IMBAUAN PENDEKAR : JILID-23


Baru sekarang Pwe-giok mengetahui bahwa ketajaman mulut Yang Cu-kang ternyata tidak di bawah ilmu silatnya.

Para anak murid keluarga Tong sama menunduk, tiada seorang pun berani memandang Tong Ki.

Tapi semakin mereka tidak berani memandangnya, justru sama dengan memberi-tahukan kepada orang lain, bahwa yang setiap saat dapat memasuki kamar pribadi Tong Bu-siang itu hanya terdiri dari beberapa nona keluarga Tong saja. Hanya saja mereka merasa borok rumah tangga sendiri tidaklah baik disiarkan keluar, maka tidak ada yang mau bicara.

Maka selain anak murid keluarga Tong, pandang mata semua orang sama tertuju ke arah Tong Ki. Sorot mata mereka jauh lebih merikuhkan dari pada ucapan apa pun.

Wajah Tong Ki tampak pucat. Nona besar keluarga Tong yang sehari-hari terkenal pintar bicara dan cekatan dalam bertindak ini, kini harus menghadapi tuduhan membunuh orang tua sendiri. Sekujur badannya kelihatan gemetrar, dia berdiri kaku di situ dan tidak mampu bicara sekata pun.

Mendadak terdengar salah seorang hadirin berseru, “Masakah anak perempuannya juga bisa membunuhnya?”

Ucapan ini terdengarnya seperti ingin membela Tong Ki, padahal sama saja melontarkan tuduhan resmi terhadap Tong Ki. Waktu semua orang menoleh, tidak kelihatan siapa yang bersuara itu.

Terdengar Yang Cu-kang menjengek, ”Seorang kalau sudah kemaruk kepada kekuasaan dan kedudukan, segala apa pun dapat diperbuatnya.”

Tiba-tiba saja seseorang berseru pula di tengah orang banyak, “Masakah maksudmu demi menjabat Ciangbunjin, lantas nona besar Tong tidak sayang membunuh ayahnya sendiri, memangnya siapa yang mau percaya kepada ocehanmu ini?”

Ucapan ini tambah menyudutkan Tong Ki. Biar pun dia bilang yang sebenarnya, siapa pun tidak mau percaya, mungkin sedikit sekali orang yang tidak percaya kepada ucapan ini.

Yang Cu-kang mendengus, ”Apa bila hati Tong-toakohnio tidak menyembunyikan sesuatu, mengapa dia melarang orang lain memeriksa sebab musabab kematian Tong-locianpwe? Pada waktu jenazah Tong-locianpwe dibersihkan, masa dia tidak melihat tanda-tanda luka beracun pada tubuhnya?”

Seketika para pelawat menjadi heboh, semuanya yakin si pembunuhnya pastilah Tong Ki, sampai-sampai Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji mau tak mau juga percaya.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas, dia sendiri pun sedih, pikirnya, ”Jika benar Tong Ki membunuh ayahnya lantaran ingin kedudukan dan berkuasa, maka semua yang terjadi ini boleh dikatakan hukum karma, sebab ‘Tong Bu-siang’ yang dibunuhnya ini justru adalah musuhnya yang membunuh ayahnya yang sesungguhnya.”

Sorot mata Yang Cu-kang yang tajam itu menatap wajah Tong Ki, katanya dengan nada bengis, “Tong-toakohnio, sekarang apa yang dapat kau katakan lagi?”

Tong Ki balas memelototinya dan menjawab sekata demi sekata, “Benar kau minta aku menceritakan duduk perkara yang sebenarnya?”

“Hm, masa kau berani bercerita?” jengek Yang Cu-kang.

“Baik, kau sendiri yang memaksa aku bicara,” jawab Tong Ki dengan suara bengis, lalu ia menarik napas panjang-panjang.

Tapi sebelum ia bicara lagi, mendadak Tong Lin berseru, “Kejadian ini seharusnya akulah yang menjelaskannya.”

Gadis yang selalu murung ini biasanya jarang bicara, sejak tadi pun dia bungkam belaka, siapa tahu pada detik yang genting ini mendadak dia buka suara. Apa yang diucapkannya bahkan sangat mengejutkan, sampai Pwe-giok juga terkesiap dan tak dapat menerka apa yang hendak diceritakan.

Tong Ki memandangnya dengan penuh rasa heran dan sangsi, tanyanya, “Kau...?”

Dengan air muka kelam Tong Lin lantas berkata pula, “Pada saat terakhir sebelum ayah meninggal, hanya aku saja yang berjaga di sampingnya, sebab itulah cuma aku saja yang mengetahui dengan jelas sebab musabab kematian beliau.”

“O, hanya kau yang tahu?” Yang Cu-kang menegas dengan terheran-heran.

“Ya, hanya aku,” jawab Tong Lin.

Yang Cu-kang mengerutkan kening, katanya, “Apakah kau sendiri yang membunuh Tong-locianpwe?”

Betapa pun juga dia merasa sangat heran, sebab sebenarnya Tong Lin tidak mempunyai alasan untuk membunuh ayahnya sendiri.

Li Be-ling segera menarik tangan Tong Lin dan bertanya dengan suara lembut, ”Mungkin kau terlalu berduka sehingga pikiranmu menjadi kurang sadar?”

“Pikiranku cukup terang dan sadar,” jawab Tong Lin, “sebenarnya kejadian ini tidak ingin kukatakan, tetapi keadaan sudah mendesak, jika tidak kubeberkan tentu fitnah terhadap Toaci sukar lagi dicuci bersih.”

Tong Ki memandang adiknya itu dengan bingung, entah kaget entah terima kasih.

“Malam itu,” demikian Tong Lin mulai berkisah, ”Toaci dan Toaso sudah sama tidur. Tiba-tiba aku teringat sesuatu urusan yang harus kubicarakan dengan ayah. Maka aku lantas mencari beliau untuk berunding, meski sudah larut malam.”

“Kau teringat kepada urusan apa?” tanya Yang Cu-kang.

“Urusan rumah tangga kami apakah kau pun ingin ikut campur?” jengek Tong Lin.

Yang Cu-kang menyengir dan tidak bicara lagi.

“Tapi siapa tahu, belum lagi aku masuk ke kamar ayah, segera kudengar ada suara orang berbicara di situ,” demikian Tong Lin melanjutkan ceritanya. “Tentu saja aku sangat heran, sudah larut malam begini mengapa di kamar ayah masih ada tamu? Padahal sehari-hari ayah hidup teratur, jarang tidur jauh malam, bahkan bila kedatangan tamu tentu kami pun diberi-tahu, kecuali tamunya tidak melalui pintu gerbang, tetapi masuk secara sembunyi-sembunyi.”

“Hm, penjagaan Tong-keh-ceng sedemikian keras dan ketat, sekali pun ada orang hendak menyelundup ke sini secara sembunyi-sembunyi kukira juga bukan pekerjaan mudah,” jengek Yang Cu-kang.

“Bukan saja tidak mudah, bahkan tidak mungkin terjadi,” tukas Tong Lin.

“Kalau demikian, cara bagaimana pula tamu itu masuk ke kamar ayahmu?” Tanya Yang Cu-kang.

“Di kamar ayah ada satu jalan rahasia yang langsung menembus ke luar perkampungan,” tutur Tong Lin, “mungkin orang itu sudah ada janji dengan ayah, sebab itulah ayah sendiri yang membawanya masuk melalui jalan rahasia di bawah tanah itu.”

Bahwa kejadian rahasia ini pun sudah diceritakannya, meski belum diketahui bagaimana lanjutannya, tapi sedikit banyak orang sudah mulai percaya kepada penuturannya.

“Sebenarnya aku tidak sengaja hendak mengintip rahasia ayah, tetapi aku sudah terlanjur datang ke situ. Selagi aku berdiri di situ dengan ragu, mendadak kudengar ayah sedang berkata, “Kita adalah kenalan lama, tapi persoalan ini cukup penting, betapa pun aku juga harus berlaku hati-hati. Kau tahu, senjata rahasia Tong-keh-ceng selamanya tidak pernah dipinjamkan kepada orang luar.”

“O, jadi orang itu datang untuk meminjam senjata rahasia kepada Tong-locianpwe,” tanya Yang Cu-kang.

“Tatkala mana aku pun merasa orang itu terlampau tidak tahu diri dan ingin memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Kudengar ia bicara banyak dengan ayah dan tampaknya tetap minta ayah meminjamkan senjata rahasia kepadanya.”

“Apa lagi yang dikatakannya?” tanya Yang Cu-kang.

“Dia bilang urusan yang akan dilaksanakannya sangat penting, apa bila berhasil ayah juga akan mendapatkan manfaatnya. Dia bilang jika ayah tidak mau tampil sendiri, sedikitnya harus meminjamkan senjata rahasia kepadanya.”

“Lalu Tong-locianpwe menerima permintaannya?” tanya Yang Cu-kang lagi.

“Tidak, meski ayah adalah kepala keluarga, tapi peraturan leluhur betapa pun tidak berani dilanggar oleh beliau.”

“Jika senjata rahasia tidak dipinjamkan kepada orang itu, maka orang yang menewaskan Tong-locianpwe juga bukan dia,” ujar Yang Cu-kang.

“Kudengar orang itu masih terus membujuk,” demikian Tong Lin menyambung, “aku kuatir akhirnya ayah akan terbujuk, maka aku cepat masuk ke situ. Sebab aku yakin bila mana ada orang ketiga ikut hadir, tentu orang itu tidak leluasa untuk bicara lagi.”

“Dan dia juga melihat kedatanganmu?” tanya Yang Cu-kang.

“Dia bukan orang buta, masa tidak dapat melihat kedatanganku?” jawab Tong Lin. “Meski kedatanganku membuatnya agak terkejut, tapi ternyata dia tidak mengurungkan maksud tujuannya.”

“O, dia kenal kau?” tanya Yang Cu-kang.

Tong Lin mengangguk, jawabnya dengan muram, “Justru lantaran aku kenal dia, makanya aku tidak mencurigai dia. Siapa tahu pada saat aku lengah, sebiji Tok-cit-le yang kubawa telah dicuri olehnya.”

Gemerdep sinar mata Yang Cu-kang, tiba-tiba ia mendengus, “Hm, rupanya orang itu pun seorang copet sakti.”

“Gerak tangannya benar-benar halus dan cepat, bukan saja aku tidak tahu sama sekali, bahkan ayah juga tidak mengetahuinya,“ sambung Tong Lin dengan menyesal.

“Kau datang ke kamar ayahmu, untuk apa kau membawa senjata rahasia?” tanya Yang Cu-kang dengan melotot.

“Anak murid keluarga Tong tidak pernah meninggalkan senjata rahasianya, bahkan pada waktu tidur pun selalu membawanya,” jawab Tong Lin.

“Apakah ini pun peraturan leluhur kalian?” tanya Yang Cu-kang.

“Betul,” jawab Tong Lin tegas.

“Dan Tok-cit-le yang dicurinya darimu itu digunakannya untuk membunuh ayahmu?” tanya Yang Cu-kang lagi.

Tong Lin menunduk dengan muram, sambungnya lagi,” Pada waktu dia mohon diri, ayah mengantarnya keluar, setiba di ambang pintu, mendadak dia membalik badan kemudian memberi hormat, tetapi kesempatan itu telah digunakannya menepuk sekali di dada ayah, siapa pun tidak menyangka pada telapak tangannya tersembunyi senjata rahasia, lebih-lebih tidak menyangka kalau hanya lantaran ayah menolak meminjamkan senjata rahasia kepadanya, lalu dia turun tangan keji terhadap ayah.”

Sampai di sini ceritanya, tanpa terasa semua orang percaya tujuh bagian padanya. Sebab meski urusan ini tidak seluruhnya masuk akal, tapi urusan sudah terlanjur begini, betapa pun Tong Lin sendiri ikut bertanggung jawab, jadi mustahil dia berdusta hal-hal yang tidak menguntungkan dia.

Yang Cu-kang menghela napas panjang, katanya, ”Jika demikian, jadi kau menyaksikan sendiri ketika orang itu membunuh Tong-locianpwe?”

“Betul,” jawab Tong Lin.

Tiba-tiba saja Yang Cu-kang membentak dengan gusar, ”Jika benar kau saksikan sendiri kejadian itu, mengapa baru kau ceritakan sekarang?”

Tong Lin menunduk, ucapnya dengan sedih. “Sebab... sebab orang yang bertindak begitu adalah... adalah bakal suamiku, ayah memang sudah menjodohkan diriku kepadanya.”

Keterangan ini seketika menggemparkan para hadirin. Ada yang terkejut, ada pula yang menyesalkan, ada yang kasihan, tapi terhadap apa yang diceritakan itu tidak curiga lagi. Sebab jika tidak terpaksa, tidak mungkin Tong Lin mau membeberkan rahasianya sendiri.

Diam-diam Pwe-giok juga merasa gegetun, sungguh dia tak mengira urusan bisa berbelit-belit begini.

Dengan menangis Tong Lin berkata pula, “Waktu aku melihat dia berani turun tangan keji terhadap ayah, sebenarnya saat itu juga aku ingin mengadu jiwa dengan dia, tetapi hatiku menjadi lemah setelah dia membujuk rayu diriku.”

“Hmm, dasar perempuan,” jengek Yang Cu-kang, “perempuan memang condong ke luar, kalau sudah punya suami, ayah ibu pun tak terpikir lagi. Kebanyakan perempuan di dunia memang begini, maka kau pun tak dapat disalahkan.”

“Kuminta jangan kau omong lagi,” kata Tong Lin dengan air mata bercucuran. “Aku pun tahu dosaku, tetapi menyesal pun sudah tidak keburu lagi, sebab apa yang terjadi ini tidak kubeberkan waktu itu, kemudian aku menjadi semakin tidak berani omong. Waktu ayah dimasukkan peti, akulah yang mengatur segala sesuatu, sebab aku kuatir luka pada tubuh beliau diketahui orang lain.”

“Jika demikian, urusan ini tak ada sangkut-pautnya dengan saudaramu yang lain?” tanya Yang Cu-kang.

“Ya, hakekatnya mereka tidak tahu apa pun,” kata Tong Lin.

“Hm, bagus, pemberani, kau memang pemberani dengan menanggung semua perbuatan ini,” jengek Yang Cu-kang.

“Hal ini memang kesalahanku, dengan sendirinya akulah yang harus bertanggung jawab,” kata Tong Lin dengan menangis.

“Tapi siapakah bakal suamimu itu? Masa orang lain tidak tahu?” tanya Yang Cu-kang.

“Perjodohan kami ini diputuskan oleh ayah dan mestinya akan diresmikan pada hari ulang tahunku yang ke 18 nanti, siapa tahu... siapa tahu belum lagi tiba hari ulang tahunku tapi beliau sudah... sudah...” dia menangis tersedu-sedu sehingga tidak sanggup melanjutkan.

“Apakah kau masih hendak menyembunyikan identitasnya?” tanya Yang Cu-kang dengan bengis.

Tong Lin menangis sambil menutup mukanya dan tidak menjawab.

Semua orang menjadi murka, ada yang berteriak “Siapa anak jadah itu? Kalau tidak kau katakan, cara bagaimana akan kau hadapi ayahmu di alam baka nanti, nona Tong?”

Tong Lin menggreget, seperti mengambil keputusan dengan tekad yang bulat, mendadak dia mendongak, katanya sambil menuding seorang, “Bakal suamiku itu adalah dia!”

Sungguh siapa pun tidak menyangka bahwa orang yang dituding oleh Tong Lin adalah Ji Pwe-giok!

Mimpi pun Pwe-giok sendiri juga tidak menduga, ia malah menyangka yang dimaksudkan Tong Lin adalah seorang yang berdiri di belakangnya, ia menoleh.

Tapi segera didengarnya Tong Lin menyambung lagi, “Dialah orang ini, Ji Pwe-giok.”

Keterangan ini tidak cuma menggemparkan para hadirin saja, para anak murid Tong juga serentak mengepung Pwe-giok di tengah, semuanya memelototinya dengan mata merah berapi, bagaikan sekawanan binatang liar yang sudah kalap. Mereka siap menerkam dan mengganyangnya.

Selama hidup Pwe-giok sudah acap kali dituduh dan difitnah, entah sudah berapa banyak dia mengalami kejadian di luar dugaan dan mengejutkan, namun tidak ada satu pun yang lebih menggetarkan hatinya dari pada sekarang ini. Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana harus membantah atau memberi penjelasan, seketika ia terkesima dan tidak dapat bicara.

Di ruangan besar itu kembali gempar, ada yang berteriak murka, ada yang mencaci-maki.

Ada yang berkata, “Sungguh tidak tersangka sudah membunuh Tong-loyacu, keparat ini masih juga berani datang ke sini, sungguh besar amat nyalinya.”

“Ya, tampaknya dia ramah tamah dan sopan santun, siapa tahu dia adalah manusia yang berhati binatang,” sambung yang lainnya.

Ada lagi yang menanggapi dengan suara tertahan, “Jika bukan pemuda cakap seperti dia ini, mana bisa Tong-jikohnio terpikat olehnya.”

Dengan sendirinya Lui-ji juga melenggong kaget, baru sekarang dara ini berteriak, “Tidak, bukan dia, tidak mungkin dia, kalian keliru!”

Laksana orang kesetanan dia menerjang ke tengah kerumunan orang banyak, kemudian menubruk ke samping Pwe-giok terus mendekapnya, dengan suara parau dia berteriak pula, “Tak mungkin dia melakukan hal ini. Apa lagi dua hari yang lalu hakekatnya dia tidak berada di sini, tapi masih berada beratus li jauhnya di sana, mana bisa dia terbang ke sini untuk membunuh oang?”

“Dari mana kau tahu dua hari yang lalu dia masih berada di tempat beratus li jauhnya?” bentak Tong Siu-hong mendadak.

“Dengan sendirinya aku tahu, karena selama ini aku selalu bersama dia,” jawab Lui-ji.

“Memangnya kau ini apanya?” tanya Siu-hong.

“Akulah isterinya,” jawab Lui-ji tegas.

Tong Siu-hong menggeleng dan menghela napas, katanya, “Aih, nona cilik, mungkin kau telah tertipu dan diperalat olehnya.”

Dengan suara parau Lui-ji lalu berteriak, “Meng... mengapa kalian tidak percaya dengan keteranganku? Mengapa kalian memfitnah orang baik-baik?”

“Orang semacam dia ini tak ada harganya untuk kau bela, nona cilik,” ujar Tong Siu-hong dengan gegetun. “Bila dia dapat menipu orang lain, maka cepat atau lambat kau pun akan tertipu olehnya.”

“Dia pernah menipu siapa? Coba katakan!” teriak Lui-ji.

“Kalau dia sudah mengikat jodoh dengan gadis keluarga Tong, tapi di luaran dia memelet pula dirimu, jahanam yang tidak berbudi pekerti seperti ini masakah masih saja kau bela?” teriak Siu-hong dengan gusar.

“Tapi hakekatnya dia tak pernah mengikat jodoh apa segala dengan orang keluarga Tong kalian,” kata Lui-ji.

“Dari mana kau tahu?” Siu-jing ikut bertanya.

“Tentu saja aku tahu, sebab sejak aku kenal dia, selama ini kami tidak pernah berpisah,” jawab Lui-ji tegas.

Gemerdep sinar mata Tong Siu-jing, tanyanya pula, “Bilakah kau kenal dia?”

“Aku... aku...” hanya satu kata saja Lui-ji berucap dan dia tidak mampu menyambung lagi. Sebab perkenalannya dengan Ji Pwe-giok belum lagi ada satu bulan lamanya, apa yang dilakukan Pwe-giok lebih sebulan yang lalu, tentu saja tak diketahuinya sama sekali.

Baru sekarang ia merasakan dirinya sama sekali tidak tahu apa pun mengenai diri Ji Pwe-giok, kecuali tahu namanya, urusan lain tidak pernah diberi-tahu oleh Pwe-giok. Bahkan namanya asli atau palsu juga tidak diketahuinya dengan pasti.

Tong Siu-jing segera melihat perubahan air muka si nona, katanya dengan lembut, “Nona cilik, urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, lebih baik kau menyingkir saja.”

“Apa... apa kehendak kalian?” tanya Lui-ji

Wajah para anak murid keluarga Tong tampak kelam dan masam, semuanya tutup mulut. Padahal tanpa menjawab pun semua orang tahu apa yang hendak mereka lakukan.

Jika betul Ji Pwe-giok telah membunuh orang tua mereka, mana bisa mereka melepaskan dia begitu saja. Semenjak tadi mereka sudah menyiapkan senjata rahasia maut di tangan masing-masing.

Kini Ji Pwe-giok terkepung oleh berpuluh orang. Asal Am-gi atau senjata rahasia mereka dihamburkan, biar pun punya sayap juga sukar bagi Pwe-giok untuk menghindar.

Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya dengan rawan, ”Ya, persoalan ini memang tidak ada sangkut-pautnya dengan kau, maka lebih baik kau menyingkir saja.”

Ia tahu mati hidupnya hanya bergantung dalam sedetik saja, maka ia tidak ingin membuat susah Lui-ji, apa lagi ia pun dapat melihat kini anak dara itu pun mulai curiga kepadanya dan tidak lagi percaya kepadanya seperti sebelum ini.

Lui-ji mengertak gigi dan berkata, “Tidak, bagaimana pun juga aku tahu hal ini pasti tidak akan kau lakukan.”

“Apa gunanya kalau tahu?” ujar Pwe-giok dengan tersenyum getir, “apa yang kau katakan hakekatnya tidak dipercaya mereka, padahal selain dirimu, siapa lagi yang dapat memberi kesaksian bahwa dua hari yang lalu hakekatnya aku tidak berada di sini.”

Ia menengadah dan menghela napas panjang, kemudian menyambung lagi dengan suara parau, “Ya, seandainya ada orang lain yang tahu, siapakah di dunia seluas ini yang sudi menjadi saksi bagi Ji Pwe-giok?”

Air mata Lui-ji sudah meleleh di pipinya.

Dilihatnya Tong Lin telah menyusup ke tengah orang banyak sambil berseru, “Ji Pwe-giok, jangan kau salahkan diriku, aku... aku terpaksa, maka kukatakan terus terang.”

Pwe-giok tersenyum pedih, katanya, “Ya, kau sangat baik, sangat baik...”

“Tapi bagaimanapun juga, bila kau mati, aku pun tidak ingin hidup lagi di dunia ini...” ucap Tong Lin dengan menangis.

Tiba-tiba Lui-ji membentak, “Kau perempuan jahanam, kau bikin dia celaka hingga begini, kau masih berani bicara lagi dengan dia!” Di tengah bentakannya segera dia menubruk ke sana.

Tong Lin tidak menangkis, juga tidak menghindar, ucapnya dengan pedih, “Bagus, biarlah kita mati bersama-sama saja!”

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu tangan Lui-ji sudah mencekik lehernya.

Tong Siu-jing bermaksud melerai mereka, tapi dicegah oleh Tong Siu-hong.

“Tidak perlu,” bisik Tong Siu-hong dengan suara tertahan, “Keluarga Tong kita sungguh tidak beruntung sehingga terjadi urusan begini, biarkan saja dia mati.”

Tong Siu-jing menoleh, dilihatnya Tong Ki masih berdiri kaku pada tempatnya tadi dengan wajah pucat seperti mayat, sama sekali tidak terlihat niatnya hendak mencegah keributan antara kedua nona itu.

Dalam pada itu para hadirin lantas berteriak-teriak, “Ji Pwe-giok, apa lagi yang akan kau katakan! Ayolah anak murid keluarga Tong, lekas kalian turun tangan, kami sama menanti hendak menggunakan hati keparat ini untuk sesaji di depan layon Tong-locengcu.”

Tapi Pwe-giok hanya berdiri berpangku tangan tanpa bicara apa pun, sebab ia tahu tiada gunanya bicara terhadap orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat ini.

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berseru, “Ji Pwe-giok, wahai Ji Pwe-giok, sungguh kau bernasib sial, tanpa sebab kau difitnah sebagai pembunuh. Tampaknya lebih baik kau mati di tanganku saja dari pada mati secara penasaran.”

Suaranya bergema sehingga kedengaran lebih keras dari pada suara beratus orang yang sedang berteriak itu. Tanpa terasa semua orang sama mendongak dan memandang ke atas. Baru diketahui mereka entah sejak kapan Yang Cu-kang telah melompat lagi ke atas belandar, dengan tangan memegang poci arak dan mulut menggigit sepotong paha ayam, sedang makan dengan nikmatnya.

“Difitnah apa? Bukti telah nyata, saksi juga ada, masa kau pun ingin membelanya?“ teriak Tong Siu-hong.

Yang Cu-kang menjengek, “Hm, bukti dan saksi? Di mana? Siapa pula yang menyaksikan dia membunuh Tong-locengcu? ”

“Apa yang dikatakan Ji-kohnio tadi masa tidak kau dengar?“ kata Siu-hong.

Yang Cu-kang menghela napas dan menggeleng, ucapnya, “Hanya berdasar keterangan seorang perempuan dan kalian lantas hendak menjatuhkan hukuman kepadanya, sungguh anggap nyawa orang bagai permainan anak kecil saja.”

Tong Siu-hong menjadi gusar, teriaknya, ”Memangnya kau anggap Ji-kohnio berdusta?”

“Ya, mana mungkin Jikohnio berdusta!” teriak orang banyak.

“Benar, tindakannya itu selain membikin celaka orang lain, dia sendiri pun susah dan ikut tersangkut, sungguh aku pun tidak paham kenapa dia berdusta? Yang jelas aku tahu dia memang berdusta.”

“Kau tahu? Kau tahu apa?!” teriak Siu-hong dengan murka.

“Aku tahu dengan pasti, malam kemarin dulu orang she Ji memang tidak berada di Tong-keh-ceng, tapi jauh berada di tempat ratusan li sana.”

“Hm, hanya berdasarkan keteranganmu saja masa dapat dipercaya?” jengek Siu-jing.

Yang Cu-kang menghela napas, katanya, “Ya, aku pun tahu keteranganku sulit dipercaya oleh kalian, sebab itulah sejak tadi aku diam saja.”

Baru saja habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara ‘cas’ satu kali menyusul lantas terjadi getaran dahsyat seperti langit runtuh dan bumi ambles. Belandar di ruangan pendopo itu mendadak patah, atap pendopo ambruk dengan menerbitkan suara gemuruh yang menggetar sukma.

Seketika jeritan kaget dan takut terdengar di mana-mana, semua orang berebut lari keluar agar tidak tertindih oleh gedung yang ambruk itu. Ada yang bertenaga lemah dan berilmu silat rendah, kontan roboh terinjak-injak sehingga timbul teriakan ngeri di sana-sini.

Tong Siu-hong, Tong Siu-jing dan lain-lain merasa kayu serta batu bertebaran menjatuhi mereka, maka terpaksa mereka harus mencari selamat lebih dulu. Dengan tangan mereka melindungi kepala masing-masing, tetapi walau pun begitu, tidak urung mereka pun tidak terhindar oleh urukan puing, bahkan sebelah kaki Tong Siu-hong tertindih kayu belandar sehingga patah dan dia merintih kesakitan.

Walau pun begitu, dia tetap berteriak memberi komando, “Awas, keparat she Ji itu jangan sampai lolos, jaga rapat pintu keluar!”

Tapi seluruh ruangan pendopo itu sekarang sudah kacau balau, mana Ji Pwe-giok dapat ditemukan lagi.

“Mungkin dia sudah kabur pada waktu kekacauan terjadi,” teriak Siu-jing dengan gusar.

Di tengah teriakannya, serombongan anak murid keluarga Tong yang tidak terluka sudah ikut dia menerjang ke luar. Tetapi baru sampai di ambang pintu, kembali debu pasir serta rontokan puing berhamburan dari depan, bahkan demikian kuatnya sehingga tanah pasir yang rontok ke lantai juga menerbitkan suara gemerasak.

Mendadak tampak Yang Cu-kang berdiri di depan pintu dengan tertawa, ucapnya dengan tenang, “Apa yang kalian kejar? Memangnya kalian tidak percaya kepada keteranganku? Kalau tidak percaya, agaknya terpaksa harus kuruntuhkan segenap rumah Tong-keh-ceng kalian.”

********************

Pada waktu terjadi kekacauan tadi, mendadak Pwe-giok mendengar suara Yang Cu-kang berkata di sampingnya, “Di sini dapat kulayani sendiri, lekas kalian menerjang keluar dan menyusur jalan raya, nanti kalian akan dipapak orang...”

Belum habis ucapan Yang Cu-kang, cepat sekali Pwe-giok menarik Cu Lui-ji dan sebelah tangan mengempit Tong Lin yang sudah jatuh pingsan itu, mereka terus menerjang keluar mengikuti arus manusia.

Tanpa banyak buang tenaga, dapatlah Pwe-giok menerjang keluar pintu, sebab Yang Cu-kang telah menghadang di depan sana, dan didengarnya di ruangan pendopo sana masih ramai dengan suara gemuruh.

Tetamu yang semula duduk makan minum di luar, karena diterjang oleh arus manusia yang membanjir keluar dari dalam, serentak mereka pun lari lintang pukang, meja kursi jungkir balik, mangkok piring pecah berantakan. Ada yang sol sepatunya agak tipis, begitu menginjak pecahan beling seketika menjerit kesakitan, tetapi baru menjerit kontan mereka diterjang roboh dan terinjak-injak oleh arus manusia.

Ada pula tamu yang hadir dengan membawa anak kecil, maksud mereka ingin berhemat, dari pada makan di rumah, mumpung ada pesta, nunut makan sekalian. Tapi siapa tahu keuntungan tidak diperoleh, sebaliknya malah tertimpa petaka.

Maka di tengah jeritan di sana sini terselip pula jerit tangis orang perempuan dan anak kecil.

Apa bila yang hadir cuma orang-orang kangouw saja, mungkin kekacauan itu akan lebih mudah diatasi, tetapi kini di antara tamu ditambah sanak famili dan sobat handai keluarga Tong di sekitar Tong-keh-ceng, maka suasana benar-benar kacau-balau tak keruan, ada orang yang biasanya bisa bersikap tenang, dalam keadaan begitu pusing kepala juga oleh suasana hiruk pikuk ini.

Hanya Pwe-giok saja yang sudah gemblengan dan kenyang siksa derita, pada saat-saat demikian masih tetap tenang dan kepala dingin. Sekejap ia menyapu pandang sekitarnya, segera ia menarik Lui-ji berlari menuju ke sebuah gang di sebelah kiri sana.

“Mengapa kita tidak menyusuri jalan raya, bukankah di situ katanya akan dipapak orang?” tanya Lui-ji.

Dengan suara tertahan Pwe-giok menjawab, ”Meski Yang Cu-kang menolong kita, tetapi kata-katanya tetap tidak boleh dipercaya, orang ini banyak tipu akalnya, tindak-tanduknya sukar diduga, dia menolong kita pasti dengan tujuan tidak baik. ”

“Betul, aku pun tidak habis mengerti mengapa dia tidak membunuh kita, sebaliknya malah menyelamatkan kita,“ kata Lui-ji.

Setelah masuk jalan kecil ini, orang berlalu tinggal sedikit, sebab pada umumnya semakin kacau suasananya, semakin sedikit juga orang yang menuju ke tempat sepi, kebanyakan orang tentu berlari menuju ke tempat yang banyak orangnya dan tidak bisa membedakan arah mana yang lebih aman.

Meski ada orang yang jelas-jelas tahu di depan ada jurang berapi, tapi bila melihat semua orang sama berlari ke sana, tanpa kuasa dia pun akan ikut orang banyak berlari ke situ. Sebab dalam keadaan demikian umumnya orang sudah kehilangan daya pikir, sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.

Di depan kelihatan pepohonan yang jarang-jarang, ternyata sebuah tempat yang sangat sunyi, suasana kacau balau tadi tampaknya sudah ditinggalkan jauh di belakang sana.

“Tempat apakah ini?” tanya Lui-ji.

“Tempat pribadi keluarga Tong,” jawab Pwe-giok.

Lui-ji terkejut, serunya, “Lari saja masih kuatir tersusul, lalu mengapa kita malah menuju ke tempat mereka? Memangnya kita sengaja mengantar nyawa?”

“Hanya jalan ini paling baik bagi kita,“ ujar Pwe-giok, “sekali pun rada berbahaya, terpaksa harus kita coba.”

Lui-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, “Kau mengira seluruh anggota keluarga mereka pasti berada di depan sana, maka sengaja kau tempuh bagian yang sepi dan penjagaan yang longgar ini?”

Belum lagi Pwe-giok menjawab, tiba-tiba sudah terdengar seorang menghardik, “Berhenti! Apakah kalian ingin lari?”

Berbareng dengan suara bentakan itu, belasan pemuda berpakaian ringkas ketat serentak melayang keluar dari balik hutan di sebelah kanan sana, yang menjadi pemimpin adalah orang yang terluka sebelah kakinya, darah di kaki yang cidera itu belum lagi kering, nyata dia inilah Tong-Siu-hong yang tadi tertindih oleh belandar patah itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner