RENJANA PENDEKAR : JILID-49


Lentera yang tergantung di tangga loteng itu ternyata tidak dibawa pergi oleh rombongan Ji Hong-ho. Pintu juga tidak ditutup kembali hingga angin meniup masuk, membuat sumbu lentera bergoyang-goyang.

Cahaya lentera yang redup itu menyinari wajah Ji Pwe-giok yang pucat bagaikan kertas.

Lui-ji menubruk maju dan mendekap tubuh anak muda itu, serunya dengan menangis, “O, Sicek, entah cara bagaimana aku harus berterima kasih padamu?!”

Keadaan Hong Sam Sianseng juga amat payah. Ia menghela napas panjang dan berkata dengan lemah, “Di hadapan Sicek kenapa kau bicara tentang ‘terima kasih’?”

Lui-ji menunduk, air mata pun bercucuran memenuhi wajahnya.

Pwe-giok tersenyum hambar, katanya, “Bagaimana pun juga kita kan sudah menang, apa lagi yang kau sedihkan?”

Sambil mengusap air matanya Lui-ji berkata, “Aku tidak sedih, tapi... tapi tidak terlampau gembira.”

Baru kata “gembira” terucapkan, tangisnya sukar dibendung lagi.

Mendadak Kwe Pian-sian berdehem, lalu berkata dengan tertawa, “Sungguh tidak nyana Lo-cinjin yang termashur dan tiada tandingannya di dunia ini sekarang juga keok di bawah tangan saudara Ji kita. Setelah pertarungan ini, siapa pula di dunia Kangouw yang takkan kagum kepada Ji-heng...”

Mendadak Lui-ji berseru, “Dia adalah Sicek-ku, berdasarkan apa kau berani menyebutnya ‘Ji-heng’ (saudara Ji)?”

Kwe Pian-sian berdehem-dehem, dia tidak menanggapi dampratan anak dara itu, katanya pula, “Ya, selanjutnya nama Ji-kongcu pasti akan termashur sekali dan mengguncangkan seluruh dunia, hanya saja...”

“Hanya saja apa?” tanya Lui-ji dengan mendongkol.

“Hanya saja, tempat ini bukan lagi tempat yang boleh didiami untuk selamanya,” kata Kwe Pian-sian. “Menurut pendapatku, akan lebih baik kalau lekas pergi saja dari sini.”

“Pergi dari sini?” Lui-ji menegas dengan melotot. “Di sinilah rumahku, kenapa kami harus pergi?”

“Nona tahu, meski Ji Hong-ho dan begundalnya tadi mengalami kekalahan, tetapi mereka pasti penasaran dan tidak terima. Kalau dikatakan mereka benar-benar sudah kapok dan tidak berani mengganggu lagi ke sini, kukira siapa pun takkan percaya,” demikian ulasan Kwe Pian-sian.

“Tapi kalau mereka benar-benar hendak mencari kita, meski pun lari juga tiada gunanya, sebab akhirnya toh pasti akan ditemukan mereka,” jengek Lui-ji. “Lagi pula, memangnya kau kira Sacek-ku ini adalah orang yang suka main lari? Kalau mau lari tentu sudah sejak dulu-dulu lari, untuk apa kami menunggu di sini sampai sekarang?”

“Memang betul juga ucapan nona,” kata Kwe Pian-sian. “Tapi... tapi kalau tetap tinggal di sini kukira juga bukan... bukan cara yang baik...”

“Jika kau ingin pergi, boleh silakan pergi saja sesukamu, tiada orang yang akan menahan dirimu,” jengek Lui-ji pula.

Muka Kwe Pian-sian sebentar pucat sebentar merah, ia tidak bicara lagi, juga tidak berani pergi.

Jika Ang-lian-hoa dan Hay-hong Hujin ada kemungkinan sedang menantinya di luar sana, apakah dia berani pergi…..?

********************

Angin menderu-deru di luar, tapi suasana di atas loteng kecil itu justru sunyi senyap. Bila teringat bahwa Ji Hong-ho beserta rombongannya itu pasti tidak mau berhenti begitu saja, pikiran setiap orang lantas menjadi tertekan.

DI tengah suara angin yang menderu-deru itu tiba-tiba terdengar suara anjing mengaing, suara mengaing yang melengking dan seram seperti jeritan setan.

Tanpa terasa Ciong Cing merinding, katanya, “Mengapa... mengapa anjing itu suaranya sedemikian menakutkan?”

Bulu roma Cu Lui-ji juga berdiri, tapi ia menanggapi dengan tertawa, “Bisa jadi Ji Hong-ho telah menginjak ekor anjing itu.”

Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong suara lengking anjing tadi tidak terdengar lagi. Tadi mengaingnya amat mendadak, lalu berhentinya juga secara mendadak. Meski suara mengaingnya amat menyeramkan dan menakutkan, tapi suara yang lenyap mendadak itu terlebih membuat orang mengkirik.

Jagat raya ini seketika seperti penuh diliputi alamat yang tidak baik.

Lui-ji ingin bicara apa-apa untuk memecahkan ketegangan, namun sukar baginya untuk bicara dan juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Pada saat itu juga sekonyong-konyong terdengar suara “blung” yang dahsyat, menyusul api lantas berkobar dan menjulang tinggi ke angkasa. Begitu cepat nyala api ini sehingga hanya sebentar saja hampir setengah langit di sebelah sana sudah terbakar hingga merah menganga.

“Keji amat tindakan Ji Hong-ho ini, dia hendak membakar mati kita,” seru Kwe Pian-sian dengan kuatir.

Air muka Pwe-giok berubah agak pucat juga, katanya, “Pantas dia telah mengusir seluruh penduduk kota ini lebih dulu, rupanya memang sudah direncanakannya akan membumi-hanguskan Li-toh-tin ini. Hmm, dia sok anggap dirinya seorang pendekar budiman, namun sekarang ternyata tidak segan-segan berbuat serendah ini.”

Kobar api makin lama makin dahsyat dan makin mendekati loteng kecil itu, cuma belum lagi berbentuk suatu lingkaran yang mengepung.

Cepat Kwe Pian-sian melompat bangun, serunya dengan suara parau, “Ayo cepat! Lekas kita terjang keluar, mungkin masih keburu!”

Lui-ji memandang ke arah Hong Sam. Dilihatnya air muka Hong Sam Sianseng sangat prihatin dan tidak memberi komentar apa pun.

Dengan tak sabar Kwe Pian-sian berseru pula sambil melotot, “Urusan sudah jadi begini, masa kalian belum lagi mau pergi?!”

Pwe-giok menghela napas, katanya, “Ya, memang betul, urusan telah kadung begini, apa pun jadinya terpaksa kita harus menerjang ke luar!”

“Tapi... tapi luka Sacek...” Lui-ji merasa ragu.

“Biar kugendong Hong-lo... Hong Samko dan kau ikut saja di belakangku,” kata Pwe-giok dengan tersenyum getir.

“Dan aku bagaimana?” tukas Gin-hoa-nio yang semenjak tadi tidak pernah turut bicara. “Tentunya kalian tidak akan meninggalkan diriku di sini bukan?!”

Lui-ji menggertak gigi, katanya, “Biarkan aku gendong Sacek saja dan kau... kau gendong dia.”

Kwe Pian-sian memandang Ciong Cing sekejap, akhirnya ia pun menggendong nona itu, serunya “Ayolah, kalau tidak berangkat sekarang mungkin tidak keburu lagi!”

“Betul, lekaslah kalian pergi semua,” kata Hong Sam Sianseng.

“He, Sacek, kau...”

Belum lanjut ucapan Lui-ji, dengan menarik muka Hong Sam Sianseng lantas membentak dengan suara bengis. “Sacek tidak apa-apa, masa aku perlu kau gendong dan melarikan diri...? Memangnya Sacek adalah manusia pengecut demikian?”

Cahaya api yang berkobar dengan hebatnya kini telah menyinari mukanya yang kelihatan merah padam.

“Jika demikian, biarlah Siaute saja yang...”

Belum lanjut ucapan Pwe-giok, dengan gusar Hong Sam berkata pula, “Kelak bila orang Kangouw mengetahui Hong Sam sudah melarikan diri dengan digendong orang, lalu ke mana lagi akan kutaruh mukaku ini? Kalau sudah begitu, biar pun hidup apa bedanya lagi dengan mati?”

“Tapi... tapi urusan dalam keadaan luar biasa,” seru Pwe-giok, “Samko, apakah... apakah engkau tak dapat memaklumi keadaan...?”

“Sudahlah,” ucap Hong Sam dengan tegas, “Tekadku sudah bulat, tidak ada gunanya kau bicara lagi, lekas kalian berangkat saja!”

Hampir gila Lui-ji saking cemasnya. Tapi ia pun kenal watak sang paman, bila mana Hong Sam Sianseng sudah mengambil keputusan demikian, di dunia ini mungkin tiada seorang pun yang mampu mengubah pendiriannya.

Pwe-giok berkata pula dengan rawan, “Aku tahu Samko kuatir pada keadaanku yang telah lemah ini, maka lebih suka mati sendiri dari pada menambah bebanku, tetapi hendaklah Samko mengetahui, Siaute masih... masih cukup kuat...”

Hong Sam Sianseng terus memejamkan mata dan tidak menggubrisnya lagi biar pun apa juga yang dikatakan Pwe-giok.

Nyala api bertambah hebat dan menjilat ke sekitarnya, hanya sekejap saja api telah dekat bangunan loteng kecil itu. Agaknya Ji Hong-ho dan begundalnya telah memasang bahan-bahan pembakar yang mudah menyala, sebab itulah api menjalar dengan amat cepat.

Akhirnya Kwe Pian-sian berkata dengan suara serak, “Kalau kalian tidak pergi, terpaksa aku pergi lebih dahulu, hendaklah kalian... kalian...” dia seperti mau omong apa-apa lagi, tapi urung. Dengan beringas ia terus melompat keluar sambil memondong Ciong Cing.

Terdengar suara tangisan Ciong Cing sayup-sayup berkumandang dari luar jendela sana, sejenak kemudian lantas tidak terdengar apa-apa lagi.

“Kalian pun harus pergi, mengapa masih berdiam saja di sini?!” bentak Hong Sam dengan suara bengis.

Tapi Lui-ji malah berduduk di sampingnya dan berkata, “Sacek tidak pergi, aku pun tidak pergi.”

“Kau berani membangkang ucapanku?!” bentak Hong Sam dengan gusar.

Lui-ji tersenyum pedih, ucapnya, “Apa pun ucapan Sacek akan kupatuhi, tetapi sekali ini... sekali ini aku...”

Mendadak Hong Sam mengangkat tangannya dan mendorong anak dara itu hingga jatuh tersungkur, lalu bentaknya, “Kau berani membangkang kataku, biar kupukul mampus kau lebih dulu!”

“Biar pun Sacek pukul mampus diriku tetap aku takkan pergi,” jawab Lui-ji tegas.

Hong Sam menjadi kewalahan, ia menghela napas dan menggeleng.

“Ji Pwe-giok!” teriak Gin-hoa-nio mendadak, “Apakah kau juga tidak mau pergi? Apakah kau hendak mengiringi kematian mereka?”

Tapi Pwe-giok tetap berdiri saja dengan tenang, tampaknya ia pun terkesima.

Ia tahu kalau tetap tinggal di sini dan menunggu mati terbakar, hal ini sungguh perbuatan yang terlalu bodoh. Tapi bagaimana pun juga dia tidak dapat menyelamatkan diri dengan meninggalkan Cu Lui-ji dan Hong Sam.

Dengan suara parau Gin-hoa-nio berteriak, “Gila, kalian semua orang gila... Sungguh sial aku berkumpul dengan kalian!”

Sekuatnya ia meronta ke depan jendela, tanpa pikir ia terus melompat keluar. Akan tetapi sisa tenaganya sekarang tidak seberapa lagi, baru saja terjun ke bawah segera terdengar ia menjerit kesakitan, mungkin kakinya terkilir.

Pwe-giok tahu bila mana Gin-hoa-nio hendak lolos di tengah berkobarnya api sehebat itu, maka peluangnya boleh dikatakan sangat tipis, tanpa terasa ia menghela napas.

Segera Hong Sam berteriak pula dengan muka beringas, “Kalian betul-betul hendak mati bersamaku?”

Pwe-giok memandang Lui-ji sekejap, lalu berkata, “Siaute ingin...”

“Bagus, jadi kalian baru mau pergi setelah aku mati, begitu kan?” seru Hong Sam sambil tertawa latah. Tiba-tiba dia mengangkat sebelah tangannya terus menghantam kepalanya sendiri.

Keruan Pwe-giok dan Lui-ji menjerit kaget, berbareng mereka memburu maju.

Syukurlah pada saat itu pula mendadak terdengar suara “blang” yang amat keras, dinding sekeliling hancur lebur, pecahan papan beterbangan, seorang tiba-tiba menerjang masuk seperti malaikat yang baru turun dari langit!

Di bawah cahaya api yang berkobar-kobar itu dan pandangan Pwe-giok juga cukup tajam, maka wajah orang yang menerjang masuk itu seharusnya dapat dilihatnya dengan jelas.

Namun gerak tubuh orang itu sungguh terlalu cepat. Baru saja terdengar suara gemuruh tadi, mungkin Hong Sam sendiri juga masih tertegun, tahu-tahu Pwe-giok melihat sesosok bayangan menyerempet lewat di sebelahnya, Hong Sam terus diangkatnya, lalu melayang pergi secepat kilat. Jadi bagaimana bentuk wajah pendatang ini, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, sama sekali Pwe-giok tidak tahu.

Lui-ji berteriak dengan kaget, “Hai, siapa kau?! Kenapa kau menyerobot Sacek-ku?”

Belum lagi lenyap suaranya, bayangan orang tadi telah melayang pergi beberapa tombak jauhnya. Terdengar suara Hong Sam Sianseng membentak di kejauhan, “Siapa kau?!”

Lalu suara orang yang parau menjawab, “Aku!”

Agaknya Hong Sam Sianseng lantas menarik napas panjang, napas yang lega, kemudian tidak bicara lagi.

Dalam pada itu Pwe-giok beserta Lui-ji juga sudah memburu keluar, dilihatnya bayangan orang di depan sana melejit-lejit seperti gundu yang dilemparkan, bila lidah api menjilat ke depan, sekali tangannya mengebas dengan perlahan, kobaran api lantas menyurut, hanya sekejap saja bayangan orang itu sudah menerjang keluar lautan api.

Meski Pwe-giok dan Lui-ji masih terus mengejar dengan sepenuh tenaga, tetapi jaraknya makin lama semakin jauh.

“Tinggalkan Sacek-ku... Aku mohon, tinggalkan Sacek-ku!” Lui-ji berteriak-teriak dengan suara parau.

“Wuttt,” mendadak gulungan api menyambar lewat, waktu mereka memandang ke depan, bayangan tadi sudah lenyap. Lui-ji berlari lagi beberapa langkah hingga akhirnya dia jatuh mendekap di atas tanah serta menangis tergerung-gerung.

Pwe-giok pun iba melihat tangis Lui-ji itu, cepat dia memburu maju untuk membangunkan anak dara itu. Baru sekarang Lui-ji mengetahui, tanpa terasa mereka sudah menerjang keluar dari lautan api.

Rambut Lui-ji dan bajunya tampak ada bintik-bintik api, beberapa bagian tubuh Pwe-giok juga hangus terbakar. Tetapi dalam keadaan cemas dan gelisah, keduanya sama sekali tidak merasakan hal itu.

“Kenapa kau menyerobot Sacek-ku? Cara bagaimana aku dapat hidup lagi selanjutnya?” demikian Lui-ji meratap dengan sedihnya.

Pwe-giok menghela napas melihat betapa berduka anak dara itu, ucapnya dengan rawan, “Tampaknya orang tadi tidak bermaksud jahat, coba kalau tiada dia, mungkin kita sudah terkubur di tengah lautan api itu.”

“Tapi... tapi bagaimana dengan... dengan Sacek?” kata Lui-ji.

“Agaknya Sacek-mu kenal dengan orang ini, mungkin sekali mereka adalah sahabat,” ujar Pwe-giok. “Kalau kita melihat betapa tinggi kungfu-nya tadi, bila Sacek-mu dibawa pergi olehnya, justru kita malah boleh merasa lega.”

Terhibur juga hati Lui-ji, suara tangisnya mulai lirih. Ujarnya dengan masih tersedu sedan, “Ya, memang kedengaran tadi Sacek... Sacek bertanya satu kali padanya, lalu... lalu tak bertanya pula, agaknya mereka memang kenal... Tapi kalau dia membawa pergi Sacek, mengapa... mengapa tidak membawa serta diriku sekalian?”

Dengan suara lembut Pwe-giok berkata, “Hal ini disebabkan... disebabkan dia tidak kenal padamu.”

“Memang,” ujar Lui-ji dengan air mata meleleh, “Semua sahabat Sacek di masa dahulu, satu pun tiada yang kukenal. Ya, aku tidak kenal siapa pun, sebaliknya juga tiada orang yang kenal diriku. Aku... aku...” teringat kepada nasibnya yang sengsara, tanpa terasa ia menangis sedih pula.

Pwe-giok terharu, hidung pun terasa beringus, air matanya juga hampir-hampir menetes. Perlahan dia mengebut bintik api yang masih membara di atas tubuh Lui-ji, lalu katanya dengan tertawa, “Tapi Sicek kan kenal padamu dan kau pun kenal Sicek, betul tidak?”

Sambil menangis Lui-ji segera menjatuhkan diri ke pangkuan Pwe-giok, ucapnya dengan suara terputus-putus, “Sicek, kau... kau takkan meninggalkan diriku bukan?”

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, namun di mulut dia menjawab dengan tersenyum, “Masa Sicek akan meninggalkan kau...? Pendek kata, ke mana pun Sicek pergi pasti kau akan kubawa serta.”

Padahal nasibnya sendiri sekarang juga terkatung-katung, ia sendiri pun telah ditinggalkan sanak keluarga dan handai taulan, ia pun tak tahu sekarang harus pergi ke mana. Kalau mengurus diri sendiri saja repot, mana dia sempat mengurus orang lain lagi?

Sekonyong-konyong terasa hawa panas menyambar dari belakang, rupanya kobaran api telah menjalar pula ke tempat mereka ini.

Dari jauh terdengar suara ramai orang menangis dan meratap. Di tengah hiruk-pikuk itu terseling pula suara orang mencaci maki. Mungkin para penduduk Li-toh-tin menjadi kalap ketika melihat rumah dan harta benda mereka telah musnah terbakar menjadi abu.

Tiba-tiba terdengar suara seorang berteriak lantang, “Hendaknya kalian jangan susah dan bingung, pokoknya segala kerugian kalian akan kami ganti sepenuhnya.”

Diam-diam Pwe-giok berkerut kening, pikirnya, “Biar pun Li-toh-tin ini hanya kota kecil dan kebanyakan penduduknya adalah kaum miskin, tapi kalau beratus keluarga jumlahnya kan jadi tidak sedikit, tapi mereka ternyata bersedia memberi ganti rugi, apakah tujuan mereka cuma hendak membakar mati beberapa orang ini…?”

********************

Angin sudah mulai berhenti, tetapi malam bertambah kelam. Suara ribut di kejauhan juga mulai sepi.

Cu Lui-ji duduk termenung tanpa bergerak. Semenjak Pwe-giok membawanya ke tanah pekuburan yang sunyi ini, belum lagi dia berucap satu kata pun.

“Api yang mereka kobarkan itu pasti bukan hanya untuk membakar mati kita saja,” kata Pwe-giok tiba-tiba.

Dengan sorot mata yang kabur Lui-ji memandangi sebuah kuburan baru di depan sana, ia hanya menanggapi ucapan Pwe-giok itu dengan suara,” Oo?”

“Sebab kalau mereka menghendaki jiwa kita, pasti mereka sudah memasang perangkap di sekitar tempat yang akan mereka bakar supaya kita tidak dapat lolos. Tetapi sekarang dengan sangat mudah kita dapat lari keluar, bahkan seorang pun tidak kita pergoki.”

“Ehmm!” Lui-ji mengangguk.

“Sebab itulah kupikir, tujuan mereka hanya ingin mengusir kepergian kita saja...”

“Hanya ingin mengusir kita, dan mereka tidak sayang membumi-hanguskan kota kecil ini, tidak sayang untuk membayar ganti rugi harta benda sebanyak ini... Apakah mereka telah gila?” demikian tukas Cu Lui-ji.

“Sudah tentu di balik tindakan mereka ini masih ada sebab lainnya... ya, pasti masih ada sebab lain...”

Lui-ji tersenyum getir, katanya, “Semula kurasa duduknya perkara telah jelas, tapi ucapan Sicek ini tambah membingungkan aku.”

“Semua kejadian yang tidak masuk akal ini hanya ada suatu penjelasannya,” kata Pwe-giok tanpa menghiraukan ucapan Lui-ji itu.

“Penjelasan bagaimana?” tanya anak dara itu.

“Pada loteng kecil tempat tinggal kalian itu pasti tersembunyi sesuatu rahasia besar yang sangat mengejutkan orang,” kata Pwe-giok.

“Rahasia besar?!” Lui-ji melengak.

“Ya, lantaran rahasia itulah maka Tonghong Bi-giok merasa berat meninggalkan ibumu meski pun banyak kesempatan baginya untuk pergi,” kata Pwe-giok pula, “Karena rahasia itulah maka Oh-lolo dan lain-lain juga datang, juga lantaran rahasia inilah maka Ji Hong-ho dan komplotannya tidak segan menyalakan api.”

Terbeliak mata Lui-ji, ia bergumam, “Tapi rahasia apakah itu?”

“Apakah kau ingat, sebelum ibumu wafat, pernahkah beliau membicarakan sesuatu yang luar biasa kepadamu?” tanya Pwe-giok dengan suara tertahan.

“Ibu tidak pernah bercerita apa-apa,” ujar Lui-ji sambil mengerutkan kening. “Beliau cuma memberi-tahukan padaku bahwa tempat inilah rumahku, tempat inilah satu-satunya benda yang dapat ditinggalkannya kepadaku, aku disuruh menyayanginya, makanya selama ini aku tidak mau pergi dari sini...” tiba-tiba saja suara ucapannya terhenti, matanya tambah terbelalak.

Kedua orang saling pandang sekejap, lalu serentak sama-sama berdiri.

Dalam pada itu api di kejauhan sudah semakin kecil, tampaknya sudah hampir padam.

Akan tetapi api tidak padam seluruhnya, dari ujung dinding, dari kusen pintu atau jendela yang hangus itu terkadang masih tersembur keluar lidah api dengan membawa asap yang tebal.

Sejauh mata memandang, udara penuh diliputi kabut asap yang tebal sehingga apa pun tidak terlihat jelas.

Perlahan Pwe-giok dan Lui-ji menuju kembali ke tengah tumpukan puing itu.

Di bawah alingan asap mereka menyelinap di antara reruntuhan puing, tak lama kemudian dapatlah dilihat mereka bangunan berloteng kecil itu sudah terbakar roboh.

Hanya Li-keh-can saja, hotel yang dibangun jauh lebih kukuh dari pada rumah penduduk itu tidak seluruhnya runtuh. Api sudah padam lebih cepat, tiang belandar sudah terbakar seluruhnya, tapi sebagian besar dinding temboknya masih tegak.

Berjalan di atas reruntuhan puing itu, Lui-ji merasa telapak kakinya masih panas seperti menginjak bara.

Waktu ia mengintai ke balik asap tebal sana, dilihatnya di sekitar sana ada beberapa laki-laki berseragam hitam sedang mondar-mandir membersihkan sisa-sisa kebakaran, tapi Ji Hong-ho beserta komplotannya tidak kelihatan, juga penduduk asli Li-toh-tin tidak nampak satu pun.

Pwe-giok juga sedang mengintai dari pojok dinding sana.

Dengan suara mendesis Lui-ji bertanya, “Sicek, sekarang juga kita mulai mencari atau menunggu kedatangan mereka?”

“Sudah bertahun-tahun kau tinggal di sini dan tidak kau temukan rahasia itu, dalam waktu singkat mana dapat kita menemukannya. Apa lagi kobaran api sekarang sudah mereda, kuyakin selekasnya mereka akan datang lagi ke sini.”

“Kalau begitu, apakah kita perlu mencari sebuah tempat untuk bersembunyi?”

“Ya, betul,” jawab Pwe-giok.

“Wah, sembunyi di mana baiknya?” kata Lui-ji sambil memandang sekitarnya. “Ehh, lihat Sicek, bagaimana kalau di rumah sana?”

“Rumah itu kurang baik,” kata Pwe-giok, “Meski pun saat ini mereka belum menggeledah sampai sini, tapi selekasnya mereka pasti akan kemari.”

“Habis sembunyi di mana?” tanya Lui-ji

“Dapur!” kata Pwe-giok.

Waktu Lui-ji memandang ke sana, dilihatnya dapur yang terbuat dari kayu itu sudah habis terbakar, ia berkerut kening dan berkata, “Dapur sudah terbakar, mana dapat dibuat untuk bersembunyi?”

Pwe-giok tertawa, katanya, “Meski dapur sudah terbakar, tapi di dalam dapur kan masih ada sesuatu tempat yang takkan musnah terbakar.”

Terbeliak mata Cu Lui-ji, serunya dengan suara tertahan, “He, maksudmu tungku? Betul, hanya batu tungku saja yang tak akan musnah terbakar untuk selamanya. Hah, sungguh bagus gagasanmu ini Sicek!”

Tanpa ayal lagi mereka langsung berlari ke arah dapur hotel. Terlihat di pojok sana ada sebuah gentong air yang tidak rusak, cuma air di dalam gentong juga ikut terbakar hingga menguap seperti digodok.

Pwe-giok menyingkirkan wajan besar di atas tungku, air gentong lantas di tuang ke dalam tungku. Setelah hawa panas di dalam tungku hilang, mereka lantas menyusup ke dalam perut tungku dan wajan tadi ditutup lagi di atasnya.

Li-keh-can adalah satu-satunya hotel di Li-toh-tin, tamunya cukup banyak, setiap hari rata-rata harus melayani makan-minum dua-tiga puluh orang. Dengan sendirinya tungku yang digunakan beberapa kali lebih besar dari pada tungku rumah penduduk.

Pwe-giok dan Lui-ji bersembunyi di dalam tungku besar itu sehingga serupa sembunyi di dalam sebuah kamar sempit. Lubang tungku yang biasanya digunakan untuk menambah kayu bakar itu menjadi mirip sebuah jendela bagi mereka. Dinding papan dapur itu sudah terbakar ludes, maka melalui ‘jendela’ ini dapatlah Pwe-giok dan Lui-ji mengikuti seluruh gerak-gerik di bangunan berloteng kecil di depan sana.

Di loteng kecil itulah Lui-ji dilahirkan dan dibesarkan, tetapi sekarang bangunan itu sudah berwujud tumpukan puing, tanpa terasa air mata Lui-ji berlinang-linang pula.

Tapi sedapatnya ia tidak memperlihatkan rasa sedih itu, katanya dengan tertawa, “Sicek, kau lihat tidak? Tungku di rumahku sana juga tidak musnah terbakar.”

“Ya, seperti ucapanmu tadi, tungku tak akan terbakar rusak untuk selamanya,” kata Pwe-giok dengan suara halus. “Dan bumi juga selamanya tak akan rusak terbakar. Bila mana kau suka pada tempat ini, kelak masih boleh membangun sebuah rumah berloteng seperti tempat tinggalmu yang dulu.”

Termangu-mangu Lui-ji memandang ke sana, air matanya kembali bercucuran, katanya dengan hampa, “Rumah loteng memang masih dapat dibangun, tapi hari-hari kehidupan seperti dahulu tidak mungkin datang kembali lagi.”

Pwe-giok juga terkesima oleh ucapan anak dara itu.

Karena ucapan Lui-ji itu, tanpa terasa ia pun terkenang pada kehidupannya yang bahagia dan tenteram di masa lampau. Teringat olehnya pohon waringin yang rimbun di halaman rumahnya itu, di bawah pohon itulah setiap musim panas ayahnya suka menyaksikan dia berlatih menulis, terbayanglah senyuman welas-asih sang ayah...

Semua itu baru saja terjadi setengah tahun yang lampau, tetapi bila terkenang sekarang rasanya seperti sudah jelmaan hidup yang lalu, tanpa terasa matanya menjadi basah lagi. Ucapnya dengan rawan, “Ya, segala apa yang sudah berlalu tak akan kembali lagi untuk selamanya.”

“Dahulu,” demikian Lui-ji bertutur dengan perlahan, “sebelum fajar menyingsing, tentu aku telah mulai memasak bubur, kadang kubuatkan telur dadar, sedikit sayur asin dan kacang goreng, maka nafsu makan Sacek lantas bertambah dan satu kuali bubur bisa disikatnya habis, lalu beliau akan memuji bubur yang kumasak itu harum dan enak, sayur asin dan kacang gorengnya lezat dan gurih, tapi sekarang...” dia menghela napas panjang, lantas menyambung sambil menunduk. “Meski tungku di sana belum rusak terbakar, selanjutnya masih dapat kumasak bubur di tungku itu, namun siapakah yang akan makan bubur yang kumasak itu.”

Terharu Pwe-giok, tanpa terasa dia berkata, “Akulah yang akan makan bubur yang kau masak itu.”

“Benar?” tanya Lui-ji sambil menengadah.

Sementara itu hari sudah terang, sinar sang surya menembus ke dalam tungku melalui lubang kecil itu sehingga kelihatan wajah Lui-ji yang masih basah oleh air mata itu. Sinar matanya gemerdep memancarkan cahaya kegirangan sehingga mirip setangkai bunga teratai putih dengan butiran embun yang mekar di pagi cerah di musim semi.

Tergetar juga hati Pwee-giok, cepat ia melengos dan tidak berani memandangnya lagi.

Lui-ji menghela napas, katanya, “Aku tahu ucapan Sicek tadi hanya untuk menyenangkan hatiku saja. Orang macam Sicek tentu masih memiliki banyak urusan penting yang harus dikerjakan, mana kau sempat datang padaku untuk makan bubur yang kumasak?”

Suaranya begitu lirih dan rawan sehingga hati Pwe-giok kembali terharu, jawabnya sambil tertawa, “Sicek tidak berdusta... Biar pun banyak urusan yang harus kuselesaikan, tetapi begitu pekerjaanku selesai, suatu hari aku pasti akan datang ke sini untuk makan bubur yang kau masak.”

Lui-ji tertawa senang seperti bunga yang baru mekar, ucapnya, “Kalau begitu, aku akan masak satu kuali bubur dan menunggu kedatanganmu.”

“Bila setiap hari makan bubur saja tentu juga akan bosan,” kata Pwe-giok dengan serius. “Sebaiknya setiap dua-tiga hari satu kali harus kau buatkan nasi goreng istimewa bagiku, kalau tidak aku bisa kurus kelaparan karena makan bubur melulu.”

Lui-ji terkikik-kikik, katanya, “Makan bubur kan waktu pagi, makan siang tentunya lain lagi, selain nasi goreng, akan kubuatkan pula Ang-sio-tite (kaki babi saus manis), Jau-koh-kek-kiu (ayam goreng jamur) dan hidangan lain yang lezat, tanggung tidak sampai tiga bulan Sicek akan tambah gemuk satu kali lipat.”

Melihat si nona tertawa girang, Pwe-giok juga gembira. Tetapi bila teringat pada nasibnya sendiri, sakit hati ayah belum terbalas, iblis itu masih memalsu dan menyamar sebagai ‘Ji Hong-ho’ gadungan dengan komplotan jahatnya sehingga segenap kawan kangouw sama tertipu, sebaliknya dirinya harus berjuang sendirian, entah kapan intrik musuh baru dapat terbongkar. Untuk bisa hidup tenang dan gembira, untuk makan bubur yang dimasak anak dara ini, mungkin harus menunggu sampai pada penjelmaan yang akan datang.

Selagi Pwe-giok termenung, tiba-tiba saja Lui-ji menegur, “He, Sicek... mengapa engkau menangis…?”

Cepat Pwe-giok mengusap matanya yang basah, jawabnya dengan tertawa, “Aihh, anak bodoh, Sicek sudah tua, mana bisa menangis. Karena asap maka keluar air mata.”

Lui-ji termangu sejenak, tiba-tiba ia berkata pula sambil tertawa, “Sicek, masa kau anggap dirimu sudah tua? Jika Sacek tidak menyuruhku agar panggil Sicek padamu, sebenarnya lebih tepat kalau kupanggil Siko (kakak ke empat) padamu.”

Pwe-giok memandangi wajah si nona yang berseri-seri itu dan tak dapat menjawab. Entah manis, entah kecut, entah getir, sukar untuk dijelaskan.....

T A M A T



>>>>>   IMBAUAN PENDEKAR   <<<<<
Bagian Ke-02 SERIAL RENJANA PENDEKAR


Pilih JilidPILIH JUDULT A M A T
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner