IMBAUAN PENDEKAR : JILID-27


Padahal Ong Uh-lau dikenal licik dan licin, maka menghadapi keadaan yang lain dari pada biasanya ini seharusnya dia waspada dan berjaga-jaga. Namun sekarang dia sedemikian percaya kepada Yang Cu-kang, hal ini menandakan hubungan antara Yang Cu-kang dan Ji Hong-ho pasti lain dari pada yang lain, tentunya sebelumnya Ji Hong-ho telah memberi pesan padanya agar segala urusan harus tunduk kepada perintah Yang Cu-kang.

Ji Hong-ho sendiri juga sangat licin dan sangat cermat dalam memperhitungkan segala sesuatunya, kalau dia sedemikian mempercayai Yang Cu-kang, tentu juga ada alasannya. Tapi tindak tanduk Yang Cu-kang justru luar biasa, sebentar baik lain saat jahat sehingga sulit diraba, sekarang bahkan Ong Uh-lau juga akan dibinasakan olehnya, sesungguhnya apa maksud tujuannya dengan bertindak demikian?

Sesungguhnya ada hubungan apa antara dia dengan Ji Hong-ho? Dan mengapa Ji Hong-ho sedemikian percaya padanya?

Sungguh makin dipikir makin bingunglah Cu Lui-ji.

Didengarnya Yang Cu-kang sedang bertanya kepada Ong Uh-lau, “Peti yang kau bawa ke mari tentunya tidak keliru bukan?”

“Kongcu jangan kuatir, Cayhe sudah salah satu kali, masakah berani salah untuk kedua kalinya?” jawab Ong Uh-lau. Ia menenggak araknya lalu menyambung pula, “Cayhe telah melaksanakan pesan Kongcu dan menemui Hay-kongcu di tempat yang telah ditentukan, lalu Hay-kongcu menyerahkan dua peti ini kepadaku. Tanpa melihatnya terus saja Cayhe mengangkutnya kemari.”

“Apakah Hay-kongcu tidak titip surat untukku?” tanya Yang Cu-kang.

“Kata Hay kongcu, mendadak ia melihat jejak seseorang yang mencurigakan, maka harus diselidiki sampai jelas, sebab itulah dalam beberapa hari ini mungkin Kongcu tidak dapat bertemu dengan beliau.”

Yang Cu-kang berkerut kening dan berpikir sejenak, lalu tiba-tiba dia tertawa dan berkata, “Pekerjaanmu ternyata dapat kau laksanakan dengan cukup memuaskan, dan sekarang bila mana kau ingin memberi pesan terakhir apa-apa boleh kau katakan saja kepadaku.”

Ucapan ini membuat Ong Uh-lau melengak, wajahnya yang berseri-seri tadi kini seketika lenyap. Dia menegas dengan suara parau, “Pesan terakhir?”

“Ya, setelah kau makan racun dari Siau-hun-kiong, masa kau kira dapat hidup lebih lama lagi?” sahut Yang Cu-kang dengan tak acuh.

Tubuh Ong Uh-lau bergetar hebat hingga cawan arak yang dipegangnya hampir saja jatuh ke lantai, ucapnya dengan terputus-putus, “Ah, jangan... janganlah Kongcu bergurau.”

“Siapa bergurau dengan kau?” jengek Yang Cu-kang sambil menarik muka.

Tubuh Ong Uh-lau menggigil dan mukanya pucat seperti mayat. Mendadak dia mendepak meja sehingga mangkuk piring berantakan, teriaknya dengan suara parau, “Bengcu sudah menaruh kepercayaan penuh kepadamu, tetapi kau... kau...” mendadak tenggorokannya seperti tersumbat, sekonyong-konyong tangannya menghantam ke belakang, mengincar batok kepala Cu Lui-ji.

Rupanya dia menyadari bahwa dirinya bukan tandingan Yang Cu-kang, maka Lui-ji yang diincarnya. Serangan ini cukup nekat, tujuannya hanya sekedar mencari tumbal saja dari pada mati konyol.

Semenjak tadi dia melotot sambil menghadapi Yang Cu-kang, orang lain sama sekali tak menyangka kalau dia akan menyerang Cu Lui-ji, apa lagi serangan cepat dan keji, dapat dibayangkan betapa bahayanya.

Pengalaman tempur Lui-ji juga masih cetek, keruan dia terkejut sekali akan serangan itu, tampaknya dia tidak akan sempat berkelit. Syukurlah pada detik terakhir Pwe-giok sudah melompat maju, sebelah tangannya juga menghantam sekuatnya ke arah Ong Uh-lau.

Terdengarlah suara “blang” yang keras, kedua tangan beradu, tubuh Ong Uh-lau tergetar mencelat, waktu dia jatuh ke bawah, sementara itu racun dalam tubuhnya sudah bekerja, mukanya kelihatan putih seperti perak laksana orang yang mendadak berbedak.

Yang Cu-kang memandang Pwe-giok sekejap, ucapnya dengan tersenyum, “Anda seperti anak panah yang hampir jatuh, tak tersangka masih menyimpan tenaga dalam sekuat ini, tampaknya selama ini kami terlalu menilai rendah dirimu.”

“Ya, jangan kau pandang Ji-kongcu ini lemah lembut, padahal tenaga saktinya jarang ada bandingannya di dunia Kangouw,” sambung Thi-hoa-nio dengan tertawa.

Sementara itu Cu Lui-ji sudah dapat menenangkan diri, cepat ia berkata, “Sesungguhnya apa isi peti yang diantarnya kemari itu?”

Pertanyaan ini sudah lama ditahannya di dalam hati, kini begitu ada kesempatan segera dilontarkannya.

Yang Cu-kang tertawa, katanya, “Peti ini kalau tidak kubuka dan diperlihatkan kepadamu, mungkin selamanya kau akan mendendam padaku.”

Sembari bicara peti pun sudah dibuka olehnya.

Ketika melihat isi peti itu, serentak Lui-ji menjerit kaget dan tidak dapat bicara lagi.

Yang terisi di dalam peti ternyata Ki Leng-hong adanya.

Betapa pun sabar dan tenangnya, tidak urung Pwe-giok juga terkejut.

Tertampak mata Ki Leng-hong terpejam rapat, mukanya amat pucat. Seperti kepiting saja dia diringkus lantas dimasukkan ke dalam peti. Sampai saat ini dia masih dalam keadaan pingsan.

Padahal biasanya nona Ki ini berkuasa dan suka memerintah, setiap orang di dunia ini seolah-olah dapat dipermainkan olehnya. Sungguh tak tersangka oleh Pwe-giok bahwa Ki Leng-hong juga bisa jatuh habis-habisan seperti sekarang ini.

Dengan sinar mata gemerdep Yang Cu-kang bertanya, “Apakah Ji-kongcu kenal dia?”

Pwe-giok tersenyum getir dan mengangguk, katanya, “Ya, kenal.”

Lui-ji menghela nafas gegetun kemudian berkata, “Mestinya dia berjanji dengan kami akan bertemu lagi di Tong-keh-ceng. Aku memang lagi heran mengapa dia tidak muncul, siapa tahu dia telah berubah menjadi begini.”

“Dengan ilmu silatnya yang tinggi dan kecerdasannya, betapa pun Ong Uh-lau pasti bukan tandingannya, entah mengapa dia...”

Yang Cu-kang memotong sebelum habis ucapan Pwe-giok itu, “Tidakkah Ji-heng dengar tadi bahwa peti ini diterima oleh Ong Uh-lau dari seorang Hay-kongcu?”

Biji mata Cu Lui-ji berputar, serunya, “He, Hay-kongcu? Maksudmu Hay Tong-jing?”

Yang Cu-kang seperti terkejut dan heran, tanyanya, “Kau pun kenal Hay Tong-jing?”

“Dengan sendirinya kukenal dia,” ujar Lui-ji. “Dan kau sendiri, cara bagaimana bisa kenal dia?”

“Sejak berumur satu sudah kukenal dia,” tutur Yang Cu-kang dengan tertawa.

Lui-ji melengak, “Sejak umur satu? Apakah kalian...?”

“Dia adalah Suhengku,” tukas Yang Cu-kang.

Untuk sejenak Lui-ji melenggong, katanya kemudian dengan tertawa, “Hahh, pantas sifat kalian rada-rasa sama, mata kalian seolah tumbuh di atas kepala, siapa pun diremehkan oleh kalian, kiranya kalian memang berasal dari satu sarang...”

Dia mengikik tawa dan urung mengucapkan “sarang anjing”.

Pwe-giok menghela nafas, “Ilmu silat Hay-heng pernah kulihat, pantaslah nona Ki bukan tandingannya. Tapi ada permusuhan apa pula antara kalian dengan nona Ki ini?”

“Sebenarnya tidak ada permusuhan apa pun,” jawab Yang Cu-kang. “Hanya saja Ji Hong-ho ingin mengantar pulang dia ke Sat-jin-cengcu.”

“Hm, orang semacam Hay Tong-jing itu juga sudi menjadi antek Ji Hong-ho?” jengek Lui-ji.

“Jika kami berasal dari satu sarang, maka dengan sendirinya kami pun bernafas dari satu lubang,” ujar Yang Cu-kang dengan tertawa.

“Bila kalian toh harus tunduk kepada perintah Ji Hong-ho, mengapa pula kau bunuh Ong Uh-lau dan lain-lain ini?” tanya Lui-ji.

“Sebab aku senang,” sahut Cu-kang dengan tertawa. Baru habis ucapannya, mendadak air mukanya berubah dan membentak perlahan, “Siapa itu?!”

Setelah ucapan Yang Cu-kang itu selesai barulah Lui-ji mendengar ada suara kesiur angin dari jauh telah mendekat, hanya sekali melayang saja sudah tiba.

Selagi Lui-ji terkejut oleh ginkang orang yang maha tinggi ini, “blang” tahu-tahu seorang menerjang masuk dengan membobol jendela. Siapa lagi dia kalau bukan Hay Tong-jing.

Kejut dan girang Lui-ji, serunya dengan tertawa, “Hah, baru saja dibicarakan lalu seketika orangnya datang, apakah kau...” mendadak ucapannya terhenti, sebab baru sekarang ini dilihatnya baju Hay Tong-jing yang hitam itu penuh berlepotan darah, sebaliknya mukanya pucat pasi.

Yang Cu-kang tidak bicara apa-apa, dia langsung merobek baju orang. Terlihat tubuh Hay Tong-jing juga berlumuran darah, sedikitnya ada belasan tempat luka.

Padahal betapa tinggi ilmu silat Hay Tong-jing sudah sama diketahui oleh Pwe-giok dan Lui-ji, sekarang dia juga dilukai orang, sungguh Lui-ji hampir tak percaya kepada matanya sendiri.

Mau tak mau berubah juga air muka Yang Cu-kang, dengan suara tertahan dia bertanya, “Siapa-siapa saja yang melukaimu?”

Dia tidak bertanya “siapa”, melainkan “siapa-siapa”, karena dia yakin kalau musuh hanya satu orang saja tidak mungkin mampu melukai Hay Tong-jing.

Kedua tinju Hay Tong-jing terkepal erat-erat, sambil mengertak gigi ia berkata, “Ialah...”

Meski bibirnya bergerak, tapi suaranya tak terdengar.

“Siapa? Siapa dia?” desak Yang Cu-kang.

Bibir Hay Tong-jing tampak bergerak lagi dua tiga kali, kemudian “bluk”, dia jatuh terkulai. Maklumlah lukanya sangat parah.

Sebenarnya semenjak tadi dia tidak tahan lagi, hanya setitik tekadnya ingin hidup itulah, dengan sisa tenaga terakhir dapatlah dia lari ke sini. Kini sesudah bertemu dengan sanak keluarga sendiri, lega perasaannya dan badan juga tidak tahan lagi.

Cepat Thi-hoa-nio memapahnya ke atas kursi dan memeriksa lukanya.

Sedangkan Yang Cu-kang hanya berdiri terpaku pada tempatnya, sampai sekian lamanya mendadak ia melotot dan berteriak, “Tidak peduli siapa saja yang melukai dia, biar pun dia lari ke ujung langit juga akan kususul ke sana.”

“Aku sudah datang, untuk apa disusul ke sana?!” mendadak seorang menanggapi.

Suaranya amat dingin, tapi juga tajam melengking sehingga membuat telinga orang yang mendengarnya merasa tidak enak.

Umumnya suara orang tentu bernada entah tinggi atau rendah, entah cepat atau lambat, namun suara orang ini kedengaran datar dan hambar saja, monoton begitulah, membuat pendengarnya merasa kesal dan bosan.

Muka orang ini tidak terlalu jelek, juga tidak terlalu buas, lebih-lebih tak ada sesuatu cacat badaniah. Tapi entah kenapa, siapa pun yang melihatnya akan merasa ngeri dan segera menggigil.

Alisnya sangat tebal, matanya sangat besar, bahkan boleh dikatakan cukup ganteng dan cakap, malahan ujung mulutnya selalu mengulum senyum, sekilas pandang bahkan cukup menarik.

Tapi bila dipandang secara cermat, sekujur badannya terasa kaku dan dingin, tiada rasa senyum sedikit pun. Jadi senyum itu seolah-olah cuma dibuat-buat belaka, seperti orang lain yang mengukir pada wajahnya. Sebab itu senyum aneh ini tetap menghiasi mukanya, pada waktu marah tersenyum, pada waktu duka juga tersenyum, waktu membunuh orang tersenyum, waktu makan juga tersenyum, di dalam kakus jelas juga tersenyum, bahkan di waktu tidur juga tetap tersenyum.

Jadi senyuman yang abadi, tak berubah selamanya.

Ia memakai baju hitam yang ketat, sangat pas dengan potongan tubuhnya, memakai ikat pinggang warna merah darah, pada ikat pinggangnya terselip sebilah golok melengkung, golok sabit. Bagian gagang golok juga terhias kain sutera merah, tetapi batang goloknya berwarna hitam pekat.

Meski terkejut, segera Yang Cu-kang bisa menenangkan hatinya, katanya sambil melototi pendatang itu, “Jadi kau yang melukainya?”

“Betul, Suhengmu dibunuh oleh Lengkui (setan gaib),” jawab orang itu dengan tersenyum.

“Lengkui? Jadi kau inilah Lengkui?” Tanya Yang Cu-kang menegas.

“Ya,” orang itu tersenyum.

“Bagus, suruh pembantumu keluar semua,” kata Cu-kang.

“Lengkui membunuh orang tidak perlu pembantu,” ucap orang itu dengan tersenyum.

“Melulu kau sendiri dapat melukainya?” terkesiap juga Yang Cu-kang.

“Ya, cukup Lengkui seorang saja.”

Keterangan ini membikin semua orang terkejut pula. Bahwa orang ini dapat melukai Hay Tong-jing yang lihay, betapa tinggi ilmu silatnya jelas sukar diukur.

Dalam keadaan demikian barulah Lui-ji membuktikan ketenangan Yang Cu-kang juga luar biasa dan sukar dibandingi siapa pun.

“Siapa yang menyuruh kau ke sini?” tanya Cu-kang pula.

“Lengkui sendiri,” jawab orang itu.

“Ada permusuhan apa antara kau dengan kami?”

“Lengkui tidak ada permusuhan apa pun dengan kalian.”

Orang itu selalu menyebut dirinya sebagai ‘Lengkui’ dan tidak pernah menggunakan istilah ‘aku’.

“Sesungguhnya siapa kau?” bentak Cu-kang.

Mendadak Lengkui menyebutkan dua bait syair kuno yang sama sekali bukan merupakan jawaban atas pertanyaan tadi, tetapi setelah mendengar syair itu, air muka Yang Cu-kang berubah hebat.

“Lengkui melepaskan dia lari ke sini, tujuannya justru hendak membunuh kau,” kata pula orang yang mengaku sebagai Lengkui itu.

Habis berkata, mendadak bayangan tubuhnya berkelebat, entah kapan golok yang terselip pada ikat pinggangnya sudah terhunus, dan entah cara bagaimana ujung golok juga telah mengancam tenggorokan Yang Cu-kang.

Gerakan ini sungguh cepat luar biasa dan sulit untuk dibayangkan. Tanpa terasa Thi-hoa-nio menjerit kaget.

“Crengg…!”

Terdengar suara nyaring berdenging memekak telinga. Entah sejak kapan Yang Cu-kang sudah memegang dua batang pedang pendek dan tahu-tahu sepasang pedang pendek itu sudah bersilang untuk menangkis tebasan golok sabit Lengkui.

Gerak tangkisan pedangnya juga cepat luar biasa dan sukar dibayangkan.

Dalam sekejap sinar golok yang hitam itu laksana gumpalan awan terus memburu ke arah Yang Cu-kang. Di tengah gumpalan awan hitam kadang kala juga berkelebat cahaya kilat yang menyerang Lengkui. Meski golok seperti awan hitam dan pedang laksana kilat, tapi langkah kedua orang tidak bergeser, bahkan tidak terdengar lagi suara benturan senjata.

Bagi pandangan orang biasa, pertarungan kedua orang itu lebih mirip orang yang sedang menari, hakekatnya bukan lagi bertempur. Tetapi Pwe-giok tahu telah terjadi pertarungan sengit, kecuali kedua orang yang bersangkutan ini mungkin sukar dibayangkan oleh orang lain betapa hebat gerakan mereka.

Kini jarak antara dua orang itu tidak ada lima kaki jauhnya, dengan senjata mereka cukup untuk mencapai sasarannya dan lawan dapat tertusuk tembus, namun anehnya serang menyerang mereka justru tidak mengenai sasarannya.

Yang paling aneh adalah kaki kedua orang sama-sama tidak menggeser sedikit pun, dari sini terbukti bahwa setiap serangan kedua pihak sama-sama jitu dan cermatnya, asalkan ketinggalan sedetik saja segera akan banjir darah dan terkapar.

“Mengapa kedua orang ini hanya berdiri tanpa bergerak, sungguh menyebalkan,” kata Lui-ji tak sabar.

Namun Pwe-giok sangat prihatin, ucapnya, “Sebab serangan kedua orang ini sama-sama secepat kilat, begitu Lengkui menebas dengan goloknya, kontan Yang Cu-kang membalas menusuk dengan pedangnya, terpaksa Lengkui ganti serangan untuk menyelamatkan diri, menyusul dia segera menyerang lagi hingga terpaksa Yang Cu-kang juga harus bertahan. Sebab itulah meski keduanya kelihatan serang menyerang, tetapi sebenarnya tidak dapat melukai lawan.”

Lui-ji terkesiap, “Kalau demikian, asal lengah sedikit saja gerak serangan Yang Cu-kang, tentu dia akan termakan oleh satu kali tebasan golok.”

Pwe-giok memandang luka yang memenuhi tubuh Hay Tong-jing, katanya, “Mungkin tidak cuma satu kali.”

Melihat luka Hay Tong-jing itu, dapatlah Lui-ji membayangkan serang menyerang mereka pasti akan berbahaya, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin, dia tercengang sejenak, kemudian berucap pula dengan menarik nafas, “Dari manakah datangnya makhluk aneh ini, mengapa kungfunya setinggi ini?”

“Ya, baru sekarang ini aku tahu betapa luasnya dunia kangouw dan orang kosen macam apa pun ada,” ujar Pwe-giok dengan gegetun.

Tiba-tiba Lui-ji mendesis, “Meski sekarang aku tahu Yang Cu-kang bukan orang baik, tapi jelek2 dia pernah menolong kita. Bagaimana kalau kita juga membantunya sekarang?”

“Kau pun ingin turun tangan?” tanya Pwe-giok.

“Makhluk aneh ini biar pun berdiri di situ tanpa bergeser, dia hanya memperhatikan golok lawan di depan, kalau kita mengitar ke belakangnya dan menyerangnya, tentu dia takkan tahu dan tak berjaga,” bisik Lui-ji.

Pwe-giok tidak bersuara, ia memutar ke belakang Lengkui, dijumputnya sebatang sumpit, dengan cara menyambitkan anak panah dia timpuk punggung Lengkui. Terdengar suara “cring” pula, suara nyaring mendenging.

Entah sejak kapan Lengkui dan Yang Cu-kang sudah bertukar tempat, waktu sumpit yang disambitkan Pwe-giok itu dicari, ternyata sudah terputus-putus menjadi tujuh potong dan menancap di tanah seperti paku.

Sama sekali Lui-ji tidak tahu cara bagaimana sumpit itu bisa tertabas putus.

“Nah, bagaimana?” tanya Pwe-giok sambil memandang Lui-ji.

Karuan Lui-ji hanya melongo saja dan tidak dapat menjawab.

Di tengah sinar pedang dan cahaya golok, tampak air muka Yang Cu-kang makin kelam, sebaliknya wajah si Lengkui tetap berkulum senyum serupa waktu datang tadi, sedikit pun tidak berubah.

Kini Pwe-giok dapat menilai. Bila pertarungan ini berlangsung terus, jelas Yang Cu-kang lebih banyak celaka dari pada selamatnya.

Kalau bicara ilmu silat, kedua orang kelihatan setali tiga uang alias sama kuatnya. Tetapi bila pertarungan berlangsung lama, betapa pun hati Yang Cu-kang kurang mantap.

Betapa pun tenangnya, Yang Cu-kang bukan orang tanpa perasaan. Bila teringat olehnya Suheng sendiri terluka parah, ilmu silat isterinya rendah, apa bila dirinya kalah, akibatnya sukarlah dibayangkan.

Dan bila mana teringat hal-hal demikian, tentu saja pikirannya rada terganggu, dan karena ketenangannya terganggu, cara bertempurnya tentu saja terpengaruh, sedikit lambat saja gerak serangannya, akibatnya tentulah fatal.

Sebaliknya Lengkui tampaknya hanya sebuah raga yang kosong, seperti hanya sesosok mayat hidup belaka, kalau dia juga punya perasaan dan bisa gelisah, rasanya tidak akan ada yang mau percaya.

Mungkin lantaran demikian inilah, maka Hay Tong-jing dapat dilukai oleh Lengkui.

Tiba-tiba terdengar Yang Cu-kang menarik nafas panjang, tahu-tahu ia melayang ke atas. Jelas ia pun menyadari apa bila pertarungan ini diteruskan pasti takkan menguntungkan, maka sekarang ia hendak berganti siasat.

Siapa tahu, baru saja tubuhnya mengapung ke atas, menyusul Lengkui juga melayang ke atas sehingga kedua orang kembali saling serang beberapa kali di udara. Setelah turun ke bawah, kedua orang tetap berhadapan dalam jarak dekat.

Yang Cu-kang ternyata tidak bisa berbuat apa-apa, maklum golok lawan terlampau cepat, maka terpaksa dia menangkis setiap serangan dan pada detik yang masih luang dia balas menyerang, dengan demikian barulah dia dapat mematahkan serangan musuh, jadi sama sekali tidak ada peluang lain baginya untuk bergerak.

Kini bukan hanya Yang Cu-kang sendiri, sampai Lui-ji juga berkeringat saking tegangnya. Thi-hoa-nio juga pucat dengan badan gemetar.

Pada saat itulah mendadak Ji Pwe-giok malah melompat keluar rumah.

Meski Lui-ji merasa yakin anak muda itu bukan seorang pengecut yang mencari selamat sendiri pada saat gawat, tapi dia lari keluar dalam keadaan demikian, sungguh Lui-ji tidak tahu apa maksudnya.

Meski pun pertarungan yang berlangsung di depan mata ini sangat hebat, namun hatinya sudah melayang ikut kepergian Ji Pwe-giok, biar pun pedang dan golok kedua orang yang bertempur itu dapat terbang sendiri juga tidak dihiraukannya lagi.

Syukurlah hanya sekejap kemudian Pwe-giok telah berlari masuk kembali, kini tangannya telah bertambah dengan sebatang pohon kecil yang dicabutnya bersama akar dan berikut daunnya.

Setengah tahun yang lalu, waktu menghadapi berpuluh tokoh Kun-lun-pay dan Tiam-jong-pay yang mengubernya masuk ke Sat-jin-ceng dulu, dia menggunakan tiang gardu untuk menghalau para pengeroyok itu. Kini dilihatnya ilmu golok Lengkui yang aneh dan ajaib itu, tiba-tiba saja timbul pikirannya hendak menggunakan akal ‘dengan berat mengalahkan kelincahan’. Maka dia langsung berlari keluar dan mencabut sebatang pohon yang bulatan batangnya sebesar mangkuk.

Biar pun Lui-ji sudah tahu tenaga Pwe-giok sangat besar, akan tetapi tanpa terduga dalam keadaan letih begitu dia masih sanggup mencabut sebatang pohon, seketika dia menjadi melenggong.

Sembari berjalan Pwe-giok terus membersihkan ranting dan daun pohon itu, mendadak ia membentak keras-keras, batang pohon terus menyerang ke punggung Lengkui.

Meski pun rumah ini cukup luas, tapi batang pohon yang diputar itu sedikitnya mencakup tempat seluas beberapa tombak, maka terdengarlah suara gemuruh, segenap isi ruangan telah tersapu berantakan.

Dari suara angin Lengkui dapat merasakan datangnya serangan, tiba-tiba saja golok sabit berkelebat dan menebas ke belakang, gerakan serangan ini sungguh cepat bukan main, tempat yang diarah juga jitu. Cuma sayang, yang sedang menghantam punggungnya itu bukan lagi sebatang sumpit melainkan sebatang pohon.

Biar pun tenaga dalam Lengkui sangat hebat, tetapi untuk menebas putus batang pohon dengan golok sabitnya yang kecil itu terasa rada sulit juga. Maka terdengarlah suara “crat” satu kali, batang pohon tertebas golok, tapi golok itu terus terjepit oleh batang pohon.

Hampir pada saat yang sama pedang pendek Yang Cu-kang juga sudah menusuk, lantas terdengar suara “crat-cret” susul menyusul dan dalam sekejap saja sekujur badan Lengkui telah tertusuk belasan kali oleh pedang Yang Cu-kang sehingga darah berhamburan.

Tapi wajah Lengkui masih tetap mengulum senyum, katanya, “Tusukan hebat, serangan bagus! Cuma sayang, selamanya Lengkui tak dapat mati, siapa pun tak dapat membunuh Lengkui...”

Sembari bicara golok bulan sabit yang terjepit batang pohon telah dicabutnya, mendadak goloknya membalik, dia tikam hulu hati sendiri, golok sepanjang tiga kaki lebih itu hampir amblas seluruhnya hingga sebatas gagang golok, ujung golok tampak menembus hingga ke punggung.

Air muka Lengkui sedikit pun tidak memperlihatkan rasa sakit dan menderita, tetap saja dia tersenyum dan berkata, “Kalau kalian tidak lekas angkat kaki, sebentar Lengkui akan kembali lagi dan menuntut balas padamu.”

Omong kosong ini jelas tidak dipercaya oleh siapa pun, tetapi melihat Lengkui mendadak membunuh diri, kematiannya juga demikian aneh, mau tak mau hati semua orang merasa ngeri.

Lui-ji menghela nafas lega, ucapnya, “Orang ini tidak cuma aneh ilmu goloknya, orangnya juga sangat aneh.”

“Ilmu golok yang seaneh ini, mungkin di dunia kangouw sekarang tidak ada sepuluh orang yang mampu menangkis sepuluh jurus serangannya,” kata Yang Cu-kang.

“Tapi nyatanya dia telah kau bunuh, tokoh Kangouw yang mampu menangkis sepuluh kali seranganmu pasti juga takkan lebih dari sepuluh orang,” ujar Lui-ji.

Yang Cu-kang tersenyum, katanya, “Ah, masa!”

Tapi Lui-ji lantas menjengek, “Hm, betapa pun tinggi ilmu pedangmu, coba kalau Pwe-giok tidak ikut turun tangan, mungkin saat ini jiwamu sudah melayang, memangnya apa yang kau banggakan?”

Yang Cu-kang tidak menjadi marah, sebaliknya dia bergelak tertawa, “Ha-ha-ha, memang betul, sedikit pun tidak salah.”

Dia lantas berpaling dan berkata kepada Ji Pwe-giok, “Wahai Ji-heng, waktu pertama kali kulihat kau, kukira tidak lebih kau ini cuma seorang pemuda bangor saja. Ketika bertemu lagi untuk kedua kalinya, kesannya memang bertambah baik sedikit, tetapi dirimu masih kupandang sepele. Juga sudah tiga kali aku melihat kau bertempur, setiap kali penilaianku kepada kungfumu selalu bertambah. Tapi sesungguhnya betapa tinggi dan betapa dalam kungfumu, sekarang aku pun merasa bingung.”

“Ahh, Yang-heng terlalu memuji,” jawab Pwe-giok. “Padahal bila Cayhe bergebrak dengan Lengkui ini, mungkin aku pun tidak sanggup menahan sepuluh kali serangannya.”

“Apa yang kau katakan itu mungkin betul,“ kata Cu-kang. “Ilmu silatmu sekarang mungkin belum luar biasa, tapi tiga tahun lagi, tanggung kepandaianmu pasti tidak di bawahku.”

Lui-ji tertawa, katanya, “Ehh, kenapa sekarang kau jadi rendah hati?”

Dengan suara sungguh-sungguh Yang Cu-kang lalu menjawab, “Yang kukatakan ini sama sekali bukan basa-basi, aku pun tidak perlu menjilat pantatnya. Betapa besar kungfu akan dicapai oleh seseorang sudah ditakdirkan, sudah pembawaan, biar pun berlatih giat juga tidak besar manfaatnya. Seperti halnya orang main catur atau melukis, perlu juga melihat bakat orangnya. Kalau tidak memiliki bakat, meski pun berlatih mati-matian hasilnya tetap terbatas dan tidak dapat mencapai titik tertinggi, hanya bentuknya saja yang berhasil, tapi tidak dapat menjiwainya.”

Tiba-tiba dia tertawa, lalu menambahkan, “Walau pun bakatmu sangat bagus, tetapi tanpa giat berlatih juga tidak akan menghasilkan apa-apa.”

“Ehh, kenapa bicaramu menjadi banyak, apakah kau tidak kuatir Lengkui akan datang lagi dan menuntut balas padamu?” kata Lui-ji dengan tertawa.

“Orangnya saja aku tidak takut, apa lagi cuma Kui (setan)?” ujar Cu-kang.

Meski hanya bersenda gurau, tidak urung sinar mata semua orang sama memandang ke arah Lengkui yang sudah menggeletak tak bernyawa itu, seakan-akan kuatir orang mati ini mendadak bisa melompat bangun untuk menuntut balas.

Tetapi sekali pandang, wajah semua orang yang sedang tertawa dan bersenda gurau itu seketika berubah kejut dan melongo.

Mayat Lengkui ternyata mulai membusuk, juga tulang belulangnya sudah mulai berubah menjadi cairan darah.

Pwe-giok jadi teringat kepada kejadian dulu atas diri Cia Thian-pi, itu tokoh Tiam-jong-pay yang dipalsukan, mayatnya waktu itu juga membusuk di bawah hujan lebat, keadaannya serupa benar dengan mayat Lengkui sekarang, keruan dia terkejut dan curiga.

Apa bila Cia Thian-pi gadungan itu adalah antek Ji Hong-ho, maka Lengkui ini tentu juga begundalnya, kalau tidak masakah mayat kedua orang bisa membusuk dengan cara yang sama? Jelas racun yang membikin mayat membusuk itu tersembunyi di sela-sela gigi dan sudah disiapkan akan digunakan apa bila keadaan kepepet, supaya rahasia penyamaran mereka tidak ketahuan.

Dan kalau Lengkui adalah begundal Ji Hong-ho, kan juga satu golongan dengan Yang Cu-kang. Mengapa sekarang dia datang hendak membunuh Yang Cu-kang? Apakah Ji Hong-ho sudah mengetahui pengkhianatan orang she Yang ini.

Yang jelas, baik Lengkui mau pun Yang Cu-kang, ilmu silat mereka jauh di atas Ji Hong-ho, mengapa mereka tidak berdiri sendiri, sebaliknya rela menjual nyawa baginya?

Begitulah di dalam hati Pwe-giok penuh tanda tanya, tapi dia memang seorang sabar dan pendiam, dapat berpikir panjang. Teringat olehnya tindak-tanduk Yang Cu-kang yang sulit diraba, maka dia pun tak ingin bertanya lagi, hanya saja terlintas sesuatu ingatan di dalam benaknya, ia coba tanya Yang Cu-kang, “Tadi mendadak orang ini menyebutkan dua bait syair kuno, apakah Yang-heng paham maksudnya?”

Yang Cu-kang termenung sejenak, jawabnya kemudian, “Persoalan ini sangat besar dan luas sangkut-pautnya, bahkan...”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong seorang menanggapi, “Selamanya Lengkui tidak bisa mati, siapa pun tidak dapat membunuh Lengkui, sekarang juga Lengkui sudah datang lagi untuk menuntut balas.”

Suaranya datar dan hambar, tidak cepat dan tidak lambat, nadanya terasa bersahaja dan mencekam. Berbareng dengan datangnya suara itu, tahu-tahu seorang sudah muncul di depan pintu.

Wajah orang ini kelihatan putih, alisnya tebal dan matanya besar, ujung mulutnya selalu mengulum senyum seperti wajah ukiran, kaku dan dingin. Baju yang dipakainya berwarna hitam dan sangat pas dengan tubuhnya, pada pinggangnya juga ada ikat pinggang warna merah darah dan golok sabit terselip miring pada ikat pinggangnya.

Jelas orang inilah Lengkui!

Waktu mereka memandang mayat Lengkui di tanah tadi, ternyata sudah habis cair, sudah lenyap.

Apakah Lengkui benar-benar tak dapat dibinasakan?

Apakah betul sekarang dia sudah hidup kembali dan datang menuntut balas? Walau pun Pwe-giok dan Yang Cu-kang sangat tabah, tapi berdiri juga bulu romanya demi munculnya orang ini secara mendadak. Apa lagi Thi-hoa-nio dan Cu Lui-ji, keduanya sama menjerit kaget.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner