CHENG HOA KIAM : JILID-38


Untuk beberapa lamanya Wi Liong berdiri seperti patung. Kemudian ia melangkah keluar, menengok lagi lalu menyelinap ke pinggir rumah dan mengayun tubuhnya melompat naik ke atas genteng. Betapa pun juga dia harus membuktikan sendiri bahwa memang rumah itu kosong, bahwa Siok Lan tidak berada di situ.

Benar saja. Ketika dia mengintai dari atas, ternyata rumah itu kosong, yang ada hanyalah pelayan tadi yang sibuk menjahit pakaiannya sendiri yang robek. Dengan hati kosong Wi Liong lantas melompat turun dan kakinya melangkah lemas ketika dia berjalan keluar dari pekarangan rumah itu.

"He-he-heh, orang muda, kau kecewa? Aku juga kecewa mendapatkan rumah itu kosong, hanya dijaga pelayan galak!"

Wi Liong sadar dari keadaannya seperti melamun itu dan memandang. Ia melihat seorang kakek gemuk pendek berpakaian seperti pengemis akan tetapi kain baju tambal-tambalan ini tampak baru dan bersih semua. Lengan kiri kakek ini buntung sebatas siku dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu butut. Sepatunya warna hitam mengkilap dan baru! Kakek itu sedang duduk di atas rumput dan karena tubuhnya memang pendek sekali, ketika dia duduk tadi dia tidak begitu kelihatan.

Mula-mula Wi Liong tidak mengenalnya dan menyangka dia berhadapan dengan seorang pengemis. Akan tetapi ketika pikirannya sudah terang benar, dia terkejut karena mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Lam-san Sian-ong tokoh selatan yang sangat terkenal di dunia kang-ouw ini.

Tentu saja pertemuan ini menggirangkan hatinya karena Lam-san Sian-ong juga ikut hadir ketika dahulu mereka semua diserang oleh Kun Hong dan kawan-kawannya di Kelenteng Siauw-lim-si, di mana selain Lam-san Sian-ong juga hadir See-thian Hoat-ong, Pak-thian Koai-jin, Tung-hai Sian-li, Eng Lan dan Siok Lan. Kakek ini adalah sahabat baik keluarga Siok Lan, tentu ia tahu di mana adanya mereka. Cepat ia memberi hormat, menjura dan berkata.

“Kiranya lodanpwe Lam-san Sian-ong yang berada di sini. Maafkan aku berlaku kurang hormat karena tidak segera mengenal locianpwe."

Kakek buntung itu tertawa aneh. "Orang muda seperti kau ini mana bisa mengenal aku? Kalau kau orang lain pun tentu tak akan mengenal aku. Tapi hanya orang tolol saja yang tidak mengenal orang yang tangannya buntung!" Memang kakek ini kalau bicara seenak perutnya sendiri.

Wi Liong kembali memberi hormat, kemudian berkata merendah. "Harap locianpwe sudi memberi maaf."

"Aku tidak punya maaf, mana bisa diberi-berikan pada orang?" Dia memandang lebih teliti kemudian berkata dengan suara keras seperti berteriak, "Aha, kiranya kaukah ini…? Ahh, aku mendengar kau murid Thian Te Cu, hebat... hebat...! Tetapi mengapa kau sekarang begini kurus? Pakaianmu compang-camping. Apa sekarang kau menjadi pengemis?”

Wi Liong sudah tahu akan keanehan kakek ini, maka dia tidak menjadi marah mendengar kata-kata yang tidak karuan itu.

"Aku datang hendak mencari... Kwa-lo-enghiong." Tentu saja sebetulnya dia mencari Sok Lan, akan tetapi mana bisa dia mengaku di depan setiap orang?

"Haa... mana bisa. Orang she Kwa itu selamanya seperti orang gila. Dan sekarang pun dia sudah pergi, katanya menyusul anak dan isterinya yang juga pergi. Tahu aku jauh-jauh datang hendak memberi selamat atas berkumpulnya suami isteri itu kembali, tapi kenapa malah pergi?" Dia lalu menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepala dan memukul mukulkan tongkatnya di atas tanah. "Apa mereka marah kepadaku? Apa orang she Kwa itu cemburu kepadaku? Ha-ha-ha, agaknya tak mungkin. Biar pun Lee Hui Goat menolak pinanganku dan kembali kepada suaminya, aku tidak iri hati malah girang... ha-ha-ha, dua orang itu memang gila, berkumpul kembali mencari kepusingan!" Ia lalu tertawa tawa dan Wi Liong mendengarkan dengan heran.

Biar pun dia tidak tahu nama Tung-hai Sian-li akan tetapi dia dapat menduga bahwa yang disebut Lee Hui Goat itu tentulah Tung-hai Saan-li. Tiba-tiba dia merasa kasihan kepada kakek buntung ini. Orang semacam dia ini meminang Tung-hai Sian-li? Benar-benar lucu, lucu dan tak tahu diri, juga... kasihan sekali.

Apakah orang buruk rupa dan orang-orang bercacad tidak berhak mencinta? Cinta kasih tidak memilih orang, yang dirangsang adalah hatinya, bukan tubuhnya. Lam-san Sian-ong mencinta Tung-hai Sian-li! Agaknya Wi Liong akan tertawa dan tidak percaya kalau tidak mendengar omongan kakek buntung ini sendiri.

"Kalau begitu locianpwe juga tidak tahu ke mana perginya Kwa lo-enghiong serta anak isterinya?"

"Kwa Cun Ek tidak pernah bepergian, sekali pergi tentu sukar dicari tempatnya. Puterinya adalah gadis berandalan, ke mana perginya pun siapa yang tahu? Tetapi Tung-hai Sian-li mudah saja mencarinya. Ehh, orang muda. kau bernama apa? Kabarnya kau keponakan Kwee Sun Tek, betulkah?”

"Namaku Thio Wi Liong dan memang Kwee Sun Tek adalah pamanku..."

"Ehh, kau datang ke sini mencari mereka ada apakah? Kau kelihatan seperti orang sakit, sakit badan sakit pikiran. Hee... sampai lupa aku, bukankah Kwa Cun Ek akan berbesan dengan Kwee Sun Tek. Jadi... kau ini... kau calon mantunya Tung-hai Sian-li?"

Mendengar ini, tergeraklah hati Wi Liong. Tentu kakek ini yang akan dapat menolongnya sebagai perantara untuk penyambungan kembali perjodohannya yang sudah dia patahkan sendiri. Serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil menitikkan air mata,

"Locianpwe, tolonglah saya..."

Kakek itu melengak heran. Diketuknya kepala Wi Liong dengan tongkat bututnya sambil berkata, "Orang muda, apa ingatanmu sudah berubah? Apa kau tidak gila? Kalau tidak, coba ceritakan yang jelas."

Wi Liong lalu menuturkan semua pengalamannya, tentang pertunangannya dengan Kwa Siok Lan yang dibatalkan, mula-mula oleh pamannya kemudian diperkuat olehnya sendiri, juga tentang Bu-beng Siocia yang ternyata adalah Kwa Siok Lan tunangannya sendiri dan tentang peristiwa akhir-akhir ini. Dia ceritakan semuanya, tidak ada yang disembunyikan karena dia mengharapkan pertolongan kakek ini.

Setelah mendengar penuturan ini, Lam-san Sian-ong terkekeh-kekeh seperti mendengar sebuah cerita yang sangat lucu. "Salahmu sendiri, mengapa kau tolong dia dan tidak mati bersama saja di dasar jurang? Bukankah lebih enak kalau mati bersama dari pada hidup terpisah merana? Ha-ha-ha. memang hidup ini sengsara, tidak perlu dihadapi dengan air mata.”

"Saya yang muda dan bodoh masih mengharapkan hidup bahagia di samping Siok Lan, bila locianpwe sudi menolong tentu akan berhasil menyambung kembali tali perjodohan," kata Wi Liong memohon.

"Bodoh! Ayahnya keras kepala, mana anaknya tidak keras kepala pula? Ibunya mudah tersinggung, tentu anaknya mudah marah pula. Tolong sih bisa, akan tetapi entah berhasil atau tidak. Paling perlu menemui Tung-hai Sian-li, aku lebih senang berbicara dengan dia. Tentu dia sedang menghibur diri di sepanjang mulut Sungai Yang-ce yang masuk ke laut. Seperti biasanya, kalau sedang berduka dia selalu menghibur diri dengan burung-burung di sana. Akan tetapi enak saja kau minta tolong, kau sendiri bisa tolong apa padaku?"

"Locianpwe boleh menyuruh apa saja, akan saya penuhi untuk membalas budi locianpwe yang besar ini," kata Wi Liong girang.

Kakek itu menatap tajam, mengerutkan kening berpikir-pikir. Kemudian dia mengangguk-angguk dan berkata, "Kau harus menjadi anak angkatku, agar aku dapat menjadi walimu. Dan sebagai anak angkat, kau harus berganti pakaian yang baik dan patut. Pula, sebagai anak angkat kau harus membantuku, membalas perbuatan Bu-ceng Tok-ong terhadapku ini!" Ia mengacungkan lengan kirinya yang buntung.

Wi Liong berpikir sejenak. Dia tidak berkeberatan menjadi anak angkat orang aneh ini dan berpakaian pantas, dan tentang membalaskan Bu-ceng Tok-ong, tokoh itu memang orang jahat, patut kalau diberi hukuman. Maka ia lalu mengangguk-angguk dan berjanji mentaati semua kehendak ayah angkatnya. Semenjak itu ia menyebut gi-hu (ayah angkat) kepada kakek itu yang menjadi girang sekali…..

********************

Pemandangan dataran rendah di lembah Sungai Yang-ce amat indah. Apa lagi bila datang
musim semi, segala macam tanaman menjadi seribu macam bunga berkembang. Sungai Yang-ce yang sangat panjang itu mengakhiri aliran airnya di Laut Kuning, melalui sebelah selatan Propinsi Kiang-su, atau boleh juga dibilang bahwa alirannya memasuki perbatasan antara Laut Kuning dan Laut Timur.

Di sepanjang lembah sungai yang mendekati laut ini amat indah pemandangannya. Airnya tenang karena sungai di bagian ini sudah melebar dan alirannya tidak deras lagi. Banyak juga ikan di perairan ini, namun tidak ada yang mencari ikan di sini karena para nelayan tentunya lebih suka mencari ikan di laut yang lebih banyak menghasilkan ikan-ikan besar. Maka tempat ini pun sunyi saja.

Pada suatu hari, pagi-pagi ketika matahari mulai naik dari ufuk timur, sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang wanita meluncur dari timur ke arah barat. Melihat laju perahu yang begitu cepatnya melawan arus sungai sedangkan pendayungnya hanyalah seorang wanita, dapat diduga bahwa wanita ini bukanlah orang sembarangan.

Wanita ini sudah berusia empat puluhan lebih namun masih kelihatan cantik. Pakaiannya sederhana tetapi rapi, sikapnya kereng dan pada punggungnya terselip sebatang pedang. Rambutnya digelung ke atas dan pada wajah yang masih berkulit putih halus serta cantik itu terbayang kedukaan yang mendalam sehingga muka itu kelihatan agak kurus.

Ketika tiba di tempat yang indah di mana burung-burung belibis putih beterbangan dengan riang gembira, wajah itu menjadi berseri sedikit dan pipinya menjadi agak merah, bibirnya tersenyum. Dengan gerakan ringan ia mendayung perahunya ke pinggjr, lalu melompat ke darat sambil memegang ujung sebuah tambang perahunya. Gerakannya sungguh lincah seperti burung-burung yang beterbangan itu.

Cepat dia mengikatkan ujung tambang pada sebatang pohon untuk mencegah perahunya hanyut, kemudian ia berjalan mendekati burung-burung yang beterbangan. Dengan wajah gembira wanita itu meruncingkan mulutnya dan mengeluarkan bunyi mencicit yang tinggi nyaring.

Aneh sekali, burung-burung belibis yang beterbangan di angkasa itu tiba-tiba menukik ke bawah menghampirinya, malah burung-burung yang tadinya menyambari ikan-ikan kecil di permukaan air, juga terbang menghampiri ketika mendengar ‘panggilan’ istimewa itu. Tak lama kemudian, ketika wanita itu mengembangkan kedua lengan, beberapa ekor burung hinggap di atas lengannya seperti burung-burung peliharaan yang sudah jinak, sedangkan yang lain beterbangan di atas kepalanya,

"Anak-anak yang baik...," kata wanita itu dengan suara perlahan dan mesra, "anak-anak yang baik, sudah kenyangkah kalian?" Kedua tangannya mengelus-elus kepala dua ekor burung yang hinggap di kedua lengannya. Amat mengharukan perhubungan mesra antara seorang manusia dengan burung-burung liar di tempat yang sunyi itu.

Memang demikianlah kiranya yang dikehendaki oleh alam, adanya hubungan baik bukan saja antara makhluk sebangsa, melainkan antara sesama hidup. Alangkah harmonis dan menyedapkan pandangan mata keadaan itu, tempat yang sunyi, air mengalir perlahan dan tenang, menampung bayangan batu karang, pohon dan bukit-bukit kecil. Angin bersemilir lembut membelai daun-daun pepohonan. Dan wanita yang tidak muda lagi namun masih tampak cantik itu bermain-main riang dengan burung-burung belibis putih yang sebetulnya adalah burung-burung liar. Sungguh enak dipandang!

Tiba-tiba burung-burung yang beterbangan di atas kepala wanita itu terbang pergi sambil mengeluarkan suara mencicit keras seperti kaget dan ketakutan. Hanya dua ekor burung yang hinggap di lengannya itu yang masih belum terbang. Wanita itu kaget lalu menoleh. Ternyata yang mengagetkan burung-burung itu adalah seorang kakek pendek berlengan buntung sebelah dan seorang pemuda tampan.

"Dunia penuh dengan orang-orang yang akan suka menjadi sahabatmu, akan tetapi kau memilih burung-burung menjadi kawan! Banyak sudah kujumpai wanita aneh, akan tetapi tak ada yang seperti kau, Tung-hai Sian-li!" kata kakek itu menyeringai sambil mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya di tanah sehingga membuat dua ekor burung yang tadinya masih hinggap di kedua lengan wanita itu kini terbang pergi saking kagetnya.

Sementara itu, begitu melihat ibu Siok Lan, dengan muka kemerahan Wi Liong langsung mengangkat kedua tangannya ke dada memberi hormat.

Tung-hai Sian-li membalikkan tubuh menghadapi mereka. Keningnya berkerut setelah dia melihat Wi Liong dan pandang matanya melembut ketika ia melihat kakek itu yang bukan lain adalah Lam-san Sian-ong, seorang sahabatnya yang amat baik seorang laki-laki yang mendatangkan rasa kasihan dalam hatinya, tidak saja karena lengan buntung, akan tetapi juga karena pernah jatuh cinta kepadanya tanpa dia dapat membalas.

"Memang dunia penuh orang, tapi orang-orang macam apa, Sian-ong? Kebanyakan orang-orang yang berhati palsu, orang-orang yang tidak setia dan orang-orang yang lebih suka menyusahkan orang lain saja. Bagiku lebih baik memilih hewan-hewan yang tidak sekotor manusia!" Sambil berkata demikian, sepasang mata yang bening tajam itu menyambar ke arah Wi Liong yang menjadi makin merah mukanya. Dia merasa disindir oleh orang yang sedianya akan menjadi ibu mertuanya ini.

Lam-san Sian-ong tertawa terkekeh. "He-heh-heh, aku tahu maksudmu. Sian-li, kau tentu menujukan omonganmu kepada mantumu yang keponakan Kwee Sun Tek ini, ha-ha-ha."

"Aku tidak punya mantu macam dia, aku tidak berbesan dengan manusia bernama Kwee Sun Tek!"

"Ho-ho, perlahan dulu, dewi! Kau takkan berbesan dengan dia lagi melainkan dengan aku, dan kau akan bermenantukan anak angkatku, bukankah ini pengikat hubungan yang baik sekali?”

Tung-hai Sian-li tertegun dan heran. "Apa... apa maksudmu?"

"Mari kita duduk, tak enak bicara sambil berdiri seperti ini," kata kakek buntung itu sambil mengajak Tung-hai Sian-li dan Wi Liong duduk di atas batu-batu di tepi sungai. Anehnya, terhadap kakek buntung ini Tung-hai Sian-li yang biasanya berhati keras tampak menurut tanpa banyak cakap.

"Ceritakanlah kehendakmu, ringkas saja. Aku tidak punya banyak waktu,” kata wanita itu, sikapnya masih kereng dan tegas.

"Baik, baiklah..." Kakek buntung itu mengangguk-angguk, lalu dia menceritakan persoalan yang dialami oleh Wi Liong secara singkat, tentang pertemuan yang aneh antara Wi Liong dan Bu-beng Siocia sehingga antara mereka terikat semacam cinta kasih dan pemuda itu rela memutuskan ikatan pertunangannya dengan Kwa Siok Lan tanpa mengetahui bahwa Bu-beng Siocia yang dicintanya itu bukan lain adalah Siok Lan sendiri.

Semua dia tuturkan dengan ringkas namun cukup jelas. Tung-hai Sian-li agaknya merasa sangat tertarik sehingga dia sama sekali tidak mengganggu penuturan itu dan kadang kala melirik ke arah Wi Liong yang selalu menundukkan muka dengan terharu.

"Nah, sekarang kau tahu duduk persoalannya." Lam-san Sian-ong menutup penuturannya. "Memang Wi Liong bodoh, tetapi puterimu juga keterlaluan mempermainkan tunangannya sendiri sehingga terjadi salah pengertian yang mengakibatkan perpecahan. Tapi sekarang bocah ini menjadi anak angkatku, maka aku berhak membicarakan urusan perjodohannya dengan kau. Aku menghendaki supaya tali perjodohan antara anakmu dan anak angkatku ini disambung lagi, Tung-hai Sian-li."

Mendengar kata-kata ini, tahulah Wi Liong bahwa kalau biasanya kakek buntung ini bicara tak karuan itulah bukan wataknya, hanya menurutkan kebiasaannya yang aneh. Buktinya sekarang dia bisa bicara begitu jelas dan baik.

Akan tetapi mendengar penuturan itu, Tunghai Sian-li kelihatan berduka sekali kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mencari dia saja belum bisa ketemu, bagaimana mau bicara tentang perjodohannya?" Dia menghela napas panjang, kemudian sambil melirik ke arah Wi Liong dia berkata,

"Kalau pemuda ini bisa mendapatkan kembali anakku yang hilang, baru aku mau bicara tentang perjodohan."


Mendengar ini Wi Liong berdiri lantas berkata dengan tegas. "Aku akan mencari Lan-moi sampai dapat!" Setelah berkata demikian, dia memberi hormat kepada Lam-san Sian-ong dan berkelebat pergi dari tempat itu…..

********************

Dengan cepat sekali Wi Liong berlari kembali ke Poan-kun. Sepanjang jalan dia berpikir-pikir. Sekarang ternyata olehnya bahwa gadis itu sudah pergi dan berpisah dengan ayah ibunya. Entah ke mana perginya kekasihnya yang berwatak aneh dan keras itu. Ia harus mencarinya sampai dapat, harus dapat membujuknya pulang dan mengampuninya.

Dengan sabar dan teliti Wi Liong menyelidiki sekeliling Poan-kun, bertanya-tanya tentang diri Siok Lan. Gadis ini amat terkenal di daerah itu, maka akhirnya usahanya berhasil Ada seorang anak kecil yang melihat gadis itu berlari cepat keluar dari kota Poan-kun menuju ke barat. Berdasarkan petunjuk inilah Wi Liong mulai dengan perjalanannya mencari jejak Siok Lan.

Berbulan-bulan ia melakukan perjalanan, menurutkan petunjuk setiap kabar mengenai diri Siok Lan yang jejaknya makin tidak jelas lagi. Namun Wi Liong tak pernah berputus asa, dia terus mencari dengan penuh harapan.

Beberapa bulan kemudian pemuda ini tiba di pinggir Sungai Wu-kiang, yaitu sungai yang memuntahkan airnya di sungai besar Yang-ce-kiang. Jejak Siok Lan, atau kabar yang dia dengar dari orang-orang tentang gadis itu, lenyap sebulan yang silam di Telaga Tung-ting sehingga dia berkelana terus ke barat sampai di tepi Sungai Wu-kiang itu, dalam sebuah hutan yang liar dan sudah sepekan lebih dia tidak bertemu dusun tak bertemu manusia.

Agak gembira juga hatinya ketika dia melihat beberapa orang nelayan sedang menangkap ikan dengan jala dari perahu-perahu mereka. Ketika Wi Liong hendak mendekati mereka, tiba-tiba dia mendengar suara banyak orang di sebelah kanan dan kagetlah dia ketika dia mengenal rombongan orang yang sedang berduyun-duyun memasuki perahu besar di tepi sungai itu.

Mereka adalah orang-orang kang-ouw dan di antara mereka dia melihat beberapa orang panglima yang dahulu bersama Bu-ceng Tok-ong dan Kun Hong pernah mengeroyok dia dan orang-orang gagah di Kuil Siauw-lim-si. Dari gerak-gerik mereka ketika melompat ke perahu, dari senjata-senjata yang mereka bawa, tahulah dia bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Semua ada tujuh orang yang beramai naik perahu itu menyeberang sungai.

Sesudah mereka menyeberang barulah Wi Liong muncul. Dia melihat dua orang nelayan yang tadinya mencari ikan sekarang bercakap-cakap sambil menuding ke arah seberang sungai, agaknya sedang mempercakapkan orang-orang yang menyeberangi sungai tadi. Melihat munculnya seorang pemuda, mereka segera menghentikan percakapan.

"Ji-wi toako, tadi kulihat banyak orang menyeberang. Ada keramaian apakah di sana?" tanya Wi Liong yang berlagak seorang pelancong, dan yang haus akan tontonan.

Akan tetapi dua orang nelayan itu malah memperlihatkan muka heran ketika mendengar pertanyaan ini. Memang tempat ini tidak pernah didatangi pelancong, tentu saja mereka merasa heran melihat seorang pelancong berjalan kaki muncul dari hutan tepi sungai itu. Masih mending kalau pelancong ini datangnya berperahu.

"Setahu kami tidak ada keramaian apa-apa kecuali pesta perkawinan di rumah Chi-loya. Mungkin sekali tuan-tuan tadi adalah para tetamu yang hendak mengunjungi pernikahan Chi-loya!" jawab seorang di antara mereka.

Wi Liong memang tadinya tertarik melihat orang-orang kang-ouw itu. Di tempat seperti ini, di selatan pula, muncul orang-orang yang membantu bala tentara Mongol, sungguh amat mencurigakan dan aneh. Hal ini harus dia selidiki, pikirnya. Akan tetapi dia pura-pura tak begitu mengacuhkan orang-orang tadi dan sebaliknya kelihatan tertarik mendengar pesta perkawinan.

"Ada pesta, tentu ramai! Siapakah Chi-loya itu dan di mana dia tinggal?"

Dua orang nelayan itu saling pandang, terheran-heran mendengar ada orang yang belum mengenal Chi-loya. Padahal semua orang yang tinggal di sepanjang lembah sungai, tahu belaka siapa itu Chi-loya.

"Aku datang dari jauh, sengaja melancong mencari pemandangan bagus, tentu saja tidak mengenal Chi-loya," kata pula Wi Liong melihat keheranan mereka.

Dua orang nelayan itu mengangguk-angguk dan kini malah dengan penuh gairah mereka menceritakan siapa adanya Chi-loya itu.

"Tanah yang tuan injak ini milik Chi-loya. juga tanah di seberang sana dan di sepanjang lembah sungai ini sampai berpuluh li jauhnya." nelayan itu mulai memberi penjelasan.

Kemudian ia pun menuturkan bahwa Chi-loya adalah seorang hartawan besar yang boleh dibilang merajai daerah itu, pengaruh kekayaannya sampai meliputi beberapa buah desa di sektar situ. Di samping kaya raya, Chi-loya juga amat dermawan dan tak seorang pun penduduk di sepanjang Sungai Wu-kiang yang tidak mengenalnya dan mentaatinya.

Dia disegani dan ditakuti bukan saja karena hartanya dan dermawannya, akan tetapi juga karena kepandaian ilmu silatnya yang amat tinggi. Malah di daerah itu Chi-loya mendapat sebutan Wu-kiang Siauw-ong (Raja Muda Sungai Wu-kiang)!

Wi Liong mengangguk-angguk dan tahulah dia sekarang mengapa ia melihat orang-orang kang-ouw di tempat ini. Tentu mereka hendak mengunjungi orang she Chi yang ternyata juga seorang berkepandaian tinggi itu. Akan tetapi mengapa bersama panglima-panglima dari utara?

”Apakah Chi-loya hendak mengawinkan anaknya?" tanyanya karena orang yang dipanggil loya (tuan tua) tentulah sudah tua, maka kalau merayakan perkawinan tentu perkawinan anaknya atau cucunya.

Dua orang nelayan itu menggeleng kepala. "Bukan, tapi untuk merayakan pernikahan Chi-loya sendiri dengan seorang gadis perkasa yang cantik jelita."

"Ah..., apakah Chi-loya itu masih muda?"

"Sudah putih rambutnya, bagaimana dibilang muda? Sedikitnya ada lima puluh tahun..."

"Aahh... begitu...? Baru sekarang beristeri?”

Dua nelayan itu nampak tidak senang. "Baiknya pertanyaan-pertanyaan tuan ini ditujukan kepada kami, jika kepada orang lain mungkin tuan akan mendapat banyak susah. Segala yang dilakukan Chi-loya adalah baik. Isterinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. apa salahnya kawin lagi? Bahkan kami sedang hendak mencari ikan segemuk-gemuknya untuk disumbangkan. Kalau tuan mengajak kami bicara saja. mana kami bisa dapat ikan gemuk?” Dengan sikap uring-uringan karena menganggap Wi Liong terlalu cerewet, dua orang nelayan itu lalu menengahkan perahunya dan mulai menjala ikan lagi.

"Heii, tunggu ji-wi twako. aku pun hendak menyeberang. Tolong seberangkan aku!" teriak Wi Liong. Akan tetapi dua orang nelayan itu menggeleng kepala.

"Tidak ada waktu lagi," kata mereka dan selanjutnya tidak pedulikan Wi Liong lagi.

Untuk menyeberangi sungai selebar Wu-kiang tentu saja bukan merupakan hal yang sulit bagi seorang pemuda sakti seperti Wi Liong. Dia segera mencari beberapa batang pohon bambu dan sebentar kemudian dia telah kelihatan menyeberangi sungai itu hanya dengan pertolongan beberapa batang bambu. Dua kakinya menginjak bambu-bambu itu kemudian dengan sebatang galah bambu dia mendayung dan... perahu istimewa ini lantas meluncur menyeberangi sungai.

Dua orang nelayan yang melihat hal ini menjadi bengong dan barulah mereka tahu bahwa orang muda itu ternyata adalah orang pandai yang dapat disejajarkan dengan orang-orang aneh yang sering kali datang mengunjungi Chi-loya. Mereka menjadi menyesal atas sikap mereka tadi, juga agak takut. Siapa tahu kalau-kalau pemuda itu adalah sahabat Chi-loya dan kelak akan mengadu!

Akan tetapi Wi Liong tidak pedulikan mereka. Setelah tiba di seberang dia lalu melompat ke darat dan melanjutkan perjalanan. Tidak seperti di sebelah timur sungai, pada sebelah baratnya ternyata terdapat lorong yang bersih dan Wi Liong lalu mengambil jalan melalui lorong ini.

Dari jejak-jejak sepatu yang terlihat di atas tanah yang agak membasah tahulah ia bahwa rombongan orang tadi juga melalui lorong ini. Dia ingin mengetahui siapakah sebenarnya Chi-loya yang amat berpengaruh itu dan apa pula hubungannya dengan para kaki tangan Mongol.

Pemandangan di kanan kiri jalan juga berbeda dengan di sebelah timur sungai. Apa bila di sebelah timur penuh hutan melulu, di bagian ini nampak subur dengan sawah ladang yang kehijauan. Makin ke barat semakin banyak sawah ladang dan mulailah Wi Liong melihat petani-petani menggarap sawah. Melihat keadaan tubuh mereka yang segar dan pakaian mereka yang lumayan, Wi Liong mulai percaya dengan cerita nelayan-nelayan tadi bahwa Chi-loya yang kaya raya memang bersikap baik terhadap buruh-buruhnya.

Setibanya di sebuah perempatan Wi Liong melihat orang-orang berdatangan melalui jalan itu juga, ada yang datang dari kanan, ada yang muncul dari kiri pada jalan perempatan. Melihat keadaan mereka mudah diduga bahwa mereka itu tentulah orang-orang kang-ouw yang hendak mengunjungi pesta pernikahan itu.

Hal ini menguntungkan baginya, karena kini dia pun merupakan seorang di antara tamu-tamu yang tidak dicurigai. Orang-orang lain tentu saja mengira dia pun seorang tamu yang hendak mendatangi pesta itu pula.

Diam-diam Wi Liong menjadi geli hatinya, akan tetapi jalan satu-satunya untuk mengenal siapa adanya Chi-loya hanyalah ikut para tamu ini mengunjungi rumah hartawan itu. Pula, ia pun perlu mendapatkan hiburan dan perubahan setelah merana berbulan-bulan dengan sengsara.

Rombongan tamu itu ternyata menuju ke sebuah rumah besar yang aneh sekali, didirikan di antara sawah dan ladang, jauh dari tetangga dan sama sekali tak boleh dibilang rumah kampung. Rumah besar ini menyendiri, tetapi megah dan besar sekali, juga amat mewah. Rumah ini dihias dengan indah dan nampak banyak orang sibuk melayani para tamu yang biar pun hanya beberapa puluh orang jumlahnya, namun suara mereka memenuhi tempat itu. Sebagian besar para tamu itu terdiri dari orang-orang yang sikapnya kasar dan hampir semua membawa senjata dan menunjukkan sikap orang-orang berkepandaian silat.

Para tetamu disambut oleh beberapa orang yang agaknya menjadi panitia yang mewakili tuan rumah. Semua barang sumbangan diterima, dicatat dan ditumpuk di atas meja besar yang sudah disediakan di situ. Wi Liong yang tidak membawa apa-apa hanya ikut duduk saja di ruang tamu sambil memperhatikan keadaan di situ.

Ruang tamu itu sebetulnya merupakan sebuah taman bunga besar di pekarangan depan gedung itu dan di tengah-tengah taman bunga ini ada sebuah ruangan luas yang berlantai licin dan bersih. Agaknya tempat yang dikelilingi bunga-bunga ini merupakan tempat untuk berlatih silat atau mencari hawa sejuk dengan pemandangan indah di sekelilingnya.

Memang dapat dibayangkan betapa nikmatnya untuk duduk-duduk di sini di waktu semua bunga mekar sambil minum arak atau membaca kitab.

Tempat untuk para tamu diatur sedemikian rupa sehingga merupakan setengah lingkaran menghadap gedung, di mana pintunya masih tampak tertutup dan hanya di ambang pintu dihias indah dengan kain-kain merah. Dengan pengaturan tempat duduk seperti itu, maka di tengah-tengah para tamu terdapat tempat kosong yang cukup lega dengan garis tengah sepuluh meteran.

Para pelayan yang mengenakan seragam warna putih-putih setrip merah melayani tamu dengan hormat. Hidangan serta arak yang dikeluarkan benar-benar membuktikan bahwa tuan rumah adalah seorang yang memiliki banyak uang. Serba enak serba mahal.

Tanpa disengaja pandang mata Wi Liong menyapu bagian di mana berkumpul tamu-tamu wanita dan hatinya berdebar ketika ia mengenal seorang wanita setengah tua yang cantik sekali. Tak salah lagi, pikirnya. Itulah Tok-sim Sianli! Akan tetapi wanita itu agaknya tidak mengenalnya, atau mungkin sudah lupa. Siapa sih yang memperhatikan seorang pemuda kurus di antara tamu-tamu kang-ouw yang gagah itu?

Setelah arak dibagikan beberapa putaran dan para tamu mulai jengkel karena tuan rumah dan pengantinnya belum juga muncul, tiba-tiba pintu gedung terbuka dan seorang pelayan yang berpakaian mewah berseru,

"Chi-loya dan Chi-hujin keluar menyambut para tamu!" Seruan ini terdengar ganjil karena buktinya bukan dua orang tuan dan nyonya rumah itu yang menyambut tamu, melainkan para tamu yang berdiri dan menyambut mereka!

Karena tempat duduk Wi Liong agak di belakang, ketika semua orang berdiri dan dia pun ikut berdiri, dia tidak bisa melihat jelas. Hanya nampak sepintas tadi pengantin wanitanya masih dikerudungi mukanya, juga potongan tubuhnya tidak kelihatan jelas karena pakaian pengantin yang kebesaran itu menyembunyikan potongan tubuh.

Ada pun yang dipanggil Chi-loya adalah seorang pria tinggi gemuk, berusia lima puluhan akan tetapi masih nampak kuat dan sehat sekali, dan wajahnya terang peramah dengan sepasang mata yang bercahaya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner