CHENG HOA KIAM : JILID-63


Sudah lama jalan pikiran Kun Hong berubah. Sudah lama dia berbalik hati dan membenci segala macam kejahatan yang telah banyak dia lihat, malah dia lakukan. Sekarang makin bencilah hatinya mendengar rencana keji dan pengecut ini.

Andai kata Thai Khek Sian hendak mengadakan gelanggang mengadu kepandaian secara jujur dan gagah, tentu dia takkan memihak mana-mana. Akan tetapi tidak boleh tidak dia harus menghalangi kalau terdapat rencana-rencana keji. Sekarang sikapnya sama sekali berubah. Dia lalu melangkah maju dan berkata tegas,

"Bu-ceng Tok-ong, berikan bangkai siauw-liong itu kepadaku!"

Wajah Bu-ceng Tok-ong yang biasanya menyeramkan sekarang berubah. Sepasang mata yang tertutup alis tebal itu mengeluarkan cahaya liar. Dia terkejut dan gelisah, akan tetapi mencoba menutupi kegelisahannya dengan sikap gagah.

"Kun Hong. jangan main gila! Apa maumu?"

"Manusia keji, kau dan orang-orang macam kau ini dahulu sudah menyeretku ke lembah kehinaan. Sekarang aku hendak menebus dosa. Aku harus menghalangi niat kalian yang jahat itu, biar pun aku harus berkorban nyawa untuk itu. Berikan kepadaku bangkai Ang-siauw-liong itu. Cepat!"

"Bocah gila!" Bu-ceng Tok-ong masih terus mempertahankan kegalakannya. "Kau mampu melawanku, akan tetapi apa kau tidak takut kepada gurumu Thai Khek Sian-su? Sian-su akan membunuhmu!"

"Siapa takut? Hayo berikan, jangan membikin aku habis sabar!"

Melihat pemuda itu melangkah maju, Bu-ceng Tok-ong mundur sambil berkata, "Tidak... tidak kuberikan."

"Manusia keji!" Kun Hong bergerak maju sambil tangannya menampar berbareng hendak merampas bangkai ular yang disimpan di saku baju Bu-ceng Tok-ong.

Bu-ceng Tok-ong cepat mengelak dan mencoba menangkis, akan tetapi gerakan susulan dari Kun Hong tepat mengenai pundaknya, membuat dia sempoyongan dan hampir roboh ke belakang. Marahlah Bu-ceng Tok-ong.

Kalau dia memberikan bangkai ular kemudian usahanya gagal, tentu dia akan mendapat kemarahan dari Thai Khek Sian, kemarahan yang akibatnya sangat mengerikan baginya. Dari pada menentang Thai Khek Sian, lebih baik menentang Kun Hong.

Sambil mengeluarkan geraman seperti singa. Raja Racun ini meloloskan senjatanya, yaitu sepasang penggada yang berbentuk gembolan berduri, mengerikan dan berat sekali. Dia mainkan sepasang senjata ini dan menyerang Kun Hong kalang kabut.

Kun Hong menghadapinya dengan tenang. Dulu, ketika dia masih menjadi murid Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, kepandaian yang dia terima dari dua orang ini digabungkan menjadi satu dan cukup baginya untuk menandingi Bu-ceng Tok-ong. Apa lagi sekarang setelah dia menjadi murid Thai Khek Sian dan menerima pelajaran dari Kui-bo Thai-houw, kepandaian pemuda ini telah meningkat jauh lebih tinggi dari pada Bu-ceng Tok-ong. Maka dengan tenang saja dia menghindarkan semua serangan Bu-ceng Tok-ong.

Betapa pun juga Kun Hong berlaku sangat hati-hati karena dia maklum betapa bahayanya orang macam Raja Racun ini. Gembolan itu bukan sembarang senjata begitu saja, akan tetapi setiap durinya yang runcing itu mengandung semacam racun tertentu yang cukup kuat untuk membunuh orang apa bila terluka.

"Bocah durhaka, bocah setan, mampuslah!" Bu-ceng Tok-ong yang sudah bernafsu sekali menyerang makin hebat kepada bekas muridnya yang bertangan kosong.

"Sebenarnya kaulah yang harus mampus, tetapi sayangnya aku masih menaruh kasihan padamu." ejek Kun Hong sambil mengelak dan dengan gerakan memutar secepat kilat dia mengirim tendangan bertubi-tubi. Dua kali ujung sepatunya mengenai sasaran, tepat pada bagian siku mengenai otot besar. Bu-ceng Tok-ong menggereng kesakitan dan sepasang penggadanya terlempar jauh.

Mukanya berubah menjadi merah dan matanya terbelalak mengeluarkan sinar berapi-api saking marahnya.

"Kalau tidak dapat membunuhmu, aku bukan Tok-ong!" teriaknya.

Sekarang ia menubruk maju. Dari sepasang lengan bajunya menyambar keluar uap hitam, sedangkan dari kedua tangannya meluncur pula benda-benda halus yang berwarna hitam kemerahan. Inilah senjata senjata rahasia yang amat berbahaya, belum pernah dipelajari oleh Kun Hong karena merupakan senjata pribadi Raja Racun itu.

Uap hitam itu adalah sejenis bubuk beracun yang halus dan ringan sekali, mudah terbawa angin dan sekali saja memasuki hidung lawan, orang itu pasti segera terjungkal pingsan. Benda-benda halus hitam kemerahan itu disebut Hek-see-kong (Sinar Pasir Hitam), yaitu pasir-pasir hitam yang sudah direndam bisa ular. Jangan kata sampai pasir ini memasuki kulit, baru menyerempet sedikit saja dapat membuat kulit melepuh dan racun menyerap ke dalam daging dan tulang, sakitnya bukan kepalang.

Biar pun Kun Hong belum mempelajari penggunaan senjata-senjata rahasia ini, namun ia tahu pula akan kelihaiannya. Cepat ia mengebut-ngebutkan tangannya dengan penyaluran tenaga lweekang sepenuhnya sambil melompat ke sana ke mari menghindarkan diri dari pasir-pasir itu.

Selain mengelak, juga tenaga kebutan tangannya cukup kuat untuk mendatangkan angin meniup pergi pasir-pasir itu, maka dengan mudah dia terbebas dari ancaman pasir hitam. Ada pun uap hitam yang menyerangnya dapat ia hindarkan dengan tiupan mulutnya yang disertai khikang.

Beberapa kali Bu-ceng Tok-ong menyerang sampai persediaan pasir dan bubuk hitamnya habis, tetapi semua serangannya sia-sia belaka. Kun Hong tidak membuang kesempatan ini. Dia tidak mau membunuh bekas gurunya, akan tetapi karena ia diserang secara keji. ia harus membalas dan memberi hajaran.

Sambil berseru keras dia mengeluarkan tipu silat yang baru dia terima dari Kui-bo Thai-houw. Gerakannya lemah gemulai bagaikan wanita menari, akan tetapi sukar sekali dijaga sehingga tahu-tahu tubuh Bu-ceng Tok-ong terguling karena betis kakinya kena dikait oleh kaki Kun Hong. Kalau pemuda itu bermaksud membunuh, tentu tadi dengan mudah saja dia menggunakan kesempatan merobohkan lawannya itu.

Merasa dirinya dipermainkan, Bu-ceng Tok-ong menjadi makin kalap. Ia melompat berdiri kembali, tak mempedulikan rasa sakit pada betisnya. Setelah menelan Kun Hong dengan pandang matanya, ia berseru keras, "Setan, biar aku mengadu nyawa denganmu!"

Seruan ini disusul dengan gerakan tangan ke dalam baju, tahu-tahu ia telah mengeluarkan senjata yang sangat mengerikan, yaitu lima ekor ular yang dia ikat menjadi satu di bagian ekornya, merupakan cambuk bercabang lima ekor ular berbisa yang masih hidup!

Karena ikatan lima ekor ular itu ada talinya yang dipegang pada ujungnya, maka ular-ular itu tidak dapat menggigit pemegangnya sendiri, yairu Bu-ceng Tok-ong. Sebaliknya, ketika diserang dengan senjata istimewa ini, Kun Hong menjadi terkejut sekali dan juga marah.

Ia anggap bekas gurunya ini terlalu keji sehingga sampai hati menggunakan senjata maut seperti itu. Ia maklum sudah bahwa lima ekor ular ini adalah ular-ular berbisa yang amat berbahaya. Sekali saja terkena gigitan seekor di antaranya, jangan harap dapat melawan lagi.

"Mampus kau, bocah setan!" berkali-kali Bu-ceng Tok-ong membentak sambil mendesak hebat.

Senjatanya diputar-putar dan bertubi tubi ia melancarkan serangan secara membabi buta kepada Kun Hong. Pemuda ini terpaksa mempergunakan ginkang-nya dan melompat ke sana ke mari dengan lincah untuk menghindarkan gigitan ular-ular itu.

"Tok-ong, kau benar-benar hendak mengadu nyawa?" Akhirnya Kun Hong menjadi marah sekali.

Akan tetapi Tok-ong yang kemarahannya sudah naik ke ubun-ubun tidak mau menjawab lagi melainkan terus menyerang, bahkan sekarang kelima ular itu mendesis-desis sambil mengeluarkan hawa beracun yang membuat semua serangan Bu-ceng Tok-ong menjadi semakin berbahaya. Kun Hong terpaksa mencabut pedangnya dan kini dia pun membalas serangan lawannya dengan ilmu pedangnya yang lihai.

Saking marahnya Bu-ceng Tok-ong sampai tidak mengenal gelagat lagi. Menghadapi ilmu pedang Kun Hong, sebetulnya ia tidak berdaya dan sinar pedang itu sudah mendesaknya secara hebat, akan tetapi ia masih memberung (membabi buta) terus, bahkan melakukan serangan dengan mencambukkan ular-ularnya ke wajah Kun Hong tanpa mempedulikan lagi kekosongan dalam kedudukannya.

Jika Kun Hong menusuknya, tentu dadanya akan tembus. Akan tetapi berbareng pemuda itu pun akan terancam oleh serangan ular-ular itu. Tentu saja Kun Hong tak sudi mengadu nyawa mati bersama dengan Bu-ceng Tok-ong. Maka pemuda ini hanya mengelak sambil merobah kedudukan kaki, kemudian dengan cepat seperti kilat menyambar dari samping dan pedangnya membacok ke arah senjata lawan.

"Crakk…!"

Tiga di antara lima ekor ular itu putus menjadi dua dan tiba-tiba ular yang dua lagi dengan marah dan kaget membalik lalu menyerang Bu-ceng Tok-ong sendiri.


"Ayaaaaaa...!" Teriakan Bu-ceng Tok-ong ini keras sekali, merupakan pekik maut karena dua ekor ular yang masih hidup itu tahu-tahu sudah menggigit pundak dan lehernya.

Bu-ceng Tok-ong terjengkang lantas roboh dengan tubuh kaku, tidak bergerak lagi karena nyawanya sudah putus. Dua ekor ular itu masih saja mencantelkan gigi-gigi mereka pada tubuhnya.

Kun Hong cepat menggerakkan pedangnya dan putuslah tubuh ular-ular itu, mati seketika. Dia lalu mengangkat mayat Bu-ceng Tok-ong, dibawa masuk ke dalam kemah kemudian mendudukkan tubuh yang sudah kaku itu di atas pembaringan.

Biar orang lain menganggap dia sedang bersemedhi, pikir pemuda ini yang merasa perlu melakukan akal ini agar kematian Tok-ong tidak mudah diketahui orang lain sehingga tak akan menimbulkan keributan sebelum dia selesai dengan rencananya.

Kemudian, sesudah mengatur agar mayat Bu-ceng Tok-ong duduk bersila dalam keadaan kaku dan bersikap seperti orang bersemedhi, Kun Hong membuang semua bangkai ular dan melenyapkan tanda-tanda adanya pertempuran di tempat itu. Ia menyimpan bangkai Ang-siauw-liong ke dalam saku bajunya, lantas berlari ke pantai. Seperti yang diduganya, pantai itu tidak ditinggal kosong. Sesudah pergi meninggalkan kemah, para gadis penjaga tadi ternyata masih ada empat orang yang berjaga di pantai.

"Mengapa kalian masih di sini?” tegur Kun Hong. "Bukankah Tok-ong sudah bilang bahwa kalian harus pergi semua dan aku bersama Tok-ong yang akan menjaga tempat ini?"

"Kami hendak menjaga perahumu dulu," jawab seorang di antara para penjaga cantik itu sambil tersenyum manis.

Kun Hong menghampiri gadis ini lantas mencubit pipinya penuh sikap mencumbu. "Manis sekali kau!" Tentu saja gadis itu menjadi girang dan aksinya makin menjadi.

"Kelak aku pasti akan menyediakan waktu untukmu, manis, tetapi sekarang aku sedang perlu bantuanmu. Kau dan kawan-kawanmu ini pergilah mencari nona Cheng In dan Ang Hwa, suruh mereka ke sini, penting sekali. Akan tetapi jangan sampai terlihat oleh orang lain, juga jangan diketahui oleh Sian-su, takut Sian-su marah melihat aku mau bersenang-senang dalam keadaan berjaga."

Gadis penjaga itu cemberut. "Aku ada di depanmu tapi pikiranmu melayang kepada enci Cheng In dan Ang Hwa!"

Kun Hong tersenyum. "Ehh, manis. Apa kau sudah mulai cemburu?"

"Iih, siapa yang cemburu?" tukas gadis itu genit.

"Sudahlah, lekas kau lakukan permintaanku tadi. Penting sekali, sekarang juga kau suruh mereka berdua datang ke pulau ini. Akan kutunggu di sini."

Dengan muka kecewa keempat gadis itu lalu pergi mendayung perahu dan lenyap ditelan gelap malam. Kun Hong menanti dengan hati berdebar, mengatur siasat. Apakah Cheng In dan Ang Hwa mau membantunya? Apakah kedua orang gadis itu dapat disadarkan dari jalan sesat dan kejahatan yang selama ini menyelubungi kehidupan mereka?

Ia maklum bahwa pada hakekatnya dua orang gadis muda itu, seperti juga yang lain-lain, tidaklah jahat dan keji. Hanya karena lingkungan mereka yang kotor maka mau tidak mau mereka terbawa juga, terpercik kekotoran yang melingkungi mereka. Karena terpengaruh Thai Khek Sian, seperti halnya dia sendiri.

Dulu ketika dekat dengan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, kemudian dekat dengan Thai Khek Sian, ia mempunyai sifat tak pedulian. Dahulu pun mata hatinya terbuka dan ia mengakui bahwa perbuatan-perbuatan mereka itu sangat rendah, kotor, dan busuk. Akan tetapi entah kenapa, ia tak peduli, malah ia ikut-ikut pula, merasa ketinggalan dan bodoh kalau tidak meniru mereka!

Lama dia duduk melamun di dalam gelap setelah mengatur siasat. Dosaku terlalu banyak. Aku harus menebusnya di saat ini. Orang-orang kang-ouw yang gagah perkasa terancam bahaya, terancam bencana di tempat ini. Hanya dia yang tahu akan datangnya bencana itu, bagaimana ia bisa diam saja tidak turun tangan mencegah? Lamunannya baru buyar ketika ia melihat sebuah perahu kecil meluncur datang dan terdengar seruan girang Ang Hwa.

"Kun Hong...!"

Dua orang gadis cantik itu, Cheng In dan Ang Hwa, melompat ke darat. Kun Hong segera menyambut mereka dengan senyum, mencekal lengan mereka dengan sikap mencinta. Ia harus dapat mengambil hati mereka kalau ia menghendaki mereka mendengarkannya. Ia membawa mereka ke tempat gelap dan di situ mereka bicara kasak kusuk lama sekali. Kun Hong membujuk mereka dengan kata-kata halus dan akhirnya ia menang. Terdengar kata-katanya terakhir,

"Cheng In, Ang Hwa, renungkanlah baik-baik. Apa harapan hidupmu kalau kau selamanya seperti sekarang ini, menjadi barang permainan Thai Khek Sian, menjadi hambanya dan membantu segala perbuatannya yang busuk? Memang sekarang kalian masih terlindung oleh kekuasaan Thai Khek Sian, akan tetapi ingat, dia sudah tua sekali dan tidak lama lagi kalau dia sudah mati. apa yang akan kau hadapi? Tidak lain kutuk dan permusuhan para orang gagah. Nama kalian akan rusak dan hina untuk selamanya!"

"Kun Hong...!" Cheng In terisak. Hati gadis ini yang biasanya keras kini mulai lumer dan ia mulai menangis. Ang Hwa juga terisak mengingat nasib yang demikian buruk kelak akan menimpanya pula.

"Aku tidak menakut-nakutimu. Kalian ini gadis-gadis baik tapi terjerumus ke dalam lumpur kehinaan. Cheng In, Ang Hwa, kalau kalian masih ingin keluar dari kehinaan, masih belum terlambat. Sekaranglah waktunya."

"Apa... apa maksudmu? Mengapa kau bicara seganjil ini? Apa kau tidak ingin membantu gurumu...?" tanya dua orang gadis itu saling sambung.

"Dengarkan baik-baik. Keadaanku pun tidak ada bedanya dengan kalian. Aku terseret ke jurang kesesatan oleh mereka, maka sekarang inilah saatnya aku menebus dosa-dosaku. Cheng In dan Ang Hwa, tahukah kalian bahwa Thai Khek Sian bersama kaki tangannya sedang merencanakan kekejian luar biasa, yaitu dalam pesta ulang tahunnya dia hendak membinasakan semua tokoh-tokoh kang-ouw? Ia telah bersekongkol dengan orang-orang Mongol untuk membasmi semua orang gagah agar kelak kalau tentara Mongol bergerak ke selatan, mereka tidak akan menemui banyak perlawanan."

Baik Cheng In mau pun Ang Hwa tidak peduli dengan berita ini. Mereka sudah terlampau biasa mendengar kekejian-kekejian yang dilakukan oleh golongan mereka. Malah mereka memandang heran kepada Kun Hong.

"Habis kau mau apa?" tanya Ang Hwa penuh kesangsian

"Kita harus menghalangi ini! Mari kita perlihatkan kepada dunia bahwa kita masih dapat memperbaiki diri. Kalian bantulah aku, adik-adikku yang manis. Bu-ceng Tok-ong sedang merencanakan untuk membunuh semua undangan dengan racun dalam arak. Aku hendak menghalanginya, dia melawan dan akhirnya dia tewas oleh senjatanya sendiri."

Kedua orang gadis itu nampak terkejut, Bu-ceng Tok-ong adalah orang kepercayaan Thai Khek Sian, apa lagi karena Bu-ceng Tok-ong yang datang membawa orang-orang Mongol untuk menjalankan siasat keji itu.

"Kun Hong, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak takut akan kemarahan Sian-su?" tanya Cheng In, wajahnya yang cantik mulai berubah.

Kun Hong memegang lengannya. "Cheng In, tidak ada pilihan lain bagiku. Juga bagimu. Biar pun kita pernah sesat jalan, kiranya jauh lebih baik mati membawa nama harum dari pada meninggalkan nama busuk. Kalau kali ini kita melakukan perbuatan baik menentang kekejian, kiranya mati pun takkan penasaran, setidaknya bisa mencuci sedikit kekotoran yang menempel pada kita. Maukah kalian membantuku? Lekas ambil keputusan, malam sudah hampir lewat, waktu tidak banyak lagi."

"Apa... apa yang harus kami lakukan?”

Cheng In mulai gagap, terpengaruh oleh semua ucapan Kun Hong. Memang dulu kedua orang gadis ini pernah membenci Thai Khek Sian karena orang tua mereka dibunuh oleh kaki tangan iblis itu. Namun, karena berada di bawah pengaruh Thai Khek Sian, mereka sampai melupakan sakit hati ini, bahkan bersama gadis yang lain berlomba merebut kasih sayang iblis itu untuk mewarisi kepandaiannya yang tinggi.

Karena tak ada sedikit pun jalan bagi mereka untuk mendapatkan penghidupan lain, akhir-akhir ini terpaksa mereka merasa puas menjadi selir dan murid tersayang dari pentolan Mokauw itu. Sekarang kata-kata dan bujukan Kun Hong mendatangkan kesan hebat, dan hati mereka pun terguncang.

"Kau tentu tahu bahwa perwira-perwira Mongol sudah datang ke sini dan di mana adanya mereka?"

"Di pulau-pulau sana itu," kata Cheng In sedangkan Ang Hwa tak berani membuka suara, menyerahkan urusan menegangkan ini kepada Cheng In.

"Nah, kalian bawalah guci-guci arak itu, kemudian usahakan agar mereka mau meminum araknya. Dengan demikian di samping menolong nyawa para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh besar yang gagah perkasa di dunia kang-ouw, juga kalian dapat mengabdi kepada negara, melenyapkan musuh-musuh negara."

"Arak... beracun?" tanya Ang Hwa, kini suaranya gemetar.

“Buatan Bu-ceng Tok-ong," sambung Kun Hong. "Tak usah khawatir. Yang kau beri arak bukanlah Thai Khek Sian dan kawan-kawan lain, melainkan orang-orang Mongol. Apa lagi arak itu bukan buatanmu. Kalau sampai ketahuan, bilang saja kau disuruh oleh Bu-ceng Tok-ong dan aku, habis perkara."

Cheng In dan Ang Hwa masih ragu-ragu, akan tetapi mereka tak dapat menolak bujukan-bujukan halus Kun Hong dan akhirnya Cheng In berkala, "Kun Hong, ada satu hal yang kami ingin kau berjanji kepada kami."

"Katakan."

"Andai kata berhasil dan kelak kami dapat kembali ke jalan benar, maukah… kau... kau menerima kami?"

"Tentu sekali! Kalian adik-adikku yang manis, tentu akan aku terima dengan kedua tangan terbuka," jawab Kun Hong gembira sambil merangkul mereka.

Di dalam hatinya ia mengartikan ucapannya itu lain dari pada yang dikehendaki dua gadis ini. Maksud Cheng In, mereka mengharapkan kelak diterima menjadi isteri Kun Hong. tapi sebaliknya Kun Hong memaksudkan menerima gadis-gadis itu sebagai saudara-saudara atau setidaknya sebagai sahabat-sahabat baik.

Pemuda ini cerdik sekali. Karena Cheng In tidak menjelaskan kehendaknya, maka tanpa ragu-ragu ia berani berjanji. Andai kata Cheng In menjelaskan agar kelak diterima sebagai isteri, tentu dia tidak berani berjanji. Di dunia ini hanya Eng Lan yang memenuhi hatinya, tak ada tempat lagi untuk wanita lainnya. Dengan bantuan Kun Hong, dua orang gadis itu lalu mengangkuti guci-guci arak ke dalam perahu.

“Usahakan sekuat kalian supaya mereka benar-benar minum arak ini," pesan Kun Hong setelah pekerjaan itu beres dilakukan.

Dengan mata merah karena menangis Cheng In dan Ang Hwa berdiri memegang tangan Kun Hong. ”Andai kata kami gagal, maukah kau mengabarkan kepada orang-orang gagah tentang bantuan kami yang sedikit ini?"

"Kalian tak akan gagal, Cheng In. Gagal atau tidak, nama kalian tetap akan dikenang oleh orang-orang gagah sebagai gadis-gadis perkasa yang sudah berusaha menebus segenap kesesatan yang lampau."

"Kun Hong, kalau kami sudah berhasil, kami akan melarikan diri ke darat dan menanti kau di sana," kata Ang Hwa.

Kun Hong menepuk-nepuk pundaknya. "Pasti kita akan saling bertemu kembali. Sekarang berangkatlah, adik-adikku, dan lakukan tugas mulia ini baik-baik dan hati-hati."

Maka berangkatlah dua orang gadis itu. Perahu mereka meluncur di dalam kabut karena malam sudah mulai menarik diri meninggalkan kabut tebal di permukaan air.

Untuk beberapa lama Kun Hong berdiri di pinggir pantai, memandang ke arah perginya dua gadis itu sampai bayangan perahu mereka lenyap ditelan kabut. Aku harus ke pantai daratan, pikirnya, mencegat di sana dan memberi peringatan kepada orang-orang gagah yang hendak menyeberang ke Pek-go-to agar mereka berhati-hati dan bekerja sama.

Akan tetapi baru saja dia melompat ke perahunya dan mulai mendayung, tiba-tiba saja dia mendengar jerit seorang wanita. Dia merasa darahnya membeku saking kagetnya karena mengira bahwa tentulah itu suara Ang Hwa atau Cheng In. Apakah mereka telah ketahuan dan rahasia mereka terbuka sehingga mereka menjadi korban hukuman Thai Khek Sian?

Tidak bisa ia tinggal diam membiarkan dua orang gadis itu menjadi korban rencananya. Cepat ia mendayung perahunya ke tengah, ke arah suara jeritan tadi. Kabut telah menipis dan sinar matahari memerah menjadi pertanda bahwa sang raja siang sebentar lagi akan mulai dengan tugasnya. Sinar kemerahan memenuhi permukaan air, mendatangkan silau dan mengusir kabut. Kun Hong mendayung terus.

Akhirnya ia melihat sebuah perahu dan di sana terlihat beberapa orang tengah bertempur hebat. Ia menarik napas lega. Bukan perahu Cheng In dan Ang Hwa. Perahu ini jauh lebih besar dan melihat bayangan yang bertempur, mereka adalah dua orang pria dan seorang gadis. Hati Kun Hong menjadi tertarik dan dia pun mempercepat dayungnya.

Pada saat ia telah dekat dengan perahu besar itu, gadis yang ikut bertempur mengeroyok seorang laki-laki gundul telah roboh tertotok, meringkuk tak berdaya di dalam perahu. Ada pun laki-laki tua pendek yang dibantu gadis itu juga amat terdesak oleh lelaki tinggi besar gundul yang ternyata amat lihainya.

Setelah melihat penuh perhatian, dengan sangat kaget Kun Hong mengenal mereka yang sedang bertempur itu. Bukan lain adalah Beng Kun Cinjin yang tadi dikeroyok oleh Pak-thian Koai-jin dan... Eng Lan! Eng Lan yang tadi tertotok roboh dan kini Pak-thian Koai-jin juga terancam bahaya. Kun Hong marah bukan main melihat Beng Kun Cinjin, juga girang sekali melihat Eng Lan. Ia membentak,

"Beng Kun Cinjin manusia keparat! Akhirnya aku dapat bertemu dengan kau!"

Tetapi mendadak terdengar seruan keras dan tubuh Pak-thian Koai-jin terjungkal hingga terlempar keluar dari perahu dalam keadaan tak bernyawa lagi! Kun Hong terkejut sekali, hendak menolong namun terlambat karena tubuh itu sudah tenggelam ke dalam air yang masih merah gelap.

Kemarahannya meluap. Bagaimana pun juga Pak-thian Koai-jin adalah guru dari Eng Lan dan karena ini saja ia harus membela mati-matian. Apa lagi Eng Lan berada di perahu itu pula dalam keadaan tertotok.

"Keparat, bersiaplah untuk mampus!" Kun Hong sudah mencabut pedang dan melompat ke atas perahu.

Akan tetapi, begitu kakinya menginjak papan perahu, ia berdiri tegak seperti patung dalam keadaan tidak berdaya. Tidak saja ia tidak berdaya karena melihat Beng Kun Cinjin sudah menangkap Eng Lan dan menggunakan gadis itu sebagai perisai, tetapi juga ia ragu-ragu karena ternyata Thai Khek Sian sendiri berada di perahu itu, bersila dan memandangnya sambil menyeringai!

"Heh-heh-heh, murid nakal. Kau baru muncul?" Hanya demikian Thai Khek Sian berkata, selanjutnya meramkan matanya dan kembali bersemedhi.

"Beng Kun Cinjin, kau lepaskan Eng Lan!" bentak Kun Hong.

Beng Kun Cinjin memandangnya tajam. "Aku tak akan mengganggunya. Siapa orangnya mau mengganggu calon mantunya? Ha, anak baik, tak usah kau herankan. Anakku yang baik, pinceng telah tahu bahwa kau mencinta nona ini. Aku sengaja menangkapnya untuk memaksanya agar menerimamu sebagai suaminya. Kun Hong, berlututlah kau dan akui pinceng sebagai ayah, nona ini akan kuberikan kepadamu dan nanti akan kuminta Sian-su mengumumkan pernikahanmu."

Kun Hong berdiri seperti terpaku pada papan perahu. Bahwa Beng Kun Cinjin tahu akan cinta kasihnya pada Pui Eng Lan, hal ini tidaklah mengherankan. Juga bahwa Thai Khek Sian dapat bersekutu dengan Beng Kun Cinjin, tidak terlalu mengherankan. Burung gagak tentu selalu mencari bangsa atau golongannya.

Akan tetapi ditawannya Eng Lan itulah yang membuat dirinya tidak berdaya, membuat dia sekaligus bingung tidak tahu harus berbuat apa. Dia maklum bahwa selain mengandalkan bantuan Thai Khek Sian, juga Beng Kun Cinjin hendak mempergunakan Eng Lan untuk menaklukkannya, untuk membuat dia mengakuinya sebagai ayah dan tidak memusuhinya lagi.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner