RENJANA PENDEKAR : JILID-45


Cuaca sudah remang2, senja sudah tiba, di atas loteng mulai suram.

Pwe-giok tidak tahan, ia membuka suara, “Apakah kejadian itu kemudian berkembang lagi lebih mengejutkan orang?”

Lui-ji menuang secangkir teh dan melayani minum Sacek-nya, habis itu perlahan2 barulah ia menyambung lagi, “Melihat perbawa Sacek yang sudah menaklukan musuh, ibu lantas mendekati Sacek dan memberi hormat serta mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang diberikan. Sacek tanya kepada ibuku, lantas bagaimana akan menyelesaikan urusan ini?”

“Meski Tonghong Bi-giok itu berdosa kepada ibumu, tetapi kukira ibumu pasti tidak tega mencelakai dia,” ujar Kwe Pian-sian dengan gegetun.

“Betul, hati perempuan biasanya memang lemah,” tukas Oh-lolo.

“Tapi di antaranya ada juga yang berhati keras, bahkan tidak kepalang kerasnya dan amat menakutkan,” sambung Kwe Pian-sian dengan tersenyum.

Seperti tidak mengikuti omongan mereka, pandangan Lui-ji menatap keremangan senja di luar jendela dengan termangu, sejenak kemudian barulah ia menyambung ceritanya,

“Atas pertanyaan Sacek tadi, ibu hanya menangis saja dan tidak bicara. Sacek bertanya pula apakah lelaki tidak setia itu perlu dibunuh saja? Namun ibu tetap tidak buka mulut, melainkan cuma menggeleng saja. Maka berkatalah Sacek, ‘Jika begitu suruh dia enyah saja se-jauh2nya...!’.” Lui-ji menghela nafas, kemudian melanjutkan, “Tapi siapa tahu ibu lantas menangis tergerung-gerung mendengar ucapan Sacek itu.”

“Aneh juga,” kata Pwe-giok, “ibumu tidak tega membunuhnya, juga tidak mau melepaskan dia, sesungguhnya apa kehendaknya?”

Dengan menunduk Lui-ji berkata, “Ibuku... dia...”

Mendadak Hong Sam Sianseng menukas, “Boleh kau istirahat dulu, biarkan kusambung ceritamu.”

Lui-ji mengusap air matanya dan mengiakan dengan menunduk.

Hong Sam lantas berkata, “Waktu itu aku pun merasa amat heran, kalau Cu Bi tidak tega membunuhnya dan juga tidak mau melepaskan dia pergi, lalu tindakan apa yang harus kulakukan?”

Dia berhenti sejenak, setelah menarik nafas lalu sambungnya, “Pikiran wanita selamanya memang tak dapat kuraba. Selagi aku merasa bingung, tiba-tiba Oh-lolo itu menyeletuk, katanya dia tahu maksud Cu Bi.”

“Memang hanya perempuan saja yang bisa mengetahui isi hati sesama perempuan,” kata Pwe-giok.

“Dengan sendirinya aku persilakan dia bicara,” tutur Hong Sam pula. “Maka Oh-lolo lantas mendekati Cu Bi, tanyanya dengan tersenyum, ‘Maksud Kiongcu apakah ingin rujuk lagi dengan Tonghong-kongcu?’ Tentu saja aku menjadi gusar, kupikir sudah jelas Tonghong Bi-giok itu sedemikian rendah dan tidak berbudi terhadap Cu Bi, bila mana Cu Bi tidak membunuhnya sudah tergolong untung baginya, masa sekarang Cu Bi ingin berhubungan baik pula dengan dia? Tentu saja aku tak percaya, maka aku lantas tanya Cu Bi, apakah memang begitu maksudnya? Sampai beberapa kali kutanya dia, namun sama sekali dia tidak mau menjawab meski dia tidak menangis lagi.”

“Jika tidak menangis dan juga tidak menjawab, hal itu berarti diam2 telah membenarkan,” kata Gin-hoa-nio mendadak.

Hong Sam tersenyum pahit, lalu ucapnya, “Sampai lama akhirnya barulah aku paham isi hatinya, memang betul begitulah kehendaknya. Kurasakan hal itu sungguh terlalu enak bagi keparat Tonghong Bi-giok itu, tetapi Cu Bi sebagai orang yang paling berkepentingan sudah menghendaki begitu, terpaksa aku pun tak dapat berbuat apa2.”

“Memang di dunia ini hanya cinta kasih antara lelaki dan perempuan saja yang tak dapat dipaksakan oleh siapa pun,” kata Pwe-giok.

“Melihat sikapku sudah melunak dan tidak merintangi lagi, orang2 itu sama merasa lega,” tutur Hong Sam pula. “Segera Tonghong Tay-beng menarik anaknya maju ke depan, ayah dan anak itu ber-sama2 meminta maaf kepada Cu Bi. Dalam keadaan begitu aku menjadi lebih2 tidak dapat bicara apa2 lagi.”

“Dan bagaimana pula sikap Tonghong Bi-giok itu?” tanya Pwe-giok.

“Sudah tentu wajahnya penuh rasa menyesal,” jawab Hong Sam. “Tadinya wajah Cu Bi penuh rasa gusar, tapi kemudian telah berubah cerah, sinar matanya menjadi terang pula, tampaknya awan mendung sudah buyar dan segala sesuatu akan menjadi terang. Siapa tahu tiba2 datang lagi usul Oh-lolo.”

“O, usul apa?” tanya Pwe-giok.

“Katanya, meski Tonghong Bi-giok dan Cu Bi sudah suka sama suka, tetapi sebelum ada ijin orang tua serta perantara comblang, betapa pun ikatan mereka sebagai suami isteri belum resmi, sebab itulah sekarang juga dia ingin menjadi comblang bagi mereka supaya Tonghong Bi-giok dan Cu Bi dapat terikat menjadi suami isteri di depan ayahnya, dan aku pun diminta menjadi wali bagi Cu Bi.”

“Ehm, bukankah itu usul yang bagus?” kata Oh-lolo.

“Hm, semula aku pun merasa usulnya memang sangat bagus,” jengek Hong Sam. “Maka beramai-ramai semua orang lantas sibuk mengatur seperlunya, di atas loteng kecil inilah diadakan perjamuan untuk merayakan peresmian pengantin baru mereka.”

“Perjamuan?” Pwe-giok menegas dengan terbelalak. “Tentunya tidak ada perjamuan yang tanpa arak!”

“Betul, perjamuan tentu harus lengkap dengan suguhan arak,” kata Hong Sam.

“Jangan-jangan di dalam arak itulah terjadi sesuatu…” ucap Pwe-giok pula.

Hong Sam menghela nafas panjang, katanya, “Usiamu masih muda belia, tetapi nyatanya pengalaman dan pengetahuanmu sudah jauh lebih luas dari pada diriku pada waktu itu.”

Diam-diam Pwe-giok membatin, “Mungkin lantaran Cianpwe memandang diri sendiri tiada tandingan di kolong langit ini sehingga tidak menaruh perhatian terhadap orang lain, dan tentunya juga tidak menyangka ada orang berani mencelakai kau dengan cara yang licik.”

Sudah tentu pikiran ini tidak berani diutarakannya, namun didengarnya Hong Sam sudah menyambung pula, “Di dalam hatimu tentu kau anggap aku terlalu tinggi hati dan mengira orang lain tidak berani berbuat apa pun kepadaku, soalnya kau tidak mengetahui keadaan pada waktu itu...” ia menarik nafas panjang, lalu meneruskan, “Apa bila waktu itu kau pun di sana dan melihat setiap orang sama riang gembira, tentu kau pun takkan curiga bahwa sebenarnya dirimu sedang diincar.”

“Apa bila ada orang ingin mengerjai Cianpwe, mana bisa sikapnya itu diperlihatkan kepada Cianpwe?” ujar Pwe-giok tak tahan.

Air muka Hong Sam tampak guram, sampai lama dia tidak bersuara.

Sementara itu Lui-ji sudah cukup beristirahat, segera ia menyela, “Sudah tentu masih ada alasan lain. Pertama, Sacek menganggap orang-orang itu adalah tokoh kangouw terkenal, tentunya tidak sampai bertindak secara keji dan rendah.”

Pwe-giok tersenyum pahit, katanya, “Kadang kala orang2 yang sok anggap dirinya kaum pendekar budiman itulah yang sering kali dapat bertindak secara kotor dan menakutkan. Sebab kalau orang2 macam begitu sampai berbuat sesuatu kebusukan, bukan saja orang lain takkan berjaga-jaga, bahkan juga takkan percaya.”

Lui-ji juga terdiam sejenak, katanya kemudian, “Kedua, dengan kungfu Sacek waktu itu, sekali pun beliau menenggak habis secawan arak beracun juga takkan menjadi soal, arak beracun itu pasti dapat didesaknya keluar. Apa lagi Sacek menyaksikan sendiri arak yang disuguhkan itu dituang dari satu poci yang sama.”

Kwe Pian-sian memandang Oh-lolo sekejap, lalu berkata, “Kalau racun biasa tentu tidak beralangan bagi Hong-locianpwe, tapi cara penggunaan racun Oh-lolo boleh dikatakan tak ada bandingannya di kolong langit ini, biar pun tenaga dalam Hong-locianpwe maha tinggi, betapa pun perutnya bukan terbuat dari baja.”

“Baru kemudian Sacek tahu bahwa racun bukan melalui arak yang disuguhkannya itu,” sambung Lui-ji pula. “Tetapi racun dioleskan pada cawan arak yang digunakan Sacek dan ibuku, sungguh racun yang maha lihay.”

“Bila di dalam arak beracun, rasa arak tentunya akan berubah,” kata Pwe-giok. “Setelah Hong-locianpwe minum cawan pertama, apakah belum dirasakan ada kelainan pada arak itu dan mengapa sampai minum lagi cawan yang kedua?”

Kwe Pian-sian tidak tahan, dia menyeletuk pula, “Seumpama Hong-locianpwe tidak dapat merasakannya, Cu-kiongcu sendiri kan juga seorang ahli racun, masa beliau juga tidak dapat merasakannya?”

“Justru lantaran racun dipoles pada cawan arak, sedangkan araknya dingin, ketika cawan pertama dituang, serentak semua orang angkat cawan lantas menghabiskannya, dengan sendirinya racun yang larut ke dalam arak waktu itu tidak banyak,” demikian Lui-ji menutur dengan gegetun.

“Dan kemudian...?” tanya Kwe Pian-sian.

“Kemudian racun yang larut di dalam arak tentunya makin lama makin cepat dan banyak,” tutur Lui-ji. “Tetapi dalam pada itu arak yang diminum Sacek dan ibuku juga tidak sedikit lagi, maka daya rasa mereka lambat-laun sudah mulai tumpul... tentunya kalian maklum, saat itu hati ibuku tentunya amat gembira. Dalam keadaan terlalu gembira, kewaspadaan seseorang biasanya tentu akan sangat berkurang.”

“Sungguh hebat,” ujar Kwe Pian-sian, “saat menaruh racun, agaknya setiap kemungkinan sudah diperhitungkan masak2 oleh Oh-lolo. Kemahiran menaruh racun orang ini sungguh sukar ditandingi siapa pun juga.”

Membayangkan betapa rapi cara Oh-lolo menaruh racun serta tindakannya yang keji itu, tanpa terasa semua orang sama mengkirik, apa lagi sekarang terdapat pula seorang Oh-lolo di depan mereka, tentu saja timbul rasa was-was dan jemu mereka terhadap nenek ini.

Kebetulan Pwe-giok berdiri di sampingnya, sekarang pun ia merasa ngeri dan cepat-cepat menjauhinya. Bahkan Ciong Cing menjadi ketakutan, memandang saja tidak berani.

Lui-Ji lalu berkata pula, “Sekian lama mereka minum arak, mendadak ibuku menyembah beberapa kali kepada Sacek sambil berulang kali menyatakan rasa terima kasihnya atas pertolongan jiwa Sacek.”

“Ya, aku pun merasa heran dalam keadaan begitu tiba2 dia menyatakan terima kasihnya padaku,” tukas Hong Sam dengan menyesal. “Tapi aku pun tidak bilang apa2. Kulihat Cu Bi lalu mendekati Tonghong Bi-giok dan memegang tangannya sambil tersenyum manis, katanya, ‘Berkat bantuan para Cianpwe yang hadir di sini sehingga dapatlah kita menjadi suami isteri secara istimewa. Betapa pun hatiku amat berterima kasih’. Maka Tonghong Bi-giok lantas menyambutnya dengan tertawa dan berkata, ‘Ya, tentu saja aku pun amat berterima kasih’.”

“Dengan tertawa Cu Bi berkata pula, ‘Kata orang, cinta suami-isteri harus sehidup semati. Meski aku tidak dapat lahir bersama kau pada hari dan saat yang sama, hendaklah kita bisa mati pada hari dan saat yang sama, apakah kau bersedia?’ Aku menjadi heran pada hari bahagianya mengapa tanpa sebab dia bicara tentang kematian.”

“Dalam pada itu kudengar Tonghong Bi-giok telah menjawabnya dengan tertawa, ‘Dalam suasana bahagia begini, mengapa kau malah bicara hal-hal yang tidak enak ini?’ Cu Bi memandangnya tajam-tajam, ucapnya dengan tersenyum, ‘Kuminta sukalah kau jawab, bersedia atau tidak?’. Kulihat tawa Tonghong Bi-giok sudah berubah menjadi menyengir, terpaksa ia mengangguk, ‘Sudah tentu aku bersedia...’. Belum habis ucapannya, tiba-tiba Cu Bi memuntir tangannya, krek, tulang lengan Tonghong Bi-giok telah dipuntirnya hingga patah!”

Tanpa terasa semua orang sama menjerit kaget. Kalau semua orang yang berada di situ saja begitu kaget, maka dapatlah dibayangkan alangkah terkejutnya Tonghong Tay-beng dan lain2 ketika menyaksikan apa yang terjadi waktu itu.

Dengan pedih Pwe-giok berkata, “Mungkin waktu itu Cu-kiongcu sudah merasakan dirinya telah keracunan dan tidak dapat tertolong lagi, maka lebih dulu dia menghaturkan terima kasih atas pertolongan Hong-locianpwe, dan itulah penghormatan perpisahannya dengan Cianpwe.”

Gin-hoa-nio menghela nafas gegetun, lalu berkata, “Tatkala mana dia tetap tenang2 saja, kiranya dia sudah bertekad akan gugur bersama dengan lelaki tidak setia dan tak berbudi itu.”

“Tapi waktu itu aku belum lagi tahu persoalannya. Baru hendak kutanyai dia sebab apa dia bersikap begitu, tahu-tahu Tonghong Tay-beng dan begundalnya telah berteriak kaget terus menubruk ke arahnya,” tutur Hong Sam. “Namun lebih dulu Cu Bi sudah mencekik leher Tonghong Bi-giok sambil membentak, ‘Berhenti! Siapa pun di antara kalian berani maju lagi setindak, segera kucekik mampus dulu jahanam ini!’ Karena itu Tonghong Tay-beng dan lain-lain menjadi kuatir dan tidak berani sembarangan bertindak.

“Habis itu barulah Cu Bi berkata kepadaku dengan pedih bahwa arak sudah diberi racun jahat, racun sudah merasuk tulang sehingga tak dapat ditolong lagi, karena itu dia hanya memohon agar aku suka menjaga Lui-ji. Diam2 aku lantas mengerahkan tenaga, aku pun merasakan diriku juga sudah keracunan, bekerjanya racun sesungguhnya sangat lambat, tapi lantaran aku mengerahkan tenaga, seketika kaki dan tanganku berubah menjadi biru hangus. Melihat keadaanku, tambah pedih Cu Bi, sebab tahulah dia bahwa racun yang berada dalam tubuhku jauh lebih hebat dari pada dia dan jelas tak tertolong lagi.”

Mendengar sampai di sini, hati semua orang seperti tertindih oleh batu, dada pun terasa sesak.

Lui-ji mengusap air mata, katanya dengan perlahan, “Waktu itu aku lagi duduk di sebuah kursi kecil dan asyik makan bakso buatan Ibuku sendiri. Melihat kejadian itu, hampir aku keselak bakso. Pada saat itu juga kembali Sacek bersiul nyaring laksana kicauan burung Hong itu. Kulihat Oh-lolo menjadi pucat, berulang dia menyurut mundur sambil berteriak, ‘Racun itu adalah buatan Tonghong-sengcu yang diracik dengan 81 jenis daun2an, jika kau banyak bergerak, kematianmu tentu akan tambah cepat dan tak tertolong’.”

“Kenapa racun itu dikatakan buatan Tonghong Tay-beng?” tanya Pwe-giok dengan heran.

Kwe Pian-sian tersenyum, katanya, “Oh-lolo amat licik dan licin, melihat kegagahan Hong-locianpwe yang maha sakti itu, mana dia berani mengaku racun itu berasal dari dia? Apa yang diucapkannya itu tak lain hanya ingin membelokkan perhatian Hong-locianpwe agar Tonghong Tay-beng yang dilabraknya.”

“Orang sekeji itu sungguh sangat menakutkan,” ujar Pwe-giok.

“Tetapi dia terlalu rendah menilai kekuatan Sacek,” tutur Lui-ji pula. “Meski waktu itu racun sudah bekerja, tapi Sacek menahannya di dalam perut dengan lweekang-nya yang maha sakti, lalu sambil bersiul nyaring Sacek terus menubruk ke arah Tonghong Tay-beng. Tapi ibuku lantas berteriak, ‘Bukan Tonghong Tay-beng yang membuat racun itu, tapi Oh-lolo. Lekas Hong-locianpwe membekuknya dan memaksa dia menyerahkan obat penawarnya, dengan begitu mungkin masih dapat tertolong.’.”

“Pada saat ibu bicara itulah, tahu-tahu kedua tangan Tonghong Tay-beng sudah tergetar patah oleh pukulan Sacek, menyusul dadanya kena dihantam pula hingga tumpah darah dan roboh terkapar. Melihat tokoh semacam Tonghong Tay-beng saja tidak tahan sekali pukul Sacek, keruan para begundalnya ketakutan setengah mati, segera ada di antaranya berniat melarikan diri. Namun sudah terlambat, Sacek sudah kadung murka, terdengarlah suara krak-krek, blak-bluk berturut2, suara tulang patah dan orang roboh, para tokoh Bu-lim kelas tinggi yang memenuhi ruangan itu tidak ada satu pun yang hidup, darah muncrat memenuhi lantai dan dinding.”

Baru sekarang Pwe-giok bisa menarik nafas lega, segera dia bertanya, “Dan bagaimana dengan Oh-lolo?”

“Hanya Oh-lolo saja yang belum mati, Sacek cuma mematahkan kedua kakinya, akhirnya memaksa dia agar menyerahkan obat penawarnya,” tutur Lui-ji.

“Tapi racun itu katanya diracik dengan 81 jenis tumbuh2an, mungkin dia sendiri juga tidak mempunyai obat penawarnya. Sungguh sayang!” kata Kwe Pian-sian.

“Ya, memang betul,” kata Lui-ji. “Ibu tahu keterangan Oh-lolo itu tidak dusta, maka minta dia menyebut nama ke-81 jenis tumbuh2an berbisa itu, asalkan tahu namanya tentu dapat mencari obat penawarnya dengan lengkap, sekali pun untuk itu diperlukan waktu cukup lama.”

“Betul juga,” ujar Kwe Pian-sian.

“Dan dibeberkan tidak olehnya?” tanya Pwe-giok.

“Rase tua itu ternyata takut mati, asalkan ada kesempatan hidup, mana dia mau menyia-nyiakannya?” kata Lui-ji. “Tetapi baru saja dia menguraikan dua-tiga nama jenis racun, se-konyong2 dari samping menyambar tiba secomot jarum dan bersarang di punggungnya. Terdengar Tonghong Tay-beng bergelak tawa dan berseru, ‘Hong Sam, kau membunuh diriku, maka kau pun harus mati bersamaku. Di dunia ini tiada seorang pun yang mampu menyelamatkan kau.’ Rupanya lwekang-nya sangat hebat, meski terkena pukulan Sacek, tapi seketika belum mati, dia kuatir Oh-lolo memberi-tahukan resep obat penawar maka Oh-lolo dibunuhnya lebih dahulu!”

Kisah sedih yang ber-liku2 ini akhirnya tamat juga. Namun betapa pedih hati anak dara itu setelah menuturkan kemalangan yang menimpa keluarganya tentulah dapat dibayangkan.

Entah beberapa lama lagi, terdengar Oh-lolo menghela nafas panjang, gumamnya, “Aih, kiranya akulah yang salah, akulah yang salah...” ucapannya itu dia ulangi beberapa kali, tiba-tiba dia berbangkit dan menjura dalam2 kepada Hong Sam sianseng, ucapnya sambil menunduk menyesal, “Kiranya adik perempuanku bukan dibunuh oleh Samya, sebaliknya dia yang sudah.. sudah membikin susah Samya hingga begini, seumpama Samya yang membunuhnya juga aku tidak dapat bicara apa2 lagi.”

Nenek ini dapat mengucapkan kata2 bijaksana begini, sungguh di luar dugaan siapa pun juga.

Sikap Hong Sam tampak sangat kesal, katanya sambil memberi tanda, “Sudahlah, orang yang pantas mati sudah mati semua, kejadian yang lampau tidak perlu diungkit lagi, kau boleh... boleh pergi saja.”

“Terima kasih Samya,” kata Oh-lolo sambil melangkah ke ujung tangga. Tiba2 ia menoleh dan berkata pula, “Tonghong Tay-beng itu sok pintar, sesungguhnya ia pun keliru besar.”

“Oo? Keliru apa?” tanya Hong Sam.

“Dia menyangka di dunia ini tak ada orang yang sanggup menawarkan racun di tubuhnya Samya, nyata dia lupa bahwa masih ada seorang nenek reyot macam diriku ini,” kata Oh-lolo.

“Tapi masih ada satu hal yang tidak diketahui nona,” kata Oh-lolo dengan tertawa.

“Oo? Hal apa?” tanya Lui-ji.

“Racun itu sesungguhnya adalah buatanku, makanya adik perempuanku tidak mempunyai obat penawarnya,” tutur Oh-lolo.

Seketika Lui-ji melonjak kegirangan, teriaknya gembira, “Betul, biar pun racun buatan adik perempuannya, dengan sendirinya ia pun paham cara bagaimana menawarkannya.”

Keterangan Oh-lolo ini membuat semua orang terkejut dan juga bergirang.

Saking senangnya muka Cu Lui-ji menjadi kemerahan, serunya dengan suara parau, “Jadi pada... padamu terdapat obat penawarnya?”

Oh-lolo mengeluarkan sebuah kotak kecil, katanya, “Inilah obat penawarnya.”

Kejadian ini datangnya sungguh terlalu mendadak dan terlalu beruntung, benar-benar sulit dipercaya. Cu Lui-ji terbelalak memandangi kotak kecil yang dipegang nenek itu, sekujur badan sampai bergemetar.

“Sesungguhnya obat ini tidak ingin kuberikan,” kata Oh-lolo sambil menghela nafas. “Tapi Samya benar-benar seorang berbudi, apa bila orang baik semacam Samya sampai tidak tertolong, memangnya di dunia ini tidak ada keadilan lagi?”

“Tak ter... tak tersangka ternyata kau masih punya Liangsim (hati nurani yang baik),” seru Lui-ji dengan ter-putus2.

Mendadak ia rampas kotak kecil yang dipegang Oh-lolo itu lalu didekap erat-erat di dalam pangkuannya se-olah2 takut direbut orang lagi. Air mata pun bercucuran, serunya saking kegirangan,

“Sacek... O, Sacek! Akhirnya... akhirnya kita tertolong! Sudah lama kita seperti bermimpi buruk dan mimpi buruk kini sudah berakhir. Sacek, apakah engkau bergembira?”

Tampaknya Hong Sam juga amat terharu dan hampir tak dapat menguasai perasaannya. Setelah mengalami siksa derita sekian tahun, kini bisa terlepas dari lautan derita itu, tentu saja ia pun sangat bergirang.

Lui-ji mendekap di depan tempat tidur, saking gembira ia terus menangis ter-gerung2.

Hong Sam membelai rambutnya dengan perlahan, seperti ingin bicara sesuatu akan tetapi suaranya tersendat sehingga tiada terucapkan sekata pun.

Tampaknya Oh-lolo juga sangat terharu, desisnya dengan hati lega, “Orang baik tentu mendapat ganjaran yang baik, keadilan tentu terdapat pada hati setiap orang. Ai, rasanya sekarang nenek harus pergi saja.”

Tapi baru saja dia membalik tubuh, mendadak Pwe-giok sudah menghadang di depannya dan menegur, “Apakah obat itu benar-benar obat penawar?”

Oh-lolo tersenyum, katanya, “Aih, anak muda, mungkin sudah terlalu banyak orang jahat yang kau temui, makanya kau tidak percaya kepada siapa pun. Apakah kau lihat nenek seperti aku ini tega membikin celaka orang macam Hong Sam Sianseng?”

“Memang betul sudah terlalu banyak orang jahat yang kutemui, makanya baru sekarang aku tahu biar pun orang semacam Hong-locianpwe terkadang juga bisa dicelakai orang,” jawab Pwe-giok dengan perlahan.

Tiba-tiba Kwe Pian-sian juga menimbrung, “Apa lagi Hong-locianpwe sudah pinjam ilmu silatmu, tetapi kau malah berbalik hendak menolongnya? Betapa pun aku jadi ikut curiga apakah di dunia ini benar-benar ada orang baik hati seperti kau ini?”

Padahal sejak mula dia telah curiga, cuma urusannya tidak menyangkut kepentingannya, maka dia diam saja. Kini Pwe-giok sudah mendahului membongkar hal itu, maka dia pun membonceng agar kelihatan berjasa.

Karena ucapan mereka berdua, hati Cu Lui-ji menjadi cemas lagi, perlahan ia berbangkit, katanya dengan melotot terhadap Oh-lolo, “Coba ka... katakan, obatmu ini sesungguhnya obat penawar atau bukan?”

Oh-lolo menghela nafas, jawabnya, “Kalau nona tidak percaya, boleh kau kembalikan saja obat itu kepadaku.”

“Mana boleh?!” jawab Lui-ji dengan suara bengis. “Pendek kata kalau obat ini bukan obat penawar, segera kucabut nyawamu!”

“Habis cara bagaimana barulah nona mau percaya?” tanya Oh-lolo sambil menggeleng.

“Coba kau sendiri makan dulu satu biji obat ini,” kata Lui-ji.

Pwe-giok menyangka sekali ini Oh-lolo pasti akan mengalami ‘senjata makan nenek’. Tak terduga tanpa sangsi Oh-lolo langsung menerima kembali kota obatnya, katanya dengan tertawa, “Jika demikian, akan kumakan satu biji obat ini.”

Tiba2 Kwe Pian-sian menyeletuk lagi, “Apa bila kau sudah makan obat penawar terlebih dulu, sekali pun obat ini adalah racun, tentunya tidak beralangan walau pun kau makan seluruhnya.”

Oh-lolo menghela nafas, katanya, “Wah, jika begini jadinya serba salah bagiku.”

Dia mengerling, tiba2 dia berkata pula dengan tertawa, “Tapi masih ada satu cara yang dapat kubuktikan isi kotak ini obat penawar atau racun.”

Dengan menggreget Lui-ji berkata, “Sebaiknya kau dapat membuktikannya, kalau tidak... hmmm!”

Dilihatnya Oh-lolo mengeluarkan pula sebuah kotak kayu kecil, kotak ini pun diukir dengan indah, dicat dengan warna merah darah.

“Kotak ini berisi racun yang pernah digunakan adik perempuanku itu,” kata Oh-lolo. Lalu dari dalam kotak ia mencolek setitik bubuk obat berwarna jambon terus ditelan.

Semua orang sama terkejut, tapi Oh-lolo malah tertawa, katanya, “Tampaknya mata nona bersinar aneh, kekuatan tubuhmu pasti berbeda dengan orang biasa. Racun yang dapat membinasakan orang lain kukira takkan beralangan apa pun bagi nona.” Dia tersenyum, lalu menyambung, “Entah apa yang kukatakan ini betul atau tidak?”

“Hmk!” Lui-ji hanya mendengus saja. Meski tidak bersuara, tetapi di dalam hati diam-diam dia mengagumi penglihatan nenek ini yang amat tajam.

“Tapi terdapatnya kelainan nona yang hebat ini juga bukan berasal dari pembawaan lahir, betul tidak?” tanya Oh-lolo pula.

Lui-ji tidak lantas menanggapi, tetapi akhirnya dia bersuara, “Betul, hal ini disebabkan aku harus mencobai racun apakah yang diidap Sacek, sebab itu aku bertekad akan mencicipi setiap macam racun di dunia ini, lalu dari cara bekerjanya racun yang kucicipi ini akan kupelajari bagaimana kadar racunnya dan cara bagaimana menawarkannya.”

“Betul, racun apa pun juga, asalkan makannya tidak melebihi dosisnya tentu tidak akan membinasakan. Apa lagi kalau sudah banyak memakannya, kelak akan timbul daya tolak terhadap racun ini.” Setelah menghela nafas, lalu Oh-lolo menyambung pula, “Urusan ini tampaknya amat mudah dilakukan, padahal tak sembarang orang mampu melakukannya. Sungguh aku sangat kagum terhadap keberanian dan kesabaran nona.”

Bila mana membayangkan seorang nona cilik seperti Cu Lui-ji setiap hari harus mencobai macam2 racun, sedikit lengah saja akibatnya adalah mati, untuk ini semua orang merasa tidak punya keberanian seperti nona cilik ini dan mau tak mau mereka bertambah kagum dan hormat kepadanya.

Namun Cu Lui-ji hanya menanggapi dengan hambar, “Ini pun bukan sesuatu yang luar biasa. Kau tahu, ada sementara racun bukannya pahit, sebaliknya rasanya amat manis.”

“Ya, obat yang mematikan kebanyakan rasanya manis, obat penolong jiwa rasanya malah pahit,” kata Oh-lolo dengan tertawa. “Tetapi menurut pendapatku, racun yang ditemukan nona itu pasti bukan racun yang sukar dicari. Jika racun sebangsa racun ular, kelabang, ketungging dan sebagainya, tentunya takkan berbahaya bagi nona, tapi bila racunku ini...”

Lui-ji menengadah, seperti mau omong apa2, tetapi seketika tak dapat bersuara apa pun, sebab tiba2 dilihatnya muka Oh-lolo yang berkeriput itu kini telah berubah menjadi ungu ke-biru2an, bahkan matanya juga bercahaya ungu, tampaknya menjadi beringas dan amat menakutkan.

Bukan cuma Lui-ji saja yang terkesiap, ketika semua orang ikut memandang si nenek, hati semua orang pun terperanjat.

Namun Oh-lolo berkata pula dengan tertawa, “Racun yang baru saja kumakan kini sudah mulai bekerja. Sebagai seorang ahli racun tentu nona bisa melihatnya, cara bekerja racun ini apakah serupa dengan keadaan Hong Sam Sianseng waktu keracunan dahulu?”

Sampai di sini suara nenek itu sudah mulai kaku dan hampir tidak jelas terdengar, bahkan tubuhnya juga mulai berkejang.

“Betul, memang begini keadaannya,” jawab Lui-ji dengan muka pucat.

Oh-lolo mengeluarkan satu biji pil dari kotak yang diterimanya kembali dari Lui-ji tadi lalu diminum. Meski semua orang berdiri cukup jauh, tapi terendus juga bau amis dan busuk dari pil yang ditelan Oh-lolo itu.

Melihat sikap orang2 itu, Oh-lolo berkata dengan tertawa, “Obat yang mujarab selain pahit biasanya juga berbau busuk bukan? Tetapi obat penyelamat jiwa walau pun berbau tentu juga akan diminum orang. Sebaliknya kalau racun juga berbau busuk, lalu siapa yang mau meminumnya?”

Ciong Cing yang sejak tadi berdiam diri kini mendadak menghela nafas dan berucap, “Ya, kata2 ini sungguh mengandung makna yang sangat dalam. Tetapi di dunia ini ada berapa orang yang menyadari hal ini?”

“Ehh, nona cilik, ingatlah dengan baik,” kata Oh-lolo dengan tersenyum. “Terkadang mulut lelaki yang manis jauh lebih menakutkan dari pada racun yang mematikan.”

Ciong Cing memandang Kwe Pian-sian sekejap, lalu menunduk dan tidak bicara lagi.

Selang sejenak, air muka Oh-lolo telah berubah normal kembali. Racun yang diminumnya meski lihay, tapi obat penawarnya juga amat mujarab. Nenek itu menarik nafas panjang2, lalu berkata dengan tertawa, “Nah, sekarang nona percaya tidak?”

Lui-ji menunduk kemudian berkata, “Tadi aku salah menyesali engkau, hendaklah engkau jangan marah.”

“Mana bisa aku marah padamu?” ujar Oh-lolo. “Memang lebih baik kalau ber-hati2.”

Sekarang Lui-ji sudah tidak sangsi sedikit pun, ia merasa malu dan juga berterima kasih, segera ia terima lagi obat penawar itu dan terus berlari ke tempat tidur Hong Sam.

Sorot mata Oh-lolo menyapu pandang sekejap ke arah Ji Pwe-giok dan Kwe Pian-sian, katanya dengan tersenyum, “Sekarang nenek boleh pergi, bukan?”

Meski di dalam hati Pwe-giok masih merasakan sesuatu yang tidak beres pada urusan ini, tapi bukti terpampang jelas di depan mata, apa yang dapat dikatakannya lagi? Terpaksa dia memberi hormat dan berkata, “Maaf jika tadi aku bersikap kasar padamu.”

Oh-lolo tertawa, tiba-iba dia mendekati Kwe Pian-sian.

Teringat sikapnya tadi rada kurang hormat terhadap si nenek, baru sekarang Kwe Pian-sian menyesal telah menyalahi orang semacam ini, seketika mukanya menjadi rada pucat, cepat dia berkata, “Harap Cianpwe jangan... jangan...”

“Tidak perlu kau takut,” kata Oh-lolo dengan tertawa, “tiada maksudku hendak mencari perkara padamu. Meski tadi kau rada-rada membikin sirik hatiku, tetapi aku pun tak akan menyalahkan kau, malahan kurasakan kau ini pun seorang yang sangat berbakat. Kelak jika perlu boleh coba2 kau cari diriku untuk ber-bincang2 lebih banyak.”

Dia pandang Ciong Cing sekejap dengan tertawa, lalu berkata pula, “Ehh, nenek ompong semacam diriku ini tentunya takkan menimbulkan rasa cemburumu bukan?”

Kwe Pian-sian melenggong hingga sekian lamanya, dilihatnya nenek itu sudah melangkah ke bawah loteng, ia menggeleng kepala dengan menyengir, katanya, “Ai, nenek ini benar-benar seorang yang aneh dan sukar untuk diraba...”

Akhirnya Hong Sam telah minum juga obat penawar itu. Mahluk2 berbisa yang memenuhi kolong selimutnya itu dengan sendirinya sudah digiring Cu Lui-ji ke dalam sebuah karung goni. Kalau racun sudah ditawarkan, untuk apa pula mahluk2 yang menjemukan itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner