IMBAUAN PENDEKAR : JILID-26


Isteri Yang Cu-kang ternyata tak lain tak bukan ialah Thi-hoa-nio.

Sungguh mimpi pun tak terpikir oleh siapa pun. Seumpama saat itu dari dapur mendadak muncul siluman yang berkepala tiga dan berenam tangan takkan membuat mereka lebih kaget dari pada sekarang.

Mulut Lui-ji sampai melongo seakan-akan sukar terkatup kembali. Karena terlampau lebar mulutnya melongo sehingga sepotong Ang-sio-bak yang baru saja dimasukkan ke mulut itu hampir jatuh keluar.

Dengan muka merah Thi-hoa-nio berucap, “Masakanku kurang enak, hendaknya jangan kalian tertawakan.”

“Ahh, janganlah... enso merasa sungkan,” kata Pwe-giok.

Betapa pun sabarnya, kini dia pun harus melongo dan tergagap, sebutan ‘enso’ itu harus diucapkannya dengan sepenuh tenaga.

Muka Thi-hoa-nio semakin merah, katanya, “Pak-lay-cah ini harus dimakan selagi hangat-hangat, hendaknya Ji-kongcu jangan sungkan.”

“Ya, ya, aku tidak sungkan,” kata Pwe-giok.

Sungguh dia tidak tahu apa yang dapat dikatakannya lagi, maka terpaksa mulutnya diisi saja dengan Pak-lay-cah.

Apa pun juga Pwe-giok dapat menahan perasaannya, tapi Lui-ji tidak sanggup bertahan lagi, mendadak dia melonjak bangun lantas berseru, “Jadi kau benar-benar telah menikah dengan dia?”

Thi-hoa-nio menengadah, ucapnya dengan tersenyum, “Seorang perempuan, lambat atau cepat kan harus menikah, bukan?”

Cu Lui-ji duduk lagi di kursinya, ia menggeleng kepada dan berkata, “Sungguh aku tidak paham, mengapa kau bisa menikah dengan makhluk aneh ini.”

“Kau memandang diriku sebagai makhluk aneh, tapi tidak aneh bagi pandangannya,” ujar Yang Cu-kang dengan tertawa. “Ini namanya lain ladang lain belalangnya, lain pandang lain pula kesimpulannya. Kalau tidak, setiap perempuan di dunia ini kan serupa nona Cu, hanya Ji-heng saja yang sedap dalam pandanganmu dan lelaki lain tak ada satu pun yang cocok. Wah, bisa runyam kaum lelaki.”

Mendadak dia angkat guci arak dan bergumam, “Eh, entah betapa enak rasa guci arak ini dan entah siapa yang beruntung dapat mencicipinya.”

Lui-ji menarik nafas panjang, “Tidak perlu kau pancing diriku, karena sudah kalah dengan sendirinya akan kutelan guci arak ini. Apa artinya kalau hanya menelan guci arak sekecil ini? Bagiku rasanya lebih mudah dari pada makan sayur.”

“Ha, kalau benar kau sanggup barulah aku benar-benar kagum kepadamu,” ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.

“Baik, boleh kau lihat saja nanti,” kata Lui-ji.

Dia benar-benar mengangkat guci arak itu.

Seketika mata Yang Cu-kang terbelalak. Dia tahu bahwa segala sesuatu dapat diperbuat oleh anak dara ini, bisa jadi dia benar-benar akan menelan guci arak itu, maka dia ingin tahu dengan cara bagaimana guci itu akan ditelannya.

Dilihatnya Cu Lui-ji mengangkat guci itu ke atas, lalu dipandang dari kiri dan diamati dari kanan, mendadak Lui-ji menggoyang kepala dan berucap, “Ah, tidak, tidak benar.”

“Apanya yang tidak benar?” tanya Yang Cu-kang.

“Guci arak yang kukatakan tadi bukanlah guci ini, hendaknya kau pergi ke kelenteng tadi dan mengambilkan guci yang berada di sana,” kata Lui-ji.

Saking geli, akhirnya Yang Cu-kang bergelak tertawa.

“Apa yang kau tertawakan? Pergilah ambil! Sudah lama ingin kucicipi rasanya guci arak, sungguh aku tidak sabar menunggu lagi!” seru Lui-ji.

“Nona berkata demikian, tentunya kau kira aku malas pergi ke sana,” kata Yang Cu-kang dengan suara perlahan. “Padahal jarak ke kelenteng itu tidak terlampau jauh dari sini, apa halangannya kalau aku pergi lagi ke sana.”

Sembari bicara dia lantas berdiri sungguh-sungguh.

“Hm, kalau mau pergi lekaslah pergi, aku tidak sempat menunggu terlampau lama di sini,” jengek Lui-ji.

Thi-hoa-nio tertawa, katanya, “Jika benar dia pergi mengambil guci arak itu, biar kubantu kau makan setengahnya.”

“Huh, kalau mau makan harus kumakan satu guci bulat, kalau cuma setengah saja belum cukup kenyang bagiku,” ujar Lui-ji.

“Wah, apa pun juga nona memang tidak mau mengaku kalah,” ujar Yang Cu-kang.

“Kenapa aku harus mengaku kalah?” jawab Lui-ji dengan ngotot.

Yang Cu-kang tergelak, ucapnya, “Tapi jangan kau kuatir, jika benar aku pergi mengambil guci itu tentu akan merusak suasana gembira ini. Mana berani kubikin marah si cantik dan mengharuskan nona menelan guci arak sungguhan.”

“Nah, kau sendiri yang tidak mau pergi mengambilnya dan bukanlah aku yang tidak berani makan gucinya,” kata Lui-ji.

“Ya, ya, jangankan cuma sebuah guci arak, meski selusin juga aku percaya akan dilalap habis oleh nona,” seru Cu-kang dengan tertawa.

Tanpa terasa Cu Lui-ji tertawa geli, ucapnya, “Ya, memang betul. Tampaknya kau cepat belajar menjadi pintar.”

Pada saat itulah sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar suara ringkikan kuda. Meski pun suaranya masih sangat jauh, tapi terdengar sangat jelas pada waktu subuh di daerah pegunungan yang sunyi ini.

Lui-ji berkerut kening, ucapnya, “Jangan-jangan kalian kedatangan tamu pula.”

“Ya, tampaknya memang begitu,” sahut Cu-kang.

“Siapakah yang datang?” tertarik juga Lui-ji.

Yang Cu-kang tersenyum, lalu tanyanya, “Menurut pendapat nona, siapakah kiranya yang datang itu?”

“Tentunya tidak lain dari pada begundalmu itulah,” jengek Lui-ji.

Mendadak Yang Cu-kang menggebrak meja, serunya sambil bergelak tertawa, “Ha-ha-ha, sedikit pun tidak salah, tampaknya nona cepat belajar menjadi pintar.”

Terdengar suara derapan kaki kuda semakin dekat, benar juga arahnya menuju ke rumah gubuk ini, bahkan derap kaki kuda itu sangat kerap, agaknya yang datang ini jumlahnya tidak sedikit.

Air muka Lui-ji rada pucat, berulang dia mengedipi Pwe-giok, namun anak muda itu tetap mengulum senyum saja, seolah-olah tidak mendengar apa pun.

Mendadak Yang Cu-kang menggebrak meja pula kemudian berkata, “Ji Pwe-giok, wahai Ji Pwe-giok, sekujur badanmu sungguh nyali belaka, sampai aku mau tak mau harus kagum padamu.”

“Ah, tidak berani,” sahut Pwe-giok dengan tersenyum.

“Kalau nyalimu tidak besar, mana kau berani ikut aku ke sini?”

“Pemandangan di sini amat indah, Enso juga pandai masak, masa aku tidak ikut ke sini?” kata Pwe-giok.

Dengan sinar mata mencorong Yang Cu-kang menatap anak muda itu, katanya, “Masakah tidak kau kuatirkan kemungkinan kupancing kau ke sarang harimau?”

“Aku tahu Anda bukanlah manusia licik demikian,” ujar Pwe-giok dengan tertawa.

“Tahu orangnya, kenal mukanya, tapi tidak tahu hatinya, janganlah Ji-heng menganggap diriku ini orang baik.”

“Bila mana Anda bermaksud membikin celaka diriku, tentu tidak perlu menunggu sampai sekarang, lebih-lebih tidak perlu banyak membuang tenaga percuma.”

Sejenak Yang Cu-kang melototi Pwe-giok, tiba-tiba dia menengadah dan terbahak-bahak, ucapnya, “Ha-ha-ha! Ji-heng menggunakan hati Kuncu untuk menilai perut Siaujin (orang kecil/ rendah), mungkin kelak kau akan menyesal.”

Terus menerus dia memaki dan menjelekkan dirinya sendiri, tapi Pwe-giok justru berbalik memberi penjelasan baginya. Lui-ji menjadi serba salah dan bingung, ia tidak tahu kenapa Pwe-giok sedemikian mempercayai orang ini.

Sejak semula Lui-ji merasakan orang she Yang ini tidak dapat dipercaya, tapi seumpama sekarang mau pergi pun tidak keburu lagi, sebab ketika suara tertawa Yang Cu-kang telah berhenti, tahu-tahu suara derapan kaki kuda yang ramai tadi pun berhenti di depan gubuk.

Segera terdengar seorang berseru, “Sepada?!”

“Jelas kau tahu di dalam sini ada orang, untuk apa lagi bertanya?” jawab Yang Cu-kang.

“Setiba di tempat kediaman Yang-kongcu mana kami berani sembarangan masuk ke situ,” kata orang di luar dengan mengiring tawa.

“Kau sudah cukup sopan, sekarang lekaslah masuk kemari,” kata Yang Cu-kang sambil berkerut kening.

Maka terdengarlah suara langkah orang, dan sejenak kemudian tertampaklah tiga orang melangkah masuk ke dalam gubuk.

Dua orang di antaranya masing-masing membawa sebuah peti, ukuran peti cukup besar, tampaknya tidak ringan bobotnya. Namun kedua orang itu dapat mengangkatnya dengan enteng, sedikit pun tidak nampak memakan tenaga.

Orang ketiga bermuka putih, tidak jelek, malah selalu tertawa, bajunya pun sangat serasi dengan potongan badannya, golok yang tergantung pada pinggangnya tampaknya bukan sembarang golok, sekujur badannya boleh dikatakan cukup sedap dipandang orang, tapi entah mengapa Yang Cu-kang justru merasa tidak cocok dengan orang demikian.

Lui-ji merasa orang ini sudah dikenalnya, seperti pernah dilihatnya entah di mana, tetapi Pwe-giok lantas memberi-tahukan bahwa tempo hari orang ini pun berada di Li-toh-tin dan menyaksikan Ji Hong-hong bermain catur bersama Tong Bu-siang itu. Malahan kemudian ketika Ji Hong-ho mengunjungi Hong Sam Siansing di loteng kecil itu, rasanya orang ini juga ikut serta.

Begitu masuk segera orang ini memandang sekejap Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji, seketika sikapnya rada berubah.

Pwe-giok diam saja dan berlagak tidak mengenalnya.

“Apakah barang yang kuhendaki sudah dibawa kemari?” tanya Yang Cu-kang.

Kedua orang yang membawa peti itu menjawab, “Ya, berada di dalam peti ini.”

“Tentunya tidak keliru, bukan?” Cu-kang menegas.

“Barang pesanan Kongcu mana bisa keliru?” ujar kedua orang itu dengan tertawa sambil melirik Pwe-giok, tampaknya mereka pun rada sirik padanya.

Mendadak Yang Cu-kang berseru, “He, kiranya kalian saling kenal?”

Si muka putih bergolok tadi terkejut, cepat ia berkata sambil tertawa, “O, ti... tidak kenal.”

“Jika tidak kenal, biarlah kuperkenalkan kalian,” Cu-kang berkata dengan tertawa. Lalu dia tuding kedua orang yang menggotong peti itu dan menjelaskan, “Kedua orang ini yang satu bernama Pi-san-to (golok pembelah gunung) Song Kang dan yang lain bernama Pah-hou-kun (jago pukul harimau) Tio Kiang. Konon mereka adalah tokoh terkemuka di sekitar utara Kangsoh.”

Tio Kiang dan Song Kang tertawa dan mengucapkan kata-kata rendah hati.

Yang Cu-kang lalu menyambung lagi sambil mendengus, “Padahal, huh, golok pembelah gunungnya itu tidak lebih banyak golok pembelah kayu, dan si jago pukul harimau itu, ha-ha-ha... bukan saja harimau tak terpukul mati, bahkan kucing saja tidak dapat dipukulnya mati.”

Keruan muka Tio Kiang dan Song Kang sebentar merah dan sebentar pucat, mereka tak berani marah, mau tertawa juga tidak bisa, jadinya cuma menyengir saja.

Melihat keadaan mereka yang serba salah itu, Lui-ji merasa kasihan kepada mereka.

Lalu Yang Cu-kang menuding lagi si muka putih sambil berkata, “Dan kungfu saudara ini jauh lebih tinggi dari pada kedua orang tadi, dia bernama Giok-bin-sin-to (si golok sakti bermuka kemala) Co Cu-eng. Golok yang tergantung di pinggangnya itu meski tak dapat memotong besi dan merajang baja seperti memotong sayur, namun sedikitnya berharga beberapa tahil perak untuk membeli arak. Beberapa jurus permainan goloknya juga cukup menarik untuk ditonton.”

Tak tertahan tersembul juga senyuman bangga Co Cu-eng, dengan tertawa dia berkata, “Ah, Kongcu terlalu memuji.”

Yang Cu-kang tidak menghiraukannya, ia menyambung pula, “Cuma orang ini lebih tepat diberi nama ‘macan ketawa’ atau ‘Siau-li-cong-to’ (di balik senyuman tersembunyi pisau), perutnya penuh berisi air kotor, dia inilah model orang munafik yang di mulut menyebut sayang, tapi sekaligus juga menikam.”

Co Cu-eng masih juga tertawa, cuma tertawa yang lebih tepat disebut menyengir.

“O, kagum,” demikian Pwe-giok memberi hormat.

“Kau tidak perlu sungkan terhadap mereka,” kata Cu-kang pula. “Ketiga orang ini adalah begundal Ji Hong-ho, jika ada kesempatan setiap saat jiwamu diincar mereka, tidak nanti mereka sungkan padamu.”

Tiba-tiba Lui-ji menyeletuk, “Ah, kalian datang dari jauh, jangan-jangan menghendaki jiwa kami?”

Co Cu-eng tertawa terkekeh, katanya. “Untuk soal ini harus melihat bagaimana kehendak Yang-kongcu, sebab kami pun termasuk begundal Yang-kongcu.”

Serentak Lui-ji berdiri sambil memelototi Yang Cu-kang.

Tetapi dengan tenang Yang Cu-kang berkata, “Siapa di antara kalian yang mengincar jiwa siapa, semuanya aku tak ambil pusing, terserah kepada kalian siapa yang lebih tangguh.” Mendadak ia berkata kepada Co Cu-eng dengan tertawa, “Santapan sudah kusediakan di atas meja, apakah kalian perlu menunggu kutuangkan ke dalam mulut kalian?”

Seketika semangat Co Cu-eng terbangkit, mata Tio Kiang dan Song Kang juga terbeliak.

“Bagus, kiranya kau pancing kami ke sini dan menganggap kami sebagai santapan lezat?” teriak Lui-ji dengan gusar.

Yang Cu-kang menghela nafas, katanya, “Kan sudah kukatakan kepadamu bahwa aku ini hanya seorang Siaujin, siapa suruh dia mengukur diriku sebagai Kuncu. Dia sendiri yang mau masuk perangkap, masakah menyalahkan orang lain?”

Pwe-giok tertawa hambar, katanya, “Cayhe tidak pernah menyalahkan orang lain.”

Segera Co Cu-eng memberi isyarat kepada Tio Kiang dan Song Kang, lalu berkata, “Jika demikian, kami akan...”

Mendadak Thi-hoa-nio berteriak, “Aku tidak peduli apa kehendak kalian, tetapi yang pasti santapan yang kubuat dengan susah payah ini tidak boleh disia-siakan, seumpama kalian harus mengadu jiwa, sedikitnya harus tunggu dulu setelah mencicipi masakanku ini.”

“Dan nona ini siapa lagi?” tanya Co Cu-eng dengan ketus.

“Ini bukan nona, tapi nyonya isteriku,” kata Cu-kang.

Co Cu-eng melengak, cepat dia memuji dengan tertawa, “Wah, pantas masakan ini enak dipandang dan sedap dimakan, kiranya adalah hasil karya nyonya.”

“Kau belum makan, dari mana kau tahu rasanya masakan ini?” ujar Thi-hoa-nio.

“Biar kami menyelesaikan urusan pokok dulu, habis itu barulah kami menikmati masakan enak nyonya,” kata Co Cu-eng dengan tertawa.

“Wah, akan terlambat nanti, karena masakan ini harus dimakan selagi hangat,” kata Thi-hoa-nio. “Apa lagi kalau di antara kalian berlima ada dua yang mati, mungkin masakan ini tidak akan habis termakan, kan sayang?”

Yang Cu-kang menghela nafas pula, katanya, “Masakan lezat yang sudah disiapkan oleh orang perempuan, kalau tidak ada yang makan, rasanya sakit seperti mukanya tertampar. Maka kupikir kalian perlu makan lebih dulu.”

“Betul, setelah kenyang makan barulah bertenaga, bila mati juga tidak perlu menjadi setan kelaparan,” tukas Thi-hoa-nio dengan tertawa.

Dengan simpatik dia mengambilkan tiga pasang sumpit dan dibagikan kepada Co Cu-eng bertiga.

Bila mana tangan sudah memegang sumpit, dengan sendirinya tak dapat lagi memegang senjata.

Padahal sesudah menempuh perjalanan jauh, Song Kang dan Tio Kiang memang sudah lapar. Mula-mula mereka merasa sungkan, tapi setelah menyumpit dua-tiga kali, akhirnya makan mereka jadi bernafsu, kerja sumpit mereka seperti mesin saja cepatnya.

“Kalau bisa cara menyerang kalian secepat sumpit kalian ini, maka pasti akan celakalah Ji-heng nanti,” kata Yang Cu-kang dengan tertawa.

“Plak,” tiba-tiba Thi-hoa-nio menampar Yang Cu-kang dengan perlahan, omelnya dengan tertawa, “Cis, coba kau lihat, sedikit pun kau tak pantas menjadi tuan rumah, seharusnya kan kau bujuk para tamu makan lebih banyak.”

“Plok,” Yang Cu-kang juga balas menamparnya perlahan serta menjawab dengan tertawa, “Isteriku sayang, jangan kuatir, sebelum masakanmu habis dimakan, siapa pun dilarang turun tangan.”

Di depan sekian orang, kedua suami isteri ini ternyata bersenda gurau dengan mesranya. Melihat dua orang ini sedemikian mesra dan penuh kasih sayang, diam-diam Lui-ji merasa heran dan dongkol pula.

Semula dia mengira, sebabnya Thi-hoa-nio memaksa Co Cu-eng bertiga agar makan dulu pastilah memiliki maksud tujuan tertentu, bisa jadi ingin membantu dirinya dan Pwe-giok, bahkan mungkin sekali di dalam santapan itu sudah diberinya racun untuk mematikan Co Cu-eng bertiga. Tapi sekarang tampaknya tidak demikian adanya.

Thi-hoa-nio benar-benar seperti pengantin baru yang mulai belajar masuk dapur dan buru-buru ingin memperlihatkan kemahirannya memasak, di dalam makanan ternyata tidak ada racun sedikit pun.

Tampaknya Yang Cu-kang telah mengambil keputusan akan menjual Ji Pwe-giok kepada Ji Hong-ho, cuma dia sendiri malas turun tangan. Meski Lui-ji tidak gentar menghadapi Co Cu-eng bertiga, tapi kalau mereka tidak mampu mengatasi Pwe-giok, akhirnya Yang Cu-kang juga akan turun tangan dan Pwe-giok tetap sukar lolos dari cengkeraman mereka.

Makin dipikir makin kuatir Lui-ji, dengan sendirinya dia tidak bernafsu makan, sungguh dia ingin mendepak meja makan itu supaya jungkir balik, kalau bisa lari akan terus lari, kalau tidak bisa lari harus turun tangan lebih dulu.

Tapi Pwe-giok kelihatan makan dengan nikmatnya, bahkan dia sibuk menyumpit Pak-lay-cah yang masih hangat itu dan dikunyah dengan perlahan.

Lui-ji sangat mendongkol, dia tidak tahan, katanya, “Apakah selama hidupmu tidak pernah makan Pak-lay?”

Lebih dulu Pwe-giok menelan makanan yang memenuhi mulutnya itu, didorongnya dengan seceguk arak, lalu memejamkan mata dan menarik nafas lega, kemudian baru menjawab sambil tersenyum, “Pak-lay-cah selezat ini, selanjutnya mungkin sulit untuk mencicipinya lagi, kesempatan terakhir ini mana boleh dilewatkan secara sia-sia?”

Hampir saja Lui-ji berteriak. Tetapi bila terpikir setelah mengalami perjuangan mati-matian, akhirnya Pwe-giok tetap juga akan jatuh ke dalam cengkeraman Ji Hong-ho, tanpa terasa hatinya menjadi pedih.

Pwe-giok menyumpit secuil daging itik ke mangkuk Lui-ji, katanya, “Itik cah sayur Kay-lan ini adalah masakan terkenal daerah Sujwan, meski tidak selezat bebek panggang Peking yang termashur itu, tapi mempunyai cita rasa tersendiri, kau perlu mencicipinya.”

Lui-ji memandang sekejap, tanpa omong apa-apa dia makan daging bebek itu.

Melihat Pwe-giok dan Lui-ji juga makan dengan nikmatnya, Thi-hoa-nio berucap dengan tertawa, “Bebek ini memang tidak selezat bebek panggang Peking, tetapi cukup untuk meledakkan perut orang yang makan terlalu bernafsu.”

Saat itu Tio Kiang dan Song Kang memang sudah mengisi perut mereka sampai penuh. Mendengar ucapan Thi-hoa-nio itu, mereka menjadi melengak dan curiga.

Benarlah, ketika mereka mengerahkan tenaga dalam, terasa perut seperti ditusuk jarum, sakit dan perih. Mereka tahu gelagat jelek, segera Tio Kiang meraung, “Keparat orang she Yang, sampai hati kau kerjai kawan sendiri dan mengkhianati perintah Bengcu?!”

Co Cu-eng lebih cerdik, sejak tadi dia belum sempat makan, demi melihat keadaan kedua rekannya itu, serentak dia mendahului angkat langkah seribu.

Tetapi baru saja tubuhnya melayang keluar gubuk, mendadak Yang Cu-kang membentak, “Lari kemana?!” Berbareng kedua tangannya bekerja dengan cepat, belum lagi Tio Kiang dan Song Kang sempat melakukan perlawanan, tahu-tahu mereka tercengkeram seperti anak ayam dicengkeram elang, sekali lempar kedua orang itu disambitkan ke arah lari Co Cu-eng.

Sungguh dahsyat luar biasa daya lempar kedua sosok tubuh itu, sehingga baru saja Co Cu-eng sempat melompat keluar halaman, kedua sosok tubuh kawannya sendiri itu telah menumbuk punggungnya. Ia menjerit ngeri kemudian roboh terkapar. Song Kang dan Tio Kiang juga terbanting dan tak bisa bergerak lagi.

Rupanya pada waktu mencengkeram mereka, sekaligus Yang Cu-kang sudah meremas Hiat-to maut mereka sehingga binasa seketika.

Selesai membereskan ketiga orang itu, Yang Cu-kang tepuk-tepuk tangannya, kemudian berduduk kembali, katanya, “Aku ini memang orang busuk, jangan Ji Hong-ho harap akan dapat memperalat diriku.”

Lui-ji tertawa, katanya, “Kau ini sungguh orang aneh. Kalau orang lain sedapatnya ingin orang lain memujinya sebagai orang baik, hanya kau saja yang justru lebih suka dimaki orang sebagai telur busuk, makin sering dimaki orang makin senang kau.”

“Aku ini memang telur busuk, biar pun setiap orang bilang aku ini baik, memangnya aku dapat berubah menjadi telur baik?” ujar Yang Cu-kang.

Dengan tertawa Thi-hoa-nio ikut berkata, “Sejak kecil dia sudah biasa dimaki orang, kalau tiga hari tidak dimaki, tentu tulangnya akan terasa gatal dan pegal, lantaran inilah aku mau menjadi isterinya, sebab aku paling senang memaki orang dan sekarang setiap hari aku dapat memaki dia secara gratis.”

Lui-ji tertawa, “Wah, tampaknya kau mendapatkan suami yang tepat, bisa memaki lakimu setiap hari dan lakimu pasti tidak balas memaki, sungguh besar rejekimu bisa mendapat laki semacam ini.”

“Eh, kalau nona merasa iri, kenapa tidak menikah sekalian denganku,” ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.

“Tapi sayang kau sudah berbini, kalau tidak tentu aku...”

“Tambah bini tambah rejeki, makin banyak bini semakin baik,” seru Yang Cu-kang sambil terbahak.

“Akan tetapi sayang, aku ini tidak suka memaki orang,” kata Lui-ji.

“O, kiranya nona juga serupa diriku, lebih suka dimaki orang,” tanya Yang Cu-kang.

“Wah, baru saja kukatakan kau ini seorang Kuncu, dan sekarang penyakitmu telah kumat lagi?” omel Lui-ji.

“Aku memang bukan seorang Kuncu, siapa bilang aku adalah seorang Kuncu?” jawab Cu-kang dengan serius. “Apa bila aku adalah seorang Kuncu, sekarang kuterima upah dari Ji Hong-ho, seharusnya aku setia kepada perintahnya dan bekerja baginya. Tapi aku justru terima upah dari dia tapi bekerja bagi orang lain, apakah ini perbuatan seorang Kuncu?”

“Kalau demikian, bila mana kami kau bunuh barulah kau terhitung seorang Kuncu?” tanya Lui-ji.

“Juga belum tentu,” ujar Yang Cu-kang. “Cuma sedikitnya perlu kututuk Hiat-to kalian, aku masukkan kalian ke dalam peti, lalu kuantarkan ke tempat Ji Hong-ho.”

Begitu bicara tentang peti, tanpa terasa pandangan Lui-ji jadi tertarik kepada kedua peti yang dibawa datang oleh Tio Kiang dan Song Kang tadi. Kedua peti itu berukuran cukup besar dan memang dapat memuat satu orang.

“Eh, apakah isi kedua peti itu?” tanya Lui-ji.

“Kedua peti adalah kado dari Ji Hong-ho yang minta kuantarkan kepada Pek-hoa-pangcu Kun-hujin,” tutur Cu-kang.

“Kado? Kado apa?” tanya Lui-ji pula.

“Apa salahnya jika nona menerkanya?”

“Aku bukan Khong Beng, mana dapat kuterka isi kedua peti ini?”

“Isi peti itu sudah lama dilihat oleh nona...”

Tiba-tiba Pwe-giok menimbrung sambil tertawa, “Eh, bagaimana jika Cayhe ikut menebak teka-teki ini?”

“Boleh saja,” sahut Yang Cu-kang.

“Isi peti itu adalah manusia.”

“Oo?!” Yang Cu-kang bersuara singkat.

“Bahkan terdiri dari seorang lelaki dan seorang perempuan.”

“Oo?!” Yang Cu-kang bersuara pula.

“Mereka adalah Kwe Pian-sian dan Ciong Cing,” demikian Pwe-giok menambahkan.

Gemerdep sinar mata Yang Cu-kang. Dia menatap Pwe-giok lekat-lekat, selang sejenak barulah dia menghela nafas panjang dan berkata, “Pantaslah Ji Hong-ho bertekad harus melenyapkan dirimu, apa bila aku mempunyai musuh yang cerdik pandai semacam kau, mungkin aku pun tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.”

“O, jadi isi peti memang betul orang she Kwe itu?” tanya Lui-ji.

“Ya, sedikit pun tak salah,” sahut Cu-kang. “Tempo hari, pada saat timbul kebakaran di Li-toh-tin, akhirnya mereka jatuh pingsan di tengah lautan api, untung mereka diselamatkan lalu diisi ke dalam peti seperti babi panggang.”

Sembari mendengarkan cerita Yang Cu-kang itu, segera Lui-ji mendekati peti dan berniat membukanya. Tetapi sekali berkelebat, tahu-tahu Yang Cu-kang sudah berduduk di atas peti, ucapnya dengan suara perlahan, “Peti ini tidak boleh disentuh olehmu, kecuali Kun Hay-hong sendiri, siapa pun tidak boleh membukanya.”

“Siapa bilang tidak boleh?” teriak Lui-ji dengan mendelik.

“Janganlah nona mendelik padaku, larangan ini bukan kehendakku,” kata Yang Cu-kang dengan tertawa.

“Bukan kau, habis siapa?” tanya Lui-ji.

“Siapa lagi, tentulah Bu-lim Bengcu sekarang, Ji Hong-ho, Ji-losiansing,” jawab Cu-kang.

“Hah... kenapa sekarang kau tunduk lagi kepada perintahnya?”

“Ehmm!” Yang Cu-kang hanya mengangguk.

Seketika Lui-ji melonjak bangun, teriaknya, “Yang Cu-kang, coba jawab, sebenarnya kau ini kawan kami atau antek Ji Hong-ho?”

“Adakah faedahnya menjadi kawan kalian?” tanya Yang Cu-kang acuh tak acuh.

“Sudah tentu banyak faedahnya, misalnya...” tapi Lui-ji jadi sukar untuk menerangkan.

“Ha-ha-ha, jika nona tak dapat menerangkan, biarlah kuwakili dirimu sebagai juru bicara,” seru Yang Cu-kang dengan tertawa sambil menekuk jarinya. “Pertama, kalian sanggup membantu aku makan minum. Faedah kedua, jika aku lagi iseng, aku boleh pergi kemana pun untuk menolong kalian. Faedah ketiga, ha-ha... pokoknya banyak sekali faedahnya dan sukar untuk diceritakan satu per satu. Akan tetapi aku lebih suka tidak ada satu pun mendapatkan faedah itu.”

“Jadi akhirnya kau toh mengaku dirimu adalah antek Ji Hong-ho,” ujar Lui-ji.

“Seorang baik-baik seperti diriku menjadi bos besar saja cukup memenuhi syarat, untuk apa aku menjadi antek orang lain?” jawab Cu-kang dengan tertawa.

“Habis, sesungguhnya apa maksud tujuanmu?”

“Aku tetap aku, bukan kawan siapa pun, juga tidak menjadi antek siapa pun. Apa yang kulakukan tanggung jawabku sendiri, ingin berbuat apa pun boleh kulakukan sesukaku.”

“Jadi urusan apa pun yang berfaedah bagimu lantas kau lakukan, begitu?”

“Tepat! Sedikit pun tidak salah, ucapan nona sungguh kena di dalam hatiku,” seru Yang Cu-kang sambil bergelak.

Lui-ji tidak sanggup berucap pula saking dongkolnya.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara roda kereta yang berkumandang dari kejauhan.

“Aha, biar pun aku tidak punya kawan, tapi tidak sedikit tetamuku,” kata Cu-kang dengan tertawa.

Sembari bicara ia terus melayang keluar, sekali mengitar hanya sekejap saja ketiga sosok mayat di luar sana telah didepak ke tempat gelap. Baru lenyap suaranya dia sudah duduk kembali di tempat semula seperti tidak pernah bergerak sedikit pun.

“Yang datang ini apakah juga mengantarkan kado?” jengek Lui-ji, lalu sambungnya, “Tapi sayang, seperti mak inang yang mengasuh anak, akhirnya anak itu tetap punya orang.”

Dia bicara sambil berdiri di ambang pintu, kini dapat dilihatnya seseorang muncul dengan mendorong sebuah gerobak beroda satu dari liku jalan pegunungan sana. Di atas gerobak memang benar termuat dua buah peti, dan pendorong gerobak itu hanya berlengan satu, sebelah lengannya sudah buntung. Namun gerobak itu dapat dikuasainya dengan stabil, bahkan cukup cepat lajunya.

Mendadak Thi-hoa-nio mengikik tawa.

“Kenapa kau tertawa gembira?” tanya Lui-ji dengan mendelik.

“Dia mendapatkan suami semacam diriku, kalau dia tidak gembira lantas siapa yang akan gembira?” ujar Yang Cu-kang.

“Hm, kukira terlalu dini dia bergembira,” jengek Lui-ji.

“Aku bukan gembira, melainkan merasa rasa geli,” kata Thi-hoa-nio.

“Apa yang menggelikan?” tanya Lui-ji.

“Coba lihat,” jawab Thi-hoa-nio sambil mencibir keluar. “Kanglam-tayhiap Ong Uh-lau yang gagah perkasa dan terhormat kini ternyata sudah menjadi tukang gerobak, apakah tidak lucu dan menggelikan?”

“Perbuatannya ini hanya sekedar menebus dosa saja,” ujar Yang Cu-kang.

“Menebus dosa?” Thi-hoa-nio menegas.

“Ya, sebab dia suka membual, tetapi seorang anak ingusan seperti Tong Giok saja tidak dapat dijaganya, untuk kesalahannya itu mestinya akan kutebas pula sebelah tangannya,” kata Cu-kang.

Sementara itu gerobak dorong satu roda itu telah masuk halaman, Ong Uh-lau juga sudah melihat jelas Cu Lui-ji dan Ji Pwe-giok yang berada di dalam rumah, seketika air mukanya berubah pucat, tapi cepat pula dia tertawa, katanya,

“Aha, tidak tersangka Ji-kongcu juga berada di sini, selamat bertemu!”

Sambil tertawa genit Thi-hoa-nio menegur, “Masakah yang kau kenal cuma Ji-kongcu saja dan tidak kenal lagi padaku?”

Saat itu sebelah kaki Ong Uh-lau baru melangkah masuk ke dalam rumah, ia memandang sekejap kepada Thi-hoa-nio, seketika sebelah kakinya itu ditarik kembali keluar, mukanya juga berubah pucat, serunya dengan parau, “Hah, Khing hoa-samniocu!”

“Hihi, boleh juga daya ingatmu!” kata Thi-hoa-nio dengan tertawa.

Tanpa terasa Ong Uh-lau memandang lengan baju sendiri yang kosong melompong itu, lalu berucap sambil menyeringai, “Kebaikan nona terhadapku, selama hidup tentunya tak dapat kulupakan, bukan?”

“Aku bukan nona lagi, tapi nyonya,” sahut Thi-hoa-nio.

“Oo, Ji-hujin?” ucap Ong Uh-lau sambil mengerling ke arah Ji Pwe-giok.

Thi-hoa-nio menggeleng, dan Yang Cu-kang segera berkata dengan tertawa, “Bukan Ji-hujin melainkan Yang-hujin.”

Terbelalak mata Ong Uh-lau, hingga sekian lama ia melenggong, segera ia membungkuk tubuh sebagai tanda hormat kemudian berkata, “Kionghi, kionghi, selamat, selamat! Yang-Kongcu menikah, kenapa tidak kirim kartu undangan kepadaku? Wah, aku harus disuguh arak bahagia kalian!”

“Arak bahagia baru saja habis terminum, yang masih tersisa adalah satu porsi Ang-sio-pay-kut (tulang iga saus manis), jika sudi, silakan minum saja satu-dua cawan,” kata Yang Cu-kang, ia sendiri lantas mengambilkan sepasang sumpit dan ditaruh di depan Ong Uh-lau.

Kalau Thi-hoa-nio yang mengambilkan sumpit, mungkin mati pun Ong Uh-lau tidak berani menggunakannya, tapi Yang Cu-kang sendiri yang mengambilkan sumpitnya, Ong Uh-lau tidak curiga sedikit pun, bahkan rada bangga karena dilayani tuan rumah sendiri.

Berulang kali dia mengucapkan terima kasih, katanya sambil tertawa, “Ehm, Ang-sio-pay-kut adalah kegemaranku, satu macam makanan ini telah cukup bagiku, terima kasih. Aku tidak sungkan lagi.”

Tadinya Lui-ji kuatir orang tidak dapat dijebak, tapi siapa tahu tanpa ragu ia terus pegang sumpit dan mulai makan. Diam-diam Lui-ji merasa girang dan juga heran.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner