RENJANA PENDEKAR : JILID-47


Lo-cinjin menjadi gusar, bentaknya pula, “Ayo, kenapa tidak lekas kau hajar dia?”

Tapi Sip-hun lantas menunduk dan tetap tidak bergeser selangkah pun.

“He, apakah kau tuli?” teriak Lo-cinjin dengan murka.

“Tecu tidak tuli,” jawab Sip-hun, tetap perlahan dan halus.

“Kalau tidak tuli, kenapa tidak lekas kau hajar dia?” omel Lo-cinjin lagi.

“Tecu tidak berani,” kata Sip-hun dengan menunduk.

“Kurang ajar! Memangnya apa yang kau takuti?” damprat Lo-cinjin sambil mencak2. “Jika Hong Sam hendak merintangi kau, tentu aku yang akan menghadapi dia. Biarkan murid lawan murid dan guru melawan guru, kenapa kau takut, kenapa kau tidak berani?”

“Memang Tecu tidak... tidak berani,” jawab Sip-hun.

Mendadak sebelah tangan Lo-cinjin terus menampar, ‘plok’, kontan muka Sip-hun merah bengap.

“Kau mau maju ke sana tidak?!” bentak Lo-cinjin dengan murka.

Meski muka Sip-hun seketika tembem seperti kue apem karena gamparan sang guru, tapi dia tetap tenang dan sabar, sedikit pun tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, jawabnya dengan suara halus, “Selamanya Tecu tidak berani bergebrak dengan kaum wanita.”

Kontan Lo-cinjin berjingkrak dan menampar pula sambil membentak, “Bila perempuan itu akan membunuh dirimu, apakah akan kau ulurkan kepalamu untuk dipenggal sesukanya?”

Sembari berjingkrak sekaligus dia telah menggampar beberapa kali.

Sip-hun tetap berdiri diam saja, semua gamparan sang guru diterima tanpa menghindar dan tidak mengelak, malahan dengan tersenyum dia menjawab, “Nona cilik ini kan tidak bermaksud membunuh diriku.”

Semua orang sama melongo heran sekaligus geli menyaksikan tontonan gratis tersebut. Sungguh tak terbayangkan oleh mereka bahwa di dunia ini terdapat guru begini dan juga murid demikian.

Lui-ji juga amat senang menyaksikan pertunjukan lucu itu. Diam-diam ia pun mendongkol terhadap Tojin pemberang itu, ia tidak tahan, tiba2 ia berkata pula, “Yang kumaki adalah dirimu, mengapa kau tidak berani turun tangan sendiri?”

Lo-cinjin berjingkrak-jingkrak seperti orang kebakaran jenggot, teriaknya murka, “Jika aku bergebrak dengan budak ingusan semacam kau ini, apakah tak akan ditertawakan orang hingga copot giginya?”

“Huh, tiada hujan tanpa angin menghajar muridnya secara tidak semena-mena, apakah perbuatan demikian tidak takut ditertawakan orang hingga copot giginya?” jengek Lui-ji.

Semua orang menyangka Lo-cinjin pasti akan tambah murka dan bukan mustahil sekali hantam Cu Lui-ji bisa dibinasakannya.

Tanpa terduga sampai sekian lama Lo-cinjin memelototi anak dara itu, akhirnya bukannya murka, sebaliknya dia malah bergelak tertawa lantas berseru, “Ha-ha-ha! Sungguh budak yang hebat, besar amat nyalimu!”

Bahwa dia tidak menjadi marah, semua orang jadi melengak pula.

Dalam pada itu Hay-hong Hujin sedang memandangi Cu Lui-ji, tiba2 dia bertanya dengan suara lembut, “Eh, adik cilik, berapakah usiamu tahun ini?”

Dengan acuh tak acuh Lui-ji menjawab, “Kukira selisih tidak banyak dengan engkau.”

“Selisih tidak banyak?” Hay-hong Hujin menegas dengan tertawa geli. “Apakah kau tahu berapa umurku?”

Lui-ji tidak lantas menjawab. Ia pandang orang sejenak, kemudian baru menjawab dengan sikap sungguh2, “Melihat wajahmu, kukira usiamu kira2 baru dua puluhan.”

“Apa iya?!” ucap Hay-hong Hujin sambil tertawa, tanpa terasa ia meraba mukanya sendiri.

“Dan jika melihat tubuhmu, kukira juga baru berumur dua puluhan,” kata Lui-ji pula sambil memandangi tubuh orang yang bernas itu.

Maka makin senanglah hati Hay-hong Hujin, dia tertawa nyaring seperti bunyi keleningan, katanya, “Ai, adik cilik ini benar2 pintar bicara.”

Maklumlah, setiap perempuan di dunia ini tentu senang dipuji. Tiada seorang perempuan yang tidak senang bila orang memujinya masih cantik dan awet muda. Lebih2 perempuan yang sudah setengah baya, biar pun muka sudah mulai keriput, tapi pasti gembira kalau orang bilang dia baru berumur delapan belas.

Dengan lagak seperti sangat kagum Lui-ji lantas berkata kembali, “Apa lagi kalau melihat tangannya yang putih dan halus ini, kukira umurmu paling2 baru delapan belas.”

Hay-hong Hujin tertawa senang pula, tanpa terasa ia menjulurkan kedua tangannya, se-akan2 hendak dipertunjukkan kepada semua orang.

Di luar dugaan, dengan perlahan Lui-ji lantas menyambung lagi, “Jadi kalau ketiga macam itu dijumlahkan, total jenderal menjadi 58, maka kukira umurmu belum lagi genap 60, betul tidak?”

Ucapan Lui-ji ini hampir saja meledakkan tertawa semua orang, sampai2 Hong Sam yang selalu bersikap dingin itu pun merasa geli. Akan tetapi di hadapan Hay-hong Hujin, siapa pun tidak berani tertawa.

Sudah barang tentu, yang paling runyam adalah Hay-hong Hujin sendiri, sungguh ia tidak menduga dirinya akan terkecoh oleh seorang dara cilik, seketika wajahnya menjadi merah padam dan tidak dapat bersuara lagi.

Syukurlah Pwe-giok lantas bertindak. Betapa pun ia masih ingat kebaikan Hay-hong Hujin pada saat menemuinya di bawah sinar purnama dengan lautan bunga yang semerbak itu. Dia pun teringat kepada murid Hay-hong Hujin, yaitu Lim Tay-ih, tunangannya atau calon isterinya. Maka dia coba menyimpangkan persoalan dan bertanya kepada Ji Hong-ho,

“Yang berkunjung kemari apakah cuma Anda berempat saja?”

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya, “Kami tahu bahwa tempat kediaman Hong-locianpwe ini agak kurang leluasa menerima kunjungan orang banyak, sebab itulah beberapa sahabat terpaksa kami tinggalkan menunggu di bawah sana.”

Cu Lui-ji mendengus, “Hm, tentunya kau kira melulu kalian berempat saja sudah lebih dari pada cukup untuk menghadapi kami bukan? Atau, kalian kuatir kami akan lari, maka lebih dulu begundal kalian telah diatur menjaga di sekitar tempat ini?”

Ji Hong-ho tidak menjadi marah, dengan tak acuh dia menjawab, “Nona memang pintar bicara, tapi kalau nona mengira dengan kata2 yang tajam dapat kau bikin jeri kami, maka salahlah kau. Coba pikirkan, dengan tokoh2 besar seperti Lo-cinjin dan Hay-hong Hujin ini, apakah kedua beliau ini sudi bertengkar mulut dengan seorang nona cilik hanya untuk kepuasan seketika saja?”

“Tapi kenapa sekarang kau sendiri bertengkar mulut denganku?” jawab Lui-ji. “Memangnya karena kau merasa harga diri dan kedudukanmu lebih rendah?”

Ji Hong-ho jadi melengak dan mendongkol. Ia pikir kalau adu mulut dengan seorang anak dara hanya akan menurunkan pamornya sendiri saja, terpaksa ia berlagak tak mendengar olok2 Cu Lui-ji. Ia berdehem, lalu berkata terhadap Hong Sam,

“Maksud kedatangan kami ini, kukira Hong-locianpwe tentunya sudah tahu.”

“Oo!” demikian Hong Sam Sianseng hanya bersuara seperti orang ingin tahu.

Ji Pwe-giok juga berdiri tenang dan mendengarkan di samping.

Lalu Ji Hong-ho menyambung ucapannya, “Tentunya Hong-locianpwe juga tahu bahwa orang yang kami cari dan akan kami ambil ialah nona Cu ini.”

“Ooo?” kembali Hong Sam bersuara seperti keheranan.

Maka Ji Hong-ho melanjutkan lagi, “Soalnya nona Cu ini beberapa tahun akhir2 ini sudah berbuat berbagai urusan yang menimbulkan rasa ketidak-puasan para kawan Kangouw. Dalam kedudukanku sebagai Bengcu, terpaksa aku memenuhi permintaan orang banyak dan secara sembrono berkunjung kemari demi mencari keadilan. Dalam hal ini, asalkan Hong Locianpwe dapat memakluminya dan membiarkan kami membawa pergi nona Cu ini, maka Cayhe akan menjamin persoalan ini pasti akan aku selesaikan secara adil dan jujur, bahkan pasti tak akan mengganggu ketenangan Hong-locianpwe yang perlu tetirah lebih lama lagi.”

“Ooo?!” lagi2 Hong Sam hanya bersuara singkat saja.

Berturut-turut ia bersuara ‘O’ tiga kali tanpa memberi reaksi sedikit pun. Hal ini membuat Ji Hong-ho malah jadi melengak, sebab ia tidak tahu apa artinya ‘O’ itu, apakah setuju dan menerima dengan baik atau menolak permintaannya?”

Sampai sekian lama baru terdengar Hong Sam Sianseng menghela nafas panjang, lalu berkata, “Bahwa kau berani datang kepada orang she Hong ini untuk mengambil orang, sungguh nyalimu tergolong tidak kecil.”

Ji Hong-ho tertawa hambar, lalu ucapnya, “Ini disebabkan Hong Sam Sianseng sekarang sudah bukan lagi Hong Sam Sianseng di masa dahulu.”

Hong Sam tidak menjadi marah. Tiba2 sorot matanya beralih ke arah Lo-cinjin, katanya, “Yang bicara adalah dia, tapi yang akan bertempur mungkin ialah dirimu, begitu bukan?”

Lo-cinjin bergelak tertawa, jawabnya, “Ha-ha-ha-ha! Memang betul, walau pun Hong Sam sekarang sudah bukan lagi Hong Sam dahulu, tapi siapa pun juga, kecuali diriku, mungkin belum juga ada orang yang mampu melawan kau.”

“He-he-he, bagus,” jengek Hong Sam Sianseng. “Site (adik ke empat, maksudnya Ji Pwe-giok), bolehlah kau maju bergebrak dengan dia.”

Pwe-giok mengiakan terus melompat maju, ucapnya sambil memberi hormat kepada Lo-cinjin. “Silakan Totiang memberi petunjuk beberapa jurus.”

Bahwa yang ditantang ialah Hong Sam Sianseng tetapi dia tidak maju sendiri, juga bukan Cu Lui-ji yang maju melainkan Ji Pwe-giok yang diajukan sebagai jagonya, hal ini benar2 di luar dugaan siapa pun juga. Baik Lo-cinjin, Ji Hong-ho, Ang-lian-hoa mau pun Kun Hay-hong sama melenggong bingung.

Segera Lo-cinjin berteriak dengan gusar, “Busyet! Masa kau suruh aku bergebrak dengan bocah yang masih berbau pupuk ini. Memangnya apa maksudmu sebenarnya?”

“Masa maksudnya tidak kau pahami?” tanya Cu Lui-ji dengan perlahan.

“Ya, aku justru tidak paham!” teriak Lo-cinjin.

“Rupanya tidak cuma badanmu saja yang kerdil, tapi otakmu juga kerdil,” demikian Lui-ji ber-olok2. “Soalnya hanya dengan sedikit kemahiranmu ini lantas ingin bergebrak dengan Sacek sendiri, maka kau masih ketinggalan sangat jauh. Kelak kalau kejadian ini tersiar, bukankah di dunia Kangouw akan ramai orang bilang Sacek hanya mampu mengalahkan seorang kecil macam kau.”

Seketika Lo-cinjin berjingkrak pula, kembali ia meraung gusar, “Tetapi mengapa aku juga disuruh bergebrak dengan anak ingusan ini? Sedangkan mengalahkan muridku saja dia tidak mampu...”

“Hm, berdasarkan apa kau berani meremehkan dia?” jengek Hong Sam Sianseng. “Andai kata Hong Sam sekarang bukan lagi Hong Sam dahulu, akan tetapi Ji Pwe-giok sekarang jelas juga bukan Ji Pwe-giok pada waktu yang lalu.”

Sinar mata Ji Hong-ho tampak gemerdep, tiba-tiba ia berkata, “Jika demikian, jadi urusan hari ini cukup diandalkan padanya dan segala persoalannya akan diputuskan berdasarkan pertempurannya ini?”

“Ya, begitulah!” jawab Hong Sam Sianseng dengan tegas.

“Dan kalau dia kalah, lalu bagaimana?” tanya Ji Hong-ho.

“Bila Sicek (paman ke empat) kalah, segera aku ikut pergi bersama kalian dan terserah akan diapakan oleh kalian!” seru Lui-ji lantang.

“Apakah ucapan ini dapat dipercaya?” tanya Ji Hong-ho pula.

“Hm, orang semacam kau juga berani menyangsikan kepercayaanku?” jengek Hong Sam Sianseng.

Terunjuklah rasa kegirangan pada sinar mata Ji Hong-ho, maka cepat dia berseru, “Jika demikian, ayolah Totiang, lekas turun tangan, mau tunggu kapan lagi?”

“Kau juga menyuruh aku bergebrak dengan anak kemarin sore ini?” raung Lo-cinjin.

Dengan tersenyum Ji Hong-ho menjawab, “Tetapi Ji-Kongcu ini sekarang sudah menjadi saudara Hong Sam Sianseng, bila Totiang bergebrak dengan dia kan tidak bisa dianggap orang tua melabrak anak muda lagi?”

“Betul,” tukas Hay-hong Hujin, “jika saudara Hong Sam Sianseng yang bergebrak dengan Totiang, apa pun juga tak dapat dikatakan telah menurunkan derajat Totiang.”

“Akan tetapi bagaimana dengan janji pihak kalian bila mana ternyata Totiang kalian yang kalah?” tanya Lui-ji tiba2.

Kembali Lo-cinjin berjingkrak, teriaknya dengan hati gemas, “Kalau aku kalah, segera aku menyembah padanya dan memanggilnya Suhu!”

“Wah-wah, untuk ini kukira tidak perlu,” kata Lui-ji dengan tertawa. “Jika Sicek menerima seorang murid yang setiap hari senantiasa marah2 saja seperti dirimu ini, bisa jadi kepala Sicek akan pusing tujuh keliling.”

Lo-cinjin meraung pula dengan gusar, “Dalam 50 jurus, bila mana tidak dapat kurobohkan dia, seketika juga aku angkat kaki dari sini.”

Sebenarnya dia masih enggan untuk bertarung dengan Pwe-giok yang dianggapnya tidak sepadan. Tetapi sekarang dia sudah benar2 murka sehingga berubah menjadi tidak boleh tidak harus bertarung melawan Pwe-giok. Kini tiada seorang pun yang dapat mencegah akan niatnya itu.

Dengan tertawa Lui-ji menjawab, “Jangankan cuma 50 jurus... jadikan saja 500 jurus juga belum tentu ujung baju Sicek dapat kau sentuh. Tapi, meski demikian pernyataanmu, lalu bagaimana pula dengan begundalmu itu?”

“Baiklah, kalau begitu jadi 500 jurus,” kata Ji Hong-ho dengan tersenyum. “Bila dalam 500 jurus itu Lo-cinjin tidak dapat mengalahkan Ji-kongcu ini, seketika juga kami akan angkat kaki dari sini dan takkan mengganggu gugat padamu lagi.”

“Apakah pernyataan dia itu juga mewakili kau?” tanya Lui-ji sambil memandang Hay-hong Hujin.

“Ji-kongcu adalah sahabatku, yang kuharap semoga Lo-cinjin hanya merobohkannya saja tanpa melukainya,” ucap Hay-hong Hujin dengan tersenyum.

“Dan kau?” tanya Lui-ji terhadap Ang-lian-hoa.

Sinar mata Ang-lian-hoa tampak guram, siapa pun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ketua Kay-pang ini. Dia hanya menjawab dengan dingin, “Setuju!”

Semua orang, termasuk Ang-lian-hoa, siapa pun tidak percaya bahwa Ji Pwe-giok mampu melawan Lo-cinjin hingga 500 jurus. Sebab mereka sudah sama menyaksikan kepandaian Pwe-giok. Kalau anak muda itu mampu melawan Sip-hun hingga 500 jurus, hal ini boleh dikatakan cukup hebat, tetapi kalau sekarang dia sanggup menahan 50 kali serangan Lo-cinjin, maka hal ini benar2 suatu keajaiban.

“Jika sudah diputuskan begini, jadi semua orang sudah setuju, tiada orang lain lagi yang bakal rewel?” demikian Lui-ji menegas.

“Siapa yang berani rewel?” Lo-cinjin meraung pula. “Kalau ada yang berani rewel, segera kupuntir kepalanya di sini juga.” Dia seperti tak sabar lagi, segera ia berteriak pula, “Nah, bocah she Ji, ayolah mulai serang dulu, aku akan mengalah tiga jurus padamu.”

Sejak tadi Pwe-giok diam2 saja tanpa memberi komentar.

Ia tahu tugas yang dipikulnya sekarang maha berat, sesungguhnya dia sangat tegang dan rada kebat-kebit, tapi ketika benar2 sudah berhadapan dengan Lo-cinjin, rasa tegangnya lantas mulai kendur.

Diam-diam ia berkata kepada dirinya sendiri, “Sabarlah! Apa pun juga Lo-cinjin juga cuma seorang manusia belaka, kenapa aku harus jeri kepadanya?”

Karena sedang memikirkan dirinya sendiri, apa yang dipercakapkan orang lain tiada satu kata pun diperhatikannya, apa yang diperbuat orang lain juga sama sekali tidak dilihatnya. Perhatiannya kini sudah tercurahkan seluruhnya ke tubuh Lo-cinjin saja.

Tiba2 dia melihat kedua mata Lo-cinjin, kedua alisnya dan kedua tangannya tidak sama rata besarnya, yang sebelah kanan lebih kecil sedikit dari pada yang sebelah kiri. Pada lubang hidungnya kelihatan menongol tiga utas rambut hitam yang sangat kasar, rambut hidung itu terlampau panjang hingga ber-getar2 di atas bibir. Pada leher bajunya di depan dada ada sebagian tergores robek sehingga kelihatan baju dalamnya yang putih.

Kemudian diketahui pula kelopak mata kiri Lo-cinjin sedang me-lonjak2, mungkin sedang kedutan, ujung mulutnya juga ber-kerut2 seperti orang kejang. Kelima jari tangan kanan juga sama bergemetar, tapi jari tangan kiri terjulur kaku lurus.

Apa yang dilihat Pwe-giok itu sebenarnya sedikit pun tidak menarik perhatian orang, akan tetapi dalam keadaan perhatian Pwe-giok lagi dipusatkan kepada Lo-cinjin seorang saja, setiap ciri yang paling kecil, tiba2 berubah menjadi begitu jelas dan begitu nyata baginya.

Selamanya belum pernah Pwe-giok memperhatikan seseorang dengan demikian cermat, selamanya pula tak pernah terpikir olehnya akan bisa melihat keadaan seseorang dengan sedemikian jelas.

Ia masih terus memandangnya, sampai akhirnya hidung Lo-cinjin itu bagi pandangannya itu seolah2 sudah berubah menjadi sebesar mangkuk, berapa banyak pori2 di atas hidung orang rasanya seperti dapat dilihatnya dengan jelas.

Lo-cinjin sedang berteriak dan meraung, akan tetapi Pwe-giok seperti tak mendengarnya. Sudah dua kali Lo-cinjin mendesaknya agar anak muda itu lekas mulai, namun dia masih tetap berdiri tenang seperti orang linglung, sedikit pun tidak bergerak.

Semua orang menjadi heran, ada yang berpikir, “Jangan-jangan anak muda ini menjadi ketakutan dan kesima.”

Tanpa terasa tersembul senyuman girang pada ujung mulut Ji Hong-ho.

Lo-cinjin tidak sabar lagi, kembali ia berjingkrak dan meraung, “He, apakah kau...”

Di luar dugaan, sekali ini baru saja kakinya melonjak dan suaranya baru saja bergema, Ji Pwe-giok yang kelihatannya linglung seperti patung itu mendadak melompat maju secepat terbang. Secepat kilat telapak tangannya juga lantas menabas ke dengkul Lo-cinjin.

Hendaklah dipahami bahwa tokoh besar seperti Lo-cinjin ini, kungfu-nya boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan yang terlebur menjadi satu dengan jiwa raganya. Pada waktu biasa, setiap gerak geriknya, sengaja atau tidak sengaja selalu bertindak sesuai dengan kungfu-nya.

Seperti halnya seorang penari mahir, setiap gerak geriknya pada waktu biasa juga pasti bergaya jauh lebih indah dari pada orang lain. Sebab itulah, meski Lo-cinjin tampaknya berdiri seenaknya, namun seluruh tubuh se-akan2 juga senantiasa terjaga rapat dan tiada setitik lubang pun untuk diserang.

Akan tetapi, tidak peduli siapa pun juga, apa bila sedang marah, selagi berjingkrak seperti orang kebakaran jenggot, maka setiap gerakannya tentu juga rada teledor, apa lagi kalau kedua kaki telah terapung di udara tapi bukan sedang menendang lawan, maka di bagian bawah pasti akan memperlihatkan ciri kelemahan.

Dengan memusatkan seluruh perhatiannya mengamati lawan, tujuan Pwe-giok justru ingin mencari titik kelemahan Lo-cinjin. Maka begitu lawan menunjukkan kelemahan di bagian bawahnya, serentak dia melesat maju, tebasan telapak tangannya justru menyerang titik yang terlemah di tubuh lawan pada saat itu, bagian yang hampir tak terjaga sama sekali.

Tentu saja Lo-cinjin terkejut, perawakannya yang kurus kecil itu se-konyong2 berputar di udara, sekaligus kaki dan tangannya balas menyerang Pwe-giok.

Gerakan mengelak sambil balas menyerang atau menyerang untuk menyelamatkan diri ini ternyata tindakan yang tepat dan hebat. Di sini terbukti bahwa Lo-cinjin memang tak malu disebut sebagai tokoh kelas top pada jaman ini, sekali pun menghadapi bahaya tetap tidak bingung.

Pada saat itulah Cu Lui-ji lantas menjengek, “Huh, mau mengalah tiga jurus? Hm...!”

Seperti diketahui, tadi Lo-cinjin menyatakan hendak memberi tiga jurus kepada Pwe-giok. Tapi sekarang dia bukan cuma mengelak saja, tetapi balas menyerang, dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai jurus mengalah.

Mendadak terdengar Lo-cinjin bersuit panjang, di tengah suara suitan nyaring itu tahu-tahu tubuhnya sudah menyurut mundur ke belakang. Padahal tangan beserta kakinya sedang menyerang ke depan, tapi mendadak tubuhnya dapat menyurut mundur dalam keadaan terapung, kelihatannya jadi seperti ada orang menariknya dari belakang.

Bila kejadian ini dilihat orang biasa, mungkin akan menyangka Tojin kecil itu mahir ilmu gaib atau sedang main sulap. Tetapi yang sekarang hadir di atas loteng ini hampir boleh dikatakan seluruhnya terdiri dari jago-jago silat kelas satu, semuanya dapat melihat suara suitan Lo-cinjin tadi bukannya tidak ada gunanya.

Dengan bersuit itulah Lo-cinjin mengerahkan hawa murni di dalam tubuhnya dan kemudian dipancarkannya. Karena pancaran hawa murni inilah tubuhnya lantas tertolak mundur.

Soal sebab apa pancaran hawa itu dapat membuat orang berbalik terdorong ke belakang, teori ini dengan sendirinya belum dapat dimengerti orang pada jaman itu. tetapi di sini pula setiap orang dapat menyaksikan betapa hebat khikang (ilmu mengerahkan hawa di dalam perut) Lo-cinjin.

Sampai2 Ang-lian-hoa yang tidak suka sembarangan memuji orang, tanpa terasa dia pun berseru, “Khikang yang hebat!”

Ji Hong-ho tersenyum puas dan bangga, tanyanya pada Ang-lian-hoa, “Menurut pendapat Pangcu, Ji-kongcu ini kira2 mampu menahan berapa jurus serangan Cinjin?”

Wajah Ang-lian-hoa membayangkan perasaan sayang dan menyesal, jawabnya sesudah berpikir sejenak, “Kukira paling banyak hanya antara seratus jurus saja.”

Ji Hong-ho lantas berpaling ke arah Hay-hong Hujin dan bertanya sambil tersenyum, “Dan bagaimana pandangan Hujin?”

“Pandangan Ang-lian-pangcu maha tajam, masakah pendapatnya bisa keliru?” ujar Hay-hong Hujin dengan tersenyum.

Sejak awal hingga kini Hay-hong Hujin dan Ang-lian-hoa-sama sekali tidak memandang barang sekejap pun ke arah Kwe Pian-sian, seakan-akan di pojok sana hakekatnya tidak terdapat sesuatu, apa lagi ada orang bersembunyi di situ.

Tentu saja diam2 Kwe Pian-sian bergirang karena jejaknya tidak diperhatikan lawan yang ditakuti itu. Namun sekarang, begitu mendengar ucapan mereka, seketika hatinya cemas. Pikirnya, “Luas loteng ini hanya sejengkal, sekali pun aku bersembunyi di sudut segelap ini, dengan ketajaman mata mereka mustahil tak dapat melihat diriku? Jelas mereka yakin benar2 tiada seorang pun di atas loteng ini yang mampu lolos, makanya mereka sengaja berlagak tak acuh terhadapku.”

Berpikir demikian, seketika keringat dingin membasahi tubuhnya.

Dalam pada itu Lo-cinjin benar-benar telah mengalah tiga jurus kepada Pwe-giok, dan kini dia sudah mulai melancarkan serangan balasan. Gaya serangannya tiada memperlihatkan sesuatu tipu istimewa atau gerakan yang luar biasa, tampaknya tidaklah sesuai dengan nama kebesarannya. Akan tetapi setelah belasan jurus daya tekanannya mulai kelihatan hebatnya, serangannya tambah mantap dan berat.

Gaya serangannya memang tiada sesuatu perubahan yang istimewa dan mengherankan, tetapi antara jurus serangan yang satu dengan serangan berikutnya terpadu sedemikian rapatnya, terkadang antara dua jurus kelihatan berlawanan, gerak tangan dan arah yang dituju jelas berbeda. Bila orang lain yang memainkan dua jurus serangan demikian pasti akan kerepotan atau kalau bisa tentu juga sangat dipaksakan, tapi bagi Lo-cinjin ternyata dapat dimainkan dengan sangat lancar dan serasi, se-olah2 jurus yang satu dengan jurus lain memang sambung menyambung.

Semula Cu Lui-ji rada meremehkan Tojin kerdil ini, diam2 ia melengak lagi, “Hm, rupanya Lo-cinjin yang termashur juga cuma begini saja kemampuannya.”

Tetapi setelah mengikuti beberapa jurus lagi, mau tak mau perasaannya mulai tertekan.

Gerak serangan Lo-cinjin yang kelihatannya lumrah saja itu, makin dipandang makin lihay dan makin menakutkan. Serangannya tidak banyak variasinya, jika menghantam ya hanya menghantam begitu saja seperti sebuah martil besar atau sebuah kapak raksasa, namun serangan demi serangan susul menyusul, sambung menyambung tanpa putus.

Melihat gencarnya serangan Lo-cinjin itu, para penonton saja merasa tegang bukan main sehingga bernapas pun hampir-hampir tidak sempat, apa lagi Ji Pwe-giok yang langsung menghadapi serangan dahsyat itu.

Dalam cemasnya Cu Lui-ji coba memandang Hong Sam Sianseng sekejap, meski pun di mulut tidak bersuara, namun sorot matanya tiada ubahnya seperti ingin bertanya, “Apakah Sacek yakin jago kita akan sanggup menahan 300 jurus serangan lawan?”

Tanpa terduga-duga Hong Sam Sianseng malah terus memejamkan matanya. Terhadap pertarungan mati2an, pertarungan yang menyangkut mati atau hidup, pertarungan yang menyangkut hina atau jaya namanya itu, sama sekali ia tidak menghiraukan lagi.

Hanya sekejap saja 30 jurus lebih sudah berlangsung, dan setiap jurus serangan Lo-cinjin semakin dahsyat dan tambah lihay. Tampaknya Pwe-giok hanya mandah diserang saja, sampai2 tenaga untuk balas menyerang saja sudah tidak ada lagi.

Begitu berat rasanya Pwe-giok menghadapi lawannya terbukti dari sikapnya yang terlihat prihatin. Setiap kali dia hendak bergerak, tampaknya kudu berpikir lebih dahulu. Padahal pertarungan antara tokoh silat kelas tinggi mana ada kesempatan baginya untuk berpikir segala.

Maka sesudah mendekati 50 jurus, unggul dan asor atau kalah dan menang tampaknya telah jelas, sudah pasti. Semua orang yakin sekali, apa bila Ji Pwe-giok mampu bertahan sampai 100 jurus lebih, maka hal ini pun sudah terhitung ajaib.

Tiba2 terdengar Ji Hong-ho berkata dengan tertawa, “Ha-ha-ha, pertarungan sebagus ini, sungguh jarang ditemui selama ratusan tahun ini. Kalau tontonan menarik ini di-sia2kan, sungguh terasa sangat sayang.”

Dengan tersenyum Sip-hun lantas menanggapi, “Kalau demikian, biarlah Tecu mengerek semua kerai jendela loteng ini agar setiap orang dapat ikut menyaksikannya, boleh?”

“Hah, bagus sekali usulmu!” seru Ji Hong-ho sambil bergelak.

Tanpa menunggu perintah lagi, terus saja Sip-hun melipat semua kerai jendela.

Suara angin di luar masih men-deru2 dan menyeramkan, malam tambah kelam, bumi dan langit se-olah2 penuh diliputi oleh suasana ketegangan.

Di atas wuwungan rumah di sekeliling loteng kecil itu ternyata sudah penuh ditongkrongi orang, semua ingin menonton pertarungan menarik ini meski harus menahan dinginnya udara malam. Dan begitu kerai jendela dikerek, seketika orang yang menongkrong di atas wuwungan rumah itu bertambah banyak.

Tadi Kwe Pian-sian berniat kabur pada waktu keadaan kemelut, tapi sekarang barulah ia sadar biar pun mendadak dia tumbuh sayap juga jangan harap akan dapat mabur.

Kwe Pian-sian menghela napas, dia tahu tak ada gunanya lagi main sembunyi-sembunyi. Sekalian dia cepat berdiri, lantas mengangguk perlahan terhadap Hay-hong Hujin dengan tersenyum, sikapnya seolah kejut, heran dan juga girang, seperti kekasih yang mendadak berjumpa kembali setelah berpisah sekian tahun lamanya. Bedanya cuma dia tidak terus berlari maju dan merangkul atau memegang tangannya untuk menyatakan rasa rindunya selama berpisah itu.

Namun Hay-hong Hujin tetap tidak memandangnya barang sekejap pun, seakan-akan di situ tiada terdapat seorang macam Kwe Pian-sian. Sebaliknya ia malah berkata terhadap Ji Hong-ho dengan tersenyum, “Ada satu hal yang sangat mengherankan aku.”

“Hujin mengherankan hal apa?” tanya Ji Hong-ho.

“Coba Bengcu memberi komentar, bagaimana daya pukulan Lo-cinjin kalau dibandingkan mendiang Thian-kang Totiang?” tanya Hay-hong Hujin.

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya, “Ilmu sakti Kun-lun-pay tiada bandingnya. Betapa hebat kekuatan ilmu pukulan Thian-kang Totiang bahkan sudah semenjak lama dikagumi oleh sesama rekan dunia persilatan, cuma...”

“Cuma kalau dibandingkan Lo-cinjin masih selisih satu tingkat, begitu bukan?” tukas Hay-hong Hujin.

Ji Hong-ho hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Diam tanpa menyangkal berarti telah membenarkan.

Maka Hay-hong Hujin berkata lagi, “Belasan tahun yang lalu aku ikut almarhum guruku ke Kun-lun-san, kebetulan menyaksikan Thian-kang Totiang tengah bergebrak dengan orang, lawannya seperti seorang Lama dari benua barat, kekuatannya juga sangat mengejutkan.”

“Mungkin itulah Ang-hun Lama, satu di antara tiga tokoh Lama besar yang terkenal, orang ini telah lama bermusuhan dengan Kun-lun-pay, bukan cuma satu kali saja dia menyatroni Kun-lun-san.”

“Waktu itu jarak berdiri kami dengan kalangan pertempuran mereka sedikitnya ada tujuh atau delapan tombak, akan tetapi setiap kali Thian-kang Totiang menyerang, dengan jelas kulit muka terasa perih oleh sambaran angin pukulannya, bahkan ujung baju juga sama tergetar dan berkibar. Tapi sekarang Lo-cinjin bertempur di depan kita dalam jarak sedekat ini, mengapa sedikit pun tidak kurasakan tenaga pukulannya.”

“Hal ini disebabkan Lo-cinjin sudah dapat menguasai tenaga pukulannya dengan sesuka hati, setiap kali dia memukul, tenaga pukulannya hanya terpusat pada Ji-kongcu seorang saja, sedikit pun tidak terbuang ke tempat lain, dan bila serangannya tidak kena sasaran, segera ia menarik kembali tenaga pukulannya, sebab itulah beban yang harus dihadapi Ji-kongcu cukup berat,” setelah tertawa, lalu Ji Hong-ho menyambung, “Kalau tidak begitu, bukan cuma kau dan diriku, bahkan seluruh loteng kecil ini mungkin sudah tergetar runtuh sejak tadi.”

Hay-hong Hujin menghela napas, ucapnya dengan perlahan, “Untung aku bukan Ji Pwe-giok, kukira saat ini dia tentu sangat tidak enak.”

“Hm, juga belum tentu tidak enak sebagaimana dugaanmu,” jengek Cu Lui-ji.

“He, kau tahu? Dari mana kau tahu?” tanya Hay-hong Hujin dengan tertawa.

Akan tetapi Cu Lui-ji tidak menggubrisnya lagi, dia sibuk bergumam dan menghitung jurus pertempuran mereka, “Sembilan puluh... sembilan satu... sembilan dua...”

Cara menghitungnya sesungguhnya terlalu cepat, padahal sampai saat itu antara Lo-cinjin dan Ji Pwe-giok paling-paling baru bergebrak delapan puluh jurus. Akan tetapi rombongan Ji Hong-ho sudah yakin Pwe-giok pasti tidak sanggup bertahan sampai 300 jurus, sebab itulah tiada orang yang peduli cara berhitung Lui-ji itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner