DEWI SUNGAI KUNING : JILID-02


Di antara anak-anak yang ikut memasuki pertandingan pemilihan jago itu ternyata tinggal dua orang lagi sebagai pemenang, yakni Ui Yan Bun dan seorang anak yang usianya kira-kira lebih tua dua tahun dari padanya. Kini kedua pemenang itu saling berhadapan untuk mengukur tenaga dan kepandaian.

Ternyata mereka memiliki ilmu silat yang cukup baik karena kedua-duanya adalah murid dari Ui Hauw sendiri. Namun segera kelihatan bahwa betapa pun juga, Ui Yan Bun masih menang tangkas dan cepat sehingga meski pun kalah tenaga namun dia dapat mendesak lawannya. Kemudian, dengan gerak tipu ‘Mendorong Pohon Siong Tua’, dia pun berhasil merobohkan lawannya itu dan menerima tepuk sorak dan pujian dari kawan-kawannya.

Thian Hwa belum pernah bertemu muka dengan Yan Bun, sebab sesungguhnya Yan Bun baru beberapa hari saja tiba di kampung ayahnya. Anak ini oleh ayahnya dikirim kepada pehpeh-nya untuk belajar silat, karena memang kakak Ui Hauw yang bernama Ui Tiong memiliki kepandaian silat yang lebih lihai dari pada Ui Hauw sendiri. Beberapa bulan sekali Yan Bun pulang ke kampung orang tuanya.

Memang Ui Hauw memiliki pendapat yang aneh. Dia sendiri adalah seorang kepala bajak sungai yang mempunyai cara hidup kasar, tapi terhadap puteranya ia mempunyai cita-cita yang tinggi. Ia ingin melihat puteranya menjadi seorang gagah yang terhormat dan jangan sampai menjadi seorang bajak seperti dia.

Oleh karena inilah maka dia mengirim Yan Bun kepada kakaknya yang tinggal di kota dan membuka warung obat, agar selain belajar silat anak ini juga dapat mempelajari ilmu surat dan kebudayaan! Mungkin karena berpendirian demikian, maka biar pun menjadi bajak, Ui Hauw adalah seorang bajak yang tidak kejam dan melakukan pekerjaan dengan pilih-pilih dan taat akan peraturan Thian Bong Sianjin.

Demikianlah, maka ketika datang ke situ Thian Hwa ikut menonton pertandingan itu, dan ia belum mengenal Yan Bun. Melihat betapa Yan Bun dipuji-puji sebagai jago yang paling pandai, tiba-tiba dia menjadi iri dan penasaran. Tanpa terasa lagi dia meloncat ke tengah kalangan dan berkata,

“Siapa bilang anak ini yang paling pandai? Masih ada aku di sini!” dan gadis cilik itu berdiri menantang sambil bertolak pinggang!

Hampir semua anak yang berada di situ kenal kepada Thian Hwa dan tahu akan kelihaian cucu dari Thian Bong Sianjin ini, maka banyak mulut lalu berseru, “Thian Hwa memang lihai, dia tak terlawan oleh siapa juga!”

Bahkan ada yang berani berkata, “Yan Bun tak mungkin bisa menangkan Thian Hwa!”

Mendengar kata-kata ini Yan Bun mengarahkan sepasang matanya yang tajam kepada gadis cilik itu. Dia marah sekali karena merasa dirinya yang telah menjadi pemenang dan baru saja dipuji-puji, sekarang tiba-tiba dipandang rendah oleh seorang gadis. Tetapi, biar pun masih kanak-kanak, Yan Bun telah memiliki jiwa jantan yang tidak mau merendahkan kaum wanita. Walau pun hatinya sedang marah tapi dia tidak memperlihatkannya kepada Thian Hwa. Dia hanya maju dan berkata,

“Jika kau hendak memberi pelajaran padaku yang bodoh, silakan kau maju.” Kemudian ia memasang kuda-kuda yang kokoh kuat sambil menanti serangan lawan, tidak mau sekali-kali mendahului menyerang.

Thian Hwa pun melengak. Tidak diduganya sama sekali bahwa anak laki-laki itu ternyata begini sopan dan sangat pandai membawa diri, jauh berbeda dengan anak-anak lain yang biasanya suka berlaku sombong dan memandang rendah kepada anak perempuan. Juga kuda-kuda yang dipasangnya cukup sempurna dan kuat sehingga diam-diam Thian Hwa merasa kagum dan hatinya menjadi suka kepada Yan Bun.

Thian Hwa tersenyum dan berkata, “Marilah kita coba sebentar.”

Maka bertempurlah kedua anak itu dengan ramai. Mereka sama-sama cepat, sama-sama gesit dan keduanya sudah mempunyai dasar-dasar ilmu silat tinggi sehingga kepalan kecil mereka bergerak mendatangkan angin.


Anak-anak yang menonton pertandingan ini bersorak gembira sehingga menarik perhatian Ui Hauw dan Thian Bong Sianjin. Kedua orang tua ini keluar untuk melihat dan keduanya tersenyum melihat betapa Yan Bun dan Thian Hwa bersilat mengadu kepandaian.

“Ah, gerakan anak itu baik sekali!” Thian Bong Sianjin memuji ketika melihat gerakan silat Yan Bun. “Bukankah itu adalah anakmu Yan Bun?” Karena hubungan mereka yang erat, Thian Bong Sianjin segera mengenal anak laki-laki kawannya.

Ui Hauw senang sekali mendengar pujian Thian Bong Sianjin. “Ah, dia masih bodoh dan banyak mengharap pimpinan Suhu.”

Thian Bong Sianjin mengangguk-angguk. “Anak baik, dia mempunyai bakat yang bersih.”

Pada saat itu Thian Hwa mengeluarkan ilmu silat Kauw-jiu Kwan Im atau Dewi Kwan Im Tangan Sembilan yang belum lama dia pelajari. Tipu silat ini adalah gubahan Thian Bong Sianjin sendiri yang sengaja menggubah ilmu silat ini untuk disesuaikan dengan cucunya, karena dia menganggap lebih tepat dari pada ilmu silat lain yang kasar.

Memang Kauw-jiu Kwan Im memiliki gerakan-gerakan lemas yang memerlukan kelincahan dan kecepatan. Maka pada waktu memainkan ilmu silat yang sukar ini, Thian Hwa harus mengerahkan ginkang-nya hingga tubuhnya melesat cepat dan berputar-putar di sekeliling lawannya, membuat Yan Bun merasa bingung karena tiba-tiba dia melihat betapa gadis itu seakan-akan berubah menjadi tiga orang! Namun dia telah mempunyai ilmu silat yang lumayan juga sehingga dia masih dapat mempertahankan diri dari desakan Thian Hwa.

“Yan Bun, berhenti!” teriak Ui Hauw.

Kedua anak itu mendengar teriakan ini dan segera meloncat mundur.

“Yan Bun, jangan kurang ajar, lihat siapa yang datang ini?”

Yan Bun memandang dan ia masih ingat pada kakek yang dulu sering mengajar ayahnya bersilat, maka dia lalu maju berlutut sambil memanggil, “Sukong!”

Thian Bong Sianjin segera mengangkat bangun anak ini sambil tertawa. “Yan Bun, kau telah banyak maju!”

Ui Hauw berkata kepada anaknya. “Tahukah kau siapa yang kau ajak bertanding tadi? Ia adalah cucu dari Sukong-mu! Mana kau bisa melawannya?”

Thian Hwa telah sering berkunjung ke tempat itu dan kenal baik kepada Ui Hauw tadi, ia segera berkata, “Aah, Ui-pehpeh selalu memuji-muji saja!”

Thian Bong Sianjin gembira sekali melihat kemajuan ilmu silat Yan Bun, maka dia segera bertanya kepada Ui Hauw. “Tidak tahu apakah dia juga mempelajari ilmu dalam air?”

“Sedikit-sedikit dia pernah teecu latih sendiri,” jawab Ui Hauw. “Apa lagi rumah Pehpeh-nya dekat dengan sebuah telaga yang cukup dalam sehingga dia sering berlatih renang di sana.”

Kakek tua itu makin gembira, lalu dia berkata kepada cucunya.

“Thian Hwa, coba kau ajak Yan Bun berlomba berenang menyeberang sungai itu.”

Thian Hwa merasa gembira sekali karena ia menduga bahwa biar pun dalam ilmu silat ia hanya menang sedikit, namun dalam hal ilmu dalam air ia tidak usah takut kalah! Maka ia segera menghampiri Yan Bun dan berkata,

“Mari, Ui-twako, kita mencoba kepandaian renang kita.”

Yan Bun memandang gadis cilik itu dengan heran. Dia tadi sangat kagum karena ternyata ilmu silat anak gadis itu tidak lebih rendah dari padanya, bahkan kalau dia boleh berkata terus terang, dia harus mengakui keunggulan Thian Hwa! Sekarang ternyata gadis cilik ini pandai pula berenang, karena kalau tidak pandai, tidak mungkin dia berani menantangnya dengan sikap demikian gembira.

Dia merasa semakin takluk kepada Thian Bong Sianjin dan diam-diam mengiri terhadap keberuntungan Thian Hwa yang sudah terpilih menjadi murid kakek berilmu tinggi itu.

Kini keduanya telah tiba di pinggir sungai dengan diikuti oleh semua anak-anak dan orang-orang kampung. Para anggota bajak merasa tertarik sehingga mereka juga ikut menonton, tidak ketinggalan pula Thian Bong Sianjin dan Ui Hauw sendiri.

Thian Hwa lalu berlari bersembunyi untuk berganti pakaian. Ketika ia datang lagi, ia sudah mengenakan pakaian yang serba ringkas dengan mulut celana yang dapat diikatkan pada pergelangan kakinya dan lengan baju yang pendek sampai ke siku. Dengan pakaian ini ia dapat bergerak lebih leluasa di dalam air. Semua orang memandang dengan kagum.

Kemudian, setelah Yan Bun juga siap sedia, keduanya lantas terjun berbareng ke air dan berenang dengan cepat menyeberang! Air di bagian itu tenang saja, tapi amat dalam dan sangat lebar sehingga untuk menyeberang sekali saja akan terasa lelah sekali bagi orang-orang yang tidak terlatih baik, jangan kata bagi mereka yang tidak pandai berenang!

Tapi kedua anak itu ternyata benar-benar pandai karena mereka berenang dengan cepat. Sepasang kaki dan tangan mereka berpusing-pusing bagaikan kitiran hingga membuat air sungai berbuih keputih-putihan di dekat tangan dan kaki!

Perlombaan renang itu mendatangkan kegembiraan besar. Semua anak bersorak-sorak menjagoi pilihan mereka masing-masing, sebagian besar anak laki-laki menjagoi Yan Bun sedangkan anak-anak perempuan tentu saja memilih Thian Hwa.

Dan ternyata mereka berdua sampai di pantai seberang sana dengan waktu yang hampir bersamaan. Segera mereka berbalik dan kini mereka berenang sambil menyelam.

Semua anak yang menonton pertunjukan ini menahan napas karena kedua jagoan mereka kini lenyap dari permukaan air! Sampai lama sekali tidak nampak keduanya muncul dari bawah air, seakan-akan mereka sengaja bertahan dan tidak mau muncul lebih dahulu!

Sesudah lewat sekian lamanya, barulah tampak Yan Bun muncul ke permukaan air sambil terengah-engah karena dia terlampau lama menahan napas! Anak-anak perempuan yang menjagoi Thian Hwa bersorak riuh karena munculnya Yan Bun ini mereka anggap sebagai kemenangan bagi Thian Hwa yang ternyata lebih kuat bertahan di bawah permukaan air! Namun biar pun sampai lama ditunggu, belum juga Thian Hwa tampak muncul!

Yan Bun merasa heran sekali, karena mungkinkah gadis itu mampu bertahan selama itu di dalam air? Ahh, tidak mungkin! Andai kata lweekang gadis itu sudah sangat tinggi dan kuat, rasanya tidak mungkin dia dapat menahan napas selama itu. Tapi, karena dalam hal bertahan diri di dalam air dia merasa dikalahkan, Yan Bun lalu mengeluarkan kepandaian berenangnya yang paling cepat untuk mendahului tiba di tepi. Dan benar saja, dia berhasil mencapai tepi lebih dahulu dengan disambut sorakan ramai.

Tetapi kini orang-orang gelisah karena Thian Hwa belum juga tampak muncul! Bahkan Ui Hauw sendiri menjadi gelisah dan tak tahan lagi untuk tidak bertanya kepada Thian Bong Sianjin. “Suhu, apakah benar-benar Thian Hwa dapat bertahan sedemikian lamanya?”

Ui Hauw Si Ular Air bertanya seperti itu karena dia sendiri tidak sanggup untuk berdiam di dalam air sedemikian lamanya!

Thian Bong Sianjin yang semenjak tadi hanya tersenyum-senyum saja, ketika mendengar kata-kata Si Ular Air ini tertawa terkekeh-kekeh, lalu menuding ke arah air sambil berkata, “Ha, kau juga kena dikelabui? Lihatlah batang jerami itu! Pernahkah melihat batang jerami bisa berenang?”

Ui Hauw cepat memandang dan dia pun ikut tertawa terbahak-bahak. Tak lama kemudian batang jerami yang menonjol di permukaan air dan semenjak tadi bergerak ke arah tepi, telah tiba di tepi dan tampaklah kini kepala Thian Hwa yang segera muncul. Wajah gadis itu berseri-seri dan pada mulutnya tergigit sebatang jerami panjang.

Jadi gadis yang sangat cerdik ini ternyata sudah mengalahkan Yan Bun dalam bertahan di bawah air dengan mempergunakan akal, yakni ia menggigit batang jerami yang berlubang lalu dengan telentang dia dapat berenang di bawah air seenaknya karena dapat bernapas melalui batang jerami yang berlubang itu!

Semua orang tertawa dan memuji gadis itu, terutama Ui Hauw merasa amat kagum dan gembira sekali.

“Suhu, bukankah cucumu cocok sekali kalau kelak menjadi jodoh putera teecu?” katanya perlahan.

Thian Bong Sianjin hanya tertawa saja, tapi tidak menjawab sesuatu, karena pada saat itu dia belum memikirkan tentang hal itu.

Karena sayang dan suka kepada Yan Bun, sejak saat itu Thian Bong Sianjin sering sekali datang ke kampung Ui Hauw untuk memberi pelajaran silat kepada Yan Bun, sehingga boleh dibilang semenjak saat itu murid Thian Bong Sianjin menjadi dua orang, yakni Thian Hwa sendiri dan Yan Bun. Kakek tua itu tidak pilih kasih dan ia memberi pelajaran kepada Yan Bun dengan sungguh-sungguh, bahkan pelajaran yang diterima oleh Yan Bun jauh lebih banyak dari pada yang pernah dia berikan kepada Ui Hauw.

Yan Bun memang berotak terang, karena itu dia dapat menguasai semua pelajaran yang diberikan itu dengan baik sehingga mendapat kemajuan pesat sekali. Malah kini dia dapat ikut bersilat di atas air dengan mempergunakan papan terompah air bermain-main dengan Thian Hwa.

Makin lama hubungan kedua anak itu menjadi makin erat, karena Thian Hwa suka kepada Yan Bun yang bersikap lemah-lembut, sopan-santun dan pandai pula berkelakar. Di pihak lain, sudah semenjak pertemuan pertama Yan Bun kagum sekali kepada Thian Hwa yang dianggapnya sebagai seorang gadis yang tidak ada nomor duanya di dunia ini!

Melihat hubungan kedua anak itu yang begitu baiknya, berkali-kali Ui Hauw mengutarakan pikirannya untuk menjodohkan keduanya, akan tetapi selalu Thian Bong Sianjin tidak mau menyatakan persetujuannya, sungguh pun dia juga tidak menyatakan ketidak-sukaannya akan usul ini. Hanya satu kali pernah dia berkata kepada Ui Hauw,

“Aku tidak berpendirian kukuh tentang hal itu. Biarlah kelak hal itu diputuskan sendiri oleh Thian Hwa. Anak itu berdiri sendiri di dunia ini, maka segala hal yang menyangkut dirinya, biarlah dia sendiri mengambil keputusan. Aku orang tua yang hanya sebentar lagi berada di dunia ini cukup mengamat-amati saja.”

Mendengar keterangan yang bersifat pernyataan isi hati kakek ini, Ui Hauw maklum. Dia tahu bahwa Thian Hwa bukanlah cucu gurunya sendiri, dan dia tahu pula bahwa kakek tua itu berhati mulia dan penuh belas kasih sehingga untuk kebahagiaan orang lain, dia sendiri rela berkorban. Apa lagi untuk menjaga kebahagiaan Thian Hwa yang dikasihi, dia tentu tidak pedulikan perasaan hatinya sendiri dan menyerahkan saja kepada anak itu supaya tidak sampai salah pilih.

Sudah beberapa kali Thian Hwa bertanya kepada kakeknya tentang ayah ibunya, karena setelah besar gadis ini mengerti bahwa selain kakeknya, ia tentu mempunyai seorang ibu dan ayah. Akan tetapi setiap kali ditanya kakeknya selalu memberi jawaban menyimpang sehingga Thian Hwa menjadi penasaran. Pernah gadis itu berkata,

“Kongkong, kalau memang ayah ibuku sudah meninggal dunia, katakan saja. Tetapi kalau mereka masih hidup, bawalah aku bertemu dengan mereka.”

Semenjak kecil gadis ini tidak pernah menangis, namun ketika mengajukan pertanyaan ini dari kedua matanya mengalir air mata membasahi pipinya. Tetapi dia dapat menetapkan hatinya yang keras untuk tidak menangis tersedu-sedu.

Ketika ditanya dan mendengar sesalan cucunya ini, Thian Bong Sianjin menghela napas panjang. Memang semenjak dulu dia sudah maklum bahwa pada suatu saat pasti datang pertanyaan ini dan kalau sudah tiba waktunya, tidak mungkin lagi dia dapat membohongi anak itu.

Memang kakek ini belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Thian Hwa, akan tetapi pada malam dia menolong dan menyelamatkan Thian Hwa, dia bermimpi bertemu dengan seorang wanita muda yang berlutut padanya sambil menangis sedih dan berkata, “Inkong, peliharalah anakku baik-baik...”

Thian Bong Sianjin masih ingat betul bahwa wanita muda itu wajahnya cantik dan di atas bibirnya terdapat tahi lalat hitam. Namun selama ini hal itu disimpannya sebagai rahasia sendiri dan tidak pernah menuturkannya kepada orang lain.

Maka, sesudah usia Thian Hwa meningkat sehingga sukar untuk dibohongi lagi, terpaksa dia menjawab, “Thian Hwa, memang kau masih mempunyai ayah dan ibu!”

Mendengar ucapan ini, gadis itu berdiri dan merangkul kakeknya untuk menyembunyikan matanya yang sudah basah di pundak kakeknya itu. Dan terbayanglah lagi wajah wanita muda di depan mata Thian Bong Sianjin. Dia masih ingat betul bahwa wanita itu memakai pakaian yang mewah seperti orang berpangkat.

“Di mana mereka, Kongkong? Di mana?” Thian Hwa bertanya sambil tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.

“Sabarlah, Thian Hwa. Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka itu! Ketahuilah, memang aku... aku bukan kakekmu yang sejati. Kau kutemukan di... dan... dan aku pun tidak tahu siapa orang tuamu.”

Wajah yang berseri-seri itu mendadak menjadi muram bagaikan api bernyala disumbu lilin yang tiba-tiba tertiup padam. “Kalau begitu... Kongkong... mari kita cari mereka...”

Thian Bong Sianjin lalu memeluk muridnya yang baru berusia tiga belas tahun itu. “Thian Hwa, kau sabarlah. Apa kau kira aku tidak suka jika melihat kau berjumpa dengan kedua orang tuamu? Aku mendidik kau menjadi orang pandai juga dengan maksud supaya kelak kau dapat mencari mereka! Tetapi nanti, kalau kau sudah dewasa dan sudah mempunyai kepandaian tinggi. Sekarang kau belajarlah dengan tekun dan rajin, kelak tentu akan tiba masanya aku melepaskan kau pergi untuk mencari orang tuamu.”

Tubuh Thian Hwa menggigil dalam pelukan kakeknya, tanda bahwa anak ini menggunakan seluruh tenaganya untuk menahan isak tangisnya. Thian Bong Sianjin menghela napas. Sungguh hebat luar biasa sekali anak ini, pikirnya dengan kagum.

Sejak itu Thian Hwa tekun mempelajari ilmu silat tinggi bersama-sama Yan Bun sehingga tingkat kepandaian mereka saling susul dan tidak berbeda jauh. Yan Bun tumbuh menjadi seorang pemuda yang sabar, hati-hati dan sebelum bertindak selalu membuat perhitungan tepat dan cermat, sementara Thian Hwa menjadi seorang gadis yang sangat pemberani dan bebas.

Mungkin hal ini terjadi karena memang semenjak kecil ia hidup berdua dengan kakeknya, lepas bebas sebagai seekor burung di udara, dan dalam pada itu, segala macam bahaya dan kesulitan selalu dipecahkan sendiri karena hal ini memang disengaja oleh Thian Bong Sianjin untuk membiarkan gadis itu menghadapi segala kesukaran dengan tenaga sendiri, dan baru ditolongnya kalau memang perlu ditolong! Karena inilah maka watak Thian Hwa selain keras dan jujur, juga sangat pemberani dan percaya penuh akan kemampuannya sendiri.

Pada suatu hari, ketika seperti biasanya Thian Bong Sianjin dan Thian Hwa mengunjungi perkampungan Ui Hauw, mereka mendapatkan kampung itu sedang dalam persiapan dan Ui Hauw tampak berwajah muram. Thian Bong Sianjin merasa heran sekali dan baru saja dia dan cucunya mendarat, Ui Hauw menyambutnya dengan penuturan sebuah peristiwa yang membuat Thian Hwa menjadi marah sekali.

Semenjak Thian Bong Sianjin mengundurkan diri dan mencuci tangan dari pekerjaannya sebagai bajak tunggal, maka semua aturan yang dia tetapkan bagi para bajak di Sungai Huang-ho tetap diindahkan dan ditaati semua bajak besar kecil. Terutama karena mereka semua itu mendengar bahwa Si Ular Air Ui Hauw yang dianggap sebagai pengganti Thian Bong Sianjin dan dulu disebut Huang-ho Sui-mo atau Setan Air Sungai Huang-ho, terkenal sebagai seorang gagah yang mengutamakan keadilan dan kegagahan dan tetap mentaati peraturan yang ada.

Tetapi karena Ui Hauw makin jarang meninggalkan perkampungannya yang kini menjadi kampung tetap, dan boleh dikata kepala bajak itu tidak pernah lagi mendayung perahunya menjelajah sepanjang sungai, lambat laun kekuatan para bajak menjadi makin lemah dan di sana-sini terjadi pelanggaran-pelanggaran.

Memang sudah lama sekali Ui Hauw mengajarkan anak buahnya untuk memperoleh hasil dengan cara menangkap ikan dan bertani di pinggir sungai yang tanahnya amat subur itu, sehingga mereka sekarang boleh dibilang menjadi nelayan-nelayan dan petani-petani yang pandai dan hidup damai!

Namun sekarang ada kumpulan bajak yang sengaja mengganggu perahu-perahu nelayan dan merampas hasil-hasil yang didapatnya, bahkan ada yang merampok ikan-ikan yang didapat dengan bekerja keras sehari semalam oleh tukang-tukang ikan itu!

Baru beberapa bulan akhir-akhir ini di sepanjang Sungai Huang-ho timbul nama baru yang cukup menggemparkan sehingga seolah-olah mendesak ke samping nama Ui Hauw yang telah lama seakan-akan tidak aktif lagi itu.

Nama baru ini adalah Ma Tek San yang digelari orang Tiat-thou-kim-go atau Buaya Emas Kepala Besi! Orang she Ma ini tadinya adalah seorang perampok, tapi karena kekurangan hasil lalu menceburkan diri dalam kalangan pembajakan dan menjadi seorang bajak yang ganas. Karena kepandaian silatnya memang tinggi, ditambah pula dia pernah mempelajari ilmu di dalam air, maka sebentar saja dia berhasil mengangkat dirinya menjadi kepala dan pengikut-pengikutnya adalah orang-orang yang wataknya sesuai dengan dia, yakni kejam dan berani mati.

Karena baru saja muncul dari bidang pekerjaan lain, yakni merampok, maka Ma Tek San belum pernah bertemu muka dengan Ui Hauw dan karenanya dia tidak menaruh hormat sedikit pun juga. Dia membajak sesuka hatinya, bahkan berani melanggar wilayah atau daerah dari bajak-bajak lain sehingga terjadi pertempuran-pertempuran.

Selama ini belum pernah ada bajak lain yang sanggup mengalahkannya, maka sebentar saja namanya menjadi terkenal dan sangat ditakuti. Meski pun demikian Ma Tek San juga mendengar tentang nama besar Ui Hauw sehingga dia belum berani main-main atau coba-coba mengganggu wilayah orang she Ui itu.

Tapi pada dua hari yang lalu, mulailah Si Buaya Emas itu beraksi! Dan sekali ia beraksi, dia tidak mau kepalang tanggung lagi! Dia telah mengganggu dan merampas semua ikan dari empat orang nelayan yang bukan lain adalah anak buah Ui Hauw sendiri!

Ini masih belum hebat. Yang lebih menyakitkan hati ialah bahwa dua orang di antara yang empat itu sudah mati terbunuh, sedangkan yang dua lagi kalau tidak memiliki kepandaian berenang yang cukup tinggi tentu akan terbunuh pula. Mereka inilah yang datang memberi laporan kepada Ui Hauw sekalian menceritakan betapa Ma Tek San dengan sombongnya menantang.

“Kalau kalian memang betul anak buah bajak kecil Ui Hauw itu, katakan padanya bahwa kalau dia ingin tahu keberanian Tiat-thou-kim-go, biarlah kutunggu dia di Tikungan Maut!”

Kiranya rombongan bajak baru yang dipimpin oleh Ma Tek San ini telah menjelajah hingga di Tikungan Maut dan agaknya hendak menguasai dan merampas daerah yang subur di mana Ui Hauw dan anak buahnya tinggal. Tentu saja hal ini merupakan penghinaan besar sekali!

Bukan saja Ma Tek San telah melanggar pantangan merampok dan membunuh nelayan, tapi juga telah berani membunuh anak buah Ui Hauw dan mengeluarkan tantangan! Juga semua anak buah Ui Hauw marah sekali dan mereka sudah bersiap untuk menyerbu ke Tikungan Maut.

Mendengar berita ini, Thian Bong Sianjin yang sudah tua itu menggunakan tangan kanan mengusap-usap jenggotnya dan tersenyum getir.

“Aku orang tua sudah tiada guna, maka ada orang yang berani berlaku sewenang-wenang dan menjalankan kejahatan di hadapan mataku. Kalau hal ini kudiamkan saja, maka akan kotorlah Sungai Huang-ho dan percuma saja aku hidup puluhan tahun di permukaan air ini! Biarlah aku mewakili kalian menghajar buaya kecil itu.”

“Suhu, yang dihina oleh buaya itu adalah teecu, maka biarlah teecu sendiri yang mencoba sampai di mana keperkasaan buaya yang sombong itu. Suhu tidak usah mencapaikan diri turun tangan sendiri,” kata Ui Hauw yang merasa sangat sakit hati terhadap orang she Ma itu.

“Ayah, ada aku anakmu di sini, kenapa kau orang tua hendak turun tangan sendiri? Kalau hanya orang macam dia itu saja kurasa aku yang telah menerima pelajaran dari Ayah dan Sukong masih mampu melawannya,” kata Yan Bun dengan gagah. “Berilah aku beberapa orang saudara yang pandai dan gagah berani, maka akan kutangkap buaya itu kemudian menyeretnya ke sini.”

“Kongkong dan Ui Pehpeh. Memang betul kata Ui-twako tadi. Hal seremeh ini tidak perlu harus membuat Kongkong atau Pehpeh kesal hati. Untuk memukul anjing kecil tidak perlu memakai tongkat besar. Dan juga, kurasa tak perlu Ui-twako harus repot-repot membawa banyak kawan. Hal ini hanya akan merendahkan nama kita saja. Cukup Ui-twako dan aku yang pergi dan tanggung bereslah beberapa ekor buaya kecil itu!” demikianlah kata Thian Hwa yang sangat jumawa dan berani itu.

Ui Hauw maklum bahwa kepandaian Yan Bun dan Thian Hwa sudah melampaui dirinya sendiri dan jauh lebih tinggi, maka kalau kedua anak muda itu yang pergi, akan lebih kuat dari pada kalau dia sendiri yang pergi. Namun dia merasa tidak enak hati untuk melepas dua anak muda yang belum berpengalaman itu menghadapi seorang penjahat licin seperti Ma Tek San. Karena inilah maka dia merasa ragu-ragu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner