CHENG HOA KIAM : JILID-46


Wi Liong tak mau berlaku lambat. Cepat ia menandingi kakek itu dengan ilmu pedangnya yang sempurna, yang dimainkan dengan suling. Apa bila pukulan-pukulan Thai Khek Sian mendatangkan angin bersiutan sehingga daun-daun tetanaman di taman itu banyak yang gugur, adalah suling Wi Liong mengeluarkan suara melengking seperti ditiup, dan dalam tangannya suling itu seperti berubah menjadi banyak sekali. Gulungan sinar suling bagai gelombang mengimbangi gerakan kuku-kuku jari lawannya.

Mereka telah bertanding lagi dengan hebatnya, seru dan mati-matian. Semakin lama Thai Khek Sian semakin marah karena penasaran sekali. Sampai puluhan jurus belum juga dia bisa mengalahkan lawannya yang muda. Jangan kata mengalahkan, mendesak pun tidak mampu. Matanya mengeluarkan cahaya berapi, kepalanya seperti mengeluarkan uap dan gerakannya makin menggila.

Diam-diam Wi Liong terkejut bukan main. Dia merasa lengannya tergetar setiap sulingnya bertemu dengan tangan manusia iblis itu. Akan tetapi ia mengumpulkan semangatnya dan terus melawan mati-matian sepenuh tenaga.

Pertempuran itu bukan main hebatnya. Pohon-pohon tercabut dan roboh, batu-batu yang berada di sekeliling tempat itu pada pecah. Semua itu hanya terkena hawa pukulan yang membabi-buta.

Dua orang gadis, Hui Nio dan Hui Siam yang sudah menyusul sampai di sana, menonton dari balik sebuah batu besar dengan muka pucat. Selama hidupnya belum pernah mereka menyakskan pertandingan sehebat itu.

Angin-angin pukulan menyambar sampai ke tempat mereka dan hanya dengan berlindung di balik batu besar itu mereka dapat menonton. Kalau tidak, hawa pukulan itu tentu akan menyerang mereka dan walau pun jaraknya jauh, kiranya mereka takkan dapat menahan dan akan roboh.

Bahkan suara melengkingnya suling yang keluar dari senjata Wi Liong tidak kuat mereka dengarkan lebih lama lagi. Suara itu mengandung khikang tinggi, membuat mereka lemas dan tulang-tulang terasa sakit. Terpaksa mereka harus menggunakan sapu tangan untuk menutupi kedua telinga!

Puluhan jurus sudah lewat. Bahkan ratusan jurus. Sejam, dua jam, tiga, empat jam sudah dua orang itu bertanding, akan tetapi masih belum ada yang kalah atau menang. Mereka sudah tidak kelihatan lagi, sudah berubah menjadi dua gundukan sinar yang aneh, sinar bergulung-gulung dan menyambar ke sana ke mari seperti dua ekor naga sakti bermain-main di angkasa raya.

Akhirnya Thai Khek Sian tidak dapat menahan sabar lagi. Memang Wi Liong sudah sejak tadi terdesak hebat, akan tetapi pemuda ini masih terus mempertahankan diri dan karena Thai Khek Sian ingin merobohkan pemuda itu dengan ilmu silatnya maka sebegitu lama ia belum mampu merobohkan pemuda itu.

Setelah kesabarannya habis, tiba-tiba saja kakek ini mengeluarkan pekik yang luar biasa dahsyatnya, bukan pekik manusia lagi melainkan suara yang patutnya keluar dari neraka jahanam. Mulut tengkorak yang tergantung di dadanya tiba-tiba mengeluarkan asap putih yang menyambar ke arah Wi Liong.

Pemuda ini memang sudah sibuk karena terkurung oleh jari-jari tangan berkuku tajam itu sehingga dia tak keburu lagi menghindarkan diri. Sekali dia menyedot asap itu, tubuhnya terhuyung dan dia pun roboh pingsan di atas tanah!

Thai Khek Sian tertawa bergelak, namun dia masih ingat bahwa pemuda ini adalah murid Thian Te Cu maka ia tidak mau membunuhnya. Betapa pun juga dia masih merasa ngeri untuk menanam permusuhan dan menimbulkan marahnya Mayat Hidup Thian Te Cu itu. Baru muridnya saja sudah begini hebat, pikirnya, entah bagaimana lihainya kakek yang sudah lama sekali tak pernah dia jumpai itu.

Selagi Thai Khek Sian tertawa-tawa girang, muncullah Hui Nio dan Hui Sian dari tempat sembunyinya. Dua orang gadis ini yang menganggap Wi Liong sebagai penolong mereka, tentu saja tidak bisa tinggal diam melihat penolong mereka roboh pingsan. Mereka takut kalau-kalau Thai Khek Sian membunuh pemuda itu. Hui Sian dengan tabah lalu melompat ke depan Thai Khek Sian dengan pedang di tangan.

"Kau baru bisa bunuh dia sesudah melalui mayatku!" katanya gagah sambil bersiap untuk bertempur.

Sedangkan Hui Nio yang melihat wajah pemuda itu sangat pucat dan napasnya tidak ada lagi, cepat mengangkat tubuh atas Wi Liong lalu dipangkunya. Wi liong sudah lemas dan pucat, napasnya tidak ada lagi seperti orang mati.

"Kau... kau sudah membunuhnya...!" kata Hui Nio marah sekali. Dengan perlahan dia pun menurunkan tubuh Wi Liong di atas rumput lantas melompat ke samping Hui Sian dengan pedang di tangan.

"Eh-heh-heh, kalian ini mau apa?" Thai Khek Sian mentertawakan mereka. "Pemuda itu apamu sih?"

"Bukan apa-apa!" jawab Hui Sian tegas. "Akan tetapi dia mau menolong kami keluar dari sini. Oleh karena kau telah membunuhnya, kami pun hendak mengadu nyawa denganmu!" Setelah berkata demikian, Hui Sian lalu menerjang maju, diikuti oleh Hui Nio.

Thai Khek Sian tertawa bergelak. Tentu saja dua orang gadis itu bukanlah lawannya. Dia membuat gerakan aneh ke kanan kiri, lantas terdengar bunyi "krak-krak!" dan dua batang pedang di tangan Hui Nio dan Hui Sian itu telah kena dia rampas dan dia patah-patahkan! Lalu dia melempar potongan kedua pedang itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Akan tetapi Hui Nio dan Hui Sian tidak mau sampai di situ saja. Biar pun pedang mereka sudah dirampas, mereka serentak maju dan menyerang dengan kepalan serta tendangan mereka!

Thai Khek Sian mulai marah. Dia membiarkan dua orang gadis itu memukul dadanya, tapi pukulan-pukulan itu terpental dan dua orang gadis itu merasa tangan mereka sakit sekali. Pada saat itu Thai Khek Sian memberi tanda panggilan dengan teriakannya dan datanglah Cheng In dan Ang Hwa berlarian.

"Robohkan mereka, tapi jangan dibunuh," kata Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa bertindak cepat. Mereka menyerang Hui Nio dan Hui Sian yang tentu saja berusaha melawan. Akan tetapi dari jauh Thai Khek Sian mendorong mereka sehingga keduanya jatuh terguling. Pada saat itu Cheng In dan Ang Hwa sudah menotok jalan darah mereka, membuat dua orang gadis tawanan itu tidak berdaya lagi. Melihat Wi Liong juga rebah tak bergerak, Cheng In dan Ang Hwa menjadi khawatir sekali.

"Bawa mereka ke dalam perahu, lepaskan perahu di tengah lautan. Biarkan ombak yang memutuskan mati hidup mereka!" perintah Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa sudah kenal betul watak Thai Khek Sian. Dari suara kakek ini saja tahulah mereka bahwa kakek ini sedang kesal hati dan tidak ingin perintahnya dibantah. Karena itu tanpa berani banyak cakap lagi dua orang wanita cantik ini cepat menjalankan perintah itu.

Dengan bantuan seorang kawan lainnya mereka mengangkat tubuh Wi Liong yang sudah lemas seperti mayat itu, juga tubuh dua saudara Liok dan membawanya ke dalam sebuah perahu. Perahu itu mereka dayung ke tengah lautan, antara Pulau Pek-go-to dan daratan kemudian berpindah perahu dan meninggalkan perahu kecil bergolak-golek di atas lautan. Dengan hati berat Cheng In dan Ang Hwa meninggalkan perahu itu. Hati mereka merasa berat melihat Wi Liong, akan tetapi mereka tidak berdaya menolong karena takut kepada Thai Khek Sian.

Apa sebabnya Thai Khek Sian tidak mau membunuh Wi Liong? Dan mengapa pula kakek ini melepaskan Hui Nio dan Hui Sian? Biar pun kejam dan berwatak aneh, kakek ini cerdik luar biasa dan dapat melihat datangnya akibat-akibat buruk kalau dia membunuh pemuda itu.

Dari pertempuran melawan Wi Liong tadi dia tahu bahwa Thian Te Cu telah menurunkan hampir seluruh kepandaiannya kepada muridnya. Dia tidak akan mampu mengalahkan Wi Liong kalau saja dia tidak menggunakan uap beracun. Jika dengan ilmu silat saja, kiranya dia takkan mampu mengalahkan Wi Liong. Maka dia dapat membayangkan betapa besar kesayangan Thian Te Cu kepada muridnya.

Kalau dia membunuh Wi Liong, tentu kelak Thian Te Cu takkan mau mengampunkannya. Lain lagi kalau ia bisa mengatasi Thian Te Cu. tentu ia takkan takut. Akan tetapi, melihat tingkat kepandaian Wi Liong, benar-benar Thian Te Cu tak boleh dipandang ringan.

Beberapa bulan lagi ia akan mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh besar maka tak boleh ia menanam permusuhan besar dengan tokoh yang masih terhitung suheng-nya itu. Inilah yang menyebabkan dia tidak mau membunuh Wi Liong dan menyuruh dua orang muridnya, Cheng In dan Ang Hwa, melepaskan Wi Liong di atas perahu di tengah lautan.

Juga dia tidak mau mengganggu Hui Sian dan Hui Nio karena dia tidak mau kalau hal ini kelak dipergunakan oleh Thai It Cinjin yang membencinya untuk menyerangnya di depan umum. Lagi pula, diam-diam dia kagum melihat sikap dua orang gadis yang membela Wi Liong tadi.

Akan tetapi Thai Khek Sian menjadi sangat penasaran dan gelisah. Hatinya mengkal dan tidak senang sekali dengan kenyataan bahwa menghadapi Wi Liong saja dia tidak mampu mengalahkannya. Dia merasa khawatir bahwa dia tidak akan dapat menjadi tokoh nomor satu di dunia, yang penentuannya akan dilakukan kelak pada waktu para tokoh berkumpul di pulaunya.

Maka sepergi Cheng In dan Ang Hwa yang memenuhi perintahnya, yaitu membawa tubuh Wi Liong, Hui Nio, dan Hui Sian ke perahu dan melepaskan perahu itu di atas laut, kakek ini langsung memasuki bilik semedhinya untuk tekun melatih diri mencari kemajuan untuk dia pergunakan kelak menghadapi tokoh-tokoh besar, terutama sekali Thian Te Cu…..

********************

Sementara itu, di permukaan laut ada sebuah perahu kecil terapung-apung dipermainkan ombak, miring ke kanan dan kiri, terayun-ayun seperti bayi dalam buaian tangan ibu yang mencinta. Beberapa ekor ikan hiu yang sisiknya loreng-loreng seperti harimau meluncur di kanan kiri perahu, mendorong-dorong dengan moncong mereka, mengharapkan perahu itu terguling seakan-akan binatang air yang amat ganas ini sudah tahu atau mencium bahwa orang-orang yang berada di dalam perahu itu sudah tak berdaya lagi. Gerakan perahu oleh ayunan ombak amat halus, akan tetapi dorongan moncong ikan-ikan itu kasar dan keras seperti menggugah orang-orang yang berada di dalam perahu.

Wi Liong yang lebih dahulu sadar atau lebih tepat lagi siuman dari keadaan pingsannya. Goyangan-goyangan kasar akibat perbuatan ikan-ikan itu membuat kepalanya beberapa kali terbentur pada kayu keras pinggiran perahu.

Begitu siuman pemuda ini membuka matanya dan alangkah kaget, jengah dan herannya ketika dia mendapatkan dirinya bertumpuk tidak karuan dengan kedua orang gadis Liok, boleh dibilang saling berpelukan tidak sewajarnya dengan Liok Hui Nio dan Liok Hui Sian! Yang membuat ia malu bukan main adalah kenyataan betapa ia beradu muka dengan Hui Sian seperti orang berciuman.

Ia melihat pipi yang kemerahan dan mata yang bersinar aneh dari gadis itu, seakan-akan Hui Sian membiarkan keadaan seperti itu, malah merasa senang! Tentu saja ia tidak tahu bahwa gadis itu seperti juga enci-nya, walau pun panca inderanya masih bekerja, namun karena jalan darah mereka tertotok, mereka tidak kuasa bergerak. Oleh karena itu betapa pun malu dan jengah hati Hui Sian, gadis ini tidak mampu mencegah dia berciuman tanpa disengaja dengan Wi Liong.

Wi Liong cepat bangun duduk dan memandang ke kanan kiri. Barulah dia tahu bahwa dia bertumpuk di dalam perahu kecil bersama Hui Sian dan Hui Nio, dan betapa perahu itu kini terayun-ayun di tengah lautan. Kaget dia melihat ikan-ikan hiu berseliweran di pinggir perahu.

Kedua tangannya cepat digerakkan ke kanan kiri perahu mengirim pukulan dan dua ekor ikan hiu sebesar bantal berkelojotan lalu terapung dalam keadaan mati. Bangkai mereka ini segera menjadi rebutan kawan-kawan sendiri. Mengerikan! Dengan tangannya pula, Wi Liong mendayung perahu menjauhi gerombolan ikan liar itu. Kemudian ia menoleh ke arah Hui Nio dan Hui Sian.

Melihat kedua orang nona ini masih saja rebah seperti tadi, tanpa bergerak sama sekali, barulah Wi Liong sadar bahwa mereka tengah berada dalam keadaan tertotok. Lenyaplah sebagian besar rasa heran dan jengahnya akan sikap dua orang gadis yang seakan-akan mandah dan diam saja berpelukan dengan dia tadi. Segera ia mengulur tangan membuka jalan darah mereka.

Hui Nio dan Hui Sian mengeluh, menggeliat untuk melemaskan urat-urat tubuh yang kaku, kemudian Hui Sian menangis sambil menyembunyikan muka di pangkuan enci-nya yang menghiburnya.

"Eh, nona mengapa menangis? Kita sudah terhindar dari bahaya, terbebas dari Thai Khek Sian yang keji. Seharusnya kita bergirang, walau pun aku tidak mengerti bagaimana kita bisa tertolong dari bahaya maut."

"Sian-moi, sudahlah jangan menangis, Thio-taihiap berkata benar, tak perlu kau bersedih karena kita sudah dibebaskan oleh siluman itu dan tidak perlu kau malu karena kau tidak berdaya."

Wi Liong terheran mendengar kata-kata terakhir ini. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Hui Sian tadi menangis karena setelah siuman menjadi malu sekali teringat akan keadaannya dengan Wi Liong tadi, juga tidak tahu bahwa Hui Nio mengerti pula akan keadaan mereka yang aneh tadi. Tapi tetap saja warna merah menjalar di seluruh mukanya ketika Hui Sian mengangkat muka dan bertemu pandang dengannya. Bukan main keadaan tadi, pikirnya, dan sekarang dia yang tak berani memandang pipi merah itu lama-lama!

"Sekarang harap ji-wi terangkan bagaimana kita bisa berada dalam perahu ini?" tanya Wi Liong, menujukan pertanyaannya kepada Hui Nio sebab sekarang pandang mata Hui Sian kepadanya seolah-olah mengandung seribu bahasa yang membuat ia berdebar dan takut-takut.

"Pengalaman kita memang amat aneh," Hui Nio mulai menuturkan pengalaman tadi. "kau bertempur dengan kakek siluman dan aku tidak tahu, entah mengapa kau tiba-tiba roboh pingsan. Kami mencoba untuk melawan kakek itu, tapi pedang kami langsung dipatahkan dan dalam segebrakan saja kami sudah roboh. Kami ditotok tak berdaya oleh perempuan-perempuan baju hijau dan merah..." sampai di sini Hui Nio kelihatan gemas sekali. "Tentu saja aku sudah habis harapan dan menyerahkan diri kepada nasib. Akan tetapi sungguh aneh, kakek itu tidak membunuh dan tidak mengganggu kita malah menyuruh dua orang perempuan itu untuk membawa kita ke perahu lalu dilepas di tengah lautan, ditinggalkan begitu saja..." Wajah Hui Nio mendadak menjadi merah karena tadi pun dia rebah dengan kepala di atas dada Wi Liong!

Mendengar penuturan ini, Wi Liong mengangguk-angguk sambil berkata perlahan, seperti kepada diri sendiri. "Bagus dia masih punya rasa takut kepada suhu...!"

Tiba-tiba ada suara menjawab kara-kata ini, suara yang datangnya sayup sampai seperti terbawa angin yang datang bertiup.

"Siapa takut gurumu? Aku sengaja memberi kau hidup supaya kau bisa bercerita kepada suhu-mu betapa muridnya tidak berdaya menghadapi aku, dan bahwa pada musim chun nanti gurumu harus datang mengadu ilmu!"

Wi Liong berdiri di atas perahu, kemudian menghadap ke arah Pulau Pek-go-to, berkata sambil mengerahkan khikang-nya, melakukan ilmu yang disebut Coan-im-jit-bit (Mengirim Suara dari Jauh),

"Thai Khek Sian-su. tidak usah guruku sendiri yang datang. Kelak cukup aku yang datang untuk membalas kebaikanmu membebaskan aku dari maut!" Ucapan ini dikeluarkan oleh Wi Liong dengan nada penasaran dan pahit sekali. Memang, dibebaskan begitu saja oleh seorang musuh, bagi seorang gagah merupakan sebuah penghinaan yang harus dibalas pula!

Thai Khek Sian tidak menjawab pula, hanya terdengar suara ketawanya yang menggema di seluruh permukaan air seperti suara iblis tertawa. Memang hebat kepandaian kakek itu, tidak tahunya sejak tadi ia masih mengawasi orang-orang muda ini dari jauh.

Betapa pun lihainya Thai Khek Sian yang harus diakui pula oleh Wi Liong, tapi pemuda ini masih penasaran. Dia memang kalah, akan tetapi kekalahan yang tidak sah karena kakek itu menggunakan kecurangan. Ia harus minta nasihat gurunya dalam hal ini dan kelak, bila masanya tiba, dia akan menghadapi Thai Khek Sian lagi untuk menebus kekalahannya, untuk menebus penghinaan tadi. Dan suatu saat dia harus bisa membebaskan pula kakek iblis itu dari maut, seperti tadi!

Sementara itu Hui Nio dan adiknya memandang kepada Wi Liong dengan melongo. Tadi pun ketika menyaksikan pertempuran antara pemuda ini dengan Thai Khek Sian, mereka memang sudah kagum sekali. Sekarang baru mereka takluk betul dan mengakui bahwa pemuda ini adalah seorang sakti. Malah lebih hebat dari pada Kun Hong, pikir mereka.

Hui Sian semakin kagum saja. Baru-baru ini dia bertemu dengan Kun Hong yang sangat mengagumkan hatinya, sekarang dia bertemu dengan pemuda yang malah melebihi Kun Hong. Hal ini adalah karena hati gadis ini masih kosong, maka ia tertarik kepada pemuda-pemuda yang gagah perkasa dan tampan.

Tidak demikian dengan Hui Nio. Biar pun ia juga merasa kagum sekali melihat Wi Liong, namun hatinya sudah tertambat kepada Kong Bu dan di dunia ini tidak ada pemuda yang dapat melebihi Kong Bu tunangannya itu.

"Thio-taihiap sudah bersusah payah menolong kami berdua kakak adik, maka kau adalah penolong kami yang patut kami muliakan. Terima kasih banyak, Thio-taihiap, dan semoga Thian saja kelak membalas budi ini kalau kami tidak kuasa membalasnya," kata Hui Nio sambil menjura dengan hormat.

Wi Liong terkejut dan cepat-cepat membalas penghormatan itu. "Harap ji-wi siocia (nona berdua) jangan memakai banyak peraturan sungkan. Mana bisa aku disebut penolong!" Ia tertawa pahit ketika teringat lagi akan kekalahannya. "Belum sempat menolong aku sudah tertawan! Kalau ada bicara tentang menolong, kiranya harus dikatakan bahwa kita bertiga ini tertolong oleh Thai Khek Sian!"

"Jangan berkata demikian, taihiap. Yang patut dihargai bukanlah perbuatannya, melainkan usahanya. Usaha yang baik harus kita hargai tanpa melihat bagaimana hasilnya. Taihiap telah bersusah payah berusaha menolong kami tanpa mengingat keselamatan diri sendiri, betapa pun hasil usaha pertolongan itu, tetap saja kami merasa berterima kasih sekali dan taihiap adalah penolong kami!"

Wi Liong tersenyum kagum mendengar ucapan gadis ini yang sekaligus membayangkan kecerdasan otaknya dan kebaikan hatinya.

"Enci Hui, kau bagaimana sih? Kalau tidak datang Thio-taihiap. apakah kita sekarang bisa terbebas dan berada di atas perahu ini? Biar pun yang melepaskan kita adalah Thai Khek Sian, akan tetapi yang dilepas sesungguhnya adalah taihiap dan kita hanya membonceng saja. Bukankah begitu?”

Hui Nio tertawa menutupi mulutnya, memandang kepada Wi Liong. "Kau betul, Hui Sian. Aku sampai lupa. Nah, taihiap. Kau mendengar sendiri. Memang, biar pun kau dirobohkan Thai Khek Sian, akan tetapi usahamu menolong kami berhasil baik, buktinya kami sudah terbebas! Kalau kau tidak datang menyerbu, mana bisa kami dibebaskan?"

Wi Liong terpaksa mengakui kebenaran kata-kata ini. "Sudahlah, di antara orang sendiri mana perlu bicara tentang tolong-menolong? Yang ada hanya kewajiban."

"Ketika datang, taihiap bilang disuruh oleh Kong-twako. Bagaimana kau bisa bertemu dan berkenalan dengan dia?" tanya Hui Sian.

"Apakah luka-lukanya telah sembuh...?" Hui Nio menyambung dengan suara mengandung penuh kekhawatiran akan keselamatan tunangannya itu.

"Mari bantu aku mendayung perahu ini menuju ke daratan, nanti akan kuceritakan," ajak Wi Liong.

Tiga orang muda itu lalu mendayung perahu dengan menggunakan tangan saja. Biar pun hanya telapak tangan yang menggantikan dayung, Hui Nio dan Hui Sian di sebelah kanan perahu sedangkan Wi Liong di sebelah kiri, namun karena mereka bertiga adalah orang-orang terlatih dan memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga yang luar biasa, maka perahu bisa meluncur amat cepat, tak kalah dengan perahu yang didayung oleh tukang-tukang perahu mempergunakan dayung yang baik.

Dengan singkat Wi Liong lalu menceritakan perjalanannya.

Dua orang gadis itu gembira sekali mendengar bahwa Wi Liong sudah kenal baik dengan See-thian Hoat-ong Kong Lek In ayah Kong Bu dan lebih kagum lagi mendengar betapa Pak-thian Koai-jin juga datang untuk bersama See-thian Hoat-ong menolong Pui Eng Lan murid Pak-thian Koai-jin yang terculik oleh Kui-bo Thai-houw.

"Kui-bo Thai-houw lihai dan berbahaya sekali...," kata Hui Nio.

"Ya, karena itu aku harus lekas-lekas menyusul ke sana untuk membantu kawan-kawan," kata Wi Liong yang sekarang merasa khawatir juga mengingat betapa See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin hendak menolong Eng Lan di Pulau Ban-mo-to, menghadapi Kui-bo Thai-houw yang berbahaya.

"Taihiap, biarlah kami ikut. Kami akan membantu sebisa mungkin," kata Hui Sian dengan suara memohon. "Dengan perahu ini dari sini kita bisa langsung pergi ke Pulau Ban-mo-to. arahnya ke selatan."

Wi Liong menggeleng kepala. "Tidak perlu, nona. Selain kalian telah lelah dan mengalami kekagetan, juga perjalanan itu terlampau berbahaya. Jika sampai terjadi apa-apa dengan kalian, bagaimana aku akan berkata kepada See-thian Hoat-ong lo-enghiong? Mari kalian kuantar mendarat lebih dulu, baru setelah itu terpaksa aku akan mendahului kalian pergi ke Ban-mo-to."

Hui Sian nampak merengut, akan tetapi kakaknya yang lebih cerdik segera berkata, "Hui Sian. kau ini masa masih hendak membikin susah Thio-taihiap? Kau sendiri tahu betapa lihainya penghuni Ban-mo-to dan perjalanan itu kiranya tidak kurang bahayanya dari pada ke Pek-go to. Bahkan iblis betina itu bisa lebih kejam dari pada iblis Pek-go-to. Kita yang berkepandaian rendah jangan kata membantu, malah-malah membikin repot saja. Jangan bersikap seperti anak kecil!"

Hui Sian mengangguk-angguk maklum dan Wi Liong merasa tak enak sekali. "Aku sama sekali tidak berani memandang rendah pada kalian. Ilmu kepandaian kalian sudah cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada kebanyakan gadis ahli silat. Sedikitnya satu tingkat dengan kepandaian nona Pui Eng Lan. Akan tetapi, biar pun aku tidak bermaksud untuk meremehkan kalian, namun kata-kata yang diucapkan oleh nona Hui Nio tadi tepat sekali. Apa bila sampai terjadi pertempuran, seperti ketika aku menghadapi Thai Khek Sian tadi, bagaimana aku dapat melindungi kalian? Kabarnya Kui-bo Thai-houw tidak kalah lihainya oleh Thai Khek Sian."

Dua orang gadis itu tidak dapat membantah lagi setelah mendengar ucapan yang jujur ini. Mereka menjadi makin kagum dan suka kepada pemuda yang selain lihai, juga sikapnya jujur dan perangainya halus ini. Sesudah memandang beberapa lamanya dengan kagum, Hui Sian bertanya,

"Thio-taihiap ini murid siapakah? Agaknya Thai Khek Sian takut kepada suhu-mu."

"Suhu disebut Thian Te Cu."

Dua orang gadis itu terkejut sekali. "Si Mayat Hidup?"

"Hush... Hui Sian. jangan kurang ajar!" tegur Hui Nio kepada adiknya yang tadi menyebut "Si Mayat Hidup".

Akan tetapi Wi Liong hanya tersenyum. "Begitulah orang-orang yang tidak suka menyebut nama suhu. Anehnya, bagaimana kau bisa tahu nama poyokan itu, nona?"

Muka Hui Sian menjadi merah. "Maafkan, aku tak bermaksud mengejek. Aku mendengar nama itu dari... dari..."

"Begini, taihiap. Yang suka menyebut nama itu adalah suhu kami,"

"Siapakah guru kalian?"

"Suhu adalah Thai It Cinjin di Bukit Kum-Ie-san," jawab Hui Nio.

Wi Liong tercengang. Teringatlah dia kepada kakek tinggi besar berkepala botak bermata lebar yang lengannya berbulu, kakek yang bersama Im-yang Siang-cu pernah menyerbu Wuyi-san. Dia mengangguk-angguk dan maklumlah dia kini mengapa Hui Sian mengenal poyokan gurunya itu. Memang ia tahu bahwa ipar dari Gan Yan Ki itu benci kepada Thian Te Cu dan lebih benci kepada Thai Khek Sian, seorang tokoh yang amat aneh.

"Apakah di sana tinggal pula dua orang kakek yang disebut Im-yang Siang-cu?" tanyanya minta kepastian.

"Im-yang Siang-cu adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, mereka itu paman-paman guru kami," kata Hui Sian. kaget dan heran bagaimana pemuda ini bisa mengenal kedua susiok-nya.

"Dan Beng Kun Cinjin itu, bukankah dia adalah... keponakan suhu kalian, Thai It Cinjin? Mengapa dia malah bersama Thai Khek Sian menculik kalian yang menjadi murid-murid pamannya?"

"Keledai gundul itu!" Hui Sian memaki. "Siapa tahu akan maksudnya? Tadinya dia berada di Kum-Ie-san, menumpang kepada suhu, sikapnya baik-baik dan dia diperlakukan baik pula oleh guru dan kami semua. Dia melarikan diri setelah Kim-Ie-san didatangi pemuda yang bernama Kun Hong itu. Tahu-tahu.ia lari ke Pek-go-to dan bersekutu dengan iblis itu menculik kami."

Selama perjalanan ke daratan, Wi Liong mengobrol dengan dua orang gadis itu. Hui Sian memang ramah-tamah, lincah dan pandai sekali bergaul. Juga Wi Liong mendapat banyak keterangan sehingga dia tahu banyak tentang Kun Hong. tentang Ban-mo-to, tentang Thai It Cinjin dan lain-lain. Setelah tiba di darat, dia lalu berpisah dengan kedua orang gadis itu.

"Kalian tahu betapa perlunya aku harus menyusul ke Ban-mo-to. Di sana ada Kong Bu, ada See-thian Hoat-ong, ada Pak-thian Koai-jin, juga ada nona Pui. dan mungkin mereka membutuhkan bantuanku. Maafkan aku terpaksa meninggalkan kalian, menyesal sekali karena sebenarnya menyenangkan melakukan perjalanan dengan kalian yang ramah dan manis budi."

"Taihiap, kalau sudah pulang dari Ban-mo-to harap kau sudi mampir ke Kim-Ie-san," kata Hui Sian,

Wi Liong mengangguk. "Kalau tidak ada halangan," jawabnya.

Kemudian, sesudah berpamit sekali lagi, tubuhnya berkelebat lenyap dan dua orang gadis itu untuk beberapa lamanya masih berdiri kagum. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan, pulang ke Kim-Ie-san…..

********************

Dengan cepat sekali Wi Liong lalu melakukan perjalanan kembali ke Kim-Ie-san. Untung baginya bahwa Thai Khek Sian benar-benar tidak ingin menimbulkan kemarahan Thian Te Cu, maka ketika merobohkannya hanya menggunakan asap beracun yang tak berbahaya, hanya membuat dia pingsan saja. Akan tetapi pengalaman ini bagi Wi Liong terasa amat pahit dan menyakitkan hati. Sudah dua kali dia roboh oleh kakek pentolan Mokauw itu.

Pertama kali dahulu lebih hebat lagi, baru segebrakan saja ia sudah roboh dan pasti akan tewas kalau tidak ada Cheng In dan Ang Hwa yang menolongnya. Sekarang kembali dia roboh setelah ia menerima gemblengan dari suhu-nya. Pengalaman ini membuatnya lebih hati-hati kelak kalau menghadapi lawan-lawan tangguh semacam Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa...! Teringat akan dua orang gadis ini, mau tak mau Wi Liong juga terkenang kepada Hui Nio dan Hui Sian. Terutama sekali Hui Sian! Terbayang ketika dia rebah di perahu, boleh dibilang bertumpang tindih dengan dua orang gadis itu.

Lagi-lagi pemuda ini menarik napas panjang. Mengapa nasib selalu membawanya kepada wanita-wanita yang menarik dan yang mendebarkan jantungnya? Sesudah dia kehilangan Siok Lan, sesudah hatinya rusak dan patah mendengar betapa Siok Lan telah meninggal dunia karena hendak bersetia kepadanya, mengapa masih saja terdapat gadis-gadis yang menghadang dalam perjalanan hidupnya?

Tidak, pikirnya mantap. Aku takkan mempedulikan mereka. Tidak ada seorang pun gadis di dunia ini seperti Siok Lan…..!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner