RENJANA PENDEKAR : JILID-46


Cu Lui-ji tampak berjingkrak kegirangan, laksana burung cucak-rowo saja dia mengoceh tiada hentinya, bertanya ini dan itu. Maka Pwe-giok lantas menceritakan pengalamannya secara ringkas waktu ditugaskan menjadi utusan Hong Sam.

Hong Sam duduk bersila di tempat tidur, dia berkerut kening dan berkata, “Kiranya tokoh andalan mereka adalah Lo-cinjin. Konon khikang orang ini tidak lemah, bagaimana kalau menurut pengalamanmu?”

“Ya, memang tidak bernama kosong,” ujar Pwe-giok.

“Betapa pun hebat khikang-nya juga tiada gunanya, sekarang racun di dalam tubuh Sacek sudah dipunahkan, betapa pun banyak jago mereka, datang satu sikat satu, muncul dua hajar sepasang. Takut apa?!” ujar Lui-ji dengan tertawa.

Pwe-giok diam sejenak, akhirnya dia tidak tahan dan berkata, “Menurut apa yang kulihat dan kudengar seharian ini, Hong-Cianpwe memang seorang yang berbudi luhur dan sukar dibandingi siapa pun. Cuma kedatangan mereka ini pun bukannya tidak beralasan.”

“O, apa alasan mereka? Coba ceritakan!” kata Lui-ji dengan mendelik.

Dengan suara berat Pwe-giok berkata, “Yaitu disebabkan tindakan nona...”

Lui-ji langsung melonjak bangun dengan gusar, teriaknya, “Mereka pasti bilang kepadamu bahwa banyak orang Kangouw telah hilang, semuanya telah kubunuh, begitu bukan?”

Pwe-giok menarik nafas dalam2, jawabnya, “Ya, memang begitu kata mereka.”

“Tapi apa kau tahu sebab apa orang2 itu masuk ke rumah ini?” jengek Lui-ji.

“Tidak tahu,” jawab Pwe-giok.

“Karena ada di antaranya yang ingin mengganggu diriku, ada pula yang ingin merampok. Mereka sendiri yang berniat jahat, makanya kubereskan mereka, salah mereka sendiri,” tutur Lui-ji. “Kalau kau lihat kawanan penjahat itu, mungkin kau pun tak akan mengampuni mereka.”

“Meski ucapan nona juga beralasan, tapi...”

“Tapi apa?” sela Lui-ji. “Sacek menolong orang dan akibatnya keracunan, meski dengan lwekang-nya yang amat kuat beliau dapat menahan bekerjanya racun, tapi juga tak dapat bertahan terlampau lama, terpaksa kami harus berusaha mendesak keluar kadar racun di dalam tubuhnya. Sebab itulah Sacek memerlukan bantuan tenaga orang lain, kalau tidak, mungkin sudah lama beliau meninggal. Nah, coba katakan, Sacek yang pantas mati atau keparat2 itu yang harus mampus?”

Pwe-giok termenung sejenak, dia menghela nafas panjang, katanya, “Urusan di dunia ini memang sulit ditentukan benar dan salahnya oleh orang di luar garis. Agaknya aku... aku pun salah.”

“Di dalam persoalan ini memang masih ada sesuatu yang agak luar biasa, yaitu meski pun Sacek bisa menggunakan semacam kungfu istimewa untuk menghisap tenaga dalam seseorang dan dipinjam pakai, akan tetapi tenaga pinjaman itu pun akan terbuang dengan amat cepat, sebab itulah hanya sebentar saja beliau perlu mencari pinjaman tenaga baru dari orang lain lagi...”

“Jika Hong-locianpwe bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk mendesak keluar kadar racunnya, lalu kenapa perlu menggunakan pula mahluk2 berbisa itu?” Kwe Pian-sian ikut bertanya.

“Soalnya setelah Sacek mendesak keluar racunnya, tetapi pori2 kulitnya akan menghisap kembali hawa berbisa yang didesak keluar itu,” tutur Lui-ji. “Semula Sacek tidak paham kejadian ini sehingga beliau membuang tenaga percuma selama beberapa bulan, akhirnya barulah disadari apa yang terjadi, maka selanjutnya mahluk2 berbisa itu lantas dikerudung di dalam selimut untuk menghisap hawa berbisa yang keluar dari tubuh Sacek... sekarang tentunya kalian paham duduknya perkara?”

Pwe-giok lantas berkata, “Sesudah keracunan, Hong Locianpwe telah dibuat marah pula sehingga tenaga murninya buyar, dengan sendirinya beliau tak dapat pergi ke tempat lain dan terpaksa merawat dirinya di loteng kecil ini, begitu bukan?”

“Ya, sesudah Sacek membunuh kawanan penjahat itu, beliau sendiri pun lantas ambruk,” tutur Lui-ji. “Kalau saja Sacek tidak membawa Hoa-kut-tan, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus membereskan mayat sebanyak itu.”

“O, jadi orang2 yang lenyap sesudah masuk kemari, dengan sendirinya juga berkat Hoa-kut-tan?” tanya Kwe Pian-sian.

Lui-ji mendengus, katanya, “Hoa-kut-tan adalah obat mustajab yang amat sukar diperoleh, sebenarnya terlalu boros bila kugunakan obat berharga itu bagi orang2 yang lebih rendah dari pada binatang itu.”

Pwe-giok menghela nafas panjang, katanya, “Sebelumnya kurasakan berbagai urusan ini sangat tidak masuk di akal dan sukar dipecahkan, baru sekarang macam2 tanda tanya di dalam benakku dapat terjawab dan tersapu bersih.”

Dalam pada itu, se-konyong2 Ciong Cing menjerit kaget, “Hei, li... lihatlah, me... mengapa Hong-locianpwe berubah menjadi begini?”

Waktu semua orang berpaling, tampaklah nafas Hong Sam megap-megap dengan tubuh bergemetaran. Sudah jelas yang diminumnya tadi adalah obat penawar, tapi sekarang dia seperti terserang racun jahat lagi. Keruan semua orang melongo kaget.

Saking cemasnya hampir saja Cu Lui-ji menangis, dirangkulnya Hong Sam sambil berseru dengan suara ter-putus2, “Sacek, ken... kenapa kau?”

Namun mata Hong Sam terpejam rapat, bahkan tampak menggertak gigi hingga berbunyi gemertak dan tak sanggup bicara.

Tak kepalang kuatirnya Lui-ji, serunya, “Kalian pun melihat obat tadi jelas2 obat penawar, mengapa bisa... bisa jadi begini? Sebab... sebab apakah menjadi begini?”

Mendadak Gin-hoa-nio tertawa, katanya, “Aku tahu apa sebabnya.”

Lui-ji melompat ke depan Gin-hoa-nio dan bertanya dengan suara parau, “Benarkah kau tahu?”

“Ehmm,” Gin-hoa-nio mengangguk.

“Masa isi kotak Oh-lolo ini bukan obat penawar?” tanya Lui-ji. “Memangnya dia tadi telah mencampurnya dengan racun? Atau waktu menyerahkannya kepadaku dia telah main gila dengan menukar obat penawar dengan racun?”

“Isi kotak ini memang benar2 obat penawar,” jawab Gin-hoa-nio. “Di depan kalian dia pun tak akan berani main gila. Umpama dia berani main2, masakah mata orang sekian banyak dapat dikelabui semua?”

“Habis kenapa jadi begini?” seru Lui-ji dengan membanting kaki.

Gin-hoa-nio menarik nafas perlahan, katanya kemudian, “Untuk membuat semacam racun dari kombinasi sekian puluh jenis bahan racun, kukira tidaklah sederhana sebagaimana bila kita membuat gado2 atau cap-jai.”

“Ya, betul juga,” Kwe Pian-sian meng-angguk2.

“Sebab kadar racun setiap jenis racun kan berbeda-beda,” tutur Gin-hoa-nio lebih lanjut. “Bahkan di antara racun itu ada yang saling bertentangan satu sama lain. Bila mana kau mencampurkan beberapa jenis menjadi satu, kadang kadar racunnya malah akan lenyap sama sekali. Teori ini serupa kalau kita mencampurkan beberapa macam warna menjadi satu, kadang2 malah akan berubah menjadi warna putih.”

“Betul,” kata Kwe Pian-sian, “kalau cara mencampur racun itu merupakan pekerjaan yang gampang, tidak nanti Oh-lolo mendapat nama besar di dunia persilatan.”

“Dan bila kau campur ber-puluh2 jenis bahan racun menjadi satu, maka dosis dari tiap2 jenis racun itu harus sudah ditakar dengan tepat, sedikit pun tidak boleh lebih banyak atau berkurang, perbandingan dosis inilah rahasia yang paling besar dan penting dalam urusan membuat racun. Dan obat penawarnya, dengan sendirinya juga harus dibuat dengan cara perbandingan dosis yang sama pula, tidak boleh berselisih sedikit pun, kalau sebaliknya, maka tidak menimbulkan khasiat apa pun.”

“Ya, memang begitu,” tukas Kwe Pian-sian.

“Setelah lewat sekian tahun,” sambung Gin-hoa-nio lagi, “racun yang mengeram di dalam tubuh Hong Sam Sianseng tentu kadarnya sudah kacau balau, karena kadar racun ada yang berat dan ada yang ringan, ada yang telah didesak keluar oleh tenaga dalamnya dan ada yang masih tinggal di dalam tubuh. Sebab itulah obat penawar pemberian Oh-lolo ini sama sekali tidak mempunyai khasiat menawarkan racun yang mengeram di tubuh Hong Sam Sianseng, sebaliknya malah mengganggu racun yang sudah ditahan secara susah payah itu sehingga akhirnya racun itu buyar dan bekerja lagi.”

Dia menghela nafas, lalu menyambung pula, “Dan di sinilah letak kelihaian cara Oh-lolo menggunakan racunnya.”

Tiba-tiba saja Cu Lui-ji menjambret baju Gin-hoa-nio lalu membentak dengan suara parau, “Kalau kau tahu sejelas ini, mengapa tak kau katakan sejak tadi?”

Gin-hoa-nio tersenyum hambar, ujarnya, “Jika kau jadi diriku, apakah akan kau katakan?”

Lui-ji jadi melengak dan tidak bisa bicara. Maka Gin-hoa-nio menyambung lagi, “Mungkin juga baru saja dapat kuketahui teori yang kukatakan ini.”

Sekarang semua orang dapat memahami uraian Gin-hoa-nio itu, teringat bahwa dengan obat penawarnya saja Oh-lolo juga bisa bikin celaka orang, betapa keji dan betapa jauh tipu muslihatnya itu sungguh membuat orang bergidik.

Keringat tampak bercucuran dari kepala Hong Sam, jelas ia sedang mengerahkan tenaga dalam untuk menghimpun kembali kadar racun yang sudah buyar itu. Melihat air mukanya yang penuh derita itu, dapatlah dibayangkan betapa gawatnya urusan ini.

Lui-ji menunduk perlahan, air matanya kembali berderai.

“Nona tidak perlu cemas,” Ciong Cing berusaha menghibur, “kalau sebelum ini Hong Sam Sianseng bisa menahan bekerjanya racun, tentu akan lebih mudah baginya untuk berbuat sesuatu.”

“Mestinya ucapanmu tadi betul, tapi... tapi tenaga Sacek sekarang sudah jauh dari pada sebelum ini,” kata Lui-ji sambil menangis.

“Apa lagi,” tukas Gin-hoa-nio, “Dalam keadaan gawat begini dia tidak dapat sembarangan menggerakkan tenaga murninya, sedangkan musuh akan datang dalam dua-tiga jam lagi, lalu bagaimana baiknya?”

Dia berucap se-akan2 ikut gelisah bagi keadaan Hong Sam Sianseng, padahal siapa pun dapat mendengar dalam nadanya itu mengandung rasa syukur dan senang karena orang lain mendapat celaka.

Dengan gemas Cu Lui-ji lantas mendamprat, “Memangnya kau senang ya? Hmm, apa bila kami mati, kau pun jangan harap akan hidup!”

Namun dengan dingin Gin-hoa-nio menjawab, “Betapa pun aku sudah cacat begini, mati atau hidup bagiku tidak menjadi soal lagi…”

********************

Sang waktu terus berlalu, perasaan semua orang juga semakin tertekan.

Meski Kwe Pian-sian tidak perlu ikut kuatir bagi mati atau hidupnya Hong Sam Sianseng, tapi bila teringat dirinya masih harus bersandar kepadanya untuk menghadapi kedatangan Ang-lian-hoa dan lain2, bila Hong Sam mati, semua orang yang berada di atas loteng ini pun jangan harap akan hidup.

Sekarang waktunya tinggal dua jam lagi.

Mendadak Pwe-giok bangkit berdiri kemudian berseru, “Nona Cu, silakan kau bawa Hong Sam Sianseng dan cepat pergi saja... yang lain2 juga silakan pergi semua!”

“Dan.. dan kau?” tanya Lui-ji.

“Saat ini di-mana2 tentu sudah dijaga oleh mereka, tapi dengan kekuatan nona dan Kwe-heng kukira tidak sukar untuk menerjang pergi,” kata Pwe-giok. “Yang kukuatirkan hanya kalau Lo-cinjin dan rombongannya keburu menyusul kemari, maka aku...”

“Kau sengaja tinggal di sini untuk menghadangnya?” sela Lui-ji.

“Biar pun kepandaianku kurang tinggi, tapi kukira masih sanggup untuk merintangi mereka sementara waktu, dengan begini nona dan rombongan mungkin sempat pergi agak jauh,” setelah berhenti sejenak lalu Pwe-giok menyambung pula, “sebab dari pada kita menanti kematian di sini, akan lebih baik aku sendiri saja yang mengadu jiwa dengan mereka. Apa lagi, orang yang hendak mereka cari bukanlah diriku, jadi aku pun belum pasti akan mati di tangan mereka.”

“Jika yang dicari mereka bukan dirimu, untuk apa kau mengadu jiwa?” tanya Lui-ji.

“Kukira setiap orang pada suatu waktu tentu akan rela mengadu jiwa, bukan?” jawab Pwe-giok.

Tiba2 Gin-hoa-nio menjengek, “Hm, tadinya kukira kau ini seorang yang sangat teliti dan hati2, dapat menghargai jiwanya sendiri, tidak kusangka sekarang kau pun dapat berbuat hal2 bodoh dan emosi begini.”

“Seorang kalau tidak punya emosi, apakah dia terhitung manusia?’ jawab Pwe-giok.

Kwe Pian-sian berdiri dan siap untuk pergi, katanya dengan tertawa, “Seorang lelaki sejati harus tahu apa yang harus dilakukannya dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Ji-heng memang tidak malu sebagai seorang pendekar sejati, maka kami pun tidak enak apa bila membantah kehendakmu.”

“Betul, tekadku sudah bulat, silakan kalian lekas pergi saja,” kata Pwe-giok.

Tanpa terduga mendadak Hong Sam membuka mata lalu menatap Pwe-giok tajam-tajam, ucapnya dengan suara kereng, “Caramu bertindak ini, apakah kau kira orang she Hong ini manusia yang tamak hidup dan takut mati?”

“Sama sekali Cayhe tidak bermaksud demikian,” jawab Pwe-giok dengan menghela nafas. “Cuma...”

“Soal mati atau hidup memang sulit diramalkan, tapi bila mana harus menghadapi pilihan, seorang lelaki sejati kenapa mesti gentar mati?” kata Hong Sam pula dengan tegas.

“Ya, Tecu tahu,” jawab Pwe-giok.

“Jika kau tidak tahu tentu kau takkan tinggal di sini, betul tidak?”

Pwe-giok mengiakan pula.

“Jika demikian, kenapa kau suruh aku lari?” seru Hong Sam dengan gusar. “Memangnya agar aku dapat menyempurnakan keluhuran budimu sebagai seorang pendekar sejati?”

“Ah, Tecu tidak berani,” jawab Pwe-giok dengan menunduk dan kikuk.

Dengan lemas Kwe Pian-sian duduk kembali, ucapnya dengan menyengir, “Kalau begitu, biarlah kita semua tinggal saja di sini dan bertempur mati2an menghadapi mereka. Cuma, kalau kita dapat bertahan satu jam saja sudah untung.”

Sorot mata Hong Sam tampak gemerdep, katanya pula sambil menatap wajah Pwe-giok, “Menurut pendapatmu, apakah kita pasti akan kalah?”

Membayangkan betapa hebat kekuatan lawan, Pwe-giok menjadi ragu2 untuk menjawab, katanya dengan tergagap, “Cianpwe sendiri tidak dapat turun tangan, kemenangan pihak kita memang sukar diramalkan.”

Hong Sam menepuk tempat tidurnya keras2, ucapnya dengan bengis, “Kematianku tidak perlu disayangkan, tapi mati pun aku pantang dihina orang.”

“Apa pun juga Sacek tidak boleh turun tangan,” seru Lui-ji dengan kuatir.

Hong Sam memandang sekejap pula pada Pwe-giok, lalu berkata dengan perlahan. “Jika aku bisa meminjam pakai tenaga dalam orang lain, masakah aku tidak bisa meminjamkan tenagaku kepada orang lain?”

“Jika Sacek meminjamkan tenaga kepada orang lain, lalu cara bagaimana akan sanggup menahan serangan racun dalam tubuhmu?” kata Lui-ji dengan suara gemetar.

“Akan jauh lebih baik aku mati keracunan dari pada mati terhina,” seru Hong Sam dengan gusar. “Hanya tidak tahu adakah orang yang sudi bertempur mati2an bagiku?”

Terbeliak mata Kwe Pian-sian dan Gin-hoa-nio. Kalau segenap tenaga dalam Hong Sam dapat dipindahkan ke dalam tubuhnya sendiri, hal ini sungguh amat menarik. Tapi segera terpikir pula kekuatan Hong Sam sekarang tersisa tidak banyak, andaikan sisa tenaga itu dapat dipinjamkan seluruhnya kepadanya, tetap saja sukar melawan Lo-cinjin yang maha sakti itu. Teringat demikian, hasrat mereka jadi dingin lagi.

Tiba2 Ciong Cing berkata, “Kalau Cianpwe dapat meminjamkan tenagamu kepada orang lain, mengapa tidak kau gunakan tenagamu itu untuk menghadapi musuh?”

“Tenagaku yang kusalurkan ke tubuh orang lain akan berjalan perlahan-lahan seperti air di sungai, sambil aku sendiri mungkin dapat menyimpan sedikit sisa tenaga untuk menahan serangan racun,” tutur Hong Sam. “Sedangkan bila aku harus bergebrak dengan musuh, tenagaku akan meledak seperti air bah yang sukar ditahan. Dalam keadaan payah seperti diriku sekarang, tidak sampai tiga kali gebrak saja pasti racun akan bekerja dengan hebat dan membinasakan diriku. Apa lagi pihak lawan sangat banyak dan rata-rata sangat lihay, betapa pun tidak mungkin dalam tiga kali gebrak kubinasakan mereka satu per satu.”

“Jika... jika demikian, entah bo… bolehkah Tecu membantu Cianpwe?” tanya Ciong Cing dengan tergagap.

“Kau tidak dendam padaku malah bersedia membantuku, kebaikan dan keberanianmu ini sungguh harus dipuji,” jawab Hong Sam. “Cuma sayang badanmu lemah, bakatmu juga kurang, bila mana kusalurkan tenagaku, mungkin malah akan membikin celaka padamu.”

Pada waktu bicara, seperti tidak sengaja sorot matanya mengerling sekejap pula ke arah Pwe-giok.

Maka Ciong Cing lantas berkata, “Ji-kongcu, apakah... apakah engkau tak dapat...”

“Sudah tentu aku pun sangat ingin membantu Hong-locianpwe,” berkata Pwe-giok dengan gegetun, “Tapi aku kan tidak dapat menggunakan kesempatan pada waktu orang sedang dalam kesempitan...”

Ciong Cing berteriak, “Ini kan keinginan Hong-locianpwe sendiri, dia yang meminjamkan tenaganya padamu, mana bisa dikatakan menggunakan kesempatan pada waktu orang kesempitan.”

Pwe-giok termenung sejenak, tiba2 dia memberi hormat dan berkata kepada Hong Sam, “Entah Hong-locianpwe sudikah menerima Tecu sebagai murid?”

Nyata watak Pwe-giok memang jujur dan tulus, bahkan juga pintar dan cerdik. Dengan tindakannya ini, bila murid meminjam kungfu sang guru, maka soalnya jadi adil dan cukup berdasar, murid mewakili guru bertempur, orang lain pun tak dapat bilang apa2 lagi.

Tanpa terduga Hong Sam langsung menjawab, “Kau tak mau menggunakan kesempatan dalam kesempitanku, mana aku dapat pula memperalat keluhuran budimu dan menyuruh kau mengangkat guru padaku...? Sebabnya kau mengangkat guru padaku tentunya bukan demi kepentinganmu, melainkan karena ingin membela diriku, begitu bukan?”

Pwe-giok melengak, jawabnya, “Tapi ini...”

Hong Sam tertawa dan menyela, “Jika kau sudi memanggil Hengtiang (kakak) kepadaku, maka puas dan senanglah aku. Hubungan antara kakak dan adik kan jauh lebih akrab dari pada antara guru dan murid? Dan kalau ada saudara seperti dirimu ini menghadapi musuh bagiku, mati pun aku tidak menyesal lagi.”

Belum habis ucapan Hong Sam, tanpa disuruh segera Cu Lui-ji berlutut dan menyembah kepada Pwe-giok dan memanggil paman.

Panggilan paman ini membuat Pwe-giok terkesiap dan juga bergirang. Kalau dirinya dapat mengikat saudara dengan tokoh Bu-lim yang hebat ini, tentu saja suatu kehormatan besar baginya. Tapi bila teringat betapa berat tugasnya pada pertarungannya nanti, hanya boleh menang dan tidak boleh kalah, maka perasaannya lantas mirip cuaca di luar, terasa kelam dan tertekan…..

********************

Mendadak angin meniup keras, malam semakin larut. Deru angin seakan-akan hendak merobek sukma.

Di atas loteng kecil itu tetap tiada penerangan, gelap dan hening bagaikan kamar mayat. Hong Sam Sianseng duduk bersila di tempat tidurnya tanpa bergerak sedikit pun seperti orang mati.

Padahal setiap orang yang berada di atas loteng itu memang sudah tidak banyak bedanya dari pada orang mati. Kecuali suara bernapas yang semakin berat, selebihnya tak terlihat apa2 dan tiada terdengar apa2.

Lui-ji bersandar di samping Hong Sam Sianseng, tidak meninggalkannya barang sedetik pun. Dia se-akan2 merasakan semacam firasat tidak baik, merasa waktunya bersandar di tubuh sang Sacek ini sudah tidak banyak lagi.

Pwe-giok juga duduk diam saja pada tempatnya, dengan tekun ia bermaksud mencairkan tenaga dalam yang diperolehnya tadi agar bisa digerakkan dengan sesukanya, akan tetapi perasaannya tetap sukar untuk ditenangkan.

Hanya setengah hari yang lalu, mimpi pun dia tidak pernah membayangkan akan dapat bertempur melawan seorang tokoh besar semacam Lo-cinjin. Walau pun pertempuran itu tak dapat dikatakan dimenangkan olehnya, tapi kejadian itu cukup membuatnya gembira.

Maklumlah, di seluruh kolong langit ini ada berapa gelintir manusia yang pernah bertempur melawan Lo-cinjin?

Sejak tadi Kwe Pian-sian terus berdiri di depan jendela, memandang jauh keluar sana, ke tengah kota yang mati seperti kuburan itu.

Entah daun jendela rumah siapa yang tidak tertutup rapat, karena tertiup angin sehingga menerbitkan serentetan suara ‘blang-blung’ yang keras. Anjing geladak yang meringkuk di pojok jalan sana terkadang mengeluarkan suara gonggongan yang menyeramkan. Panji reklame hotel Li-keh-can juga masih berkibar dihembus angin, beberapa genteng jatuh hancur tertiup angin hingga menjangkitkan suara gemertak.

Malam yang dingin dan seram dengan angin puyuh sekeras ini dan suasana setegang ini, setiap suaranya cukup membuat orang merinding. Tetapi kalau keadaan menjadi senyap tanpa suara, rasanya menjadi makin menegangkan sehingga membuat dada setiap orang merasa sesak nafas.

Se-konyong2 di ujung jalan yang jauh sana muncul sebuah lentera. Cahaya lentera yang guram itu tampak ber-goyang2 di bawah hembusan angin yang kencang. Tampak seperti api setan (cahaya phosphor) yang berkelip di kejauhan.

Kwe Pian-sian mengembus nafas panjang-panjang, katanya, “Itulah dia... akhirnya datang juga dia…!”

Datangnya kelip lentera itu sangat lambat, namun akhirnya sampai juga di depan rumah berloteng kecil itu.

Di bawah cahaya lampu yang ber-kelip2 guram itu, kelihatan bayangan orang yang tidak sedikit dengan sorot mata yang gemerdep, setiap bayangan orang itu melangkah dengan perlahan, berat dan mantap, setiap pasang mata sama bersinar tajam penuh semangat.

Menyusul suara seorang yang lantang akan tetapi halus berucap perlahan, “Murid Thian-biau-koan dari Jingsia, Sip-hun, khusus datang kemari untuk menyampaikan surat, maka mohon bertemu.”

“Orang macam apakah Sip-hun ini?” tanya Lui-ji dengan suara bisik2.

“Murid Lo-cinjin,” jawab Pwe-giok.

Lui-ji lantas menjengek, “Hm, masuklah, pintu kan tidak terpalang!”

Selang sejenak terdengar suara tangga berbunyi, seorang naik ke atas dengan perlahan. Bunyi tangga amat perlahan dan teratur, suatu tanda orang yang datang ini sangat sabar, bahkan kungfu bagian kakinya sangat mantap.

Maka terlihatlah Tosu muda dengan wajah cakap yang tersenyum simpul. Meski masih muda, namun sikapnya tampak alim seperti pertapa tua, siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa suka padanya.

Seperti juga saat pertama kalinya Pwe-giok bertemu dengan dia, semua orang pun heran mengapa seorang Lo-cinjin yang terkenal berangasan dan pemberang itu bisa mempunyai seorang murid sehalus ini. Keruan Cu Lui-ji sampai melotot heran.

Di dalam loteng kecil itu benar2 terlampau gelap. Sip-hun baru saja naik ke situ, ia seperti tidak dapat melihat apa2, namun sedikit pun dia tidak gugup, dia cuma berdiri tenang saja di tempatnya.

Lui-ji lantas mendengus, “Kami berada di sini semuanya, mengapa kau berdiri kesima di situ?”

Sip-hun tidak menjadi marah, juga tidak balas ber-olok2, dia hanya memandang si nona sekejap, lalu menunduk dan melangkah maju, katanya sambil memberi hormat, “Sip-hun menyampaikan salam hormat kepada Locianpwe!”

“Tidak perlu banyak adat,” jawab Hong Sam.

Dengan hormat Sip-hun menyodorkan sebuah kartu dengan kedua tangannya, katanya, “Bu-lim-bengcu Ji-Locianpwe bersama guruku sedang menanti di luar pintu, entah Hong-locianpwe sudi bertemu atau tidak?”

“Kalau Sacek bilang tidak, memangnya mereka takkan naik kemari?” jengek Lui-ji.

Sip-hun menjawab dengan tetap menunduk, “Tecu hanya melaksanakan tugas belaka, urusan lain tidak tahu menahu.”

“Habis apa yang kau tahu?” tanya Lui-ji.

“Apa pun tidak tahu,” jawab Sip-hun.

“Hm, murid Lo-cinjin kenapa tidak becus begini?” ejek Lui-ji.

“Guru pandai tidak mempunyai murid yang baik, memang inilah yang selalu disesalkan oleh guruku,” kata Sip-hun dengan tersenyum.

Nyata bukan saja dalam hal bertanya-jawab Tosu muda ini selalu sopan santun, bahkan apa pun orang mencemoohkan dia, semuanya dia terima tanpa membantah, sedikit pun tidak marah. Sungguh aneh.

Selama hidup Cu Lui-ji belum pernah melihat orang muda yang berwatak seramah dan sesabar ini, keruan ia menjadi melenggong sendiri.

Dalam pada itu berkatalah Hong Sam Sianseng, “Lo-cinjin mempunyai murid seperti kau ini, beliau boleh dikatakan sangat bahagia dan tiada penyesalan sedikit pun.”

“Ahh, Cianpwe terlalu memuji, Tecu jadi malu diri,” jawab Sip-hun cepat sambil memberi hormat.

“Jika demikian bolehlah kau sampaikan kepada gurumu, katakan bahwa orang she Hong menantikan kedatangannya di sini,” kata Hong Sam kemudian.

Kembali Sip-hun memberi hormat sambil mengiakan.

Perlahan ia lantas membalik tubuh dan melangkah turun, tetap ramah dan sabar, sedikit pun tidak gugup dan ter-buru2.

Lui-ji menjengek kembali, “Hm, sudah jelas datang hendak membunuh orang, tetapi justru berlagak ramah segala, sungguh memuakkan!”

Suaranya cukup keras dan sengaja diperdengarkan kepada Sip-hun, akan tetapi Sip-hun tidak memberi reaksi apa2, seperti tidak mendengar saja.

Dengan suara tertahan Hong Sam Sianseng berkata, “Orang2 ini kedudukannya sama2 sebagai seorang guru besar suatu aliran tersendiri, maka dengan sendirinya tindak tanduk mereka menjaga gengsi supaya tidak menurunkan derajat mereka. Hendaklah diketahui, menghormati orang lain adalah sama dengan menghormati dirinya sendiri.”

Meski di mulut Lui-ji tidak berani bicara apa2 lagi, tetapi di dalam hati dia tetap penasaran dan tidak bisa menerima sikap kawanan pendatang itu.

Yang diminta naik ke atas loteng akhirnya datang juga. Mereka tetap tak mau kehilangan sopan santun, lentera yang mereka bawa digantung pada tangga loteng dan tidak dibawa serta ke atas. Di tengah remang2 cahaya lentera itu, seorang sudah mendahului naik ke atas loteng.

Tertampak orang itu berwajah putih bersih, sikapnya amat tenang dan sopan. Dia inilah Ji Hong-ho.

Hendaklah diketahui, meski ilmu silat dan nama Lo-cinjin lebih tinggi setingkat dari pada Ji Hong-ho, namun jelek2 Ji Hong-ho bergelar Bu-lim-bengcu atau ketua perserikatan dunia persilatan, siapa pun tidak boleh berjalan di depannya.

Diam2 Lui-ji membatin, “Hm, jelas2 mereka tahu kami takkan pergi, makanya untuk naik ke sini mereka sengaja berlagak tertib dan sopan begini, kalau tidak, mustahil jika mereka tidak menerjang kemari seperti kawanan anjing gila.”

Begitu melihat Ji Hong-ho, seketika darah panas bergolak dalam dada Ji Pwe-giok, hampir saja dia tidak dapat menahan emosinya, syukur dia masih dapat menahan diri.

Dilihatnya Ji Hong-ho sedang memberi hormat dan berkata, “Wanpwe Ji Hong-ho dari Kanglam, sudah lama mengagumi nama kebesaran dan keluhuran budi Hong-locianpwe, hari ini Cianpwe sudah menerima kunjunganku, sungguh sangat beruntung dan berterima kasih.”

“Jadi Anda inilah Bu-lim-bengcu seluruh dunia sekarang ini?” tanya Hong Sam Sianseng dengan hambar...

“Ah, tidak berani,” jawab Ji Hong-ho dengan rendah hati.

Hong Sam Sianseng lantas mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia seperti tidak sudi memandangnya lagi, se-olah2 memandang hina terhadap Bu-lim-bengcu ini dan juga rada kecewa. Dengan dingin ia hanya berkata, “Baik sekali, silakan duduk.”

Dalam pada itu tiba2 terendus bau harum semerbak menusuk hidung. Seketika air muka Kwe Pian-sian berubah, memangnya dia duduk jauh di pojokan sana, sekarang dia malah terus melengos dan meringkuk di belakang Ciong Cing dengan sembunyi2.

Segera Ji Pwe-giok tahu Hay-hong Hujin yang telah datang. Hatinya juga mulai berdetak, ia tidak tahu apakah Lim Tay-ih ikut datang atau tidak?

Di bawah cahaya lentera yang remang-remang Hay-hong Hujin kelihatan anggun, cantik tiada bandingannya.

Dia pun melihat Pwe-giok berada di situ. Dia seperti tersenyum, lalu dia memberi hormat kepada Hong Sam dan berkata, “Kun Hay-hong dari Kohsoh menyampaikan salam hormat kepada Hong-kongcu, baik2kah Koingcu?”

Perempuan sejelita ini, sekali pun sama2 perempuan juga ingin memandangnya beberapa kejap lebih banyak. Siapa tahu Hong Sam Sianseng tetap bersikap tawar saja, jawabnya tak acuh, “Baik, silakan duduk.”

Menyusul muncul lagi seorang dengan baju compang-camping, gagah dan angkuh tanpa memberi hormat.

Tetapi sinar mata Hong Sam langsung gemerdep, tegurnya, “Apakah ini Pangcu dari Kay-pang?”

“Ya, Ang-lian-hoa,” jawab orang itu.

Tanpa menunggu dipersilakan duduk, segera dia berduduk di ambang jendela.

Ji Hong-ho dan Kun Hay-hong masih tetap berdiri, sebab pada loteng kecil ini hakekatnya tidak ada tempat duduk lain.

Se-konyong2 terdengar suara ‘dung’ satu kali, seorang Tojin pendek kecil melangkah ke atas loteng. Begitu mendadak dan cepat, tahu2 dia sudah muncul di ujung tangga loteng, se-olah2 cara naiknya hanya satu kali langkah saja lantas sampai di atas.

Dengan sorot mata yang tajam Tojin ini menatap Hong Sam Sianseng dan menegur, “Kau inikah Hong Sam?!”

“Dan kau inikah Lo-cinjin?” mendadak Lui-ji mendahului menjawab.

Lo-cinjin menjadi gusar, “Kurang ajar! Masa namaku boleh sembarangan dipanggil oleh budak ingusan seperti kau ini?”

Tidak kurang ketusnya, Lui-ji balas menjengek, “Hm, memangnya nama Sacek juga boleh sembarangan di-sebut2 oleh orang kerdil semacam kau?”

Saking gusarnya Lo-cinjin sampai melotot, sepasang matanya seolah menyemburkan api. Mendadak dia berteriak, “Sip-hun, naik ke sini!”

Baru lenyap suaranya, dengan sangat hormat tahu2 Sip-hun sudah berdiri di sampingnya, katanya dengan perlahan, “Adakah suhu memberi sesuatu pesan?”

“Cara bicara budak cilik ini tidak bersih, coba kau sikat mulutnya!” bentak Lo-cinjin.

Sip-hun mengiakan. Meski pun mulutnya cukup cepat mengiakan, tapi kakinya tetap tidak bergerak, tetap berdiri di tempatnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner