SIN TIAUW HIAP LU : BAB-002


CATATAN:
Supaya dibedakan istilah TO-KOH dengan TOKOH.
TO-KOH: wanita yang menjadi imam (pendeta) agama To (Tao)
TOKOH : orang penting atau orang yang tingkatannya tinggi

SEMBILAN CAP TAPAK DARAH

Setiba di luar, ketiga orang itu memberi salam perpisahan pula, lalu mencemplak ke atas kuda masing-masing. Ketika orang she Cu itu naik ke atas kudanya, lengan bajunya agak tergulung sedikit sehingga tertampak sebagian lengannya berwarna merah hangus.

Liok Lip-ting terkejut bukan main. Dilihatnya kedua orang di bagian depan telah melarikan kudanya, tanpa pikir ia terus melayang ke sana dan menghadang di depan kuda.

Tentu saja kedua ekor kuda itu lalu berjingkrak kaget dan meringkik. Syukur kedua orang itu mahir menguasai kudanya sehingga tidak sampai terperosot jatuh.

“Apakah Cu-heng ini terkena Jik-lian-sin-ciang?” tanya Liok Lip-ting.

Mendengar disebutnya ‘Jik-lian-sin-ciang’ (pukulan sakti ular belang berbisa), pula terlihat gerakan Liok Lip-ting yang hebat, serentak ketiga orang itu melompat turun dari kudanya kemudian menyembah, kata mereka: “Mata kami benar-benar lamur sehingga tidak kenal kesaktian Liok-tayhiap, mohon Liok-tayhiap sudi menolong jiwa kami.”

“Ahh, jangan sungkan,” jawab Liok Lip-ting sambil membangunkan tiga orang itu. “Silakan masuk ke dalam untuk bicara pula.”

Begitulah maka Liok Lip-ting lantas menyilakan ketiga tamunya masuk ke rumah pula dan baru saja berduduk, belum sempat bertanya lebih lanjut, pada saat itu pula Liok Bu-siang berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak. Dia tidak mendengar jelas apa yang diteriakkan anak perempuannya, tetapi ia lantas membentaknya:

“Anak perempuan tidak tahu aturan, hayo ribut apa? Lekas masuk sana!”

Tapi Bu-siang lantas berteriak pula: “Ayah, orang itu sedang menggali kuburan nenek!”

Baru sekarang Liok Lip-ting terkejut, serentak dia melonjak bangun dan membentak: “Apa katamu? Ngaco-belo!”

“Memang betul, paman,” pada saat itu pula Thia Eng juga sudah masuk.

Liok Lip-ting tahu anak perempuan sendiri amat nakal dan jahil, tapi Thia Eng tidak pernah berdusta, maka ia lantas tanya lebih jelas apa yang telah terjadi.

Dengan terputus-putus dan tidak teratur Liok Bu-siang menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya tadi.

Tidak kepalang terkejut dan gusar Liok Lip-ting, segera dia sambar golok yang tergantung di dinding. Dia minta maaf kepada ketiga tamunya, kemudian berlari menuju makam ayah-bundanya. Ketiga tetamunya juga lantas menyusulnya ke sana,

Setibanya di depan makam, tak terperikan pedih hati Liok Lip-ting sehingga hampir saja ia jatuh kelengar, Ternyata makam ayah-ibunya telah dibongkar orang, malah kedua rangka peti mati juga sudah terbuka, jenazah di dalam peti mati sudah lenyap, benda-benda yang biasanya disertakan di dalam peti juga berserakan tak keruan.

Sedapatnya Liok Lip-ting menenangkan diri, dilihatnya tutup peti mati sama meninggalkan bekas lima kuku jari yang dalam, jelas bangsat pencuri mayat itu telah mencongkel tutup peti mati secara paksa dengan tenaga jarinya yang sangat hebat. Padahal kedua peti mati itu terbuat dari kayu yang keras, diberi pantek dan dipaku pula sehingga amat kuat, tetapi orang itu mampu membongkarnya dengan tangan kosong saja, maka betapa hebat ilmu silat orang itu sungguh sukar diperkirakan.

Tidak keruan rasa hati Liok Lip-ting, ya sedih ya gusar, ya kejut ya sangsi, tetapi tadi dia tidak mendengarkan cerita Bu-siang secara jelas sehingga tak diketahui bangsat pencuri mayat ini ada permusuhan kesumat apa dengan ayah-bundanya sehingga sesudah kedua orang tua itu meninggal masih dirasakan perlu merusak kuburannya serta memusnahkan mayatnya.

Sejenak dia terlongong di depan kuburan. Segera pula dia mengejar, tapi hanya beberapa langkah, ia ragu2. Ia memeriksa tapak kaki di sekitar kuburan, tetapi jejak yang dicarinya tak diketemukan. Ia bertambah heran, pikirnya: “Seorang diri dia membawa jenazah ayah bunda-ku, betapa pun tinggi Ginkang-nya pasti juga meninggalkan tapak kaki.”

Biasanya dia cukup cermat, namun mengalami kejadian yang tidak terduga ini, pikirannya menjadi kacau balau, tidak sempat lagi ia memeriksa dengan teliti, segera ia lari mengejar mengikuti jalan raya. Ketiga tamu tadi kuatir akan keselamatannya, mereka pun mengintil dengan kencang.

Begitu Liok Lip-ting kembangkan Ginkang, larinya secepat kuda membedal, mana dapat ketiga orang itu menyusulnya? Sekejap saja sudah kehilangan bayangannya!

Liok Lip-ting berlari memutar beberapa kali, cuaca pun sudah gelap, terpaksa dia kembali ke kuburan pula, dilihatnya ketiga tamu itu berdiri menunggu di pinggir kuburan. Liok Lip-ting berlutut di depan kuburan, dia memeluk peti mati ibunya lantas menangis tergerung-gerung.

Setelah orang puas menangis, barulah ketiga laki-laki itu maju membujuk: “Liok-ya, harap tenangkan hati dan berpikir dengan jernih. Mungkin kami bisa memberi sedikit keterangan latar belakang kejadian ini.”

Melotot kedua mata Liok Lip-ting, teriaknya: “Siapa bangsat keparat itu?! Di mana dia?! Lekas katakan!”

Kata salah seorang itu: “Cukup panjang cerita ini, tak perlu Liok-ya gugup, marilah pulang dulu nanti kita rundingkan persoalan ini.”

Liok Lip-ting anggap omongan orang memang benar, katanya: “Aku terlalu gugup sampai berlaku kurang hormat.”

“Ah, kenapa Liok-ya berkata demikian,” sahut ketiga tamu itu.

Maka mereka kembali ke rumah Liok Lip-ting. Sesudah menghaturkan teh kepada tamu-tamunya, tanpa sempat tanya nama para tamunya, Liok Lip-ting lantas masuk ke dalam hendak memberi-tahukan isterinya.

Tidak tahunya sang isteri sudah mendapat laporan Bu-siang lalu keluar mengejar bangsat itu dan hingga sekarang belum kembali. Bertambah pula kekuatiran Liok Lip-ting, terpaksa ia kembali ke ruang tamu dan bicara dengan ketiga tamunya.

Ketiga tamunya lantas memperkenalkan diri, kiranya mereka adalah para Piausu An-wan Piaukiok dari Ki-lam di Soatang, seorang she Liong, she So dan she Cu.

Mendengar mereka hanyalah sekawanan Piausu, seketika berubah dingin sikap Liok Lip-ting, hatinya kurang senang, katanya: “Selamanya aku tidak pernah berhubungan dengan Piausu, hari ini kalian kemari, entah ada keperluan apa?”

Ketiga orang itu saling pandang kemudian serentak berlutut, serunya: “Harap Liok-ya suka menolong jiwa kami!”

Liok Lip-ting sudah bisa meraba beberapa bagian, katanya tawar: “Berdirilah kalian, Entah cara bagaimana Cu-ya sampai terkena Jit-lian-sin-ciang?”

Liong-piausu dan So-piausu berkata berbareng: “Kami berdua pun terkena juga.” Sembari berdiri mereka menyingkap lengan baju, tampak keempat lengan mereka sama berwarna merah darah dan mengerikan.

Liok Lip-ting terkejut, katanya ragu2: “Tiga orang semua kena? Siapakah yang menyerang kalian? Dari mana pula kalian mendapat tahu ayahku bisa menolong?”

“Tujuh hari yang lalu kami bertiga membawa separtai barang kawalan menuju Hok-kian-wat Yangciu. Di jalan hawa amat panas, kami berteduh di sebuah gardu minum di pinggir jalan. Kami bersyukur sepanjang jalan ini tidak terjadi apa-apa, agaknya barang kawalan akan tiba di tempat tujuan dengan selamat,” demikian tutur Liong-piausu.

“Pada saat itulah dari jalan raya sana berlari mendatangi seekor keledai berbulu loreng dengan langkah cepat. Penunggangnya adalah seorang To-koh (wanita pendeta agama To) setengah umur berjubah kuning. Ia turun dari keledai dan masuk ke dalam gardu pula. Cu-hiante memang masih muda, lagi pula suka iseng. Melihat orang berparas elok, ia lalu cengar-cengir dan main mata kepadanya.

To-koh itu pun balas tersenyum manis padanya. Cu-hiante kira orang ada maksud, segera dia menghampiri dan meraba pakaian orang, katanya tertawa: ‘Seorang diri menempuh perjalanan, apa tidak takut kalau diculik perampok dan dijadikan isteri muda?’ To-koh itu tertawa, ujarnya: ‘Aku tidak takut perampok, hanya takut pada Piausu.’ sembari bicara ia pun menepuk ringan di pundaknya. Mendadak Cu-hiante seperti kesetrom, seluruh badan bergetar hebat, gigi berkerutukan.

Sudah tentu aku dan So-hiante sangat terkejut. Lekas aku memburu maju memayang Cu-hiante, sementara So-hiante segera menjambret si To-koh dan bentaknya: ‘Kau gunakan ilmu sihir apa?‘. To-koh itu hanya tersenyum saja, ia menepuk pula sekali di pundak kami berdua, dan seketika itu seluruh badan terasa panas seperti dipanggang, panasnya sukar tertahan, namun sekejap lain terasa seperti jatuh ke dalam sumur es, tak tertahan seluruh badan menggigil kedinginan. Para kerabat Piaukiok yang lain mana berani maju?

Si To-koh tertawa, ujarnya: ‘Kepandaian sebegini saja sudah berani mengibarkan bendera Piaukiok, huh, bikin malu saja, sungguh besar nyali kalian, Kalau tidak kupandang muka kalian yang tebal, pastilah kupersen beberapa kali tamparan lagi’. Kupikir sekali tepuk saja sudah tak tertahankan, apa lagi ditambah beberapa kali pukulan lagi, tentulah jiwa kami melayang.

To-koh itu tertawa pula: ‘Kalian mau tunduk tidak padaku? Masih berani main gila di jalan raya?’ Lekas aku menyahut: ‘Kami menyerah! Tidak berani lagi!’. si To-koh lalu mengetuk sekali belakang leherku dengan gagang kebutnya, seketika rasa dingin di dalam badanku hilang, namun badan masih terasa kaku dan gatal, tetapi sudah tentu jauh lebih mending dari pada semula.

Lekas aku menjura: ‘Kami punya mata tetapi lamur sehingga berbuat salah kepada Sian-koh. Harap Sian-koh tidak pikirkan lagi kesalahan kami ini dan sukalah memberi ampun kepada kedua saudaraku.

To-koh itu tersenyum: ‘Dulu guruku hanya mengajarkan cara memukul orang, tak pernah mendidik aku cara menolong orang. Tadi kalian telah merasakan sekali tepukanku, kalau badan kalian kuat, rasanya dapat bertahan sepuluh malam. Apa bila hawa merah sudah merembes sampai ke dada, tibalah saatnya kalian pulang ke neraka.’ lalu ia pun tertawa cekikikan, dengan kebutnya ia bersihkan kotoran pada jubahnya terus keluar dan cemplak keledainya tinggal pergi.

Sudah tentu kejutku bukan kepalang. Tanpa hiraukan pamor segala, lekas aku memburu maju dan berlutut di depannya serta berteriak memohon: ‘Harap Sian-koh bermurah hati, sudilah memberi ampun dan menolong jiwa kami!’...”

Mendengar sampai di sini Liok Lip-ting mengerut kening.

Liong-piausu tahu perbuatannya terlalu rendah dan hina, segera ia menambahkan: “Liok-ya, kami datang untuk mohon pertolonganmu, maka apa yang terjadi waktu itu harus kami ceritakan, sedikit pun kami tidak merahasiakannya kepadamu.”

“O, ya, teruskan ceritamu,” ujar Liok Lip-ting.

Tutur Liong-piausu lebih lanjut: “To-koh itu hanya tersenyum saja, sesaat kemudian baru berkata: ‘Baiklah, akan kuberi petunjuk kepadamu. Ia sudi menolong tidak terserah pada keberuntunganmu sendiri. Nah, lekas kalian pergi ke Ling-ok-tin di Oh-ciu dan mintalah pertolongan kepada Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong. Di dalam dunia ini hanya dia saja seorang yang bisa mengobati luka-luka ini. Katakan pula kepadanya, dalam waktu dekat aku pun akan menemui dia.’...”

Tersentak hati Liok Lip-ting, teriaknya kaget: “Memangnya orang yang mencuri jenazah ayah bundaku itu ada sangkut paut dengan persoalan ini? Ini... wah... sulit!”

“Begitulah Cayhe berpikir,” kata Liong-piausu “Sesudah mendengar kata2nya aku masih ingin memohon kepadanya, tetapi dia lantas menukas: ‘Perjalanan ke Oh-ciu cukup jauh, memangnya kalian hendak membuang-buang waktu?’ Tanpa terlihat dia angkat kakinya, entah bagaimana tahu2 badannya sudah melayang ke punggung keledainya. Cepat sekali keledai itu mencongklang pergi, dikejar pun tak keburu lagi Aku melongo sekian lamanya, kulihat So dan Cu-hiante masih gemetar, terpaksa kupayang mereka naik ke atas kereta.

Begitu tiba di kota segera kupanggil tabib terpandai, tetapi para tabib itu mana sanggup mengobati? Waktu kami buka baju, pada pundak kami masing2 ada tapak tangan merah darah yang menyolok sekali. Sampai besok paginya, rasa dingin kedua saudaraku baru hilang dan tidak gemetar lagi, namun warna merah tapak tangan itu semakin membesar.

Aku ingat pesan si To-koh, bila hawa merah ini merembes sampai ke dada dan ujung jari, jiwa kami bertiga akan tak tertolong lagi, maka kami tidak pedulikan lagi barang kawalan itu, selama beberapa hari ini siang-malam kami memburu kemari, namun siapa tahu Liok-loenghiong ternyata sudah wafat. Memang Cayhe terlalu gegabah, kami hanya ingat kata-kata si To-koh, tak tahunya Liok-ya telah mendapat ajaran warisan leluhur, engkaulah yang menjadi harapan sebagai tuan penolong jiwa kami.”

Dasar banyak pengalaman dan pandai bicara lagi, belum Liok Lip-ting memberi jawaban, dia sudah menyebut orang sebagai tuan penolong jiwa mereka, maksudnya supaya orang tidak enak menolak.

Liok Lip-ting tersenyum ewa, katanya: “Sejak kecil aku mendapat didikan keluarga, tetapi tidak berani berkelana di Kangouw, maka jika kalian tidak kenal namaku yang rendah, ini pun tak perlu dibuat heran.” Lahirnya dia bersikap merendah, sebetulnya amat tinggi hati. Perlahan ia angkat kepala, mendadak ia melonjak dan berteriak kaget: “Apa itu?!”

Di bawah cahaya pelita, jelas sekali kelihatan pada bagian atas dinding tembok putih itu berderet sembilan tapak tangan darah.

Mereka berempat terlongong mengawasi sembilan tapak tangan merah itu, hingga sesaat lamanya tidak mampu bicara seperti orang tersihir dan linglung. Para Piausu dari An-wan Piaukiok tidak tahu asal-usul tapak tangan darah itu, namun melihat Liok Lip-ting begitu terkejut, serta merta mereka merasa ke sembilan tapak tangan itu pasti berlatar belakang.


Ke sembilan tapak tangan itu berjajar tinggi di atas tembok dekat atap rumah, dua yang paling atas berjajar, demikian terus menurun ke bawah masing2 berjajar dua, paling bawah berjarak rada jauh dan berjumlah tiga. Tiga tapak yang terbawah ini pun tingginya kira-kira tiga meter lebih, kalau tidak naik tangga, tidak mungkin dapat menjajarkan cap2 tangan itu sedemikian rapi.

“lblis itu… untuk apa iblis itu mencari aku…?” demikian gumam Liok Lip-ting.

Dasar orang kasar, Cu-piauthau itu langsung bertanya: “Liok-ya, apa maksud ke sembilan tapak tangan darah ini?”

Hati sedang gundah, ditambah menguatirkan keselamatan istrinya lagi, maka Liok Lip-ting tidak hiraukan pertanyaannya. Dia keluar rumah dan melihat isterinya, Liok-toanio, sedang mendatangi sambil menggandeng Thia Eng dan Liok-Bu-siang. Begitu berhadapan dengan sang suami, nyonya itu hanya menggeleng kepala saja.

Supaya sang istri tidak kuatir, Liok Lip-ting tidak menyinggung tapak tangan darah di atas dinding itu, segera dia iringi orang masuk ke dalam kamar di belakang, lantas dia tuturkan ketiga Piau-thau yang terkena pukulan Ji-lian-sin-ciang dan minta diobati

“Lip-ting,” ujar Liok-toanio, “malam ini jangan kita tidur di rumah, bagaimana pendapatmu?”

“Kenapa?” Liok Lip-ting menegas.

Liok-toanio menyuruh Thia Eng dan Liok Bu-siang keluar. Setelah tutup pintu dia berkata lirih: “Kejadian hari ini amat ganjil, ayam dan anjing dalam rumah kita ini sudah tiada satu pun yang hidup.”

“Apa?!” teriak Liok Lip-ting kaget.

“Tiga ekor anjing penjaga pintu, empat ekor kucing, tujuh ekor babi, puluhan itik dan dua puluhan ayam, semuanya sudah mati.”

Belum lagi habis istrinya menutur, Liok Lip-ting sudah berlari keluar langsung ke belakang. Kim-seng, jongos tuanya menyapa: “Siauya!” saking sedih hampir saja ia mengucurkan air mata.

Tampak oleh Liok Lip-ting anjing, kucing, ayam dan itik terkapar di atas tanah, semuanya sudah mati kaku tak bergerak lagi

Perlahan-lahan Liok Lip-ting berjongkok di dekat anjing kesayangannya, didapatinya batok kepala binatang telah hancur, terang bukan terkena pukulan atau hantaman benda keras, se-olah2 seperti dipukul dengan suatu benda kecil yang lemas. Namun apakah mungkin hal itu terjadi?

Sedikit merenung, tiba-tiba Liok Lip-ting teringat akan penuturan Liong-piauthau, si To-koh itu memegang sebuah kebutan, terang binatang itu mati dibawah pukulan kebutnya. Tapi kebutan itu terbuat dari barang lemas, cuma dengan sekali kebut orang dapat membunuh anjing dan babi, malah batok kepalanya hancur luluh, kekuatan lwekang orang itu sangat tinggi dan mengejutkan.

“Ayam anjing tidak ketinggalan... ayam anjing tidak ketinggalan...!” tanpa terasa mulutnya menggumam, pikirnya: “Semenjak kecil aku tak pernah berkecimpung di Kangouw, mana mungkin aku mengikat permusuhan? Orang ini menyerang secara keji, tentu tujuannya hendak membikin perhitungan dengan ayah bunda.”

Segera ia masuk ke kamar tamu, katanya kepada ketiga Piauthau: “Bukan aku tidak suka menahan kalian, soalnya keluarga kami bakal tertimpa bencana, harap kalian suka segera pergi saja supaya tidak terembet.”

Ketiga Piausu ini tadinya mengira orang sudah sudi memberi pertolongan, tetapi sekarang mendengar tuan rumah mengusir mereka secara halus, maka mereka menjadi gugup dan bingung pula. Kata mereka serempak sambil berdiri:

“Liok-ya... Liok-ya... engkau....” perasaan gelisah dan cemas membuat mereka tak kuasa meneruskan kata-katanya.

Liok Lip-ting mengerut kening. Tiba-tiba ia masuk ke kamar dan mengeluarkan dua puluh tujuh batang jarum emas, setiap batang panjangnya sembilan inci. Tanpa menyuruh orang membuka pakaian, langsung dia tusukkan kedua puluh tujuh jarum itu pada badan ketiga Piausu, setiap orang sembilan batang. Gerak-geriknya sungguh cekatan, setiap tusukan jarum langsung menancap di Hiat-to penting dalam badan.

Belum lagi ketiga Piausu tahu apa yang terjadi tahu2 kedua puluh tujuh batang jarum itu telah menancap di badan mereka. Kejadiannya memang aneh, meski jarum2 itu menusuk masuk tujuh-delapan inci ke dalam badan mereka, tetapi karena semua Hiat-to itu sudah mati rasa, maka sedikit pun tidak terasakan sakit.

“Lekaslah kalian cari tempat yang sepi dan sembunyi atau menetaplah di rumah petani, tiga hari lagi boleh kemari. Bila jiwaku masih hidup, nanti aku memberi pengobatan lebih lanjut.”

Ketiga Piauthau itu amat kaget tanyanya: “Liok-ya bakal menghadapi bencana apa?”

Liok Lip-ting tidak sabar untuk bicara lebih banyak lagi sahutnya: “Kalian terkena Jik-sin-ciang, sebetulnya racun bakal menyerang dalam sepuluh hari dan kalian akan meninggal. Tapi kini aku sudah menusuk dengan jarum emas, kadar racun akan tertahan sementara, hawa merah itu tidak akan menjalar. Tiga hari lagi biar kuberi pertolongan lebih lanjut dan pasti tidak akan terlambat.”

“Kalau tiga hari lagi Liok-ya mengalami sesuatu, lalu bagaimana?” tanya Cu-piau-thau.

Sepasang mata Liok Lip-ting mendelik, jengeknya: “Kecuali aku tidak ada orang Iain yang mampu mengobati luka-luka Jik-lian-sin-ciang. Apa bila aku mati biarlah kalian mengiringi aku.”

Liong dan So masih berkukuh hendak mohon pengobatan selekasnya, tetapi Liok Lip-ting telah berkata pula: “Kalian masih tunggu apa lagi? Orang yang mencari perkara kepadaku bukan lain adalah To-koh itu, sebentar lagi dia akan tiba di sini.”

Seketika ciut nyali ketiga piausu itu dan mereka tak berani tanya lagi, cepat mereka pamit dan mohon diri.

Liok Lip-ting tidak antar tamu2nya, ia duduk di kursi sambil mengawasi ke sembilan tapak tangan di atas dinding itu.

Entah berapa lama dia terlongong mengawasi tapak2 tangan itu, tiba-tiba dilihatnya A Kin jongos berlari masuk ter-gesa2 dan melapor “Siauya, di luar ada datang seorang tamu.”

“Katakan aku tidak di rumah,” ujar Liok Lip-ting.

“Siauya, Toanio (nyonya) itu mengatakan tidak mencari kau, tetapi dia sedang menempuh perjalanan dan mohon menginap satu malam saja di sini,” kata si A Kin.

“Apa?! Jadi dia perempuan?” teriak Lip-ting kaget.

“Benar, Toanio itu malah membawa dua anak, mungil dan elok sekali.”

Mendengar tamu perempuan membawa anak, barulah Liok Lip-ting merasa lega, tanyanya menegas: “Dia bukan seorang To-koh?”

“Bukan,” sahut A Kin menggeleng, “Pakaiannya bersih, kelihatannya nyonya dari keluarga baik-baik.”

“Baik, bawalah masuk ke kamar tamu, siapkan makanan dan sediakan ala kadarnya,” A Kin mengiakan sambil mengundurkan diri.

Liok Lip-ting berdiri. Baru saja dia hendak ke dalam, ternyata Liok-toanio sudah berada di luar ruangan. Katanya segera sambil mengerutkan alis: “Lip-ting, dua bocah itu harus kita sembunyikan.”

“Kedua bocah itu pun masuk hitungan,” kata Liok Lip-ting sambil menuding tapak tangan di atas dinding, “Iblis itu sudah memberikan tanda darah ini, biar sampai ke ujung langit pun kau tidak akan lolos dari kekejamannya.”

Dengan termangu Liok-toanio mengamati ke sembilan tapak tangan darah di dinding itu, tapak-tapak tangan itu se-olah2 semakin besar, semakin merah dan se-akan2 menubruk ke arahnya. Tanpa terasa dia menjerit kaget dan memegangi sandaran kursi, katanya:

“Kenapa ada sembilan tapak tangan? Keluarga kita kan hanya tujuh orang saja?” Sehabis berkata kaki dan tangan sudah terasa lemas tak bertenaga, dengan terlongong dia awasi suaminya, hampir saja dia mengucurkan air mata.

Lekas Liok Lip-ting memegang lengannya dan berkata: “Isteriku, bencana sudah di depan mata, takut pun tidak ada gunanya. Dua tapak teratas ditujukan kepada ayah dan ibu, dua di bawahnya terang untuk kita berdua. Dua lagi di baris ketiga ditujukan kepada Bu-siang dan Thia Eng, tiga yang lainnya adalah A Kin dan dua pelayan lain. He-he-he, inilah yang dinamakan banjir darah dalam keluarga, ayam dan anjing tidak ketinggalan.”

Bergidik Liok-toanio dibuatnya mendengar kata2 suaminya, “Ayah dan ibu?” dia menegas tak mengerti.

“Aku pun tidak tahu ada permusuhan apa antara gembong iblis ini dengan ayah dan ibu. Ayah bunda sudah lama wafat, dia suruh orang membongkar kuburan dan mengeluarkan jenazah mereka, mungkin setiap orang harus menerima satu kali pukulan baru dianggap selesai membalas sakit hati.”

“Kau kira orang gila itu adalah utusannya?”

“Sudah tentu.”

Baru mereka bicara dilihatnya A Kin berlari masuk dengan ber-sungut2, katanya: “Siauya, pintu besar kita entah kenapa tidak bisa dibuka, seperti terpantek dari luar.”

Berubah air muka Liok Lip-ting berdua, segera mereka memburu keluar. Tertampak daun pintu yang bercat hitam itu masih tertutup rapat.

Kedua tangan Liok Lip-ting terus menangkap gelang tembaga pintu dan lantas ditariknya ke belakang. Terdengarlah suara berkereyot, daun pintu hanya bergoyang sedikit, namun tidak dapat dibukanya.

Liok-hujin memberi isyarat, segera ia melompat ke atas tembok. Di luar sunyi senyap tak nampak bayangan manusia. Sambil melintangkan pedang ia melompat turun keluar pintu, seketika alisnya berdiri, makinya: “Terlalu menghina orang!”

Ternyata daun pintu itu sudah terpantek oleh dua batang besi panjang yang dipaku di atas daun pintu. Di atas batang besi itu tergantung secarik kain yang berlepotan darah hingga kelihatannya amat mengerikan.

Waktu itu Liok Lip-ting pun sudah menyusul keluar. Melihat palang besi dan kain belacu (tanda duka cita) itu, ia tahu musuh semakin mendesak, dalam dua jam mendatang pasti gembong iblis itu akan menurunkan tangan jahatnya. Ia tertegun sebentar, rasa gusarnya mulai menipis, katanya: “Niocu (isteriku), jika seluruh keluarga Liok kita hari ini harus mati bersama, biarlah kita mati tanpa merendahkan pamor ayah bunda.”

Liok-toanio manggut2, saking haru suaranya tertelan dalam tenggorokannya.

Mereka melompati tembok kembali ke dalam rumah, langsung menuju ke belakang. Tiba2 terdengar sesuatu suara di atas tembok sebelah timur, agaknya di atas sana ada orang.

Liok-Lip-ting memburu ke depan menghadang di depan isterinya. Waktu ia angkat kepala, dilihatnya di atas tembok sedang duduk seorang anak laki2, rambut kepalanya dikuncir dua menegang, bocah itu sedang memetik kembang di atas pohon. Lalu terdengar orang berteriak di sebelah bawah:

“Awas lho, jangan sampai terjatuh!”

Kiranya Thia Eng, Liok Bu-siang dan seorang anak laki-laki lain sedang menunggu di kaki tembok sana. Liok Lip-ting berpikir: “Kedua bocah ini minta menginap di rumahku, kenapa begini nakal?”

Anak laki-laki di atas tembok itu sedang memetik sekuntum bunga. Liok Bu-siang segera berteriak: “Nah, berikan padaku, berikan kepadaku!”

Anak laki-laki itu tertawa, dia melempar bunga itu ke arah Thia Eng. Lekas Thia Eng ulur tangan menangkapnya, lalu diangsurkan kepada sang Piau-moay. Tapi Liok Bu-siang naik pitam, ia meraih kembang itu terus dibanting dan di-injak2.

Melihat keempat bocah ini bermain dengan riang gembira, sedikit pun tidak tahu bencana besar yang bakal menimpa mereka sekeluarga, Liok Lip-ting suami istri menghela napas, mereka masuk ke dalam kamar.

“Piaumoay, kenapa kau marah?” bujuk Thia Eng.

Liok Bu-siang merengut, katanya: “Aku tidak sudi, aku sendiri bisa memetik!”

Sekali kaki kanannya menutul tanah, badannya melejit ke atas lalu dia meraih akar rotan yang merambat di atas tembok. Sekali meminjam tenaga, seketika badannya melambung ke atas pula beberapa kaki lalu melayang ke arah sebatang dahan pohon.

Anak laki-laki di atas tembok itu bersorak gembira, teriaknya: “Lekas kemari!”

Kedua tangan Liok Bu-siang menarik dahan pohon, di tengah udara ia jumpalitan dua kali, badannya mendadak melambung ke tengah udara, terus menubruk ke atas tembok.

Dinilai dari Ginkang-nya, apa yang dilakukan Bu-siang tadi boleh dikata amat berbahaya. Namun hatinya sedang panas dan dongkol kepada si anak laki-laki yang melempar bunga kepada Piau-cinya tadi. Memang sifat pembawaan anak perempuan ini suka menangnya sendiri, maka tanpa hiraukan keselamatan dirinya ia telah main lompat di tengah udara.

Anak laki2 itu menjadi kaget, teriaknya memperingatkan: “Awas! Hati-hati! segera dia ulur tangan hendak menangkap tangan Bu-siang.

Kalau dia tidak mengulurkan tangan, sebetulnya Liok Bu-siang bisa saja mencapai pagar tembok, tapi ketika melihat anak laki2 itu hendak menarik dirinya, segera ia menghardik: “Minggir!” badanpun menyingkir ke samping hendak menghindari tarikan tangan orang.

Kepandaian jumpalitan di tengah udara adalah ilmu Ginkang tingkat tinggi. Walau pun dia pernah melihat ayah bundanya memainkannya, dia sendiri belum pernah mempelajarinya. Dengan sedikit berkisar itu, jari2-nya sudah tidak dapat meraih tembok, di tengah teriakan kagetnya, badannya langsung jatuh ke bawah.

Melihat Bu-siang jatuh, anak laki-laki yang berada di kaki tembok segera memburu maju dan ulur tangan memeluk badannya. Tetapi tembok itu setinggi beberapa tombak, meski badan Bu-siang kecil, tenaga luncuran setinggi itu jelas amat berat. Meski pun anak laki2 itu berhasil memeluk pinggangnya, tak tertahan keduanya terbanting jatuh dengan keras. Terdengar suara “krak”, tulang kaki kiri Liok Bu-siang patah, demikian pula jidat anak laki-laki itu kebentur batu runcing, darah mengucur keluar,

Thia Eng dan anak laki2 di atas tembok itu memburu maju untuk menolong. Anak laki2 itu merangkak bangun sambil mendekap jidatnya yang bocor, sementara Liok Bu-siang jatuh semaput. Sambil memeluk Piaumoay-nya Thia Eng segera berteriak:

“lh-tio, Ah-i (paman, bibi), lekas datang!”

Mendengar teriakannya, Liok-toanio segera memburu keluar. Tapi tiba-tiba terasa di atas kepalanya angin kencang menyamber, sesuatu benda berat menindih kepalanya. Sebat sekali Liok-toanio berkelit ke samping, dilihatnya yang dilempar ke arahnya itu ternyata mayat seseorang.

Tanpa sempat membawa goloknya segera ia melompat ke wuwungan rumah. Belum lagi dia berdiri tegak, dua sosok mayat tahu2 dilempar pula memapak mukanya. Ketika Liok-toanio membungkukkan tubuh, tahu2 kedua lututnya menjadi lemas sehingga tidak kuasa berdiri tegak. Kontan ia terjungkal jatuh ke pelataran.

Kebetulan Liok Lip-ting sedang memburu keluar. Melihat Liok-toanio terjungkal jatuh dari atas, segera ia lompat ke depan dengan ilmu Ginkang yang dia yakinkan selama berpuluh tahun. Biar pun jaraknya masih tiga tombak jauhnya, akan tetapi sekali lompat tubuhnya melesat seperti anak panah, telapak tangannya sempat menyanggah punggung istrinya, Karena tenaga sanggahan ini badan Liok-toanio terlempar naik, di waktu meluncur turun pula, Liok Lip-ting dengan ringan dapat menurunkan badan istrinya di atas tanah.

Tanpa sempat menanyakan keadaan istrinya, tapi sekilas dilihatnya tidak apa-apa, segera ia melompat ke atas rumah, lalu matanya menjelajah sekelilingnya. Tertampak bulan sabit tergantung tinggi di cakrawala, angin menghembus sepoi2, namun tak nampak bayangan seorang pun.

Liok Lip-ting segera kembangkan Ginkang. Dalam sekejap saja ia telah meronda keadaan rumahnya satu keliling, namun tidak menemukan apa-apa. Segera ia melompat turun ke bawah pelataran dan masuk ke dalam rumah.....


Pilih BabPILIH JUDULBab Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner