IMBAUAN PENDEKAR : JILID-29


“Syukur kepada Thian dan Te, akhirnya kau sadar juga,” kata Lui-ji. “Tapi sampai kapan barulah hendak kau katakan rahasia kalian? Bilakah baru akan tiba saat terakhir kalian?”

“Meski sekarang belum sampai detik terakhir, tapi rasanya sudah boleh kukatakan rahasia ini,” ucap Hay Tong-jing setelah berpikir sejenak.

“Oo? Sebab apa?” tanya Lui-ji.

“Sebab rahasia ini sudah bukan rahasia lagi,” kata Hay Tong-jing dengan gegetun.

“Bukan rahasia lagi? Padahal jelas-jelas masih tetap rahasia,” tukas Lui-ji.

“Di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak rahasia, bergantung persoalannya terhadap siapa? Umpama terhadap kau... ”

“Baik, baiklah,” sela Lui-ji, “aku tidak peduli apakah keteranganmu ini benar rahasia atau bukan, aku cuma ingin tanya padamu, sesungguhnya siapa kalian? Apa artinya kedua bait syair yang diucapkan Yang Cu-kang itu?”

Hay Tong-jing termenung sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Sebenarnya aku dan Yang Cu-kang sama-sama anak piatu, guru kami sama seperti juga ayah kami...”

“Aku tahu kalian adalah anak yatim piatu, aku hanya ingin tahu siapa guru kalian?” tanya Lui-ji.

Mendadak Hay Tong-jing menarik muka, jengeknya, “Peristiwa ini terlampau panjang bila diceritakan. Kalau kau ingin tahu, hendaklah kau sabar.”

Lui-ji mendongkol, ia mencibir dan menjawab, “Baik, tak perlu kau ceritakan, memangnya apa yang menarik?”

“Sekarang biar pun kau tidak mau mendengarkan tetapi tetap akan kuceritakan,” kata Hay Tong-jing.

Tertawalah Lui-ji, katanya, “Hi-hi-hi, ini namanya sifat keledai Soasay, kalau dihalau tidak mau jalan, ditarik dia malah mundur. Dasarnya memang hina.”

Hay Tong-jing tidak menghiraukannya, tapi berkata kepada Pwe-giok, “Sebetulnya rahasia ini semenjak dahulu harus kuceritakan, sebab urusan ini kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan Ji-heng.”

Air muka Pwe-giok berubah. Belum lagi dia bersuara, Hay Tong-jing sudah menyambung, “Sudah lama guruku mengasingkan diri, umpama kusebut nama beliau juga belum tentu dikenal kalian, meski aku tidak ingin menjunjung tinggi beliau, tetapi sesungguhnya beliau memang seorang kosen dunia persilatan, pada 50 tahun yang lalu beliau sudah tidak ada tandingannya di dunia.”

“Bisa jadi lantaran dia tidak pernah bertemu dengan tokoh semacam Hong Sam Siansing dan sebagainya,” ujar Lui-ji.

Tetapi Hay Tong-jing tetap tidak menghiraukan, katanya pula, “Selama hidup beliau hanya ada seorang musuh, konon orang ini pun tokoh yang sukar dicari bandingannya di dunia persilatan, bukan saja ilmu silatnya maha tinggi, bahkan mahir pula akan segala macam ilmu pengetahuan, cuma hatinya keji dan bertangan ganas, dulu tokoh ini terpaksa kabur sejauh-jauhnya karena terdesak oleh guruku dan seorang jago tua lain, bahkan orang itu dipaksa bersumpah, selama guruku dan jago tua itu masih hidup, selama itu pula dia tidak pulang ke daerah Tionggoan.”

“Siapakah orang ini?” tanya Pwe-giok terkesiap.

“Selamanya guruku tak pernah menyebut namanya, hanya mengatakan bahwa ia berjuluk Tangkwik Siansing...”

“Tangkwik Siansing...?” Pwe-giok mengulang nama itu sambil berkerut kening.

“Dengan sendirinya Ji-heng tidak kenal namanya, sebab sudah hampir 30 tahun orang ini mengasingkan diri di daerah terpencil, bahkan tetap taat terhadap sumpahnya, selama ini tidak pernah selangkah pun menginjak daerah Tionggoan.”

Pwe-giok menghela napas gegetun, katanya, “Betapa pun jahatnya, tokoh kalangan hitam di masa lampau masih menjaga harga diri dan sayang pada namanya sendiri, sebaliknya sekarang, agaknya satu angkatan semakin surut dari pada angkatan yang lebih tua.”

“Meski orang ini hidup jauh terpencil, tapi tidak benar-benar tirakat dan mawas diri,” tutur Hay Tong-jing pula. “Hanya untuk sementara saja dia tidak berani melakukan kejahatan secara terang-terangan.”

Dia menghela napas, kemudian menyambung, “Setahu guruku, selama 30 tahun ini terus menerus dia merancang tipu muslihat secara diam-diam dan bermaksud muncul kembali, bahkan sekaligus akan menyapu jagat. Kini guruku sudah lama mengundurkan diri, jago tua seangkatannya juga sudah lama wafat, maka Tangkwik Siansing merasa sudah tiba saatnya, dia lantas... lantas...”

Sampai di sini agaknya dia sudah lemah, berdiri saja tidak kuat lagi.

Cepat Thi-hoa-nio menurunkan peti dan memapahnya berduduk.

Hay Tong-jing adalah kakak seperguruan Yang Cu-kang, maka dengan sendirinya ia wajib menjaga dan memperhatikan keselamatannya.

Tapi Lui-ji buru-buru ingin tahu, ia tanya pula, “Maksudmu iblis Tangkwik Siansing itu tidak rela hidup terpencil dan akhirnya merancang sesuatu intrik untuk bergerak secara besar-besaran?”

Hay Tong-jing menghela napas, katanya, “Biar pun guruku telah mengundurkan diri, akan tetapi beliau cukup kenal betapa jahatnya orang ini, sebab itulah diam-diam guruku tetap mengawasi dia. Cuma gerak-gerik orang ini memang sangat misterius, tindak-tanduknya juga rapi, selama ini guruku tetap tak berhasil mendapatkan sesuatu bukti. Sampai akhir-akhir ini guruku keluar rumah hingga lebih tiga bulan, sepulangnya kami lantas ditugaskan melakukan sesuatu.”

“O, sesuatu tugas apa?” tanya Lui-ji.

“Kami ditugaskan mengawasi tindak-tanduk Ji Hong-ho, Bu-lim-bengcu sekarang.”

Air muka Pwe-giok berubah kelam, ucapnya, “Jika demikian, jadi... orang she Ji ini adalah boneka Tangkwik Siansing yang dia pergunakan untuk memegang kekuasaan tertinggi di dunia persilatan. Memang sudah lama kuperkirakan dia pasti mempunyai sandaran kuat di belakangnya.”

“Tindakan guruku biasanya tidak suka banyak penjelasan, tetapi menurut perkiraan kami, keadaannya pasti demikian adanya,” ujar Hay Tong-jing. “Karena Tangkwik Siansing tidak dapat tampil ke muka, maka terpaksa dia menggunakan boneka yang mempunyai nama dan kedudukan di dunia persilatan, dan Ji Hong-ho biasanya memang suka meninggikan nama untuk mencari keuntungan pribadi, dialah pilihan yang paling tepat”

Air muka Pwe-giok berubah pula, ingin bicara tapi ditahan lagi.

Gemerdep sinar mata Lui-ji, lantas katanya, “Pantas tempo hari dia hanya memberi suatu tanda, lalu si gendut Thian-sip-sing itu tidak berani mengganggunya. Tentunya Thian-sip-sing itu pun kenal kelihaian Tangkwik Siansing”

“Pada jaman ini kecuali guruku mungkin tiada seorang pun yang sanggup menahan sekali pukulan Tangkwik Siansing itu, biar pun Hong Sam... he-he!” Hay Tong-jing hanya tertawa dingin saja dan tidak melanjutkan, namun sudah cukup jelas apa maksudnya.

Namun sekali ini Lui-ji tidak lagi balas mengejek, sebab dia pikir kungfu Thian-sip-sing itu memang betul tidak berada di bawah paman Hong. Bila Thian-sip-sing saja takut kepada Tangkwik Siansing, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kungfu Tangkwik Siansing itu.

Begitu terpaksa Lui-ji menahan rasa dongkolnya, lalu dia bertanya pula, “Dan apa artinya kedua bait syair yang disebut-sebut kalian itu?”

“Oleh karena Tangkwik Siansing sendiri tidak dapat masuk ke daerah Tionggoan untuk mengadakan kontak langsung dengan Ji Hong-ho, maka dia mengutus dua orang untuk menyampaikan perintahnya. Tetapi kedua orang ini sudah dicegat guruku di tengah jalan, dan sandi yang hendak mereka gunakan untuk mengadakan hubungan dengan Ji Hong-ho adalah dengan kedua bait syair itu.”

“Mengapa kedua orang itu mau memberi-tahukan rahasia ini kepada gurumu?” tanya Lui-ji.

“Di depan guruku mungkin di dunia ini tidak ada orang yang berani berdusta.”

“Makanya gurumu lantas menyuruh kau dan Yang Cu-kang menyamar sebagai dua orang yang dibekuk gurumu itu untuk bekerja sama dengan Ji Hong-ho?”

“Ya,” jawab Hay Tong-jing.

Lui-ji menghela napas gegetun, ucapnya, “Pantaslah Ji Hong-ho sedemikian mempercayai kalian.”

“Tapi kalau Tangkwik Siansing mau menyerahkan pekerjaan besar itu kepada Ji Hong-ho, suatu tanda orang ini pasti tidak boleh diremehkan. Sesudah kami bertemu dengan dia, kami pun dapat merasakan orang ini memang licik dan licin, cerdik dan pandai. Sebab itu mau tak mau kami harus bekerja sedikit baginya agar tidak menimbulkan curiganya.”

“O, makanya kalian gunakan orang lain sebagai oleh-oleh,” kata Lui-ji

“Demi kebaikan urusan keseluruhannya, terpaksa kami bertindak demikian. Apa lagi orang yang kami korbankan juga pantas mampus, kalau tidak, mengapa kami tidak turun tangan terhadap Ji-heng?”

Lui-ji tertawa, katanya, “Ya, hitung-hitung kalian bisa membedakan antara baik dan buruk, kalau tidak, mungkin kau pun takkan hidup sampai sekarang.”

Meski sekarang dia sudah tahu asal-usul Yang Cu-kang dan Hay Tong-jing, namun cara bicara Lui-ji masih tetap tajam dan tidak mau kalah sedikit pun.

Hay Tong-jing berlagak tidak tahu, katanya pula, “Gerakan kami boleh dikatakan sangat rapi, tapi tidak kami duga bahwa Tangkwik Siansing telah mengirim pula beberapa orang untuk berhubungan dengan Ji Hong-ho. Setelah mereka saling bertemu dengan sendirinya identitas kami lantas terbongkar. Maka Ji Hong-ho lalu mengirim mereka untuk membunuh kami.”

“Kawanan Lengkui itukah yang kau maksudkan?” tanya Lui-ji.

“Betul, guruku juga pernah dengar bahwa Tangkwik Siansing mempunyai anak buah Ngo-kui (lima setan), bahkan setiap kui mempunyai beberapa duplikat lagi. Sebabnya karena Tangkwik Siansing tidak cuma mahir ilmu rias, ilmu pertabibannya juga amat tinggi, maka dapat dibayangkan duplikat lima Kui itu pastilah hasil karya pisau operasinya yang mahir itu.”

Wajah Pwe-giok tambah pucat, tapi sinar matanya tambah mencorong, sebab bermacam persoalan yang aneh dan misterius itu kini sudah dapat diketahui hal ikhwalnya.

Tapi Lui-ji lantas tanya lagi, “Kalau gurumu sudah tahu Ngo Kui masih mempunyai banyak duplikat, mengapa tadi Yang Cu-kang masih ketakutan menghadapi mereka?”

“Rahasia ini baru diketahui guruku akhir-akhir ini,” tutur Hay Tong-jing. “Belum lama ini aku pernah pulang untuk menemui guruku, tapi Yang Cu-kang tetap berada di tempat Ji Hong-ho, baru malam tadi kami berjumpa lagi.”

“O, makanya air mukanya lantas berubah hebat demi mendengar Lengkui menyebutkan syair itu, sebab dia menyadari rahasia dirinya sudah diketahui,” kata Lui-ji.

Tiba-tiba Thi-hoa-nio berkata, “Kalau duplikat Lengkui itu ada lima atau enam orang, wah, dapatkah dia me... melayani mereka?”

“Kalau seorang Lengkui ada enam duplikat, satu Kui berarti ada tujuh Kui, cuma sebelum ini sudah kutumpas dua,” kata Hay Tong-jing.

“Jika begitu masih ada tiga, apa... apakah...” Thi-hoa-nio tetap kuatir.

“Jangan cemas,” kata Lui-ji dengan suara lembut, “orang macam Yang Cu-kang, jangan kata cuma tiga Kui, biar pun tiga ratus setan juga tak berdaya terhadapnya.”

Thi-hoa-nio tersenyum sebisanya, namun tetap tidak mengurangi rasa kuatirnya.

Hay Tong-jing berkata pula, “Bila mana ketiga Kui itu turun tangan berbareng, boleh jadi Yang Cu-kang akan repot melayani mereka. Cuma, meski ilmu silat mereka sangat aneh, namun pikiran sehat mereka sudah terpengaruh oleh obat sehingga gerak-gerik mereka jauh lebih lambat dari pada orang biasa. Sebab itulah meski aku telah terluka, tetap dapat lolos dari cengkeraman mereka. Kupikir, umpama Cu-kang tak dapat menandingi mereka, sedikitnya dia dapat kabur dengan selamat.”

“Tetapi bagaimana dengan kita?” tanya Lui-ji. “Menembus kemanakah lorong hantu ini? Siapa yang membuat jalan di bawah tanah ini? Sebab apakah dia membuat lorong ini?”

“Urusan ini tidak perlu kita tanya, cukup asal kita tahu setiap jalan di bawah tanah di dunia ini pasti ada lubang keluarnya,” ujar Hay Tong-jing dengan tak acuh.

“Tetapi sesungguhnya kau tahu tidak jalan keluar lorong ini? Kalau ini jalan buntu, lantas bagaimana?”

Hay Tong-jing berkerut kening, katanya, “Betapa pun juga jalan ini pasti tidak menuju ke gerbang akhirat.”

“Ah, belum tentu,” ujar Lui-ji. “Bisa jadi lorong ini adalah jalan masuk menuju neraka...”

Entah mengapa, belum habis ucapannya, tiba-tiba saja ia merasa hawa dingin dan seram berkesiur di samping kakinya sehingga tanpa terasa ia merinding.

Didengarnya Pwe-giok berkata, “Hay-heng, aku ingin... ingin mohon sesuatu padamu.”

Gemerdep sinar mata Hay Tong-jing, katanya, “Kau minta kubawa kau menemui guruku, begitu bukan?”

“Betul,” sahut Pwe-giok.

Hay Tong-jing menggeleng, ucapnya, “Urusan ini mungkin tidak mudah...”

“Tapi aku harus menemui beliau,” kata Pwe-giok.

“Untuk apa?” tanya Hay Tong-jing.

“Ada suatu rahasia besar harus kuberi-tahukan kepada beliau.” Air mukanya menunjukkan penderitaan yang sulit dikatakan, dengan rawan ia menjawab kemudian, “Mungkin di dunia ini hanya gurumu saja yang dapat menyelesaikan persoalanku ini, aku yakin beliau pasti mau menerima diriku.”

Hay Tong-jing berpikir sejenak, lalu berkata, “Apakah rahasia ini juga ada sangkut pautnya dengan Tangkwik Siansing itu?”

“Bukan hanya ada sangkut pautnya, bahkan sangat besar sangkut pautnya,” jawab Pwe-giok.

“Dapatkah kau katakan dulu kepadaku?”

Pwe-giok menghela nafas panjang, lalu ucapnya, “Bukannya aku tidak mempercayai Hay-heng, soalnya urusan ini... urusan ini...” mendadak bibirnya gemetar dan tidak sanggup melanjutkan.

Melihat penderitaan batin anak muda itu, tanpa terasa Hay Tong-jing menghela nafas pula, katanya, “Bukannya aku tidak mau membantu permintaanmu, soalnya sudah lebih dari 20 tahun guruku tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya kepada orang lain, bahkan kami dilarang keras membocorkan jejak beliau. Perintah guru tak boleh dilanggar, jadi kuharap engkau dapat memaklumi kesukaranku.”

Pwe-giok tersenyum getir dan mengangguk, “Ya, aku paham,” ucapnya dengan lesu.

“Tapi bisa jadi setiap saat beliau akan menemui kau, bahkan bukan mustahil kalian sudah pernah berjumpa,” tutur Hay Tong-jing pula. “Tindak tanduk beliau selamanya memang sukar diraba, siapa pun tidak dapat menduganya.”

Pwe-giok mengangguk, tiba-tiba ia seperti teringat kepada sesuatu kejadian, dibayangkan lagi peristiwa dahulu itu sehingga dia pun melamun.

Hay Tong-jing lantas berdiri, katanya, “Lorong ini entah berapa panjangnya, marilah kita mencari dulu jalan keluarnya.”

“Dan bagaimana dengan ketiga peti ini?” tanya Lui-ji. “Untuk apa kita menggendongnya? Kan lebih baik kita lepaskan orang yang tersekap di dalamnya?”

“Untuk sementara orang di dalam peti ini tidak dapat siuman, kau lepaskan mereka juga percuma, lebih baik kau gendong lagi sebentar,” kata Hay Tong-jing.

“Sialan!” omel Lui-ji sambil menghentakkan kaki…

Jalan bawah tanah itu memang rahasia dan berliku-liku, bahkan amat dalam dan panjang, untung setiap belokan selalu diterangi sebuah pelita yang terselip di sela dinding. Cahaya pelita guram sehingga mirip api setan.

Mendadak Lui-ji bertanya, “Eh, tahukah kau sudah berapa buah pelita yang kita lalui?”

Pwe-giok tahu anak dara ini tidak dapat diam. Setiap lewat sekian lama tentu akan timbul sesuatu pertanyaan baru, bahkan setiap pertanyaannya selalu aneh-aneh.

Siapa pun tidak tahu untuk apa dia bertanya begitu, maka tidak ada yang menjawab.

“Sampai saat ini, sudah 39 buah pelita yang kita lalui, coba, aneh tidak?” kata Lui-ji pula.

“Apanya yang aneh?” Hay Tong-jing tidak tahan dan menanggapi.

“Tidak kau rasakan aneh, karena kau tidak suka banyak melihat, juga tidak mau banyak berpikir,” omel Lui-ji.

“Soalnya urusan yang harus kupikirkan jauh lebih penting dari pada urusan lampu,” jengek Hay Tong-jing.

Kali ini Lui-ji ternyata tidak menanggapi, ia hanya memandangi pelita perunggu itu dengan termangu-mangu.

Tanpa terasa Hay Tong-jing ikut berhenti, tapi setelah dipandang sekian lama tetap tidak terlihat suatu keanehan pada lampu itu, akhirnya ia tidak tahan pula dan berucap, “Tiada sesuatu yang aneh pada lampu ini.”

“Oo? Begitukah?” kata Lui-ji.

“Memangnya ada kau lihat sesuatu?” tanya Hay Tong-jing.

“Betul, makin kulihat makin mengherankan, makin kupikir juga makin aneh, sungguh aneh sekali.”

“Di mana letak keanehannya?”

Lui-ji mencibir, jawabnya, “Jika kau anggap urusan ini tidak penting, untuk apa bertanya?”

Mendongkol juga Hay Tong-jing, tapi terpaksa tak dapat bicara lagi.

Meski Thi-hoa-nio sendiri lagi memikirkan keselamatan Yang Cu-kang, kini ia pun merasa geli. Ia merasa kepandaian Lui-ji yang terbesar adalah memancing kemarahan orang, jauh lebih pandai dari pada caranya menaruh racun. Bila berhadapan dengan anak perempuan semacam ini, kaum lelaki sebaiknya sedikit bicara, bahkan paling baik jangan bicara.

Tetapi Lui-ji juga ketemu batunya, yaitu terhadap Pwe-giok, di depan pemuda itu mau tak mau dia harus pendiam, sebab waktu tidak perlu bicara pasti juga Pwe-giok takkan bicara.

Dengan berseri-seri Lui-ji lantas berkata pula, “Di lorong ini ada 39 buah lampu, tapi belum juga sampai di lubang keluarnya, dari sini dapat diketahui lorong ini pasti sangat panjang. Dan lorong sepanjang ini kan tidak banyak?”

“Ya, memang jarang ada,” ujar Pwe-giok.

“Di dalam lorong bawah tanah ini ada 39 buah lampu, sedikitnya ada empat lima hal yang pantas diherankan, apa bila kau mau menirukan diriku, mau banyak memeras otak, bisa jadi akan dapat kau pikirkan.”

“Anak perempuan umumnya memang jauh lebih cermat dari pada lelaki, meski sejak tadi kuperas otak, tetap tak dapat memikirkan apa pun,” kata Pwe-giok dengan tersenyum.

Lui-ji tambah gembira, katanya pula, “Orang ini membuat lorong bawah tanah sepanjang ini, dapat diperkirakan pasti ada maksud tujuan yang khusus, sebab jika tujuannya hanya untuk jalan lari saja, kan dimana pun dapat dibuatnya sebuah lubang keluar. Lantas untuk apa mesti banyak membuang tenaga dan membangun jalan sepanjang ini.”

Sikap Pwe-giok mulai prihatin, katanya, “Ya, betul juga.”

“Untuk membuat lorong sepanjang ini sedikitnya diperlukan waktu tiga sampai lima tahun, padahal Yang Cu-kang belum lama muncul di dunia kangouw, jelas lorong ini bukan hasil kerjanya.”

“Mungkinkah gurunya...?” kata Thi-hoa-nio.

Lui-ji memandang Hay Tong-jing sekejap, jawabnya, “Pasti bukan, buktinya orang ini pun tidak tahu.”

Thi-hoa-nio mengangguk-angguk.

Lalu Lui-ji berkata pula, “Jika ia sengaja membuang tenaga dan pikiran sebanyak ini untuk membangun jalan di bawah tanah ini, tentu dia punya tujuan tertentu. Kalau ada tujuan, pasti gerak-geriknya sangat rahasia, lantas bagaimana Yang Cu-kang dapat mengetahui rahasianya?”

“Bisa jadi lorong ini telah lama sekali dibangun dan baru akhir-akhir ini ditemukan oleh Cu-kang secara tidak sengaja, mungkin orang yang membangun lorong ini sudah lama mati,” kata Thi-hoa-nio.

“Tidak betul,” ucap Lui-ji tegas.

“Sebab apa?” tanya Thi-hoa-nio.

“Rumah gubuk di luar sana pasti dibangun bersamaan dengan lorong di bawah tanah ini, tentunya dapat kau lihat gubuk itu tidak terlalu tua, umurnya pasti belum lebih dari pada sepuluh tahun.”

“Tapi rumah gubuk begitu kan setiap waktu dapat diperbaiki...”

“Gubuk itu hanya untuk menutupi jalan di bawah tanah ini dan bukan untuk tempat tinggal, makanya tidak perlu diperbaiki segala, apa lagi semua ini pun bukan masalah pokok yang penting.”

“Habis apa masalah utamanya?” tanya Thi-hoa-nio.

“Lampu-lampu ini,” jawab Lui-ji.

“Lampu?” Thi-hoa-nio melongo.

“Ya, lampu,” kata Lui-ji. “Coba jawab, lampu semacam ini, kalau tidak ditambahi minyak, umumnya dapat menyala berapa lama?”

“Lampu umumnya kalau tidak ditambah minyak, satu malam saja akan kehabisan minyak dan padam sendiri,” jawab Thi-hoa-nio. “Meski pun lampu ini lebih besar sedikit dari pada lampu biasa, paling-paling juga tahan menyala sehari semalam saja.”

Mendadak Lui-ji berkeplok dan berkata, “Tepat sekali. Sedangkan lampu-lampu ini terus menyala tanpa membedakan siang atau malam dan tidak pernah padam, ini membuktikan bahwa setiap hari pasti ada orang datang ke sini untuk menambahkan minyak lampu.”

Dengan sinar mata yang gemerdep dia menyambung pula, “Tapi akhir-akhir ini Yang Cu-kang jelas tidak berada di sini, suatu tanda orang yang menambahi minyak lampu tentulah bukan dia.”

“Jika begitu, lantas siapa?” tanya Thi-hoa-nio.

“Bisa jadi orang yang membangun lorong bawah tanah ini, mungkin juga budaknya,” ujar Lui-ji. “Tapi betapa pun juga di lorong ini pasti ada orangnya, meski kita tidak melihat dia, bukan mustahil secara diam-diam dia sedang mengintai kita.”

Di tengah kelip cahaya pelita minyak itu, suasana di lorong itu seakan-akan mendadak berubah dingin.

Thi-hoa-nio memandang sekelilingnya, hatinya merasa was-was, jangan-jangan di tempat kegelapan yang tak sampai oleh cahaya lampu itu benar tersembunyi orang yang sedang mengintai mereka sambil menyeringai!

Tanpa terasa dia pun bergidik, ucapnya sambil menyengir, “Aneh, sekarang nyaliku terasa semakin kecil.”

“Nyali anak perempuan yang telah kawin biasanya akan bertambah kecil,” kata Lui-ji.

“Seumpama di sini benar ada orangnya, kukira juga tidak bermaksud jahat terhadap kita, buktinya Yang Cu-kang menyuruh kita masuk ke sini tanpa kuatir,” kata Hay Tong-jing.

“Ah, belum tentu juga,” jengek Lui-ji. Tanpa memberi kesempatan bicara kepada orang, ia menyambung pula, “bisa jadi dia sendiri pun tidak tahu apakah di lorong bawah tanah ini ada orang atau tidak, bisa jadi dia menemukan rumah gubuk itu secara tidak sengaja dan di dalam rumah juga kebetulan tidak ada penghuninya...”

“Benar,” tukas Thi-hoa-nio, “waktu aku dibawanya ke sini, semula rumah itu penuh debu, tungkunya juga kotor dan dingin, jelas sudah lama tidak ditinggali orang.”

“Tapi dia pasti telah lama menemukan tempat ini, kalau tidak masakah dia berani berjanji dengan Ong Uh-lau dan lain-lain untuk bertemu di sini?” Setelah memandang Hay Tong-jing sekejap, lalu Lui-ji bertanya, “Tentunya kau pun sudah lama mengetahui akan tempat ini, kalau tidak tentu kau pun takkan lari ke sini, betul tidak?”

“Justru aku dapat tahu tempat ini dari Ong Uh-lau, sebelum ini aku tidak pernah ke sini,” jawab Hay Tong-jing. Sesudah merandek sejenak, segera ia melanjutkan pula, “Tapi apa pun juga di lorong sini pasti ada orang lain, kalau kita sudah sampai di sini, mau tak mau harus kita temukan orangnya. Apa gunanya kita hanya sembarangan menerka tanpa ada bukti?”

Mendadak Pwe-giok menyela dengan tertawa, “Sebenarnya tanpa kita mencari dia, pasti juga dia akan mencari kita.”

Segera Thi-hoa-nio memandang lagi ke sekeliling, katanya, “Peduli dia orang macam apa, kuharap selekasnya dia mau muncul, makin cepat makin baik.”

“Siapa pun orangnya tidak kutakuti, jika yang muncul bukan orang, itulah yang repot,” kata Lui-ji.

Kembali Thi-hoa-nio merinding, tanpa terasa ia mendekatkan tubuhnya ke samping Pwe-giok.

Lui-ji mengikik tawa, ucapnya kemudian, “Hi-hi, kukira kau tidak sungguh-sungguh takut, tapi mencari kesempatan...”

Belum habis ucapan Lui-ji, mendadak pelita minyak sama padam, kegelapan seakan-akan mendatangkan hawa dingin yang membuat bungkam mulut anak dara itu.

Namun cahaya lampu segera terlihat di balik belokan sana. Tanpa disuruh semua orang lantas memburu ke sana, tapi siapa tahu, setiba di bawah lampu itu, sekonyong-konyong lampu ini pun padam.

Seketika suasana tenggelam dalam kegelapan yang membuat orang putus asa, biar pun tempat dimana mereka berada sangat sempit, akan tetapi kegelapan justru tak terhingga luasnya. Setiap orang seakan-akan beku oleh kegelapan, siapa pun tidak mampu bicara lagi.

Sampai agak lama barulah Lui-ji menghela nafas dan berkata, “Apa bila sekarang dapat kubeli minyak lampu, aku berani bayar satu tahil minyak dengan satu kati perak.”

“Jangan kuatir, aku membawa geretan api,” kata Hay Tong-jing.

“Geretan api dapat menyala berapa lama?” tanya Pwe-giok.

“Sudah terpakai dua kali, sisanya mungkin masih tahan setanakan nasi,” tutur Hay Tong-jing.

“Lekas keluarkan. Selama setanakan nasi mungkin dapat kita temukan jalan keluarnya,” seru Lui-ji.

“Dan kalau tidak menemukannya?” tanya Pwe-giok.

“Betapa pun harus kita coba, kan?”

“Tidak dapat dicoba! Sebab geretan api ini adalah kesempatan kita yang terakhir, apa bila geretan api ini terpakai habis, tanpa orang turun tangan terhadap kita, jelas kita akan mati terkurung di sini.”

“Tapi kita kan dapat mundur kembali ke sana?” ujar Lui-ji.

“Tidak bisa mundur lagi,” kata Pwe-giok.

“Sebab apa?” tanya Lui-ji.

“Lorong ini tampaknya seperti cuma satu, yang melingkar dan berliku-liku, maka jika kita merayap di dalam kegelapan, bisa jadi kita akan terus putar kayun di tempat semula.”

“Kalau demikian, jangan-jangan lampu ini memang sengaja dipadamkan orang?” seru Thi-hoa-nio dengan suara serak.

“Adakah kau lihat seseorang?” tanya Lui-ji.

“Tidak, akan tetapi...”

“Memangnya hendak kau katakan kalau orang itu bisa ilmu menghilang?” ujar Lui-ji sambil tertawa. Meski sambil tertawa, tanpa terasa ia memegang lengan Pwe-giok erat-erat.

“Apa pun juga kita tak dapat berdiri di sini,” kata Hay Tong-jing.

“Betul, jika di luar tentunya kita dapat menunggu hingga terang tanah,” tukas Lui-ji. “Tetapi berada di tempat setan ini, selamanya takkan pernah terang tanah.”

“Maka sekarang juga kita harus merambat ke depan, kalau perlu barulah kita menyalakan geretan api,” kata Pwe-giok.

“Tapi bilakah baru akan dianggap perlu?” tanya Lui-ji.

“Untuk ini...” Pwe-giok menjadi ragu.

“Sekali ini kukira ucapan nona Cu tidak... tidak betul,” sela Hay Tong-jing. “Jika sekarang juga kita nyalakan api terus menerjang ke depan, mungkin sebelum geretan api menyala habis sudah dapat kita temukan jalan keluar.”

“Betul, meski ini merupakan pertaruhan terakhir, tapi betapa pun juga boleh kita coba dari pada tinggal diam,” tukas Thi-hoa-nio.

“Agar gerakan kita bisa lebih leluasa, biarlah kita tinggalkan dahulu ketiga peti ini di sini, nanti kalau kita sudah keluar baru berusaha lagi menolong mereka,” kata Hay Tong-jing.

“Jika kita tidak dapat menemukan...” Pwe-giok tetap ragu.

“Jika tidak dapat menemukan jalan keluar, toh kita tetap akan mati terkurung di sini,” ujar Hay Tong-jing.

Pwe-giok termenung sejenak, kemudian menghela nafas panjang, katanya, “Aku pun tidak tahu tindakan kalian ini tepat atau tidak, cuma kupikir... pendapat tiga orang tentunya lebih baik dari pada pendapat satu orang...”

Meski pun cahaya geretan api yang dinyalakan itu tidak dapat mencapai jarak jauh, tetapi di dalam kegelapan asalkan ada setitik sinar tentu akan membangkitkan semangat orang. Maklumlah, siapa pun juga bila berada di dalam kegelapan tentu akan merasa putus asa dan kehilangan keberanian.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner