RENJANA PENDEKAR : JILID-42


Pwe-giok tambah terkejut juga. Ia tunggu setelah suara tertawa orang mereda barulah ia menjawab dengan suara tegas, “Hong-locianpwe menyuruh Cayhe menyampaikan kepada Anda sekalian bahwa tengah malam nanti beliau siap menanti kunjungan kalian, diharap kalian datang tepat pada waktunya..”

“Dia berharap kami datang tepat pada waktunya, memangnya dia mengira aku tak berani pergi ke sana?” kata orang itu dengan gusar.

“Maksud Hong-locianpwe hanya...”

“Dari mana kau bisa tahu maksudnya?” orang itu menyela sambil meraung gusar. “Kau ini kutu macam apa? Selesai mengantar surat, tidak lekas enyah dari sini, apakah kau minta kugencet pecah kepalamu?”

Pwe-giok tersenyum tak acuh, jawabnya, “Kalau demikian, baiklah Cayhe mohon diri.”

Sedikit pun pihak lawan tidak mempersulit dia, seharusnya ia amat bersyukur dan merasa senang, tapi dalam hati Pwe-giok sekarang justru merasa tertekan. sebab kedatangannya ini meski hanya mengantar surat, sebenarnya masih ada dua maksud tujuan lain, satu di antaranya adalah demi kepentingan si sakit dan tujuan lainnya adalah demi kepentingan dia sendiri.

Tujuannya bukan saja ingin menyelidiki kekuatan musuh bagi si sakit, Pwe-giok juga ingin menemui Ang-lian-hoa untuk menjelaskan seluk-beluk apa yang terjadi ini. Betapa pun dia tidak ingin Ang-lian-hoa ikut campur urusan yang ruwet ini.

Tetapi sekarang tujuannya mencari tahu kekuatan lawan tidak berhasil, Ang-lian-hoa juga tidak bisa ditemuinya, malahan gelagatnya dia harus segera meninggalkan tempat ini, jadi kunjungannya ini boleh dikatakan sia-sia belaka.

Di halaman yang suram itu penuh berserakan daun kering yang belum tersapu, suasana hening.

Pwe-giok telah meninggalkan pendopo dan kini menyusuri halaman itu. Selagi dia merasa gegetun pada perjalanannya ini, tiba-tiba terdengar suara “sret” yang amat perlahan, sinar pedang menyambar tiba secepat kilat, tulang rusuk belakang yang diarah.

Begitu cepat serangan ini sehingga sukar untuk menghindar bagi sasarannya.

Meski pun perasaan Pwe-giok sedang tertekan, akan tetapi dia tidak pernah melupakan kewaspadaannya. Dengan tidak kalah cepatnya ia berputar dan kedua tangannya masing-masing menggores satu lingkaran.

Itulah jurus ajaib ajaran si orang sakit tadi, sekarang dikeluarkannya secara mendadak. Entah betapa hebat daya serangnya, yang jelas segera terdengar suara “pletak”, pedang musuh yang menusuk ke tengah lingkaran yang digarisnya itu mendadak patah menjadi dua.

Padahal tangan Pwe-giok tidak pernah menyentuh pedang lawan, hanya tenaga dalamnya saja sudah cukup mematahkan pedang baja musuh. Daya serangannya ini benar-benar mengejutkan, sampai Pwe-giok sendiri pun terkesiap.

Waktu Pwe-giok berpaling, dilihatnya di bawah pohon berdiri seorang dengan memegang pedang buntung. Agaknya orang ini pun terkejut oleh pedangnya yang patah mendadak itu. Orang ini bertubuh jangkung dan bergaya, kiranya Lim Soh-koan adanya.

Sesudah tahu siapa penyerangnya, Pwe-giok jadi paham duduk perkaranya. Nyata orang ini masih tetap menaruh curiga padanya dan sekarang dia sengaja hendak mencoba dan memancing gaya kungfunya untuk mengetahui asal-usulnya.

Maklumlah, bila mana seseorang mendadak diserang, secara naluri tentu kungfu aslinya akan dipergunakannya untuk menjaga diri. Hal ini dilakukannya secara otomatis, jadi tidak mungkin pura-pura, andaikan pura-pura juga tidak sempat lagi.

Tidak tahunya Pwe-giok baru saja mendapat ajaran kungfu yang maha hebat, dan setiap saat selalu diulang-ulang ingat dalam hatinya. Kini mendadak mengalami serangan, tanpa terasa kungfu baru ini lantas digunakannya, hal ini pun dilakukannya secara naluri, sedikit pun tidak berpura-pura.

Keruan Lim Soh-koan tercengang dan berdiri seperti patung dengan wajah sebentar pucat sebentar hijau, sampai lama sekali tidak sanggup bicara.

Kalau orang lain tentu akan mengucapkan beberapa kata ejekan, namun dasar Pwe-giok memang pemuda berbudi, dia hanya tersenyum hambar saja dan berkata, “Cepat amat pedang anda.”

Dia pun tidak ingin menyaksikan sikap Lim Soh-koan yang serba susah itu, maka sambil berbicara dia terus memutar pergi lagi ke depan. Tak terduga, pada saat itu juga seorang membentaknya,

“Berhenti!”

Begitu keras suara bentakan itu, daun kering sama rontok tergetar, telinga Pwe-giok pun mendengung, pandangannya serasa kabur, tahu-tahu sesosok bayangan orang melayang tiba laksana burung raksasa, cara melayangnya juga sedemikian cepat, belum lagi daun rontok jatuh di tanah, orang itu sudah berada di depan Pwe-giok.

Dilihatnya orang ini bersinar mata tajam, muka berewok, rambutnya juga semrawut dan kaku menegak.

Dari suara bentakannya yang keras serta wajahnya yang aneh ini, setiap orang tentu akan menyangka orang ini pasti tinggi besar dan gagah perkasa, tak tahunya orang ini ternyata seorang kakek tua kurus kecil, tingginya hanya sebatas dada Pwe-giok, memakai jubah pertapaan biru, ikat pinggangnya terdiri dari seutas rami, pada tali pinggang itulah terselip sebilah pedang pendek, namun sarung pedangnya penuh bertaburan batu permata yang bercahaya gemerlapan dan tak ternilai harganya.

Melihat betapa garangnya orang ini, betapa hebat gerakan tubuhnya serta dandanannya yang aneh, diam-diam Pwe-giok terkejut juga. Tapi dengan tersenyum ia lantas menegur, “Cianpwe ada pesan apakah?”

Tojin pendek kecil berjubah biru itu membelalakkan matanya yang bersinar tajam, tanpa berkedip ia pandang Pwe-giok, bentaknya kemudian, “Sesungguhnya ada hubungan apa antara kau dengan Hong Sam?”

“Tadi kan sudah kukatakan, Cayhe dan Hong-locianpwe bukan sanak...”

“Kentut!” bentak Tojin jubah biru sebelum lanjut ucapan Pwe-giok. “Kalau kau tidak punya hubungan sanak keluarga dengan Hong Sam, dari mana kau dapat belajar jurus ‘Heng-hun-po-uh, Hong-bu-kiu-thian’ (awan berarak dan hujan mencurah, burung Hong menari di surga) ini?”

Suaranya sungguh keras bagaikan bunyi genta, setiap kali dia bicara, rasanya Pwe-giok pasti berjingkat, siapa pun tidak dapat membayangkan suara sekeras itu. Tidak ada yang tahu bahwa khikang (tenaga dalam) Tojin kerdil ini sudah terlatih sangat sempurna, waktu bicara biasa saja selalu disertai tenaga dalam yang maha kuat sehingga setiap katanya tercetus seperti bunyi genta.

Pwe-giok menghela napas, kemudian dia menjawab, “Jurus ini baru saja diajarkan Hong-locianpwe kepadaku sesaat sebelum aku berangkat ke sini. Terus terang, semula Cayhe sendiri pun tidak tahu apa nama jurus ini.”

“Kentut, kentut busuk,” Tojin kerdil itu meraung pula. “Jika Hong Sam mau sembarangan mengajarkan jurus serangan andalannya ini kepada orang lain, maka dia bukan lagi Hong Sam tapi kunyuk!”

Diam-diam Ji Pwe-giok merasa geli melihat orang tua beribadat ini selalu mengucapkan kata-kata kasar. Tapi bila melihat sikapnya yang marah benar-benar itu, mau tak mau dia menjadi kuatir, cepat dia menjawab pula, “Soalnya Hong-locianpwe kuatir aku bikin malu padanya, makanya...”

Tojin jubah biru itu semakin murka, teriaknya kemudian, “Baik, seumpama benar dia mau mengajarkan jurus serangannya itu kepadamu, tetapi dalam waktu sesingkat ini kau pun dapat menguasainya sebagus ini, maka kau hakekatnya bukan manusia.”

Rupanya Tojin kerdil ini suka mengukur orang lain berdasarkan dirinya sendiri. Dia sendiri bukan orang yang berbakat, bukan orang yang berotak cerdas. Kungfunya yang sakti itu dilatihnya secara mati-matian berdasarkan kegiatan dan ketekunan melulu, maka sama sekali dia tidak percaya di dunia ini ada manusia cerdas yang diberi-tahu satu segera tahu tiga, diajar sekali lantas paham seluruhnya.

Justru lantaran pada saat berlatih kungfu dia lebih banyak mengalami pahit getir dari pada orang lain, maka begitu kungfunya berhasil dikuasai, wataknya langsung berubah menjadi sangat berangasan dan mudah marah, sering kali dia melampiaskan rasa gusarnya yang tak berdasar pada orang lain.

Pwe-giok tahu bahwa sukar baginya untuk menjelaskan. Ia hanya menyengir dan berkata, “Jika Cianpwe tidak percaya, apa yang dapat kukatakan lagi...”

“Sudah tentu tak dapat kau katakan,” tojin kerdil itu berjingkrak, “di hadapanku masa kau bisa bermain gila? Tetapi kalau kutantang kau untuk bergebrak, tentunya kau akan bilang aku orang tua menganiaya anak muda...” Tiba-tiba saja dia meraung lebih keras, “Ya, kau hendak bilang aku orang tua menganiaya anak muda, begitu bukan?!”

Pwe-giok jadi tertawa geli, jawabnya, “Kata-kata ini diucapkan oleh Cianpwe sendiri, mana Cayhe pernah...”

“Baik, anggap kau tidak bilang begitu, lalu apa yang kau tertawakan?!” bentak Tojin kerdil itu.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, pikirnya, “Orang kasar dan ingin menang sendiri begini sungguh jarang ada.” Karena bicaranya selalu dianggap salah, terpaksa dia tutup mulut.

Tapi siapa tahu tutup mulut juga dianggap salah oleh Tojin jubah biru itu, bentaknya pula, “Mengapa kau tidak buka mulut? Apakah mendadak kau berubah bisu?”

Pwe-giok menyengir, jawabnya, “Kalau Cianpwe tidak sudi bergebrak denganku, biarlah Cayhe mohon diri saja.”

Namun Tojin kerdil itu lantas membentak, “Nanti dulu! Bila kau bukan murid Hong Sam, maka akan kulepaskan kau pergi, tapi sekarang justru ingin kulihat, kungfu lihay apa lagi yang diajarkan Hong Sam kepadamu?” Bicara sampai di sini, mendadak ia berpaling dan membentak, “Murid orang lain sedang bergaya di sini, tapi di mana muridku? Apakah dia sudah mampus?”

Belum lenyap suaranya, tertampaklah seorang berlari keluar dari pendopo, dia memberi hormat kepada Tojin kerdil itu dan bertanya, “Suhu ada pesan apa?”

Semula Pwe-giok mengira murid tojin jubah biru ini pasti Dian Ce-hun adanya, siapa tahu yang muncul ini adalah seorang tosu kecil yang berwajah cakap dan sopan santun, jubah pertapaannya berwarna hijau dan sangat bersih, kulit mukanya juga putih bersih bersemu kemerah-merahan, sepintas pandang orang akan mengira dia adalah anak perempuan.

Dalam pada itu Tojin jubah biru sudah tidak sabar lagi, kembali ia meraung pula, “Aku ada pesan apa? Masa kau perlu tanya lagi padaku? Apakah kau ini orang mampus dan tidak tahu?”

Tosu cilik ini menjawab sambil mengiring tawa, “Apakah Suhu menghendaki Tecu menjajal Ji-kongcu ini?”

“Kalau sudah tahu, mengapa kau tanya pula padaku?!” teriak si Tojin kerdil dengan lebih keras.

Baru sekarang Pwe-giok tahu bahwa watak tojin jubah biru itu memang begitu aslinya, jadi bukan cuma terhadap orang lain saja dia berteriak dan menghardik, terhadap muridnya sendiri juga dia main bentak dan maki.

Dilihatnya si Tosu cilik sedang mendekatinya dengan tersenyum, lantas dengan sopan ia memberi hormat, katanya, “Tecu Sip-hun, ingin mohon petunjuk beberapa jurus padamu, mohon Kongcu mengalah sedikit padaku.”

Tosu cilik ini bukan saja sopan santun bicaranya dan cakap orangnya, mukanya juga selalu dihiasi senyuman manis, wataknya ternyata sangat halus, sungguh berselisih 180 derajat dibandingkan perangai gurunya.

Guru yang begitu dapat mempunyai murid begini, sungguh Pwe-giok merasa heran. Tapi sesudah dipikir lagi, apa bila tiada murid yang berwatak sabar, mana bisa meladeni guru yang pemberang begitu. Andaikan tidak diusir oleh Tojin jubah biru, tidak sampai tiga hari juga pasti akan kabur dengan sendirinya saking tidak tahan apa lagi disuruh belajar silat dengan sabar?

Perangai Pwe-giok sendiri juga halus dan sopan. Orang lain bersikap ramah padanya, dia pun membalasnya dengan lebih ramah, maka dia lantas membalas hormat Tosu cilik itu dan menjawab, “Ah, totiang terlalu rendah hati, sebenarnya Cayhe tidak berani bergebrak dengan totiang, hanya saja...”

Mendadak si tojin jubah biru membentak, “Mau berkelahi hendaklah cepat dimulai, pakai cerewet apa lagi?”

“Jika demikian, silakan Totiang memberi petunjuk,” ujar Pwe-giok dengan menyengir.

Sip-hun lantas memberi hormat dan berkata, “Kalau begitu, terpaksa Tecu berbuat kurang hormat.” Cara bertindaknya ternyata tidak bertele-tele, begitu bilang mulai, segera dia memukul lebih dahulu.

Jurus serangannya ini sungguh luar biasa dahsyatnya, siapa pun tidak menyangka orang lembut dan ramah seperti dia bisa melancarkan pukulan seganas ini.

Pwe-giok tidak sempat memperlihatkan rasa kagetnya, cepat ia berputar hingga serangan lawan dapat dielakkan, akan tetapi pukulan lawan berikutnya segera melanda tiba pula.

Guru yang keras tidak nanti melahirkan murid yang lemah. Apa bila watak gurunya begitu keras, dengan sendirinya anak didiknya juga suka dengan kekerasan, hal ini terbukti dari pukulan-pukulannya yang dahsyat dan ganas.

Pwe-giok merasa tosu cilik yang sopan santun dan selalu tersenyum itu kini telah berubah sama sekali. Yang dihadapinya sekarang seolah-olah seorang pengganas yang buas dan tidak kenal sopan.

Dengan cepat belasan jurus telah berlalu, Pwe-giok terdesak hingga bernapas saja hampir tidak sempat lagi. Ada beberapa jurus mestinya dapat dipatahkannya dengan kungfu dari perguruannya sendiri, tapi kalau dia memperlihatkan kungfu ‘Bu-kek-pay’, bukankah asal-usulnya akan konangan.

Terpaksa ia menciptakan jurus sebisanya dan bergerak menurut keadaan, tetapi terbatas oleh macam-macam kekuatiran, sebaliknya tekanan lawan sedemikian hebat, maka jurus serangan yang dikeluarkannya tidak begitu leluasa.

Terdengar si Tojin jubah biru sedang meraung kembali, “Anak busuk, mengapa tidak kau keluarkan kungfu ajaran Hong Sam, apa kau takut rahasia kungfunya diketahui olehku...? Keras sedikit, keparat! Ke mana kau tadi malam? Mengapa sekarang kelihatan lemas...? Bagus, itulah jurus Yong-hu-pwe-ci, Beng-hou-khay-san (si perkasa menyandang panah, harimau buas keluar gunung)... Sontoloyo, masa seranganmu ini kau anggap Yong-hu-pwe-ci? Lebih mirip kau lagi menggaruk punggung orang yang gatal!”

Beberapa kalimat pada bagian depan dengan sendirinya ditujukan memaki Pwe-giok, tapi kalimat-kalimat belakangan digunakan untuk memaki muridnya. Dia menyangka Pwe-giok tidak berani mengeluarkan ilmu silat perguruannya karena kuatir rahasia ilmu Hong Sam dapat diketahuinya. Padahal Pwe-giok sendiri sedang mengeluh, karena kemampuannya hanya itu-itu saja, untuk menangkis saja sekarang rasanya sulit.

Tapi si Tojin jubah biru masih mencela serangan muridnya yang dikatakan kurang keras, padahal betapa hebat dan kuat serangan Sip-hun sudah cukup membuat melongo orang-orang yang menyaksikannya.

Karena terbatas oleh kekuatiran gaya kungfu aslinya akan diketahui musuh, maka setiap kali Pwe-giok hendak menyerang selalu harus mengingat-ingat apakah jurus serangan ini ilmu silat perguruan asalnya atau bukan. Dengan cara begini, bukan saja gerak-geriknya menjadi lebih lambat, tenaga juga banyak terbuang.

Setelah belasan jurus lagi, Pwe-giok sudah mandi keringat, bila mana terancam bahaya, terpaksa ia menggunakan jurus ‘Heng-hun-po-ih, Hong-bu-kiu-thian’ ajaran Hong Sam itu untuk mendesak mundur musuh. Namun sesudah beberapa kali gebrak lagi, kembali dia terdesak dan terancam bahaya.

Begitulah sudah berulang-ulang ia menggunakan jurus sakti ajaran Hong Sam itu, untung setiap kali diulang, setiap kali bertambah lancar dan daya serangnya juga bertambah kuat.

Sampai akhirnya, terpaksa Sip-hun harus menyingkir terlebih dahulu bila Pwe-giok sedang menggunakan jurus sakti itu. Setelah jurus itu lewat, barulah Sip-hun menubruk maju dan menyerang lagi sehingga Pwe-giok tambah mengeluh.

Pwe-giok mendengar si Tojin kerdil lagi meraung-raung pula, “Anak busuk, lebih baik kau keluarkan seluruh ajaran Hong Sam, kalau cuma satu jurus ini apa gunanya? Bila bukan muridku ini terlalu tidak becus, tentu sejak tadi kau sudah mati lima puluh kali.”

Nyata dia anggap Hong Sam sudah banyak mengajarkan kungfu-nya kepada Pwe-giok, sebab ia menilai kekuatan anak muda itu bukanlah jago muda yang baru muncul, malahan kepandaiannya sudah tergolong kelas satu di dunia Kang-ouw, namun selain satu jurus ‘Heng-hun-bo-ih’ itu ternyata tiada jurus lain yang dikeluarkannya.

Sudah tentu keadaan Pwe-giok mirip si bisu dicekoki pil pahit, hanya bisa mengeluh tapi tak dapat menjelaskan. Ia tidak tahu bahwa raungan Tojin kerdil itu justru telah membantu dirinya malah. Kalau tidak, betapa tajam pandangan Lim Soh-koan dan begundalnya, bila melihat caranya berusaha menutupi gaya silat aslinya, tentu mereka akan curiga lagi dan kesulitan yang akan timbul kelak tentu akan bertambah banyak.

Sementara itu Pwe-giok sudah mandi keringat, setiap orang percaya dia tak akan mampu bertahan hingga 20 jurus lagi.

Tak terduga tenaga pembawaan Pwe-giok maha kuat, juga keuletannya sungguh di luar dugaan. Setelah lewat belasan jurus lagi keadaannya masih tetap begitu, meski keringat tambah banyak menghias jidatnya, tapi dia tetap bertahan.

Mau tak mau semua orang jadi melongo heran, cuma keheranan mereka sekarang bukan lagi karena kedahsyatan serangan Sip-hun melainkan karena daya tahan Pwe-giok yang luar biasa itu.

Di luar pendopo sekarang sudah penuh berkerumun orang, semuanya tercengang.

Lim Soh-koan menggeleng dan bergumam, “Bocah ini terlihat lemah lembut, tak disangka sekuat kerbau. Kalau bukan Sip-hun Suheng, orang lain mungkin sukar melayani dia.”

Dia sendiri hanya dalam satu gebrakan saja pedangnya telah dipatahkan Pwe-giok, maka sekarang dengan sendirinya ia sengaja menyanjung puji setinggi langit kungfu anak muda itu sekedar untuk menutupi kekalahannya tadi.

Tapi Dian Ce-hun hanya tersenyum hambar saja, katanya, “Seumpama dia benar seekor kerbau yang kuat, memangnya kita tidak mempunyai kepandaian menaklukkan kerbau?”

Dia bicara dengan suara lirih, ia mengira orang lain pasti tidak mendengarnya. Siapa tahu si Tojin jubah biru mendadak berjingkrak gusar, nyata telinganya sangat tajam dan dapat mendengar apa yang dikatakan Dian Ce-hun itu. Dengan gusar dia berteriak, “Baik, jika begitu besar kepandaianmu, biarlah kulihat kesanggupanmu saja!”

Pada saat itu Sip-hun sedang memukul kedua sisi tubuh Pwe-giok dengan kedua telapak tangannya. Pwe-giok sendiri lagi bingung karena tidak tahu cara bagaimana mematahkan serangan tersebut. Untunglah dilihatnya tiba-tiba tubuh Sip-hun telah mengapung ke atas, ternyata kuduknya sudah dicengkeram oleh Tojin jubah biru terus dilemparkannya.

“Telur busuk yang tak berguna!” demikian terdengar Tojin jubah biru memaki. “Lebih baik menggelinding ke samping sana dan saksikan kemampuan orang lain yang katanya sekali turun tangan lantas dapat menundukkan bocah she Ji itu.”

Meski di mulut dia memaki muridnya sendiri, yang benar dia berolok-olok kepada Dian Ce-hun, sebab dia sendiri tahu siapa pun juga tiada yang mampu mengalahkan Ji Pwe-giok hanya dengan sekali dua gebrak saja.

Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan saling pandang sekejap menyaksikan tindakan Tojin jubah biru itu, diam-diam mereka merasa geli, pikir mereka, “Tak disangka watak orang ini yang suka membela murid sendiri sampai tua tetap tidak berubah.”

Dalam pada itu Sip-hun yang dilemparkan itu sempat berjumpalitan satu kali di udara, lalu melayang turun dengan enteng, wajahnya lantas menampilkan senyuman ramah pula, dia memberi hormat kepada Pwe-giok dan berkata,

“Tadi aku telah berlaku kasar, mohon Kongcu sudi memaafkan.”

“Ahh, Totiang telah bermurah hati padaku,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum dan balas menghormat.

Kedua orang saling pandang dengan tertawa, tidak ada yang menyangka beberapa detik sebelumnya mereka telah saling labrak dengan mati-matian.

Sementara itu Tojin jubah biru sudah memelototi Dian Ce-hun sambil membentak, “Nah, sekarang ingin kulihat gurumu yang rudin dan kecut itu sudah mengajarkan kungfu lihay macam apa kepadamu? Kenapa tidak lekas kau maju kemari, apakah perlu kumohon lagi padamu?”

Dian Ce-hun menghela napas panjang, katanya sambil nyengir, “Jika totiang menghendaki pertunjukanku yang jelek ini, terpaksa Tecu menurut saja. Cuma para Cianpwe jangan mentertawakanku.” Dia menyingsingkan lengan baju dan melangkah ke depan.

Kesempatan itu digunakan Pwe-giok untuk berganti napas sambil memandang sekeliling orang-orang yang hadir di situ.

Dilihatnya Ji Hong-ho tersenyum simpul sambil berdiri berjajar dengan ‘Tong Bu-siang’ itu, Lim soh-koan berdiri di belakangnya dengan tangan masih memegang pedang buntung. Rupanya, saking asyiknya dia mengikuti pertarungan seru tadi sehingga lupa membuang pedang patah itu.

Selain mereka bertiga, yang lain-lain terasa asing bagi Pwe-giok, hanya saja setiap orang tampak tenang dan kereng, jelas semuanya tokoh-tokoh Bu-lim kelas tinggi.

Selagi Pwe-giok merasa heran karena tidak melihat Ang-lian-hoa, mendadak dilihatnya di atas tungku perunggu raksasa di ruangan pendopo sana menongkrong satu orang, siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian-hoa.

Diam-diam Pwe-giok menghitung. Termasuk tojin jubah biru dan muridnya, yang hadir ini semuanya berjumlah 11 orang. Jadi masih kurang satu orang.

Setelah berpikir, akhirnya Pwe-giok paham persoalannya, “Selisih satu orang ini jelas ialah Hay-hong Hujin, dengan sendirinya dia enggan bercampur dengan orang-orang ini.”

Didengarnya tojin jubah biru lagi membentak, “Anak busuk, kau melamun apa? Orang lain menganggap kau sebagai kerbau dan sekarang hendak menaklukkan kau. Orang ini tidak seperti muridku yang tidak becus itu, jika kau tahu gelagat, lekas berjongkok dan biarkan orang menunggangi kau si kerbau ini.”

Ucapannya ini tampaknya seakan memaki Ji Pwe-giok, padahal sama saja dia menyuruh anak muda itu untuk berkelahi sekuatnya supaya jangan sampai dikalahkan orang. Bahwa muridnya tidak sanggup mengalahkan Pwe-giok, dengan sendirinya dia tidak ingin orang lain mampu mengalahkan Pwe-giok.

Setiap orang yang hadir di sana adalah orang kang-ouw kawakan, tentu saja semuanya dapat menangkap arti ucapannya, meski merasa geli, tapi tiada seorang pun yang berani tertawa.

Dian Ce-hun tersenyum kepada Pwe-giok, katanya, “Tenaga sakti anda benar-benar amat mengejutkan. Tadi Cayhe telah merasakannya, dan sekarang aku ingin belajar kenal pula dengan kungfu anda yang hebat, hendaklah Anda tidak perlu sungkan-sungkan...”

“Sungkan?” si tojin jubah biru meraung kembali. “Memangnya bocah ini berlaku sungkan terhadap muridku?!”

Perangai kasar tojin kerdil ini sungguh jarang ada bandingannya, bahkan Dian Ce-hun dan Pwe-giok sudah bergebrak hingga berpuluh jurus, dia masih tetap marah-marah saja.

Pertarungan sekarang berbeda lagi dengan tadi. Sekali pun orangnya lemah-lembut, tapi serangan Sip-hun tadi mengutamakan keras dan dahsyat. Kini Dian Ce-hun sebaliknya menggunakan gaya serangan yang lunak namun penuh variasi. Meski sudah berlangsung beberapa puluh jurus, tapi serangannya masih tetap serangan pancingan dan tiada satu pun yang benar-benar diarahkan kepada sasarannya.

Meski Pwe-giok tidak dapat memainkan ilmu silat perguruan asalnya, tapi silat Bu-kek-bun mengutamakan ketenangan, jadi sangat cocok untuk menghadapi serangan Dian Ce-hun yang banyak variasinya itu.

Namun ginkang Dian Ce-hun memang amat hebat, cepat dan sukar diduga laksana naga meluncur di tengah awan dengan gerak perubahan yang tidak menentu, jangankan Pwe-giok tidak dapat meraba posisi lawan, sampai yang menonton di sekitar sana pun merasa bingung. Seorang Dian Ce-hun seolah-olah telah berubah menjadi berpuluh orang.

Terdengar seorang tua berbaju ungu dan berjenggot panjang berkata dengan gegetun, “Dian Jit-ya berjuluk Naga Sakti, tidak disangka putera kesayangannya juga mempunyai ginkang setinggi ini. Tampaknya biar pun ginkang si Elang dari Bu-lim-jit-kim (tujuh burung dari dunia persilatan) juga tak melebihi Dian-kongcu ini,”

Seorang lainnya menanggapi sambil tertawa, “Bu-lim-jit-kim memang tiada satu pun yang mempunyai kepandaian sejati. Sun Tiong si Elang itu meski tertua dari Jit-kim, tetapi bila dibandingkan anak murid Sin-liong (Naga Sakti), jelas bedanya terlalu jauh.”

Orang ini sudah ubanan, perawakannya pendek kecil, namun kelihatan gesit dan tangkas, jelas ginkang-nya pasti juga tidak lemah. Maka meski pun di mulut dia memuji orang lain, tetapi sikapnya ternyata ingin membanggakan dirinya sendiri, agaknya baru merasa puas bila mana orang lain mau memujinya beberapa kata.

Benar juga, Lim Soh-koan lantas berkata dengan tertawa, “Kata-kata Hui-lo (kakek Hui) memang tepat. Tetapi mengapa kau lupa pada dirimu sendiri. Siapakah di dunia kangouw yang tidak kenal ginkang Bu-eng-cu To-toaya yang tiada bandingnya. Seumpama engkau tidak dapat menandingi kesempurnaan Dian Jit-ya, kalau dibandingkan Dian-kongcu ini... Ha-ha-ha!”

Kakek pendek kecil yang berjuluk Bu-eng-cu atau tanpa bayangan itu tampaknya berseri-seri oleh pujian Lim Soh-koan itu, dia berharap orang ini akan terus bicara. Siapa tahu, setelah tertawa, lalu Lim Soh-koan tidak melanjutkan lagi.

Untung si kakek berbaju ungu lantas menyambungnya, ”Betul, jahe memang selalu pedas yang tua. Betapa pun tinggi ginkang Dian-kongcu, mana bisa menandingi kesempurnaan ginkang To-heng.”

Bu-eng-cu To Hui tambah senang karena diumpak dan ditiup, tetapi wajahnya justru tidak menunjukkan setitik senyum pun, dia malah berkata dengan sungguh-sungguh, “Agaknya Hiang-heng tidak tahu, orang kalau sudah tua, tulangnya juga tambah berat, mana dapat kutandingi Dian-siauhiap yang muda dan perkasa itu. Apa lagi ginkang hanya kepandaian sampingan saja dan tidak banyak gunanya, bicara ilmu pukulan Hiang-heng, itulah baru benar-benar kungfu sejati.”

Kakek baju ungu she Hiang itu berjuluk ‘Sin-kun-bu-tek’ atau pukulan sakti tanpa tanding. Dia menjadi gembira karena dipuji, sambil terbahak-bahak dia menjawab, “Ahh, To-heng terlalu memuji padaku.”

Begitulah, semula mereka hanya memuji kehebatan ginkang Dian Ce-hun, tetapi akhirnya berubah arah dan malah saling membual akan keunggulannya sendiri-sendiri.

Tentu saja si Tojin jubah biru sangat mendongkol, segera dia meraung, “Wah, ada orang kentut! Alangkah busuk kentutnya!” dia pun berkata seraya mendekap hidung.

Ucapannya ini ibarat pelawak di panggung hanya sebagai umpan belaka dan memerlukan rekan lain untuk menanggapinya, jika tiada tanggapan, jadinya akan putus sampai di sana saja. Tak terduga Sip-hun lantas menanggapinya dengan tersenyum,

“Suhu, mana ada orang kentut di sini!”

Tojin jubah biru mendengus, “Hmm, kau tahu apa? Kalau kita kentut biasanya keluar dari pantat, tapi ada sementara orang kentut dengan mulutnya. Kentut yang keluar dari mulut itulah baunya lebih bacin, tahu!”

Seketika muka To Hui, Lim Soh-koan dan kakek she Hiang berubah merah mirip kepiting rebus. Meski di dalam hati sangat gusar, tetapi tiada seorang pun berani memberi reaksi. Padahal, dengan nama serta kedudukan ketiga orang ini, biasanya mana mereka pernah diolok-olok orang. Tapi sekarang, entah mengapa tampaknya mereka sangat jeri terhadap Tojin jubah biru ini.

Hanya di dalam hati saja ketiga orang itu sama menggerutu, “Muridmu sendiri tak mampu mengalahkan orang, dan sekarang bocah she Dian ini tampaknya akan berhasil, tentu kau akan kehilangan muka, untuk apa kau melampiaskan dongkolmu kepada diri kami?”

Tojin jubah biru memang tidak ingin mendapat malu. Tadinya ia bermaksud mencari tahu betapa hebat kungfu Hong Sam melalui-ji Pwe-giok. Bila mana sudah tahu, kalau tengah malam nanti harus saling gebrak, tentu dia sudah mempunyai pegangan. Namun setelah muridnya gagal memancing keluar kungfu Pwe-giok yang lain, sekarang Tojin jubah biru ini justru berharap sekali hantam dapatlah Pwe-giok merobohkan Dian Ce-hun.

Namun apa yang terjadi justru jauh dari kehendaknya. Bukan saja Pwe-giok tidak mampu merobohkan Dian Ce-hun, bahkan ujung baju lawan saja tidak dapat menyentuhnya.

Padahal sejak mengalami macam-macam petaka dan kenyang derita, selama ini belum pernah ada orang dapat merobohkan Pwe-giok dengan ilmu silat. Sudah tentu dia bukan pemuda yang sombong, tetapi setidak-tidaknya dia pun merasa kungfu-nya sendiri sudah cukup lumayan.

Tetapi sekarang siapa tahu hanya dalam waktu singkat saja, telah ditemuinya dua lawan tangguh yang belum pernah dilihatnya selama hidupnya. Kungfu kedua orang ini bukan saja jauh melebihi dirinya, usianya juga tidak lebih tua. Tampaknya di dunia kangouw ini memang masih banyak ‘harimau tidur dan naga bersembunyi’, entah betapa banyak lagi orang kosen. Kungfu yang dimilikinya boleh dikatakan masih jauh untuk dapat menandingi mereka.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner