IMBAUAN PENDEKAR : JILID-31


Dengan gemas Lui-ji mengusulkan, “Tempat ini toh tidak terlalu luas, marilah kita temukan dia.”

Thi-hoa-nio menghela nafas, lalu berkata, “Kalau dia tidak mencari kita kan sudah untung, masakah kau malah ingin mencari dia?”

Tiba-tiba saja Pwe-giok berkata kepada Hay Tong-jing dengan tertawa, “Dalam keadaan demikian, masakah kau belum mau membongkar teka-teki ini?”

“Teka-teki? Teka-teki apa?” Hay Tong-jing jadi melengak malah.

“Sungguh aku tidak mengerti untuk apa kalian berdua sengaja memancing kami ke sini?” tanya Pwe-giok.

“Ap... apa katamu?” Hay Tong-jing menegas dengan bingung. “Mengapa kami memancing kalian ke sini? Hakekatnya aku tidak pernah kenal tempat ini, lebih-lebih tidak kenal si gila ini.”

“Bisa jadi Hay-heng memang belum pernah datang ke tempat ini, akan tetapi Lo-siansing ini justru sudah dikenal Hay-heng,” kata Pwe-giok.

“Mana bisa kukenal dia?” sahut Hay Tong-jing dengan gugup. “Untuk... untuk apa kutipu kau?”

Pwe-giok menghela nafas, ucapnya, “Aku pun tidak tahu untuk apa Hay-heng menipuku? Tapi cerita yang dituturkan Hay-heng di lorong tadi... cerita tentang Tangkwik Siansing itu, tadinya kupercaya penuh setiap kata ceritamu, akan tetapi sekarang mau tak mau harus kusangsikan.”

“Sebab apa?” tanya Hay Tong-jing.

“Demi membuat lorong bawah tanah ini, dia tidak sayang untuk membunuh semua pekerja ini untuk menutup mulut mereka selamanya. Dengan sendirinya lorong di bawah tanah ini menyangkut sesuatu rahasia maha besar, betul tidak?”

“Ya, betul,” jawab Hay Tong-jing.

“Jika demikian, kenapa dia perlu membangun rumah gubuk pada ujung jalan keluar tadi? Jika di atas gunung yang paling sepi ini ada sebuah rumah kosong, bukankah hal ini akan sangat menarik perhatian orang?”

Kembali Hay Tong-jing melengak, katanya, “Bisa jadi... bisa jadi rumah itu bukan rumah kosong.”

“Betul, rumah itu pasti tidak kosong, tapi dimana orangnya?”

“Mungkin telah dibunuh oleh Yang Cu-kang?”

Pwe-giok tertawa, katanya, “Apakah mungkin demi merampas sebuah rumah Yang-heng perlu membunuh orang tak berdosa sebanyak itu?”

“Ini... ini...” Hay Tong-jing tak dapat menjawab.

“Apa lagi, kalau dia menyuruh orang-orang itu berjaga di dalam rumah, tentu mereka ada kontak satu sama lain, setelah mereka dibunuh Yang-heng, mustahil dia tidak tahu? Dan kalau dia tahu, masakah Yang-heng dibiarkan tinggal di sana?”

“Jadi maksud Ji-heng...”

“Maksudku hanya ingin menyatakan antara Yang-heng dan Lo-siansing ini pasti telah ada hubungan, dia menyuruh kita masuk ke lorong ini juga sebelumnya telah direncanakan.”

Berubah air muka Hay Tong-jing, lantas katanya, “Untuk apa dia berbuat begitu? Kenapa aku tidak diberi-tahu?”

“Hay-heng benar-benar tidak tahu?” Pwe-giok menegas dengan melotot.

“Ya, sedikit pun tidak tahu,” jawab Hay Tong-jing tegas.

“Jika demikian, mengapa Hay-heng mengantar nona Ki Leng-hong ke sini?”

“He, apa pula artinya ucapanmu ini?”

“Memang aku sedang heran, sebab apakah Hay-heng menangkap Ki Leng-hong? Padahal aku tahu kalian hendak menyerahkan Kwe Pian-san dan Ciong Cing kepada Pek-hoa-bun untuk mengambil hati Hay-hong-hujin, tapi sampai sejauh itu aku tidak mengerti Ki Leng-hong hendak kalian serahkan kepada siapa? Dan baru sekarang aku tahu jelas duduknya perkara.”

“Tahu jelas duduknya perkara? Perkara apa?” tanya Hay Tong-jing dengan bingung.

“Tujuan Hay-heng menangkap Ki Leng-hong adalah untuk diserahkan kepada Lo-siansing ini.”

“Untuk apa diserahkan padanya? Untuk apa pula dia menghendaki Ki Leng-hong?” tanya Hay Tong-jing.

Pwe-giok tertawa, katanya kemudian, “Bisa jadi untuk dijadikan patung lilin, mungkin juga ada keperluan lain. Kukira Hay-heng tentu jauh lebih jelas dari padaku.”

Hay Tong-jing menghela napas panjang, katanya, “Meski aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, tapi aku yakin jalan pikiranmu pasti keliru, hakekatnya aku tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini, jika Ji-heng tidak percaya, terpaksa aku...”

Mendadak terdengar suara jeritan, suara jeritan Lui-ji dan Thi-hoa-nio.

Pwe-giok terkejut dan berpaling, terlihatlah kedua orang itu sudah berada dalam pelukan dua patung lilin.

Muka Lui-ji tampak pucat, serunya dengan suara parau, “Patung lilin ini bukan mayat, tapi orang hidup.”

Thi-hoa-nio tampak gemetar dan hampir saja jatuh kelengar.

Terdengar orang lilin itu berkata, “Apa bila kalian menghendaki mereka tetap hidup, maka berdirilah di situ dan jangan bergerak.”

Sembari bicara, lapisan lilin yang tipis pada mukanya lantas mengelupas sepotong demi sepotong.

Terpaksa Pwe-giok berdiri di tempatnya dan tidak bicara apa pun.

Hay Tong-jing tidak tahan, ucapnya, “apa kehendak kalian?”

Padahal pertanyaannya ini terlampau berlebihan dan menggelikan. Tapi setiap orang bila sudah kepepet memang sering mengucapkan kata-kata yang lucu.

Pada saat itulah tertampak dua patung lilin yang sedang bermain catur di kejauhan sana mendadak juga bergerak, tubuh mereka hanya berkelebat dan tahu-tahu sudah menubruk tiba.

Namun patung lilin yang memeluk Cu Lui-ji itu lantas berseru, “Berhenti, barang siapa di antara kalian bergerak sedikit saja, jiwa kedua perempuan ini segera melayang.”

“Jangan urus diriku, mereka tidak berani membunuhku!” teriak Lui-ji.

Pwe-giok menghela napas, tahu-tahu ia merasakan dua tangan yang kuat telah merangkul tubuhnya, menyusul beberapa tempat Hiat-to penting juga tertutuk.

Kembali Lui-ji menjerit kuatir, teriaknya parau, “He, apa... apa kehendak kalian...?” belum habis ucapannya, berderailah air matanya.

Terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya, “Nona cilik, tentunya sekarang kau tahu kalau orang-orang lilin tidaklah lebih baik dari pada manusia tulen. Padahal terkadang mereka pun jauh lebih berbahaya dari pada orang asli.”

Di tengah suara tertawa yang melengking itu, si kakek berjubah hitam tadi sudah muncul pula, cuma sekarang topinya bukan lagi caping bambu melainkan sebuah topi tinggi yang berbentuk aneh.

Potongan tubuh kakek ini amat pendek, sekarang memakai topi setinggi ini, maka sekilas pandang topinya ini seakan-akan lebih tinggi dari pada orangnya, bentuknya kelihatan lucu dan mentertawakan.

Tapi dalam keadaan demikian siapa pula yang dapat tertawa?

Segera Lui-ji memaki, “Kau tua bangka, siluman...” segenap kata makian yang paling keji telah dihamburkan seluruhnya, tapi si kakek mendengarkan saja seperti sangat tertarik.

Sesudah Lui-ji kehabisan kata-kata makian barulah kakek itu berkata dengan tersenyum, “Nona cilik, kau amat pintar menangis, juga pandai memaki orang, aku justru sangat suka kepada nona cilik semacam kau ini. Sebentar tentu akan kujadikan kau patung lilin yang cantik, secantik boneka.”

“Kau... kau...” Lui-ji sampai kehabisan suara. Dia ingin memaki lagi, tetapi ngeri, bibir pun kering.

Topi tinggi di atas kepala si kakek tampak bergoyang-goyang, ia mendekati Pwe-giok dan berkata, “He, anak muda, namamu Ji Pwe-giok bukan?”

“Betul,” jawab Pwe-giok.

Si kakek mengekeh tawa, ucapnya, “Meski belum pernah kulihat kau, tapi sekali pandang saja lantas kukenali kau.”

Mendadak Pwe-giok juga tertawa, katanya, “Meski aku tidak pernah melihat kau, tapi aku pun kenal kau.”

“Oo?!” si kakek melengak, lantas bergelak tertawa, katanya, “Wah, kalau benar kau kenal diriku, sungguh tidak kecil kepandaianmu.”

“Kau bukan manusia,” kata Pwe-giok.

Si kakek menyeringai, “Ternyata kau pun serupa nona cilik itu, pintar memaki orang. Aku bukan manusia, memangnya siluman?”

“Kau pun bukan siluman, tetapi cuma sesosok mayat,” ujar Pwe-giok. “Sebab sudah lama kau mati.”

“Kau bilang aku ini mayat?” seru si kakek dengan terbahak.

“Betul, meski belum pernah kau lihat diriku, tapi aku sudah pernah melihat kau.”

“Pernah kau lihat diriku? Dimana?” tanya si kakek.

“Di dalam sebuah kuburan.” jawab Pwe-giok.

Seketika Lui-ji melenggong, dia merasa bingung oleh ucapan Pwe-giok itu, bahkan anak muda ini hampir disangkanya rada kurang waras.

Sebab seorang yang sehat, seorang yang normal, tentu tak akan menuduh seorang hidup sebagai sesosok mayat, lebih-lebih tak akan menyatakan dirinya pernah pesiar ke dalam sebuah kuburan. Semua ini hakekatnya bukan ucapan Ji Pwe-giok yang sebenarnya.

Siapa tahu setelah mendengar kata-kata demikian, air muka si kakek tiba-tiba berubah. Ia melototi Pwe-giok hingga sekian lamanya, lalu menegas, “Kau pernah datang di kuburan itu?”

“Betul, malahan cukup lama aku tinggal di sana.”

“Dan cara bagaimana kau keluar lagi?”

Pwe-giok tertawa, jawabnya, “Keluar melalui pantatmu.”

Sampai di sini, bukan hanya Lui-ji saja yang menganggap anak muda itu kurang waras, bahkan Thi-hoa-nio dan Hay Tong-jing juga mengira Pwe-giok mendadak sinting, sebab apa yang diucapkannya sama sekali bukan kata-kata manusia normal.

Tapi air muka si kakek lantas berubah menjadi lebih menakutkan, mendadak dia berseru, “Cucu perempuanku sayang, marilah keluar!”

Ketika cucu perempuannya telah keluar, kecuali Pwe-giok, yang lain-lain sama terperanjat pula. Sebab siapa pun tidak menyangka cucu perempuannya adalah Ki Leng-hong.

Tapi sejak tadi Pwe-giok sudah tahu kakek ini adalah Ki go-ceng yang menghilang dengan berlagak mati itu. Kepandaiannya membikin patung lilin memang bagus (bacalah Renjana Pendekar).

Terdengar si kakek alias Ki Go-ceng lagi bertanya kepada cucu perempuannya, “Apakah betul perkataan bocah ini?”

“Entahlah, aku tidak tahu,” jawab Ki Leng-hong. Nona ini kelihatan sangat kurus dan lesu, sangat lemah, tapi jawabannya cukup tegas.

“Dia pernah datang ke Sat-jin-ceng bukan?” tanya pula Ki Go-ceng.

“Jika dia belum pernah ke Sat-jin-ceng, cara bagaimana dapat kukenal dia? Tetapi banyak juga orang yang pernah mengunjungi Sat-jin-ceng, tidak cuma dia saja.”

Ki Go-ceng tertawa, dia tepuk-tepuk perlahan muka Ki Leng-hong yang bulat telur itu, lalu ucapnya dengan tertawa, “Aih, cucu perempuanku sayang, bicara terhadap kakek mana boleh sekasar ini.”

Ki Leng-hong moncongkan mulutnya dan berucap manja, “Aku pening kepala, ingin tidur.”

Begitu habis ucapannya, segera dia melangkah pergi, sama sekali tidak memandang lagi terhadap Ji Pwe-giok.

Ki Go-ceng geleng-geleng kepala, gumamnya, “Aih, bocah ini menjadi rusak karena terlalu dimanjakan ibunya.” Mendadak ia memelototi Pwe-giok pula dan bertanya, “Eh, kabarnya putra Ji Hong-ho itu pun bernama Ji Pwe-giok, apa betul?”

“Begitulah kalau tidak salah,” jawab Pwe-giok.

“Konon dia sudah mati di Sat-jin-ceng.”

“Agaknya juga betul.”

Mendadak mencorong sinar mata Ki Go-ceng, ucapnya dengan perlahan, “Bisa jadi tidak mati, mungkin dia sudah pesiar sejenak ke kuburan, lalu hidup kembali, bahkan bertemu dengan seseorang yang telah mengubah bentuk wajahnya.”

Mendadak ia jambret leher baju Pwe-giok dan berteriak, “Dan mungkin kau inilah dia, kau inilah putra Ji Hong-ho itu.”

Sebenarnya Pwe-giok tidak mengerti apa sebabnya Ki Leng-hong berdusta, dan sekarang ia tahu duduknya perkara. Meski lahirnya dia tetap tenang saja, tapi telapak tangan sudah merembeskan keringat dingin.

Bukan mustahil kalau Ki Go-ceng adalah sekelompotan dengan ‘Ji Hong-ho’ itu. Pwe-giok sengaja dipancing ke sini untuk diselidiki apakah dia dan Pwe-giok yang tersiar sudah mati itu sama atau tidak.

Maklumlah, mengenai perubahan wajah Pwe-giok hanya diketahui oleh Ki Leng-hong saja, tapi nona itu ternyata tidak menyingkap rahasianya, meski pun tidak tahu mengapa orang menutupi rahasianya, namun Pwe-giok sangat berterima kasih padanya.

Ki Go-ceng masih terus memelototi Pwe-giok, tanyanya pula, “Sesungguhnya kau ini anak Ji Hong-ho atau bukan?”

Pwe-giok tertawa, jawabnya, “Aku ini anak siapa, ada persoalan apa dengan kau?”

“Sekali pun kau mengaku sebagai anak Ji Hong-ho, kan juga tidak menjadi soal?” ujar Ki Go-ceng.

“Lalu kenapa kau sendiri tidak mau mengaku sebagai anaknya?” jawab Pwe-giok.

Ki Go-ceng menarik muka, tiba-tiba saja dia tertawa pula, “Bagus, anak muda, anggaplah mulutmu memang keras. Jika kau tidak suka bicara terus terang, biarlah sekalian kubikin kau tak dapat bicara untuk selamanya.”

Goa batu ini jauh lebih terang dari pada ruangan goa sebelah luar sana, juga jauh lebih hangat, sebab api pada sebuah tungku besar telah dinyalakan, di atas tungku ada sebuah wajan besar. Lilin di dalam wajan sudah mulai cair.

Dengan sebuah gayung besar, perlahan Ki Go-ceng mengaduk cairan lilin itu. Ketika api tungku sudah mulai menghijau maka menguaplah hawa panas dari wajan besar. Di bawah gemerdep cahaya api dan uap lilin, muka Ki Go-ceng terlihat seperti sebuah topeng setan.

Sinar matanya juga gemerdep memancarkan cahaya kebuasan dan kegilaan, terdengar dia berucap, ”Bukanlah pekerjaan mudah membuat patung lilin dengan manusia berdarah daging, pertama harus memperhatikan waktu masak lilin, selain lilin harus cair seluruhnya dan tak boleh terlalu mendidih, pada saat lilin baru mulai bergelembung segera cairan lilin dituang pada tubuh manusia.”

Dia tertawa, lalu menyambung, “Jadi seperti koki memasak Ang-sio-hi, sesudah gorengan irisan ikan diangkat dari wajan, pada saat yang tepat disiram dengan saus asam manis. Cuma disini gerakan tangan harus sangat cepat, siraman lilin harus rata, apa bila lapisan lilin pertama telah beku seluruhnya barulah mulai siram lapiran kedua, sedikit salah siram, maka semua usaha akan gagal total.”

Ki Go-ceng berbicara dengan adem ayem, seperti halnya seorang ahli masak yang tengah memberi ceramah di depan sekawanan penggemar makanan enak. Cuma sayang, yang mendengarkan ceramahnya sekarang bukanlah penggemar makanan, melainkan ‘ikan’ yang sedang menanti giliran untuk dijadikan Ang-sio-hi.

Saat ini hati Lui-ji diliputi rasa gusar dan juga takut, sungguh kalau bisa ia ingin menggigit mampus orang gila ini.

Sebaliknya Thi-hoa-nio seperti tak dapat mengekang diri lagi saking takutnya, ia berteriak dengan histeris, “Lekas kau bunuh kami saja, lekas, kenapa tidak lekas turun tangan?”

Ki Go-ceng tertawa, katanya, “Aku ingin membuat patung lilin yang indah, untuk ini masih harus diperhatikan sesuatu, yaitu tidak boleh membunuh mati model yang akan kupakai. Dengan demikian hasil patung yang kubuat barulah akan kelihatan hidup dan bergairah. Apa bila modelnya dibunuh mati lebih dulu baru kemudian disiram lilin, maka patung yang dihasilkan juga akan kelihatan mati dan kaku.”

“Kau... kau... ” Thi-hoa-nio tak sanggup bersuara lagi. Bibirnya gemetar, mulut pun seperti tersumbat.

Mendadak Ki Go-ceng tertawa kepadanya dan berkata, “Tapi Yang-hujin juga tidak perlu khawatir, aku pasti tak akan membikin susah padamu, sebab kuyakin Yang Cu-kang pasti tidak suka tidur bersama patung lilin.”

Air muka Hay Tong-jing berubah, tanyanya, “Apakah benar ada persengkongkolan antara Yang Cu-kang dengan kau?”

Ki Go-ceng tertawa, jawabnya, “Betul, dia lebih cerdik dari padamu, juga lebih pintar kalau memilih kawan. Jika ia memilih si koki sebagai kawannya, sebaliknya kau memilih kawan pada ikannya.”

Sampai sekian lamanya Hay Tong-jing termangu-mangu, katanya dengan suara gemetar, “Yang Cu-kang, wahai Yang Cu-kang, tidak jelek suhu memperlakukan dirimu, kenapa kau melakukan perbuatan khianat begini, memangnya sudah kau lupakan semua ajaran dan peraturan perguruan?”

Sembari bicara, matanya mendelik dengan menahan rasa murka.

Dengan lemas Lui-ji juga berkata, “Pantas dia tidak takut dibunuh Lengkui, ternyata dia tahu setelah kita pergi, maka dapatlah dia bicara dengan Leng-kui bahwa antara mereka sesungguhnya adalah kawan. Hah, bangsat ini sudah berbuat khianat, tetapi justru bicara seperti seorang baik hati.”

Belum habis ucapannya, menangislah Thi-hoa-nio tergerung-gerung.

Lui-ji menjengek, “Yang-hujin, apakah yang kau tangisi? Bisa kau dapatkan suami sebaik itu, masakah kamu tidak senang?”

“Aku... aku...”

“Ehh, siapa di antara kalian yang mau tolong singkirkan nyonya Yang ini dari sebelahku, sungguh aku tidak tahan lagi bau busuk pada tubuhnya,” ejek Lui-ji pula.

Dengan tertawa Ki Go-ceng berucap, “Wah, hampir saja aku lupa jika tidak kau singgung. Sejak tadi-tadi seharusnya kuundang nyonya Yang berduduk di tempat yang terhormat.”

Tapi Thi-hoa-nio lantas berteriak-berteriak pula dengan histeris, “Jangan kalian menyentuh diriku, aku bukan istri Yang Cu-kang, aku lebih suka mati bersama mereka.”

Dengan tak acuh Ki Go-ceng berkata, “Siapa pun bila telah berada disini, maka mati atau hidupnya tidak bebas lagi baginya.”

Hay Tong-jing memandang Pwe-giok, ucapnya dengan rawan, “Ji-heng, ternyata aku telah salah menilai Yang Cu-kang, maaf, aku... aku menyesal.”

“Ini bukan salahnya dan bukan salahmu, karena itu jangan Hay-heng merasa sedih,” ujar Pwe-giok.

Hay Tong-jing menghela napas, ucapnya, “Betapa pun dia adalah saudaraku, aku... ”

Tiba-tiba Ki Go-ceng berseru, “Cepat lekas buka pintu tungku dan kerek wajan agak tinggi sedikit, saat itulah cairan lilin sudah dapat digunakan!”

Lalu ia mulai menceduk cairan lilin dengan gayungnya, mengepul uap lilin panas itu.

Dengan tertawa Ki Go-ceng berkata, “Pertama kali disiram lilin memang akan terasa sakit, maka hendaknya Ji-kongcu dapat bertahan sedikit, nanti kalau sudah tersiram tiga empat gayung, perlahan tidak lagi merasa sakit.”

Terlebih dahulu dia menyiram lilin di gayungnya pada sepotong papan. Melihat cairan lilin yang membeku di atas papan, Ki Go-ceng bergumam, “Ya, memang ini saat yang paling tepat untuk disiram... Nah, lekas kau buka baju, Ji-kongcu!”

Mendadak Lui-ji berteriak, “Kenapa tidak kau mulai dari diriku...!”

“Sabar, sabar! Sebentar lagi akan datang giliranmu, mengapa ingin terburu-buru?” ujar Ki Go-ceng dengan tertawa.

“Kumohon dengan sangat, mulailah atas diriku, mati pun aku berterima kasih kepadamu,” teriak Lui-ji dengan parau.

“Apakah kau tidak tega menyaksikan Ji Pwe-giok tersiksa maka ingin menutup mata lebih dulu?” tanya Ki Go-ceng.

Lui-ji hanya menggigit bibir, dia mengangguk sambil menangis.

“Tapi apakah kau suka telanjang di hadapan mereka?” tanya Ki Go-ceng dengan tertawa.

Lui-ji jadi melengak, segera dia menangis lagi tergerung-gerung.

Dengan suara parau Thi-hoa-nio berteriak, “Silakan kau turun tangan dulu padaku, aku… aku tidak... tidak takut... ”

Ki Go-ceng mengawasi dia sekejap, lalu berkata, “Potongan tubuhmu tidak jelek. Jika aku turun tangan padamu dulu, kukira kematian mereka pun cukup berharga karena sebelum mati mereka pun dapat menyaksikan perempuan cantik seperti dirimu ini telanjang bulat,” Ia menghela napas, lalu menyambung, “Cuma sayang, kau adalah bininya Yang Cu-kang, sayang, sungguh sayang... ”

“Kau tua bangka, kau binatang, hewan, sungguh kau bukan manusia...,” mendadak Hay Tong-jing mencaci maki.

“Apakah kau sengaja membikin marah diriku supaya turun tangan dulu padamu?” kata Ki Go-ceng tertawa.

Hay Tong-jing berteriak gusar, “Memangnya kau berani turun tangan padaku?!”

“Ha-ha-ha-ha, bagus, bagus!” Ki Go-ceng terbahak. “Kalian memang sangat setia kawan, sungguh ksatria sejati, semuanya berebut mati lebih dulu. Jika demikian, biarlah kupenuhi kehendak kalian sekaligus.”

Ia menyeringai, lantas menyambung, “Akan kubelejti kalian bertiga hingga telanjang bulat, akan kuikat kalian menjadi satu dalam keadaan saling rangkul, akan kubikin kalian bertiga menjadi sebuah patung yang amat istimewa, supaya sekali pandang saja siapa pun tahu kalian adalah sahabat karib yang tak dapat dipisahkan.”

Hay Tong-jing dan Cu Lui-ji lantas berteriak-teriak, meski sudah banyak siksa derita yang dialaminya tapi baru sekarang Lui-ji benar-benar kenal apa artinya takut.

Meski pun Pwe-giok hanya diam saja sejak tadi, tetapi di dalam hati jauh lebih murka dan berduka. Ia tidak tahu mengapa Thian memberi nasib seburuk ini kepadanya. Tahu begini, lebih baik dulu mati saja di tangan Siang Cap-long. Meski pun Siang Cap-long juga sangat kejam, tapi jauh lebih baik dari pada Ki Go-ceng, betapa pun dia tidak sampai melakukan hal-hal yang gila dan kotor begini.

Pada saat gawat itulah sekonyong-konyong seorang terbang masuk dari luar dengan kaki dan tangan menari-nari di udara, serupa boneka yang dikerek sehingga terapung di udara, melayang tibanya orang ini sungguh cepat luar biasa.

“Siapa?!” bentak Ki Go-ceng.

Baru lenyap suaranya, dengan tepat orang itu jatuh di dalam wajan yang penuh cairan lilin panas itu, maka terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayat hati.

Cairan lilin di dalam wajan muncrat ke mana-mana, Ada setitik cairan yang menciprat ke tubuh Lui-ji, meski cuma setitik, namun rasa sakitnya sudah tak terkatakan.

Pada saat lain, dari luar terlihat orang melayang masuk lagi, juga menari-nari di udara dan “plung”, dengan tepatnya kembali nyemplung ke dalam wajan disertai jeritan yang sama ngerinya.

Seketika wajan itu terguling, cairan lilin tumpah memenuhi lantai.

Serentak Ki Go-ceng mengapung ke atas, dengan gusar dia membentak, “Siapa itu?!”

Di tengah suara bentakannya, orang ketiga melayang tiba pula, tapi sekali ini menerjang ke arah Ki Go-ceng.

Cepat tubuhnya menggeliat di udara sehingga terhindar. Tapi segera orang ke empat dan kelima melayang pula hendak menumbuk Ki Go-ceng. Betapa pun tinggi ginkangnya juga sukar untuk mengelak lagi.

“Blang!”

Dalam keadaan mengapung di udara Ki Go-ceng menghantam, kontan kedua orang yang menerjang ke arahnya itu digenjot hingga tergetar balik, tapi dia sendiri pun tergetar jatuh ke bawah dan hampir saja menumbuk dinding.

Kejut dan girang Lui-ji, baru sekarang dapat dilihatnya dengan jelas bahwa kelima orang yang melayang dari luar itu semuanya adalah ‘patung lilin palsu’ anak buah Ki Go-ceng.

Tadi dia telah dikerjai ‘patung lilin’ ini. Meski disergap, tapi jelas ilmu silat orang-orang ini juga tidak lemah, bahkan cara turun tangannya sangat cepat dan cekatan. Tapi sekarang hanya dalam sekejap saja mereka telah dilempar masuk seperti lempar bola, jelas sedikit pun tak mampu melawan. Maka tentu dapat dibayangkan betapa tinggi kungfu pendatang ini.

Air muka Ki Go-ceng tampak pucat hijau. Dia memelototi Pwe-giok sambil berkata, “Tak tersangka masih ada juga bala bantuanmu, tampaknya tidaklah sedikit kawanmu.”

Tapi seorang lantas menanggapi, “Aku tidak kenal anak muda itu, sebaliknya aku dan kau adalah sahabat lama.”

Suara ini sangat halus dan lembut, empuk dan enak didengar.

Lui-ji dan Thi-hoa-nio sama-sama anak perempuan cantik pembawaan, yang satu adalah puteri Siau-hun-kiongcu yang terkenal pembetot sukma setiap lelaki dan yang lain adalah ‘Khing-hoa-samniocu’ yang genit dan pemikat lawan jenisnya, keduanya tahu suara yang enak didengar adalah senjata yang paling ampuh kaum wanita untuk menghadapi kaum lelaki.

Suara mereka sendiri sangat merdu dan enak didengar, tetapi kalau dibandingkan dengan suara perempuan pendatang ini, mau tak mau mereka harus tutup mulut dan tidak berani bersaing.

Selain suaranya enak didengar, bahkan apa yang dikatakannya terasa bagaikan air dingin yang menyiram kepala Cu Lui-ji, sebab pendatang ini ternyata mengaku sebagai sahabat lama Ki Go-ceng.

Hanya Hay Tong-jing saja yang segera memperlihatkan rasa girang, desisnya perlahan, “Inilah guruku, tertolonglah kita.”

Lui-ji melenggong, tanyanya kemudian, “Gurumu seorang perempuan?”

Hay Tong-jing tidak menjawabnya dan memang juga tidak perlu menjawab, sebab waktu itu telah muncul seorang perempuan berbaju hitam. Mukanya juga memakai cadar sutera hitam.

Meski Lui-ji tidak bisa melihat jelas wajahnya, tapi entah mengapa, ia merasa perempuan ini pasti cantik tiada bandingannya. Selama ini Lui-ji tidak pernah melihat wanita bergaya secantik dan seluwes ini.

Jalan perempuan berbaju hitam itu seperti sangat lambat, akan tetapi tahu-tahu dia sudah berada di dalam, siapa pun tidak tahu persis cara bagaimana dia menggeser kakinya dan cara bagaimana masuk ke situ.

Dia memakai jubah panjang berwarna hitam, panjangnya sampai menyentuh tanah, hanya ujung sepatu saja yang masih kelihatan, pada tangannya juga mengenakan sarung tangan warna hitam.

Meski pun melihat orang, tetapi rasanya sama seperti tidak tahu, yang dilihat Lui-ji hanya pakaiannya saja, namun dalam hati sudah timbul perasaan enak, perasaan aman.

Ki Go-ceng juga seperti kesima memandang perempuan berbaju hitam itu, sampai sekian lama barulah dia menghela nafas dan berkata, “Kiranya kau!”

“Tak kau duga bukan?” ujar perempuan berbaju hitam.

Kembali Ki Go-ceng menghela nafas, lantas berucap pula sambil tersenyum getir, “Kukira sudah lama kau mati.”

Perempuan berbaju hitam itu seperti tersenyum, kemudian mendekati Ki Go-ceng dengan perlahan.

Di dalam goa ini suasananya dingin dan seram, di atas tanah juga penuh cairan lilin dan mayat. Namun gaya berjalan perempuan itu seperti sedang berada di tengah istana.

Yang dihadapinya juga seorang gila dan kejam, tapi gaya perempuan itu seperti seorang permaisuri yang hendak menghadap Sri Baginda.

Siapa pun tidak mengira perempuan lemah gemulai ini adalah tokoh persilatan yang lihay, lebih-lebih tidak ada yang percaya bahwa dalam sekejap tadi dia sudah membunuh lima orang.

Dahi Ki Go-ceng tampak berkeringat, sambil menyengir dia berucap, “Belasan tahun tidak bertemu, masakah baru bertemu lantas hendak berkelahi denganku?”

“Aku tidak bermaksud demikian,” jawab si perempuan baju hitam.

Ki Go-ceng seperti merasa lega, ucapnya, “Jika begitu, hendaklah kau berdiri agak jauh. Bila kau mendekat, hatiku lantas berdetak.”

“Kau kan memang tidak punya hati, mana bisa hatimu berdetak?” ujar perempuan itu. Dia berjalan dengan lambat, tapi tidak berhenti.

Bibir Ki Go-ceng seperti mengering, ucapnya dengan suara serak, “Sebenarnya apakah kehendakmu?”

Perempuan itu tidak menjawabnya, tapi malah bertanya, “Tahun ini usiamu sudah ada 72 bukan?”

“Ingat juga kau...”

Perempuan itu berucap pula, “Siapa pun kalau sudah hidup selama 72 tahun, tentunya sudah cukup bukan?”

“Apa maksudmu ini?” tanya Ki Go-ceng sambil mengusap keringatnya.

“Apa maksudku masakah belum jelas bagimu?”

“Selama berpuluh tahun ini, siapa pula yang pernah tahu jelas maksudmu?”

Perempuan itu menghela nafas perlahan, lalu berkata, “Ai, kuharap janganlah kau paksa aku turun tangan padamu.”

Air muka Ki Go-ceng berubah hebat, mendadak ia menengadah dan terbahak-bahak, “Ha-ha-ha... memangnya baru bertemu kau menghendaki aku segera bunuh diri?”

Meski pun tertawa, tapi suara tertawanya jauh lebih tidak enak didengar dari pada suara menangis.

Pada saat itu juga mendadak tubuh Ki Go-ceng mengapung ke atas, perawakannya yang kurus itu seperti bukan tubuh manusia melainkan seekor elang yang buas dan lapar.

Namun si perempuan baju hitam tetap berdiri tenang di tempatnya, jika Ki Go-ceng ibarat seekor elang, maka dia sama seperti seekor domba. Tetapi ketika Ki Go-ceng menubruk tiba, lengan bajunya lantas mengebut perlahan.

Siapa pun tak menyangka jika kebutan lengan bajunya yang perlahan ini dapat menahan serangan Ki Go-ceng. Maka terdengarlah suara jeritan, tetapi bukan perempuan itu yang menjerit melainkan Ki Go-ceng, tubuhnya mendadak mencelat beberapa tombak jauhnya dan menumbuk dinding.

“Blang!” lalu tubuhnya memberosot ke kaki dinding dan jatuh terduduk, matanya melotot ke arah perempuan baju hitam, ucapnya dengan serak,

“Inilah Cing... Cing-gi...”

Belum habis ucapannya, darah segar lantas menyembur dari mulutnya.

Dengan tak acuh perempuan baju hitam berkata, “Benar, inilah Sian-thian-cing-gi, tajam juga pandanganmu!”

Mendadak Ki Go-ceng bergelak seperti orang gila, teriaknya, “Bagus, ha-ha, bagus! Sian-thian-cing-gi, tiada tandingannya di dunia, mati pun aku tidak penasaran.”

Sambil tertawa kaki serta tangannya juga bergerak-gerak, keadaannya benar-benar mirip orang gila.

Percikan darah tampak berhamburan mengikuti suara tertawanya, waktu habis ucapannya darah pun kering, suara tawa juga berhenti, tinggal kerongkongannya mengeluarkan suara “krok-krok” seperti kodok ngorok.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner