CHENG HOA KIAM : JILID-47


Ketika tiba di Kim-Ie-san, ia mendapat kenyataan bahwa tak seorang pun di antara tokoh-tokoh yang hendak menolong Eng Lan nampak telah kembali! Semua orang pergi ke Ban-mo-to. Tidak hanya See-thian Hoat-ong, Pak-thian Koai-jin, dan Kong Bu, bahkan Thai It Cinjin dan kedua Im-yang Siang-cu keduanya juga ikut pergi menyeberang ke Ban-mo-to. Dan tak seorang pun yang kembali!

Hati Wi Liong menjadi tidak enak sekali. Dia belum pernah bertemu dengan Kui-bo Thai-houw, tetapi sudah lama dia mendengar akan kelihaian nenek itu dan tentang bahayanya pergi ke Ban-mo-to yang kabarnya malah tidak kalah hebatnya bila dibandingkan dengan Thai Khek Sian di Pek-go-to. Dia merasa sangat khawatr akan keselamatan Eng Lan dan yang lain-lain.

Tanpa membuang waktu lagi Wi Liong lalu mengejar ke pantai, hendak menyusul ke Ban-mo-to menghadapi Kui-bo Thai-houw! Dia belum pernah merasai kelihaian permaisuri itu, maka diam-diam dia ingin belajar kenal. Ternyata harapannya ini terpenuhi dengan cepat, malah sebelum dia tiba di Ban-mo-to.

Ketika ia menuju ke pantai dan melewati daerah pegunungan yang masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Thai It Cinjin di Kim-Ie-san, dari jauh dia sudah melihat banyak orang berkumpul di sebuah tanah datar di antara gunung-gunung kecil dari batu kapur.

Pada bagian kiri berkumpul sederetan orang berpakaian seragam, tampaknya seperti ahli-ahli silat dan sikap mereka tenang kereng dengan dua lengan disembunyikan di belakang badan. Ada dua puluh empat orang yang berdiri pada sebelah kiri dengan kaki terpentang lebar dan mata memandang ke depan. Di sebelah kanan kelihatan beberapa orang petani yang agaknya merasa tertarik dan melihat apa yang terjadi di situ. Apakah yang mereka lihat?

Dua orang kakek aneh yang saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago yang tengah berlagak. Yang seorang bertubuh pendek, kepalanya gundul pelontos, jangankan rambut, bekasnya pun tidak ada seperti kulit bawang yang menutupi batok kepalanya. Kepala itu tidak rata pula, benjal-benjol meski pun bentuknya bundar. Matanya seperti meram terus, akan tetapi mulutnya nyengir terus seperti orang merasa geli hatinya. Seperti celananya, bajunya juga sudah koyak-koyak pada ujungnya.

Kakek pendek gundul ini berdiri dengan sebuah senjata aneh di tangan kanan. Senjatanya ini belum pernah terlihat di dunia persilatan, karena merupakan senjata bergagang yang luar biasa. Bentuknya gepeng dan bulat, merupakan gigi-gigi seperti roda bergigi, gagang itu dipasang sampai di tengah roda sehingga roda dapat berputaran. Gigi-giginya runcing dan tajam.

Yang dihadapinya adalah seorang setengah tua yang menyeramkan. Laki-laki ini bertubuh tinggi besar, alisnya tebal sekali akan tetapi tidak panjang, dahinya lebar dan yang paling menarik dan menyeramkan adalah guratan-guratan bekas luka pada mukanya di alis mata kanan kiri dan di pipinya seperti bekas luka bacokan senjata tajam.

Kedua tangan orang tinggi besar ini memegang senjata sepasang gembolan yang tampak dahsyat, gembolan baja yang diberi duri. Kalau melihat sikap dan pakaiannya, tentu orang ini satu rombongan dengan barisan orang yang berdiri di belakangnya.

Wi Liong menjadi tertarik hatinya dan menyelinap untuk mengintai karena dia mendengar nama Kui-bo Thai-houw disebut-sebut. Yang menyebut nama ini adalah orang tinggi besar yang mukanya bergores cacad itu.

"Aku tidak peduli apakah kau sahabat baik Kui-bo Thai-houw atau masih keponakan Raja Neraka, tetapi jangan harap kau akan menakutkan aku dan boleh menghina Pek-eng-pai (Perkumpulan Garuda Putih)," kata si muka cacad.

Mulut yang selalu tersenyum-senyum itu tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan suara tawa terbahak. Wi Liong bergidik mendengar ini, juga geli. Suara ketawa ini mengingatkan dia akan suara seekor ular besar di dalam hutan.

"Kak-kak-hah-hah-hah! Sombongmu! Mukamu yang penuh goretan pedang itu saja sudah menunjukkan kelemahanmu, toh kau bersikap seperti orang yang tak pernah terkalahkan! Hah-hah, agaknya kau dan dua losin orang-orangmu ini sudah bosan hidup, berani sekali menghina Thai-houw. Aku Si Naga Sakti tidak bisa memberi ampun lagi!" Sambil berkata demikian, orang gemuk pendek, yang lucu ini menggerak-gerakkan senjata roda bergigi di tangannya penuh ancaman.

Akan tetapi karena mulutnya selalu menyeringai dia sama sekali tidak terlihat galak atau kereng, malah lucu menggelikan. Wi Liong sampai menahan suara ketawanya mendengar orang lucu ini menyebut diri sendiri sebagai Si Naga Sakti!

Akan tetapi, bagi orang yang mukanya cacad itu sama sekali tidak bisa melihat kelucuan ini. Dengan marah dia langsung mengayunkan sepasang senjata gembolannya dan sambil menggereng seperti singa dia mulai menyerang.

Gembolan baja yang begitu beratnya, ditambah duri-duri lagi, menyambar ke arah kepala yang gundul pelontos dan kulitnya kelihatan halus laksana buah tomat besar yang sudah masak itu. Kalau kena tentu akan bejat!

Tidak disangka orang gemuk pendek berkepala gundul itu ternyata gerak-geraknya gesit sekali, Sambaran gembolan kiri ke arah kepalanya yang licin pelontos itu dapat dia kelit ke kiri dengan mudahnya dan ketika lawannya menyerang lagi dengan gembolan kanan, dia sudah menangkis dengan senjatanya roda bergigi.

"Klangg...!"

Terdengar bunyi nyaring dibarengi muncratnya bunga api ketika dua senjata itu bertemu. Keduanya terpental mundur, sejenak memeriksa senjata masing-masing dan merasa lega karena senjata mereka tidak rusak dalam pertemuan dahsyat itu.

Dengan cepat mereka menerjang maju lagi, lebih hebat dan lebih hati-hati dari pada tadi karena maklum bahwa lawan bukan orang lemah. Di lain saat dua orang jagoan itu sudah saling hantam lagi dengan sengitnya.

Siapakah kedua orang yang tahu-tahu sudah berkelahi secara mati-matan ini? Pertanyaan ini memasuki kepala Wi Liong.

Orang bermuka cacad itu memang kepala perkumpulan Pek-eng-pai, bernama Tek Loan berjuluk Eng-jiauw-ong (Raja Kuku Garuda), merupakan orang terkemuka di selatan dan perkumpulannya Pek-eng-pai biar pun tidak besar namun cukup berpengaruh.

Pada hari itu ia membawa anggota-anggotanya hendak mengunjungi Thai It Cinjin dengan keperluan... meminang Liok Hui Sian! Dia pernah bertemu dengan Hui Nio dan Hui Sian, dan karena dia sudah tahu pula bahwa Hui Nio sudah bertunangan dengan putera See-thian Hoat-ong, maka dia datang melamar adiknya, Hui Sian.

Kalau mengingat akan usia dan mukanya yang bercacad, tentu saja orang ini tidak patut melamar Hui Sian. Akan tetapi dia mengandalkan kepandaiannya dan kekayaannya. Lagi pula dia memang kenal baik dengan Thai It Cinjin dan Im-yang Siangcu. Maka besarlah harapannya bahwa pinangannya itu akan diterima.

Ketika tiba di Kim-Ie-san, dia mendapatkan rumah Thai It Cinjin kosong dan tidak seorang pun dapat dijumpainya kecuali para pelayan yang menyatakan bahwa Thai It Cinjin serta kawan-kawannya sedang pergi ke Ban-mo-to. Tek Loan orangnya sombong. Dia memang sudah pernah mendengar nama Kui-bo Thai-houw dari Ban-mo-to, akan tetapi karena di daerahnya sendiri dia merupakan orang nomor wahid. mana dia takuti segala macam Kui-bo Thai-houw?

Dengan semangat sebesar Gunung Thai-san ia lalu mengajak anak buahnya menyusul ke Ban-mo-to. Di dalam perjalanan inilah dia bertemu dengan si gundul lucu itu. Si gundul ini petentang-petenteng menghadang jalan, malah datang-datang menegur, suaranya marah akan tetapi mulutnya masih tersenyum-senyum.

"Kalian ini bocah-bocah dari mana berani memasuki wilayah yang sudah dikuasakan oleh Thai-houw kepadaku untuk menjaganya? Tanpa seijin Thai-houw, tidak boleh orang luar dan orang asing memasuki wilayah sini. Hayo kalian ini lekas pergi minggat, kecuali kalau sudah meninggalkan benda tanggungan."

"Benda tanggungan apa?" tanya Tek Loan yang masih bingung mendengar teguran itu.

"Benda tanggungannya kepala kalian," Si gundul berkata sambil pecengas-pecengis.

Tentu saja Tek Loan menjadi marah dan seperti sudah dituturkan di bagian atas, mereka lalu bertempur hebat.

Tentu saja Tek Loan terkejut sekali ketika mendapat kenyataan bahwa si gundul yang lucu ini ternyata kepandaiannya tidak lucu, jauh dari pada lucu, tidak boleh dibuat mainan. Senjata roda bergigi itu sangat lihai dan berbahaya sekali. Maka terpaksa Tek Loan yang di kandang sendiri menjadi jago nomor satu itu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan berusaha mati-matian merobohkan lawan gundul pacul ini.

"Remuk kepalamu!" bentaknya sambil mengerahkan tenaga, menghantam kepala gundul itu. Hantaman ini hebat sekali, agaknya sudah tak keburu ditangkis atau dielakkan lagi.

"Belum, tidak kena!" terdengar si gundul mengejek dan aneh sekali, mendadak kepalanya hilang!

Benar-benar hebat si gundul ini. Agaknya ia memiliki ilmu bulus, karena kepalanya seperti disedot masuk bersembunyi di dalam dadanya. Tentu saja tidak demikian halnya, hanya saking cepatnya gerakan lehernya dan tubuhnya yang merendah, seakan-akan kepalanya lantas hilang.

Seketika Tek Loan kaget sekali dan terheran-heran. Akan tetapi melihat bahwa lawannya sudah berhasil menghindarkan diri, kemarahannya segera memuncak.

"Pecah dadamu!" bentaknya dan kini tubuhnya mumbul ke atas dan seperti seekor burung garuda, ia menyambar dari atas, mengayun gembolan kanan menghantam dada si gundul.


"Pecah apanya, kena juga tidak!" Si gundul kembali mengejek sambil menangkis dengan senjata roda bergigi.

"Klanggg...!"

Bunga api berpijar dan tiba-tiba si gundul marah-marah. Ia berjingklak-jingklak (meloncat-loncat dengan sebelah kaki), kaki kirinya diangkat dan dengan kaki kanan dia berloncatan berputaran.

"Aduh... aduh... curang...!" keluhnya.

Ternyata ketika dua senjata tadi bertemu, sebuah di antara duri-duri baja di gembolan Tek Loan telah patah dan menyambar betis kaki kirinya. Tentu saja ini menyakitkan sekali.

Melihat ini Tek Loan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, monyet gundul rasakan kelihaianku. Ha-ha-ha!"

"Curang! Cuhhh...!" Si gundul tiba-tiba meludah ke arah muka Tek Loan.

Karuan saja ketua Pek-eng-pai ini langsung menjadi gelagapan. Tadi dia sedang tertawa karena girang, mentertawakan lawannya yang terluka, maka pada saat serangan air ludah lawan datang, dia tidak sempat mengelak dan penuhlah mukanya dengan air ludah.

Hebatnya, air ludah yang mengenai mukanya itu menimbulkan rasa perih dan sakit. Hal ini karena si gundul bukan sembarangan orang dan bukan sembarangan meludah, melainkan mempergunakan lweekang-nya ketika meludah tadi.

Lebih celaka lagi bagi Tek Loan. Selagi matanya terasa pedas terkena hujan air ludah dan dia tengah gebres-gebres karena hidung dan mulutnya juga kebagian air ludah, si gundul sudah maju menerjangnya lagi dengan mulut tetap menyengir kuda!

Dengan repot sekali Tek Loan memutar sepasang gembolannya dan melindungi tubuhnya sambil memberi isyarat kepada teman-temannya. Serentak lima orang rekannya meloncat maju kemudian mengeroyok si gundul itu.

"Ehh-ehh, curang! Licik! Mana ada aturan main keroyokan?" Walau pun dia sibuk sekali melompat ke sana ke mari menghadapi keroyokan itu, si gundul ini masih sempat memaki dan mencela.

"Apa macammu ini tidak curang?!" Tek Loan membentak marah.

"Apanya yang curang?!" Si gundul balas membentak sambil melompat ke belakang akan tetapi segera dikejar dan dikepung lagi.

"Mana ada aturan bertempur terdesak lalu meludahi muka!" omel Tek Loan mendongkol.

Untuk sesaat si gundul tak bisa menjawab, hanya memutar senjata melindungi diri sambil memutar otak. Kemudian dia pun menjawab, agaknya sudah mendapat alasan baik untuk menyangkal bahwa dia sudah berbuat curang.

"Habis baumu tidak enak, bikin orang ingin meludah!"

Tentu saja jawaban ini bukan membikin Tek Loan menarik kembali tuduhannya bahwa si gundul curang, malah-malah membuat dia menjadi marah bukan main.

"Bunuh monyet gundul ini! Penggal lehernya!" Sambil berkata demikian, bersama kelima orang kawannya Tek Loan mendesak maju.

Si gundul masih mencoba mempertahankan diri, akan tetapi dia kerepotan sekali sampai tubuhnya basah semua oleh peluh. Kepalanya yang seperti bola karet itu pun sampai ikut mengeluarkan keringat berbutir-butir.

Melihat ini Wi Liong menjadi kasihan. Meski pun dia tidak tahu siapa adanya si gundul ini, dan orang macam apa adanya mereka semua itu, tidak tahu pula siapa salah siapa benar dalam pertempuran itu. akan tetapi dia suka melihat si gundul yang amat lucu itu.

Sekarang melihat si gundul dikeroyok dan terdesak hebat sehingga keselamatannya amat berbahaya, Wi Liong mengambil keputusan hendak menolongnya. Akan tetapi ia tidak jadi bergerak karena tiba-tiba telinganya mendengar berkesiurnya angin disusul suara ketawa cekikikan, suara ketawa beberapa orang wanita. Kagetlah dia karena dalam suara ketawa ini terkandung khikang yang hebat juga.

"Engko Ek Kok, apakah kadal-kadal itu mengganggumu?" terdengar suara seorang wanita lalu muncullah empat orang wanita yang lucu, gemuk-gemuk genit-genit dan serupa, baik wajah mau pun pakaiannya, mukanya burik-burik semua, serupa pula bopengnya.

"Jangan takut," sambung wanita ke dua.

“Kami membantumu," kata yang ke tiga.

"Mari basmi kadal-kadal ini, engko Ek Kok!" kata yang ke empat.

"Ha-ha-ho-ho-kak-kak, bagus sekali kalian datang, adik-adikku yang manis, adik-adikku yang denok ayu! Kadal-kadal ini amat menjemukan, hayo ganyang!" sahut si gundul yang sebetulnya bernama Phang Ek Kok dan dia adalah saudara sekandung, kakak dari empat orang wanita kembar ini. Empat orang wanita kembar ini bukan lain adalah Phang Si Hwa, Phang Tung Hwa, Phang Nam Hwa, dan Phang Pai Hwa yang menjadi pelayan-pelayan kesayangan dari Kui-bo Thai-houw!

Begitu empat orang perawan tua kembar empat yang genit dan lihai ini mulai menyerbu, memainkan sabuk tali dan pukulan-pukulan mereka yang hebat dalam bentuk barisan segi empat, maka bubarlah keroyokan Tek Loan dan lima orang kawannya.

Hebat dan anehnya, begitu terlepas dari kepungan dan mendapat bantuan, Phang Ek Kok kakek gundul itu lalu menjatuhkan diri di atas tanah, bersandar kepada batu gunung dan... tidur mendengkur, mengorok seperti babi dipotong lehernya! Benar-benar tokoh yang lihai, aneh dan lucu sekali.

Belum lama Phang Ek Kok tiba di Ban-mo-to. Seperti biasa dia datang untuk menjenguk empat orang adik kembar yang sangat dikasihinya itu, datang bersama seorang anaknya yang sudah remaja puteri. Akan tetapi Kui-bo Thai-houw tidak suka melihat dia lama-lama di Ban-mo-to.

Walau pun tidak ada alasan bagi Kui-bo Thai-houw untuk membenci orang lucu ini, akan tetapi dia tidak suka melihat tokoh yang kadang kala bermulut lancang, bicara seenaknya saja tanpa sungkan lagi. Namun mengingat empat orang pelayannya, Kui-bo Thai-houw masih selalu bersabar. Sekarang melihat kedatangan kakek gundul aneh ini yang bicara tidak karuan ketika kakek ini melihat Kun Hong di sana, dia lalu menyuruh Ek Kok untuk mengawasi keadaan di wilayah Kim-le-san.

"Daerah itu sekarang tidak bertuan, kau boleh awasi dan wakili aku menjaga daerah itu. Jangan boleh lain orang kangkangi," demikian pesan Kui-bo Thai-houw.

Karena dia memang aneh, Ek Kok taat tanpa banyak bertanya lagi. Puterinya yang masih suka tinggal di Ban-mo-to terpaksa ikut juga, akan tetapi gadis ini tidak ikut ayahnya yang suka berkeliaran, melainkan tinggal di dekat bekas tempat tinggal Thai It Cinjin melakukan penjagaan mentaati perintah ratu Ban-mo-to.

Sesudah keempat orang nenek kembar itu menggantikan kakak mereka menghadapi Tek Loan dan teman-temannya, ketua Pek-eng-pai segera menjadi terdesak. Malah dua orang pembantunya sudah kena dirobohkan sehingga sekarang keadaan menjadi empat lawan empat.

"Maju, serbu...!" perintah Tek Loan kepada orang-orangnya.

Maka menyerbulah belasan orang itu dengan senjata tajam di tangan. Betapa pun lihainya empat orang pelayan Kui-bo Thai-houw itu, menghadapi keroyokan dua puluh lebih orang-orang Pek-eng-pai yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu, repot jugalah mereka.

"Engko Ek Kok..."

"...jangan ngorok aja..."

"...bangunlah segera..."

"...bantulah kami...!"

Demikian mereka saling bersahut-sahutan minta bantuan kakak mereka yang masih tidur mendengkur, sambil bergerak secepatnya untuk melindungi diri mereka dari hujan senjata para pengeroyok. Akan tetapi kakek gundul itu tetap saja mengorok.

Melihat munculnya empat orang wanita yang juga sangat lucu dan aneh. mukanya buruk-buruk dan ada mirip-miripnya dengan Ek Kok si gundul, Wi Liong menjadi makin geli dan tertarik. Alangkah banyaknya orang-orang aneh di dunia ini, pikirnya kagum. Juga ia harus memuji ilmu silat empat orang wanita itu yang betul-betul lihai sekali.

Akan tetapi ia juga terkejut melihat betapa setiap orang pengeroyok yang roboh di tangan empat orang wanita ini, kesemuanya roboh untuk selamanya karena tidak dapat bangun lagi, sudah tewas. Diam-diam dia ngeri juga melihat keganasan hati orang yang dilakukan dengan tertawa-tawa cekikikan!

Karena melihat kekejaman inilah membuat Wi Liong ragu-ragu sehingga tidak mau turun tangan membantu biar pun empat orang wanita itu mulai terkurung dan terdesak oleh para anggota Pek-eng-pai.

Pada saat dia sedang bimbang, dia kaget sekali mendengar berkesiurnya angin yang luar biasa disertai bau semerbak harum yang langsung disusul jerit-jerit mengerikan. Sesudah Wi Liong memandang, hampir ia berteriak kaget karena semua orang Pek-eng-pai, berikut kepalanya, Tek Loan dan sisanya yang masih ada sembilan belas orang, semua rcboh tak dapat bangun lagi!

Dan sebagai gantinya, di atas sebuah batu besar berdiri seorang wanita cantik agung dan angkuh, seorang wanita yang sebenarnya sudah tua akan tetapi karena pakaiannya yang indah, karena hiasan-hiasan dan perawatan mukanya yang dulu memang cantik jelita, dia masih nampak muda dan tetap menarik, terlebih lagi kerling matanya yang masih seindah mata burung hong dan bibirnya yang merah semringah membayangkan gairah hati yang tak kunjung padam.

Dari tubuh wanita ini keluar bau semerbak yang harum tadi. Wi Liong melongo. Tak dapat disangkal lagi, wanita ini memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Ginkang-nya sangat sempurna sampai-sampai kedatangannya begitu cepat dan sukar diikuti pandangan mata. Kepandaiannya tinggi sekali sehingga dalam sekejap mata saja semua pengeroyok sudah dirobohkannya.

Akan tetapi alangkah kejam dan ganasnya! Ataukah dia tidak membunuh semua orang itu? Dari tempat Wi Liong bersembunyi, orang-orang yang rcboh itu seperti orang pingsan atau terkena totokan saja, akan tetapi tarikan muka para korban itu kelihatan mengerikan sehingga meragukan hatinya.

Wanita cantik itu membuka mulut, terdengar suaranya yang halus berpengaruh. “Ek Kok, percuma saja kau memakai julukan Sin-liong (naga sakti). Cuma menghadapi orang-orang seperti ini saja kau tidak mampu mengatasi. Karena sudah cukup lama kau bertemu dan melepas rindu dengan keempat orang adikmu, sekarang kau pergilah bersama anakmu itu dan jangan kau datang kembali sebelum membawa serta anakmu yang seorang lagi. Aku ingin melihat si kembar bersatu kembali!"

Setelah berkata demikian wanita itu lalu memberi isyarat dengan lambaian tangannya dan empat orang wanita burik yang aneh itu seperti anjing-anjing piaraan lalu mengikuti wanita itu. Ada pun kakek gundul itu, tanpa berani membantah lagi lalu pergi dari situ berlari-lari cepat. Tadi begitu wanita cantik itu muncul, dia sudah bangun dan berdiri dengan kepala tunduk.

Kini tinggal Wi Liong seorang diri di tempat sembunyinya. Keadaan sunyi sepi. Sungguh mengerikan sekali bila melihat tubuh-tubuh bertumpuk menggeletak di sana-sini! Wi Liong melompat keluar dan seruan kaget serta marah keluar dari bibirnya ketika dia memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa anggota-anggota Pek-eng pai itu sudah tewas semuanya terkena pukulan jarak jauh yang luar biasa keji dan lihainya.

"Kui-bo Thai-houw...!" bisiknya sambil mengertak gigi saking gemasnya. "Tak salah lagi, dia tentu Kui-bo Thai-houw. Kalau bukan dia, siapa lagi di dunia ini yang begini kejam?"

Makin gelisah hatinya memikirkan keselamatan Eng Lan dan orang-orang lain yang sudah mendatangi Ban-mo-to. Ia cepat melompat, memanggil-manggil para petani yang tadi lari cerai-berai setelah terjadi pertempuran hebat.

"Sudah tidak ada orang jahat lagi. Mayat-mayat itu perlu segera dikubur, kalau tidak, akan membusuk dan akan meracuni daerah ini. Harap saudara-saudara mengumpulkan teman-teman untuk mengurus serta menguburnya. Aku hendak menyusul kawan-kawan ke Ban-mo-to."

Sesudah berkata demikian, pemuda ini cepat berlari kencang mengejar Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya. Ia tak mempedulikan lagi kakek gundul tadi. Kalau saja Wi Liong mengikuti perjalanan kakek gundul ini dan melihat puterinya, tentu pemuda itu akan mengalami kekagetan yang hebat!

Wi Liong mengerahkan kepandaiannya untuk mengejar Kui-bo Thai-houw, namun karena yang dikejarnya juga bukan sembarang orang, maka ketika dia tiba di pantai, dia melihat Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya itu telah naik sebuah perahu mewah yang sudah mulai bergerak ke tengah lautan pula. Di atas perahu itu dia hanya melihat empat orang pelayan kembar yang gemuk-gemuk tadi, yang berdiri memandang padanya sambil tertawa cekikikan dan menuding-nuding dengan telunjuk seolah-olah mentertawakannya. Wi Liong membanting kaki saking gemasnya, kemudian mencabut sebatang tonggak yang agaknya tadi dipakai untuk mengikat perahu.

"Tunggu dulu...!" teriaknya dan pemuda perkasa ini lalu mengenjot tubuhnya melompat ke depan.

Seperti seekor burung melayang, tubuhnya meluncur ringan dari pantai, mengejar perahu. Akan tetapi jarak antara pantai dan perahu itu sudah terlampau jauh. maka lompatannya yang hebat ini tidak dapat mencapai perahu. Hal ini telah diperhitungkannya, maka ia pun segera melempar tonggak tadi ke atas air dan ketika kedua kakinya turun, dia menginjak tonggak yang terapung itu dan kembali mengenjot lagi mempergunakan tonggak sebagai dasar loncatan. Dengan cara demikian akhirnya dia bisa sampai di perahu!

"Hebat sekali...”

"Pemuda ganteng...”

"Tapi tidak boleh..."

"Naik ke perahu...!"

Empat orang nenek kembar itu bersahutan dan bagaikan dikomando saja, tangan mereka dengan gerakan sama menyambitkan sebuah kim-chi-piauw (senjata rahasia seperti uang logam) ke arah tubuh Wi Liong yang masih melayang ke arah perahu itu.

Serangan ini benar-benar berbahaya sekali. Tubuh yang sedang melayang dalam loncatan itu mana bisa mengelak?

Wi Liong yang melihat serangan ini, mengulur tangan dan berhasil menyampok dua buah mata uang, akan tetapi yang dua lagi dia biarkan mengenai dada dan perutnya setelah dia mengerahkan sinkang menghentikan jalan darah dan membikin kebal dada dan perutnya. Dengan demikian dua buah senjata rahasia itu lantas mental ketika menyentuh kulit dada dan perutnya, dan hanya membikin bolong pakaiannya saja.

"Ayaaa...! Lihai sekali...”

"Pemuda ganteng..."

"Perlu lekas..."

"Laporkan Thai-houw...!"

Empat orang wanita itu serentak berlari memasuki bilik perahu yang dicat merah.

"Siluman-siluman, jangan lari...!" Wi Liong membentak.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kedua kakinya turun ke atas perahu, baru saja dua kaki itu menyentuh papan perahu dan ia masih menjaga keseimbangan tubuhnya, secara mendadak perahu itu terguling ke kanan seperti roboh terkena serangan hebat dari bawah perahu.

"Celaka...!” Wi Liong berseru keras.

Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka sehingga ia menjadi kaget dan bingung. Dari pada terguling bersama perahu dan ada bahaya tertindih, ia malah melompat ke kiri dan menceburkan diri ke dalam air. Biar pun bukan seorang ahli, akan tetapi kalau hanya berenang saja Wi Liong juga dapat, karena itu ia tidak takut-takut melompat ke dalam air ketika melihat perahu itu roboh.

Aneh bin ajaib! Perahu yang tadinya mendadak terguling roboh ke kanan itu kini tiba-tiba dan serentak bisa bangun lagi! Dan muncullah Kui-bo Thai-houw di atas dek diiringi empat orang nenek dan delapan orang pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik.

"Hih-hih-hih..."

"Aduh lucunya...”

"Ada ikan bagus...”

"Tak ada buntutnya...!"

Empat orang nenek kembar itu mengejek Wi Liong yang terus sibuk menggerak-gerakkan kaki tangannya di dalam air untuk menjaga tubuhnya jangan sampai tenggelam. Delapan orang pelayan yang berpakaian serba hijau dan serba merah menahan ketawa, menutupi mulut dengan ujung lengan baju. Mereka ini selain cantik jelita, juga gerak-gerik mereka halus dan sopan seperti puteri-puteri istana saja.

"Tangkap ikan itu," terdengar Kui-bo Thai-houw memerintah dengan suara halus.

"Ikan liar itu..."

"Berbahaya dan kuat..."

"Kalau akan ditangkap...”

"Sebaiknya menggunakan jala emas."

Kui-bo Thai-houw mengangguk setuju dengan mata masih memandang tajam ke arah Wi Liong. Empat orang nenek kembar itu segera berlari masuk dan tak lama kemudian keluar kembali membawa sebuah jala yang terbuat dari pada benang halus berwarna keemasan. Atas isyarat Kui-bo Thai-houw, mereka lalu melemparkan jala itu ke arah Wl L;ong sambil tertawa-tawa dan memegangi ujung jala yang merupakan tali panjang.

Wi Liong boleh menjagoi di daratan, akan tetapi di dalam air kepandaiannya juga terbatas, tak banyak bedanya dengan orang biasa. Dia tadi mendongkol bukan main ketika melihat perahu itu tiba-tiba ‘bangun’ lagi dan tahulah dia bahwa dia sudah ditipu mentah-mentah, bahwa perahu tadi miring bukannya akan roboh tenggelam melainkan sengaja dimiringkan oleh orang pandai dari dalam perahu. Orang sakti semacam Kui-bo Thai-houw tentu saja sanggup melakukan hal ini.

Sekarang tidak ada jalan lain baginya kecuali menyerah saja. Dia takkan melawan sampai sia dinaikkan ke dalam perahu. Oleh karena itu, meski pun menjadi bahan tertawaan dan diperlakukan seperti seekor ikan yang dijala dari perahu, pemuda ini hanya menggigit bibir menahan kemarahannya dan menyerah saja ketika tubuhnya dijatuhi jala lalu dikerek naik ke atas perahu seperti seekor ikan.

"Hi-hi-hi... dapat ikan...!"

"Alangkah gantengnya ikan ini...!"

"Tentu enak dagingnya...!"

"Berikan saja kepada kami...!"

Demikian empat orang nenek kembar itu berkata sambil cekikikan dan menarik tali jala itu ke atas mengerek tubuh Wi Liong yang berada di dalam jala.

Akan tetapi, ketika jala itu telah sampai di tengah-tengah antara pinggiran perahu dan air, tiba-tiba Kui-bo Thai-houw memberi isyarat agar pengerekan itu jangan dilanjutkan. Malah tali jala itu lalu diikatkan di atas sehingga dengan demikian Wi Liong tergantung di tengah-tengah, di pinggir perahu!

"Eh, kenapa tidak dikerek terus?” seru pemuda ini yang mulai merasa bingung.

Tidak ada jawaban dari atas kecuali suara ketawa cekikikan dan ketawa halus merdu para pelayan muda yang mulai mengiringkan Kui-bo Thai-houw kembali memasuki bilik perahu. Wi Liong menyumpah-nyumpah. Perahu itu tinggi sekali, berbeda dengan perahu-perahu biasa.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner