RENJANA PENDEKAR : JILID-48


Saat mana Pwe-giok sudah mirip sebuah paku, yang meski terus menerus dihantam oleh sebuah palu raksasa, tapi bila palu itu ingin membuat bengkok pakunya juga tidak terlalu gampang.

Tiba-tiba Pwe-giok merasakan daya serang Lo-cinjin itu meski hebat namun ternyata tidak terlalu mendesak, terkadang bila dia menghadapi serangan berbahaya dan seketika sukar menemukan cara untuk mematahkannya, Lo-cinjin justru berbalik seperti sengaja hendak memberi kelonggaran padanya dan memberi waktu berpikir baginya.

Hal ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Pwe-giok, caranya menyerang atau menangkis sengaja lebih diperlambat.

Sebaliknya Cu Lui-ji yang menghitung jumlah gebrakan mereka malah bertambah cepat menghitung, berturut-turut ia berseru, “Seratus satu, seratus dua, seratus tiga...”

Ji Hong-ho memandang Ang-lian-hoa sekejap, ucapnya dengan tersenyum, “Seratus jurus sudah lalu, tak nyana dia masih sanggup bertahan.”

“Ya, sungguh tak tersangka,” jawab Ang-lian-hoa dengan tak acuh.

Tiba-tiba Sip-hun berkata, “Tenaga dalam Ji-kongcu ini tampaknya mendadak bertambah lipat ganda, betul tidak?”

“Ya,” jawab Ang-lian-hoa.

“Tenaga dalam seorang dapat bertambah sebanyak ini hanya dalam waktu setengah hari ini, hal ini benar-benar sukar untuk dimengerti,” ujar Sip-hun dengan gegetun.

Ji Hong-ho tersenyum, katanya, “Tapi Toheng tak perlu kuatir, biar pun tenaga dalamnya lebih kuat lagi juga tetap tidak mampu menahan seratus jurus serangan gurumu.”

“Tapi saat ini seratus jurus kan sudah lebih?” ujar Sip-hun.

“Ahh, hal itu disebabkan gurumu sengaja hendak mengetahui tinggi-rendah dan asal-usul ilmu silat lawan saja,” kata Ji Hong-ho. “Kalau tidak, pada jurus ke-86 tadi jelas Ji-kongcu sudah tidak sanggup bertahan lagi. Betul tidak?”

Ucapannya itu ditujukan kepada Sip-hun, tapi suaranya itu justru diperkeras seakan-akan kuatir tidak terdengar oleh Lo-cinjin.

Benar saja, Lo-cinjin langsung tertawa dan berkata, “Betul, aku memang ingin tahu kungfu hebat apa yang diajarkan Hong Sam kepada bocah ini. Tetapi sekarang rasanya sudah cukup bagiku!”

Di tengah suara gelak tertawanya itu mendadak ia pergencar serangannya.

Tapi tanpa terduga setiap serangannya selalu dapat dipatahkan oleh Pwe-giok, bila lawan bergerak dan menyerang cepat, maka ia pun ikut cepat.

Hendaklah maklum, sekali pun Ji Pwe-giok amat pintar dan cerdik, walau pun Hong Sam Sianseng juga tidak sayang mengajarkan segenap kungfu-nya, tetapi dalam waktu singkat yang cuma setengah hari itu apa yang dapat dipahaminya tentu juga sangat terbatas dan tidak banyak.

Sebab itulah jurus serangan yang digunakannya untuk melawan Lo-cinjin ini kebanyakan merupakan ciptaannya sendiri secara darurat dan karena itu pula gerak-geriknya dengan sendirinya tidak leluasa.

Tetapi sesudah lewat seratus jurus, tiba-tiba kecerdasannya tambah meningkat, kini jurus serangan baru ciptaannya sudah bertambah banyak, gerak perubahan jurus serangannya juga tambah hapal. Hal ini serupa main catur dengan orang yang ahli, biar pun baru mulai belajar, lama-lama tentu juga akan terdesak hingga mendapatkan ilham, lalu tanpa terasa akan memainkan beberapa langkah ajaib yang sama sekali tidak disadarinya. Dan jurus serangan ciptaan Pwe-giok sekarang juga timbul lantaran terdesak dan terpaksa.

Dalam pada itu Cu Lui-ji masih terus menghitung, “Seratus enam puluh satu, enam dua, satu enam tiga...”

Tiba-tiba Ji Hong-ho tertawa, katanya, “Ahh, apakah hitungan nona tidak salah? Sampai saat ini kan baru jurus ke 153 saja?”

Tadinya dia menganggap tidak menjadi soal meski nona cilik itu menghitung lebih cepat beberapa jurus, tetapi sekarang sesudah menyaksikan ketahanan Ji Pwe-giok yang luar biasa, bahkan jurus serangannya yang baru bertambah lihay, akhirnya ia tidak tahan dan menyatakan keberatannya terhadap cara hitung Cu Lui-ji.

Lui-ji tertawa terkikik-kikik, lkatanya, “Bukankah kalian penuh keyakinan akan menang? Kenapa sekarang kau pun mulai berkuatir...? Satu enam tujuh, satu enam delapan... satu enam sembilan...” begitulah Lui-ji masih terus menghitung dengan caranya sendiri, cara bagaimana orang memprotesnya sama sekali tak dihiraukannya.

“Ya, kalau nona tetap menghitung cara demikian juga tidak berhalangan, hanya saja nanti harus dipotong delapan jurus,” ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.

Mendadak Lo-cinjin meraung gusar, “Biar pun dia menghitung lebih banyak delapan jurus juga tidak menjadi soal, memangnya dia ini sanggup menyambut 300 jurus seranganku?” Sambil menggerung, suatu pukulan dahsyat terus dilontarkan.

“Nah, kalian telah dengar sendiri, jago kalian menyatakan cukup 300 jurus saja akan bisa mengalahkan Sicek,” seru Lui-ji dengan tertawa. Lalu dia terus menghitung, “Satu tujuh puluh...”

Dalam pada itu Pwe-giok telah membuat sebuah lingkaran dan dia berhasil mematahkan hantaman dahsyat lawan. Akan tetapi, biar pun serangan lawan sudah dipatahkan, namun tenaga pukulan lawan yang maha dahsyat itu masih terus menindihnya.

“Blang!” tahu-tahu papan loteng berlubang, Ji Pwe-giok benar-benar seperti sebuah paku, langsung diketok ambles ke bawah melalui lubang itu.

Saat itu Lui-ji baru menghitung sampai, “Satu tujuh satu...” dan karena terkejut, seketika hitungannya terhenti.

Ji Hong-ho tertawa senang, katanya, “Biar pun Ji-kongcu kalah, tapi dia mampu menahan ratusan jurus serangan Lo-cinjin, betapa pun dia memang hebat.”

“Apa? Kalah? Siapa bilang Sicek kalah?” tanya Lui-ji dengan melotot.

“Hah, semua orang menyaksikan dengan jelas, masakah ini belum terhitung kalah?” ujar Ji Hong-ho dengan tertawa.

Belum lagi Lui-ji menanggapi, sekonyong-konyong terdengar suara “blang” pula, tahu-tahu Pwe-giok sudah muncul kembali dengan menerobos lubang papan loteng tadi. Menyusul sebelah tangannya lantas menghantam ke arah Lo-cinjin.

“Ha-ha-ha-ha! Apa yang kau lihat sekarang? Jelas bukan?” seru Lui-ji sambil berkeplok tertawa. “Yang pecah adalah papan loteng dan bukan perut Sicek-ku, masa kau anggap Sicek sudah kalah? Ha-ha-ha, sungguh lucu! Jika papan loteng berlubang lantas dianggap kalah, sekarang juga dapat kulubangi papan loteng ini tiga puluh lubang sekaligus.”

Dan tanpa menunggu jawaban Ji Hong-ho ia terus menyambung hitungannya, “Satu tujuh sembilan, satu delapan puluh, satu delapan satu...”

Sekali ini hitungannya tidak lebih banyak lagi dari pada gebrakan yang sebenarnya, sebab pada waktu dia bicara tadi antara Lo-cinjin dan Ji Pwe-giok sudah bergebrak delapan kali..

Ji Hong-ho jadi bungkam dan tidak dapat menyangkal. Ia tersenyum, katanya kemudian, “Ji-kongcu, papan loteng ini telah menyelamatkan jiwamu, hendaknya jangan kau lupakan hal ini.”

Pwe-giok dapat menerima ucapan lawan itu, ia sendiri tahu bila mana tadi papan loteng itu tidak jebol, tentu dia akan dirobohkan oleh tenaga pukulan Lo-cinjin yang maha dahsyat itu. Kalau melulu mereka berdua yang bertanding, dengan sendirinya dia harus menyerah kalah secara jujur.

Akan tetapi pertarungan ini justru menyangkut pula keselamatan orang lain, mau tak mau Pwe-giok harus melanjutkan pertandingan ini, apa pun yang diucapkan Ji Hong-ho hanya dianggapnya sebagai angin lalu saja dan pura-pura tidak mendengar.

Setelah lewat dua-tiga puluh gebrakan lagi, kini senyuman yang menghiasi wajah Ji Hong-ho sudah tidak nampak lagi, agaknya dia pun melihat betapa tangkasnya Ji Pwe-giok dan sukar dijajaki.

Angin pukulan makin menderu, bayangan orang berkelebat. Di sekeliling loteng kecil yang penuh kerumunan penonton itu ramai orang berbisik-bisik membicarakan pertandingan yang dahsyat ini. Terdengar ada yang sedang berkata,

“Sekarang dua ratus jurus sudah berlalu, apakah kau kira anak muda itu mampu bertahan seratus jurus lagi?”

“Hal ini sukar dipastikan.” jawab seorang lain.

“Sungguh tak terduga bocah ini ternyata seorang yang tahan gebuk,” demikian sambung seorang lagi. “Pada waktu mulai tadi, tampaknya dia sangat lemah, mungkin sepuluh jurus saja tidak tahan, tapi makin bergebrak semakin tangkas, sekarang malah kelihatan penuh bersemangat.”

Mendadak Lo-cinjin berjingkrak murka dan meraung, “Kalian semuanya tutup bacot! Jika ada yang berani kentut lagi, seketika juga kumampuskan dia!”

Karena bentakan ini, suara bisik-bisik itu serentak cep-klakep, semuanya diam, tiada yang berani buka mulut lagi. Namun di dalam hati setiap orang cukup maklum bahwa Lo-cinjin sendiri sekarang juga mulai gopoh.

Dalam pada itu suara hitungan Cu Lui-ji bertambah lantang, “Dua ratus sebelas, dua ratus dua belas... dua ratus tiga belas...”

Mencorong juga sinar mata Kwe Pian-sian menyaksikan pertandingan hebat itu.

Hanya Pwe-giok saja yang tahu keadaannya sendiri, hatinya terasa mulai tenggelam... Tiba-tiba dia merasa dirinya tidak sanggup bertahan lagi, mungkin 30 jurus saja tidak kuat bertahan pula.

Pada saat itulah tiba-tiba Hong Sam Sianseng membuka matanya, wajahnya yang sejak tadi selalu tenang itu menampilkan juga setitik rasa cemas, hanya dia dan Ji Pwe-giok saja yang tahu bahwa tenaga dalam yang dipinjamkan kepada Pwe-giok itu sudah hampir terkuras habis.

Hendaklah diketahui bahwa biar pun sejak tadi Hong Sam Sianseng memejamkan mata, namun dari angin pukulan kedua pihak dia dapat mengikuti apa yang terjadi, dari tenaga pukulan kedua pihak dapat dibedakannya unggul dan asornya. Sebab itulah meski tadi Ji Pwe-giok berada dalam keadaan terserang, tapi dia tidak merasa kuatir, sebab waktu itu dia tahu tenaga dalam Pwe-giok masih kuat, sekali pun Lo-cinjin sudah di atas angin juga sukar hendak merobohkan anak muda itu.

Tetapi sekarang meski tenaga pukulan Pwe-giok masih tetap kuat, namun untuk menarik kembali pukulannya justru terasa payah, bahkan setiap kali menghantam, setiap kali pula tenaganya lantas menyusut.

Sampai akhirnya menyusutnya tenaga Pwe-giok juga bertambah cepat, begitu cepatnya seakan-akan dibetot orang dari luar. Dia tahu bila mana tenaga dalamnya sudah terkuras habis, maka jangan harap akan mampu menahan sekali hantam Lo-cinjin yang amat kuat seperti gugur gunung dahsyatnya itu.

Mendadak dilihatnya kepalan Lo-cinjin memukul ke depan dengan gaya menusuk seperti pedang yang tajam. Di dalam gugupnya Pwe-giok tidak sempat berpikir lagi, langsung dia menangkis, karena itu tubuhnya lantas tergetar hingga sempoyongan.

Betapa lihay Lo-cinjin, segera ia tahu lawan sudah tidak tahan lagi, seketika semangatnya terbangkit, beruntun dia menghantam pula tiga kali sehingga Pwe-giok terdesak ke pojok.

Semua orang sama melongo heran, ada yang terkejut dan ada yang bergirang, kalau tadi mereka tidak paham mengapa Pwe-giok sanggup bertahan, maka sekarang mereka pun tidak mengerti sebab apa mendadak ia tidak tahan.

Dalam pada itu Cu Lui-ji masih terus menghitung, “Dua dua enam, dua dua tujuh, dua dua delapan...” meski hitungannya tak pernah terputus, tapi suaranya sudah mulai gemetar.

Kini hanya tersisa tujuh puluhan jurus saja, namun untuk sekian jurus ini jelas Ji Pwe-giok tidak sanggup bertahan lagi. Keadaan ini sekali pun Ciong Cing juga dapat melihatnya.

Hay-hong Hujin menghela napas gegetun, katanya, “Mungkin takkan sampai hitungan dua ratus enam puluh...”

“Dua ratus lima puluh saja sudah jauh dari cukup,” ujar Ji Hong-ho sambil tersenyum.

Mendadak Lo-cinjin menukas dengan membentak, “Kubilang cukup dua ratus empat puluh saja!” Berbareng dengan bentakannya, kepalan kiri dan telapak tangan kanannya terus menghantam sekaligus.

Saat itu Lui-ji lagi menghitung sampai, “Dua ratus tiga puluh delapan...”

Seketika itu Pwe-giok merasa angin pukulan dan bayangan telapak tangan beterbangan dan entah cara bagaimana harus menangkisnya. Apa lagi sekali pun dia dapat menangkis juga sukar menahan tenaga dalam yang maha dahsyat seperti gugur gunung itu.

Tampaknya dia pasti akan terpukul roboh dan tiada pilihan lain...

Wajah Ji Hong-ho sudah menampilkan senyum gembira kembali, Ang-lian-hoa juga telah melompat turun dari ambang jendela, Hay-hong Hujin sedang menggeleng kepala, Sip-hun merangkap kedua tangannya di depan dada seperti sedang berdoa...

Tubuh Pwe-giok tampaknya sudah mulai mendoyong ke belakang karena terdesak oleh angin pukulan yang demikian kuat, seperti sebuah gendewa yang terpentang dan segera akan tertarik patah mentah-mentah.

“Mengaku kalah tidak?!” bentak Lo-cinjin mendadak.

Pwe-giok tidak menjawab, ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya sambil menggeleng sebagai tanda pantang menyerah.

Segera Lo-cinjin menambah tenaga lagi, lalu teriaknya dengan gusar, “Masih tahan kau? Tidak roboh sekarang?!”

Akan tetapi Pwe-giok justru tidak mau roboh, tubuhnya semakin melengkung dan semakin rendah dengan keringat memenuhi kepalanya, namun mati pun dia tidak mau roboh.

Pandangan semua orang terpusat kepada Pwe-giok, sampai berkedip saja tidak. Angin di luar jendela meniup makin santer seakan-akan merobek bumi raya ini. Sedangkan semua orang yang berada di dalam sama ikut tegang, suasana sunyi menyesakkan napas.

Tiba-tiba terdengar suara keriat-keriut yang timbul dari tulang punggung Pwe-giok, nyata badannya seolah-olah ditindih patah menjadi dua oleh tenaga tekanan yang maha dahsyat itu.

Ciong Cing sudah mengucurkan air mata, sekujur badannya tampak gemetar. Kwe Pian-sian juga cemas, berulang-ulang ia mengusap keringatnya.

Tiba-tiba saja Ciong Cing berteriak dengan suara parau, “Ji-kongcu, kumohon padamu, kumohon dengan sangat, hendaklah kau rebah sajalah!”

Hay-hong Hujin menghela napas panjang, ucapnya, “Aih, anak bodoh, untuk apalah kau bertahan susah payah begitu...?”

Pandangan Cu Lui-ji sudah samar-samar karena kelopak matanya mengembeng air mata, air mata pun mulai meleleh ke pipinya. Saat ini sampai Lui-ji juga hampir2 saja membujuk Pwe-giok agar rebah dan mengaku kalah saja.

Remuk redam hati Lui-ji, ia sudah tidak tega memandangnya lagi.

Ang-lian-hoa juga tidak tahan, mendadak dia berseru, “Hong Sam Sianseng, apakah kau menghendaki dia mati tertindih begitu barulah mau mengaku kalah?”

Hong Sam tidak menjawab, sejenak kemudian barulah ia berkata dengan rawan, “Urusan sudah begini, terpaksa aku...”

Tetapi mendadak Pwe-giok berteriak, “Tidak, kita belum kalah, aku belum lagi roboh, aku masih tahan!”

Lo-cinjin menjadi gusar, dampratnya, “Anak busuk, tabiat busuk, memangnya kau minta benar-benar kuhancurkan kau?!” Saking gusarnya ia terus mendesak maju satu langkah.

Tak terduga, tiba-tiba kakinya kebetulan menginjak pada sesuatu yang lunak, ternyata dia berpijak di atas sebuah karung goni. Padahal tenaga injakannya itu tak kepalang kuatnya, betapa pun kukuhnya karung goni itu lantas pecah terinjak.

“Brett…!” karung goni itu robek, sekonyong-konyong beratus-ratus makhluk berbisa yang sukar dibedakan jenisnya itu sama merayap ke atas tubuhnya.

Karena kejadian yang tak terduga-duga ini, semua orang sama melenggong.

Lo-cinjin menjadi kaget dan juga gusar, cepat tangannya mengebas dan kaki bergoyang, maksudnya ingin membikin rontok binatang melata itu, tergetar jatuh dari tubuhnya, habis itu akan diinjaknya hingga hancur.

Akan tetapi binatang melata yang sudah terlanjur merayap ke atas tubuhnya itu terlalu banyak, seketika sukar dibersihkannya.

Maka terjadilah adegan aneh dan lucu, Lo-cinjin seperti lagi menari, sebentar tangannya berputar, lain saat kakinya melangkah, mendadak tangan menepuk tubuh sendiri pula. Kalau saja khikang-nya tidak mencapai tingkatan yang sempurna dan hawa murni meliputi seluruh tubuhnya sehingga sekeras baja, mungkin tubuhnya sudah babak belur digigit oleh kawanan makhluk berbisa itu.

Mata Cu Lui-ji seketika terbeliak, mendadak ia pergencar hitungannya, “Dua empat satu, dua empat dua, dua empat tiga...” tanpa ganti napas ia terus menghitung, hanya sekejap saja hitungannya sudah mencapai “…dua delapan puluh.”

Baru sekarang Ji Hong-ho terkejut dan mengetahui permainan anak dara itu, maka cepat ia membentak. “He, tidak, tidak boleh, tidak dapat dianggap!”

Namun Lui-ji tidak menghiraukannya, ia masih terus menghitung. “Dua delapan satu, dua delapan dua, dua delapan tiga, dua delapan empat...”

Mendadak Lo-cinjin meraung keras-keras satu kali, dia injak ke sana-sini dan menginjak mati kelabang yang terakhir, pada saat itu pula hitungan Cu Lui-ji juga genap.

“Tiga ratus!”

Suasana di atas loteng kecil itu seketika sunyi senyap seperti di kuburan, selang sekian lamanya barulah terdengar Ji Hong-ho tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Sudah tentu caramu menghitung ini tidak sah.”

“Hm, sah atau tidak adalah urusan nanti, yang jelas sekarang Sicek-ku roboh atau tidak?” jengek Lui-ji.

Dalam pada itu Ji Pwe-giok lagi bersandar di dinding dengan napas terengah-engah, tapi tubuhnya masih berdiri tegak tanpa ambruk.

Terpaksa Ji Hong-ho bungkam dan tak dapat menjawab.

Dengan melotot Lui-ji lantas berkata pula, “Kalau Ji-sicek tidak sampai roboh, sedangkan jago kalian Lo-cinjin sudah selesai melancarkan serangan 300 jurus, dengan sendirinya pertarungan ini telah dimenangkan oleh pihak kami, kenapa kau masih menyangkal dan berdasarkan apa tidak kau anggap sah?” jengek Lui-ji.

“Tapi beberapa puluh jurus Lo-cinjin yang terakhir tadi bukan ditujukan untuk melayani Ji-kongcu, hal ini disaksikan oleh semua orang, masa aku mengada-ada?”

“Hmm, itu kan cuma alasanmu sendiri,” jengek Lui-ji. “Jika dia sedang bergebrak dengan Sicek, maka setiap jurus dan gerakan yang digunakannya berarti ditujukan kepada Sicek, jadi setiap gerakan, setiap jurus yang dilontarkan harus dihitung. Kalau dia menghantam dan menyerang secara ngawur, itu kan salah dia sendiri, mengapa malah menyalahkan orang lain?”

“Tapi makhluk berbisa itu...”

“Binatang berbisa itu radinya terbungkus baik-baik di dalam karung goni, siapa pun tidak mengganggunya, juga kami tidak melepasnya, sebaliknya tanpa sebab jago kalian telah menginjaknya hingga mati semua, untuk itu malah aku hendak minta ganti rugi padanya.”

Sudah tentu Ji Hong-ho tahu ucapan anak dara itu hanya pokrol bambu saja, tapi seketika ia menjadi bungkam dan tidak sanggup menjawab. Ia melenggong sejenak, akhirnya dia berpaling ke arah Lo-cinjin, katanya dengan menyengir,

“Kukira urusan ini Lo-cinjin dipersilakan memutuskannya sendiri.”

Sinar mata Lo-cinjin gemerdep, tiba-tiba ia berseru, “Bocah ini ternyata mampu menahan 300 jurus seranganku, dia benar-benar anak yang hebat.”

“Tapi cinjin sendiri tidaklah benar-benar melontarkan 300 jurus serangan ke arahnya,” seru Ji Hong-ho.

Lo-cinjin mendelik, katanya, “Siapa bilang aku tidak melontarkan 300 jurus padanya? Jika dia bertanding denganku, dengan sendirinya setiap gerakanku harus dihitung satu jurus. Kalau jurus seranganku tidak mampu merobohkan dia, itu juga urusanku, kalian tak perlu ikut campur.”

Seketika Ji Hong-ho melongo dan tak dapat bersuara lagi.

Saking girangnya, akhirnya Cu Lui-ji menubruk maju dan mendekap tubuh Ji Pwe-giok, teriaknya gembira, “Sicek, O, Sicek, kita menang, kita menang...”

Ji Hong-ho tersenyum, sikapnya sudah tenang lagi, katanya, “Jika Lo-cinjin menyatakan kalian yang menang, ya dengan sendirinya kalian yang menang.”

“Nah, dua kalimat ucapannya ini masih menyerupai ucapan seorang Bu-lim-bengcu,” kata Lui-ji dengan tertawa.

“Dan sekarang silakan kalian pergi saja, orang she Ji menjamin pasti tiada orang yang akan mempersulit kalian,” ujar Ji Hong-ho dengan tersenyum hambar.

“Apa katamu? Pergi? Siapa yang pergi...?” Lui-ji menegas dengan mata melotot. “Tempat ini adalah rumah kami, kenapa kami yang harus pergi? Yang benar kalau omong!”

Air muka Ji Hong-ho rada berubah, tetapi Lo-cinjin langsung membentak, “Memang tidak seharusnya mereka pergi, kitalah yang harus pergi...!”

Belum lagi habis ucapannya, sekonyong-konyong dari luar jendela menerobos masuk dua orang. Seorang di antaranya bersinar mata tajam mencorong, muka burik, dengan suara bengis ia berteriak,

“Betul, kita harus pergi. Tapi sebelum pergi kita memenggal dulu kepala mereka!”

“Kau ini barang apa?” damprat Lui-ji dengan gusar.

Ji Hong-ho tersenyum, katanya, “Inilah Tio Kun, Tio-tayhiap yang berjuluk ‘Boan-thian-sing’ (bintang bertaburan di langit), kedua telapak tangan besinya dan ke 72 buah Kim-ci-piaunya terkenal di sekitar Kamsiok dan Samsay.” Kemudian dia tunjuk seorang lagi yang bermuka lonjong seperti kuda berbaju kuning dan bertubuh tinggi kurus, sambungnya, “Yang ini adalah Wi Hong, Wi-tayhiap yang berjuluk ‘Jian-li-hong-ki’ (Kuda sakti seribu li), terkenal sebagai kaki cepat nomor satu di daerah Hopak dan Holam.”

“Huh, manusia baik-baik tetapi kenapa suka disebut sebagai kuda?” jengek Lui-ji. “Coba kawanmu si burik ini, biar pun mukanya tidak rata kan juga tidak mau dipanggil sebagai Tio si bopeng, meski mukamu serupa kuda kan sepantasnya mencari suatu nama yang lebih enak di dengar?”

Muka kuda Wi Hong yang memang panjang itu rasanya semakin panjang oleh karena olok-olok Lui-ji itu, segera ia balas menjengek, “Hm, meski Lo-cinjin bermaksud mengalah terhadap kalian, tetapi kami tidak nanti melepaskan kau. Menghadapi kawanan siluman seperti kalian ini kukira juga tidak perlu bicara tentang peraturan Kangouw apa segala. Nah, budak cilik, kalau tahu gelagat, ikutlah pergi bersama tuanmu!”

Selagi telapak tangannya yang lebar seperti daun pisang itu terangkat dan hendak meraih ke arah Lui-ji, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Sip-hun sudah berdiri di depannya dengan mengulum senyum.

“Guruku sudah menyatakan akan melepaskan mereka, maka Wi-tayhiap hendaknya juga suka berbuat sama dengan melepaskan mereka,” kata Sip-hun dengan ramah.

Namun Wi Hong lantas menjawab dengan suara bengis, “Urusan kaum Cianpwe dunia Kangouw mana ada hak bicara bagi orang muda seperti kau ini? Menyingkirlah!” Tangan yang baru saja ditarik kembali itu mendadak mendorong pula ke depan.

Akan tetapi Sip-hun masih tetap berdiri di tempatnya dengan tertawa, sama sekali ia tidak berkelit atau bergerak. Namun gontokan Wi Hong yang keras itu ternyata tidak mampu membuat Sip-hun bergeming sedikit pun.

Air muka Wi Hong berubah pucat. Belum lagi dia bertindak lebih lanjut, Lo-cinjin sudah mendekatinya dan berkata dengan suara tertahan,

“Muridku ini memang tidak tahu aturan, apakah kau ingin mengajar adat padanya?”

Semua orang sudah menyaksikan sikap Lo-cinjin yang kasar itu terhadap muridnya, selain main bentak juga main pukul. Wi Hong mengira Tosu cilik yang selalu tertawa dan ramah ini tentu tidak disukai sang guru, maka ia tidak meragukan ucapan Lo-cinjin tadi, dengan tertawa ia menjawab,

“Cayhe memang sembrono dan ingin meng...”

Belum habis ucapannya, kontan Lo-cinjin berjingkrak sambil meraung murka, “Kau ini kutu busuk macam apa? Kau merasa sesuai untuk mengajar muridku? Huh, tanganmu yang berbau busuk ini berani menyentuhnya? Baik!”

Baru saja kata “baik” selesai diucapkan, mendadak pula dia turun tangan, secepat kilat pergelangan tangan Wi Hong dicengkeramnya, menyusul lantas terdengar suara “krak-krek”, tulang pergelangan tangan itu telah dipatahkannya mentah-mentah.

Keruan Wi Hong meraung kesakitan, segera kaki kanannya menyapu. Ia terkenal sebagai kaki sakti nomor satu di daerah utara, dengan sendirinya tenaga kakinya tak boleh dibuat main-main, sekali pun sepotong cagak batu, sekali disampuk dengan kakinya juga akan hancur.

Namun Lo-cinjin tidak berkelit juga tidak menghindar, dia sengaja menerima serampangan kaki lawan dengan keras, maka terdengar suara “krek” yang lebih keras, tapi yang patah ternyata bukan kaki Lo-cinjin melainkan kaki Wi Hong sendiri.

Belum lagi Wi-hong sempat menjerit kesakitan, lebih dulu dia sudah kelengar.

Tanpa memandang sekejap pun terhadap pecundangnya itu, Lo-cinjin berpaling ke arah Tio Kun, tanyanya dengan dingin, “Kau anggap kata-kataku seperti orang kentut, kau pun menghendaki kepala mereka, begitu bukan katamu tadi?”

Muka Tio Kun pucat pasi seperti mayat. Tetapi betapa pun juga dia tergolong tokoh yang sudah terkenal. Di depan orang banyak, betapa pun dia tidak mandah diperlakukan kasar begitu, betapa pun dia ingin menjaga kehormatannya.

Dia tertawa terkekeh, lalu berkata, “Baiklah, kalau Cinjin tak mau ikut campur lagi urusan ini, boleh serahkan saja kepada kami.”

“Serahkan kepadamu? Huh, kau ini apa?!” teriak Lo-cinjin dengan murka. “Apakah karena orang sudah kehabisan tenaga sehingga hampir tidak bisa bergerak lagi, maka kau ingin menarik keuntungan tanpa mengeluarkan tenaga, begitu?”

Begitu habis kata-katanya, dengan sekali cengkeram tahu-tahu leher baju Tio Kun sudah dijambretnya, tubuhnya terus diangkat. Padahal perawakan Lo-cinjin jauh lebih pendek dan kecil dari pada lawannya, tentu saja hal ini membuat semua orang tercengang.

Tio Kun terkejut dan juga gusar, tanpa pikir kedua telapak tangannya terus menghantam ke bawah dan tepat mengenai pundak kanan-kiri Lo-cinjin.

Seperti sudah diceritakan, Tio Kun terkenal dengan telapak tangan besinya, tetapi ketika kena hantam di tubuh Lo-cinjin, telapak tangan besinya sudah berubah menjadi tangan tebu, ‘Krak-krek,” kontan tulang tangannya patah semua, kembali dia menjerit ngeri, dari setiap burikan di mukanya tampak menetes keluar air keringat.

Begitulah, dengan tangan kanan Lo-cinjin mencengkeram Tio Kun, sedangkan tangan kiri mengangkat Wi Hong. Meski tubuh Tojin ini kurus kecil, tetapi dua lelaki kekar itu dapat diangkatnya dengan enteng dan seenaknya, hal ini benar-benar membuat para penonton sama melongo. Malahan Lo-cinjin seperti sama sekali tidak mengeluarkan tenaga meski kedua tangan mengangkat dua lelaki besar itu, dia seperti membekuk dua ekor ayam jago saja, ayam jago yang sudah keok tentunya.

Melihat kungfu yang mengejutkan ini baru sekarang semua orang teringat kepada Ji Pwe-giok, baru sekarang mereka dapat menilai betapa hebatnya anak muda itu.

Pikir saja, kalau dua tokoh kangouw terkenal seperti ‘Boan-thian-sing’ dan ‘Jian-li-sin-ki’ saja tidak sanggup menahan sekali gebrak dengan Lo-cinjin, sebaliknya Ji Pwe-giok yang masih muda belia dan tampak lemah lembut itu ternyata sanggup bergebrak dan bertahan sampai 300 jurus.

Waktu semua orang berpaling ke arah Ji Pwe-giok, pandangan mereka terhadap anak muda ini sekarang jelas sudah berbeda dari pada tadi.

Ji Hong-ho juga sedang memandang Pwe-giok dengan lekat-lekat, sampai lama sekali dia menatap anak muda itu.

Tiba-tiba Lo-cinjin berteriak gusar, “Nah, siapa lagi yang berani menganggap ucapanku sebagai kentut? Ayo, bersuara!”

Suasana menjadi hening, baik orang yang berada di atas loteng mau pun yang nongkrong di sekeliling wuwungan rumah itu tiada seorang pun yang berani bersuara.

“Hmmk!” Lo-cinjin mendengus keras-keras satu kali, kemudian melangkah turun ke bawah loteng.

Sip-hun lantas merangkap kedua tangannya di depan dada dan memberi hormat dengan tersenyum, katanya, “Beruntung sekali hari ini Tecu dapat bertemu dengan para Cianpwe, sungguh aku merasa amat bangga dan bahagia. Semoga selanjutnya dapat sering-sering mendapat petunjuk lagi dari para Cianpwe.”

Meski dia bicara kepada semua orang, tetapi matanya terus menerus hanya memandang kepada Cu Lui-ji.

Lui-ji lantas mendamprat perlahan, “Huh, Tosu bermata maling, lekas kau enyah saja!”

Entah mendengar atau tidak, kembali Sip-hun memberi hormat dengan sopan, lalu ia pun melangkah pergi, sampai di ujung tangga mendadak dia berhenti dan berpaling, katanya dengan tersenyum, “Silakan Bengcu jalan dahulu!”

Ji Hong-ho tersenyum, ucapnya, “Hong-locianpwe, selamat tinggal, Ji-kongcu, selamat tinggal... Aku mohon diri sekarang juga.”

Tiba-tiba Hay-hong Hujin berjalan ke arah Kwe Pian-sian.

Keruan orang she Kwe itu menjadi kebat-kebit dan muka pucat.

Tak disangka Hay-hong Hujin tetap tidak memandangnya barang sekejap pun, yang dituju adalah Ciong Cing, katanya terhadap nona ini dengan tertawa, “Apakah kau ini murid Ji Siok-cin?”

Ciong Cing menunduk kikuk. Mendadak dia merasa dirinya tidak boleh tampak lemah di depan saingan cintanya, seketika dia menengadah dan menjawab, “Ya!”

Hay-hong Hujin menghela napas, ucapnya kemudian. “O, kasihan, sungguh kasihan. Ai, sayang, sungguh sayang...”

“Aku... aku...” seketika itu Ciong Cing menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Ketika melihat wajah Hay-hong Hujin yang bersifat menghina itu, seketika dia naik pitam, dia tidak pedulikan lagi bagaimana akibatnya, dengan nekat dia berteriak, “Kasihan apa? Perempuan yang sudah dibuang oleh lakinya itulah yang harus dikasihani!”

Hay-hong Hujin hanya tersenyum hambar saja dan tidak meladeni lagi. Dengan langkah lemah gemulai dia melangkah pergi, dia anggap tidak berharga untuk meladeni olok-olok itu.

Sekujur badan Ciong Cing sampai bergemetar, air mata akhirnya meleleh dan membasahi pipinya.

Yang paling ditakuti seorang perempuan adalah apa bila dihina oleh bekas kekasih orang yang dicintainya sekarang. Hal ini sangat menyakitkan hatinya, sebab akan dirasakannya bahwa orang yang dipandangnya seperti jiwanya, seperti sukmanya, nyatanya tidak lebih adalah barang bekas orang lain, barang yang sudah dibuang orang lain.

Ang-lian-hoa memelototi Kwe Pian-sian sejenak, lalu ia pandang Hong Sam dan pandang pula Ji Pwe-giok. Mendadak ia berjumpalitan keluar jendela.

Waktu Pwe-giok memandang keluar, ternyata orang-orang yang memenuhi wuwungan di sekeliling loteng kecil itu pun sudah pergi seluruhnya.

Pwe-giok menghela napas panjang, napas yang lega dan akhirnya ia pun roboh terkulai....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner