CHENG HOA KIAM : JILID-39


Chi-loya mengangkat dua tangannya dan menjura kepada para tamu, lalu mempersilakan para tamu duduk kembali. Dia sendiri bersama isterinya lalu menghampiri tempat duduk yang memang sudah disediakan di situ, yaitu sepasang kursi perak yang dihias indah.

Pengantin wanita duduk di samping kiri suaminya, diam tanpa bergerak bagaikan patung. Wajah itu tertutup oleh hiasan kepala yang bergantungan di depan muka, hanya kadang-kadang kalau hiasan-hiasan itu bergerak, nampak kulit dagu yang putih kemerahan.

Orang-orang, terutama sekali tamu-tamu pria yang masih muda menjulurkan leher sambil memasang mata baik-baik agar tidak menyia-nyiakan kesempatan mencuri pandang pada wajah pengantin itu setiap kali hiasan mukanya tersingkap. Namun sayang, wanita yang menjadi pengantin itu agaknya malu-malu dan menundukkan mukanya saja sehingga biar pun kadang-kadang hiasan itu tersingkap, tidak nampak sesuatu kecuali bayangan hidung yang kecil mancung!

Setelah semua tamu duduk, barulah Wi Liong dapat melihat tuan rumah dengan jelas. Dia menjadi kagum sekali.

Laki-laki itu memang jantan sekali sikapnya. Wajahnya yang gagah, matanya yang tajam, mulutnya yang tersenyum ramah, dagunya yang mengeras, juga sikap duduknya, semua membayangkan kejantanan yang menggugah rasa kagum dalam hatinya. Orang she Chi ini tidak pantas menjadi seorang hartawan, lebih pantas menjadi seorang pendekar atau seorang tokoh yang amat disegani di dunia kang-ouw.

Di samping tubuhnya yang besar dan kuat itu, pengantin wanita nampak kecil tak berarti, lemah dan tidak sesuai duduk di sampingnya. Diam-diam Wi Liong jadi ingin sekali melihat wajah gadis yang beruntung itu. Ya, memang boleh dibilang beruntung jika dapat menjadi isteri seorang segagah Chi-loya, biar pun usia laki-laki itu jauh lebih tua.

Sementara itu, dengan sinar matanya yang ramah Chi-loya menyapu ruang tamu sambil mendengarkan seorang petugas membacakan catatan dari para tamu yang telah memberi sumbangan. Juga para tamu mendengarkan sehingga keadaan ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara petugas itu yang bernada tinggi dan suara mengirup arak di sana sini.

Mendengar petugas iitu menyebut nama orang-orang gagah sambil menyebutkan macam barang sumbangannya, walau pun membosankan namun ada juga menariknya. Wi Liong melihat tuan rumah selalu mengangguk sambil tersenyum kepada tamu yang namanya disebut, tentu saja yang dikenalnya. Banyak juga yang ia tidak kenal sehingga tuan rumah itu hanya mengangguk-angguk kepada para tamu, tidak tahu kepada siapa.

"Sebuah cawan perak berhias ukiran liong dari Thio Ki Sun kauwsu (guru silat) di Heng-yang!” Suara petugas itu menyambung terus daftar nama-nama dan Chi-loya mengangguk ke arah seorang kate yang duduk tak jauh dari Wi Liong.

"Sebatang tusuk konde emas permata untuk pengantin wanita, dari Tok-sim Sian-li di Wi-san!"

Chi-loya mengerutkan keningnya sambil menoleh ke arah Tok-sim Sianli di ruang wanita, lalu terdengarlah suaranya yang ternyata amat nyaring dan jelas. "Sungguh pun tidak ada hubungan dengan saudara-saudara dari Mo.kauw, namun hari ini menerima sumbangan dari Sian-li. Terima kasih... terima kasih...!"

Baru kali ini tuan rumah memberi komentar atas sumbangan seorang tamu. Dari sini saja dapat diketahui bahwa Tok-sim Sianli tergolong seorang tamu yang agung.

Pandang mata Wi Liong yang tajam dapat melihat betapa pengantin wanita bergerak di atas kursinya mendengar disebutnya nama Tok-sim Sianli, kedua lengan yang terbungkus pakaian pengantin itu tergetar seakan-akan mengeluarkan tenaga.

"Sebatang akar jimat penambah usia untuk Chi-loya dan sepasang merpati kemala untuk Chi-hujin (nyonya Chi) dari Sin-chio Lo Thung Khak dan kawan-kawannya dari utara!"

Semua orang segera ikut memandang ketika tuan rumah mengangguk ke arah orang yang bernama Lo Thung Khak dan bergelar Sin-chio (Tombak Sakti) ini. Bukan karena gelarnya melainkan karena pemberiannya yang sangat berharga. Sepasang merpati kemala masih mudah didapatkan asal kita memiliki uang, akan tetapi akar jimat penambah usia adalah sebuah benda yang amat langka, sebuah akar obat yang luar biasa dan termasuk satu di antara obat- obat dewa. Tak mudah mencari akar ini yang kekuningan seperti kulit daging manusia, malah bentuknya juga seperti manusia kecil, berkaki dan bertangan! Khasiatnya besar sekali untuk menambah kekuatan badan dan dikabarkan dapat menambah panjang usia orang!

Akan tetapi, kalau orang-orang di situ mengharapkan senyum manis serta ucapan terima kasih dari Chi-loya, mereka ini kecele. Malah Chi-loya nampaknya tidak senang, pandang matanya ke arah Sin-chio Lo Thung Khak yang berusia kurang lebih lima puluh tahun itu penuh selidik dan curiga.

Agaknya Si Tombak Sakti juga merasa akan pandang mata tuan rumah, maka dia buru-buru berdiri dan menjura sambil berkata, "Chi-loya yang baik, kami bertujuh datang dari utara tidak membawa apa-apa yang berharga. Selain akar jimat dan merpati kemala, juga kami membawa salam hangat dari Raja Sekalian Raja dengan harapan mudah-mudahan Chi-loya panjang umur dan kelak dapat membantu Raja Sekalian Raja!"

Bagi sebagian besar orang yang hadir di sana, ucapan ini merupakan rahasia yang sukar dimengerti sehingga kini mereka memandang lebih penuh perhatian kepada pembicara. Lo Thung Khak berusia lima puluh tahun lebih dan enam orang kawannya kini juga berdiri menjura, terdiri dari tiga orang berpakaian gagah, dua orang seperti kaum sasterawan dan seorang lagi seperti seorang pertapa yang memelihara rambut.

Hati Wi Liong berdebar, maklum bahwa tujuh orang ini adalah kaki tangan Bangsa Mongol dan yang dimaksud dengan Raja Sekalian Raja tentulah Kaisar Mongol, Ogotai yang telah menggantikan Jengis Khan, ayahnya.

Wi Liong sudah mendengar bahwa di bawah pimpinan kaisar baru ini, banyak sekali orang Han yang pandai menjadi kaki tangan Mongol, bahkan orang-orang pandai di selatan juga banyak yang sudah tergerak hatinya untuk kelak membantu bila mana gelombang Bangsa Mongol menyerbu ke selatan.

Maka tahulah Wi Liong apa tugas tujuh orang ini, tentu menghubungi orang-orang pandai di selatan dan membagi-bagi hadiah untuk mengambil simpati mereka. Tiba-tiba saja hati Wi Liong menjadi panas dan bencilah dia kepada tujuh orang utusan itu.

Sementara itu wajah Chi-loya tiba-tiba menjadi merah ketika mendengar ucapan Sin-chio Lo Thung Khak tadi. Ia juga bangkit berdiri dan matanya mengeluarkan cahaya ketika dia balas menjura kepada tujuh orang tamunya itu. Terdengar suaranya menggeledek,

"Sin-chio Lo Thung Khak! Jika kau dan saudara-saudara ini datang seperti Tok-sim Sian-li, datang demi persahabatan dan perkenalan, aku orang she Chi selamanya tidak pernah memilih orang dan membedakan tamu. Tapi kalian bertujuh datang membawa pesan raja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku, malah boleh dibilang musuh dalam hatiku. Oleh karena itu bawalah kembali sumbangan-sumbangan darimu, sebab aku tidak bisa menerima kunjungan utusan-utusan raja!"

Inilah kata-kata keras yang sama sekali tak pernah disangka-sangka oleh Lo Thung Khak sehingga mukanya menjadi pucat. Dia dan kawan-kawannya yang selalu diterima dengan sikap dua macam oleh orang-orang gagah, yaitu kalau tidak dengan ramah-tamah tentu dengan segan-segan dan takut-takut, sekarang dihina begitu saja oleh orang she Chi ini!

Seorang yang masih tampak muda dan yang berdiri di kanannya, dengan cambang bauk yang kaku berdiri melangkah maju dan mukanya merah sekali ketika ia berkata,

"Orang she Chi, alangkah sombongnya kau! Kau mengandalkan apamu sih begitu kepala besar berani menghina kami bertujuh? Kabarnya kau memiliki sedikit kepandaian, apakah itu yang kau hendak sombongkan? Lihat, aku orang she Lu tidak bisa terima begitu saja penghinaanmu!"

Chi-loya tersenyum mengejek. "Habis kau mau apa?”

Orang she Lu itu adalah seorang panglima yang membantu gerakan bala tentara Mongol. Ada pun Sin-chio Lo Thung Khak pernah kita kenal ketika pada awal cerita ini dia ikut pula menyerbu untuk menangkap Beng Kun Cinjin. Orang she Lu ini adalah tangan kanannya.

"Mau apa? Mau memaksa kau berlutut minta ampun atas hinaanmu tadi!" Setelah berkata demikian, orang itu melompat maju ke depan Chi-loya yang masih berdiri dengan tenang.

Tiba-tiba pengantin wanita bergerak, dia berdiri dan kedua tangannya bergerak ke depan. Terdengar pekik mengerikan dan... panglima she Lu lantas roboh, mata kirinya tahu-tahu telah mengucurkan darah dan menjadi buta. Ternyata mata itu telah tertimpuk oleh sebutir batu giok yang tadinya merupakan salah satu di antara batu-batu giok yang bergantungan menghias kepala pengantin wanita!

Tentu saja semua tamu menjadi kaget bukan main dan juga kagum, karena tak seorang pun menyangka bahwa pengantin wanita itu ternyata memiliki kepandaian yang amat lihai. Orang jadi ingin sekali melihat wajahnya yang masih tertutup.

Chi-loya tidak kelihatan heran, bahkan tertawa bangga. "Cuwi sekalian yang hadir, harap maafkan bahwa isteriku terpaksa turun tangan karena tak sabar melihat tamu kurang ajar ini. Sin-chio Lo Thung Khak harap kau bawa temanmu itu keluar sebelum isteriku timbul lagi kemarahannya."

Tentu saja Lo Thung Khak menjadi marah bukan kepalang. Jika dia tidak bertindak maka penghinaan ini sekaligus akan menghancurkan namanya di dunia kang.ouw. Ia menyuruh seorang kawan supaya merawat orang she Lu itu, kemudian ia memberi isyarat. Seorang kawannya yang berpakaian seperiti pendeta memelihara rambut itu maju ke depan lantas merangkapkan kedua tangannya ke arah Chi-loya.

"Hujin sudah memperlihatkan kepandaian dan membuat kami benar-benar merasa kagum sekali dan juga memuji pilihan Chi-loya yang tepat. Karena sudah sampai di sini, sebelum memenuhi pengusiran Chi-loya tadi, aku Tak Pouw Taisu mengharapkan sedikit petunjuk dalam ilmu silat dari Chi-loya dan Chi-hujin."

Mendengar namanya dan melihat mukanya serta dari irama suaranya, mudahlah diduga bahwa saikong (hwesio yang memelihara rambut) ini adalah orang dari utara yang tinggal di luar daerah perbatasan, mungkin peranakan Mongol atau Mancu.

Chi-loya segera melompat ke depan, mengikatkan ikat pinggangnya yang terlalu panjang. "Kalian hendak mengunjungi pernikahanku ataukah hendak mengacau? Tak Pouw Taisu, kalau memang kau sengaja hendak mengacau, majulah dan jangan dikira aku orang she Chi takut kepada gertakanmu. Marilah, biar hitung-hitung aku menggembirakan hati para tamuku karena kebetulan di sini tidak diadakan pertunjukan apa-apa. Tak Pouw Taisu, di sini tempatnya lega!"

Dia melompat ke tengah ruangan itu dan meski pun tubuh orang she Chi ini tinggi besar, namun gerakannya amatlah ringan,, membuat Wi Liong yang menonton menjadi kagum.

Sambil mengeluarkan seruan keras Tak Pouw Taisu segera melompat ke tempat itu dan tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang cambuk hitam yang panjangnya kurang lebih empat kaki.

"Ha-ha, kau menggunakan senjata? Terang datangmu dengan kawan-kawanmu memang berniat mengacau. Tidak apa, majulah!" seru Chi-loya tanpa mengeluarkan senjata karena dari gerakan calon lawan ini dia tahu bahwa ‘isi’ lawannya tidak berapa berat.

"Biarlah aku menghajarmu dengan cambuk ini untuk membalas penghinaanmu!" kata Tak Pouw Taisu yang cepat menyerang dengan sabetan cambuk ke arah leher tuan rumah.

Chi-loya tidak mengelak, melainkan mengangkat tangan kiri lantas diulur untuk merampas cambuk itu. Dengan tepat sekali dia dapat menangkap cambuk dan hatinya telah merasa geli mengapa dalam segebrakan saja lawannya ini sudah begitu bodoh untuk membiarkan senjatanya dirampas. Akan tetapi mendadak dia terkejut sekali karena ujung cambuk itu masih bergerak dan memukul ke arah kepalanya dari belakang!

Kini tahulah Chi-loya bahwa permainan cambuk lawan memang hebat, jika ditangkis atau dipegang, ujung cambuk masih menyerang terus! Terpaksa dia melepaskan pegangannya dan melompat ke belakang.

Kini Chi-loya tidak berani main-main lagi. Dengan lincah sekali dia mengelak dari serbuan lawan yang melakukan serangkaian serangan cambuk bertubi-tubi hingga terdengar bunyi "tar-tar-tar" susul menyusul.

Namun sampai belasan jurus cambuk itu menyambar-nyambar, jangankan mengenai kulit tubuh Chi-loya, malah menjamah ujung baju pun tidak pernah! Memang hebat tuan rumah ini, gerakan kakinya begitu rapi dan setiap serangan cambuk cukup dikelit dengan tubuh dimiringkan sedikit saja.

Melihat gerakan kakinya, Wi Liong yang menonton dengan gembira mengenal bahwa tuan rumah ini mempergunakan gerakan kaki Sha-kak-pouw dari Sha-kak Kun-hoat (Ilmu Silat Segi Tiga) yang cukup lihai dan sukar dipelajari. Diam-diam dia kagum dan gembira.

Tuan rumah ini ilmunya lumayan dan pengantin wanita juga hebat, kiranya tak kalah oleh suaminya. Sungguh pasangan yang sangat serasi, sayang pengantin prianya sudah agak tua. Tidak tahu bagaimana wajah pengantin wanitanya.

Pada jurus ke dua puluh lebih, ketika menghindarkan diri dari sambaran cambuk tiba-tiba Chi-loya melompat ke belakang, tubuhnya merendah kedua lengannya bergerak maju.

"Pergi!" seru tuan rumah itu.

Di lain saat, cambuk sudah terampas dan tubuh saikong itu sudah terlempar sampai lima meter lebih! Sambil meringis kesakitan saikong itu merayap bangun dibantu oleh seorang kawannya.

Terdengar seruan keras dan sinar berkilauan. Tahu-tahu Sin-chio Lo Thung Khak sendiri telah maju dan menyerang Chi-loya dengan sebatang tombak perak yang cahayanya putih gemerlapan. Gulungan sinar tombaknya bergelombang dan ujungnya seolah-olah terpecah menjadi tujuh.

Hebat sekali ilmu tombak orang she Lo ini sehingga tidak mengherankan kalau dia dijuluki Sin-chio Si Tombak Sakti. Dahulu dia pernah memegang jabatan sebagai komandan Kim-i-wi (pasukan pengawal baju sulam) kelas dua, maka dapat dibayangkan bahwa ilmunya memang sudah tinggi dan lihai.

Akan tetapi Chi-loya telah siap sedia. Dia loloskan sebatang rantai baja dari pinggangnya. Dia pun memutar senjatanya dan di lain saat dua orang jago itu sudah bertanding hebat.

Kekuatan mereka seimbang dan agaknya pertandingan ini.akan berlangsung lama kalau saja tidak terjadi perobahan mendadak yang hebat. Pengantin perempuan yang sejak tadi duduk diam seperti patung setelah membikin buta sebelah mata orang she Lu tadi dengan sebutir mutiara, sekarang tiba-tiba saja melompat dan tangan kanannya telah memegang pedang. Gerakan pedangnya amat cepat, kuat dan ganas. Tiga kali saja ia menggerakkan pedangnya menyerang dan akhirnya tusukan yang ke tiga kalinya membuat pedangnya menembus dada Lo Thung Khak!

Sungguh ngeri pemandangan di situ ketika pengantin wanita mencabut pedangnya, darah mengucur dari dada Lo Thung Khak yang roboh tak bisa berkutik lagi. Para tamu menjadi pucat dan sebagian besar memandang dengan mulut melongo.

"Suami isteri she Chi terlalu sekali!" tiba-tiba saja terdengar seruan nyaring ketika dengan tenang pengantin wanita kembali duduk di kursinya dan pedangnya sudah sembunyi lagi di balik baju.

Yang berseru nyaring ini adalah seorang wanita, kemudian dengan gerakan ringan sekali tahu-tahu Tok-sim Sian-li sudah berada di tengah ruangan itu. Mukanya sebentar merah sebentar pucat menandakan kemarahan hatinya. Melihat wanita ini maju dengan marah, Chi-loya cepat menjura dengan hormat,

"Sianli harap maafkan kami yang terpaksa turun tangan terhadap orang-orang jahat yang sengaja datang hendak mengacau."

"Kau ini tuan rumah macam apa? Kau hanya mengandalkan kebisaanmu dan juga hendak menyombongkan kepandaian isterimu! Apa kau mengirim undangan kepada semua orang gagah hanya untuk memamerkan kehebatan isterimu? Cih, kepandaian begitu saja apa anehnya? Coba suruh dia menusuk padaku. Jangan tiga kali, biar tiga ratus kali, hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya!" Tok-sim Sian-li marah sekali dan hal ini memang mudah dimengerti.

Lo Thung Khak adalah kaki tangan Mongol, ada pun ia sendiri bersama Bu-ceng Tok-ong, Hek-mo Sai-ong dan yang lain-lain juga menghambakan diri kepada orang-orang Mongol. Sekarang meski pun dia tidak datang bersama Lo Thung Khak, akan tetapi melinat orang-orang yang sudah dia kenal itu mengalami bencana di rumah keluarga Chi-loya, tentu saja dia tidak mau tinggal diam.

"Kenapa Sianli marah-marah? Bukankah sudah jelas bahwa orang she Lo beserta kawan-kawannya itu yang sengaja datang hendak membikin keributan? Mereka pura-pura datang hendak memberi sumbangan dan mengucapkan selamat, namun diam-diam mengandung niatan untuk membujuk aku menjadi anjing Mongol, bukankah itu hinaan yang luar biasa besarnya?"

"Cih, pintar bicara! Apa pun kesalahan orang, kalau dia itu tamu maka dia harus dihormati oleh tuan rumah. Kau berhak menyalahkan siapa saja, dan sebagai tuan rumah kau juga berhak mengusir, akan tetapi kau membunuhnya dengan jalan mengeroyok! Kegagahan macam apakah ini? Hayo kau dan binimu itu maju keroyok aku, hendak kulihat!" kata Tok-sim Sianli sambil mencabut pedangnya.

Keadaan menjadi tegang dan semua orang memandang dengan hati berdebar-debar. Chi-loya marah sekali, sedangkan kawan-kawan Lo Thung Khak mengundurkan diri sesudah mengurus jenazah orang she Lo itu,.

Chi-loya sudah cukup mengenal kehebatan nama dan kepandaian Tok-sim Sian-li dan dia tahu bahwa dia, bahkan dibantu oleh isterinya, bukanlah lawan iblis wanita ini. Akan tetapi sebagai tuan rumah yang dihina, tentu saja dia tidak akan mundur selangkah pun. Dengan muka agak pucat dia bertanya,

"Tok-sim Sian-li, benar-benarkah kau hendak menantangku?”

Tok-sim Sian-li sudah ‘naik darah’. Dia membusungkan dadanya dan menjawab. "Benar, aku menantangmu dan siapa saja yang akan membelamu di sini!”

"Chi-loya, serahkan perempuan galak ini padaku untuk menghajarnya!" terdengar seruan marah dan seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam melompat maju sambil menyeret sebatang toya besi.

Orang ini adalah seorang jagoan dari kota Cun-yi tak jauh dari situ, seorang ahli silat yang bekerja sebagai pengawal barang-barang berharga yang dikirim orang, jadi dia semacam piauwsu, tapi dia melakukan pekerjaan ini seorang diri saja, jadi tidak seperti perusahaan-perusahaan piauwkiok umumnya. Tenaganya besar, ilmu silatnya pun lumayan dan karena mukanya hitam serta sikapnya keras kasar, dia diberi julukan Hek-bin-houw (Macan Muka Hitam).

Melihat Hek-bin-houw maju, Chi-loya terpaksa mundur kemudian duduk lagi di kursinya. Ia maklum bahwa si kasar ini bukan musuh Tok-sim Sian-li, tetapi dia juga sudah mengenal Hek-bin-houw yang tak mungkin dapat dilarang. Setidaknya ini merupakan selingan yang memberi kesempatan padanya untuk berpikir bagaimana nanti menghadapi Tok-sim Sian-li yang dia tahu amat lihai dan berbahaya itu.

"Siluman betina itu mencari keributan, dia lihai bukan main, bagaimana baiknya?" bisiknya perlahan sekali kepada pengantin wanita di sebelah kirinya.

Isterinya mengangguk perlahan lalu berbisik kembali. "Dia memang lihai, akan tetapi kita tak boleh takut. Majulah, aku akan membantu, kita keroyok dia!"

Mendengar jawaban isterinya, Chi-loya bernapas lega, tersenyum lagi dan memandang ke arah Tok-sim Sian-li yang kini sudah berhadapan dengan Hek-bin-houw. Kini Chi-loya tak takut lagi. Andai kata dia akan kalah dan mati, kalau di samping isterinya, dia akan rela!

Sementara itu Hek-bin-houw telah berhadapan dengan Tok-sim Sian-li. Setelah dekat baru dia melihat bahwa wanita itu sebetulnya sudah tua biar pun dari jauh masih nampak cantik sekali.

"Hemm, kau sombong dan centil, kiranya nenek-nenek keriputan!" ia memaki dan dua jari kiri, telunjuk dan jari tengah, ia tudingkan ke arah hidung Tok-sim Sian-li. "Sikapmu amat menjemukan seakan-akan di daerah Kwi-ciu ini tidak ada orang pandai. Hayo, kau boleh menari pedang, tuan besarmu hendak melihat. Kalau jelek kau boleh minggat dari si..."

Belum habis ucapan Hek-bin-houw, tahu-tahu sinar pedang yang menyilaukan berkelebat ke arah leher orang kasar itu. Hek-bin-houw terkejut bukan main karena tahu bahwa sinar pedang itu luar biasa hebatnya. Ia cepat membuang tubuh ke belakang dan berjumpalitan, kemudian secara membabi-buta menghantamkan toyanya ke depan untuk melindungi diri.

Akan tetapi dia memang bukan lawan Tok-sim Sian-li. Begitu pedang di tangan wanita itu bergerak menyambut toya, senjata toya itu lantas putus menjadi dua! Hek-bin-houw kaget hendak melompat ke pinggir, tetapi tangan kiri Tok-sim Sian-li bergerak memukul dengan gerakan berputar.

Angin pukulan hebat menyambar dada Hek-bin-houw. Dia menjerit, terpental, muntahkan darah segar dan roboh tak bernapas lagi. Jantungnya telah pecah oleh pukulan Toat-sim-ciang (Tangan Pencabut Jantung) yang jahatnya bukan main!

Keadaan menjadi makin tegang dan para tamu mulai marah melihat pesta itu terganggu. Dua orang tamu, kakak beradik she Kwee yang sudah sering mendapat pertolongan Chi-loya yang mengangkat mereka dari keadaan yang amat miskin hampir kelaparan, segera melompat berdiri dan menyerang Tok-sim Sian-li dengan golok.

Dua orang ini adalah murid-murid Min-kiang Lojin, yaitu seorang kakek sakti yang hidup di lembah Sungai Min-kiang. Ilmu golok mereka cukup kuat karena sesungguhnya Min-kiang Lojin masih anak murid Bu-tong-pai.

Chi-loya kaget sekali dan hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Terdengar suara tawa Tok-sim Sian-li, suara tawa yang merdu dan nyaring, namun suara tawa ini mengandung tenaga khikang yang luar biasa.

Selain ilmu pedangnya yang hebat, memang Tok-sim Sian-li masih memiliki ilmu pukulan Toat-sim-ciang dan di samping ini masih sering kali mempergunakan ilmunya yang aneh, yaitu menyanyi atau tertawa yang kedengarannya merdu akan tetapi mengandung tenaga khikang dan lweekang yang dapat membuat lawan roboh atau kacau permainan silatnya!

Begitu mendengar suara ketawa ini, kaki dua orang saudara Kwee itu menjadi lemas dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, leher mereka sudah terbabat putus oleh pedang di tangan Tok-sim Sian-li! Memang sekali turun tangan wanita ini tentu menjatuhkan korban. Inilah sebuah di antara sebab-sebab mengapa dia dijuluki Tok-sim (Si Hati Beracun)!

"Tok-sim Sian-li iblis jahat, sungguh kau keterlaluan sekali!" Chi-loya membentak marah, tubuhnya berkelebat dan rantai bajanya sudah menyambar tubuh Tok-sim Sian-li.

"Hi-hik-hik, orang she Chi, hari ini aku akan merobah hari kawinmu menjadi hari matimu!" Tok-sim Sian-li tertawa-tawa mengejek kemudian dengan cepat ia mengelak sambil balas menyerang dengan pedangnya.

Tiba-tiba tampak berkelebatnya sinar pedang dan terdengar suara berkerincingan. Itulah sinar pedang di tangan pengantin wanita dan yang berbunyi adalah hiasan kepalanya yang bergerak-gerak sehingga batu-batu mutiara itu saling bertemu, suaranya nyaring bening.

Kembali Tok-sim Sian-li tertawa mengejek sambil menangkis pedang pengantin wanita itu.

"Bagus sekali, pengantin setia biar pun suaminya tua! Kau mau mengantar suamimu ke neraka? Boleh, boleh sekali!" Pedang di tangan Tok-sim Sian-li bergerak cepat sekali dan di lain saat ia telah dikeroyok dua oleh sepasang pengantin itu!

Baru sekarang semua tamu melihat bahwa kepandaian pengantin wanita itu bahkan lebih hebat dari pada Chi-loya! Dialah yang menandingi Tok-sim Sian-li bermain pedang, cepat dan hebat gerak-geriknya membuat para tamu melongo dan kagum. Namun, betapa pun juga suami isteri itu masih belum mampu mendesak Tok-sim Sian-li yang memang lebih tinggi tingkat kepandaiannya.

Tiba-tiba terdengar seruan tertahan. Yang berseru ini adalah Wi Liong. Pemuda ini sejak tadi duduk menonton dan sangat tertarik, sekarang dia menjadi pucat sekali. Gerak-gerik pedang di tangan nona pengantin itu! Dia seperti sudah mengenalnya!

"Tok-sim Sian-li, jangan menyebar maut. Akulah lawanmu!" Wi Liong yang khawatir kalau-kalau suami isteri itu celaka di tangan Tok-sim Sian-li, kini sudah melompat maju dengan suling di tangannya.

"Takkk...!"

Sekali sulingnya membentur pedang Tok-sim Sian-li wanita itu segera terhuyung mundur dan memandang kepada Wi Liong dengan mata terbelalak dan muka yang cantik itu tiba-tiba pucat. Setelah pemuda ini memegang sulingnya, barulah dia teringat kembali kepada pemuda ini yang dahulu pernah membikin dia dan kawan-kawannya kocar-kacir.

"Kau...?" serunya gagap sambil mundur.

Akan tetapi seruannya ini lenyap ditelan suara seruan lain yang nyaring.

"Kau... masih hidup...?!" Dan hiasan kepala itu disingkapkan, terlihatlah muka yang cantik jelita, mata yang jernih akan tetapi pada saat itu dibuka selebar-lebarnya, muka seorang gadis muda yang memandang kepada Wi Liong dengan kaget dan heran bukan kepalang. Muka itu menjadi pucat sekali dan dia pun terhuyung akan roboh.

"Siok Lan...!" Wi Liong menjerit dan cepat memeluk tubuh yang terguling itu.

Siok Lan pingsan dalam pelukan Wi Liong yang juga berdiri tidak tetap karena sepasang kakinya menggigil saking tegangnya hatinya. Cepat dia mengurut punggung gadis itu dan seketika Siok Lan siuman kembali lalu menangis di atas dada Wi Liong!

Tentu saja keadaan ini menggegerkan para tamu. Mereka terkejut dan heran bukan main, akhirnya menjadi bingung tidak tahu harus berbuat apa. Demikian pula Chi-loya, orang tua ini benar patut dikasihani karena dia hanya berdiri bengong memandang isterinya dengan bingung.

Sementara itu, Tok-sim Sian-li yang tadi marah sekali karena tangkisan suling membuat ia terhuyung-huyung, kini begitu melihat Wi Liong memeluk Siok Lan yang menangis, cepat mengirim tusukan yang kalau mengenai tentu akan menembus tubuh Wi Liong dan Siok Lan.

"Takkk...!"

Tanpa menoleh, masih mendekap kepala Siok Lan di dadanya dengan mata dimeramkan. Wi Liong mengangkat tangan kiri yang memegang suling dan dia pun berhasil menangkis serangan pedang ini!

"Siok Lan...!" kembali pemuda itu berbisik di dekat telinganya.

"Wi Liong, kau... kau yang terjungkal dalam jurang... kau masih hidup...? Benar-benarkah ini, tidak mimpikah...?" Siok Lan balas berbisik.

"Tidak Siok Lan, aku tidak mati. Thian masih melindungiku, Thian masih memperpanjang hidupku agar aku dapat mencarimu, dapat bertemu kembali dengan kau."

Chi-loya melangkah maju, suaranya menggeledek tetapi agak gemetar saking gelisahnya hatinya. "Siok Lan... ingat, sekarang kau sudah menjadi isteriku, tadi kita sudah... sudah bersembahyang di depan meja leluhur..."

Mendengar ini, bagai baru sadar dari mimpi Siok Lan merenggutkan kepala dan tubuhnya dari pelukan Wi Liong, lalu sambil terisak dia berkata,

"Wi Liong, apa yang dia katakan itu betul. Kau... kau pergilah..."

Wi Liong yang menjadi pucat dan sepasang matanya basah air mata, memegang tangan gadis itu sambil berkata memohon, "Siok Lan, masa kau begitu kejam? Bagaimana kau bisa sampai menjadi isterinya di luar tahu orang tuamu...?"

Siok Lan menjatuhkan diri duduk di atas lantai sambil terisak-isak, hatinya amat bingung dan sedih bukan main. Wi Liong juga ikut duduk bersila di atas tanah sambil memegangi tangan kiri Siok Lan dengan tangan kanannya.

"Ceritakanlah Siok Lan. Ceritakan agar aku tidak mati penasaran..."

Dengan terisak-isak Siok Lan mulai menuturkan pengalamannya, "Dulu aku... aku melihat kau terjerumus ke dalam jurang, aku merasa sangat berdosa… aku... aku menyesal dan berduka-sekali..."

Kembali angin serangan datang, dan pedang Tok-sim Sian-li mencari kesempatan selagi dua orang itu mengobrol, mengirim bacokan ke arah kepala Wi Liong.

"Takkk...!"

Seperti juga tadi, tanpa melihat ke belakang sedikit pun Wi Liong sudah dapat menangkis pedang itu dengan sulingnya membuat pedang terpental keras!

Baik Wi Liong sendiri mau pun Siok Lan terus bersikap acuh tak acuh terhadap keadaan sekelilingnya. Mereka bercakap-cakap dan tidak menghiraukan serangan-serangan yang dilakukan oleh Tok-sim Sian-li terhadap Wi Liong.

"Thian belum menghendaki kematianku, Lan-moi. Aku selamat kemudian aku mencarimu, berbulan-bulan lamanya. Siapa kira akan berjumpa di sini dan kau... kau tahu-tahu sedang melangsungkan... pernikahan..."

Siok Lan menarik napas panjang dan dua titik air matanya berhenti di atas kedua pipinya yang pucat. Dia memandang Wi Liong, pemuda itu memandangnya dan dua pasang mata bertemu. mengeluarkan sinar mesra, menumpahkan perasaan hati dalam seribu bahasa tanpa kata-kata. Hanya tangan mereka yang berpegangan itu saling menggetarkan gelora hati masing-masing, melalui jari-jari tangan mereka.

"Aku menyesal sekali. Wi Liong koko aku menyesal sekali... tapi apa hendak dikata? Aku tidak sengaja... semua salah nasibku yang buruk..."

Kembali pedang Tok-sim Sian-li menyambar lagi, kali ini pedangnya menyambar dengan sangat dahsyat dibarengi pukulan Toat-sim-ciang ke arah dada Wi Liong. Dia pikir inilah kesempatan baik sekali selagi pemuda itu seperti gila bercakap-cakap dengan Siok Lan, kalau bisa dia hendak membunuh pemuda ini yang amat berbahaya kelak, baik bagi dia mau pun bagi kawan-kawannya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner