ANTARA DENDAM DAN ASMARA : JILID-01


Pagi yang amat cerah. Matahari baru saja muncul di balik bukit, menyinarkan cahayanya di permukaan bumi mengusir kabut pagi dan menggugah semua mahkluk dari kelelapan selimutan malam.

Embun pagi berkilauan di ujung-ujung daun dan rumput, burung-burung berlompatan dari satu dahan ke dahan lainnya sambil berbunyi saling bersahutan, siap untuk menunaikan tugas mereka sehari-hari, yaitu mencari makan.

Kelinci-kelinci pun bersama dengan tikus dan binatang lainnya, keluar dari sarang mereka untuk memulai hari itu dengan mengendus-endus serta mencari-cari makanan, baik untuk perut sendiri mau pun untuk perut si kecil di dalam sarang.

Semua makhluk, mulai dari binatang yang terkecil sampai kepada manusia, bersiap-siap melaksanakan satu tugas yang sama di dalam kehidupan ini, yaitu mencari makan! Tugas utama bagi kelangsungan hidup di dunia ini.

Bekerja! Hidup tanpa bekerja sama saja dengan mati, karena pada hakekatnya bekerja itu merupakan salah satu bentuk kebaktian dan penyembahan kepada Tuhan Maha Pencipta. Dengan kekuasaanNya, Tuhan Maha Pencipta sendiri sedetik pun tidak pernah berhenti bekerja. Bahkan kehidupan ini pun berisikan hasil dari tugas pekerjaan yang dilaksanakan dengan sempurna.

Pertumbuhan setiap makhluk adalah hasil pekerjaan, berdetiknya jantung setiap saat itu pun hasil pekerjaan, keluar masuknya pernapasan juga hasil pekerjaan. Segala sesuatu bekerja, dan itulah kehidupan!

Masing-masing dari kita, bahkan masing-masing dari anggota tubuh kita, semua memiliki tugas tertentu dan harus dilaksanakan dengan baik. Apa bila sebagian saja dari tubuh kita kurang baik pelaksanaan, maka kita akan jatuh sakit.

Hutan itu sunyi dari manusia, walau pun sangat ramai dengan binatang yang mulai sibuk. Dari semut yang paling rajin sampai binatang besar yang lamban dan nampak bermalas-malasan.

Tetapi kesunyian itu tidak terasa oleh seorang pemuda yang juga sedang bekerja mencari kayu bakar. Kadang kala dia memunguti kayu kering yang sudah tanggal dari pohonnya, kadang-kadang dia melompat ke atas sambil merenggut putus sebuah dahan pohon. Dari gerakannya melompat ke atas dan merenggut putus dahan-dahan itu dapat terlihat betapa pemuda itu memiliki gerakan yang sangat tangkas dan ringan, juga renggutan tangannya amat kuat sehingga sekali renggut saja, dahan itu patah.

Musim kering belum tua betul sehingga tidak banyak dahan kering yang telah tanggal dari pohonnya, maka terpaksa dia mencari dahan basah untuk kemudian dijemur dan dijadikan kayu bakar. Setelah mengumpulkan jumlah kayu yang cukup banyak, pemuda itu berhenti bekerja, lalu dia mulai berlatih silat di bawah sebatang pohon besar.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh dua tahun, wajahnya sederhana seperti pakaiannya, tetapi bentuk wajah itu tampan dan gagah. Sepasang alisnya berbentuk golok dan kedua matanya mencorong tajam seperti mata rajawali, hidungnya mancung dan pada mulutnya terbayang semangat yang besar sekaligus juga keramahan hati karena bibirnya ini selalu mengarah senyum.

Dagunya agak berlekuk, menunjukkan kemauan keras yang terkandung di hati, kemauan keras yang tak mudah ditundukkan. Pakaiannya terbuat dari kain kasar berwarna biru dan sepatunya dari kulit hitam. Di punggungnya nampak sebatang pedang. Tubuhnya sedang saja namun tegap dan berisi.

Pemuda ini bernama Song Ki San, seorang pemuda yang tinggal bersama gurunya di tepi hutan yang sunyi. Guru dan murid ini tinggal menyendiri, jauh dari tetangga, dan agaknya memang sang guru sedang bertapa atau menyepi, tidak suka hidup dalam masyarakat.

Segala kebutuhan hidup mereka dipenuhi oleh pekerjaan pemuda itu. Untuk membeli lain keperluan, pemuda itu kadang kala menjual hasil buruannya atau menjual rempah-rempah yang dicarinya ke dalam hutan kepada penghuni dusun-dusun di sekitar daerah itu.

Ki San terus berlatih silat. Gerakannya sangat cepat dan mengandung tenaga. Dari setiap gerak tangannya timbul angin pukulan yang menggoyang daun-daun pohon di sekitarnya. Setelah bersilat dengan gaya yang indah dan mantap, dia lantas meloncat dan mencabut pedangnya. Nampak sinar berkelebat ketika dia mencabut pedang, menunjukkan bahwa pedang itu terbuat dari baja yang baik sekali. Kemudian dia bersilat pedang.

Sayang di sana tidak terdapat orang lain yang menonton ilmu silat pedangnya itu. Kalau ada orang yang menonton, orang itu tentu akan kagum dibuatnya. Mula-mula pedang itu bergerak dengan gerakan yang mantap dan indah, menusuk ke sana, menangkis ke sini, membacok ke sana dan setiap gerakannya mendatangkan suara berdesing nyaring.

Kemudian semakin lama pedang itu digerakkan semakin cepat sehingga akhirnya pedang dan orang tidak nampak lagi. Sekarang yang nampak hanya gulungan sinar pedang yang membungkus tubuh pemuda itu sehingga yang kadang nampak hanya kedua kakinya saja berloncatan ke sana sini. Sinar pedangnya bergulung-gulung bagaikan seekor naga yang sedang bermain di angkasa, di antara awan dan mega.

“Ki San...!” sayup-sayup terdengar suara memanggil namanya.

Dia sedang asyik bermain pedang dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada setiap gerakan. Namun karena pendengarannya sudah terlatih baik sekali, dia dapat menangkap suara panggilan sayup-sayup itu dan dia pun cepat menghentikan permainan pedangnya, menyimpannya di punggung kemudian menghampiri tumpukan kayu bakar yang tadi telah diikatnya, memanggul di pundaknya dan dia pun berlari-larian menuju ke arah suara yang tadi memanggilnya.

“Ki San...!” suara itu memanggil dari dalam pondok.

Ki San melempar tumpukan kayu bakar ke atas tanah lalu berlari memasuki pondoknya. Suara gurunya demikian lemah. Memang sudah selama sepekan ini gurunya yang akhir-akhir ini lemah berpenyakitan, hanya bisa rebah di pembaringan tidak dapat turun karena menderita sakit.

“Suhu...!” Ki San memasuki kamar suhunya, dan duduk di tepi pembaringan, memandang suhunya yang terengah-engah, napasnya satu-satu. “Suhu, kau kenapakah?”

“Ki San..., penyakitku kambuh hebat... agaknya aku... aku tidak kuat lagi...,” kata orang tua yang berusia sekitar enam puluh tahun itu.

“Suhu, apakah suhu sudah minum obat yang tadi kusediakan?” tanyanya dengan bingung.

“Sudah, tetapi tidak ada gunanya... ini adalah luka lama yang kambuh kembali. Dengar Ki San, engkau belum tahu, dulu aku adalah seorang panglima yang memimpin perang dan terluka parah dalam perang, nyaris tewas. Luka itu sembuh akan tetapi sering kali kumat. Dahulu sebatang tombak memasuki perutku, ahh...”

“Suhu, tenanglah. Tidak baik banyak bicara, suhu perlu beristirahat.”

“Tidak, kau harus mendengar segalanya selagi... selagi aku masih kuat bicara. Dengar, Ki San, aku memiliki sebuah ganjalan hati... aku mempunyai seorang musuh besar. Maukah engkau mewakili aku dan membunuh musuhku itu?”

Ki San terkejut. “Akan tetapi, suhu. Berulang kali suhu melarang teecu (aku) membenci dan mendendam, apa lagi membunuh orang karena dendam!”

“Memang betul, akan tetapi dengarlah dulu... orang itu... dia telah merampas satu-satunya orang yang kucinta, merenggut wanita yang menjadi isteriku itu dari tanganku. Aku... tidak akan dapat mati dengan mata terpejam sebelum dapat membunuhnya...! Maukah engkau melakukannya untuk aku...?”

Ki San mengerutkan alisnya. Perbuatan orang itu sungguh keterlaluan sekali. Merampas isteri suhunya?

“Siapa orang itu, suhu?”

“Namanya Kwan Ciu Ek, dia tinggal di Wi-keng di selatan Sungai Kuning. Dia... dia dahulu adalah sahabat baikku... akan tetapi berhati-hatilah, dia mempunyai ilmu kepandaian yang lihai. Karena itulah maka aku menurunkan semua kepandaianku kepadamu, Ki San, dan aku yakin sekarang engkau akan mampu mengalahkannya...”

Melihat muridnya diam saja, orang tua itu lantas berusaha untuk bangkit, akan tetapi dia tidak kuat dan cepat Ki San menopangnya.

“Ki San, berjanjilah bahwa engkau akan mencarinya dan membalaskan sakit hatiku.”

“Baiklah, suhu. Teecu berjanji!”

Barulah orang itu kelihatan lega dan dia pun tertidur kembali. Muridnya menjaganya dan berusaha memberinya obat, akan tetapi semua itu sia-sia belaka karena berselang dua hari kemudian orang tua itu meninggal dunia. Pesannya yang terakhir adalah penekanan agar murid itu mau membalaskan dendamnya terhadap orang yang bernama Kwan Ciu Ek.

Ki San menangisi kematian gurunya. Ia adalah seorang anak yatim piatu, ayah bundanya sudah meninggal dunia ketika terjadi perang. Di dalam pengungsian ayah ibunya bertemu dengan gerombolan penjahat lalu mereka pun dirampok dan dibunuh. Dia sendiri sempat melarikan diri dan terlunta-lunta sampai dia ditemukan gurunya dan diajak pergi.

Semenjak itu, sejak berusia dua belas tahun, dia ikut gurunya dan menganggap gurunya sebagai pengganti kedua orang tuanya. Dia lalu digembleng ilmu silat dan ilmu membaca menulis oleh gurunya yang sangat menyayangnya. Maka kematian gurunya kini membuat dia merasa kehilangan segala-galanya dan dia menangis sedih di depan makam gurunya yang berada di belakang pondok dan dibuat secara sederhana sekali. Karena mereka tak bertetangga, maka dia menguburkan jenazah gurunya secara diam-diam seorang diri pula sambil menangis.

Mengapa kematian seseorang selalu ditangisi? Untuk apakah dan untuk siapakah orang menangisi kematian seseorang? Untuk siapakah kedukaan karena kematian itu?

Tanpa kita sadari sebetulnya kesedihan itu adalah untuk diri sendiri. Bukan untuk si mati. Tak mungkin kita menyedihi si mati karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan si mati.

Kita bersedih melihat orang sakit atau orang terhukum sebab iba melihat penderitaannya. Akan tetapi mati? Kita tidak tahu apakah si mati itu akan menderita ataukah tidak, maka semua tangis itu sebetulnya terjadi karena iba diri, karena kita merasa kasihan terhadap diri kita sendiri. Kita ditinggal orang yang kita kasihi, kita merasa kehilangan, kesepian, karena itulah kita menangis! Bukan karena yang mati.


Kalau memang Ki San teringat kepada yang mati, sepatutnya dia bersyukur, bukan malah menangis. Bersyukur karena orang yang dicintanya ini setidaknya telah terbebas dari rasa sakit. Tidak, dia bukan menangisi yang mati, tetapi menangis karena merasa ditinggalkan dan merasa betapa kini dia hidup sebatang kara di dunia ini.

Namun Ki San segera dapat menghentikan tangisnya. Memang dia mempunyai hati yang keras sehingga dia tidak membiarkan dirinya berlarut-larut dicekam duka. Gurunya sudah mati, sudah habis. Karena itu dia harus melanjutkan seorang diri, bahkan oleh gurunya dia ditinggali sebuah tugas. Membalas dendam!

Sejak kecil gurunya sudah mengajarkan agar hatinya jangan dikacau dendam kebencian, akan tetapi kali ini lain lagi. Dia harus melaksanakan pembalasan dendam itu, setidaknya untuk membalas budi suhunya yang bertumpuk-tumpuk. Dia akan pergi mencari Kwan Ciu Ek dan akan dibunuhnya orang yang telah merampas isteri suhunya itu. Di kota Wi-keng, di seberang selatan Huang-ho, itulah tempat tujuan perjalanannya…..

********************

Pada masa itu pemerintahan amatlah lemahnya. Kaisar agaknya kurang memperhatikan jalannya pemerintahan dan hanya berenang di dalam kesenangan dan foya-foya sehingga para pejabat berkiprah seenaknya tanpa ada yang mengawasi. Mereka melakukan korupsi besar-besaran, tidak memperhatikan pemerintahan tetapi hanya mementingkan diri pribadi belaka.

Semua tugas yang harus mereka lakukan, mereka laksanakan dengan tujuan kepentingan pribadi, maka tentu saja terjadilah penyelewengan-penyelewengan dan korupsi. Rakyatlah yang menderita, bukan hanya menderita dari para pejabat, tetapi juga menderita dengan tumbuhnya banyak gerombolan penjahat yang seolah-olah tak ada yang mengawasi atau menghalangi.

Perbuatan apa pun di dunia ini selalu dikerjakan orang dengan pamrih, dengan tujuan. Padahal yang terpenting bukanlah tujuannya, melainkan caranya. Tujuan hanyalah khayal belaka, hanyalah keinginan tercapainya sesuatu. Akan tetapi cara adalah keadaan yang sebenarnya, cara adalah apa yang kita kerjakan. Kalau caranya baik, maka akhirnya juga tentu benar. Sebaliknya, betapa pun mulia tujuannya, kalau cara melaksanakannya tidak baik dan tidak benar, maka tujuan akhir itu juga tidak benar.

Banyak orang menggunakan cara yang salah untuk melakukan suatu tujuan dengan dalih tujuan yang mulia, yang benar. Akan tetapi hal itu tidak mungkin terjadi. Cara yang kotor tentu menghasilkan tujuan akhir yang kotor pula.

Hidup adalah cara demi cara, saat demi saat, apa yang kita lakukan sekarang ini, bukan apa yang akan menjadi hasil perbuatan yang kita lakukan sekarang. Yang terpenting, kita melakukan segala sesuatu sebaik mungkin, tanpa ditunggangi pamrih demi kepentingan pribadi. Berhasil atau tidaknya, terserah Yang Maha Kuasa karena kita tidak kuasa untuk menentukan hasil suatu pekerjaan.


Demikianlah para pejabat itu. Kalau mereka itu melaksanakan tugas mereka tanpa pamrih kepentingan pribadi, tanpa tujuan untuk mencari keuntungan sebesarnya bagi diri sendiri, kalau tugas itu mereka laksanakan sebagai suatu kewajiban, demi pekerjaan itu sendiri, maka tentu mereka akan mendapatkan hasil yang baik bagi pemerintahan.

Tetapi bila semua pejabat melakukan korupsi, manipulasi, menyalah-gunakan wewenang serta kekuasaan, menginjak yang di bawah menjilat yang di atas, menindas yang lemah menjilat yang kuat, maka tentu saja akibatnya pemerintahan menjadi lemah dan buruk.

Ki San sedang berjalan seorang diri sambil membawa buntalan pakaian dan pedangnya. Dia berjalan melamun. Sungai Kuning sudah berada dekat di depan, kurang lebih tinggal satu li lagi. Sawah ladang penduduk sudah mulai nampak subur di tepi sungai, akan tetapi pada siang hari itu suasananya sunyi. Padi belum berbuah, maka tidak perlu ditunggui.

Selagi dia melangkah perlahan, dia mendengar suara riuh rendah orang berteriak-teriak di dusun sebelah kiri. Di sana terdapat sebuah dusun petani yang hidupnya mengandalkan hasil pertanian dan mereka hidup sederhana. Maka sungguh mengherankan bila di siang hari itu terdengar banyak orang berteriak-teriak. Pasti di sana sudah terjadi sesuatu yang luar biasa, pikir Ki San.

Dia cepat membelokkan langkahnya menuju ke dusun itu. Perhatiaannya semakin tertarik ketika di antara suara gaduh itu dia mendengar teriakan orang menangis, wanita menjerit dan tanda-tanda bahwa di sana sedang terjadi tindakan kekerasan.

Ki San lalu berlompatan sambil berlari cepat memasuki dusun itu, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya bergolak panas. Segerombolan orang sedang melakukan perampokan di dusun itu. Mereka membawa keluar ayam, kambing dan menuntun sapi, ada pula yang memanggul wanita-wanita muda yang meronta-ronta dan menjerit-jerit, bahkan ada yang memukuli para pria yang agaknya hendak melawan mempertahankan ternak, anak gadis atau isteri mereka.

Dengan beberapa kali loncatan Ki San sudah tiba di tempat itu, kemudian beberapa kali tangannya menampar dan kakinya menendang. Seorang yang sedang memanggul wanita terpaksa melepaskan wanita itu karena dia segera terpental oleh tendangan kaki Ki San, lantas jatuh berdebuk dan bergulingan. Seorang lagi penculik wanita, mendadak ditampar kepalanya sehingga terpelanting jatuh dan tidak mampu bangkit kembali. Dua orang yang sedang memukuli seorang penduduk ditangkap oleh Ki San, rambut kepalanya dijambak dan kedua kepala itu lalu diadu sehingga keduanya roboh dengan kepalanya terasa retak.

Para perampok yang melihat munculnya pemuda asing ini menjadi marah sekali. Mereka mencabut golok dan belasan orang itu lalu mengeroyok Ki San dari segala jurusan. Golok mereka berkelebatan menyambar ke arah tubuh Ki San dengan kemarahan meluap sebab mereka menganggap pemuda ini sebagai penghalang.

Namun Ki San tidak menjadi gentar. Ia melihat bahwa para perampok itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan tenaga melakukan kekerasan, namun tidak ada di antara mereka yang mempunyai ilmu silat yang berarti. Oleh karena itu dia menghadapi belasan orang itu dengan tangan kosong saja, tidak mencabut pedangnya karena dia pun tak ingin membunuh orang.

Begitu orang-orang itu menyerbu, Ki San mempergunakan keringanan tubuhnya, bergerak dengan jurus Kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Menyerbu Ratusan Golok). Terdengar teriakan-teriakan para perampok disusul golok mereka beterbangan, lantas mereka pun terpelanting ke kanan kiri. Kemudian Ki San menggunakan ilmu tendangan Siauw-cu-twi (Tendangan Berantai) sehingga dalam waktu beberapa menit saja, semua perampok telah jatuh bangun.

Para perampok menjadi gentar sekali. Begitu dapat merangkak bangun, mereka langsung melarikan diri meninggalkan semua barang rampasannya, lari tunggang langgang tanpa menoleh lagi.

Melihat ini penduduk dusun, dipimpin oleh kepala dusun, segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Ki San untuk menghaturkan terima kasih. Akan tetapi Ki San hanya berkata,

“Mulai sekarang saudara sekalian haruslah bersatu padu, mempersiapkan senjata dan jika ada datang gerombolan perampok, jangan takut akan tetapi keroyoklah. Bukankah jumlah saudara sekalian jauh lebih besar dari jumlah mereka? Kalau kalian bersatu dan melawan, tidak ada gerombolan perampok yang akan berani mengganggu.”

“Terima kasih, taihiap. Memang belum apa-apa kami sudah merasa ketakutan dulu. Akan tetapi mulai hari ini kami siap siaga melakukan perang terhadap semua perampok yang berani mengganggu dusun kami, dan kami akan mengadakan latihan ilmu berkelahi!”

“Bagus, modal utama untuk menjaga diri adalah keberanian dan semangat. Nah, selamat menjaga kampung sendiri!” Ki San lalu berkelebat lenyap dari depan orang-orang itu.

Dan benar saja. Sepeninggal Ki San, kepala dusun segera memanggil guru silat dari kota, dan menyuruh semua warganya mempelajari ilmu silat walau pun tidak terlampau banyak, juga melakukan penjagaan ketat sehingga tidak ada lagi perampok yang berani mencoba-coba untuk mengganggu dusun itu…..

********************

Akan tetapi urusan itu tidak habis di situ saja bagi Ki San. Kepala perampok yang dihajar babak belur itu merasa sangat penasaran dan sakit hati. Dia lalu menghubungi rekannya yang menjadi bajak di sepanjang Sungai Huang-ho di daerah itu, dan dengan berbohong dia melaporkan bahwa ada seorang pemuda yang membawa banyak uang tetapi pemuda itu lihai sekali. Mereka lalu bersekongkol untuk menjebak dan membajak pemuda itu kalau nanti melakukan penyeberangan.

Menjelang sore hari, benar saja muncul Ki san di tepi sungai dan dia mencari-cari tukang perahu untuk membawanya ke seberang sungai. Selagi dia celingukan ke kanan dan kiri, datang sebuah perahu kecil yang ditumpangi seorang tukang perahu yang membawa jala. Rupanya seorang nelayan.

“He, paman tukang perahu, apakah engkau mau menyeberangkan aku ke seberang sana? Berapa biayanya akan kubayar.”

“Menyeberang? Tentu saja kalau bayarannya cukup memadai karena tadinya aku hendak menjala ikan, orang muda,” kata nelayan setengah tua itu.

“Jangan khawatir, aku akan membayarmu cukup, seperti yang kau minta. Hayo pinggirkan perahumu, paman.”

Tukang perahu itu mendayung perahunya ke tepi, kemudian Ki San melangkah ke dalam perahu. Perahu didayung ke tengah.

“Mudah-mudahan kita akan sampai ke sana sebelum malam tiba, paman.”

“Tentu dapat, orang muda, jangan khawatir.”

Bagian dari sungai itu sunyi dan tidak nampak perahu lain. Akan tetapi ketika perahu tiba di tengah sungai, dari kanan kiri tiba-tiba datang belasan buah perahu berisi orang-orang berpakaian hitam yang kelihatan bengis, setiap perahu ditumpangi dua orang dan perahu-perahu itu sengaja mengepung dan menghadang perahu yang ditumpangi Ki San.

“Siapakah mereka, paman?” tanya Ki San sambil mengerutkan alisnya.

“Celaka, orang muda, mereka adalah bajak-bajak sungai,” kata nelayan setengah tua itu.

“Jangan takut, aku akan melawan mereka!” kata Ki San.

Di atas salah sebuah di antara perahu-perahu itu tampak seorang laki-laki tinggi besar dan brewokan berdiri di kepala perahu. Orang itu menudingkan golok besarnya ke arah Ki San.

“Orang muda, kalau ingin selamat, tinggalkan buntalan dan semua barang milikmu!”

“Kalian ini bajak-bajak yang ngawur saja,” kata Ki San dengan tenang. “Aku tidak memiliki apa-apa. Buntalanku ini hanya berisi pakaian yang tidak berharga. Jangan menggangguku dan biarkan perahu ini lewat!”

“Orang muda sombong, berani kau membantah perintahku? Rampas barang-barangnya!”

Empat orang bajak melompat ke atas perahu kecil yang ditumpangi Ki San. Tetapi Ki San menyambar mereka dengan tendangan dan tamparan yang membuat ke empatnya roboh terpelanting ke dalam air.

Bajak-bajak dari perahu lain menggunakan tombak panjang untuk menyerang dari kanan kiri. Karena serangan itu berbahaya sekali baginya, Ki San lalu mencabut pedangnya dan setiap kali dia menangkis dengan pedangnya, ujung tombak atau dayung yang digunakan mereka untuk menyerangnya langsung patah-patah! Hal ini mengejutkan para bajak laut, dan baru mereka mendapatkan kenyataan betapa keterangan rekan perampok mereka itu benar adanya. Pemuda ini lihai sekali.

Akan tetapi, tukang perahu yang tadinya nampak ketakutan, mendadak membungkuk dan mencabut kayu yang dipakai menyumbat perahunya yang bocor berlubang, lalu dia pun melompat ke dalam air. Ternyata tukang perahu atau nelayan itu hanyalah nelayan palsu, sebab sebetulnya dia pun anggota bajak yang memang sengaja bertugas sebagai umpan.

Perahunya adalah perahu yang sudah dilubangi lalu disumbat dengan kayu. Maka ketika penyumbatnya dicabut oleh tukang perahu itu, dengan derasnya air lalu masuk ke dalam perahu. Ki San yang sedang menangkisi tombak-tombak yang menyerangnya, tidak tahu akan perbuatan si tukang perahu. Sesudah tukang perahu meloncat ke dalam air dan dia melihat perahu itu bocor, barulah dia tahu.

Sekali ini Ki San tidak dapat bersikap tenang lagi. Dia tidak begitu pandai berenang dan perahunya bocor, terancam tenggelam. Meski pun demikian Ki San masih melawan terus hingga perahu sudah tenggelam sampai di pahanya. Dia bertekad melawan terus sampai napas terakhir.

Akan tetapi, pada saat itu datang meluncur sebuah perahu lain yang ditumpangi seorang gadis berpakaian merah muda. Begitu memasuki daerah pertempuran itu, gadis ini sudah menggunakan pedangnya mengamuk dan menyerang para bajak, lalu mendekati perahu Ki San. Gerakan pedangnya cukup hebat dan kuat sehingga banyak perahu bajak yang terpaksa mundur.

“Cepat melompat ke perahuku ini!” kata gadis itu yang melihat betapa tubuh Ki San sudah hampir tenggelam.

Ki San tidak dapat melompat, maka dia cepat meraihkan tangannya ke perahu itu. Begitu berhasil memegang tepi perahu, dengan sekali mengayun tubuhnya dia sudah berada di perahu si gadis.

Gadis itu mendayung perahunya menjauh, akan tetapi mendadak perahunya terguncang. Maka tahulah dia bahwa para bajak itu sudah menggunakan kepandaian mereka di dalam air, dan dengan menyelam dan berenang mereka hendak menggulingkan perahunya! Dia cepat bangkit berdiri lalu dayungnya menghantam ke kanan kiri, mengenai tangan-tangan yang memegangi perahunya dari bawah.

“Plak! Plak! Desss...!” bajak-bajak itu menjadi kesakitan dan gadis itu berkata kepada Ki San.

“Bantu aku, gunakan pedangmu dan serang tangan-tangan mereka!”

Akan tetapi Ki San tidak tega untuk membuntungi lengan orang. Dia melihat perahu serta dayungnya terapung menelungkup di permukaan air, maka dia pun meraih dayungnya dan dengan dayung itu dia kini menjaga sambil berdiri di perahu. Setiap kali ada kepala atau tangan tersembul dekat perahu, segera dihantamnya dengan dayung.

Gadis itu kini dapat mendayung perahunya menjauh dan tak lama kemudian perahu telah berhasil sampai ke pinggir sungai. Keduanya meloncat ke darat dan siap melawan dengan pedang mereka. Akan tetapi para bajak laut itu agaknya menjadi jeri dan mereka segera memutar perahu mereka kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah para bajak laut itu pergi, barulah Ki San menghadapi gadis itu. Ia melihat seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh tahun, tubuhnya sedang dan ramping, pakaiannya serba merah muda dan ringkas, rambutnya digelung ke atas, di sekujur badannya tidak mengenakan perhiasan namun tidak mengurangi kecantikannya.

Rambut itu hitam dan panjang, sehitam alisnya yang kecil melengkung. Matanya lembut, tetapi kadang dapat mencorong seperti mata burung Hong. Hidungnya kecil mancung dan mulutnya indah, dihias lesung pipit di sebelah kanan bibirnya serta sebuah tahi lalat hitam kecil di sebelah kiri bibirnya. Seorang gadis yang cantik jelita, dan gagah perkasa pula.

“Nona, sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu dengan nona. Pertolongan nona telah menyelamatkan nyawaku. Tak tahu aku bagaimana harus berterima kasih kepadamu.”

“Tak perlu berterima kasih. Sudah semestinya kalau aku menentang para bajak laut yang jahat itu dan menolong orang yang mereka bajak, siapa pun dia orangnya.”

“Engkau amat bijaksana, nona. Dalam sehari ini aku bertemu dengan banyak orang jahat. Pertama segerombolan perampok yang dapat kupukul mundur, tetapi baru beberapa jam saja sudah bertemu lagi dengan gerombolan bajak sungai yang kejam. Kukira di dunia ini tidak ada lagi manusia baik, sampai aku bertemu denganmu!”

Gadis itu menarik napas panjang. “Memang sekarang banyak sekali gerombolan penjahat, dan di daerah ini yang menjadi pemimpinnya adalah gerombolan yang menamakan dirinya Hek-coa-pang (Perkumpulan Ular Hitam). Semua bajak sungai dan perampok tunduk dan takluk kepada perkumpulan itu yang dipimpin oleh seorang datuk sesat yang lihai.”

“Hemm, apakah para pejabat daerah yang memiliki pasukan penjaga keamanan tidak ada yang turun tangan membasminya?”

“Huhh, mana ada petugas keamanan yang membasminya? Bahkan aku mendengar Hek-coa-pang itu dilindungi karena setiap bulan mereka mengirim upeti kepada pejabat-pejabat yang berwenang.”

“Kalau begitu, celakalah rakyat!”

“Begitulah, dan memang menjadi kewajiban orang-orang seperti kita ini untuk menentang dan membasminya.”

“Nona, aku kagum sekali kepadamu. Perkenalkan, namaku Song Ki San, seorang yang hidup sebatang kara dan yatim piatu, tidak mempunyai keluarga di dunia ini. Aku seorang perantau, nona, dan kebetulan lewat di daerah ini.”

“Aku melihat bahwa engkau pun seorang gagah, saudara Song. Aku tadi melihat engkau tidak mau menyerah walau pun perahumu sudah hampir tenggelam. Aku bernama Yo Li Lian, aku tinggal di kota Wi-keng.”

Ki San terkejut mendengar disebutnya kota itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner