CHENG HOA KIAM : JILID-43


Wajah Cui Kim berseri, matanya bersinar-sinar. Baru kali ini selama hidupnya dia bertemu dengan pemuda sehebat ini. Pandang matanya bertemu dengan pandang mata Hak Lui. Dalam sedetik ini, dua orang muda ini sudah dapat menyelami pikiran masing-masing. Cui Kim segera maju menjura kepada Wi Liong dan berkata, suaranya halus sikapnya hormat sekali.

"Siapakah taihiap ini? Kehormatan apa yang akan diberikan kepada Ngo-tok-kauw dengan kunjungan taihiap yang gagah perkasa ini?"

Wi Liong tertegun. Tidak disangkanya ketua baru Ngo-tok-kauw ini akan merobah sikap menjadi begini sopan. Ia pun menjura sebagai pembalasan hormat dan berkata.

"Aku she Thio bernama Wi Liong dan kedatanganku hendak minta kebaikan hati Ngo-tok-kauw untuk membebaskan nona Pui Eng Lan itu." Ia menoleh ke arah Eng Lan, lalu tanpa menunggu jawaban dia menghampiri nona ini. Sekali tangannya meraba ke arah kaki dan tangan Eng Lan, semua ikatan lantas putus dan dara ini sudah bebas.

Eng Lan cepat berdiri, mukanya merah dan untuk menghilangkan jengah dan malunya, ia menggosok-gosok pergelangan kedua tangannya yang masih terasa kaku dan sakit-sakit bekas belenggu tadi.

“Dia itu... apamukah?" tanya Cui Kim kepada Wi Liong.

"Dia adalah sahabat baikku, dia dan gurunya adalah sahabat-sahabatku," jawab Wi Liong sejujurnya.

"Kau lihai sekali, boleh aku mengetahui siapa suhu-mu?”

Karena maklum akan bahayanya bermusuhan dengan Ngo-tok-kauw. Wi Liong berterus terang untuk membikin mereka jeri. Dia menyebut nama suhu-nya.

"Suhu adalah Thian Te Cu..."

Tiba-tiba Cui Kim menjura dalam sekali, malah Hak Lui juga datang memberi hormat, dan semua anggota Ngo-tok-kauw juga berlutut memberi hormat kepada Wi Liong.

"Eh… ehh, apa-apaan ini...?" tanya pemuda itu.

"Kiranya Thio-taihiap adalah murid dari locianpwe Thian Te Cu yang menjadi in-kong (tuan penolong) kami. Kalau dahulu tidak ada suhu-mu yang mulia, kiranya sekarang ini sudah tidak ada Ngo-tok-kauw lagi," kata Cui Kim.

"Memang locianpwe Thian Te Cu yang menolong Ngo-tok-kauw dari pada kehancurannya. Sekarang Thio-taihiap yang menjadi muridnya telah datang, inilah kesempatan kami untuk membalas budi, menyambut taihiap sebagai seorang tamu agung dan seorang penolong, sekalian untuk mohon maaf atas kesalah-fahaman dengan nona Pui Eng Lan...," kata The Hak Lui.

"Betul sekali, kami harap Thio-taihiap tidak menampik penghormatan kami dan Pui-siocia, harap kau sudi maafkan kami yang tadinya tidak mengenalmu sebagai sahabat baik Thio-taihiap..."

Cui Kim menjura kepada Eng Lan, maka terpaksa gadis ini membalas penghormatannya.

Wi Liong ragu-ragu. Baru sekarang ia tahu bahwa mereka ini amat menghormat gurunya, maka berlaku begini hormat padanya. Tetapi dia berlaku hati-hati, karena dia tidak pernah mendengar bagaimana suhu-nya sampai ada hubungan dengan perkumpulan semacam ini.

"Tak usah repot-repot... kedatangan siauwte ini hanya untuk mengajak pergi nona Pui dari sini...," katanya sambil mengangkat tangan kiri menolak.

"Ahh, jadi taihiap mendendam kepada kami karena perlakuan kami yang buruk terhadap nona Pui tadi? Kalau begitu biarlah kami mohon ampun kepada taihiap...!"

Sesudah berkata demikian, Cui Kim lalu memberi komando dan dia bersama semua anak buahnya menjatuhkan diri berlutut di hadapan Wi Liong. Malah setelah bertemu pandang dengan Eng Lan, Hak Lui juga ikut menjatuhkan diri berlutut!

Bukan main terkejut dan sibuknya Wi Liong menerima penghormatan ini. “Nona Pui, kau bangunkan dia!" katanya kepada Eng Lan sambil menunjuk ke arah Cui Kim, sedangkan dia sendiri cepat membangunkan Hak Lui. Eng Lan juga tidak enak melihat semua orang begitu menghormat, dia pun memegang pundak Cui Kim dan dibangunkannya ketua Ngo-tok-kauw itu.

"Kalau kalian bermaksud baik dan selanjutnya akan dapat memimpin perkumpulan ini ke arah kebaikan dan tidak bertindak sewenang-wenang, biarlah aku dan nona Pui menerima undangan kalian, sekedar memperdalam perkenalan. Tetapi jangan begitu merendahkan diri dan menghormat, aku pun bukan apa-apa, hanya seorang pelancong biasa saja," kata Wi Liong, tidak berdaya lagi menolak karena mereka bersikap seperti itu.

Cui Kim dan Hak Lui nampak gembira sekali. Lebih-lebih Cui Kim. Cepat dia memerintah anak buahnya mengadakan persiapan dan pada malam hari itu juga sebuah pesta meriah diadakan untuk menghormati Eng Lan dan Wi Liong. Sambil makan minum, Wi Liong dan Eng Lan mendengarkan penuturan Cui Kim tentang pertolongan Thian Te Cu kepada Ngo-tok-kauw.

Seperti sudah dituturkan, Ngo-tok-kauw didirikan oleh Theng Gak, ayah Cui Kim. Theng Gak adalah seorang ahli silat selatan yang pandai. Karena kehidupan yang sukar, Theng Gak bersama isterinya memimpin orang-orang selatan untuk mencari untung dengan jalan mencari batu-batu berharga di Sungai Kemala. Karena Theng Gak orangnya gagah dan jujur serta adil dalam memimpin, maka makin lama makin banyaklah anggota pencari batu kemala itu dan dia diangkat menjadi kepala.

Tahu bahwa kini anggota-anggotanya merupakan sekumpulan orang-orang berkeluarga dan untuk menjamin kehidupan mereka ini tidaklah ringan, Theng Gak lantas memperkuat perkumpulan itu dan menamakannya perkumpulan Ngo-heng-pang, oleh karena ia adalah seorang ahli silat Ngo-heng-kun. Ia lalu melatih semua anggotanya dengan Ilmu Silat Ngo-heng-kun untuk memperkuat diri.

Pada masa itu banyak terdapat perampok-perampok dan bajak-bajak sungai yang sering kali ingin mengganggu mereka dan merampas batu-batu kemala mereka yang berharga. Semua penjahat itu dapat mereka hancurkan sehingga nama perkumpulan Ngo-heng-pang menjadi semakin terkenal.

Sungai Kemala betul-betul cocok dengan namanya. Sungai itu mengandung banyak batu kemala dan berkat kerajinan mereka, akhirnya perkumpulan itu menjadi makmur dan para anggotanya tidak kekurangan lagi. Terlebih lagi setelah ditemukan batu-batu kemala yang amat indah dan berharga tinggi, maka perkumpulan itu menjadi kaya raya.

Di antara batu-batu kemala yang indah itu, terdapat Im-yang-giok-cu, batu kemala yang sukar dicari keduanya di dunia ini, serta batu kemala Ngo-heng-giok-cu, juga sebuah batu ajaib yang luar biasa sekali. Theng Gak dan isterinya menyimpan kedua batu kemala ini dengan hati-hati dan tidak pernah mempunyai ingatan untuk menjualnya karena mereka sekarang sudah kaya raya.

Para ahli menyatakan bahwa Ngo-heng-giok-cu dapat menyembuhkan segala macam luka akibat keracunan, sedangkan Im-yang-giok-cu dapat menyembuhkan segala macam luka pukulan atau luka-luka sebelah dalam yang bagaimana berat pun. Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Theng Gak sangat menyayang dua buah batu itu dan lebih hati-hati lagi menjaga jangan sampai hilang.

Pada suatu hari, pada saat dia sedang memimpin para anggotanya mencari batu kemala di sebuah kedung sungai itu yang belum pernah dijelajahnya karena tempat itu berbahaya dan sukar, Theng Gak yang merogoh sebuah lubang telah digigit lima jenis ular berbisa, yaitu Ngo-tok-coa yang hingga sekarang masih dipelihara oleh puterinya. Ia roboh dengan tubuh hangus dan tentu akan binasa kalau saja isterinya tidak cepat-cepat menggunakan Ngo-heng-giok-cu untuk menyembuhkannya.

Semenjak itu watak Theng Gak mulai menjadi aneh, entah karena gigitan ular-ular entah bagaimana. Dia menyuruh tangkap ular itu dan selanjutnya dia merobah Ngo-heng-pang menjadi Ngo-tok-kauw {Perkumpulan Agama Lima Racun), menyembah lima ekor ular itu dan mempergunakan Ngo-heng-giok-cu sebagai mata tongkat kebesarannya! Theng Gak dibantu oleh lima orang kakek yang terkenal sebagai Ngo-heng-tin, serta isterinya sendiri dan kakak perempuan isterinya, yaitu Siu-toanio yang sejak muda amat genit dan cabul.

Pada suatu hari, ketika itu Cui Kim masih kecil dan Hak Lui yang menjadi murid ayahnya juga masih kecil, datanglah mala petaka hebat di Ngo-tok-kauw. Berita tentang Im-yang-giok-cu yang sebagai batu kemala obat segala macam luka pukulan amat dirindukan oleh semua ahli silat, telah tersebar luas sekali dan menarik perhatian banyak tokoh besar.

Sudah beberapa kali ahli silat pelbagai cabang datang untuk minta lihat atau beli, bahkan hendak merampas Im-yang-giok-cu, namun mereka ini seorang demi seorang dikalahkan oleh Ngo-tok-kauw yang sementara itu sudah menjadi sebuah perkumpulan besar yang memiliki orang-orang pandai.

Mala petaka datang dalam bentuk diri Kui-bo Thai-houw dari Ban-mo-to! Tokoh besar ini mendengar pula tentang Im-yang-giok-cu dan pada suatu malam dia datang mengunjungi Ngo-tok-kauw. Dengan sikapnya yang tinggi dan angkuh bagai seorang ratu, Kui-bo Thai-houw tadinya menawarkan sejumlah emas untuk membeli batu kemala itu. Namun Theng Gak yang belum mengenal kelihaian Kui-bo Thai-houw. memandang rendah dan menolak.

Marahlah Biang Iblis ini dan ia menurunkan tangannya yang keji. Theng Gak dan isterinya tewas dan kiranya semua anak buah Ngo-tok-kauw akan terbasmi habis oleh Kui-bo Thai-houw kalau saja pada saat itu tidak muncul Thian Te Cu yang mencegah wanita kejam itu membunuh lebih banyak orang lagi. Melihat kedatangan Thian Te Cu yang ia ketahui amat sakti, Kui-bo Thai-houw lalu melarikan diri sambil membawa Im-yang-giok-cu.

"Demikianlah, Thio-taihiap, maka sampai sekarang kami orang-orang Ngo-tok-kauw selalu menganggap locianpwe Thian Te Cu sebagal bintang penolong kami. Oleh karena secara tidak terduga-duga taihiap sudi mengunjungi kami, maka sekarang siauw-moi yang bodoh hendak menghaturkan benda ini untuk diberikan kepadamu sebagai tanda penghargaan," Cui Kim mengeluarkan tongkat pendek bermata Ngo-heng-giok-cu dan diberikan kepada Wi Liong.

Pemuda ini tercengang sekali. Apa lagi ketika dia mendengar seruan-seruan tertahan dari para anggota Ngo-tok-kauw. Dia maklum bahwa benda ini merupakan lambang kejayaan Ngo-tok-kauw, bagaimana bisa diberikan begitu saja kepadanya?

Tentu saja dia sangat mengagumi batu kemala anti segala macam racun itu, akan tetapi tidak enaklah jika menerima benda yang dianggap suci oleh semua orang Ngo-tok-kauw. Juga hatinya merasa tidak enak ketika tadi mendengar ketua perkumpulan ini menyebut diri sendiri siauw-moi. Gerak-gerik, pandang mata, senyum dan gerak bibir ketika berkata-kata kepadanya, semuanya membayangkan sifat cabul dan genit wanita ini yang seakan-akan berusaha sekuatnya untuk menarik hatinya.

"Mana bisa aku menerima pusaka lambang Ngo-tok-kauw?" katanya merendah dan tidak mau menerima tongkat pendek yang disodorkan kepadanya.

Tiba-tiba Cui Kim menjatuhkan diri berlutut lagi di depannya, dan berbareng Hak Lui juga menjatuhkan diri berlutut. Bahkan kini Cui Kim mulai menangis dengan penuh nafsu!

"Dulu," katanya terengah-engah di antara isaknya, "dengan mengandalkan kebaikan budi locianpwe Thian Te Cu kami terhindar dari bahaya dimusnahkan oleh iblis betina Ban-mo-to. Sekarang jika tidak mengandalkan bantuan taihiap sebagai murid locianpwe Thian Te Cu, kapan sakit hati terhadap Ban-mo-to dapat terbalas? Apakah taihiap tidak menaruh kasihan terhadap kami?"

"Mohon Thio-taihiap sudi menaruh kasihan," Hak Lui juga turut membujuk, "hanya kalau taihiap sudi menerima tongkat pimpinan Ngo-heng-giok-cu dan menjadi pembimbing kami, kiranya Ngo-tok-kauw akan dapat membalas dendam terhadap iblis betina dari Ban-mo-to."

Mendengar ucapan dua orang itu, makin terkejut hati Wi Liong. Kiranya mereka ini hendak membujuknya menjadi ketua Ngo-tok-kauw untuk memimpin mereka membalas dendam terhadap Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to!

"Jadi maksud dari semua upacara ini hanya untuk mengajakku melakukan pembalasan dendam terhadap Ban-mo-to? Kalau begitu mari kita bicara baik-baik. Kalau kalian hendak menjadikan aku sebagai ketua Ngo-tok-kauw, biar bagaimana pun juga aku takkan berani terima. Harap kalian maafkan. Bangunlah, kauwcu," katanya sambil membungkuk untuk membangunkan Cui Kim yang berlutut di depannya.

"Thio-taihiap... awas...!" Eng Lan menjerit namun terlambat sudah.

Dengan kecepatan bagaikan kilat Cui Kim sudah mengebutkan sehelai sapu tangan yang tadi dia pakai menyusuti air matanya dan kebutan ini tepat mengenai muka.Wi Liong yang sama sekali tidak menyangka karena tadi berniat membangunkan ketua Ngo-tok-kauw itu. Ia hanya melihat berkelebatnya sapu tangan kuning, lalu mencium bau harum sekali dan mendengar suara ketawa menyeramkan dari Siu-toanio bercampur pekik Eng Lan yang memperingatkannya.

Tangannya cepat bergerak ke depan dan tubuh Cui Kim segera terlempar sampai empat meter lebih. Masih baik bagi ketua Ngo-tok-kauw itu bahwa dalam keadaan terkejut itu Wi Liong masih belum kehilangan ingatannya dan tidak melancarkan pukulan maut sehingga gadis ini tidak menderita apa-apa melainkan hanya kaget saja.

Wi Liong mencoba untuk mengendalikan diri, namun sia-sia belaka. Bau harum itu sudah memabokkannya, membuat kepalanya terasa terputar-putar, pandang matanya kabur dan dia pun roboh lemas dalam keadaan setengah pingsan.

Eng Lan melompat marah, menerjang Cui Kim. Akan tetapi ia disambut Hak Lui. Segera dua orang ini bertempur seru. Cui Kim datang membantu Hak Lui dan terlampau beratlah dua orang lawan ini bagi Eng Lan. Tak lama kemudian Eng Lan pun roboh tertotok jalan darahnya oleh Hak Lui. Baik Wi Liong mau pun Eng Lan tidak berdaya lagi, tertawan oleh para pemimpin Ngo-tok-kauw yang lihai.

Cui Kim dan Hak Lui tertawa gembira. Kedua orang muda ini lalu menuang arak ke dalam cawan dan minum arak itu, saling menberi selamat!

"Dengan seorang seperti dia menjadi suamimu, kita tak usah takut lagi kepada Ban-mo-to!" kata Hak Lui tersenyum girang dan mainkan matanya kepada Cui Kim.


Wajah Cui Kim memerah akan tetapi bibirnya tersenyum dan sepasang matanya bersinar-sinar. "Dan Pui Eng Lan itu pun merupakan sisihan yang amat baik bagimu."

Dua kalimat yang mereka ucapkan ini sudah cukup bagi mereka bahwa masing-masing telah tahu akan rahasia hati yang terpendam dan dengan kata-kata itu pula mereka sudah mengikat perdamaian, saling bantu demi kesenangan hati masing-masing.

Memang, semenjak ia melihat Wi Liong, terlebih lagi setelah mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dari padanya, hati Cui Kim sudah jatuh dan dia mau mempergunakan akal apa saja, baik mau pun busuk, untuk memiliki pemuda ini dan menjadikannya sebagai suaminya. Dan karena Wi Liong memperlihatkan sikap yang sulit untuk dibujuk, terpaksa dia menggunakan racun dan sebagai ketua Ngo-tok-kauw, dalam urusan seperti ini tentu saja Cui Kim adalah seorang ahli.

Sementara itu Hak Lui juga gembira sekali karena memang ia tergila-gila melihat Eng Lan dan sekarang Cui Kim tidak hanya membatalkan niatnya membunuh Eng Lan, malah rela melihat gadis tawanan ini menjadi isteri Hak Lui…..

********************

Fajar sudah menyingsing. Pak-thian Koai-jin yang menanti-nanti kembalinya Wi Liong, kini menjadi tidak sabar lagi. Tadinya kakek ini tidur bersandarkan pohon dan menanti sabar. Akan tetapi setelah fajar menyingsing belum juga pemuda yang berjanji hendak menolong muridnya itu muncul, ia menjadi gelisah dan setelah mencuci muka di sebuah anak sungai yang jernih, kakek ini lalu berlari-lari menuju ke perkampungan Ngo-tok-kauw.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengintai dari atas pohon, dia melihat Wi Liong menggeletak pingsan dan Eng Lan juga rebah tanpa bergerak, sedangkan Cui Kim dan Hak Lui sedang minum arak, dilihat oleh Siu-toanio serta lima orang kakek pembantu sambil tertawa-tawa! Pak-thian Koai-jin maklum bahwa dia sudah memasuki sarang naga yang amat berbahaya, namun melihat Wi Liong dan Eng Lan menggeletak, mana dia bisa mendiamkannya saja?

"Siluman-siluman jahat, tunggu kakekmu membasmi kalian semua!" ia membentak sambil melompat turun.

Semua orang terkejut. Beberapa orang anggota Ngo-tok-kauw yang ingin berjasa segera maju menyerbu, namun mereka segera bergulingan roboh terkena sabetan tongkat butut di tangan kakek itu. Yang hebat adalah mangkok bobroknya. Mangkok ini dia sambitkan, ‘menari-nari’ di atas tiga buah kepala orang yang segera roboh kemudian terbang kembali kepada tuannya! Hanya dalam segebrakan saja kakek sakti yang sedang marah itu sudah merobohkan delapan orang anggota Ngo-tok-kauw!

Akan tetapi, sesudah lima orang kakek pembantu yang merupakan Ngo-heng-tin itu maju mengepungnya, Pak-thian Koaji-jin segera terdesak mundur. Memang hebat sekali Ngo-heng-tin ini, sangat sukar ditawan dan lima orang yang berpakaian lima macam warna itu bergerak otomatis seperti seorang dengan lima kepala dan sepuluh tangan saja. Repotlah kakek dari utara itu menghadapi lima orang lawan ini dan dia bermain mundur terus tanpa dapat membalas serangan-serangan lawan.

Memang bukan tidak mungkin untuk mengalahkan Pak-thian Koai-jin, meski pun demikian bukan pekerjaan mudah pula untuk bisa menangkap kakek nakal ini yang licin bagai belut dan sudah banyak makan asam garam pertempuran.

Sementara itu Cui Kim dan Hak-Lui terus berteriak. "Tangkap tua bangka itu!"

Namun dengan lincahnya sambil memaki-maki Pak-thian Koai-jin dapat meloloskan diri ke sana ke mari hingga akhirnya dia tidak kuat melawan lebih lama lagi, melompat ke dalam semak-semak kemudian menghilang sambil meninggalkan ancaman, "Kalau kalian berani mencelakai mereka berdua, aku tidak akan berhenti berusaha sebelum dapat membasmi kalian!"

Hak Lui tertawa bergelak dan berteriak ke arah menghilangnya kakek itu. "Ha-ha-ha, Pak-thian Koai-jin, jangan khawatir. Kami malah hendak mengawini mereka!”

Tentu saja Pak-thian Koai-jin terkejut mendengar ini. Celaka, pikirnya, kalau Wi Liong dan Eng Lan dikawin oleh kepala-kepala siluman Ngo-tok-kauw, maka celakalah... aku harus menghalangi hal itu terjadi!

Maka dia pun tak mau meninggalkan hutan itu, melainkan terus mengamat-amati dari jauh sambil mencari akal bagaimana bisa menolong muridnya dan Wi Liong. Ia harus bertindak hati-hati sekali. Kalau orang seperti Wi Liong saja sampai bisa tertawan, ini menunjukkan betapa lihainya perkumpulan siluman ular itu.

Sementara itu, selagi Cui Kim dan Hak Lui bergembira dan hendak mengangkat tubuh Wi Liong dan Eng Lan ke dalam kamar masing-masing, tiba-tiba terdengar pekik mengerikan. Seketika itu pucatlah wajah Cui Kim dan yang lain-lain. Bagai mendapat komando, semua orang mencabut senjata masing-masing dan celingukan memandang ke sana ke mari.

Tiba-tiba terdengar suara cekikikan, suara wanita-wanita tertawa. Anehnya, suara ketawa ini datangnya dari semua penjuru seolah-olah mereka semua telah terkepung oleh orang-orang yang tidak kelihatan. Kemudian...

”Braakkk…!"

Genteng di atas pecah berhamburan lantas melayang turunlah tubuh lima orang anggota Ngo-tok-kauw dalam keadaan pingsan. Sesudah ini terdengar lagi suara cekikikan seolah mentertawakan.

Tahulah Cui Kim dan yang lain-lain bahwa musuh berada di atas genteng rumah.

"Pengecut-pengecut yang tak tahu malu! Turunlah kalau memang hendak mencoba Ngo-tok-kauw, jangan mengganggu anak buah yang tidak bisa apa-apa. Nonamu ini telah siap memenggal leher setiap pengacau!" teriak Cui Kim sambil menggerak-gerakkan pedang.

Sunyi seketika, lalu terdengar suara mengejek. "Hemm... hmmm... bocah masih ingusan tetapi sombong benar...!"

Menyusul suara ini, dengan perlahan-lahan saja dari luar berjalan masuk seorang wanita tua berpakaian mewah dengan sikap angkuh luar biasa, sikap seorang ratu! Di belakang wanita ini berjalan seorang pemuda tampan dan di belakangnya lagi berjalan empat orang wanita gemuk yang kembar segala-galanya.

"Kui-bo Thai-houw...!" terdengar suara kaget seorang anggota Ngo-tok-kauw tua yang dulu pernah melihat wanita ini ketika datang merampas Im-yang-giok-cu dan membunuh Theng Gak dan isterinya.

Celakalah orang itu. Merupakan pantangan besar menyebut ‘Kui-bo’ (Biang Iblis) di depan tokoh wanita ini. Kui-bo Thai-houw mengerling, sinar matanya menyambar orang itu, lalu tangan kirinya mengebut ke arah orang itu. Terdengarlah pekik mengerikan dan orang itu terjungkal menjadi mayat!

Semua orang kaget buikan main dan Cui Kim sendiri merasa ngeri. Ia masih muda akan tetapi sudah tahu gelagat. Cepat-cepat ia lalu menjura dan berkata dengan hormat.

"Kiranya Thai-houw yang berkenan mengunjungi tempat kami yang buruk ini. Harap Thai-houw maafkan bahwa kami terlambat menyambut dan suka maafkan pula kalau di antara anggota kami ada yang bersikap kurang ajar. Tidak tahu keperluan apakah gerangan yang membawa Thai-houw sudi mengunjungi kami?"

"Mengambil titipanku pada Ngo-tok-kauw!" jawab nenek itu singkat sambil matanya yang masih bening itu menyapu keadaan di situ, memandang dengan tertarik kepada Wi Liong yang masih menggeletak di pinggiran dan kini sudah dibaringkan di atas bangku.

Hati Cui Kim sudah gelisah sekali, menyangka bahwa nenek ini datang berhubung dengan penyerbuan Wi Liong. Akan tetapi tidak mungkin, pikirnya. Pemuda ini murid Thian Te Cu. Dalam detik itu ia merasa menyesal sekali mengapa pemuda ini telah dirobohkan dengan racun. Alangkah baiknya kalau pemuda ini berdiri di fihaknya.

"Titipan apakah, Thai-houw?" tanyanya dengan jantung berdebar.

Sekarang pandang mata Kui-bo Thai-houw menatap ke arah pinggang Cui Kim. Matanya seakan-akan dapat menembusi baju luar dan melihat apa yang terselip pada ikat pinggang gadis itu.

"Apa lagi kalau bukan Ngo-heng-giok-cu? Dulu belum sempat kuambil, kutitipkan dulu di sini. Sekarang sudah tiba waktunya kuambil. Serahkan benda itu!"

Cui Kim agak lega hatinya karena ternyata bukan Wi Liong yang diminta nenek ini. Tetapi sebagai kauwcu Ngo-tok-kauw tentu saja dia tidak bisa begitu saja memberikan lambang kehormatan Ngo-tok-kauw, lebih lagi nenek ini adalah musuh besarnya, pembunuh ayah bundanya yang harus ia balas.

"Tapi... tapi..." ia menggagap.

"Jangan banyak tingkah. Mana kauwcumu yang sekarang, suruh dia keluar," katanya lagi, keren.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa meringkik yang menyeramkan dan Siu-toanio melompat maju. "Hi-hi-hi, dia itulah kauwcunya! Penggantiku! Jangan serahkan lambang kita kepada siluman ini, kauwcu, jangan..."

Ucapan nenek buruk ini terhenti hingga di situ dan ia terjungkal roboh tertelungkup dengan napas putus. Semua orang lagi-lagi melihat Kui-bo Thai-houw hanya mengibaskan tangan ke arah Siu-toanio!

Orang-orang Ngo-tok-kauw makin terkejut dan gelisah ketika melihat hal ini. Akan terulang kembalikah peristiwa sepuluh tahun yang lalu ketika Biang Iblis ini datang mengamuk dan membunuh-bunuhi orang Ngo-tok-kauw?

Sementara itu, sesudah membunuh Siu-toanio yang dianggap telah menghinanya, Kui-bo Thai-houw lalu menghadapi Cui Kim dan berkata dengan senyum mengejek.

"Aha, jadi kaukah kauwcu-nya? Bagus sekali! Sekarang lekas serahkan Ngo-heng-giok-cu kepadaku.”

Melihat musuh besarnya ini, hati Cui Kim sudah merasa benci dan marah sekali, apa lagi sekarang melihat lagak musuh besarnya yang terlampau menghina Ngo-tok-kauw. Saking marah dan bencinya, gadis ini menjadi nekat, la menoleh ke arah Hak Lui dan lima orang kakek Ngo-heng-tin sambil berseru, "Melihat lambang kita diminta orang dan kehormatan Ngo-tok-kauw diinjak-injak orang, apakah kalian begitu pengecut tak berani berkutik?"

Lima orang kakek Ngo-heng-tin segera melompat maju. Mereka adalah tokoh-tokoh paling lama di Ngo-tok-kauw di samping Siu-toanio, karena dahulu mereka merupakan pembantu Theng Gak, jadi boleh dibilang juga pendiri-pendiri Ngo-tok-kauw.

Sekarang begitu mendengar ucapan Cui Kim, tentu saja mereka menjadi panas. Tadinya mereka memang gentar menghadapi Kui-bo Thai-houw, tetapi demi membela kehormatan sendiri, mareka mempertaruhkan nyawa dan serentak maju.

Si baju putih yang mewakili kawan-kawannya, menjura di depan Kui-bo Thai-houw sambil berkata, "Thai-houw adalah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw dan nama besarnya sudah terkenal luas di seluruh daratan. Sayangnya sekarang mempergunakan keunggulan kepandaian untuk menindas kaum lemah. Akan tetapi di dunia terdapat kegagahan yang tidak gentar menghadapi penindasan si kuat, yaitu dalam membela kehormatan negara, kehormatan perkumpulan, serta kehormatan keluarga. Kami berlima siap mengorbankan nyawa demi menjaga kehormatan Ngo-tok-kauw!"

Melihat lima orang kakek ini, Kui-bo Thai-houw memandang rendah. Namun mendengar ucapan si baju putih, ia merasa sungkan juga untuk turun tangan sendiri, maka ia berkata sambil mengangkat kepala dengan angkuhnya,

"Siapa yang mengandalkan keunggulan? Kauwcu-mu telah menantang bertanding dengan majunya kalian ini. Baiklah, mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat. Ngo-heng-giok-cu menjadi taruhan." Kui-bo Thai-houw lalu memberi isyarat kepada empat orang nenek kembar yang buruk, yaitu pelayannya yang tersayang.

Memang mereka ini, perawan-perawan tua kembar empat ini adalah pelayan kesayangan Kui-bo Thai-houw. Mereka sangat setia dan ke mana pun juga Thai-houw berada, mereka selalu membayanginya. Ilmu kepandaian mereka pun boleh dibilang paling tinggi di antara semua pembantu Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Melihat isyarat nyonya besar mereka, empat orang nenek ini lalu tertawa-tawa dan melompat maju menghadapi Ngo-heng-tin.

"Si Hwa..." kata yang pertama memperkenalkan diri.

"Tung Hwa..." sambung yang ke dua.

"Nam Hwa..." yang ke tiga memotong.

"Pai Hwa..." sambung yang ke empat.

"Kami berempat siap menghadapi lima kakek ompong!" kata pula yang pertama sesudah memberi kesempatan pada tiga orang saudaranya memperkenalkan diri.

Keempatnya lantas tertawa cekikikan sambil mengambil tempat masing-masing. Si Hwa mengambil tempat di barat, Tung Hwa di timur, Nam Hwa di selatan dan Pai Hwa di utara. Inilah kelihaian empat orang wanita ini yang sudah mempunyai kedudukan tertentu dalam barisannya. Meski pun ketika bertempur mereka itu bergerak-gerak ke sana ke mari, akan tetapi tetap mereka bersumber dari kedudukan semula masing-masing.

Melihat empat orang nona genit ini tidak bersenjata, maka besarlah hati lima orang kakek itu. Dengan golok di tangan lima orang kakek itu langsung menyerbu garang, merupakan barisan Ngo-heng-tin yang kuat sekali.

Empat orang wanita itu tertawa terkekeh sambil mengelak, sesudah itu mulailah mereka berputaran, tertawa-tawa dan menyerang dengan tali pinggang-tali pinggang mereka yang lihai dibarengi cengkeraman-cengkeraman yang berbahaya sekali.

Sekarang barulah lima orang kakek itu merasa kaget. Tak tahunya empat orang wanita ini adalah ahli-ahli lweekang yang mahir dan sepasang tali panggang itu malah lebih lihai dari pada senjata tajam.

Pertempuran antara lima orang kakek yang merupakan Ngo-heng-tin dengan empat orang wanita yang juga merupakan barisan segi empat yang luar biasa itu benar-benar sangat menarik dan seru sekali. Tenaga mereka seimbang dan mereka pun mempunyai gerakan-gerakan yang sama aneh dan sulitnya sehingga agak sukar bagi mereka untuk mendesak lawan.

Pakaian, wajah, suara dan gerak-gerik yang sama dari nona-nona kembar empat itu amat membingungkan lawan. Sebaliknya lima orang kakek dengan lima macam warna pakaian itu pun membuat pandang mata lawan menjadi silau dan bingung.

Bagaimana pun juga, setelah melalui pertandingan yang sangat seru di mana kedua fihak mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, akhirnya empat orang wanita itu dapat juga mendesak lima orang lawannya. Dan harus diakui bahwa kemenangan mereka ini adalah karena suara tawa mereka yang cekikikan itu benar-benar membingungkan kelima orang kakek.

Memang suara ketawa ini bukanlah ketawa sekedar ketawa saja, melainkan suara ketawa yang memang disengaja, dikeluarkan dengan pengerahan khikang dan memiliki pengaruh membingungkan lawan. Apa lagi kalau yang tertawa itu empat orang wanita buruk yang sama rupa, sama pakaian dan sama suara. Benar-benar dapat membingungkan orang di samping sifat-sifat yang aneh menyeramkan.

Pada saat kakek baju merah yang sudah bingung terdesak itu melakukan gerakan nekat, menubruk seorang wanita sambil mengerjakan golok, dia menjadi agak terkejut dan heran melihat wanita yang diserangnya itu sama sekali tak bergerak untuk menangkis atau pun mengelak, malah berjebi dan melerok kepadanya sambil tertawa cekikikan.

Karena tingkah ini perhatian kakek baju merah menjadi tertarik dan membuat ia ragu-ragu serta lambat gerakannya, maka ia tidak tahu bahwa dari belakang sudah menyambar tali pinggang seorang wanita lain mengarah kepalanya. Ia baru tahu setelah senjata aneh itu menyambar dekat. Ia hendak mengelak namun sudah tidak keburu lagi.

Ujung tali pinggang tepat mengenai belakang kepalanya, tanpa mengeluarkan suara akan tetapi tahu-tahu kakek baju merah terguling dengan napas putus karena jalan darah yang terpenting di belakang kepalanya telah putus oleh ujung tali pinggang tadi.

Empat kakek yang lain menjadi terkejut dan marah, lalu mengamuk membabi-buta. Akan tetapi hal ini malahan mempercepat kekalahan mereka. Sambil tertawa-tawa empat orang nenek itu menggencet mereka dengan pukulan-pukulan dan mengurung mereka dengan senjata tali pinggang.

Berturut-turut empat orang kakek ini pun roboh dan tewas sehingga tamatlah riwayat Ngo-heng-tin yang sejak lama menjagoi daerah itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner