CHENG HOA KIAM : JILID-55


Kini kita kembali lagi ke dalam goa di mana Kwa Cun Ek tertawa-tawa melihat tubuh Kun Hong menggeletak di depan kakinya,

"Ha-ha-ha! Saudara Kwee Sun Tek, dasar Thian itu adil! Entah apa sebabnya, iblis muda ini datang ke sini dan dapat ditawan oleh anakku! Inilah dia biang keladi segala kejahatan, biang keladi keributan yang timbul antara kita."

"Dan baru saja dia membunuh cici Kim Li!" kata Lin Lin dengan marah.

"Apa kau kata...?!" Kwa Cun Ek marah sekali dan kepalan tangannya bergerak hendak memukul kepala pemuda yang menggeletak tak berdaya itu.

“Tahan dulu, saudara Kwa!" kata Kwee Sun Tek. "Pertemuan menggembirakan antara kita ini jangan kita kotori dengan pembunuhan. Nona Kwa Siok Lan, betulkah dia membunuh orang? Apa kau melihat sendiri?"

"Aku tidak melihat sendiri, akan tetapi tubuh Kim Li cici sudah terjerumus ke dalam jurang sedangkan dia ini menjenguk dari atas lalu mempergunakan tambang turun ke sini," jawab Lin Lin.

"Kalau begitu biar aku membawanya pergi dari sini. Tentang perbuatannya yang membuat hubungan antara kita hampir terputus, adalah perbuatan menipu kepadaku. Maka sudah sepatutnya kalau aku yang memberi hukuman kepadanya. Saudara Kwa, tentu kau tidak keberatan, bukan? Di samping urusan antara dia dan aku, juga dia telah mencuri pedang Cheng-hoa-kiam dari tanganku, dan juga aku mempunyai dugaan bahwa dia ini bukanlah putera Kam Ceng Swi, melainkan putera musuh besarku."

Kwa Cun Ek mengangguk-angguk. "Ahh, begitukah? Kalau ada hal-hal yang begini pelik, memang lebih tepat bila kau yang menghukumnya. Biarlah kami berikan iblis ini padamu, hitung-hitung emas kawin dari kami." Kwa Cun Ek menengok kepada Lin Lin dan melihat wajah anaknya merah, dia tertawa bergelak.

Kwee Sun Tek lalu memanggul tubuh Kun Hong yang masih pingsan dan pergilah dia dari goa itu, melalui sebuah anak tangga yang terbuat dari pada tambang yang dipasang oleh Lin Lin. Dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian kakek buta ini, sudah tua dan buta memanggul tubuh seorang pemuda, hendak melakukan perjalanan dari Bukit Thian mu-san ke Bukit Wuyi-san di sebelah selatan!

Setelah tiba di atas tebing, dia bernapas lega lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah tetap. Tangan kanannya memegang sebatang ranting panjang untuk menjadi alat pemilih jalan.

Mengapa Kwee Sun Tek mau bersusah payah memanggul tubuh Kun Hong? Betulkah dia mempunyai niat menghukum Kun Hong?

Sama sekali tidak. Walau pun dahulunya Kwee Sun Tek ini adalah seorang yang terkenal berwatak keras sekali, akan tetapi semenjak menjadi murid Thian Te Cu, tidak saja dia menerima ilmu tinggi, juga menerima ilmu kebatinan, dia menjadi seorang yang berwatak halus dan pemurah. Banyak hal yang menjadi sebab mengapa dia minta kepada Kwa Cun Ek untuk membawa pergi Kun Hong.

Pertama karena dia tidak tega apa bila pemuda itu dibunuh Kwa Cun Ek, padahal belum tentu kalau pemuda ini membunuh Kim Li. Ke dua, dia merasa kasihan kepada pemuda ini yang semenjak kecil terjatuh ke tangan orang-orang jahat, terlebih lagi kalau mengingat bahwa pemuda itu besar kemungkinan adalah putera Beng Kun Cinjin. Ke tiga, ia hendak minta kembali Cheng-hoa-kiam dan ke empat dan ini penting sekali, dia hendak bertanya kepada pemuda ini apakah betul gadis yang berada di goa itu adalah Kwa Siok Lan.

Tentu saja tadinya ia tidak menyangka yang bukan-bukan, akan tetapi setelah mendengar bahwa Kun Hong dapat ditawan oleh Siok Lan, dia merasa heran bukan main. Sepanjang ingatannya, kepandaian Kun Hong sebagai murid Thai Khek Sian adalah luar biasa sekali, bahkan dia sendiri yang sudah menerima gemblengan Thian Te Cu merasa tidak sanggup mengalahkan Kun Hong. Bagaimana Siok Lan yang hanya menerima pelajaran dari Kwa Cun Ek bisa menawan Kun Hong? Jangankan gadis itu, walau pun ayahnya sendiri turun tangan, kiranya sukar untuk mengalahkan Kun Hong, apa lagi menawan! Maka timbullah kecurigaannya dan dia ingin sekali mendapat keterangan ini dari Kun Hong.

Sesudah melakukan perjalanan cepat selama setengah hari, Kwee Sun Tek mengaso di bawah sebatang pohon besar karena saat itu tengah hari yang amat terik. Ia menurunkan tubuh Kun Hong dan dari gerakan pemuda itu dia mendapat kenyataan bahwa Kun Hong tidak pingsan lagi. Dia lalu meraba-raba jalan darah pada tubuh pemuda itu dan akhirnya berhasil membuka jalan darah, membebaskan Kun Hong dari pengaruh totokan.

Pemuda itu mengeluh, kemudian diam saja karena sedang mengumpulkan tenaga sambil mengatur nafas untuk melancarkan jalan darahnya yang tadi terganggu sampai setengah hari lamanya. Tubuhnya terasa kaku dan sakit-sakit. Setelah kesehatannya pulih kembali, dia mengeluh lagi dan berkata,

"Aaahhh... aku telah melihat setan...! Kwee lo-enghiong. kenapa kau menolong aku orang berdosa ini? Kenapa kau tidak membiarkan aku mereka bunuh saja? Aku hendak kau ajak ke manakah?"

"Kun Hong, di mana-mana kau hanya mendatangkan onar dan keributan. Perbuatan apa lagi yang kau lakukan tadi? Mengapa kau membunuh gadis buntung itu?" Kwee Sun Tek sudah mengenal Kim Li yang membawa surat ke Wuyi-san dan merasa kasihan kepada gadis buntung itu.

Kun Hong menarik napas panjang. "Dasar aku yang sialan, lo-enghiong. Aku sama sekali tidak bermaksud membunuhnya. Begitu aku tiba di tebing, ia datang menyerangku kalang-kabut seperti orang gila, mengatakan bahwa aku yang menjadi gara-gara nona Siok Lan membunuh diri dan Kwa-enghiong menjadi gila. Aku mengelak dan saking bernafsunya ia menyerang, tubuhnya terjerumus ke dalam jurang. Bagaimana aku dapat mencegahnya? Aku lalu menuruni jurang itu dengan tambang yang ia tinggalkan dengan maksud mencari mayatnya dan menguburnya baik-baik. Tetapi tidak tahunya, di tengah-tengah..." pemuda itu nampak bingung, "aku melihat... setan! Ataukah Kim Li itu yang membohongiku ketika mengatakan bahwa Siok Lan sudah membunuh diri? Akan tetapi tak mungkin aku melihat arwah gadis itu yang menggodaku. Dia betul-betul Siok Lan, akan tetapi aneh... entahlah, lo-enghiong. aku bingung sekali. Tapi aku berani mengatakan dengan sumpah bahwa aku tidak melakukan sesuatu yang jahat di tempat tadi."

"Aku percaya kepadamu, orang muda. Tetapi gadis itu... dahulu kau tentu pernah melihat Siok Lan, bukan?"

"Pernah, dia seorang gadis cantik yang keras hati dan gagah," jawab Kun Hong.

"Dan gadis yang menawanmu itu, benar-benar dia Siok Lan yang pernah kau lihat?"

"Inilah yang membingungkan hatiku, lo-enghiong. Nona Kwa Siok Lan yang kulihat dua tahun yang lalu itu kepandaiannya biasa saja, akan tetapi nona tadi bukan main lihainya. Sambitan Kim-thouw-ting yang dihujankan kepadaku tidak saja dilepas secara luar biasa, akan tetapi juga mengandung tenaga lweekang yang belum tentu kalah olehku. Apa lagi totokannya dengan kepala paku, benar-benar hanya dapat dilakukan oleh orang pandai."

"Cocok sekali! Begitu pun jalan pikiranku, hal itu benar-benar aneh. Kun Hong, maukah... maukah kau menolongku, menolong seorang buta yang tidak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri?"

Sampai beberapa lama Kun Hong tidak menjawab. Kwee Sun Tek tidak tahu bahwa tiba-tiba saja pemuda itu menjadi pucat sekali, matanya terbelalak memandang ke depan, dari mana datang berlari-lari tiga orang, yang dua laki-laki dan yang seorang wanita.

Matanya terbelalak memandang yang perempuan, karena wanita ini bukan lain adalah... Siok Lan! Atau seorang wanita yang seujung rambut pun tak ada bedanya dengan wanita di goa bawah yang merobohkan dia tadi, baik wajahnya mau pun bentuk tubuhnya! Hanya pakaiannya dan sanggul rambutnya yang berbeda.

"Kun Hong, maukah kau menolongku?"

Anehnya, dari pucat wajah Kun Hong menjadi biru dan seluruh tubuh pemuda itu menjadi menggigil, kemudian roboh tak ingat diri di dekat Kwee Sun Tek. Kakek buta ini tadi hanya mendengar napas terengah-engah, maka cepat dia meraba dan alangkah kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa tubuh pemuda itu diam tak bergerak dalam keadaan yang amat panas seperti terbakar! Dia tahu bahwa pemuda ini menderita sesuatu yang sangat berbahaya seperti orang terkena racun yang amat jahat.

Cepat Kwee Sun Tek mengangkat tubuh itu, dipanggulnya kembali dan dibawanya pergi setengah berlari. Ia tidak melihat betapa tiga orang, Phang Ek Kok, Kui Sek, dan Lan Lan yang tentu akan membuat dia kaget setengah mati kalau melihatnya, sedang berlari-lari tanpa memperhatikannya menuju ke Bukit Thian-mu san di belakangnya.

Tanpa mempedulikan kelelahannya, Kwee Sun Tek lalu membawa tubuh Kun Hong yang masih panas tak bergerak itu naik Gunung Wuyi-san. Dengan terengah-engah kakek buta ini menurunkan tubuh Kun Hong di depan Thian Te Cu yang sedang bersemedhi.

"Sian-su... tolonglah pemuda ini..." katanya dengan napas masih memburu.

Thian Te Cu menarik napas panjang dan membuka matanya. Kakek ini sudah makin tua, akan tetapi anehnya, makin tua tubuhnya semakin kurus dan semakin banyak keriputnya, sebaliknya rambutnya menjadi semakin menghitam! Karena rambutnya yang makin hitam dan panjang ini, nama poyokan Mayat Hidup yang diberikan padanya menjadi lebih cocok lagi karena dikelilingi rambut hitam itu, mukanya yang sudah kurus tampak semakin kurus dan semakin pucat seperti muka mayat.

Kipas daun di tangan kiri dipindahkannya ke tangan kanan, lantas dengan tangan kirinya Thian Te Cu meraba dada Kun Hong. Ia mengerutkan kening karena tidak tahu apa yang menyebabkan pemuda itu menjadi begini. Dibukanya baju pemuda itu untuk melihat dada serta pusarnya, dirabanya lagi dan terdengar kakek sakti ini berkata,

"Siancai... siancai... damai... damai! Bocah ini menjadi korban pukulan Im-yang-lian-hoan dari Kun-lun-pai, pukulan jahat... pukulan jahat... aku yang bodoh ini mana bisa mengobati dia? Di dunia ini hanya ada satu orang yang dapat menyembuhkannya, yaitu Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to. Kalau tidak, dia hanya akan tahan sampai tiga hari lagi. Pukulan ini dideritanya hampir dua tahun yang lalu. Ehh, Sun Tek, siapakah bocah yang kuat ini? Dia sampai bisa tahan dua tahun!"

"Sian-su, dia ini seorang bernama Kam Kun Hong, murid Thai Khek Sian-su di Pek-go to."

Thian Te Cu menggangguk angguk, keningnya makin dalam berkerut.

"Hemm... sayang dia menjadi muridnya, tulangnya baik sekali. Aneh juga muridnya dapat menahan Im-yang lian-hoan sampai hampir dua tahun." Sambil berkata demikian. Thian Te Cu menutupkan kembali baju yang tadi dibukanya. Pada saat itu seuntai kalung perak dengan mata batu kemala yang warnanya amat aneh, hitam putih, merah kuning berubah-ubah tak menentu, jatuh dari dalam saku baju itu.

Thian Te Cu mengambil kalung itu, mengamat-amati batu kemalanya kemudian mukanya lantas berubah, "Thian Yang Maha Adil! Im-yang giok-cu sendiri yang hadir! Dengan obat tunggal ini di dalam sakunya, kenapa bocah ini sampai menjadi begini? Sun Tek, bocah ini sudah membawa obatnya sendiri. Lekas kau ambil mangkuk dan nyalakan api di dalam tungku."

Sampai tiga bulan lebih Kun Hong berada di puncak Wuyi-san, mendapat perawatan dan pengobatan dari Thian Te Cu yang menggunakan sari hawa kemala Im-yang-giok-cu untuk menyambung nyawa pemuda itu. Tidak hanya menerima pengobatan lahir, malah pemuda itu juga menerima pengobatan batin, yaitu menerima wejangan dan gemblengan batin dari mulut Thian Te Cu sendiri.

Terbukalah mata hatinya sehingga makin yakinlah hati pemuda itu bahwa selagi hidup dia harus memupuk kebaikan sebanyaknya dan membasmi kejahatan. Makin jelas baginya bahwa kalau hidup sebagai manusia tidak memupuk kebajikan dan menjadi hamba nafsu kejahatan, ia hanya akan mengotorkan dunia, mengotorkan nama leluhur dan tidak pantas dilahirkan sebagai manusia.

Kalau dulu semenjak ia mengenal Eng Lan, Kun Hong telah mendapat banyak kemajuan, sekarang dia lebih sadar lagi dan lebih kuat iman dan batinnya. Malulah dia kalau teringat betapa mudahnya dia jatuh terpikat oleh Kui-bo Thai-houw.

Pada suatu hari, Thian Te Cu memanggilnya dan sesudah pemuda ini menghadap sambil berlutut, kakek ini lalu berkata. "Kau sudah sembuh sama sekali, kini boleh turun gunung. Harapanku tidak sia-sia selama ini kau berada di sini dan kau turun gunung sebagai orang yang sudah sadar betul dan tahu ke mana harus kemudikan langkah hidupmu."

Sambil berlutut Kun Hong memberi hormat. "Teecu telah menerima budi pertolongan Sian-su, telah mendapat pertolongan sehingga teecu masih hidup sampai sekarang. Yang lebih penting lagi, teecu sudah menerima petunjuk-petunjuk dan wejangan yang tak akan teecu lupakan selama hidup. Mohon doa restu Sian-su saja supaya teecu kuat menjalani semua petuah yang berharga itu."

Thian Te Cu nampak puas. la mengeluarkan sebuah kotak kecil lantas memberikan kotak itu kepada Kun Hong. "Di dalam kotak ini terisi batu kemala Im-yang-giok-cu yang sudah menyembuhkanmu. Kemala ini harus kau antarkan kembali kepada Kui-bo Thai-houw dan menyatakan terima kasihmu."

"Ke Ban-mo-to...?" Kun Hong berkata perlahan, kaget.

"Apakah yang kau khawatirkan? Kau ke sana untuk mengembalikan Im-yang-giok-cu, dan bukankah kau masih ingat akan semua petuahku?"

Wajah Kun Hong menjadi merah sekali. Kenapa dia takut kepada diri sendiri? Dahulu dia sampai tersesat dan mudah dipermainkan oleh Kui-bo Thai-houw oleh karena dia masih lemah dan pula karena dia mempunyai keinginan mendapatkan obat. Sekarang dia hanya mengembalikan batu kemala itu, apa salahnya?

"Baiklah, Sian-su. Teecu mentaati perintah."

Demikianlah, dalam keadaan sehat jasmani dan rohani Kun Hong kemudian turun gunung, pergi meninggalkan Wuyi-san. Pertama-tama dia akan ke Ban-mo-to mengembalikan Im-yang-giok-cu kepada Kui-bo Thai-houw. Tidak hanya Im-yang-giok-cu, juga pedang yang masih tergantung di pinggangnya, akan dia kembalikan kepada Ratu Ban-mo to itu…..

********************

Sementara itu di Gunung Thian-mu-san terjadi pula hal yang amat ganjil. Pada saat Kwee Sun Tek memanggul tubuh Kun Hong yang pingsan karena pengaruh pukulan Im-yang lian-hoan yang dideritanya, telah diceritakan bahwa Phang Ek Kok dan puterinya, Lan Lan serta muridnya, Kui Sek sedang berlari menuju ke gunung itu.

Dari manakah mereka ini? Ek Kok tidak pernah menghentikan usahanya mencari Lin Lin dan kalau memang Lin Lin masih hidup, hal itu mudah saja dia lakukan bersama Lan Lan. Bukankah wajah dan potongan tubuh Lin Lin sama benar dengan Lan Lan? Oleh sebab itu dengan membawa Lan Lan, dia bertanya ke sana ke mari kalau-kalau ada orang melihat seorang gadis yang serupa dengan Lan Lan.

Akhirnya perantauannya ini membawa dia bertemu dengan Kui Sek. Memang muridnya ini sudah lama jatuh hati kepada Lan Lan, maka Kui Sek kemudian menyatakan hendak ikut gurunya untuk bantu mencari. Akhirnya mereka bertiga sampai di Telaga Po-yang.

Mulailah terjadi hal-hal yang aneh terhadap diri Lan Lan. Begitu ia muncul, para pelancong dan para tukang yang menyewakan perahu kelihatan ketakutan, malah dari jauh ada yang menuding-nuding ke arah Lan Lan dengan sikap ketakutan, ada seorang penjual makanan yang tergesa-gesa hendak melarikan diri sambil membawa dagangannya, tersandung dan jatuh tertelungkup di depan Lan Lan!

Gadis itu merasa geli dan juga kasihan, maka ia hendak turun tangan membantu orang itu mengumpulkan dagangannya yang menggelinding ke mana-mana. Namun dengan tubuh menggigil orang itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Lan Lan sambil berkata,

"Mohon ampuni jiwa hamba... hamba orang miskin..."

Lan Lan menarik kembali tangannya, jidatnya berkerut. "Ngaco-belo, kau bicara apakah?" bentaknya.

Orang itu berdiri ketakutan. Dengan jengkel Lan Lan membentaknya menyuruhnya pergi. Juga Ek Kok dan Kui Sek terheran-heran melihat sikap orang-orang yang berada di sana. Setiap orang penjual makanan yang mereka dekati tiba-tiba saja melarikan diri, malah ada yang meninggalkan dagangan mereka.

"Ada apakah dengan mereka ini?" Lan Lan paling merasa karena semua mata ditujukan kepadanya dengan ketakutan.

"Perut lapar, kalau mereka bersikap begitu semua, apakah kita akan kelaparan? Hayo kita makan saja, habis perkara!" kata Kui Sek yang duduk di atas sebuah bangku persediaan pedagang mi.

"Hushh... pedagangnya tidak ada, suheng," kata Lan Lan. Pedagang mi itu pun melarikan diri ketika tadi melihat Lan Lan.

"Kita ambil dan masak sendiri, masa tidak bisa?"

"Jangan begitu, aku tidak sudi mencuri makanan orang."

Ek Kok menengahi mereka. "Lan Lan. tidak ada yang mencuri. Kita makan saja dan nanti kita tinggalkan uang di mejanya. Suheng-mu benar, orang-orang ini bersikap aneh sekali dan kita akan kelaparan kalau kita tidak berani melayani perut sendiri."

Karena ayahnya membenarkan suheng-nya, terpaksa Lan Lan menurut dan demikianlah, tiga orang ini kemudian makan mi yang dimasak sendiri oleh Kui Sek! Biar pun tempat itu menjadi sunyi karena semua orang melarikan diri, namun mereka merasa bahwa banyak pasang mata diam-diam mengawasi gerak-gerik mereka

"Sungguh aneh sekali. Apa yang sedang terjadi di sini?" Lan Lan kembali berkata, hatinya tidak puas melihat sikap orang-orang itu. Dia pun tidak dapat makan banyak, lenyap nafsu makannya melihat keadaan yang amat ganjil itu.

"Mengapa pusing-pusing? Nanti kita tangkap saja salah seorang dan paksa dia mengaku!" kata Kui Sek yang bersama suhu-nya makan dengan lahapnya.

"Heh-heh-heh, ucapan A Sek (si Sek) benar sekali. Makanlah, Lan Lan," kembali Ek Kok membenarkan muridnya.

Kui Sek merasa bangga sekali, akan tetapi Lan Lan justru jengkel. Ayahnya ini sering kali memperlihatkan sikap memanjakan muridnya, malah ada tanda-tanda ayahnya ini hendak menjodohkan dia dengan suheng-nya!

Pada saat itu seorang kakek datang terbongkok-bongkok ke tempat mereka. Kalau dilihat pakaiannya jelas bahwa kakek ini adalah seorang miskin, agaknya tukang perahu. Melihat kedatangan orang, Kui Sek berdiri dan membentak,

"Agaknya inilah biang keladinya!" Dan dia menjangkau hendak menangkap.

"Suheng, jangan!" bentak Lan Lan.

Kakek itu nampak terkejut dan ketakutan, lalu serta-merta menjatuhkan diri di depan Lan Lan.

"Lihiap yang mulia, harap suka mengampuni kami orang-orang miskin. Bukankah katanya lihiap hanya akan mengganggu hartawan jahat dan pembesar korup? Bukankah katanya lihiap melindungi orang-orang miskin? Kami semua ini, pedagang-pedagang makanan dan tukang-tukang perahu yang mencari nafkah di pinggir telaga, adalah orang-orang miskin, harap lihiap jangan mengganggu."

Lan Lan tertarik. Tentu ada terjadi apa-apa yang aneh di sini, pikirnya. Ia membangunkan kakek itu kemudian bertanya dengan suara yang ramah dan halus, "Lopek, siapakah yang bilang begitu? Kau mendengar dari siapa tentang aku?"

Kakek itu memandang wajah Lan Lan, kini tak begitu takut lagi setelah Lan Lan bersikap ramah. Dia bahkan tersenyum. "Siapa yang tidak mendengar? Lihiap, kau memang hebat. Sejak lihiap mengalahkan guru-guru silat itu kemarin dulu, kami semua sudah mendengar belaka mengenai perbuatan-perbuatan lihiap yang mulia, yang memberi hukuman kepada para hartawan dan bangsawan jahat untuk melindungi orang-orang miskin. Lihiap, kami semua berterima kasih kepadamu. akan tetapi tidak dapat dicegah lagi semua orang takut kepada lihiap. Harap lihiap jangan mengganggu kami orang-orang miskin..."

Berubah wajah Lan Lan. Akan tetapi Kui Sek yang dogol itu sudah membentak, "Kunyuk tua, apa yang kau obrolkan itu? Sumoi-ku ini..."

"Suheng, diamlah kau. Di sini ada sesuatu yang menarik."

"A Sek, biarkan Lan-ji berurusan dengan dia," kata pula Ek Kok yang juga tertarik sekali.

Lan Lan membawa kakek itu duduk di atas bangku. "Lopek, ceritakanlah, apa kau melihat sendiri ketika... aku... mengalahkan guru-guru silat itu?"

"Tentu saja. Malah hwesio itu pun takut kepada lihiap, sekali serang mereka telah tunduk ketakutan. Benar-benar hebat!"

"Bila terjadinya itu?"

Kakek itu memandang heran. "Bagaimana lihiap bisa lupa? Kan baru kemarin dulu dan..." Tiba-tiba dia menoleh lalu cepat berkata, "Itu hwesio yang kau kalahkan datang..."

Benar saja, yang datang adalah Bi Lam Hosiang. Seperti diketahui, kemarin dulu hwesio ini membantu guru-guru silat untuk mencoba menangkap maling, akan tetapi dia bertemu dengan Lin Lin dan dikalahkan dengan mudah. Sekarang kebetulan ia berada di tempat itu dan melihat Lan Lan, dia kaget bukan main lalu cepat-cepat hendak memutar tubuh dan melarikan diri. Akan tetapi gadis itu, Lan Lan, cepat memanggilnya.

"Suhu yang di depan harap tunggu, aku mau bicara!"

Bi Lam Hosiang tidak berani melanjutkan niatnya melarikan diri. Bahkan dia cepat-cepat menghampiri Lan Lan dengan sikap merendah, dari jauh-jauh sudah merangkap tangan di depan dada. Kaget juga dia ketika melihat maling wanita itu kini datang bersama seorang pria tinggi besar bertopi aneh dan seorang kakek gemuk pendek gundul yang pakaiannya tidak karuan, mukanya aneh dan tangannya memegang sebuah senjata roda golok yang mengerikan. Ia memaksa senyum dan menegur hormat,

"Ahh, kiranya lihiap di sini? Pinceng kebetulan jalan-jalan dan..."

Lan Lan tak sabar lagi melihat sikap takut-takut itu. "Lo-suhu, apakah benar kemarin dulu bersama jago-jago silat, suhu juga bertempur dengan aku?” tanyanya cepat.

Bi Lam Hosiang menjadi merah mukanya dan menjura makin dalam. "Mohon maaf mata pinceng buta sehingga tidak melihat Gunung Thaisan di depan mata. Sesudah mengenal lihiap, mana berani pinceng memperlihatkan kebodohan?"

Lan Lan berdebar hatinya dan cepat-cepat dia membentak, "Kau bertempur melawan aku, jawab ya atau tidak?"

Hwesio itu menjadi kaget dan heran sampai melongo memandang Lan Lan, kemudian dia mengangguk dan dengan bibir gemetar berkata, "...ya...!"

Terdengar suara keras disusul suara tawa cekakakan ketika Ek Kok tahu-tahu melompat dan memegang pundak hwesio itu.

"Heh-hak-heh-hak, hwesio gundul, jangan kau membohong bila masih sayang gundulmu. Lekas katakan, apakah kau juga tahu di mana tempat tinggal nona yang mukanya seperti puteriku ini? Hayo jawab...!"

"Pinceng... pinceng..." Bi Lam Hosiang kaget setengah mati ketika pundaknya mendadak ditekan sampai tulangnya hampir remuk. Ia hanya memandang kepada Lan Lan.

Gadis ini cepat menyentuh lengan ayahnya. "Lepaskan dia ayah. karena tak ada gunanya menakuti dia." Setelah Ek Kok melepaskan pegangannya, gadis itu lalu bertanya halus, "Maafkan ayahku yang sudah tidak sabar lagi. Dengar, lo-suhu. Gadis yang kemarin dulu bertempur dengan kau bukanlah aku dan agaknya mempunyai wajah yang mirip aku. Aku perlu sekali bertemu dengan dia. Tolong kau beri-tahukan di manakah dia tinggal?"

Hwesio itu mengangguk dan baru mengerti. Memang kemarin dulu setelah dia dan kawan-kawannya dikalahkan, diam-diam dia mengikuti Lin Lin yang pergi bersama gadis buntung dan suhu-nya. Ia mendapat kenyataan bahwa mereka bertiga mendaki Thian-mu san lalu lenyap di tebing jurang.

“Memang kemarin dulu pinceng mengikutinya karena ingin tahu. Dia pergi mendaki Thian-mu-san dan anehnya, mendadak dia lenyap sesudah tiba di tebing jurang curam di lereng Thian-mu-san."

Mendengar ini, Ek Kok meloncat dan berlari sambil berteriak. "Tentu dialah Lin Lin... hah-hah-hah, hayo kita cari dia...!"

Lan Lan gembira sekali sampai dia melupakan hwesio itu dan berlari mengejar ayahnya. Memang sejak kecil dia sangat merindukan adik kembarnya yang bernama Lin Lin, yang lenyap diculik orang. Meski dia sudah tidak ingat lagi, akan tetapi sering kali dia diceritai oleh ayahnya maka dia merasa rindu bukan kepalang. Kini mendengar tentang gadis yang serupa dengan dia, tentu saja dengan penuh harapan dia cepat berlari menyusul ayahnya menuju ke Thian-mu-san.

Kui Sek melongo, lalu dia menggeleng-geleng kepala dan mengomel, "Suhu seperti orang gila, dan jangan jangan sumoi juga ketularan! Ribut-ribut semua ini untuk apakah?" Akan tetapi biar pun mulut mengomel, tidak urung kedua kakinya bergerak lari mengejar juga.

Karena ketiganya mempunyai kepandaian yang lumayan, biar pun tidak mudah mendaki Thian-mu-san, menjelang senja sampai juga mereka di lereng yang dimaksudkan, yaitu di atas tebing yang sangat curam. Sampai di sana mereka merasa bingung, maka mulailah mereka berteriak-teriak.

"Lin-ji...! Lin-ji (anak Lin)...!" teriak Ek Kok, suaranya yang parau besar itu seperti suara burung gagak.

"Adik Lin Lin...! Adik Lin Lin...! Ke sinilah...!” teriak Lan Lan, suaranya tinggi melengking nyaring, bergema di seluruh lereng.

Pada saat itu pula Lin Lin sedang duduk melamun di dalam goanya. Baru saja ayahnya memberi seuntai kalung mutiara, kalung anak kecil yang bermata batu putih berukir huruf ‘LIONG’. Inilah kalung Wi Liong ketika masih kecil, kalung yang diterima oleh ‘ayahnya’ Kwa Cun Ek dari Kwee Sun Tek sebagai tanda ikatan jodoh antara dia dengan Thio Wi Liong.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner