IMBAUAN PENDEKAR : JILID-22


Wajah Gui Som-lim tampak pucat pasi, dengan suara terputus-putus dia menjawab, “Apa yang kukatakan tadi adalah... adalah sejujurnya.”

Tong Ki tidak menanggapi lagi, dia lantas berdiri dengan berlipat tangan seolah-olah tidak mendengar ucapan orang.

Menyusul di luar ruangan gembereng berbunyi pula satu kali.

Tiba-tiba saja Gui Som-lim membalik tubuh terus berlari pergi secepat terbang. Nyata dia bermaksud kabur.

Akan tetapi pada saat itu juga Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong segera muncul dari luar, keduanya tepat menghadang jalan pergi Gui Som-lim.

Thi-bin-giam-lo, si raja akhirat bermuka besi, sesuai julukannya, Tong Siu-hong memang amat tegas dan tak kenal ampun terhadap siapa pun yang bersalah. Kini matanya tampak merah membara, napsu membunuhnya berkobar.

Gui Som-lim bergidik dan tanpa terasa menyurut mundur selangkah demi selangkah.

Mendadak gembereng berbunyi pula.

Pada saat itulah di tengah para pelayat itu mendadak terdengar suara jeritan ngeri!

Sebarisan orang yang berdiri di depan layon sana sama menampilkan perasaan takut luar biasa. Tanpa terasa Tong Ki juga berpaling ke sana. Dan sekali pandang, seketika ia pun terperanjat.

Kiranya peti mati Tong Bu-siang entah sejak kapan sudah dibuka orang. Mayat Tong Bu-siang sedang berdiri tegak bersama peti matinya, di bawah cahaya yang remang-remang kelihatan mukanya yang pucat kuning, matanya terpejam, meski tidak begitu menakutkan mukanya, tapi keseraman orang mati cukup membikin orang merinding.

“Di belakang peti pasti ada orang, tangkap!” teriak Tong Ki bengis.

Serentak Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong menubruk maju ke sana.

Pada saat itu pula tiba-tiba saja mayat Tong Bu-siang melayang keluar dengan kaku dari peti matinya.

Pwe-giok juga sudah dapat melihat di belakang peti mati pasti ada orang membikin mayat Tong Bu-siang terpental dengan Lwekang yang kuat, tapi mendadak berhadapan dengan kejadian aneh luar biasa ini, tanpa terasa tangan Pwe-giok juga berkeringat dingin.

Dilihatnya mayat Tong Bu-siang yang kaku itu langsung menerjang ke arah Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing yang sedang menubruk ke depan. Mestinya mereka berdua tidak berani mempergunakan tangan untuk menangkap mayat itu, namun mau tak mau mereka harus menangkapnya.

Suara aneh dari luar jendela kembali bergema pula dari balik peti mati, ucapnya dengan seram, “Tong Bu-siang sudah muncul, kenapa kalian tidak lekas menyembah padanya?”

Belum lenyap suaranya, serentak empat atau lima orang anak murid keluarga Tong telah menubruk ke sana. Meski sedang berkabung, tetapi dalam baju mereka selalu membawa Am-gi atau senjata rahasia khas keluarga Tong yang termashur.

“Roboh, sahabat!” bentak salah seorang.

Berbareng dengan suara bentakan itu, senjata rahasia mereka pun segera berhamburan, berpuluh bintik hitam menyambar ke belakang peti mati bagai hujan gerimis.

Am-gi keluarga Tong tak ada bandingannya di dunia ini, bukan saja buatannya cermat dan bagus, cara menyambitkannya juga bergaya khas. Berpuluh bintik hitam itu menyambar ke depan dengan kecepatan yang berbeda, ada yang lambat, ada yang cepat, yang cepat belum tentu sampai lebih dulu, yang lambat bisa mendadak menyambar tiba dengan kuat. Jadi sukar diraba dan susah dijaga.

Semua orang mengira orang yang berada di belakang peti mati itu sekali ini pasti sukar terlolos dari kematian. Siapa tahu mendadak terdengar suara tertawa panjang, berpuluh bintik senjata rahasia itu mendadak berputar haluan di udara, semuanya terbang balik dan menyambar ke arah anak murid keluarga Tong sendiri.

Sambaran membalik ini jelas lebih kencang dari pada sambaran ke sana tadi, tampaknya dengan segera senjata akan makan tuannya.

Keruan anak-anak murid keluarga Tong itu terkejut, cepat mereka menutupi muka sendiri dengan tangan kanan, tangan kiri melintang di depan dada, lantas melompat ke atas dan berjumpalitan sekali, ketika jatuh ke lantai, serentak mereka menggelinding jauh ke sana.

Cara menghindar mereka sudah cepat, namun sambaran Am-gi jauh lebih cepat. Tanpa ampun pundak dan lengan keempat orang masing-masing terkena beberapa bintik senjata rahasia tersebut. Belum lagi mereka melompat bangun, lebih dulu mereka merogoh saku dan mengeluarkan botol kecil, obat penawar racun di dalam botol terus ditelan, kemudian berbaring di lantai dan tidak berani bergerak sedikit pun.

Maklumlah, senjata rahasia keluarga Tong terkenal maha lihay racunnya, sampai di mana kekejiannya tentu mereka sendiri yang paling tahu. Jika urat nadi yang berdekatan dengan jantung terkena senjata rahasia itu, dengan cepat racun akan menyerang jantung, sekali pun ada obat penawar buatan khusus juga belum tentu bisa menyelamatkan jiwa mereka.

Bila mata yang terkena senjata rahasia itu, sekali pun dapat ditolong, namun penderitaan mengorek mata dan membedah kulit daging tentu juga dapat dibayangkan.

Sebab itulah lebih dahulu mereka tadi melindungi bagian-bagian yang fatal dengan tangan sendiri. Kini sesudah makan obat penawar toh mereka tetap kuatir racun akan menjalar, maka mereka harus berbaring diam, setelah obat penawar sudah berjalan barulah mereka berani berdiri.

Di sebelah sini empat orang terluka dan roboh, di sebelah sana Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menurunkan mayat yang mereka pegang, lalu mereka pun menerjang musuh dari kanan dan kiri.

Pengalaman tempur dan kungfu kedua orang ini dengan sendirinya jauh lebih tinggi dari pada sesama saudara seperguruannya, bahkan gerakan mereka pun jauh lebih cermat.

Tanpa terduga-duga, pada saat itulah, “blang”, mendadak peti mati itu pecah menjadi dua, terbelah bagian tengah, lalu menghantam ke kanan dan ke kiri, memapak serbuan Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong.

Peti mati itu terbuat dari kayu pilihan, meski pun tertanam di bawah tanah berpuluh tahun juga tetap utuh tanpa keropos, maka dapat dibayangkan betapa kuat dan kerasnya.

Tetapi sekarang sekali tebas dengan telapak tangannya orang itu sanggup membelahnya menjadi dua, keruan semua orang terkejut.

Seketika Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong merasa pecahan peti mati itu menindih tiba bagai gugur gunung dahsyatnya, masih berjarak cukup jauh sudah terasa daya tindihnya yang hebat sehingga napas pun terasa sesak.

Dalam kejutnya kedua orang itu cepat menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, maka terdengarlah suara gemuruh, kedua potong peti mati yang pecah itu menghantam lantai dan mencelat pula ke sana lalu menumbuk dinding, seketika batu pasir bertebaran.

Sial bagi yang terciprat batu, banyak yang menjerit kesakitan. Yang tidak tertimba batu juga cepat-cepat berlari menyingkir, malahan ada yang sembunyi di kolong meja sehingga meja kursi berjungkir balik dan mangkuk piring pecah berantakan.

Sesudah kekacauan agak mereda, barulah semua orang melihat di samping mayat Tong Bu-siang telah berdiri seorang berbaju hijau dengan tersenyum simpul.

Anak murid keluarga Tong serentak mengepungnya dan mengawasi musuh dengan siap serbu. Namun orang ini tetap menghadapi mereka dengan tertawa pongah seperti tak ada sesuatu yang ditakutinya.

Orang ini bukan saja sangat muda, tampaknya juga sopan santun, juga sangat cakap, hanya sikapnya kelihatan kemalas-malasan, mirip orang yang selalu kurang tidur.

Tidak ada seorang Kangouw yang hadir ini kenal pemuda ini, siapa pun tidak menyangka orang semuda ini memiliki tenaga dalam sedemikian hebat.

Hanya Pwe-giok dan Lui-ji saja yang kenal orang ini, tetapi mereka jauh lebih terkejut dari pada orang lain, sebab mereka tidak pernah menyangka pembuat gara-gara ini ialah Yang Cu-kang.

Akhirnya Yang Cu-kang datang juga!

Anak murid keluarga Tong sama melolos senjata lantas mengepungnya di tengah, setiap saat mereka siap turun tangan.

Tapi mendadak Tong Ki membentak dengan suara tertahan, “Mundur semua!”

Tampaknya nona besar keluarga Tong ini sekarang sudah bertindak selaku Ciangbunjin, begitu dia memberi perintah, serentak anak murid keluarga Tong terpencar, sampai Tong Siu-hong juga meluruskan tangan dan tunduk kepada perintahnya.

Di tengah-tengah kekalutan juga hanya Tong Ki saja yang tetap dapat mempertahankan ketenangannya, sorot matanya bagaikan kilat berkelebat mengusap wajah Yang Cu-kang. Lalu jengeknya, “Usia anda masih muda, tetapi kungfu-mu sudah setinggi ini, tentu anda anak murid orang kosen. Tapi mengacau di ruang layon orang lain dan membikin anggota keluarganya yang hidup tambah susah, juga membuat yang mati merasa terhina, apakah cara ini pun termasuk ajaran perguruan anda?”

Asalkan nona besar keluarga Tong telah buka suara, setiap katanya pasti memiliki bobot. Kini dia tidak bertanya siapa nama dan asal usul orang, sebaliknya semua perbuatannya itu ditumplekkan atas perhitungan perguruannya, sehingga hal ini membuat lawan menjadi serba susah untuk menjawab.

Yang Cu-kang mengamati Tong Ki beberapa kejap, dari atas dipandangnya ke bawah dan dari bawah diulang lagi ke atas, lalu berkata dengan tertawa, “Pantas saja orang Kangouw sama bilang kalau nona besar keluarga Tong kita lihay dan galak, seekor harimau betina, setelah berhadapan sekarang ternyata memang tidak bernama kosong, benar-benar tidak bernama kosong...”

Dia menengadah dan terbahak-bahak. Mendadak dia berhenti tertawa, dengan sorot mata yang tajam dia tatap para hadirin yang memenuhi ruangan luar dan dalam itu, lalu berseru dengan lantang, “Cayhe Yang Cu-kang adanya, meski pun bukan anak murid perguruan ternama segala, juga bukan keturunan keluarga terhormat, tapi juga tidak nanti melakukan hal-hal yang melanggar tata susila begini. Apa yang kulakukan sekarang ini tidak berniat mengganggu arwah Tong-locianpwe, sebaliknya ingin kutuntut kebenaran baginya, sebab itulah diharapkan para hadirin suka memberi keadilan.”

Ia kuatir perbuatannya mengganggu mayat dan merusak peti mati itu akan menimbulkan amarah umum. Tetapi setelah uraiannya ini, pandangan semua orang lantas berubah lagi. Semua orang telah tertarik oleh kata ‘menuntut kebenaran’ tadi, semuanya lantas berpikir, “Apakah barang kali kematian Tong-locengcu ini ada sesuatu yang tidak beres?”

Tong Ki sudah tidak sabar lagi, segera dia menjengek, “Kiranya orang she Gui itu adalah suruhanmu. Kau suruh dia mengacau di depan layon untuk memancing perhatian orang banyak, kau sendiri lantas mengacau di belakang peti, begitu bukan?”

Yang Cu-kang menjawab dengan sikap tak acuh, “Demi menuntut kebenaran bagi Tong-locianpwe segala apa pun dapat kulakukan.”

“Jangankan ayahku wafat secara wajar, meski pada masa hidup beliau ada permusuhan dengan siapa-siapa, segala persoalannya masih dapat diselesaikan oleh putera-puterinya, kukira tidak perlu kau ikut campur,” seru Tong Ki dengan bengis.

“Oo? Apakah betul kalian dapat menyelesaikannya?” tanya Yang Cu-kang.

“Tentu, kenapa tidak?” jawab Tong Ki.

“Bagus,” ucap Yang Cu-kang. “Jika demikian, marilah kita melihat dulu siapakah kiranya yang turun tangan keji terhadap Tong-locengcu, lalu...” sembari bicara dia pun menarik mayat Tong Bu-siang.

Dengan gusar Tong Ki lantas membentak, “Jahanam, beraninya kau ganggu lagi jenazah ayahku? Biarlah aku adu jiwa dengan kau!”

Dia sudah tahu kungfu Yang Cu-kang maha tinggi dan sangat mengejutkan, sebab itulah sejak tadi ia menahan rasa gusarnya dan belum turun tangan. Tetapi sekarang semua itu seperti tidak terpikir lagi olehnya, sekali berkelebat tahu-tahu dia sudah menubruk maju, kesepuluh jarinya yang lancip langsung mencengkeram mata dan tenggorokan Yang Cu-kang. Tipu serangan yang cepat dan ganas, sekali turun tangan segera mengincar bagian yang mematikan.

Tapi Pwe-giok tahu kalau melulu kepandaian Tong Ki saja masih selisih sangat jauh untuk dapat menandingi Yang Cu-kang.

Diam-diam Lui-ji juga berkuatir bagi Tong Ki. Betapa pun juga perempuan tetap berharap sesama perempuan akan mengalahkan kaum lelaki, akan tetapi Lui-ji juga berharap Yang Cu-kang akan membongkar rahasia kematian Tong Bu-siang.

Meski perempuan bersimpati kepada sesama perempuan, tapi perempuan juga lebih suka mencari tahu rahasia orang lain.

Dalam pada itu Tong Siu-hong dan Tong Siu-jing juga sudah menubruk maju, bersama Tong Ki mereka mengerubuti Yang Cu-kang dari tiga jurusan.

“Apakah cuma sekian saja ilmu silat keluarga Tong?” ejek Yang Cu-kang dengan tertawa.

Selesai dia berucap demikian, tahu-tahu jenazah Tong Bu-siang sudah diangkat olehnya. Serangan Tong Ki bertiga juga mengenai tempat kosong seluruhnya.

Yang Cu-kang terus berputar cepat seperti gasingan, mayat Tong Bu-siang dipergunakan sebagai perisai di depan tubuh. Apa bila Tong Ki bertiga menyerang secara ganas, yang akan kena lebih dulu tentulah mayat Tong Bu-siang.

Dengan sendirinya mereka menjadi ragu untuk menyerang lagi.

“Lepaskan jenazah guruku dan jiwamu akan kami ampuni!” teriak Tong Siu-hong dengan murka.

“Ha-ha, aku memang tidak bisa mati, jadi tidak perlu minta ampun padamu!” jawab Yang Cu-kang dengan tertawa.

Makin cepat dia berputar sembari membuka baju mayat yang dikenakan Tong Bu-siang itu.

Air muka Tong Ki berubah pucat, ia berjingkrak kemudian mendamprat, “Keparat, betapa rendah caramu merusak jenazah, aku harus membinasakan kau dulu!”

Tampaknya dia menjadi nekat, tanpa menghiraukan apa pun dia terus menerjang.

Tiba-tiba Yang Cu-kang berteriak, “Wahai para hadirin, kalian lihatlah, dia yang sengaja hendak merusak jenazah Tong-locianpwe atau aku? Dia lebih suka menghancurkan tubuh ayahnya yang sudah mati ini dan tidak memperbolehkan aku menyelidiki sebab-musabab kematiannya, coba jawab, mengapa?”

Semua orang menjadi sangsi oleh uraian Yang Cu-kang ini, sampai-sampai Tong Siu-jing dan Tong Siu-hong juga mulai ragu dan tidak main kerubut lagi bersama Tong Ki. Malah ada orang yang tidak tahan dan segera berteriak, “Nona Tong, kenapa tidak dibiarkan dia memeriksa sebab musabab kematian Tong-locengcu?”

Serangan Tong Ki sangat cepat, hanya sekejap saja dia sudah menyerang dua-tiga puluh kali, namun setiap serangannya hanya menyerempet lewat saja di samping tubuh musuh, ujung bajunya saja sukar menyenggolnya.

Sekarang Tong Ki baru merasakan betapa tinggi ilmu silat pemuda aneh ini. Tiba-tiba saja dia berhenti menyerang lantas melompat mundur, dia menggentak-gentakkan kaki sambil mengucurkan air mata, jeritnya dengan parau, “Para hadirin sudah bicara demikian, apa bila aku tidak menurut maka akan kelihatan seperti ada sesuatu kesalahanku. Akan tetapi nama baik mendiang ayahku kini harus menjadi korban perbuatan jahanam ini...” sampai di sini kerongkongannya terasa seperti tersumbat dan air mata berderai.

Tong Lin dan Li Be-ling memburu maju lalu memapah Tong Ki.

Dengan suara bengis Tong Siu-hong lantas berteriak, “Sahabat, jika kau ingin melihatnya boleh silakan, tapi kalau tiada menemukan sesuatu, lima ratus anak murid keluarga Tong lebih suka mati seluruhnya sekarang juga dari pada membiarkan kau lolos keluar dengan hidup.”

“Apa bila tidak kutemukan sesuatu, tanpa kalian turun tangan, aku sendiri akan mati lebih dulu di sini,” kata Yang Cu-kang dengan tertawa. Mendadak dia menarik muka, kemudian menyambung pula dengan sekata demi sekata, “Sebab sudah kuketahui, kematian Tong-locianpwe justru adalah korban perbuatan anak muridnya sendiri.”

Ucapan ini seketika membikin gempar setiap orang. Lebih lagi anak murid keluarga Tong, semuanya menjadi murka, beramai-ramai mereka membentak, “Kau berani sembarangan memfitnah orang? Kau punya bukti?”

“Kalian ingin bukti?” tanya Yang Cu-kang, “Baik!”

Mendadak dia angkat mayat Tong Bu-siang tinggi-tinggi, lalu berteriak, “Inilah buktinya!”

Serentak anak murid keluarga Tong membanjir maju, yang sedang berada di luar ruangan juga ikut menerjang ke dalam. Seketika ruangan pendopo yang besar itu menjadi berjubel-jubel. Tapi sekali lompat Yang Cu-kang telah melayang ke atas.

Meski pun membawa sesosok mayat, tapi gerak tubuh Yang Cu-kang masih sangat gesit, sekali lompat saja ia sudah hinggap di atas belandar pendopo, lalu berteriak dengan suara bengis, “Tong-locianpwe mati terkena Am-gi perguruannya sendiri, bahkan mati di Tong-keh-ceng, lalu siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri?”

Kejut dan gusar semua anak murid keluarga Tong, ada yang berteriak, ada yang mencaci maki, ada yang menyiapkan senjata rahasia, tapi kuatir pula mengenai jenazah Tong Bu-siang sehingga mereka hanya bergerak saja, tetapi urung menyerang.

Ada beberapa orang di antaranya ikut melayang ke atas, namun baru saja tubuh mereka mengapung, kontan dia tergetar ke bawah lagi oleh angin pukulan yang dahsyat. Malahan ada seorang yang jatuh menindih tubuh kawannya.

Dengan suara bengis Yang Cu-kang berteriak pula, “Jika kalian ingin melihat bukti, silakan kalian memilih beberapa orang yang sekiranya terhormat untuk menjadi saksi dan orang lain dipersilakan mundur lebih dulu.”

Sekarang Tong Ki berbalik jauh lebih tenang dari pada tadi, sinar matanya gemerdep, tiba-tiba ia berkata, “Baik, jika demikian, diharapkan Siok-san-sin-wan (si kera sakti dari Siok-san) Wan-loyacu, Kim-to Oh-toasiok, Khay-pi-jiu Nyo-toasiok dan Ji Pwe-giok, Ji-kongcu berempat untuk menjadi wasit.”

Sungguh tidak pernah terpikir oleh Pwe-giok bahwa Tong Ki mendadak akan menyebut namanya, seketika dia melenggong.

Tetapi Lui-ji lantas menarik ujung bajunya sambil berseloroh, “Masa kau tidak tahu bahwa dirimu adalah seorang tokoh ternama di dunia Kangouw? Ayolah lekas tampil ke depan!”

Si orang tua yang berolok-olok di dekat Pwe-giok tadi cepat mendekati anak muda itu dan berkata sambil memberi hormat, “Tak tersangka anda inilah Ji Pwe-giok, Ji-kongcu yang baru-baru ini menggemparkan dunia Kangouw, sampai tokoh sakti Lo-cinjin juga sangat memuji dirimu. Bila mana sikap kami tadi kurang menghormat, mohon sudi dimaafkan.”

Berita dunia Kangouw ternyata sangat cepat tersebar, kejadian pada setengah bulan yang lalu kini sudah diketahui orang sebanyak ini, sampai Nyo Eng-tay, Kim-to Oh Gi dan lain-lain yang tadi meremehkan dia sekarang juga memandangi Pwe-giok dengan terbelalak, air muka mereka penuh rasa terkejut dan heran, seperti tidak percaya seorang pemuda tampan dapat menggemparkan Kangouw hanya dalam waktu setengah tahun ini.

Pwe-giok sendiri tidak pernah membayangkan dirinya ternyata bisa menonjol dan terkenal secepat ini. Terpaksa ia membalas hormat orang dan mengucapkan kata rendah hati.

Orang tua tadi berucap pula, “Cayhe Wan Kong-beng dari Siok-san, selanjutnya harap Ji-kongcu suka sering-sering memberi petunjuk.”

Pwe-giok membalas hormat dan tetap rendah hati.

Sementara itu kerumunan orang banyak sudah mulai mundur sehingga tempat layon tadi terluang cukup luas.

“Dengan keempat saksi ini, apakah cukup?” tanya Tong Ki.

“Yang lain belum tentu bisa dipercaya, akan tetapi Ji Pwe-giok ini telah lama kudengar dia adalah Kuncu sejati, aku yakin ia takkan berdusta.” kata Yang Cu-kang sambil menunduk ke bawah dan tertawa kepada Pwe-giok, lalu ia melayang turun.

Pwe-giok tidak tahu mengapa orang mendadak bersikap ramah padanya, tapi diam-diam dia mempertinggi kewaspadaan.

Dilihatnya Yang Cu-kang berkata dengan suara lantang sambil mengangkat jenazah Tong Bu-siang, “Sekarang silakan kalian memeriksanya, sesungguhnya bagaimana bekas luka Tong-locianpwe yang mengakibatkan kematiannya.”

Pada saat akan dimasukkan ke peti mati, mayat Tong Bu-siang telah didandani, mukanya sudah dipoles bedak berminyak yang tebal sehingga sukar lagi melihat air mukanya yang asli.

Maklum, wajah orang mati pada umumnya hampir serupa. Tetapi sekarang setelah Yang Cu-kang membuka baju mayat, barulah semua orang bisa melihat bagian dadanya hitam hangus, itulah tandanya terkena racun jahat.

Luka yang mematikannya terletak di bawah dada kiri, ada tiga lubang kecil sebesar mata jarum, di atas lubang kecil itu ada noda darah beku yang sudah hampir berubah menjadi hitam seluruhnya.

Yang Cu-kang lalu membuka telapak tangannya dan berkata pula, “Sekarang hendaknya kalian melihat apa yang terdapat pada tanganku ini?”

Terlihatlah satu biji Am-gi yang terbuat dengan indah pada telapak tangannya, itulah Tok-cit-le, duri besi berbisa, senjata rahasia khas keluarga Tong, juga boleh dikatakan senjata rahasia yang bersejarah paling tua di dunia ini.

Setiap tokoh yang hadir ini sama kenal senjata rahasia itu, tapi mereka pun tahu betapa gawatnya urusan sekarang, maka mulut setiap orang seolah-olah sudah disegel dan tiada seorang pun berani ikut bicara.

Hanya Tong Siu-hong saja yang segera membentak, “Inilah Tok-cit-le dari keluarga Tong kami, dari mana kau memperolehnya?”

Yang Cu-kang tertawa, jawabnya, ”Am-gi inilah yang tadi hendak kalian pergunakan untuk membunuh diriku, seluruhnya mereka menghamburkan 28 biji, sudah kubayar kembali 27 biji, yang kuterima hanya satu biji ini. Bila mana kau tidak percaya, boleh kau hitung dulu barangnya.”

Dengan muka masam Tong Siu-hong tidak bersuara lagi.

Yang Cu-kang lantas pegang Tok-cit-le itu dan perlahan dipasang di atas luka Tong Bu-siang, tiga ujung duri Tok-cit-le itu persis masuk pada tiga titik bekas luka di dada Tong Bu-siang itu.

“Nah, luka yang mematikan Tong-locianpwe ini terdiri dari senjata rahasia apa, tentunya sekarang kalian sudah dapat melihatnya bukan?” kata Yang Cu-kang.

Padahal sejak tadi semua orang juga sudah melihat racun yang mengenai Tong Bu-siang itu serupa dengan racun senjata rahasia keluarga Tong.

Sebab racun yang berbeda, tanda-tanda bekerjanya racun juga berlainan. Apa bila racun senjata rahasia milik keluarga Tong sudah menjalar, maka seluruh tubuh korbannya akan berubah menjadi hitam hangus seperti halnya Tong Bu-siang sekarang.

Maka Yang Cu-kang lantas mendengus, “Jika Tong-locianpwe mati di Tong-keh-ceng, dan yang mematikannya juga Tok-cit-le keluarga Tong sendiri, lalu siapa pembunuhnya kalau bukan anak murid keluarga Tong sendiri? ”

Dia berhenti sejenak, kemudian melototi Wan Kong-beng dan bertanya, “Coba bagaimana menurut pendapatmu?”

Muka kakek she Wan itu tampak prihatin dan tidak berani menjawab.

“Hm, sejak semula telah kuketahui kau ini ular tua yang licin, tidak bisa menjadi penengah yang jujur,” jengek Yang Cu-kang. Lalu ia menatap Oh Gi dan bertanya, ”Dan bagaimana dengan kau? Konon biasanya kau sok menjadi juru damai, apakah sekarang kau pun tak berani bicara?”

Muka Oh Gi kelihatan merah padam, jawabnya dengan tergagap, “Ini... ini mungkin ada orang lain yang mencuri senjata rahasia keluarga Tong, lalu digunakan menyerang Tong-locianpwe secara gelap.”

“Hm, bila Tong-locianpwe benar-benar mati di tangan orang lain, kenapa anggota keluarga Tong merahasiakannya dan tidak diumumkan secara terbuka?” Yang Cu-kang menjengek pula. “Dan mengapa menyatakan Tong-locianpwe mati secara wajar karena sakit tua?”

Seketika Oh Gi tak dapat menjawab lagi.

Kini setiap orang sama setuju dengan keterangan Yang Cu-kang itu, semua menganggap Tong Bu-siang pasti mati di tangan anak muridnya sendiri. Tapi terpengaruh oleh wibawa keluarga Tong, tidak seorang pun berani bicara, akan tetapi air muka mereka jelas sama memperlihatkan rasa gusar.

Sebagian besar anak murid keluarga Tong tampaknya juga tidak tahu seluk-beluk urusan ini. Di antara mereka ada yang memperlihatkan rasa sedih dan gusar, tapi ada juga yang cuma melenggong dan ada lagi yang menangis.

Sinar mata Yang Cu-kang hanya berhenti sejenak pada wajah Pwe-giok, tiba-tiba beralih ke muka Tong Siu-hong dan berkata, “Biasanya anda terkenal adil dan tidak pandang bulu serta tidak kenal ampun, entah tindakan apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Tong Siu-hong tampak menggreget-greget sehingga ujung mulutnya merembeskan darah, tampaknya dia juga menahan sesuatu yang sulit diuraikan, sebab itu dia hanya mengertak gigi dan tidak mau bicara.

Tiba-tiba saja Tong Siu-jing terkekeh dua kali, lalu berkata dengan suara parau, “Keluarga Tong benar-benar tidak beruntung sehingga terjadi peristiwa malang ini, atas keterangan anda yang sudi membeberkan kejadian ini sungguh segenap keluarga Tong merasa amat berterima kasih. Hanya saja, apa yang dialami oleh mendiang guru kami ini mengapa bisa diketahui sejelas ini oleh anda?”

Cara bicara orang ini ternyata tidak kalah lihaynya dari pada Tong Ki. Tampaknya saja dia bertanya dengan sopan, padahal cukup keji. Di balik ucapannya itu seakan-akan hendak mengatakan, ”Kalau Tong Bu-siang bukan mati sewajarnya, sedangkan orang lain tak ada yang tahu, lantas dari mana kau mendapat keterangannya? Jangan-jangan kau sendirilah yang melakukannya?”

Meski pun kata-kata demikian tidak terang-terangan diucapkan, akan tetapi semua hadirin bukanlah orang bodoh, mustahil mereka tidak dapat meraba apa maksudnya. Karena itu, mau tak mau semua orang lantas merasa curiga juga terhadap Yang Cu-kang.

Tapi Yang Cu-kang hanya tersenyum tak acuh, katanya, “Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat. Cayhe baru saja berpisah dengan Tong-locianpwe pada tiga hari yang lalu, dan kini mendadak mendengar berita kematiannya, dengan sendirinya timbul curigaku. Seorang yang sehat walafiat, tidak terluka apa-apa, kenapa baru pulang lantas tutup usia dan meninggal untuk selamanya.”

Kata ‘tutup usia dan meninggal selamanya’ sengaja diucapkannya dengan suara tajam, berbareng sorot matanya menyapu pandang para hadirin. Melihat air muka semua orang kembali berubah, barulah ia menyambung lagi, “Meski Cayhe adalah kenalan baru Tong-locianpwe, tetapi sekali bersahabat tetap bersahabat, betapa pun aku tidak rela dia mati secara penasaran. Karena itulah sengaja aku datang kemari untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Apa bila anda menjadi diriku, apakah anda takkan bertindak seperti ini?”

Ucapan ini memang benar dan masuk akal sehingga sukar dibantah.

Tong Siu-jing menghela napas panjang, lalu berkata dengan wajah muram, “Pandangan anda sangat tajam, kami tidak cuma berterima kasih, juga merasa sangat kagum. Hanya saja anak murid keluarga Tong yang dewasa sedikitnya ada 500 orang lebih, yang mahir menggunakan Tok-cit-le ini juga ada ratusan orang. Dalam waktu singkat mungkin sangat sukar menemukan siapa pembunuhnya. Oleh karena itu diharap anda suka menyerahkan persoalan ini kepada kami untuk membereskannya. Kelak pada waktunya kami pasti akan memberi pertanggung jawaban kepada anda.”

“Hm, orang luar macam diriku ini memang tidak pantas ikut campur urusan dalam rumah tangga keluarga Tong,” jengek Yang Cu-kang. “Hanya saja apa yang baru kau katakan ini sukar dipercaya orang.”

“Yang kukatakan adalah sejujurnya...”

“Sejujurnya?” Yang Cu-kang menegas, “Kalau begitu coba jawab, apakah Tong-locianpwe meninggal di kamar pribadinya yang terahasia?”

“Ini... ini...” Tong Siu-jing gelagapan.

“Kalau dia tidak mati di dalam kamar rahasia pribadinya, maka setelah dia terkena senjata rahasia berbisa, tentu akan segera diketahui oleh kalian, lalu mengapa mesti menunggu sampai ikut campurnya orang luar seperti sekarang ini?”

Karena tidak ada alasan lain, terpaksa Tong Siu-jing mengaku, katanya, “Betul, memang beliau wafat di kamar tidur pribadinya.”

“Kalau demikian, ingin kutanya pula, di antara ratusan anggota keluarga Tong yang mahir menggunakan Tok-cit-le, ada berapa orang di antara mereka yang boleh masuk ke kamar pribadi Tong-locianpwe?”

Biar pun Tong Siu-jing juga pandai bicara, sekarang dia menjadi mati kutu dan tidak dapat menjawab pertanyaan Yang Cu-kang yang tajam itu.....



Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner