RENJANA PENDEKAR : JILID-43


Seketika Pwe-giok menjadi kesal, dengan sendirinya tenaga pukulannya menjadi kendur. Bila orang lain, mungkin akan putus asa menyerah kalah. Tapi wataknya adalah halus di luar keras di dalam, meski pun menyadari bukan tandingan lawan, betapa pun ia pantang menyerah. Meski Dian Ce-hun masih terus melancarkan serangan dan selalu mendahului, tapi untuk merobohkan Pwe-giok dalam waktu singkat juga sulit, mau tak mau ia menjadi gelisah sendiri.

Dalam pada itu Tojin jubah biru telah berteriak kembali, “Berapa jurus tadi kau bergebrak dengan bocah she Ji ini?” Pertanyaannya ini ditujukan kepada muridnya.

Maka Sip-hun lantas menjawab, “Belum sampai 300 jurus!”

“Dan sekarang sudah berapa jurus mereka saling labrak?” Tanya pula si Tojin kerdil.

“Juga mendekati 300 jurus!” kata Sip-hun.

“Ha-ha-ha-ha!” Tojin kerdil itu bergelak tertawa. “Sekarang tentunya kau pun tahu bahwa orang yang suka membual, kebanyakan juga tidak mempunyai kepandaian sejati. Orang muda, sebaiknya kau lebih giat belajar kungfu kaki dan tangan, dari pada berlatih kungfu mulut!”

Muka Dian Ce-hun tampak sebentar merah sebentar pucat, gerak tubuhnya juga semakin cepat. Mendadak ia berkata kepada Pwe-giok dengan suara tertahan, “Lambat atau cepat akhirnya kau toh pasti kalah, untuk apa kau bertahan mati-matian? Bila tiba saatnya tentu aku tidak kenal ampun lagi, akan lebih baik jika sekarang kau mengaku kalah saja.”

“Mengaku kalah?” Pwe-giok menegas.

“Ya, kalau sekarang kau mengaku kalah, bukan saja kau tidak akan kulukai, bahkan aku menjamin akan mengantar kau pulang dengan selamat.”

Pwe-giok tersenyum, tiba-tiba saja dia menghantam sekuatnya. Pukulan inilah merupakan jawabannya.

Keruan Dian Ce-hun menjadi marah, dampratnya, “Keparat, kau tidak mau tahu maksud baik orang, lihat saja apakah kau mampu lolos dari sini?”

Sementara itu belasan jurus sudah lalu pula. Karena ia bertekad akan mengalahkan Pwe-giok sebelum mencapai 300 jurus, tiba-tiba dia melayang ke udara sambil bersiul panjang, dari atas seperti ular naga melingkar, segera dia menubruk ke bawah.

Inilah jurus serangan rahasia perguruan ‘Naga Sakti’ yang disebut ‘Keng-liong-pok-beng-sam-sik’ (tiga jurus adu nyawa si naga sakti). Dahsyatnya sukar ada tandingannya. Tetapi dari namanya yang disebut ‘mengadu nyawa’, jelas serangan ini baru akan dikeluarkan bila mana keadaan sudah kepepet. Sebab kedahsyatan serangan ini juga merupakan modal terakhirnya, bila mana tidak kena sasarannya, dirinya sendiri yang akan celaka.

Sebab itulah bila mana tidak terpaksa, anak murid ‘Naga Sakti’ tidak akan mengeluarkan jurus maut ini. Kini Dian Ce-hun belum kepepet, dia hanya ingin merobohkan lawan lebih cepat, maka jurus maut yang membawa resiko ini telah digunakannya. Dengan sendirinya ia pun sudah memperhitungkan lawan pasti tidak mampu menghindarkan serangannya ini.

Seketika Pwe-giok merasa seluruh penjuru udara penuh bayangan musuh, sekujur badan sendiri telah terkurung di bawah angin pukulan lawan, ke mana pun dia menghindar tetap sukar lolos.

Begitu keras angin pukulan musuh sehingga dia hampir tak dapat bernapas, bila dia balas menghantam, bisa jadi kedua tangan sendiri akan patah.

Pada waktu itu dia masih ragu itulah, telapak tangan musuh sudah menindih tiba dari atas kepala. Dalam keadaan demikian tidak ada pilihan lain lagi baginya kecuali memejamkan mata dan menanti ajal belaka.

Dengan sendirinya serangan Dian Ce-hun itu pun menggemparkan para penonton.

Sampai-sampai Ji Hong-ho berseru kuatir, “Lihay amat serangan ini, pantas saja di dunia Kangouw tersiar semboyan ‘Naga Sakti muncul, mati pun tidak menyesal’!”

Bahwa suatu jurus serangan mematikan dapat membuat korbannya mati tanpa menyesal, maka betapa lihaynya dapatlah dibayangkan.

Tanpa terduga, baru saja lenyap suara ucapan Ji Hong-ho, sekonyong-konyong terdengar suara orang menjerit, yang menjerit ternyata bukan Ji Pwe-giok melainkan Dian Ce-hun. Terlihat bayangan tubuhnya yang sedang menubruk ke bawah sekuatnya itu mendadak mengapung lagi ke atas dan mencelat hingga jauh.

Yang mengikuti pertarungan ini hampir seluruhnya adalah para jagoan kelas satu di dunia persilatan, malah rata-rata merupakan tokoh kawakan kangouw, sedikit kejadian ini mana dapat membuat mereka melengak. Tetapi sekarang, ketika tubuh Dian Ce-hun mencelat, baik Ji Hong-ho, Lim Soh-koan dan lain-lain hampir semuanya berubah pucat.

Apakah Hong Sam benar-benar telah mengajarkan ilmu silat maha sakti kepada Pwe-giok sehingga pada detik-detik terakhir itu, pada saat terancam bahaya dia dapat mematahkan serangan maut Dian Ce-hun itu?

Padahal jelas-jelas Pwe-giok tadi sudah tak bisa berkutik dan hanya menanti ajal belaka, mana dia mampu lagi mengelabui pandangan tokoh-tokoh ulung ini dengan sesuatu gerak serangannya?

Terdengar suara gemersak, tubuh Dian Ce-hun telah menumbuk daun pohon, lalu “bluk,” ia jatuh ke bawah dengan muka pucat seperti kertas, dengan mata mendelik ia pandang Tojin jubah biru dan berkata dengan suara parau, “Kau... kau...” belum lanjut ucapannya, darah segar tersembur dari mulutnya, pingsanlah dia di bawah pohon.

Pandangan semua orang tanpa terasa juga terpusat ke arah Tojin jubah biru.

Akan tetapi Tojin kerdil itu lantas berjingkrak gusar, teriaknya, “Apa yang kalian pandang? Memangnya kalian kira aku yang menolong bocah she Ji ini? Hmm, selama hidupku ini bilakah pernah aku main sergap? Apa lagi terhadap anak busuk pembual ini?”

Kedua tangan Tojin kerdil ini memang selalu terselubung di dalam lengan jubahnya yang longgar, tampaknya memang benar-benar tidak pernah bergerak. Karena itu, pandangan semua orang lantas beralih lagi ke arah Ji Pwe-giok.

Pwe-giok masih berdiri di tempatnya, seperti kesima, nyata yang membikin Dian Ce-hun mencelat tadi bukan dia sendiri. Jika demikian, lantas siapa gerangan yang membantunya itu?

“Huh!” jengek si Tojin kerdil. “Orang sebanyak ini hanya bisa berdiri melongo saja, sampai siapa orang yang turun tangan juga tidak tahu, cis, sungguh memalukan!”

Setelah berludah, ia lalu memutar pergi dengan langkah lebar.

Wajah semua orang sama merah dan menunduk malu.

Pada saat itu juga mendadak Pwe-giok melompat ke atas dan melayang pergi melintasi pucuk pohon, hanya sekejap saja bayangannya sudah lenyap.

Lim Soh-koan memandang Ji Hong-ho sekejap, katanya, “Bengcu...”

“Biarkan dia pergi,” ucap Ji Hong-ho dengan tersenyum tak acuh. “Betapa pun juga nanti malam...”

Lim Soh-koan mendekati Dian Ce-hun lantas membangunkannya, dengan tersenyum dia bergumam, “Sekali pun dia dapat lolos tengah malam nanti, mustahil dia mampu lolos dari cengkeraman Dian Jit-ya. Naga sakti pemburu sukma, naik ke langit mau pun menyusup ke bumi... Ha-ha-ha, masakah dia mampu naik ke langit atau menyusup ke bumi…?”

********************

Setelah melayang keluar dari biara itu, detak jantung Ji Pwe-giok belum lagi hilang.

Sesungguhnya siapakah gerangan orang yang telah menyelamatkannya?

Pada detik yang paling gawat itu, dia hanya merasa ada angin keras menyambar lewat di atas kepalanya dan mengenai dada Dian Ce-hun.

Tetapi tenaga maha dahsyat yang tidak kelihatan itu bukan dikeluarkan oleh si Tojin jubah biru, sebab dia dan muridnya berdiri di depan Pwe-giok, sedangkan tenaga serangan yang tidak kelihatan itu datangnya dari belakangnya.

Sungguh Pwe-giok tidak tahu siapakah yang telah menolongnya dan sebab apa menolong dirinya? Tenaga pukulan sekuat itu hakekatnya belum pernah dilihatnya selama ini.

Sekilas ia telah menoleh dan memandang ke arah datangnya tenaga pukulan dahsyat itu, dilihatnya ranting pohon bergoyang, namun tiada bayangan seorang pun yang terlihat.

Di samping tenaga dalamnya maha dahsyat, ginkang orang itu pun amat mengejutkan. Di dunia ini ternyata masih ada tokoh kosen begini, sebelumnya dalam mimpi pun tak pernah dibayangkan Pwe-giok. Baru sekarang dia tahu, tokoh ajaib di dunia persilatan ini masih sangat banyak dan sukar dijajaki.

Ia menghela nafas panjang. Mendadak didengarnya daun pohon gemerisik di depan sana, sesosok bayangan orang melayang tiba dan menghadang di hadapannya, sambil bergelak tertawa orang itu berseru,

“Ha-ha-ha, setelah melukai putera tunggal gabungan tujuh keluarga Dian, lalu kau hendak angkat kaki begitu saja?”

Suara tertawanya keras bagai bunyi genta. Siapa lagi dia kalau bukan si Tojin jubah biru.

Pwe-giok terkesiap dan cepat menyurut mundur, ia lantas memberi hormat dan menjawab, “Pandangan Totiang maha tajam, tentunya Totiang sudah tahu bahwa tadi bukan Cayhe yang turun tangan selihay itu.”

“Habis siapa?” tanya Tojin jubah biru dengan sinar mata gemerdep.

“Untuk itu justru Cayhe ingin mohon petunjuk kepada Totiang,” ujar Pwe-giok.

Tojin itu menjadi gusar bukan main, katanya, “Jadi kau pun tidak tahu siapa yang telah menyelamatkan kau?”

“Kalau Totiang saja tidak dapat melihat jelas siapa gerangannya, mana Cayhe mempunyai mata setajam itu?” jawab Pwe-giok.

“Jadi maksudmu mataku ini kurang tajam?” Tojin itu bertambah gusar. “Huh, orang yang suka bertindak secara sembunyi2 begitu mana ada harganya kuperhatikan.” Mendadak ia menarik leher baju Pwe-giok lantas bertanya dengan sekata demi sekata, “Dia Hong Sam atau bukan?”

Dengan tak acuh Pwe-giok menjawab, “Memangnya Hong Sam Sianseng orang yang suka main sembunyi2 begitu?”

“Jika bukan Hong Sam, habis siapa?” hardik tojin itu dengan suara bengis. “Hanya dengan sepotong ranting kayu saja orang itu mampu melukai putera Dian Jit hingga dia tumpah darah, kecuali diriku dan Hong Sam, siapa pula yang sanggup berbuat demikian?”

“Sesungguhnya Cayhe memang juga tidak percaya masih ada orang lain,” ujar Pwe-giok.

Sejenak Tojin itu memelototi anak muda itu, katanya kemudian, “Apa pun juga, Dian cilik terluka pada waktu bergebrak dengan engkau, bila mana Dian tua tahu, mana dia mau mengampuni kau? Antara ke tujuh Dian bersaudara itu, ke enam orang yang tua masih mendingan, tapi Dian Jit... ha-ha, kalau dia mau merecoki kau, biar pun kau lari ke langit atau masuk ke bumi juga tak dapat lari.”

“Cayhe sendiri tidak bermaksud lari,” ujar Pwe-giok.

“Tidak lari? Memangnya kau kira sanggup melawan dia?” jengek Tojin jubah biru.

“Cayhe juga tidak bermaksud melawan dia,” kata Pwe-giok pula.

“Tidak lari juga tidak melawan, memangnya kau punya akal lain? Kau kira Dian Jit mau bicara aturan dengan kau?”

Pwe-giok berdiam sejenak, katanya kemudian dengan tak acuh, “Urusan sudah kadung begini, kukira nanti akan ada akal.”

“Busyet, masih muda belia, cara bicaramu se-olah2 sudah kakek2,” kata Tojin itu dengan tertawa. “Jika kau tidak punya akal, aku sudah mempunyai akal.”

“Mohon petunjuk Totiang,” kata Pwe-giok.

“Kalau kau mengangkat guru padaku, kujamin di dunia ini tiada orang berani mengganggu satu jarimu.”

“Mengangkat guru kepada Totiang?” Pwe-giok menegas dengan melengak.

“Ya, jangan kau sangka aku sukar mencari murid maka aku penujui kau,” teriak Tojin itu, “hanya lantaran kulihat kau ini lumayan, pemberani dan keras kepala, biar pun Dian cilik sudah memancing kau dengan berbagai cara, ternyata kau tetap tidak mau mengkhianati aku.”

“Hah, kiranya Totiang telah mendengar ucapannya?” Pwe-giok tertawa geli.

“Bila tidak kudengar ucapannya ketika membujuk kau menyerah saja padanya, hm, biar pun kepalamu pecah menyembah padaku juga tidak sudi kuterima kau sebagai murid.”

Pwe-giok menarik nafas panjang, katanya, “Maksud baik Totiang sungguh mengharukan sekali, untuk mana Wanpwe mengucapkan terima kasih banyak2. Cuma saja... Wanpwe ini seorang yang bernasib jelek, selama hidup Wanpwe tidak ingin mengangkat guru lagi kepada siapa pun.”

“Jadi kau tidak mau?” Tojin itu menegas dengan murka.

Pwe-giok menunduk dan tidak bicara lagi.

“Kau tidak menyesal?” tanya pula si Tojin dengan suara bengis.

Pwe-giok tetap tidak bersuara.

Tojin itu tambah marah, ia mendamprat, “Kau goblok, tolol, sinting...” tiba-tiba ia membalik tubuh dan menghantam,

“Blangg...!” sebatang pohon cukup besar di sebelahnya telah dihantamnya hingga patah menjadi dua, pohon patah itu pun tumbang sambil menerbitkan suara gemuruh.

Sambil menghantam Tojin itu pun menengadah dan bersiul panjang, pada saat Pwe-giok berpaling, suara siulan Tojin kerdil itu sudah berada di kejauhan.

Pwe-giok menghela nafas pula. Tiba-tiba didengarnya ada seorang juga sedang menghela nafas panjang, “Sayang, sungguh sayang...!”

“Siapa itu?!” bentak Pwe-giok tertahan.

Maka dari kegelapan pohon sana muncul seseorang dengan langkah ke-malas2an, siapa lagi dia kalau bukan Ang-lian-hoa.

Mencorong sinar mata Ang-lian-hoa, katanya sambil menatap Pwe-giok dengan pandang mata tajam, “Kau kenal padaku tidak?”

Bergolak darah panas di rongga dada Pwe-giok setelah dapat berjumpa dengan sahabat karib di tempat yang sangat sepi ini, hampir saja dikeluarkannya seluruh isi hatinya tanpa menghiraukan segala akibatnya. Namun di bawah bayang-bayang pohon yang rimbun di sana apakah betul tiada terdapat lagi orang lain?

Terpaksa diam2 Pwe-giok hanya menghela nafas, jawabnya kemudian sambil memberi hormat, “Nama Ang-lian-pangcu sudah termashur di seluruh dunia, siapakah yang tidak kenal padamu?”

Ang-lian-hoa juga seperti menghela nafas, mendadak dia tertawa dan berkata pula, “Eh, apakah kau tahu siapa gerangan orang yang hendak mengambil murid padamu tadi?”

“Siapa?” tanya Pwe-giok.

Ang-lian-hoa tersenyum, jawabnya, “Usiamu terlampau muda, mungkin kau belum pernah mendengar nama Lo-cinjin?”

“Lo-cinjin?” tukas Pwe-giok, “itukah Lo-cinjin dari Hoa-san?”

“Betul, kecuali Lo-cinjin, siapa lagi yang memiliki kungfu selihay dan pemberang begitu?”

“Pantas semua orang sama bilang dia benar2 salah seorang di antara kesepuluh tokoh utama jaman ini, baru sekarang aku percaya...” tiba2 ia memandang Ang-lian-hoa sekejap dan tidak meneruskan.

“Baru sekarang kau percaya orang yang disebut ‘tokoh’ seperti kami ini hakikatnya seperti anak kecil bila dibandingkan dia, begitu bukan?” Ang-lian-hoa merandek dengan tertawa. Dia tahu kalau Pwe-giok tidak sanggup menjawabnya, maka ia sendiri lantas melanjutkan, “Betapa tinggi khikang orang ini konon sudah mencapai tingkatan yang tertinggi dan boleh dikatakan jago nomor satu di dunia ini. Bahkan watak orang ini sangat aneh, selama ini hampir tak pernah menghargai orang lain. Tapi sekarang dia mau menerima kau sebagai murid dan kau sebaliknya tidak mau, sungguh aku pun merasa sayang bagimu.”

Pwe-giok terdiam sejenak, lalu berkata dengan tersenyum hambar, “Apakah kedatangan Pangcu ini hanya ingin memberi-tahukan kepadaku mengenai urusan ini?”

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan lagi padamu,” jawab Ang-lian-hoa perlahan.

“O, silakan bicara,” kata Pwe-giok.

Kembali sinar mata Ang-lian-hoa mencorong terang dan menatap Pwe-giok lekat-lekat. Ucapnya dengan suara tertahan, “Nona Lim Tay-ih, kenapa dia hendak membunuhmu?”

Pwe-giok tersenyum pedih, jawabnya, “Apakah dia... tidak memberi-tahukan padamu?”

“Belum pernah kutanyai dia,” kata Ang-lian-hoa.

“Jika Pangcu belum menanyai dia, mengapa malah tanya padaku?”

Tiba-tiba Ang-lian-hoa berkata dengan suara bengis, “Sebab ada urusan yang betapa pun anak perempuan tidak mau ngomong apa2, tetapi kaum lelaki kita, seorang jantan sejati, berbuat apa pun seharusnya membusungkan dada dan berani bicara secara terus terang, betul tidak?”

Dengan suara rawan Pwe-giok menjawab, “Orang yang seperti Pangcu sudah tentu dapat membusungkan dada untuk menghadapi segala, tapi ada sementara orang biar pun ingin membusungkan dada juga tidak... tidak dapat.”

Sampai sekian lama sinar mata Ang-lian-hoa yang tajam itu menatap Pwe-giok, katanya kemudian dengan suara tertahan, “Sesungguhnya ada urusan apakah yang tak dapat kau bicarakan?”

“Maaf, tiada sesuatu yang dapat kukatakan,” jawab Pwe-giok dengan tersenyum pedih.

Kembali Ang-lian-hoa menatapnya sejenak, kemudian ia menengadah dan menarik nafas menyesal, katanya, “Orang baik2 rela terjerumus ke dalam kegelapan, sungguh sayang!”

“Sesungguhnya Cayhe juga merasa sayang bagi Pangcu,” kata Pwe-giok tiba2.

“Apa yang kau sayangkan bagiku?” tanya Ang-lian-hoa dengan agak melengak.

“Keluhuran Pangcu sudah lama terkenal di seluruh kolong langit ini, tapi kenapa sekarang juga sudi menggabungkan diri dengan kaum munafik itu untuk mengerubuti seorang anak perempuan yatim piatu?”

Air muka Ang-lian-hoa rada berubah, mendadak ia bergelak tawa dan berkata, “Kau bilang yatim piatu? Maksudmu dia anak perempuan yatim piatu?” tiba-tiba saja suara tertawanya berhenti, lalu bertanya dengan bengis, “Tahukah kau mengapa kami mencarinya ke sini?”

“Justru ingin kutanyakan?” jawab Pwe-giok.

“Selama beberapa tahun ini sudah ada 20 orang lebih yang menghilang secara misterius dan jejaknya tidak pernah diketemukan. Orang2 itu ada yang berasal dari utara dan ada yang dari selatan, masing2 boleh dikatakan tiada hubungannya sama sekali. Tapi setelah diselidiki secara cermat, akhirnya diketahui bahwa di antara orang-orang yang hilang itu terdapat satu titik persamaan.”

“O, apa itu?” tanya Pwe-giok.

“Satu2nya hal yang sama adalah sebelum mereka menghilang, semuanya pernah dilihat orang tinggal di Li-toh-tin ini.”

“O, hanya begitu?”

“Ya, tetapi yang paling penting adalah, sesudah kelihatan di Li-toh-tin sini, lalu tiada orang yang melihat mereka lagi.”

“Hal ini rada membingungkan aku,” ujar Pwe-giok.

“Dengan lain perkataan, umpamanya orang itu kemarin kelihatan berada di Li-toh-tin sini, besok dia lantas lenyap tanpa bekas dan entah ke mana perginya.”

“Oo...”

“Petunjuk ini sebenarnya tidak begitu jelas, tapi setelah 20 orang lebih sama2 menghilang dengan cara begitu, maka persoalannya menjadi lain. Para sanak keluarga orang2 yang hilang itu lantas mengangkat tiga orang wakil mereka ke Li-toh-tin sini untuk menyelidiki urusan ini dengan lebih jelas.”

“Siapakah ketiga orang itu?” tanya Pwe-giok.

“Biar kukatakan nama mereka juga tidak kau kenal,” kata Ang-lian-hoa. “Cukup kukatakan ketiga orang itu tentunya orang-orang yang cerdik dan pandai, kalau tidak masa mereka terpilih?”

“O, lalu bagaimana hasil penyelidikan mereka?”

“Apa pun tidak dihasilkan oleh mereka.”

“Oo? Kenapa begitu?”

“Sebab setiba di Li-toh-tin ini, selamanya mereka pun tidak pernah kembali lagi.”

“Hah? Lantas bagaimana?”

“Dengan sendirinya urusan ini sangat menggemparkan dan akhirnya dilaporkan kepada Bu-lim-bengcu.”

“Ehm, memang harus begitu.”

“Tapi Ji bengcu baru saja kehilangan anaknya, beliau sedang berduka dan belum sempat memikirkan urusan ini,” tutur Ang-lian-hoa. “Dengan sendirinya urusan ini jatuh ke tangan Kay-pang. Bila mana kaum tukang minta-minta mau menyelidiki sesuatu, tentunya akan jauh lebih leluasa dari pada orang lain.”

“Ya, betul juga,” Pwe-giok menyengir.

“Karena itu selama setengah bulan ini di Li-toh-tin mendadak kaum pengemis bertambah banyak. Mereka mengemis pada setiap orang dan setiap rumah, tentu saja tak ada orang menaruh curiga kepada mereka bahwa sebenarnya mereka sedang menyelidiki sesuatu rahasia yang membikin panik kaum Bu-lim.”

“Justru lantaran itulah, maka di kolong langit ini siapa pun tidak berani merecoki Kay-pang kalian,” kata Pwe-giok dengan tersenyum.

Ang-lian-hoa tersenyum bangga, sambungnya lagi, “Setelah penyelidikan selama belasan hari terus menerus, akhirnya diketahui bahwa penduduk Li-toh-tin ini adalah rakyat jelata yang patuh dan tertib, hanya sebuah loteng kecil di belakang Li-keh-can itu berdiam dua orang yang sama sekali tidak diketahui asal-usulnya. Sebab itulah mereka berdua lantas menjadi sasaran penyelidikan selanjutnya.”

“Kemudian?” tanya Pwe-giok.

“Sehari suntuk mereka mengintai di sekitar loteng kecil ini, tetapi belum lagi menemukan sesuatu yang mencurigakan, tahu-tahu si... si nona cilik yang tinggal di atas loteng kecil itu malah telah melihat gerak-gerik kaum jembel itu. Malam harinya, lima murid kami yang pasang mata di sana sudah dikerjai, kantung yang membedakan tingkatan mereka yang selalu dipanggul di punggung mereka itu tahu2 lenyap secara aneh.”

Dia merandek sejenak, lalu menyambung lagi sambil menarik muka, “Padahal anak murid Pang kami sangat memandang penting kantung yang mereka bawa itu, tapi orang dapat mencuri kantung yang melengket di punggung mereka itu tanpa diketahui, maka tahulah mereka bahwa nona cilik itu ternyata adalah seorang kosen, jelas orang sengaja hendak memperingatkan mereka agar mereka jangan ikut campur urusan ini.”

“Siapa tahu, urusan menjadi runyam malah, bukan?” tanya Pwe-giok.

“Betul, sebab hidup orang Kay-pang justru suka ikut campur urusan.”

“Dan lantaran urusan ini pula maka Pangcu datang ke Sujwan sini.”

“Bukan cuma itu saja, mestinya Pang kami akan mengadakan rapat besar di Thay-heng-san untuk menjatuhkan hukuman kepada pengkhianat, karena adanya urusan ini terpaksa tempat rapat kami pun berpindah ke sini.”

Pwe-giok terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Dan sekarang Pangcu sudah merasa pasti bahwa hilangnya ke-20 orang itu ada sangkut pautnya dengan nona Cu yang tinggal di atas loteng itu?”

“Betul, sesudah menerima laporan murid Kay-pang, Ji-bengcu lantas mengumpulkan para tokoh Bu-lim dan datang ke Li-toh-tin ini dengan pura-pura main catur di Li-keh-can yang terletak di depan loteng kecil itu, tetapi diam2 tempat itu telah dijaga dan diintai. Akhirnya dapat dipastikan bahwa yang tinggal di situ adalah anak keturunan Siau-hun-kiongcu dan Hong Sam.”

“Kiranya di balik persoalan ini masih ada liku-liku begini, tadinya kukira urusan ini sangat sederhana,” ujar Pwe-giok sambil menghela nafas.

Gemerdep sinar mata Ang-lian-hoa, mendadak ia berkata dengan suara kereng, “Jika kau mau terima nasehatku, lebih baik cepat kau tinggalkan tempat ini, kalau tidak, bila tengah malam nanti tiba, segalanya akan hancur lebur dan hal itu tentu akan sangat disesalkan.”

Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian, “Tapi kukira urusannya tidak sesederhana sebagaimana disangka Pangcu.”

“Pokoknya beginilah nasehatku, mau percaya atau tidak tergantung padamu sendiri,” kata Ang-lian-hoa. Dia pandang Pwe-giok sekejap, seperti mau omong apa2 lagi, tetapi urung diucapkan, lalu melayang pergi.

Buru-buru Pwe-giok menyusuri hutan tadi. Penduduk Li-toh-tin masih berkumpul di situ, tampaknya mereka tambah cemas.

Padahal Pwe-giok juga tidak kurang cemasnya, selama setengah hari ini sudah terlampau banyak rahasia yang didengarnya, namun pikirannya masih penuh diliputi banyak tanda tanya yang sukar dipecahkan.

Sesudah menyusuri hutan itu, di depan adalah sebuah tanjakan, bila tanjakan itu sudah dilintasi barulah sampai di kota kecil itu. Pada saat itulah dari balik tanjakan sana Pwe-giok mendengar suara rintihan orang kesakitan.

Cepat Pwe-giok memburu ke sana, dilihatnya seorang berambut putih sedang berjongkok di samping sepotong batu besar dan sedang merintih.

Masih musim rontok, hawa belum terlalu dingin, tetapi nenek ini memakai baju kapas yang sangat tebal. Melihat Pwe-giok, segera ia berkeluh dan berseru,

“Siau... Siauya, tol... tolonglah, bantu nenek ini!”

Nenek ini tampaknya cuman sakit keras biasa. Namun Pwe-giok selalu waspada, betapa pun ia merasa sangsi, ia coba tanya, “Apakah nenek penduduk Li-toh-tin ini?”

“Ya, ben... benar...,” jawab nenek itu.

“Orang2 sama berkumpul di hutan sana, mengapa nenek berada sendirian di sini?”

Nenek itu mengucek-ucek matanya dengan tangannya yang kurus kering sambil berkata, “Janganlah Siauya mentertawakan diriku jika kukatakan, hidup nenek ini sebatang kara, tidak punya sanak keluarga seorang pun, orang lain sama menganggap nenek ini kotor dan sudah tua renta, tiada seorang pun mau memperhatikan diriku, selama ini hanya Siau Hoa (si belang) saja yang mendampingi aku.”

Sambil omong, meneteslah air matanya, dengan suara tersendat dia menyambung pula, “Tetapi orang itu tidak... tidak mengijinkan aku membawa Siau Hoa, seharian ini Siau Hoa tentu akan mati kelaparan... O Siau Hoa yang baik, Siau Hoa sayang, jangan kau kuatir, sebentar lagi nenek pasti datang menjenguk kau.” Segera dia hendak merangkak bangun, tapi jatuh terkulai pula.

Cepat Pwe-giok memayangnya bangun, katanya sambil berkerut kening, “Apakah Siau Hoa itu cucu nenek? Mengapa mereka tidak mengijinkan kau bawa serta dia?”

“Betul, Siau Hoa adalah cucuku sayang,” tutur si nenek sambil menangis. “Cucu orang lain suka ribut, suka nakal, tetapi Siau Hoa sangat jinak, sangat penurut, sepanjang hari hanya menunggui aku, menangkap tikus saja tidak mau.”

“Hah, menangkap tikus?” Pwe-giok melengak, tetapi akhirnya dia tertawa geli sendiri dan bertanya, “O, kiranya Siau Hoa kesayangan nenek itu adalah seekor kucing?”

Tapi nenek itu lantas menangis ter-gerung2, katanya, “Betul, di dalam pandangan orang muda seperti kalian ini Siau Hoa hanya seekor kucing, tapi dalam pandangan nenek yang sudah hampir masuk liang kubur ini, Siau Hoa justru adalah jiwaku, sukmaku, tanpa dia bagaimana aku akan melewatkan hari-hari selanjutnya...?” Ia meronta hendak merangkak ke depan, serunya dengan parau, “O, Siau Hoa sayang, cucu sayang, sebentar nenek akan memberi makan ikan padamu, janganlah kau menangis, biar pun perut nenek akan robek kesakitan juga akan merangkak pulang untuk memberi makan padamu.”

Memandangi rambut si nenek yang putih perak dan tubuhnya yang bungkuk, Pwe-giok membayangkan kehidupan orang tua yang sengsara dan kesepian ini, tanpa terasa dia menjadi terharu dan ikut pedih, dengan suara keras dia lantas berseru, “Jika Lo-thaythay (nenek) tidak mampu berjalan lagi, biarlah kau kugendong saja.”

“Kau... kau sudi?” tanya si nenek sambil kucek2 matanya.

“Jika nenekku sendiri masih hidup, beliau tentu juga akan sayang pada Siau Hoa seperti dirimu,” ujar Pwe-giok sambil tertawa ramah.

Maka tertawalah si nenek sehingga kelihatan mulutnya yang ompong dengan gigi yang tinggal dua, katanya, “Aih, Siauya memang orang baik, tadi begitu mendengar aku akan memberi makan kepada Siau Hoa, mereka langsung merintangi aku dan melarang aku pulang, hanya Siauya saja... Aih, begitu melihat Siauya memang sudah kuduga engkau pasti seorang yang baik hati.”

Begitulah, sambil mendekam di atas punggung Pwe-giok dia masih terus mengoceh dan memuji Pwe-giok setinggi langit, katanya anak muda itu baik hati, cakap lagi, kelak pasti akan mendapatkan bini yang cantik dan pintar.

Muka Pwe-giok menjadi merah. Untung tidak lama mereka sudah memasuki kota kecil itu. Pwe-giok lantas tanya, “Di manakah Lo-thaythay bertempat tinggal?”

“Tempat tinggalku paling mudah dikenali, sekali pandang saja lantas tahu,” kata si nenek.

“O, apakah di depan sana?” tanya Pwe-giok pula dengan tertawa.

“Eh, jadi sudah kau lihat? Memang betul di loteng kecil itulah,” kata si nenek.

Air muka Pwe-giok seketika berubah.

Maklumlah, di kota kecil ini hanya terdapat loteng itu, satu-satunya loteng kecil itu adalah tempat tinggal Hong Sam dan Cu Lui-ji, dan sekarang si nenek ternyata mengaku juga bertempat tinggal di situ.

Diam2 Pwe-giok merasakan gelagat tidak enak, tapi sebelum ia bertindak sesuatu, tahu2 kedua kaki si nenek yang tadinya lemas itu seketika berubah menjadi kuat dan menjepit tubuhnya seperti tanggam.

Walau pun Pwe-giok memiliki tenaga sakti pembawaan, namun terjepit oleh kedua kaki si nenek, jangankan hendak meronta, bernapas saja terasa sesak.

Keruan dia terkejut, serunya, “He, Lothaythay, ap... apa kehendakmu?”

“Aku cuman berharap Siauya akan mengantar aku pulang ke rumah,” kata si nenek.

“Tapi... tapi tempat itu...”

“Ha-hah-hah!” mendadak si nenek mengakak, suara tertawanya seperti bunyi kokok beluk di malam sunyi dan membuat bulu roma Pwe-giok sama berdiri.

Didengarnya si nenek berkata kembali dengan terkekeh-kekeh, “Barangkali Siauya belum tahu bahwa tempat itulah rumah nenek, yang tinggal di sana, seorang adalah cucuku dan seorang lagi adalah buyut perempuanku.”

Pwe-giok menarik nafas dalam2, sedapatnya ia menahan perasaannya, katanya dengan perlahan, “Jika Lothaythay ada sengketa apa-apa dengan Hong Sam Sianseng dan ingin mencarinya, mengapa engkau perlu kugendong ke sana? Padahal dengan tenaga kaki nenek yang kuat, masa tidak dapat naik ke sana?”

Nenek itu tertawa, “Siauya, kau ini orang baik, tetapi cucuku itu sedikit pun tidak berbakti padaku, bila dia melihat nenek datang sendirian ke sana, bukan mustahil sekali depak aku akan ditendangnya ke bawah loteng.”

“Dan sekarang apa yang kau inginkan dariku?” tanya Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Asal kau gendong aku ke atas loteng dan katakan kepada mereka bahwa aku ini adalah seorang nenek yang sudah sakit parah, kau yang menolongku ke sana untuk minta agar mereka memberikan obat padaku.”

“Kemudian?” tanya Pwe-giok.

“Urusan selanjutnya tidak perlu lagi kau ikut campur... He-heh-heh, kau sendiri pun tidak mampu ikut campur,” kata si nenek dengan ter-kekeh2.

Diam2 Pwe-giok membatin “Ya, sesudah kugendong dia ke atas loteng, tentunya dia tak akan melepaskan aku dan aku pun tidak perlu ikut campur apa2 lagi.” Berpikir demikian, sekujur badannya lantas basah kuyup oleh keringat dingin.

“Tapi hendaknya sekarang janganlah Siauya merencanakan tindakan yang tidak2, sebab biar pun usia nenek sudah lanjut, untuk meremas patah tulang lehermu kukira tidak lebih sukar dari pada kupatahkan sepotong ranting kayu.”

Pwe-giok menghela nafas, katanya, “Lo thaythay, tiada sesuatu yang kukagumi padamu selain ceritamu tentang si belang tadi, sungguh sedikit pun tidak menimbulkan curigaku.”

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner