CHENG HOA KIAM : JILID-61


“Akan tetapi... aku tidak begitu picik, aku tidak akan mengulangi kebodohanku. Aku tidak dapat menurutkan nafsu hati, menurutkan cinta kasih yang menggeragoti hatiku. Paman sudah memesan kepadaku bahwa aku telah ditunangkan kembali dengan puteri Kwa Cun Ek lo-enghiong, dan paman memesan agar kali ini aku tidak mengulangi kemurtadanku. Tidak! Sudah kukatakan, siapa pun juga tunanganku itu, kali ini aku akan patuh, akan taat karena satu-satunya perbuatan baik yang dapat aku lakukan hanyalah kebaktian terhadap pamanku..."

"...kau seorang yang berbakti…" hanya demikian Lin Lin dapat berkata.

"...kasihan sekali kau..." sambung Lan Lan sambil menghapus air matanya.

Tiba-tiba Wi Liong menggerakkan tangan, menggunakan ujung lengan baju mengusir dua titik air matamya kemudian dia memaksa diri tersenyum. "Ah, aku benar gila. Kenapa aku membikin kalian menjadi sedih dan terharu oleh ceritaku yang tak berharga? Tidak boleh! Kalian merupakan dua orang yang paling kuhormati, paling kusayang dan yang tidak akan kubiarkan berduka. Kalian benar-benar seperti Siok Lan, karena itu biarlah selamanya aku akan menjadi pelindung kalian. Kenapa sekarang aku malah membikin kalian berduka? Ji-wi siocia, hilangkan keharuan dan kesedihan, biar kalian gembira dengarlah aku berlagu."

Wi Liong mengangkat suling, menempelkan bibirnya pada suling dan tidak lama kemudian terdengar tiupan suling yang amat merdu, mengalun turun naik dengan nada-nada halus yang menggetarkan kalbu.

Memang Wi Liong pandai sekali bersuling. Apa lagi kali ini dia telah mencurahkan seluruh isi hatinya ke dalam tiupannya karena ia berusaha mengalihkan semua perasaannya yang timbul karena ceritanya tadi ke dalam permainan suling ini. Dia yang meniup suling tidak sadar bahwa justru karena inilah maka tiupannya sama sekali bukan merupakan hiburan, malah terdengar menyayat hati kedua orang gadis itu. Semua penderitaan, duka nestapa, kekecewaan dan penyesalan, rindu yang sangat mendalam, kasih sayang yang semesra-mesranya, semua perasaan ini timbul dari dalam dada Wi Liong, memasuki suling melalui tiupannya sehingga menciptakan lagu yang membuat Lan Lan dan Lin Lin merasa hatinya seperti diremas-remas.

Tanpa disadari Lin Lin meraba-raba sepatu kecil yang tersimpan di balik baju, di dadanya, sedangkan Lan Lan membelai-belai rambut sendiri yang terjuntai di depan. Tanpa terasa air mata hangat kembali mengucur turun membasahi pipi kedua orang gadis kembar itu. Mata mereka menatap Wi Liong yang tunduk menyuling, lupa segala seperti orang berada di dunia lain.

Wi Liong yang sedang tenggelam dalam ayunan perasaannya sendiri, mendadak merasa sulingnya direnggut orang dibarengi pekik,

"Berhenti...! Laki-laki bodoh, laki-laki gagah perkasa yang berbatin lemah...! Kau... kau...!"

Wi Liong melongo melihat betapa Lin Lin dengan marah-marah merenggut suling hingga terlepas lantas membanting suling itu ke dalam api unggun! Akan tetapi suling itu terbuat dari pada logam yang kuat tahan api, maka tidak terbakar. Wi Liong juga tidak pedulikan sulingnya lagi. Ia menatap ke depan, ganti-berganti memandangi dua orang gadis itu.

Dia melihat Lin Lin marah sekali. Sinar mata serta sikapnya persis Siok Lan ketika dahulu marah-marah kepadanya, ketika dikejarnya kemudian memaki-makinya. Sekarang Lin Lin memandangnya dengan mata terbelalak lebar, air mata memenuhi pipi dan wajahnya agak pucat. Sedangkan Lan Lan duduk bersimpuh dengan muka tunduk dan menangis terisak-isak. Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa dua orang gadis itu berada dalam keadaan seperti itu.

"Ada... ada apakah...? Kenapa kau marah...?'" Dengan muka bodoh Wi Liong mengambil sulingnya dari api unggun, sampai tak merasa betapa tangannya sakit karena terjilat api.


"Lelaki bodoh!" Lin Lin marah-marah terus. "Kau meracuni jiwa sendiri dengan kesedihan, merusak pikiran dengan kenangan lampau. Betapa bodohnya, kau seperti hidup di dunia lain. Bukankah kau telah... telah ditunangkan dengan puterinya Kwa Cun Ek? Bukankah kau malah sudah menjadi tunangan puteri Tung-hai Sian-li? Kenapa menyesali nasib dan berduka cita seperti itu? Ihh…, alangkah lemahnya!" Anehnya, habis marah-marah Lin Lin menangis.

"Justru itulah..." Wi Liong menarik napas panjang. "Riwayat lama terulang kembali. Hatiku terhibur karena kalian, kebahagiaan membayang karena tiba-tiba aku mendapat pengganti Siok Lan, akan tetapi kenyataan sangat keji. Paman telah mengikatku dengan perjodohan lain. Persis seperti dulu lagi..."

"Dan kau persis setolol dulu!" Lin Lin memaki, kemudian dia teringat bahwa dia bersikap keterlaluan terhadap seorang yang baru tadi masih dia sebut ‘tuan’, apa lagi sekarang Wi Liong memandangnya dengan mata kagum.

"Alangkah sama..." katanya.

"Apanya yang sama?" Lin Lin bertanya.

"Kalau marah... begitulah dahulu kalau Siok Lan marah-marah kepadaku..." Kemudian dia melirik Lan Lan, "dan begini ketika dia berduka."

"Lagi-lagi Siok Lan...!" Lan Lan mencela.

"Tidak, dengan adanya ji-wi siocia (nona berdua)..."

"Apa itu nona-nona? Sesudah kita menjadi... sahabat, apa lagi menjadi tunangan kami... eh, seorang di antara kami. tak perlu lagi bersungkan-sungkan dalam sebutan, tuan Thio yang terhormat," cela Lin Lin.

Wi Liong tersenyum, kemudian mengangguk-angguk. ”Baiklah, aku akan menyebut kalian moi-moi (adik). Tentang ikatan perjodohan... harap jangan sebut-sebut agar luka di hatiku tidak menjadi parah lagi. Seperti kalian tahu, aku sudah bertunangan dan..."

"Apa salahnya?" Lin Lin memotong "Kau bisa mengawini tunanganmu si monyet atau si kadal itu, juga dapat melanjutkan perjodohanmu dengan... seorang di antara kami..."

Wi Liong melirik. Dia tahu yang bicara ini tentu Lin Lin karena dia masih ingat bahwa inilah gadis yang tadi lebih lihai kepandaiannya, mengenalnya dari warna pakaian mereka yang berbeda.

"Mana ada aturan begitu...?" ia berkata sungkan.

"Bukan hal aneh mempunya dua orang isteri,” jawab Lin Lin dengan suara tetap. Memang pada jaman itu bukan hal yang mengherankan bila seorang pria memiliki dua orang isteri. Malah kaum bangsawan dan kaum berada dapat mempunyai banyak isteri muda sebelum menikah, atau setelah beristeri masih mempunyai isteri muda sampai empat lima orang.

"Hal ini... hal ini... ehh, apakah adik Lan Lan membolehkan? Kumaksud... adik Lan Lan, ehh, yang mana sih adik Lan Lan?" tanyanya pura-pura masih belum tahu

"Yang mana pun sama saja," jawab Lan Lan yang sudah timbul kembali kegembiraannya.

"Sudahlah, jangan memusingkan hal ini, tuan Thio..."

"Hush, kau ini bagaimana? Aku menyebut adik, masa kalian masih mau menggunakan sebutan tuan-tuan segala!"

"Habis bagaimana?" tanya Lin Lin.

"Sebaiknya menyebut kakak atau saudara, tetapi jangan tuan-tuanan..." tiba-tiba Wi Liong berhenti bicara dan cepat memadamkan api unggun. "Ada orang datang...” bisiknya.

Tubuhnya berkelebat dan ia pun lenyap menyelinap di antara pohon. Kini keadaan menjadi gelap remang-remang, hanya diterangi oleh ribuan bintang di langit.

Lan Lan hendak menyusul, akan tetapi lengannya segera dipegang oleh adiknya. "Jangan bergerak. Kita menunggu di sini saja," katanya penuh kepercayaan kepada Wi Liong.

Sekarang dia juga telah mendengar suara orang dari arah pantai, tetapi karena keadaan gelap, lagi pula mereka berdua sama sekali masih asing dengan keadaan pulau kecil ini, Lin Lin berpendapat bahwa menanti di situ lebih baik, selain aman juga tidak mengganggu penyelidikan Wi Liong…..

********************

Sementara itu Wi Liong menyusup-nyusup dan dengan hati hati namun cepat dia menuju ke arah suara orang-orang itu. Dari tempat persembunyiannya ia melihat tiga buah perahu diseret ke pinggir dan belasan orang melompat ke pantai lalu berjalan dalam barisan rapi, dipimpin oleh seorang bertubuh tinggi besar dan gagah.

Wi Liong merasa mengenal orang ini, akan tetapi dia tidak dapat melihat mukanya karena keadaan remang-remang,. Hanya melihat gerak-gerik orang-orang itu dia dapat menduga bahwa tentu mereka merupakan.sebuah pasukan terlatih dan orang tinggi besar itu adalah komandannya. Tidak hanya dari gerak-gerik yang sangat teratur dan terlatih, tetapi juga mereka itu semua membawa senjata yang sama, di pinggang sebatang golok besar dan di punggung tergantung busur dan anak panah.

"Apakah pulau ini benar-benar kosong?" terdengar orang tinggi besar itu bertanya kepada seorang anggota barisan terdepan.

"Betul. Hanya pulau kecil inilah yang kosong, yang lain sudah mereka duduki," jawab yang ditanya.

"Hemm, baik juga tempat ini. Biarlah aku menyelidik sendiri! Kalian kembali ke darat dan beri peta mengenai pulau ini kepada Coa-ciangkun (Perwira Coa) agar dipelajari dan pada waktunya nanti tempat ini akan menjadi markas kita. Tinggalkan perahu kecil untukku di pantai."

Belasan orang itu menyatakan baik, kemudian mereka kembali ke perahu-perahu mereka, meninggalkan sebuah perahu yang paling kecil, lalu mendayung pergi dua perahu yang lain di dalam gelap.

Sementara itu, ketika mendengar pembicaraan tadi Wi Liong segera teringat siapa adanya perwira tinggi besar ini. Dia bukan lain adalah Kong Bu, putera See-thian Hoat-ong yang bertugas menjaga pantai timur! Agaknya perwira muda ini pun datang hendak menyelidiki sesuatu dan bukan tidak mungkin hendak menyelidiki Pek-go-to karena mencium sesuatu yang mencurigakan. Ia segera melompat dan memanggil,

"Kong-ciangkun!"

Kong Bu, komandan muda itu, secepat kilat mencabut goloknya sambil memutar tubuh. Kagetnya bukan main mendengar di tempat sunyi yang disangkanya kosong itu ternyata ada orangnya, malah sudah mengenalnya.

Wi Liong muncul sambil tertawa. "Kong-ciangkun, simpanlah golokmu. Aku bukan orang jahat."

Sesudah Wi Liong berada di depannya, barulah Kong Bu mengenalnya. Hatinya menjadi lega bukan main dan cepat dia menyimpan goloknya.

”Ahh, kiranya Thio-taihiap. Berkeliaran di tempat seperti ini benar-benar membuat hatiku mudah kaget dan takut! Ahh, anak-anak itu ternyata kurang teliti memeriksa. Benar-benar harus dihukum!"

"Jangan salahkan mereka, Kong-ciangkun. Memang pulau ini kosong, yaitu sebelum aku datang senja tadi. Kong-ciangkun, ada terjadi apakah maka kau dan anak buahmu berada di sini?"

"Ssttt, mari kita pergi ke dalam pulau dan nanti akan kuceritakan. Thio-taihiap, kebetulan sekali kita bertemu di sini karena aku amat membutuhkan pertolonganmu dalam hal ini."

Wi Liong mengerti akan maksud Kong Bu. Kalau berdiri di pantai akan mudah terlihat oleh orang-orang dari perahu, tetapi di dalam pulau yang banyak pohon-pohonnya itu mereka dapat bersembunyi.

Ketika mereka berdua mulai memasuki hutan, mendadak dua bayangan orang berkelebat dan lagi-lagi Kong Bu mencabut golok, memasang kuda-kuda dan sikapnya gelisah sekali!

"Ha-ha-ha, Kong-ciangkun. yang datang ini adalah dua orang kawan baik, tidak usah kau mencabut senjatamu," kata Wi Liong geli.

Kong Bu kini melihat bahwa yang muncul adalah dua orang dara remaja yang cantik jelita dan kembar. Mukanya menjadi merah mendengar ucapan Wi Liong, maka ia menyimpan kembali goloknya dan berkata perlahan, "Daerah yang dikuasai That Khek Sian ini benar-benar menimbulkan keseraman di dalam hatiku, membuat aku seperti seorang penakut. Ji-wi lihiap, maafkan aku Kong Bu yang bersikap kasar."

Lan Lan dan Lin Lin balas memberi hormat, kemudian Wi Liong memperkenalkan mereka. "Ini adalah nona Pek Lan Lan dan Pek Lin Lin, sahabat-sahabat baik yang tidak perlu kau curigai, Kong ciangkun." Lantas kepada dua orang gadis kembar itu Wi Liong berkata, "Ini adalah Kong Bu ciangkun, putera tunggal locianpwe See-thian Hoat-ong, seorang perwira muda yang menjaga keamanan di pantai timur."

Setelah ketiga orang itu saling menjura dengan hormat, Wi Liong kembali menyalakan api unggun dan berkata, "Nah, Kong-ciangkun, sekarang kau boleh bicara dengan aman. Apa sih yang telah terjadi di daerah ini?"

Kong Bu menarik napas panjang, lantas balas bertanya. "Tentunya sam-wi datang ke sini hendak menghadiri pesta ulang tahun dari Thai Khek Sian-su, bukan?" Sesudah Wi Liong mengangguk membenarkan, perwira muda itu lalu melanjutkan penuturannya, "Undangan antara orang-orang kang-ouw bukan hal yang aneh, bahkan kalau berekor pertempuran-pertempuran sekali pun, aku yang muda dan bodoh mana berani mencampuri urusan para locianpwe dan orang-orang gagah? Akan tetapi kali ini, kebetulan sekali terjadi hal yang amat penting bagi keselamatan negara. Aku mendapat kabar dari para penyelidik bahwa pada saat ini di daerah Kepulauan Cou-san-to kedatangan pasukan-pasukan rahasia dari pemerintah musuh di utara! Kabarnya pentolan-pentolan barisan Mongol telah berkumpul di daerah ini!"

Wi Liong terkejut. Tak disangkanya sama sekali berita ini. Ia teringat akan perahu-perahu yang dilihatnya sore tadi.

"Apa...?! Mereka mau apa?"

Kong Bu menggerakkan pundaknya. "Itulah yang harus kuselidiki kemudian mengerahkan orang untuk menangkap mereka. Mereka itu tentu serombongan mata-mata musuh yang hendak melakukan kekacauan di sini."

"Akan tetapi mengapa di daerah ini?”

"Inilah yang mencurigakan. Thio-taihiap. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang-orang Mo-kauw dan Shia-pai membantu pergerakan musuh secara sembunyi. Siapa tahu kalau ada apa-apanya dalam pesta yang diadakan oleh Thai Khek Sian-su sekarang ini."

Wi Liong mengangguk-angguk, teringat akan pesan pamannya tentang kecurigaan Thian Te Cu terhadap pesta yang diadakan di Pek-go-to ini.

"Sekarang kau hendak menyelidiki, Kong-ciangkun?”

"Betul. Dengan perahu kecil itu malam ini juga aku hendak menyelidiki pulau-pulau lain."

"Mari aku menyertaimu," kata Wi Liong dan Kong Bu menjadi girang sekali. Ia sudah tahu akan kelihaian pemuda ini maka ia tidak dapat mengharapkan pembantu yang lebih cakap dari pada Wi Liong.

"Ji-wi siauwmoi, harap kalian menanti di sini saja," kata Wi Liong kepada dua orang gadis kembar itu. "Selain tidak baik jika terlampau banyak orang yang menyelidiki, juga kuharap kalian berjaga-jaga di sini, siapa tahu ada orang lain lagi mendarat di pulau ini yang sudah dijadikan markas oleh Kong-ciangkun. Andai kata ada orang asing mendarat, harap kalian diamkan saja, kalau tidak perlu tak usah turun tangan, hanya mengintai apa yang mereka lakukan di sini."

Lan Lan dan Lin Lin menyanggupi dan berangkatlah dua orang pemuda itu meninggalkan pulau dengan perahu kecil Kong Bu. Mereka hendak menyelidiki pulau-pulau di sekitar Pek-go-to, terutama sekali tiga pulau sorga yang berada dekat Pek-go-to dan di mana tadi Wi Liong melihat ada perahu-perahu hitam mendarat.

Lan Lan dan Lin Lin yang ditinggal sendirian menyalakan api unggun lagi dan mengambil keputusan untuk berjaga semalam itu, tidak berani tidur di tempat asing ini. Sesudah Wi Liong pergi tentu saja mereka merasakan kesunyian yang amat tidak enak, maka mereka bercakap-cakap tentang pemuda itu untuk menghilangkan kesunyian.

"Kasihan sekali dia," terdengar Lan Lan akhirnya berkata.

“Betul, cici, dia benar-benar telah dirundung malang," sambung Lin Lin.

Lan Lan mengangkat muka dan menatap wajah adiknya dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Lin Lin, kau cinta padanya..."

Lin Lin juga membalas pandangan kakak perempuannya sambil berkata perlahan, "Betul, dan kau pun juga, cici."

Keduanya terdiam, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Kemudian terdengar Lan Lan berkata lirih, seperti menghibur dan membela perasaan mereka itu. "Apa salahnya hal itu? Dia itu tunangan kita berdua, pilihan orang-orang tua kita. Bagaimana orang tak akan mencinta tunangan sendiri?"

Tiba-tiba, seperti yang dilakukan Wi Liong tadi, Lin Lin melompat dan cepat memadamkan api unggun. Dia yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada cici-nya, sudah lebih dulu mendengar suara.

"Ada orang datang...” bisiknya. Api unggun padam dan dua orang gadis itu menyelinap di antara pohon-pohon untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian.

Makin larut malam keadaan cuaca di sana menjadi agak terang, tidak segelap tadi karena angkasa bersih sekali sehingga bulan dan bintang-bintang merupakan lampu-lampu kecil yang mendatangkan cahaya redup dingin. Dua orang gadis itu dengan hati-hati menyusup di antara pohon dan batu karang menuju ke pantai. Lin Lin di depan.

Sesudah tiba di dekat pantai, Lin Lin memberi tanda kepada Lan Lan sambil menyusup ke belakang batu karang besar, bersembunyi sambil mengintai. Jelas terlihat lima orang yang sedang berjalan menuju ke tengah pulau.

Yang berjalan paling depan seorang laki-laki gundul tinggi besar yang memondong tubuh seorang gadis cantik yang pingsan atau tertotok. Di belakangnya atau agak berdampingan berjalan seorang wanita cantik setengah tua, kemudian di belakangnya berjalan seorang pemuda dan di belakang pemuda ini seorang laki-laki hitam gundul mengerikan berkuku panjang. Melihat pemuda itu, Lin Lin dan Lan Lan terkejut karena dia itu bukan lain adalah Kun Hong.

Rombongan ini berhenti di tempat terbuka tidak jauh dari tempat sembunyi dua gadis itu. Lin Lin dan Lan Lan mengintai terus, siap menghadapi segala kemungkinan dan mereka dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan orang-orang itu dan bagaimana Kun Hong bisa bersama mereka. Siapa pula gadis itu yang kini diturunkan dari pondongan, dibuka jalan darahnya lantas diikat pada sebatang pohon! Gadis itu berdiri tegak dengan mata dibuka lebar, sedikit pun tidak takut malah sikapnya menantang!

Siapakah mereka? Laki-laki gundul tinggi besar yang tadi memondong gadis itu adalah Beng Kun Cinjin Gan Tui dan yang ditawannya itu bukan lain adalah Pui Eng Lan! Wanita cantik di sebelahnya adalah Tok-sim Sian-li, ada pun laki-laki mengerikan yang berjalan di belakang Kun Hong adalah datuk orang Mo kauw, Thai Khek Sian.

Bagaimana Kun Hong bisa berada dengan mereka dan bagaimana pula Eng Lan sampai terjatuh di tangan Beng Kun Cinjin? Untuk mengetahui hal ini marilah kita ikuti perjalanan Kun Hong semenjak berpisah dari Wi Liong dan dua gadis kembar Lin Lin dan Lan Lan…..

********************

Setelah mendengar dari Wi Liong bahwa Eng Lan berada di kota Anking, Kun Hong cepat melakukan pengejaran ke kota itu. Dia ingin sekali bertemu dengan kekasihnya, ingin dia minta ampun dan memohon agar Eng Lan jangan marah-marah kepadanya.

"Tanpa Eng Lan, hidup tidak ada artinya," pikirnya sepanjang jalan.

Tapi alangkah kecewanya ketika di kota Anking ia tidak mendapatkan bayangan Eng Lan lagi. Tiga hari ia mencari gadis itu dan akhirnya ia mendapat keterangan dari orang yang melihat gadis cantik itu bahwa Eng Lan meninggalkan kota An king melalui pintu gerbang sebelah timur. Segera ia mengejar ke timur. Akan tetapi, meski telah mengejar sampai ke perbatasan antara Propinsi An hui dan Ce-kiang, ia belum juga dapat menyusul gadis itu.

Beberapa hari kemudian ia tiba di kaki Bukit Thian-mu-san sebelah timur setelah melewati bukit ini dari selatan. Jejak Eng Lan menghilang. Tak seorang pun yang dijumpai melihat gadis itu. Sebaiknya ia mendengar tentang lewatnya rombongan rombongan orang yang menuju ke timur. Orang-orang kang-ouw!

Teringatlah ia akan hari besar suhu-nya, Thai Khek Sian. Karena tempat tinggal suhu-nya tidak jauh lagi, Kun Hong lalu mengambil keputusan untuk mengunjungi Pulau Pek-go-to dan di sana kalau ia tidak mendapatkan Eng Lan sedikitnya ia akan bertemu orang-orang kang-ouw dan siapa tahu dari mereka ini ia bisa mendapat dengar mengenai kekasihnya itu atau lebih baik lagi, siapa tahu kalau Eng Lan datang pula bersama gurunya Pak-thian Koai-jin.

Ketika Kun Hong sedang berjalan di pagi hari itu, mulai mendaki lagi bukit kecil di sebelah timur Thian-mu-san, ia melihat sebuah rumah tua menyendiri dan dari rumah ini tercium bau masakan yang enak dan gurih sekali. Bau ini membuat perut Kun Hong terasa amat lapar dan otomatis kedua kakinya bergerak menuju ke rumah itu.

Akan tetapi baru sampai di depan pintu rumah yang sudah rusak dan butut itu, ia berhenti karena di samping bau sedap masakan, hidungnya mencium bau yang amat memuakkan, bau bangkai! Heran dia, mengapa tadi ia hanya mencium bau masakan saja.

Ketika ia melihat asap keluar dari celah-celah pintu dan bilik, barulah ia tahu bahwa tentu saja bau yang tak enak itu tidak bisa tercium dari tempat jauh, tidak seperti bau masakan panas yang masih mengepulkan asap.

Dia merasa sangat heran dan tidak segera masuk karena merasa jijik. Tiba-tiba saja dia mendengar suara orang tertawa berkakakan dan disusul kata-kata yang parau.

"Hah-hah-hah, dulu kau begitu cantik, begitu menarik sampai-sampai aku menjadi tergila-gila padamu. Tetapi kau menolak dan malah melayani pria-pria lain. Sekarang? Hah-hah-hah, setiap orang pria akan takut dan jijik melihatmu, akan tetapi aku orang sial ini masih menjagamu dan makan minum di samping mayatmu. Hah-hah-hah!" Suara tawa terakhir ini terdengar seperti orang menangis.

Kun Hong terkejut bukan main ketika mengenal suara ini, suara Bu-ceng Tok-ong! Ia lalu menolak pintu dan cepat-cepat masuk. Benar saja, dia melihat bekas gurunya itu duduk di atas bangku, menghadapi meja yang dipenuhi masakan masih mengebul panas dan arak, makan minum seorang diri. Entah dari mana orang aneh ini bisa mendapatkan makanan panas di tempat seperti itu.

Akan tetapi bukan itu yang menarik perhatian Kun Hong, melainkan apa yang terdapat di atas dipan dekat dengan tempat duduk Bu-ceng Tok-ong. Di atas pembaringan itu tampak membujur sebuah mayat yang diselimuti kain lapuk. Mayat inilah yang mengeluarkan bau busuk. Benar-benar di dunia ini kiranya hanya Bu-ceng Tok-ong saja yang dapat makan minum di samping sebuah mayat yang sudah membusuk dan berbau!

"Tok-ong...!" Kun Hong berseru heran.

Sudah lama dia tidak mau menyebut kakek ini sebagai gurunya biar pun sebenarnya Bu-ceng Tok-ong adalah gurunya yang pertama kali.

"He-he-heh-heh. Kun Hong, bagus kau datang. Mari kau temani aku makan minum untuk menghormati pembebasan Tok-sim Sian-li dari siksa dunia. Hah-hah!' kata Bu-ceng Tok-ong tanpa menoleh.

Kun Hong semakin kaget. Jadi mayat itu adalah mayat Tok-sim Sian-li! Biar pun dia tidak suka kepada Tok-sim Sian-li yang cabul dan jahat, orang yang terutama di antara sekian banyak orang yang menyeretnya ke jalan sesat dahulu, namun harus ia akui bahwa cinta kasih Tok-sim Sian-li kepadanya amat mendalam dan juga setulusnya.

Ia lalu menghampiri dipan itu dan ingin melihat wajah wanita itu yang kini sudah membujur sebagai mayat. Ia paksakan diri sambil menahan napas untuk melawan bau yang sangat busuk itu. Tangannya menjangkau dan kain penutup bagian muka ia tarik.

"Ayaaa...!” Kun Hong melepaskan kembali kain penutup muka mayat itu sambil melompat mundur ke belakang dengan penuh kengerian dan keseraman.

Dia masih mengenal muka Tok-sim Sian-li karena dahulu hubungannya dengan wanita ini dekat sekali. Muka itu sekarang berwarna hitam agak kebiruan, kulit muka yang dulu putih kemerahan sekarang benjal benjol membengkak, matanya terbelalak besar, hidung dan mulutnya tertarik ke samping. Benar-benar menjijikkan dan menakutkan sekali.

"Hah-hah-hah, apa kataku, Sian-li? Bahkan Kun Hong, pemuda tampan yang dulu paling kau cinta, sekarang ketakutan dan jijik melihat mukamu! Hah-hah-hah, baru sekarang kau bisa melihat bedanya cinta kasih murni dan cinta kasih nafsu bukan? Sayang terlambat... terlambat..."

Dan kakek aneh ini kembali tertawa seperti orang menangis.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner