pula seorang pemberang, entah cara bagaimana dia berhasil meyakinkan kungfu setinggi ini?”

Walau pun dalam hati merasa heran, tapi di mulut dia tidak berani ayal, jawabnya, “Tugas mengantar surat adalah pekerjaan yang mudah, tidak merugikan diri sendiri, tapi berguna bagi orang lain, mengapa tidak kulakukan?”

“Hm,” orang itu mendengus. “Di mana suratnya?”

“Surat Hong-Locianpwe yang kuantar ini adalah surat lisan,” jawab Pwe-giok.

“Surat lisan?” Orang itu menegas. “Apakah untuk memegang pensil saja dia tidak punya tenaga lagi?”

Berkata sampai di sini mendadak dia tertawa terbahak-bahak. Begitu keras dan nyaring suara tawanya sungguh-sungguh amat mengejutkan, seluruh ruangan pendopo itu seolah-olah bergetar oleh gema suara tawanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner