IMBAUAN PENDEKAR : JILID-24


Orang ini benar-benar manusia baja, meski kaki sudah patah tulang, tapi tubuhnya masih tegak seperti tonggak.

“Kau lagi!” seru Lui-ji dengan gregetan. “Mengapa kau terus membuntuti kami?”

Dia tidak tahu bahwa Tong Siu-hong tidaklah sengaja mengejarnya, hanya lantaran jalan mereka dirintangi Yang Cu-kang maka terpaksa mereka harus memutar lewat belakang, siapa tahu secara kebetulan jalan lari Pwe-giok dan Lui-ji malah benar-benar tercegat.

Nasib manusia kadang-kadang memang sangat ajaib, seperti kata peri-bahasa, ‘Sengaja menanam bunga, bunga tidak berkembang. Tidak sengaja menanam pohon Liu, pohon ini justru tumbuh rindang’. Seluk-beluk hal demikian mungkin hanya orang-orang yang sudah mengalami sendiri barulah dapat memahaminya.

Baru habis Lui-ji berkata tadi, serentak anak murid keluarga Tong langsung terpencar dan mengepung mereka di tengah, akan tetapi mereka pun jelas merasa jeri, maka tak berani sembarangan turun tangan.

Berputar biji mata Lui-ji, segera dia tahu pihak lawan merasa kuatir bila melukai Tong Lin yang berada di dalam cengkeraman Pwe-giok. Maka dia lantas berkata dengan tertawa, ”Sebenarnya kami tidak membunuh Tong Bu-siang, selamanya kita tidak kenal mengenal dan tak ada sengketa apa pun, asalkan kalian melepaskan kami, segera kami kembalikan nona Tong kepada kalian.”

Ia menyangka ucapannya ini sudah cukup tepat. Siapa tahu Tong Siu-hong seakan-akan tidak mendengar saja, mendadak dia membentak, “Tok-soa!”

‘Tok-soa’ atau pasir berbisa adalah senjata rahasia keluarga Tong yang paling lihai, meski pun jaraknya tak dapat mencapai jauh, tetapi asal dalam lingkaran seluas kurang dari dua tombak, asalkan pasir beracun itu dihamburkan, jarang ada orang yang berhasil lolos dari serangannya, dan asalkan terkena satu butir pasir saja, kalau bagian lukanya tidak segera dioperasi, dalam waktu singkat bagian luka itu akan membusuk dan dalam waktu tiga hari orang itu akan mati.

Tong Siu-hong tidak malu berjuluk sebagai ‘Thi-bin-giam-lo’, si raja akhirat bermuka besi, artinya orang yang berhati keras tanpa kenal ampun, nyata dia sudah bertekad hendak mengambing-hitamkan Tong Lin, bila perlu nona itu akan dibiarkan mati bersama Ji Pwe-giok.

Di antara anak murid keluarga Tong ada juga sementara pemuda yang secara diam-diam menaksir Tong Lin, namun sekali mendengar perintah Tong Siu-hong, tiada seorang pun yang ragu dan membangkang. Dalam sekejap mata belasan tangan yang bersarung kulit menjangan sudah meraup pasir beracun yang berada di kantung masing-masing, apa bila tangan mereka ditarik kembali, segera akan terjadi hujan pasir, dan dalam jarak belasan tombak di sekitar Pwe-giok dan Lui-ji akan berada di bawah ancaman pasir berbisa itu.

Tapi sekarang mendadak Pwe-giok menerjang ke sebelah kiri.

Rupanya pada waktu Tong Siu-hong memberi perintah tadi, ia sempat melihat perubahan air muka dua orang pemuda di sebelah kiri, mereka memandang Tong Lin dengan sorot mata yang sedih dan tidak tega. Maka tahulah Pwe-giok bahwa kedua pemuda ini pasti diam-diam mencintai Tong Lin, serangan mereka tentu juga tidak tega, asalkan cara turun tangan mereka memperlihatkan agak ragu, tentu Pwe-giok ada harapan untuk menerjang keluar kepungan.

Walau pun cara demikian amat berbahaya, tapi dalam keadaan kepepet, tiada pilihan lain lagi baginya. Dia benar-benar menerjang keluar.

Tapi dia lupa terjangannya itu tetap tidak dapat lolos dari jangkauan pasir beracun itu, apa bila anak murid keluarga Tong itu menghamburkan pasir beracun dari belakang, tentu juga akan sulit menghindarkannya. Untunglah pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara Tong Ki berteriak,

“Berhenti, semuanya berhenti!”

Di tengah suara teriakannya, muncul Tong Ki bersama Li Be-ling, di belakang mereka ikut pula tujuh atau delapan orang pelayan berpakaian singset, semuanya berlepotan debu dan pasir.

“Hamburkan Tok soa, jangan sampai mereka kabur!” bentak Siu-hong dengan bengis.

“Jangan! Tidak boleh!” bentak Tong-ki tidak kurang bengisnya.

“Serang!” teriak Siu-hong pula sambil menghentak kaki.

Tong Ki juga menghentakkan kakinya ke tanah sambil berteriak, “Siu-hong, apa kau tidak pikirkan lagi keselamatan Ji-moay?”

Dalam pada itu para anak murid keluarga Tong sudah siap menggenggam pasir berbisa, tetapi kini semuanya ragu dan serba salah, entah perintah siapa yang harus mereka turut. Sementara itu Pwe-giok dan Lui-ji sudah sempat menerjang pergi beberapa puluh tombak jauhnya.

“Kohnaynay (bibi), jika kau memikirkan hubungan pribadi, keluarga Tong bisa hancur oleh tindakanmu ini,“ seru Siu-hong dengan suara parau.

Tiba-tiba Li Be-ling ikut bicara, “Urusan ini tidak perlu kalian ikut campur, kujamin mereka takkan bisa kabur, turutlah kepada perkataanku dan tentu takkan salah.”

Biasanya Li be-ling terkenal sangat pendiam dan jarang bicara, maka setiap kata-katanya cukup berbobot.

Tong Siu-hong melotot, katanya, ”Baik, biarlah kuserahkan mereka kepada kalian.”

Sembari bicara rombongan anak murid keluarga Tong itu tetap mengejar ke depan sana. Sebaliknya Pwe-giok membawa seorang tawanan, jalanan tidak apal pula, maka sukarlah untuk lolos dari kejaran lawan. Namun setelah Siu-hong memberi tanda, pengikutnya tadi lantas berhenti mengejar, hanya tinggal Li Be-ling dan Tong Ki yang masih terus mengejar ke depan.

Dengan ginkang Pwe-giok dan Lui-ji, mestinya mereka dapat meloloskan diri dari kejaran musuh, tetapi apa yang dapat dikatakan lagi kalau di depan sudah buntu, beberapa rumah tampak menghadang di depan sana, di belakang rumah adalah dinding tebing belaka.

Yang dipikir Pwe-giok hanya selekasnya meloloskan diri, tiada hasratnya untuk bergebrak dengan lawan. Dia tidak ingin mencelakai lawan, juga kuatir sukar kabur kalau terlibat lagi dalam pertempuran, namun kini keadaan memaksanya mau tak mau harus menggunakan kekerasan.

Tanpa terduga, setiba di sini, Tong Ki dan Li Be-ling lantas berhenti jauh di sana dan tidak mendesak maju lagi. Malah Tong Ki memberi tanda lambaian tangan, agaknya menyuruh mereka lekas pergi.

Pwe-giok jadi melengak, seperti ingin bicara sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi. Ia tarik Lui-ji dan menerjang masuk ke dalam deretan rumah di depan.

Tampak segala sesuatu yang terdapat di dalam rumah itu teratur dengan rapi, setiap alat perabotnya serba antik dan indah.

Lui-ji menggeleng, katanya, “Aku tidak paham kenapa Yang Cu-kang menolong kita, tapi aku lebih-lebih tak habis mengerti bahwa Tong-toakohnio ini pun menolong kita, sungguh aneh dan ajaib.”

“Di dunia ini memang banyak kejadian yang tak terduga,” ucap Pwe-giok.

“Dan bahwa Tong-jikohnio bisa membikin susah padamu, mungkin juga tidak kau sangka bukan?” jengek Lui-ji tiba-tiba.

Pwe-giok hanya menghela napas dan tidak bicara lagi.

Saat itu Tong Lin belum lagi siuman. Pwe-giok menaruhnya di atas kursi, lalu dia mencari di seluruh ruangan.

Lui-ji tidak tahu apa yang dicari anak muda itu, dia coba tanya, “Tempat apakah di sini?”

“Kamar pribadi Tong Bu-siang,” jawab Pwe-giok.

Lui-ji terkesiap, ucapnya, “Tong-toakohnio sudah menolong kita, tapi kesempatan ini tidak kita gunakan untuk kabur. Untuk apa kita berbalik lari masuk ke kamar rahasia Tong Bu-siang?”

“Untuk mencari jalan keluarnya.”

“Jalan keluar? Masa di sini ada jalan keluarnya?”

Belum lagi Pwe-giok menjawab, Lui-ji sudah melihat dipan di pojok kamar mulai bergeser, di bawah tempat tidur itu muncul sebuah lorong di bawah tanah yang sangat gelap.

“Hah, kiranya di sini memang ada jalan keluar rahasia,“ seru Lui-ji sambil berkedip-kedip, “pantas saja Tong-jikohnio mengatakan kau masuk ke sini melalui jalan rahasia, caranya berdusta ternyata sangat hidup dan seperti terjadi sungguhan.”

Pwe-giok hanya menyengir saja tanpa menanggapi, segera dia mendekati Tong Lin lantas mengangkatnya.

Mendadak Lui-ji mendengus, “Hm, tampaknya kalian memang tidak mau berpisah sedikit pun, kukira lebih baik kalian berdua diikat menjadi satu saja dengan tali.”

Sementara itu Pwe-giok sudah melangkah turun ke lorong di bawah tanah itu, tiba-tiba dia menoleh dan berkata, “Saat ini bukan waktunya bicara, maukah kau tutup mulut?”

Terkesiap Lui-ji, matanya menjadi merah. Belum pernah Pwe-giok bicara padanya dengan muka masam seperti ini.

Pwe-giok berjalan di depan dengan hati-hati. Setelah berjalan sekian jauhnya, ia menghela napas dan berkata,” Nah, apa yang hendak kau katakan sekarang boleh kau katakan saja sepuasmu.”

Tapi mulut Lui-ji justru tertutup rapat-rapat.

“Meski tadi tidak kau bunuh dia, tetapi aku tahu dia pasti terkena racun di tubuhmu, kalau sekarang kau paham maksudku, hendaklah kau punahkan dulu racun dalam tubuhnya.”

Tapi Lui-ji tutup mulut semakin rapat, seakan-akan tidak mau lagi dibuka.

Pwe-giok berkerut kening, katanya, “Kenapa sekarang kau malah tidak mau bicara.”

Lui-ji tetap tutup mulut, hanya dengan jarinya dia menuding Pwe-giok, lalu menuding pula mulutnya sendiri.

Pwe-giok tersenyum, ucapnya, “Sekarang kau telah dewasa, masa masih suka ngambek seperti anak kecil?”

Mendengar dirinya dianggap sudah ‘dewasa’, Lui-ji tertawa. Dengan mulut menjengkit dia berkata, “Kau yang suruh aku tutup mulut, aku kan selalu menuruti perintahmu saja.”

“Jika begitu, lekaslah kau menolong dia,“ kata Pwe-giok.

Mata Lui-ji kembali merah, dia menggigit bibir dan berkata, “Tahumu hanya menyuruh aku menolong dia, kau hanya gelisah baginya, kenapa tidak kau tanyakan diriku, apakah juga terkena racunnya atau tidak? Anggota keluarga Tong mereka kan juga terkenal sebagai ahli racun?”

“Meski senjata rahasia berbisa keluarga Tong sangat terkenal, tapi kau sendiri kan...”

“Aku kenapa? Aku ini orang berbisa, begitu? Barang siapa sudah menyentuh diriku pasti keracunan, begitu? Jika demikian, kenapa sampai sekarang kau tidak keracunan?”

Pwe-giok jadi melenggong, jawabnya, “Soalnya aku... aku melihat Gin-hoa-nio yang cuma menampar kau satu kali dan tangannya lantas keracunan, anggota Thian-can-kau itu pun hanya mencolek kau sekali dan dia juga...”

“Tapi Tong-jikohnio ini kan tidak memukul dan mencolek diriku? Jika racun di tubuhku tak dapat kukuasai sendiri, mungkin sejak dulu Sacek sudah mati keracunan.”

“O, jadi begitu, jadi dia tidak keracunan?”

“Memangnya kau kira aku ini orang goblok dan tidak tahu bahwa nona Tong kita ini tidak boleh dibunuh?”

Pwe-giok menghela napas lega, katanya, “Ai, rupanya aku salah mengomeli kau, soalnya kulihat sampai saat ini nona Tong itu belum lagi siuman, maka kukira...”

Belum habis ucapan Pwe-giok, Lui-ji mendekati Tong Lin lantas menepuk bahunya sambil mendengus, “Tong-jikohnioku sayang, tampaknya kau tidak cuma pintar berdusta, caramu pura-pura juga sangat ahli. Akan tetapi bila kau tidak segera siuman, sekarang juga akan kubelejeti pakaianmu.”

Tubuh Tong Lin tampak bergetar, benarlah dia lantas membuka mata.

Lui-ji melototi Pwe-giok, katanya, “Nah, sekarang tentunya kau paham apa yang terjadi. Lantaran kuatir ditanyai, maka dia sengaja pura-pura mampus... Hm, tanpa membedakan hitam dan putih lantas menuduh orang yang tidak bersalah, malahan menganggap dirinya sangat pintar dan cerdik, huh!”

Terpaksa Pwe-giok menerima omelan itu dengan jujur, bahkan tunduk lahir batin.

Mulut Lui-ji menjengkit, dia melengos sambil mengejek pula, “Nah, Tong-jikohnio, apakah sekarang kau masih segan untuk bangun berdiri?”

Muka Tong Lin yang pucat itu kelihatan merah, dia menggreget, jawabnya, “Sudah jelas kau... kau tahu hiat-to kakiku tertotok, tapi kau bicara seenaknya.”

“Memang kadang-kala aku juga bisa membikin dongkol orang,” ujar Lui-ji acuh tak acuh. “Memangnya hanya kalian saja yang boleh memfitnahku dan aku tidak boleh membalas?”

Sekujur badan Tong Lin gemetar saking gemasnya, tapi tak dapat menjawab.

Pwe-giok menghela napas, katanya kemudian. “Ji-kohnio, aku tidak ada permusuhan apa pun dengan kau, mengapa kau sengaja mencelakai diriku?”

Tiba-tiba Lui-ji mendengus pula. “Kau boleh sembarangan menuduh diriku, tentu dia boleh pula sembarangan menuduhmu. Kalian berdua adalah sepasang ahli yang suka menuduh orang baik, kenapa kau salahkan dia? ”

Sungguh Pwe-giok serba susah, dia hanya menyengir saja, tapi sekarang dia tidak berani lagi menyuruh Lui-ji tutup mulut, sebab dia telah mendapatkan suatu pelajaran berharga pula, yaitu: Jangan sekali-kali kaum lelaki menyuruh orang perempuan tutup mulut. Sebab seketika itu mungkin si dia akan benar-benar tutup mulut, tapi seterusnya bukan mustahil dia akan cerewet selama hidup.

Kini Tong Lin yang benar-benar tutup mulut, dia seperti sudah mengambil keputusan tak akan bicara lagi.

Dengan suara lembut Pwe-giok membujuknya. “Caramu bersikap ini bisa jadi lantaran kau pun mempunyai kesulitan, sebab jelas kau bukan seorang yang suka berdusta.”

“Hm, justru lantaran dia bukan seorang yang suka berdusta maka apa yang diucapkannya tentu dipercaya orang lain,” jengek Lui-ji. “Bila dia kelihatan sebagai seorang perempuan bawel, tentu tiada orang yang mau percaya kepada ocehannya.”

Setiap kali Pwe-giok tanya Tong Lin, yang ditanya tidak bersuara, tapi malah Lui-ji selalu mendahului menanggapi.

Terpaksa Pwe-giok berlagak pilon dan bersabar, katanya pula, “Bisa jadi ada alasanmu yang kuat sehingga terpaksa kau berdusta, asalkan kau tuturkan terus terang, pasti tidak kusalahkan kau.”

“Hm, bisa jadi memang benar-benar kekasihnya yang membunuh Tong Bu-siang itu, demi untuk menyelamatkan kekasihnya, maka dia perlu mencari seorang sebagai tumbal,” Lui-ji menjengek lagi.

Sekali ini dia tidak menanggapi dengan ngawur, tapi yang dikemukakan tadi cukup masuk akal.

Terbeliak mata Pwe-giok, serunya, “Masa benar-benar kau tahu siapa si pembunuhnya?”

“Sudah tentu dia tahu.“ Lagi-lagi Lui-ji mendahului menanggapi, “Tapi caramu bertanya ini tentu juga takkan mendapatkan jawabannya.”

Lalu Lui-ji mendekati Tong Lin, dan dengan bengis ia berkata, “Sesungguhnya siapa yang membunuh Tong Bu-siang itu? Jika tetap tidak kau katakan, segera ku...”

Belum habis ucapannya, mendadak seorang menanggapi dengan suara perlahan, “Orang yang membunuh Tong Bu-siang itu ialah diriku ini.”

Dalam kegelapan itu, entah sejak kapan sudah bertambah sesosok bayangan orang yang berwarna putih kelabu, seperti badan halus saja yang mendadak muncul di situ.

Karena tidak dapat melihat jelas wajah orang itu, Pwe-giok dan Lui-ji berseru berbareng, “Siapa kau?”

Orang itu tidak menjawab, tapi lantas mengetik api. Di bawah cahaya api tampak seorang perempuan berkabung, geretan api yang dipegangnya berkelip seperti api setan, wajahnya pucat lesi tanpa warna darah sedikit pun.

Melihat orang ini, Pwe-giok benar sangat terperanjat, serunya tanpa terasa, “He, kau?!”

“Ya, betul aku!” sahut orang itu sambil menghela napas.

“Sungguh tidak tersangka olehku yang berbuat itu adalah dirimu,” kata Pwe-giok dengan gegetun.

Tiba-tiba Lui-ji membentak, “Kau berani mengaku sebagai si pembunuhnya di depan kami, apakah kau sudah bertekad akan membunuh kami untuk menghilangkan saksi?”

Orang itu mendengus, “Huh, jika ingin kubunuh kalian, mengapa tadi kutolong kalian?”

Orang yang mengaku sebagai ‘pembunuh’ ini ternyata adalah nona besar keluarga Tong, yaitu Tong Ki.

Air mata Tong Lin sudah bercucuran, ucapnya dengan suara parau, “Toaci, untuk apa kau datang kemari? Aku sudah jelas tak dapat hidup lagi, juga tidak ingin hidup lebih lama lagi, mengapa tidak kau biarkan kutanggung dosa ini?”

“Aku tahu tindakanmu ini adalah demi diriku,” ucap Tong Ki dengan nada rawan. “Kau rela mengorbankan dirimu, kau memang anak yang baik, tapi aku...”

“Aku pun tahu tindakan toaci ini adalah demi mempertahankan nama baik keluarga Tong kita...”

“Bagus, bagus! Kalian semuanya adalah anak baik, apa yang kalian lakukan semuanya beralasan. Tapi apakah Ji Pwe-giok harus ikut dikorbankan?” teriak Lui-ji mendadak.

Tong Ki menarik napas panjang, katanya. “Ya, aku tahu tindakan kami ini telah membikin susah Ji-kongcu, tapi di dalam persoalan ini sesungguhnya memang mengandung banyak rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar. ”

“Masa sekarang kami belum juga berhak mengetahui rahasia ini?” tanya Lui-ji.

“Kedatanganku untuk menemui kalian ini justru sudah siap hendak kuberi-tahukan rahasia ini kepada kalian,” ucap Tong Ki. Dia berhenti sejenak dan tersenyum getir, lalu kembali melanjutkan, “Tentu di dalam hati kalian merasa sangat heran mengapa aku membunuh ayah sendiri, bukan?”

“Ya, aku memang sangat heran,” kata Lui-ji.

“Setelah kuberi-tahu rahasia ini, kuharap kalian jangan menyiarkannya, sebab rahasia ini sesungguhnya sangat penting.”

“Masa kau tidak percaya kepada Ji Pwe-giok?” Lui-ji mendahului bertanya.

“Justru lantaran aku tahu bahwa Ji-kongcu adalah seorang kuncu sejati maka aku datang ke sini...” mendadak Tong Ki tersenyum misterius, “Ketahuilah oleh kalian, Tong Bu-siang yang kubunuh itu sebenarnya bukanlah ayahku.”

Dia mengira keterangannya ini pasti akan membikin kaget Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji, tak terduga Lui-ji hanya mencibir saja dan berkata, “Rahasia ini tidak luar biasa, sebelumnya kami sudah tahu.”

Tong Ki berbalik terperanjat, serunya, “Apa?! Kalian sudah tahu sebelumnya?”

“Ya, memang betul,“ tukas Pwe-giok.

Sesungguhnya Pwe-giok adalah pemuda yang pendiam, apa lagi berada bersama Lui-ji, kesempatannya bicara boleh dikatakan sangat sedikit, sejak tadi sampai sekarang, hanya ketiga kata itu saja sempat diucapkannya.

Malah sekarang Lui-ji terus mendahului berkata pula, “Tidaklah heran jika hal ini diketahui oleh kami, yang kuherankan justru cara bagaimana kalian pun mengetahuinya?”

Tong Ki tersenyum getir, tuturnya, “Sebenarnya urusan keluarga Tong ini hanya diketahui olehku sendiri, tapi ternyata kalian pun mengetahuinya, tentu saja amat mengherankan.”

“Malahan kami tahu pula bahwa Tong Bu-siang gadungan itu aslinya cuma seorang kusir,” kata Lui-ji pula.

“Kusir?” Tong Ki menegas dengan tercengang.

“Betul, hanya seorang kusir,” kata Lui-ji. “Ia berkasak-kusuk dengan anak buah Ji Hong-ho di Bong-hoa-lou sana, mereka tidak tahu kami mengintipnya dari balik dinding sehingga rahasianya ketahuan.”

Mendingan dia tidak bicara, sebab Tong Ki tambah bingung oleh ceritanya itu.

Dengan menyesal Pwe-giok berkata, “Urusan ini memang sangat ruwet, tapi yang paling penting haruslah diketahui oleh nona, bahwa semua tipu muslihat ini, semua intrik keji ini datang dari... dari Ji Hong-ho itu, dialah yang mendalangi semua kejadian ini.”

“Ji Hong-ho?” Tong Ki menegas pula dengan melenggong. “Kau maksudkan Ji-lo-siansing yang menjadi Bu-lim bengcu itu?”

“Betul, siapa lagi kalau bukan dia?” jawab Pwe-giok dengan menggreget.

Tong Ki tambah tercengang, katanya, “Dan apa sangkut-pautnya dengan urusan keluarga Tong kami ini?”

“Justru lantaran dia ingin menguasai keluarga Tong yang berpengaruh ini, maka dia telah menculik Tong-locianpwe untuk dipalsukan,“ tutur Pwe-giok. “Tindakannya ini sebenarnya berlangsung dengan sangat rahasia, siapa tahu secara tidak sengaja dapat kami pergoki.”

“Kedatangan kami ke sini justru hendak membongkar tipu muslihatnya itu,” timbrung Lui-ji tak tahan.

Tong Ki melengak sejenak, mendadak dia bergelak tertawa.

Pwe-giok dan Lui-ji bertukar pandang dengan bingung, mereka tidak tahu mengapa nona besar keluarga Tong itu tertawa sedemikian geli.

Setelah tertawa sekian lamanya tiba-tiba Tong Ki menarik napas panjang dan bergumam, “Agaknya inilah yang disebut manusia berencana, Thian yang menentukan. Betapa pun usaha manusia takkan berhasil jika Thian tidak berkenan.”

“Apa maksudmu?” tanya Lui-ji sambil berkerut kening.

“Terus terang, ayahku sudah wafat belasan tahun yang lalu,” tutur Tong Ki dengan suara tertahan.

Kembali Pwe-giok terkejut, serunya, “Belasan tahun yang lalu? Tapi jelas... jelas ku...”

“Waktu beliau wafat, saat itulah suasana di daerah Sujwan sedang kacau balau, keluarga Tong kami pada saat itu pun menghadapi sesuatu yang sangat berbahaya,” tutur Tong Ki. “Berkat mendiang ayahku dapat bertahan dengan tenang sehingga segala kesulitan dapat diatasi. Tetapi beliau kuatir apa bila dia meninggal, suasana bisa kacau lagi, maka beliau sengaja mencari seorang duplikat untuk menyaru sebagai dirinya, guna mengatasi segala kemungkinan.”

Dia tertawa, lalu melanjutkan, “Duplikat yang ditemukan ayah itu adalah seorang paman yang masih sanak keluarga kami dan bukanlah kusir segala. Paman ini memang sangat mirip ayah, setelah dirias, sukarlah orang luar akan membedakannya. Apa lagi seumpama ada sesuatu yang tidak betul, orang-orang tentu akan menyangka karena ayah habis sakit sehingga terjadi perubahan.”

“Jika demikian, jadi Tong-locianpwe yang pernah kutemui itu sesungguhnya juga palsu?” kata Pwe-giok dengan menyesal.

Baru sekarang dia paham, mengapa Tong Bu-siang itu kelihatan takut urusan, terkadang sikapnya tidak menampilkan wibawa seorang pemimpin.

Akhirnya dia pun paham sebab apa ‘Tong Bu-siang’ itu mengkhianatinya.

“Paman itu memang bukan seorang bijaksana dan cekatan, maka sebelum wafat, ayah telah pesan kepadaku secara wanti-wanti agar paman itu hanya dijadikan sebagai boneka saja. Bila suatu waktu timbul pikiran jahatnya hendak merebut kedudukan dan merampas kekuasaan, ayah menyuruhku agar cepat membinasakan dia tanpa ragu,” setelah berhenti sejenak sambil menghela napas, lalu Tong Ki menyambung, “Justru karena diberi tugas berat ini oleh mendiang ayahku, terpaksa kujaga keluarga ini sepenuh tenaga, betapa pun aku tak dapat menikah dan ikut suami.”

Teringat kepada pengorbanan Tong Ki yang besar ini, tanpa terasa Pwe-giok ikut terharu dan bersedih baginya. Seorang perempuan rela mengorbankan masa muda sendiri dan hidup kesepian, kehidupan demikian tidaklah mudah dilakukan setiap orang.

“Selama belasan tahun ini,” tutur Tong Ki pula, “pamanku itu tampaknya hidup prihatin juga, segala persoalan akulah yang memutuskan, dia sendiri tidak berani bertindak di luar tahuku. Siapa tahu, setelah pulang sekali ini, dia kelihatan berubah, dalam waktu sahari saja dia berani mengambil keputusan sendiri dan mengeluarkan belasan macam perintah. Demi untuk melaksanakan pesan ayah, terpaksa kubunuh dia.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung lagi, “Tapi aku pun tidak menyangka bahwa di balik kepalsuan itu, masih ada tiruan pula. Kejadian aneh di dunia ini sungguh terkadang jauh lebih mustahil dari pada dongeng.”

Termangu-mangu Lui-ji mendengarkan ceritanya, baru sekarang dia tersenyum getir dan bergumam, “Ya, memang tidaklah gampang bila suatu keluarga persilatan ternama ingin mempertahankan nama dan kehormatannya.”

Tong Ki tersenyum pedih, katanya, “Benar, umumnya orang hanya tahu kebesaran dan kejayaan keluarga Tong kami, tapi siapa yang tahu di balik kejayaan ini tersembunyi entah betapa banyak pahit getir, betapa banyak mengalirkan darah dan air mata...”

Dia seperti terkenang kepada kejadian-kejadian di masa lampau, tanpa terasa air matanya bercucuran.

Pwe-giok jadi teringat kepada nasib Tong Ki yang pernah bertunangan 2-3 kali, tapi setiap kali bakal suaminya selalu mati mendadak, apakah orang-orang itu hanya mati secara kebetulan? Adakah di balik kematian itu tersembunyi suatu rahasia?

Teringat demikian tanpa terasa Pwe-giok bergidik.

Dia tak ingin memikirkannya lagi, juga tak sampai hati untuk memikirkannya, bagaimana pun juga Tong Ki harus dianggap sebagai anak perempuan yang tak beruntung dan perlu dikasihani.

Kejayaan hanya bisa diperoleh dengan macam-macam imbalan yang besar. Sejak dahulu kala, di balik soal ‘kejayaan’, entah telah berapa banyak menimbulkan korban, entah telah berapa banyak tulang-belulang yang bertumpuk dan berapa banyak darah yang mengalir.

Dan semua ini apa cukup berharga?

Lui-ji termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah Tong Giok juga tidak tahu rahasia keluarga kalian ini?”

“Tidak, dia pun tidak tahu,” jawab Tong Ki.

“O, pantas dia...“ mendadak Lui-ji tidak melanjutkan ucapannya, sebab dia merasa orang yang telah mati tidak perlu lagi disinggung perbuatannya yang memalukan itu.

Pwe-giok memandangnya sekejap sebagai tanda memujinya.

Betapa pun pada dasarnya Lui-ji adalah anak perempuan yang berhati bajik, cuma seperti juga kebanyakan anak perempuan di dunia ini, terkadang dia suka banyak bicara walau pun sebenarnya bukan waktunya untuk bicara.

Tong Ki lantas menutur pula, “Kecuali diriku dan paman itu, di dunia ini jelas tiada orang lain lagi yang tahu rahasia penyamaran ini. Sebab waktu itu adik-adikku masih kecil, maka ayah menyuruhku sekalian merahasiakan urusan ini bagi mereka.”

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun. Dia tahu Tong Jan juga pasti tidak tahu rahasia ini, kalau tidak, mustahil dia mau membantu Tong Bu-siang gadungan itu untuk mengkhianatinya dahulu.

Rupanya, setelah belasan tahun menjadi boneka, Tong Bu-siang palsu itu tidak rela dan merasa penasaran, maka dia lantas bersekongkol dengan Ji Hong-ho untuk mempertinggi kedudukan sendiri dan memperkuat kekuasaannya.

Meski dia telah mengkhianati Ji Pwe-giok, tetapi dia tidak menjual keluarga Tong, sebab itulah ketika ajalnya sudah dekat, dia tetap tidak memberi-tahukan rahasia kepalsuannya sendiri kepada Ji Hong-ho.

Pwe-giok menghela napas panjang, ucapnya, “Apa pun juga pamanmu itu tidak bersalah terhadap keluarga Tong kalian.”

Tong Ki menghela napas, katanya, “Demi kehormatan keluarga terpaksa harus berkorban sendiri, inilah penderitaan kebanyakan murid-murid keluarga persilatan di dunia ini, juga supaya semangat dasar keluarga persilatan ini dapat bertahan hidup di dunia persilatan.”

“Tadinya aku pun sangat mengagumi para murid keluarga persilatan, tapi sekarang...“ Lui-ji berucap dengan rawan, sebab ia pun mempunyai penderitaannya sendiri, menjadi puteri ‘Siau-hun-kiongcu’, betapa pun bukanlah sesuatu yang enak.

Selang sejenak, tiba-tiba ia bertanya pula, “Rahasia ini mungkin tidak diketahui orang lain, tapi Ji-kohnio tentunya tahu, bukan? ”

“Dia baru tahu pada kemarin malam, “jawab Tong Ki.

“Ooh? Baru kemarin malam? “Lui-ji merasa heran.

“Ya, baru kemarin malam, memang betul ada sesuatu yang harus dia bicarakan dengan Tong... Tong Bu-siang itu. Setiba di luar pintu, ia memang berhenti di sana, sebab saat itu aku sedang bicara di dalam kamar.”

“O, jadi dia menyaksikan kau bunuh Tong Bu-siang itu, tentu saja dia terkejut, ketika kau tahu dia berada di luar kamar, terpaksa rahasia keluargamu itu kau beritahukan padanya, begitu?“ tanya Lui-ji.

“Ya, memang betul begitu,“ sahut Tong Ki.

“Aku memang sedang heran mengapa kalian tidak mau menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.”

“Soalnya waktu itu kami belum mengetahui liku-liku urusan ini, lebih-lebih tidak tahu kalau Tong Bu-siang palsu itu telah dipalsukan pula oleh orang lain.”

Lui-ji menjengek, “Hmm, kalian tidak ingin orang luar mengetahui perebutan kekuasaan di tengah keluarga sendiri, demi menjaga nama baik keluarga Tong, lantas kalian korbankan Ji Pwe-giok, begitu bukan?”

Terpaksa Tong Ki menghela napas panjang, sebab dia memang tak dapat menjawabnya.

Lui-ji melototi Tong Lin, katanya pula dengan perlahan, “Ji-kohnio, ingin kuminta sebuah penjelasan kepadamu.”

Tong Lin menundukkan kepala, seakan-akan tak mau mendongak lagi untuk selamanya.

Maka Lui-ji berkata pula. “Jika kau perlu mencari tumbal, siapa pun boleh kau cari, tetapi kenapa pilihanmu jatuh pada diri Ji Pwe-giok? Ada persoalan apa antara kau dengan dia?”

Kepala Tong Lin tertunduk lebih rendah lagi, air mata pun berderai.

Mendadak Tong Ki menghela napas, katanya, “Dari pada kau minta penjelasannya, lebih baik aku saja yang berbicara baginya.”

“Hm, ternyata kau pun tahu apa sebabnya, jangan-jangan hal ini pun atas gagasanmu?” jengek Lui-ji.

Tong Ki tak tahan, ia pun balas menjengek, “Hm, jika gagasanku, tentu takkan jadi begini, sebab biar pun Ji-kongcu adalah pemuda cakap yang jarang ditemukan, tapi rasanya tidak berarti apa-apa bagiku.”

Dia seperti dibikin marah oleh Lui-ji sehingga cara bicaranya juga tidak sungkan-sungkan lagi.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner