RENJANA PENDEKAR : JILID-44


Pintu di bawah loteng kecil itu hanya dirapatkan saja tanpa dipalang dari dalam.

Di atas loteng Kwe Pian-sian lagi duduk termenung, sementara itu Ciong Cing mendekap di pangkuannya, seperti sudah tertidur.

Gin-hoa-nio meringkuk di pojok sana, mukanya yang semula ke-merah2an itu kini tampak pucat seperti mayat. Ia sedang memandangi tempat tidur sana dengan terbelalak, kedua matanya yang hidup se-olah2 dapat bicara itu kini tampak sayu dan hampa seperti sudah berubah menjadi seorang linglung.

Si sakit, Hong Sam Sianseng masih tetap berbaring di tempat tidur dengan tenang, cuma air mukanya tambah merah dan segar, napasnya juga sudah normal.

Cu Lui-ji berjaga di sampingnya, air mukanya tampak mengunjuk rasa girang.

Pada saat itulah Pwe-giok naik ke atas loteng. Begitu melangkah ke atas, dengan suara keras ia lantas berseru,

“Nenek ini mendapat sakit keras di tengah jalan, maka terpaksa kugendong dia pulang... kan tidak mungkin kulihat dia mati sakit di tepi jalan, bukan?”

Mendengar ini Kwe Pian-sian lantas berkerut kening. Ciong Cing masih tetap pulas dalam tidurnya. Gin-hoa-nio meringkuk tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, ada pun Hong Sam Sianseng tetap diam2 saja tanpa membuka matanya.

Hanya Cu Lui-ji saja yang tersenyum, katanya, “Nenek ini menderita penyakit apa? Biar aku...” mendadak suaranya terhenti, tanpa berkedip dia pandang nenek itu dengan wajah kerut dan takut seperti melihat setan saja.

Nenek itu menyembunyikan mukanya di belakang gendongan Pwe-giok, katanya dengan setengah merintih, “O, kasihanilah nona, berikan obat kepada nenek!”

Siapa tahu mendadak Cu Lui-ji lantas menjerit, “Oh-lolo... Oh-lolo... kau Oh-lolo!”

Tubuh Kwe Pian-sian mendadak tergetar demi mendengar nama Oh-lolo atau nenek Oh ini, air mukanya juga tampak kejut dan jeri se-akan2 ingin kabur saja kalau bisa.

Tangan Pwe-giok juga berkeringat dingin. Dia masih ingat kepada cerita ayahnya dahulu bahwa sekarang ini yang paling jahat dan paling keji di dunia adalah Oh-lolo. Perempuan yang paling tinggi ginkang-nya dan paling mahir menggunakan racun juga Oh-lolo. Pernah dia dikerubuti tiga di antara kesepuluh tokoh top jaman ini, dia terkurung di suatu lembah pegunungan dan bertahan tujuh hari tujuh malam, akhirnya dia tetap berhasil lolos dengan selamat.

Begitulah, terdengar Oh-lolo menghela nafas di gendongannya sambil berkata, “Tahu aku bakal dikenali budak cilik ini, untuk apa aku buang2 tenaga sebanyak ini?” Dia menggapai Lui-ji sambil berkata pula, “Ehh, budak cilik, cara bagaimana kau kenal pada nenek? Coba jelaskan, nanti nenek memberikan permen padamu!”

Akan tetapi Cu Lui-ji telah memegang tangan Hong Sam Sianseng, katanya dengan suara gemetar, “Li... lihatlah Sacek, Oh-lolo tidak mati, sekarang dia datang lagi.”

Hong Sam tetap tidak membuka matanya, dengan perlahan dia berucap, “Orang ini bukan Oh-lolo.”

“Tapi, kukenal dia... kukenal dia,” kata Luji. “Dia masih tetap memakai bajunya yang tebal itu, sanggulnya memakai tusuk kundai kayu hitam, sepatu yang dipakainya juga serupa dengan waktu itu.”

“Dia bukan Oh-lolo,” jengek Hong Sam. “Oh-lolo sudah mati!”

“Tapi dia... dia sudah hidup kembali!” seru Lui-ji.

“Orang yang terkena Hoa-kut-tan (pil penghancur tulang), jangankan dapat hidup kembali, menjadi setan pun tidak dapat,” kata Hong Sam dengan kereng.

Mendadak nenek itu bergelak tertawa, tertawa latah.

Suara seperti bambu patah, pergesekan dua benda logam, lolong serigala di hutan, bunyi kokok beluk dan sebagainya adalah suara yang paling menakutkan dan paling menusuk telinga, akan tetapi suara tertawa nenek ini jauh lebih tidak enak didengar dan jauh lebih menakutkan dari pada suara2 yang disebutkan tadi.

Setelah tertawa seperti orang gila sampai sekian lamanya, lalu nenek itu berkata, “Pantas kucari kian kemari tidak dapat menemukan adik perempuanku yang amat keji itu, kiranya dia memang telah dibunuh oleh kau si setan penyakitan ini... Oo, baik sekali matinya, dia memang sudah hidup cukup lama dan sudah waktunya harus mati... tetapi sesudah dia mati, aku menjadi sebatang kara begini, cara bagaimana aku dapat hidup sendirian...?”

Dari tertawa mendadak berubah menjadi menangis, suara tangisannya berpuluh kali lebih menusuk telinga dari pada suara tertawanya tadi. Kaki Pwe-giok terasa lemas sehingga hampir2 tidak kuat berdiri lagi.

Akhirnya Hong Sam membuka matanya, sinar matanya berkelebat, sesudah menatap si nenek sekejap lalu katanya dengan bengis, “Kau inikah kakak Oh-lolo?”

Nenek itu menjawab, “Dia adalah aku dan aku adalah dia, dia Oh-lolo, aku pun Oh-lolo, kami kakak beradik berdua sama dengan satu dan tidak terpisahkan.”

Tiba2 Kwe Pian-sian paham duduknya perkara, pikirnya, “Pantas orang Kangouw sama bilang jejak Oh-lolo tidak menentu dan sulit diraba. Suatu hari ada orang yang melihat dia muncul di Holam, tetapi pada hari yang sama ada orang lain yang melihat dia berada di Soa-tang. Kiranya Oh-lolo ini terdiri dari dua kakak beradik kembar yang selamanya selalu berdandan sama.”

Tiba2 terdengar si nenek alias Oh-lolo tadi menangis tergerung-gerung sambil berteriak, “Kau setan penyakitan busuk, kau telah membunuh adikku, bolehlah kau bunuh saja diriku sekalian.”

“Jadi kau kemari minta kubunuh?” jawab Hong Sam dengan tak acuh. “Baiklah, boleh kau maju ke sini!”

“Lihatlah para hadirin!” teriak Oh-lolo. “Di dunia ini ternyata ada orang yang sekeji ini. Adik perempuanku sudah dibunuhnya dan sekarang dia hendak membunuhku pula... kau setan penyakitan ini apakah benar2 tiada punya hati nurani manusia sama sekali?”

“Jika kau tidak ingin mati boleh kau pergi saja,” kata Hong Sam pula dengan ketus.

“Pergi ya pergi, kalau aku tidak dapat membunuh kau, untuk apa lagi berada di sini, hanya kheki saja bila melihat kau!” kata Oh-lolo.

Mendengar si nenek menyatakan mau pergi, segera Pwe-giok hendak membalik tubuh, untuk turun ke bawah. Padahal dia tahu, sekali turun maka selama hidupnya pasti akan terkekang di bawah tangan nenek aneh itu.

Siapa tahu belum lagi dia membalik tubuh, se-konyong2 kedua kaki Oh-lolo menggantol sekuatnya sehingga bagian atas tubuh Pwe-giok lantas menubruk ke depan tanpa kuasa. Dirasakannya suatu arus tenaga menyalur ke lengannya, tanpa terasa kedua tangannya terus terangkat dan menghantam ke arah Hong Sam yang masih terbaring itu.

Cara ini benar-benar amat sesuai dengan namanya, yaitu ‘Cio-to-sat-jin’ atau pinjam golok membunuh orang.

Sebab kalau hantaman Pwe-giok itu berhasil, tentu saja sangat baik, tapi kalau Hong Sam melancarkan serangan balasan, paling2 yang akan terluka adalah Pwe-giok. Oh-lolo yang mendekap di belakang punggungnya tentu sempat mengundurkan diri bila mana kejadian tidak menguntungkan.

Maklumlah, sebelumnya Oh-lolo sudah memperhitungkan keadaan Hong Sam. Lawan ini berbaring tertutup selimut, jelas tidak bisa mengelak, maka baginya hanya ada dua jalan, yakni menerima pukulan kedua tangan Pwe-giok itu atau balas menghantam. Dengan lain perkataan, apa bila Hong Sam tidak mati, maka yang akan mati ialah Pwe-giok.

Tapi kalau Hong Sam mati, apakah Oh-lolo akan membiarkan anak muda itu hidup terus? Jadi pergi-datang, akhirnya Pwe-giok pasti akan mati.

Keruan Cu Lui-ji menjerit kaget. Dilihatnya tangan Hong Sam yang kurus kering bagaikan kayu itu mendadak terjulur keluar dari selimut, lalu entah cara bagaimana tahu2 telapak tangan Pwe-giok sudah kena ditangkapnya.

Sesaat itu Pwe-giok merasakan suatu arus tenaga maha dahsyat timbul dari tangan Hong Sam Sianseng, tetapi hanya satu putaran segera tenaga itu menyurut kembali. Menyusul tenaga yang dikerahkan Oh-lolo ke tangannya tadi lantas ikut dengan arus tenaga Hong Sam Sianseng itu dan mengalir keluar.

Seketika Pwe-giok merasa sepasang tangannya dialiri oleh arus tenaga yang panas dan bergerak tanpa berhenti. Keruan dia terkejut, tapi segera dia tahu apa yang terjadi. Nyata Hong Sam Sianseng telah menggunakan lengannya sebagai jembatan untuk menghisap tenaga murni Oh-lolo. Di dunia ini ternyata ada kungfu ajaib begini, sungguh sukar untuk dibayangkan oleh siapa pun.

Agaknya Oh-lolo juga sudah tahu apa yang terjadi. Saking takutnya dia berteriak, “Hong Sam... Hong-locianpwe... berhenti... ampun, aku... aku menyerah padamu!”

Dengan suara perlahan Hong Sam berkata, “Sesungguhnya aku tidak mau sembarangan mengambil tenaga murni orang lain, tapi kau yang lebih dulu ingin mencabut nyawaku...”

“Aku tak berani lagi, Hong-locianpwe, kumohon sudilah engkau mengampuni diriku,” pinta Oh-lolo dengan suara parau.

Pwe-giok jadi heran dan geli. Kwe Pian-sian juga melenggong.

Tiba-tiba Oh-lolo menggigit telapak tangannya sendiri, dua kakinya memancal sekuatnya di punggung Pwe-giok, orangnya terus mencelat pergi dari gendongan Pwe-giok.

“Blang!” kepalanya menumbuk langit-langit rumah, lalu jatuh ke bawah lagi dan terduduk di lantai dengan nafas ter-engah2, mendadak ia berlutut menyembah kepada Hong Sam dan berkata, “Ya, aku tahu akan kesalahanku, kumohon sudilah engkau mengampuni diriku.”

Dengan suara hambar Hong Sam menjawab, “Kau dapat lolos dari tanganku, sungguh tak mudah... Baiklah, pergilah kau!” lalu ia tersenyum kepada Pwe-giok dan berkata, “Untung bagimu!”

Tadi waktu tubuh Oh-lolo mencelat ke atas, seketika Pwe-giok merasakan tenaga yang menghisap di telapak tangannya hilang mendadak. Kini di antara kedua tangannya masih terasa ada hawa hangat yang bergerak tiada hentinya.

Selagi bingung didengarnya Cu Lui-ji berkata kepadanya dengan tertawa, “Tenaga murni orang yang dipinjam Sacek ada sebagian besar tertinggal di tubuhmu, kau telah mendapat keuntungan tanpa sengaja, masa kau belum lagi tahu?”

Pwe-giok melengak, ia pandang tangannya sendiri, lalu pandang Oh-lolo pula, dalam hati entah bergirang atau berduka.

Dilihatnya Oh-lolo sedang melangkah ke tangga loteng dengan tubuhnya yang bungkuk dan kelihatan lemas. Meski pun berjalan dengan tertunduk, tapi sinar matanya yang buas penuh kebencian masih terus melirik ke arah Hong Sam.

“Jangan kau pergi dulu!” kata Hong Sam mendadak.

Oh-lolo terjingkat, tanyanya dengan suara gemetar, “Hong Samya ingin pesan apa lagi?”

“Selamanya aku tiada hubungan apa-apa dengan orang kangouw, apa lagi bermusuhan,” ucap Hong Sam dengan suara perlahan. “Jika sekarang kau pergi begini saja, tentu dalam anggapanmu adik perempuanmu telah kubunuh tanpa alasan.”

“Mana berani aku berpikir begitu,” ujar Oh-lolo dengan kepala tertunduk.

“Bolehlah kau tinggal di sini, dengarkan ceritaku sebab apakah kubunuh dia,” kata Hong Sam pula.

“Jika Hong Samya mau bercerita, dengan sendirinya terpaksa kudengarkan,” ujar Oh-lolo. Meski di mulut dia bilang akan mendengarkan karena terpaksa, padahal di dalam hati dia sangat berharap agar Hong Sam lekas bercerita.

Pwe-giok juga tahu apa yang akan diceritakan Hong Sam Sianseng sekarang merupakan kelanjutan kisahnya yang pernah diceritakan itu. Sudah tentu minatnya terhadap cerita ini tidak di bawah Oh-lolo.

Tidak tahunya, sebelum Hong Sam berbicara lebih lanjut, tiba2 Cu Lui-ji menyela, “Kukira lebih baik Sacek istirahat saja dan biarkan aku yang menceritakan kepada mereka.”

“Kejadian waktu itu apakah masih kau ingat dengan baik?” tanya Hong Sam dengan nada menyesal.

Lui-ji menggigit bibir dan menjawab dengan sekata demi sekata, “Meski pun waktu itu aku masih kecil, tapi apa yang terjadi seolah terukir dalam-dalam hatiku. Asalkan kupejamkan mata segera dapat kulihat setiap... setiap raut wajah itu.”

Meski dia bicara dengan perlahan, tetapi rasa bencinya membuat orang mengkirik. Tanpa terasa Oh-lolo juga merasa seram, katanya dengan mengiring tawa,

“Jika demikian, silakan nona lekas bercerita.”

Tiba2 Lui-ji melotot ke arahnya dan berkata, “Ingin kutanya padamu lebih dahulu, tahukah kau siapa aku ini?”

Sambil menyengir Oh-lolo lalu menjawab, “Di dunia ini, kecuali ibu seperti Cu-kiongcu itu, siapa lagi yang dapat melahirkan anak perempuan seperti nona Cu ini?”

Lui-ji memelototinya sekejap dengan gemas, perlahan-lahan ia pejamkan mata dan mulai bercerita dengan suara perlahan, “Waktu itu sudah jauh malam, ibu belum lagi tidur, beliau sedang menjahitkan baju baru bagiku, sepotong baju merah yang disiapkan untuk kupakai pada tahun baru. Ibu bermaksud pula menyulam seekor Kilin (binatang lambang rejeki) pada baju merah itu. Beliau membisiki diriku, katanya beliau berharap lambang Kilin itu akan membawa seorang adik lelaki yang mungil bagiku.”

Kenangan itu masih terasa hangat dan indah, sehingga wajah Lui-ji yang sangat pucat itu pun menampilkan cahaya yang cantik lantaran kenangan yang hangat ini.

Tersembul senyuman manis pada ujung mulut Lui-ji, lalu ia menyambung ceritanya, “Anak kecil mana yang tidak suka pada baju baru, dengan sendirinya aku pun ingin cepat-cepat memakai baju baru. Maka meski sudah larut malam, aku masih menunggui ibu menjahit dan tidak mau tidur.”

Oh-lolo ber-kedip2, katanya dengan tersenyum, “Siau-hun-kiongcu ternyata mau menjahit baju, sungguh tak pernah terbayangkan oleh siapa pun juga.”

“Bukan cuma menjahit saja, bahkan ibuku juga mencuci, menanak nasi, menyapu lantai... pendek kata segala pekerjaan rumah tangga selalu di tanganinya sendiri, masa kau tidak percaya?”

“Apa yang dikatakan nona masakah perlu kuragukan?” jawab Oh-lolo.

“Sementara itu telah dekat tengah malam, pada umumnya penduduk di kota kecil ini suka tidur lebih dini, suasana sudah sunyi, tiada terdengar suara apa pun, keadaannya serupa sekarang ini.”

Angin meniup di luar jendela, suasana memang benar2 hening, entah mengapa di dalam hati masing2 sama timbul rasa seram se-akan2 mendapat firasat tidak enak.

Lui-ji melanjutkan ceritanya, “Tatkala mana ibuku agaknya juga merasakan alamat tidak baik, pikiran beliau tampaknya juga sedang kacau. Saat itu beliau sedang menyulam mata Kilin, tetapi sudah salah sulam tiga kali. Ketika itulah sekonyong-konyong terdengar suara menggelepar di luar, seekor burung malam tiba2 terbang dari atap seberang rumah.”

Bicara sampai di sini, senyuman yang menghiasi wajah Lui-ji tadi sudah lenyap, perasaan setiap orang juga ikut tegang.

“Aku terkejut,” sambung Lui-ji pula, “Kujatuhkan diri ke pangkuan ibu. Sembari menepuk punggungku dengan perlahan, mendadak ibu telah meraup segenggam jarum sulam terus ditaburkan ke lubang angin di ujung atap sana.”

“Burung malam terbang karena terkejut, jelas itu tandanya ada Ya-heng-jin (orang pejalan malam),” kata Oh-lolo dengan tertawa. “Ibumu memang tidak malu sebagai seorang tokoh kangouw kawakan. Dengan taburan jarum-jarum itu, mustahil kalau bocah di luar itu tidak menggeletak.”

“Hm, yang di luar jendela itu tak lain tak bukan ialah Oh-lolo!” jengek Lui-ji.

Oh-lolo melengak, ucapnya dengan menyengir, “O, be... begitukah?”

“Namun begitu jarum itu ditaburkan ibuku, keadaannya seperti batu tenggelam di lautan, sedikit pun tidak menimbulkan reaksi apa-apa, maka tahulah ibu telah kedatangan lawan tangguh. Ibu lantas memanggil bangun ay...” dia memejamkan mata dan menghela nafas panjang, lalu menyambung lagi, “Memanggil bangun Tonghong Bi-giok dan menyerahkan diriku kepadanya, tatkala mana kulihat air muka ibu mendadak berubah pucat. Akan tetapi Tonghong Bi-giok itu sebaliknya tampak bergirang.”

Pwe-giok menghela nafas gegetun, pikirnya, “Laki-laki yang tidak berbudi dan tidak setia begitu, pantas kalau Lui-ji tidak sudi mengaku ayah padanya.”

Terdengar Lui-ji melanjutkan ceritanya kembali, “Dalam pada itu di luar jendela ada orang berseru dengan tertawa, “Lihay amat hujan jarum yang ditaburkan ini, cuma sayang, hujan jarum ini menjadi tiada gunanya terhadap nenek macam diriku ini...”

Karena uraian ini, tanpa terasa pandangan semua orang lantas beralih ke arah Oh-lolo.

Nenek itu terbatuk, lalu bertanya, “Waktu itu nona berumur berapa?”

“Empat tahun,” jawab Lui-ji.

“Masa anak umur empat tahun dapat mengingat sejelas itu apa yang pernah diucapkan orang lain?” ucap Oh-lolo dengan tertawa.

Dengan hambar Lui-ji menjawab, “Ada sementara orang meski pun hidup sampai nenek2 tapi makin tua makin pikun. Sebaliknya ada orang yang sekali pun baru berumur empat, tapi sudah banyak yang dipahaminya, apa lagi...”

Tanpa berkedip dia pandang Oh-lolo, lalu menyambung sekata demi sekata, “Bila mana ada orang sudah membunuh ibumu pada waktu kau baru berumur empat, maka apa pun yang dikatakannya waktu itu, tentu tak akan kau lupakan selamanya biar pun cuma satu kata saja.”

Mengkirik Oh-lolo oleh pandangan tajam si nona cilik. Sambil tertunduk dia berkata, “Adik perempuanku itu memang keterlaluan, suka ikut campur urusan orang lain.”

Lui-ji mendengus, sambungnya pula, “Setelah mendengar ucapan tadi, segera ibuku bisa menerka siapa yang berada di luar jendela. Beliau lantas berseru, ‘Oh-lolo, selamanya kita tiada sengketa apa-apa, untuk apa kau cari diriku...?’ Pada waktu itulah daun jendela di sekeliling rumah lantas terbuka serentak, di dalam rumah tahu2 sudah bertambah belasan orang. Cepat sekali kedatangan orang-orang itu, meski mereka melayang masuk dari luar jendela, tapi rasanya seperti arwah yang muncul dari bawah bumi.”

“Kiranya mereka datang belasan orang sekaligus...,” kata Oh-lolo.

“Rumah kami memang tidak besar, tentu saja belasan orang itu segera memenuhi seluruh ruangan,” tutur Lui-ji pula. “Ibuku langsung terkepung di tengah, jalan mundur saja sudah tertutup buntu.”

“Bagaimanakah bentuk orang-orang itu?” tanya Oh-lolo.

“Yang menjadi kepalanya bertubuh jangkung, berkopiah dan berbaju pertapa, tampaknya seperti orang yang beribadat dan menimbulkan rasa hormat orang...” tutur Lui-ji. “Padahal sesungguhnya dia hanya seorang Siaujin (orang kecil, rendah) yang keji.”

“Orang ini tentunya Tonghong-sengcu adanya,” kata Oh-lolo dengan tertawa.

“Ada seorang lagi yang bermuka penuh berewok, bertubuh tinggi besar, mukanya hitam seperti pantat kuali, senjata yang dibawanya mirip sebuah pagoda.”

“Ah, kiranya Li-thian-ong juga ikut,” tukas Oh-lolo.

“Ada pula seorang tua, rambutnya sudah putih seluruhnya, giginya juga sudah ompong semua, wajahnya senantiasa tersenyum seperti seorang nenek yang welas asih, padahal hatinya lebih keji dan buas dari pada binatang.”

Tidak perlu dijelaskan lagi semua orang segera tahu siapa gerangan yang dimaksudkan, tanpa terasa pandangan semua orang lantas beralih pula ke arah Oh-lolo.

“Makian yang tepat sekali,” kata Oh-lolo dengan tersenyum. “Bila mana kulihat dia, tentu juga akan kumaki dia se-kenyang2nya.”

“Sudah tentu ibuku terkejut melihat munculnya orang-orang itu, tetapi beliau segera dapat menenangkan diri dan bertanya apa maksud tujuan kedatangan mereka?”

“Ya, biar pun orang2 itu bukan orang sembarangan, tapi Cu-kiongcu tentu juga tidak takut terhadap mereka,” kata Oh-lolo dengan menyengir.

“Tetapi Tonghong Tay-beng itu lantas mencaci maki, katanya ibu telah memikat anaknya, banyak pula kata-kata tidak baik yang diucapkannya. Meski ibu sangat marah mendengar makian orang, tetapi beliau menyadari orang itu adalah ayah-mertuanya. Ibu tidak berani memperlihatkan sikap kasar, beliau mengira apa yang terjadi ini hanyalah salah paham belaka, maka berusaha memberi penjelasan.”

“Huh, si tua Tonghong itu paling suka membela orang sendiri, mana dia mau menerima keterangan ibumu,” kata Oh-lolo.

“Benar juga, dia bahkan tidak memberi kesempatan berbicara kepada ibuku,” tutur Lui-ji. “Ibuku pikir biar Tonghong Bi-giok saja yang bicara langsung kepada ayahnya, tapi siapa tahu mendadak Tonghong Bi-giok melompat ke belakang ayahnya, lalu menuding sambil mendamprat ibuku, caci-makinya bahkan jauh lebih kotor dari pada Tonghong Tay-beng.”

“Memang kebanyakan lelaki tidak memiliki Liangsim (hati nurani yang baik),” kata Oh-lolo dengan menyesal.

Dalam pada itu Ciong Cing sudah mendusin, perasaannya jadi tersinggung, maka kembali dia menangis perlahan.

Mata Lui-ji juga mengembeng air mata, tuturnya pula, “Sampai saat itu barulah ibuku tahu bahwa pribadi Tonghong Bi-giok ternyata begini rendah, nyata cintanya selama ini sudah diserahkan kepada manusia demikian, sesaat itu mendadak ibu merasa putus asa dan lemas lunglai. Dia pun malas bicara lagi, dia hanya tanya apakah Tonghong Tay-beng dan Tonghong Bi-giok mau membesarkan diriku atau tidak?”

Bercerita sampai di sini air mata Lui-ji sudah mengucur deras, bahkan Gin-hoa-nio yang berhati keras itu pun ikut menangis. Perasaan semua orang juga sangat sedih, satu per satu sama menunduk dan tidak bersuara.

Selang agak lama barulah Lui-ji mengusap air matanya, kemudian melanjutkan ceritanya, “Dengan sendirinya Tonghong Bi-giok menyatakan sanggup, malah katanya aku ini adalah anaknya, maka dengan sendirinya akan dijaga se-baik2nya. Untuk terakhir kalinya ibuku memandangnya sekejap, lalu hendak membunuh diri di depannya.”

Tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget, tetapi mereka pun tahu ibu si nona itu takkan mati secepat itu, sebab seterusnya diketahui masih terjadi lagi macam2 urusan.

Dengan pedih Lui-ji berkata pula, “Tatkala mana usiaku masih kecil, tetapi samar2 sudah dapat kuterka apa yang terjadi. Aku pun menangis keras2, namun ibuku sudah nekat dan tidak menggubris ratapanku, segera dia angkat belati hendak membunuh diri. Pada detik terakhir itu se-konyong2 sesosok bayangan putih melayang masuk pula dari luar, begitu cepat dan gesit gerakan orang itu, tahu2 belati di tangan ibuku sudah dirampasnya.”

Semua orang sama berseru heran, “Hei, siapa lagi orang ini?”

Lui-ji tidak menjawab, dia meneruskan ceritanya. “Waktu itu meski aku tidak paham tinggi rendahnya ilmu silat, tetapi dapat juga kulihat ginkang orang itu ternyata jauh lebih tinggi dari pada ibuku.”

“Oo...?” Oh-lolo berseru heran, tanpa terasa dia melirik ke sana.

Seketika pandangan semua orang ikut beralih kepada Hong Sam Sianseng, di dalam hati masing2 samar2 sudah dapat menduga siapa si pendatang itu.

“Merasa niatnya dirintangi orang, ibuku menjadi sangat gusar, sebelah tangannya lantas menghantam. Namun dengan enteng dan gesit orang itu dapat menghindarkan serangan ibu. Kukira sekarang kalian tentu tahu siapa penolong ibuku itu?”

“Ehmm,” semua orang sama mengangguk.

Lui-ji memandang Hong Sam sekejap, tersembul senyuman hangat pada ujung mulutnya, lalu katanya, “Waktu itu Sacek masih seorang Kongcu yang gagah dan cakap. Hari itu dia memakai baju putih mulus seperti salju, ketika melayang tiba dari luar sungguh gayanya seperti malaikat dewata yang baru turun dari kahyangan.”

Oh-lolo berdehem dua kali, katanya, “Kecakapan Hong Sam Kongcu pada masa itu sudah pernah kudengar juga.”

“Padahal Tonghong Tay-beng dan begundalnya juga terhitung tokoh Bu-lim yang top, tapi melihat gerakan Sacek yang luar biasa, ginkang-nya yang tiada bandingannya, mau tidak mau mereka sama melongo. Betapa pun Tonghong Tay-beng memang lebih tabah, maka dia segera menegur Sacek, ‘Siapa kau? Apa maksud kedatanganmu ini?’”

“Rupanya Tonghong Tay-beng sudah terlalu lama tinggal di lautan sana sehingga tidak kenal lagi kepada Hong Sam Sianseng, hal ini dapatlah dimaklumi, tapi Li-thian-ong, adik perempuanku dan lain2 masa juga tidak dapat menduga pendatang itu adalah Hong Sam Sianseng? Di kolong langit ini, kecuali Hong Sam kongcu, siapa lagi yang berusia semuda itu dan menguasai kungfu setinggi itu?”

“Semula ibuku juga melenggong, tapi setelah mendengar teguran Tonghong Tay-beng itu, mendadak Oh-lolo menjerit kaget dan menyebut nama Sacek. Barulah ibuku tahu sudah kedatangan penolong yang dapat dipercaya, ia merasa tidak perlu kuatir lagi akan difitnah dan dikeroyok orang.”

Sampai di sini Hong Sam yang berbaring itu menghela nafas panjang, katanya dengan rawan, “Siapa tahu aku... aku...”

Cepat Lui-ji mendekatinya dan berlutut, ucapnya dengan menangis, “Kejadian itu mana boleh menyalahkan Sacek? Kenapa Sacek berduka?”

Hong Sam termenung sejenak dan memejamkan matanya, katanya kemudian, “Baiklah, lan... lanjutkan ceritamu!”

Lui-ji berdiri dengan menunduk kepala, dia pun memejamkan mata dan berdiam sejenak, habis itu barulah dia menyambung kisahnya, “Waktu itu Sacek lantas membongkar seluk beluk rencana busuk yang diatur Tonghong Bi-giok yang bersengkongkol dengan ayahnya itu. Sacek mendamprat Tonghong Bi-giok habis-habisan akan ketidak-setiaan dan ketidak berbudinya. Begundal Tonghong Tay-beng sama melengak heran dan sangsi, entah mesti percaya atau tidak terhadap keterangan Sacek itu.”

“Meski dalam hati mereka tak percaya, di mulut mungkin mereka pun tidak berani bicara,” kata Pwe-giok.

“Hanya Li-thian-ong yang biasanya sombong dan suka meremehkan orang lain. Biar pun Tonghong Tay-beng juga sudah pernah mendengar nama Sacek, tapi ia pun belum kenal betapa lihaynya Sacek, kedua orang sama merasa penasaran menghadapi Sacek yang cuma sendirian itu. Diam-diam kedua orang itu saling memberi tanda, serentak mereka melancarkan serangan maut terhadap Sacek.”

“Kedua orang itu mungkin sudah bosan hidup,” kata Oh-lolo dengan gegetun.

“Memang,” kata Lui-ji. “Orang macam Sacek, sudah tentu beliau sudah memperhitungkan kemungkinan tindakan mereka itu. Beliau tetap tenang2 saja, waktu itu dari jauh kulihat senjata Li-thian-ong yang berwujud pagoda baja itu sedikitnya berbobot beberapa ratus kati sedang menghantam kepala Sacek, begitu dahsyat sehingga tempat aku berdiri juga merasakan angin damparannya yang keras. Apa lagi Tonghong Tay-beng ikut menyerang sekaligus, sungguh aku menjadi kaget dan kuatir, saking takutnya aku sampai menangis.”

Tanpa terasa semua orang ikut berdebar.

Tapi Lui-ji lantas menyambung, “Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak Sacek bersiul panjang, nyaring menggema angkasa, tapi suaranya tidaklah menusuk telinga, sebaliknya kedengarannya sangat merdu.”

“Itulah yang disebut kicauan burung Hong menggema ribuan li, menggetar sukma kabur sukar dicari!” seru Oh-lolo.

“Di tengah suara siulan nyaring itu,” demikian Lui-ji melanjutkan, “entah cara bagaimana tahu-tahu tubuh Li-thian-ong mencelat, senjata andalannya, yaitu pagoda baja juga sudah berpindah ke tangan Sacek. Dengan enteng Sacek memuntir, maka seketika pagoda baja itu berubah menjadi untir2.”

Semua orang sama melengak, sungguh mereka tidak pernah mendengar bahwa di dunia ada kungfu setinggi ini.

“Agaknya Tonghong Tay-beng juga sudah terkena serangan Sacek,” sambung Lui-ji pula, “dia tampak ketakutan, tapi Sacek hanya memandangnya sambil tertawa dingin, katanya, ‘Mengingat mantu perempuanmu, biarlah kuampuni jiwamu!’ Sembari bicara Sacek terus menelikung untir-untir baja tadi hingga berubah menjadi sebuah gelang, lalu dilemparkan. Terdengar suara “brak” di kejauhan, sebatang pohon cukup besar seketika patah menjadi dua dan tumbang.”

Bicara sampai di sini Lui-ji menarik nafas lega, lalu katanya, “Setelah Sacek menunjukkan kungfunya, orang2 itu tiada satu pun yang berani bergerak lagi.”

Semua orang ikut merasa lega juga, meski pun mereka mengetahui bahwa ibu anak dara itu akhirnya tidak terhindar dari kematian. Ini pula yang membuat mereka merasa heran, entah mengapa kemudian Siau-hun-kiongcu tewas juga dan entah sebab apa Hong Sam Sianseng juga terluka.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner