IMBAUAN PENDEKAR : JILID-21


Siapa tahu kedua orang dari Tong-keh-ceng itu tidak bertindak apa-apa, sebaliknya salah seorang di antaranya malah tertawa dan berkata, “Justru sesudah membaca kartu nama kalian baru kami tahu ada Toapiauthau dari Wi-wan-piaukiok lewat di sini, maka bila kami tidak sempat memberi sambutan apa-apa, diharap suka memberi maaf.”

“Ah, tidak berani,” jawab Ong Tek sambil memberi hormat.

Ci-toapiauthau itu bernama Ci Kian, katanya, “Kedua Suhu telah memburu kemari secara tergesa-gesa, entah ada petunjuk apa kiranya?”

Anak murid keluarga Tong itu tampak prihatin, ucapnya, “Soalnya ditempat kami...”

Mendadak dia tekan suaranya sehingga sangat lirih, satu kata saja tak dapat didengar lagi oleh Pwe-giok dan Lui-ji. Untuk mendekati mereka jelas tidak mungkin, maka diam-diam Lui-ji sangat mendongkol.

Setelah bisik-bisik, air muka Ong Tek dan Ci Kian mendadak berubah, serunya, “He, bisa terjadi begitu?”

Anak murid keluarga Tong itu mengangguk dengan prihatin.

Lalu Ong Tek dan Ci Kian tidak bicara lagi. Dengan perlahan mereka memberi perintah kepada pengiring kereta tadi, habis itu mereka lantas mencemplak ke atas kuda dan pergi bersama kedua orang dari Tong-keh-ceng itu.

Sesudah jauh mereka pergi, barulah Lui-ji berkata sambil berkerut kening, “Sesungguhnya apa yang terjadi di Tong-keh-ceng, mengapa dua orang itu kelihatan cemas dan gugup?”

Belum lagi Pwe-giok menanggapi, Lui-ji telah mendahului menjawabnya sendiri, “Mungkin semuanya ini adalah tipu muslihat yang sengaja diatur oleh Tong Bu-siang gadungan itu, mereka sengaja menipu kedua orang ini ke Tong-keh-ceng, padahal di sana tidak terjadi apa-apa.”

Makin omong makin dirasakan pula betapa cepat jalan pikirannya sendiri, maka segera ia menyambung lagi, “Kita tak boleh sembarangan menerjang ke Tong-keh-ceng, kita harus mencari keterangan lebih dulu, kita tunggu...”

Sudah sekian lama Pwe-giok berdiam, kini mendadak dia bersuara, “Dapatkah kau terima sebuah permintaanku?”

Lui-ji melengak, jawabnya, “Maukah kau katakan lebih dulu mengenai urusan apa?”

“Katakan dulu, mau terima atau tidak?”

“Aih, tak tersangka kau pun serupa anak kecil,” ujar Lui-ji dengan tertawa. “Aku tidak tahu urusan apa yang kau minta, mana dapat kukatakan menerima atau tidak. Kalau kau suruh aku makan kotoran umpamanya...” ia tertawa geli sehingga muka sendiri menjadi merah.

“Belum pernah kuminta apa-apa padamu, tetapi urusan ini, betapa pun kuharap harus kau terima,” kata Pwe-giok.

“Baiklah,” jawab Lui-ji akhirnya sambil menggigit bibir. “Urusan apa pun pasti akan aku sanggupi.”

Dengan suara tertahan Pwe-giok lalu bertutur, “Begitu masuk Tong-keh-ceng, di sebelah kiri ada sebuah Ciu-lau (restoran berloteng), itulah tempat penyambutan tamu Tong-keh-ceng. Kalau sudah berada di sana, walau pun mereka tahu kedatanganmu adalah untuk mencari perkara, mereka tidak bakalan mengganggu dirimu, sebab hal ini sudah menjadi peraturan rumah tangga Tong turun temurun.”

“Hah, barang kali hendak kau suruh aku makan enak di restoran itu? Apa keistimewaan masakan restoran itu, adakah bebek panggang?” tanya Lui-ji dengan tertawa. “Jika ada, sekali ini pasti akan kusikat lebih dulu kulitnya.”

Setelah makan bebek panggang dahulu dan diolok-olok oleh Kwe Pian-sian, sampai saat ini ia belum lagi lupa tentang kulit bebek panggang.

Hati Pwe-giok menjadi amat terharu, ucapnya dengan lembut, “Yang ingin kuminta darimu adalah supaya kau berjanji setiba di Tong-keh-ceng, langsung kau naik ke loteng restoran itu, apa pun yang terjadi atas diriku, tidak boleh kau turun dari sana.”

Sampai lama Lui-ji termenung, katanya kemudian sambil tersenyum pedih, “Kalau terjadi apa-apa atas dirimu, apakah kau kira aku dapat duduk tenteram makan bebek panggang di restoran itu?”

Ia merasa tangan Pwe-giok mendadak menjadi dingin, lebih dingin dari pada es, Ia dapat memahami perasaan Pwe-giok saat itu, terpaksa dia tertawa dan berkata pula, “Ya, apa pun juga tetap kuterima permintaanmu, aku berjanji takkan meninggalkan restoran itu.”

Pada saat mereka berada di jalan raya menuju ke Tong-keh-ceng, mendadak orang yang berlalu lalang di situ bertambah banyak.

Pwe-giok melihat orang-orang itu kebanyakan adalah sahabat Kangouw yang berilmu silat tinggi, ada yang mencorong sinar matanya, tampaknya sangat tinggi ilmu silatnya.

Mereka pun berpaling mengamat-amati Pwe-giok dan Lui-ji. Ada pemuda cakap dan gadis cantik berjalan bersama sambil bergandengan tangan, siapa pun pasti akan melemparkan pandang sekejap dua kejap kepada mereka.

Ini belum lagi aneh, yang aneh ialah air muka orang-orang ini semuanya kelihatan prihatin, seperti menanggung beban pikiran apa-apa. Beberapa orang di antaranya ketika melihat Ji Pwe-giok lantas menampilkan rasa terkejut, seperti kenal padanya, namun kebanyakan orang hanya memandangnya sekejap saja, lalu menunduk dengan muram.

Dalam pada itu pintu gerbang perkampungan Tong-keh-ceng sudah terlihat dari kejauhan, orang-orang yang melalui jalan ini pasti akan menuju ke Tong-keh-ceng, tetapi mengapa ada orang sebanyak ini yang berkunjung ke Tong-keh-ceng secara beramai-ramai begini?

Apakah terjadi sesuatu peristiwa besar di Tong-keh-ceng?

Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok erat-erat, mendadak dia mendesis, “Kau kira orang-orang ini apakah tertipu oleh Tong Bu-siang gadungan itu sehingga mereka berbondong-bondong datang ke sini? Tentu dia sengaja mengumpulkan mereka, kemudian membunuh mereka sekaligus dengan senjata rahasianya yang berbisa itu.”

Bila teringat kepada keganasan Ji Hong-ho gadungan, Yang Cu-kang dan lain-lain, tanpa terasa Lui-ji merinding, ucapnya pula dengan parau, “Dengan demikian maka seluruh jago persilatan di daerah Sujwan ini akan sekaligus terjaring seluruhnya.”

“Mungkin nyalinya belum sebesar itu,” ujar Pwe-giok dengan tertawa.

“Toh orang lain akan memasukkan kejadian itu dalam perhitungan dengan keluarga Tong,” kata Lui-ji. “Dia kan berusaha mengacaukan dunia, tujuannya justru ingin mengaduk dunia Kangouw ini hingga kacau balau, apa pun dapat dilakukannya.”

Pwe-giok termenung, ucapnya kemudian, “Umpama ia berani berbuat demikian, di antara anak-anak murid keluarga Tong tentu juga ada yang cerdik dan pandai, maka belum tentu mereka mau menurut secara membabi buta.”

Meski di mulut dia berkata demikian, tapi dalam hati sebetulnya jauh lebih kuatir dari pada Lui-ji, karena dia tahu betapa keras tata tertib rumah tangga Tong. Perintah sang ketua harus dipatuhi dan tidak mungkin berubah, sekali pun anak murid keluarga Tong ada yang tidak setuju juga tidak berani membangkang secara terang-terangan.

Maklumlah, anggota keluarga Tong terdiri dari anak cucu keluarga Tong sendiri tanpa ada unsur-unsur dari luar, tata tertib rumah tangga lebih keras dari pada tata tertib perguruan. Ciangbunjin adalah pemimpin tertinggi, maka kekuasaan kepala keluarga Tong jauh lebih besar dari pada ketua perguruan lain, meski Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay sekali pun.

Lui-ji seperti ingin bicara apa-apa lagi, tetapi pada saat itu juga tiba-tiba diketahui orang-orang yang berjalan paling depan, begitu sampai di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng, serentak orang-orang itu sama bertekuk lutut. Bahkan di tengah kerumunan orang banyak itu sayup-sayup terdengar suara orang menangis.

Lui-ji saling pandang sekejap dengan Pwe-giok, keduanya sama-sama heran.

Sementara itu sekeliling tanah lapang di depan pintu gerbang Tong-keh-ceng telah berjubel penuh orang berlutut, di dalam pintu gerbang juga ada belasan orang yang berlutut sambil membalas hormat kepada orang-orang di luar.

Belasan orang di dalam pintu itu nampak mengenakan pakaian berkabung dengan wajah yang berduka cita, beberapa di antaranya bahkan merah bendul matanya. Pwe-giok kenal seorang di antaranya yang bermuka bundar dan rada gendut, yaitu murid ke tujuh dalam keluarga Tong yang di dunia kangouw dikenal dengan julukan ‘Jian-jiu-mi-to’ atau si Budha gendut seribu tangan, namanya Tong Siu-jing. Dia inilah yang menjabat sebagai juragan restoran yang merangkap sebagai penyambut tamu.

Seorang lagi juga dikenal Pwe-giok, yaitu yang bermuka lebar, ialah Tong Siu-hong yang berjuluk ‘Thi-bin-giam-lo’ atau si raja akhirat berwajah besi, artinya selalu bertindak tegas tanpa kenal ampun dan tidak pandang bulu.

Kedua orang ini bukan saja terhitung anak murid keluarga Tong pilihan, bahkan di dunia kangouw namanya juga telah lama termashur. Tapi kini kedua orang ini pun memakai baju berkabung, menyambut tamu dalam kedudukannya sebagai Haulam atau putera orang yang wafat. Jelaslah sekarang bahwa dalam keluarga Tong telah kematian orang, bahkan orang yang mati ini berkedudukan sangat tinggi dan terhormat.

Sungguh Pwe-giok tidak dapat menerkanya siapakah yang meninggal dunia itu?

Lui-ji tampaknya juga tercengang, bisiknya kepada Pwe-giok, “Kita terlambat tiba di sini, entah sudah berapa banyak anggota keluarga Tong yang menjadi korban kekejiannya. Dia tidak mencelakai orang luar, tapi membunuh dulu anggota keluarganya sendiri, hal ini pun sangat aneh.”

Meski pun dia bicara dengan perlahan, tapi ada sebagian orang yang sudah berpaling dan memandangnya. Orang lain sama bertekuk lutut, hanya mereka berdua saja yang berdiri ditengah-tengah orang banyak, dengan sendirinya sangat menarik perhatian orang lain.

Pwe-giok berkerut kening, cepat ia tarik Lui-ji dan ikut berlutut. Meski tidak rela, tapi mau tak mau anak dara itu menurut juga.

Terdengarlah seorang berseru sambil menangis, “Sungguh langit dan awan yang tak dapat diramal. Setiap saat manusia dapat dirundung malang atau tertimpa rejeki. Kita berharap orang bijaksana seperti Tong-loyacu paling sedikit akan berumur panjang hingga seratus tahun, tapi siapa tahu sekarang beliau telah wafat.”

Lalu seorang tadi menyambung, “Tapi orang meninggal tak bisa hidup kembali, hendaklah saudara jangan terlampau berduka. Kepergian Tong-loyacu merupakan suatu kehilangan besar bagi dunia Kangouw umumnya dan Bu-lim daerah Sujwan khususnya, maka untuk selanjutnya diperlukan kepemimpinan saudara sekalian.”

Orang yang bicara ini sudah ubanan, tampaknya seorang tokoh angkatan tua dari dunia persilatan daerah Sujwan, sebab itu dia hanya membahasakan pihak tuan rumah sebagai saudara karena dia anggap dirinya sendiri lebih tua.

Sebaliknya para anak murid keluarga Tong hanya mengangguk rendah-rendah dan tidak ada yang menanggapi, semuanya tampak menangis sedih.

Yang mati ternyata ‘Tong Bu-siang’ adanya!

Sungguh Pwe-giok tidak berani percaya, tapi mau tak mau harus percaya.

Cu Lui-ji juga melenggong, sampai sekian lama tidak mampu bicara. Setelah orang yang berlutut itu beramai-ramai bangkit kembali, barulah dia berkata kepada Pwe-giok dengan suara tertahan, “Tong Bu-siang gadungan itu tidak nanti mati, sampai-sampai Tong Giok yang merupakan orang kepercayaan keluarga Tong juga mengakui Tong Bu-siang palsu itu sukar dibedakan cirinya, tidak nanti anggota keluarga Tong yang lain dapat mengetahui kepalsuannya hanya dalam waktu sesingkat ini.”

Sesudah mengerling kembali dia berkata lagi, “Maka kukira, bisa jadi dengan jalan ini dia sengaja hendak memancing kedatangan orang banyak...”

Tetapi Pwe-giok lantas menggeleng, katanya, “Jika dia ingin memancing orang-orang ini ke sini, cara lain masih cukup banyak, kukira tidak perlu pura-pura mati. Apa lagi duka cita yang diperlihatkan anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak pura-pura.”

“Jika begitu, jadi kau anggap anak murid keluarga Tong sudah mengetahui kepalsuannya, lalu membunuhnya?” tanya Lui-ji.

“Juga tidak bisa terjadi begitu,” kata Pwe-giok. “Bila mana anak murid keluarga Tong telah mengetahui kepalsuannya kemudian membunuhnya, tentu mereka tidak akan sedemikian berdukanya dan mengadakan upacara pemakaman sebesar ini.”

“Habis bagaimana, apakah dia mati karena sakit keras mendadak?” kata Lui-ji pula.

“Juga tidak mungkin,” ujar Pwe-giok. “Ji... orang she Ji itu sangat licin dan dapat berpikir panjang. Bila mana dia sudah berani mengirimnya ke sini tentu kesehatan orang ini dapat diandalkan, tidak nanti dia mati sakit. Mana bisa mereka mau bersusah payah membuang pikiran dan tenaga serta daya atas diri yang tak dapat diandalkan.”

“Betul juga,” kata Lui-ji. “Jika mereka berani mengirimnya ke sini, maka dengan sendirinya mereka yakin Tong Bu-siang gadungan itu tidak akan ketahuan belangnya dan juga tidak mungkin mati sakit mendadak. Tong Bu-siang gadungan sendiri juga tidak mungkin pura-pura mati, lantas mengapa dia mati?”

Pwe-giok tak dapat menjawabnya.

Kejadian itu memang di luar dugaan dan sukar untuk dibayangkan…..

********************

Orang yang melayat itu kemudian membanjir masuk ke dalam Tong-keh-ceng.

Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut arus manusia masuk ke sana. Urusan sudah kadung begini, mereka hanya dapat maju dan tidak dapat mundur lagi.

Terlihat setiap rumah pada kedua sisi jalan raya di dalam Tong-keh-ceng sama menutup pintu, semuanya ikut berkabung, wajah setiap orang tampak muram durja. Maka Pwe-giok tambah yakin apa yang terjadi ini pasti bukan cuma pura-pura belaka.

Di ujung jalan raya sana ada sebuah ruang pendopo yang sangat luas, di situlah biasanya anak-anak murid keluarga Tong mengadakan rapat, tapi sekarang pendopo ini digunakan sebagai tempat semayam peti mati Tong Bu-siang.

Terdengar suara tangisan ramai di ruangan besar itu, para pelayat satu persatu bergiliran masuk ke sana menyampaikan penghormatan terakhir.

Pwe-giok dan Lui-ji juga ikut di belakang dan masuk ke ruang pendopo itu. Wajah setiap orang tampak berduka cita, sekali pun orang yang biasanya tidak ada hubungan dengan Tong Bu-siang, kini mau tak mau juga ikut sedih oleh suasana yang memilukan ini.

Di tengah pendopo terletak peti mati Tong Bu-siang dan meja sembahyang, di belakang peti mati terpasang tabir yang panjang, suara tangisan di belakang tabir terdengar lebih berduka dari pada yang lain, sebab famili perempuan keluarga Tong sama berada di situ.

Jika suara tertawa orang perempuan umumnya lebih lirih dari pada suara tertawa orang lelaki, maka suara tangis orang perempuan jauh lebih keras dari pada lelaki.

Pada kedua sisi pendopo terdapat dua-tiga puluh meja bundar besar, hampir semua meja sudah penuh dikelilingi tetamu, agaknya para pelayat sedang menunggu akan mencicipi perjamuan berduka cita keluarga Tong.

Diam-diam Pwe-giok merasa gegetun. Para pelayat ini entah datang untuk makan atau benar-benar hendak berbela sungkawa terhadap orang mati?

Pelayat yang datang belakangan banyak yang melongok ke sini dan memandang ke sana, kuatir tidak mendapat tempat di meja perjamuan. Tetapi segera ada anak murid keluarga Tong yang bertugas sebagai penyambut tamu membawa mereka keluar. Kiranya di tanah lapang di depan pendopo juga sudah penuh terpasang berpuluh meja perjamuan.

Maka senanglah para pelayat itu, semuanya duduk kemudian perjamuan lantas dimulai, santapan lezat pun disajikan berturut-turut.

Terpaksa Pwe-giok dan Lui-ji ikut duduk di tengah para pelayat itu. Karena menanggung bermacam-macam pikiran, tidak ada napsu makan mereka, sebaliknya para pelayat yang tadi kelihatan berduka cita kini sedang makan dengan lahapnya.

Diam-diam Lui-ji menarik ujung baju Pwe-giok lantas bertanya, “Apakah kita hanya duduk makan di sini, habis makan lantas angkat kaki, begitu?”

Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menjawab

Sambil menggigit bibir Lui-ji berkata pula, “Kenapa tidak kau cari nona yang bernama Tong Lin itu untuk mencari keterangan tentang apa yang terjadi sebenarnya?”

Nyata nadanya masih berbau cuka alias cemburu.

Selagi Pwe-giok merasa serba salah tiba-tiba datang seorang genduk cilik yang mendekat ke sini, yang dicari juga bukan orang lain, tapi justru Pwe-giok.

Setiba di depan Pwe-giok, babu cilik itu lalu memberi hormat dan bertanya dengan suara perlahan, “Tuan ini Ji Pwe-giok, Ji-kongcu, bukan?”

Sungguh tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa babu cilik itu mengenalinya, lebih-lebih tak diketahuinya ada urusan apa mendadak dirinya ditanyakan? Maka terpaksa ia menjawab, “Betul, aku memang Ji Pwe-giok.”

Dengan suara bisik-bisik seperti sangat rahasia babu cilik itu berkata pula, “Orang yang terhormat sebagai Ji-kongcu mana boleh duduk di sini? Di dalam ada tempat bagi tamu agung, silakan Ji-kongcu berpindah ke dalam saja.”

Pwe-giok menjadi bingung, mengapa dirinya bisa mendadak berubah menjadi tamu agung, ia menjawab dengan ramah, “Di sini sudah cukup baik, nona tidak perlu repot.”

“Tapi nona kami telah memberi pesan wanti-wanti kepada hamba agar jangan kekurangan pelayanan terhadap Ji-kongcu, kalau Ji-kongcu tidak sudi pindah ke dalam, tentu hamba akan dimarahi nona.”

Mendengar ‘nona’ yang disebut-sebut itu, seketika air muka Lui-ji berubah kecut, segera ia berdiri dan berkata, “Jika demikian, marilah kita pindah ke dalam saja.”

Genduk cilik itu memandangi Lui-ji dari atas ke bawah kemudian dari bawah ke atas, lalu berkata pula, “Tapi di dalam juga sudah... sudah penuh, tinggal satu tempat saja, maka... maka nona...”

Namun Lui-ji tidak menghiraukannya, ia tarik Pwe-giok dan diajak masuk ke dalam.

Tampaknya genduk itu menjadi serba susah, ingin merintangi juga tidak berani, terpaksa ia berkata, “Harap nona tinggal di sini saja...”

Tiba-tiba Lui-ji menoleh dan tertawa, katanya, “Bukan nona, tapi nyonya!”

“Nyonya?” genduk itu menegas dengan mulut melongo.

“Ya, nyonya Ji, Ji-hujin,” kata Lui-ji

Genduk itu tambah tercengang, “Ji... Ji-hujin?” kembali ia menegas.

“Benar, Ji-hujin,” Lui-ji tersenyum. “Kalau Ji-kongcu diundang ke dalam, masakah Ji-hujin mesti duduk sendirian di luar sini?”

Seketika genduk cilik itu terbelalak, sampai sekian lamanya barulah dia menunduk sambil berkata, “Baiklah, silakan Tuan dan Nyonya.”

Kembali Pwe-giok dibuat serba salah oleh tingkah Lui-ji itu. Dia tahu pasti Tong Lin yang berada di belakang tabir itu melihatnya, maka pelayan pribadi ini disuruh mengundangnya ke dalam.

Lui-ji memandangnya dengan tertawa tak tertawa dan mendesis, “Sudah kuduga, biar pun tidak kau cari dia, tentu dia yang akan mencari dirimu.”

Setiba di meja perjamuan ruangan dalam, Pwe-giok melihat yang hadir di sini kalau bukan orang tua yang sudah ubanan tentu juga tokoh Bu-lim yang terhormat.

Dia pun sungkan berbicara dengan orang, dia hanya memberi hormat sekedarnya kepada hadirin yang lain, lalu berduduk dan angkat sumpit terus mencomot santapan. Sebetulnya bukan lantaran mereka rakus, tujuannya asalkan mulut terisi sehingga bebaslah dari pada macam-macam kerewelan.

Sebaliknya orang-orang itu sama mendeliki mereka, agaknya heran mengapa keluarga Tong membawa dua orang ‘anak kecil’ ke tempat duduk kaum ‘tokoh besar’ sini.

Untuk menandakan bahwa mereka tidak suka akan kehadiran Pwe-giok berdua, mereka hanya saling angkat cawan arak di antara mereka sendiri dan sengaja tidak menghiraukan Pwe-giok. Tak tahunya sikap mereka ini malah justru kebetulan bagi Pwe-giok.

Waktu itu di balik tabir sana ada sepasang mata merah bendul karena terlampau banyak menangis yang sedang mengintip, sesudah memandang Pwe-giok sekejap lantas melotot ke arah Lui-ji. Sorot matanya penuh rasa duka dan hampa, juga penuh rasa dendam dan benci.

Untung tiada seorang pun yang memperhatikan sepasang mata itu, sebab pada saat itu juga dari meja perjamuan di pojok sana tiba-tiba maju seorang lelaki jangkung.

Orang ini berwajah hitam dan bercambang kasar, bergodek, tampangnya amat menyolok. Dengan langkah lebar dia mendekati layon Tong Bu-siang, lebih dulu dia memberi hormat kepada para hadirin, lalu berseru. “Tong-loyacu mempunyai nama besar dan terhormat, beliau adalah tokoh utama dunia persilatan wilayah Sujwan sini, kali ini beliau mendadak wafat, tak ada seorang pun di dunia persilatan Sujwan sini yang tidak merasa kehilangan dan berduka cita.”

Kata-kata demikian entah sudah berapa kali diucapkan orang, tetapi orang ini masih sok aksi dan mencerocos panjang lebar sehingga tentu saja membosankan hadirin yang lain. Semua orang saling pandang dan mengira orang ini mungkin kurang waras.

Tetapi lelaki hitam itu seperti tidak peduli dengan orang lain, dia menyambung lagi, “Yang paling harus disesalkan adalah akhir-akhir ini Tong-loyacu selalu berdiam di dalam rumah dan jarang keluar. Biasanya orang-orang luar memang kurang beruntung dapat berjumpa dengan beliau, sekarang beliau berpulang ke alam baka, selanjutnya kita harus terpisah untuk selamanya dan tidak dapat menemui beliau lagi. Sebab itulah sekarang ada usulku, kita harus memberi penghormatan yang terakhir kali di depan wajah beliau sekedar untuk kenang-kenangan.”

Haulam, yaitu putera yang ditinggal mati, atau diwakilkan muridnya, memberi hormat dan menjawab, “Tapi peti mendiang guru kami telah ditutup, maksud baik anda ini kami terima dengan terima kasih di dalam hati saja, di alam baka arwah guru kami pun akan merasa terhibur.”

Jawaban ini sesungguhnya cukup sopan dan beralasan, tetapi lelaki muka hitam itu tetap ngotot pada pendiriannya, ia malah mendekati peti mati kemudian berteriak, “Kalau untuk memandang terakhir kali saja tidak dapat, bukankah kita akan menyesal selama hidup?”

Haulam tadi menjawab pula, “Peti mati yang sudah ditutup tak boleh diganggu lagi, harap anda maklum, untuk maksud baik anda kami mengucapkan terima kasih.”

Meski jawaban mereka kelihatan tetap ramah tamah, tapi air muka mereka sudah terlihat kurang senang, nadanya juga sudah berubah agak kasar.

Tidak tahunya lelaki muka hitam itu tetap tidak tahu diri, masih terus ngotot ingin melihat wajah Tong Bu-siang yang terakhir, dia berteriak pula, “Aku datang dari tempat beribu Li jauhnya, tentunya tidak boleh pulang dengan kecewa. Sudah lama aku kagum pada nama kebesaran Tong-loyacu, masa untuk melihatnya satu kali saja tidak dapat?”

Sambil gembar-gembor ia terus berlari mendekati peti mati.

Keruan para hadirin sama gempar, banyak yang mengira orang ini sudah gila, tetapi Pwe-giok dapat melihat orang ini pasti mempunyai maksud tujuan tertentu dan sukar diraba.

Bagi Lui-ji, dia justru berharap orang itu bisa membongkar peti mati selekasnya. Dia ingin mengetahui, apakah di dalam peti mati itu betul Tong Bu-siang ataukah bukan? Dia ingin melihat cara bagaimana kematian Tong Bu-siang?

Para Haulam yang berlutut di depan layon menjadi panik juga, serentak mereka berdiri.

Kalau dalam keadaan biasa, orang ini berani main gila di Tong-keh-ceng, tentu sejak tadi orang ini telah dibereskan. Akan tetapi kedudukan mereka sekarang adalah keluarga yang sedang berduka-cita, mana boleh pakai kekerasan di depan layon orang tua sendiri.

Terpaksa mereka hanya menghadang saja di depan lelaki muka hitam itu lantas menegur dengan menahan rasa gusar, “Mungkin anda ini mabuk!”

“Siapa yang mabuk?” kata orang itu. “Satu tetes saja aku tidak minum. Tujuanku hanya ingin melihat Tong-loyacu untuk yang penghabisan kalinya, masa perbuatan itu melanggar undang-undang?”

Seorang lelaki kekar yang duduk dekat Pwe-giok tiba-tiba menggebrak meja dan berdiri, bentaknya, “Hendaknya kau tahu diri, sobat! Meski saudara-saudara dari keluarga Tong tidak leluasa turun tangan, tetapi bila kau berani sembarangan main gila, aku Nyo Eng-tay yang pertama-tama akan memberi hajaran padamu.”

Nyo Eng-tay ini berjuluk ‘Kay-pi-jiu’, si tangan pembelah pilar, namanya cukup gemilang di dunia persilatan daerah Sujwan. Ucapannya ini juga cukup gagah perkasa dan beralasan, segera ada orang bersorak mendukungnya.

Tanpa terduga mendadak dari luar ada orang menjengek, “Hmm, Nyo Eng-tay, sebaiknya kau pun tahu diri sedikit dan lekas tutup mulut! Kalau tidak, sebentar lagi orang pun akan membongkar perbuatanmu di Soa-peng-pah dahulu itu!”

Suara itu kedengaran seperti suara banci. Para hadirin sama melongok ke arah suaranya, tapi tiada kelihatan bayangan seorang pun.

Namun begitu wajah Nyo Eng-tay sudah langsung merah padam, sekujur badan kelihatan gemetar. Benarlah, dengan ketakutan ia lantas duduk kembali dan tidak berani bersuara pula.

Pada saat itu ada seorang tua yang mungkin cukup berkedudukan seperti ingin bicara, tetapi seorang tua lain cepat menariknya dan membisikinya, “Untuk apa Oh-heng mencari susah sendiri? Urusan keluarga Tong biar diselesaikan mereka sendiri, masa orang luar perlu ikut campur?”

Benar juga, orang itu pun duduk kembali dan tutup mulut.

Pwe-giok tambah curiga, kini dapat diketahuinya bahwa maksud tujuan lelaki muka hitam itu jelas sengaja mencari perkara, bahkan di belakangnya pasti ada yang mendalanginya. Orang yang bersuara di luar tadi bisa jadi juga begundalnya ‘Ji Hong-ho’ itu.

Jika demikian, kematian ‘Tong Bu-siang’ pasti juga mengandung rahasia sangat besar.

Tampaknya anak murid keluarga Tong juga merasakan gelagat tak enak, diam-diam dari luar sudah masuk beberapa orang dan sudah menjaga rapat semua jalan keluar, agaknya lelaki muka hitam itu tak akan dibiarkan pergi begitu saja.

Tetapi lelaki muka hitam ini hakekatnya tidak ada maksud pergi, dengan suara garang dia bahkan berkata pula, “Mengapa kalian tidak mengijinkan orang luar melihat wajah Tong-loyacu untuk yang terakhir kali, apakah karena kematian Tong-loyacu ada sesuatu yang tidak beres? Jika demikian, kami justru harus melihat wajahnya.”

Ucapan lelaki ini kembali membikin gempar para pelayat. Ada sebagian hadirin diam-diam merasakan apa yang dikatakan orang ini juga cukup beralasan.

Tentu saja anak-anak murid keluarga Tong semakin gusar, segera ada yang membentak, “Sahabat, kalau bicara hendaknya yang jelas dan tahu aturan.”

“Masa ucapanku kurang jelas dan melanggar aturan?” jawab si muka hitam, “Jika kalian sendiri tidak berbuat salah, mengapa...”

“Tutup mulut!” bentak seorang mendadak.

Suaranya tidak keras, tapi membawa semacam wibawa yang menundukkan orang. Tanpa terasa lelaki bermuka hitam menyurut mundur dan tak berani bersuara lagi. Tertampaklah dari balik tabir sana muncul beberapa orang perempuan berbaju putih berkabung.

Perempuan yang paling depan bertubuh ramping, baju berkabung yang putih mulus bersih sekali, raut wajahnya yang agak lonjong terlihat penuh rasa berduka, tapi sama sekali tak mengurangi wibawanya yang kereng dan disegani. Inilah Tong Ki, nona pertama keluarga Tong yang memegang kekuasaan rumah tangga tertinggi.

Perempuan kedua bermuka bundar, matanya juga bundar dan besar, tampak lembut dan sabar, inilah model isteri bijak dan ibu yang baik, menantu teladan. Dia inilah isteri Tong-toakongcu, namanya Li Be-ling.

Orang ketiga bertubuh lemah kurus, matanya yang hitam rada cekung, biasanya memang selalu berwajah sayu, kini kelihatan lebih berduka. Dia seperti sengaja melirik sekejap ke arah Pwe-giok kemudian menunduk, sorot matanya memancarkan setitik perasaan benci, seakan-akan menyatakan tak ingin lagi melihat anak muda itu. Inilah nona kedua keluarga Tong, yakni Tong Lin.

Begitu muncul dari balik tabir, ketiganya lantas memberi hormat kepada para hadirin. Para tamu serentak membalas hormat mereka.

Sambil menyembah di lantai Tong Ki lalu berkata, “Atas wafatnya ayah kami dan berkat kehadiran kalian yang sudi melayat kemari, lebih dahulu atas nama keluarga kuucapkan terima kasih.”

Beramai-ramai para tamu menyatakan bela sungkawanya.

Lalu Tong Ki berucap pula, “Sebenarnya tidak pantas kami keluar menemui para hadirin, tetapi lantaran ini...” perlahan dia angkat kepalanya dan menatap tajam lelaki muka hitam, lalu ia pun berdiri dan bertanya, “Bolehkah kiranya mengetahui nama anda yang mulia?”

Laki-laki muka hitam berdehem dua-tiga kali, lalu berkata, “Cayhe Gui Som-lim, tidak lebih hanya Bu-beng-siau-cut (perajurit kecil tidak bernama) dunia Kangouw, hanya saja...”

Mendadak Tong Ki menarik muka, tukasnya dengan suara bengis, “Bagus, Gui Som-lim, coba jawab, siapa yang menyuruh kau kemari?”

Diam-diam Pwe-giok memuji, “Nona besar keluarga Tong ini benar-benar pahlawan kaum wanita, amat pintar dan cerdik, sama sekali ia tidak menegur kelakuan Gui Som-lim yang berteriak-teriak tadi, tapi langsung bertanya siapa yang menyuruh dia ke sini. Hanya satu pertanyaan saja sudah mengalihkan perhatian semua orang. Dengan sendirinya Gui Som-lim tak akan mengaku diperintah orang lain, tapi bila dia tidak dapat memberi keterangan, tentu takkan ada orang lain lagi yang menyangsikan sebab musabab kematian Tong Bu-siang.”

Tadi Gui Som-lim masih berseri-seri dan gembar-gembor, namun sekarang air mukanya berubah pucat, ia menjawab dengan agak gelagapan, “Cayhe datang melayat dan tidak... tidak disuruh oleh siapa-siapa.”

Tong Ki menjengek, “Ruangan layon ini bukanlah tempat untuk membunuh, tapi kalau kau tidak bicara sejujurnya...”

Mendadak dia berhenti lantas memberi tanda lambaian tangan. Seketika di luar ada bunyi gembereng satu kali.

Lalu Tong Ki menyambung ucapannya, “Nah kau dengar suara gembereng itu, bukan?”

“Ya, deng... dengar.” jawab Gui Som-lim.

“Bila gembereng sudah berbunyi tiga kali dan belum lagi kau bicara terus terang, segera darahmu akan berhamburan di sini,” ancam Tong Ki.

Dia bicara dengan tenang saja, namun nadanya berwibawa dan membikin orang mau tak mau percaya akan kebenaran ancamannya itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner