DEWI SUNGAI KUNING : JILID-03


Tiba-tiba saja Thian Bong Sianjin tertawa besar. “Ha-ha-ha-ha! Sikap kalian ini membuat aku teringat akan masa mudaku pada saat kami beberapa hohan menjadi barisan gerilya mengacau pertahanan kubu-kubu pasukan Manchu. Setiap kali ada pekerjaan mengadu nyawa, kami selalu berebut untuk melakukannya! Sekarang kalian berebut untuk mencari pahala, ha-ha-ha! Memang beginilah seharusnya laku orang-orang gagah! Ui Hauw, biarlah kau lepaskan kedua anak muda ini, biar mereka mendapat pengalaman baru.”

“Tapi, Suhu. Mereka ini masih belum berpengalaman. Teecu merasa khawatir kalau-kalau mereka akan terjebak oleh tipu muslihat buaya itu.”

“Kau jangan cemas, aku sendiri akan mengamat-amati mereka, sekalian melihat siapakah sebenarnya orang kurang ajar itu.”

Mendengar bahwa orang tua itu sendiri hendak ikut pergi bersama kedua anak muda itu, tenanglah pikiran Ui Hauw. Tetapi biar pun dia dan anak buahnya tak berani membantah, namun di dalam hati mereka merasa kurang puas karena tidak dapat menghantam musuh yang dibenci itu dengan tangan sendiri.

Sementara itu Yan Bun dan Thian Hwa segera berangkat ke sungai bersama Thian Bong Sianjin. Mereka bertiga naik perahu kecil yang biasa dinaiki Thian Bong Sianjin dan Thian Hwa. Kakek tua itu duduk di tengah-tengah sambil berpeluk tangan dan memejamkan mata, sedangkan Yan Bun di belakang dan Thian Hwa di depan mengayuh biduk kecil itu dengan cepat sekali menuju ke Tikungan Maut.

Kedatangan biduk kecil yang ditumpangi oleh seorang kakek dan dua orang anak muda itu dengan cepat sekali diketahui oleh Ma Tek San yang telah menyebar mata-matanya di sepanjang sungai. Dia lalu bersiap-siap karena mendengar bahwa yang datang itu adalah utusan-utusan dari Ui Hauw, sehingga dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang memiliki kepandaian.

Akan tetapi Ma Tek San tidak takut sedikit pun, karena sesungguhnya yang membuat dia berani mengganggu anak buah Ui Hauw adalah karena kedatangan suheng-nya yang ikut menggabungkan diri padanya. Suheng-nya adalah seorang hwesio gundul bernama Lauw Keng Hwesio. Karena melakukan pekerjaan terkutuk, di antaranya mengganggu anak bini orang dan merampok, dia dimusuhi oleh orang-orang gagah di kotanya sehingga terpaksa dia melarikan diri.

Kemudian pendeta palsu ini mendengar tentang adik seperguruannya yang sekarang telah menjadi kepala bajak yang makmur, maka segera dia menyusul untuk bergabung dengan adik seperguruannya itu. Tentu saja Ma Tek San merasa sangat gembira karena dengan adanya suheng-nya ini maka kedudukannya semakin kuat sehingga dia tak perlu lagi takut kepada Ui Hauw.

Thian Bong Sianjin dan kedua anak muda yang naik biduk kecil itu tahu bahwa meski pun tikungan itu tampak sunyi-sunyi saja, namun pada kedua tebing sungai yang curam itu, di atas batu-batu karang yang tinggi di kanan kiri, terlihat gerakan orang-orang bersembunyi di balik batu. Tetapi baik kakek tua itu dan kedua anak muda itu, mereka tenang-tenang saja seakan-akan tidak ada sesuatu yang mengancam keselamatan mereka.

Kalau dahulu Thian Hwa masih harus menggunakan seluruh kepandaian untuk membawa biduknya melalui Tikungan Maut itu dengan selamat, kini gadis itu sudah biasa lewat di situ dan dapat melalui segala bahaya tikungan itu dengan mudah. Apa lagi sekarang ada Yan Bun yang membantunya.

Maka ketika biduk kecil melewati tikungan itu, biar pun air datang menghantam dari depan sangat cepat dan kuatnya, namun keduanya dapat membawa biduk menerjang aliran air dan menikung dengan selamat. Bahkan putaran-putaran air itu tak berdaya mengganggu biduk yang didayung oleh dua orang muda yang mempunyai kepandaian dan tenaga yang terlatih hebat.

Melewati sungai yang penuh batu-batu karang itu, biduk ini sedikit pun tidak bergoncang hingga Thian Bong Sianjin yang tampak tidur sambil duduk di tengah-tengah perahu sama sekali tidak merasa apa-apa!

Puluhan pasang mata mengintai biduk kecil itu dari kedua tebing sungai, di atas batu-batu karang yang tinggi. Mereka kagum dan heran sekali mengapa ada biduk kecil yang dapat menerjang arus sungai dan mudik melalui tikungan yang demikian berbahaya, sedangkan untuk membawa perahu dengan selamat ke hilir saja sudah merupakan pekerjaan yang dapat mendatangkan maut!

Tiba-tiba dari kedua tebing tinggi jatuh batu-batu berhamburan menimpa biduk kecil itu. Ini adalah akal keji dari Ma Tek San yang hendak menghancurkan utusan musuhnya dengan sekali serang.

Memang keadaan mereka bertiga di dalam perahu itu sangat berbahaya. Batu-batu yang dilemparkan ke bawah datang bagai hujan! Tetapi jangan kata mereka mendapat bahaya, terkena batu saja pun tidak. Andai kata biduknya sampai terbalik, sukarlah menolong jiwa penumpangnya di tempat bahaya itu.

Meski keadaan demikian berbahaya tetapi Thian Bong Sianjin masih saja berpeluk tangan dan memejamkan mata. Ada pun kedua anak muda itu dengan tenang lalu menunjukkan kepandaiannya.

Thian Hwa melepaskan ikat pinggangnya yang panjang dan lebar, lantas mempergunakan sutera ini untuk diputar sedemikian rupa di atas kepala mereka bertiga, sehingga dari atas putaran sabuk itu merupakan perisai putih berbentuk bundar yang amat kuat sebab setiap batu yang jatuh menimpa putaran itu langsung saja terpental jauh!

Inilah tenaga lweekang yang amat tinggi, yang membuat sabuk sutera itu menjadi senjata penangkis yang amat kuat sehingga dapat menangkis setiap batu yang datang menimpa mereka. Dengan adanya payung sabuk ini, maka Yan Bun dapat bekerja dengan tenang. Dia dayung terus biduk kecil itu lewat di antara batu-batu karang yang menonjol.

Akhirnya anak-anak buah Ma Tek San yang menghujani batu itu menghentikan serangan mereka dan kini di depan biduk kecil itu mendadak muncul puluhan perahu cat hitam yang dipasang malang-melintang memenuhi permukaan sungai. Mereka muncul dari belakang rumput sungai yang tumbuh di kanan kiri sungai. Pada setiap perahu duduk empat orang yang semuanya berikat kepala hitam dan berbekal senjata tajam. Sikap mereka kelihatan ganas dan menakutkan.

Thian Bong Sianjin membuka kedua matanya dan memandang sambil tersenyum. Dia lalu berkata kepada Yan Bun dan Thian Hwa,

“Lebih baik tinggalkan aku sendiri di dalam perahu dan kalian boleh menyambut mereka.”

Sesudah berkata demikian Thian Bong Sianjin mengambil tombak pendek lantas diikatnya dengan tali yang kuat yang sudah tersedia di dalam biduk. Dengan menjepit tombak itu di antara dua jarinya, dia kemudian meluncurkan tombak itu ke bawah.

Tombak itu meluncur cepat ke dalam air lalu menancap di dasar sungai. Inilah cara Thian Bong Sianjin melepas jangkar perahu untuk menahan perahu itu agar tak hanyut terbawa air. Kemudian kakek itu duduk saja di situ dengan seenaknya, sambil memandang sepak terjang kedua muridnya.

Yan Bun dan Thian Hwa lantas mengeluarkan papan terompah air mereka, dan tidak lama kemudian semua anggota bajak berseru kaget dan terheran-heran ketika melihat betapa pemuda dan gadis yang tadi di dalam perahu itu kini berlari-lari cepat di atas air menuju ke tempat mereka! Memang dari kejauhan papan di bawah kaki kedua anak muda itu tidak tampak sehingga mereka seolah-olah berlari atau melayang di permukaan air.

Ketika sudah datang dekat, tahulah mereka bahwa kedua anak muda itu mempergunakan papan sehingga mereka menjadi takjub sekali. Dari dalam perahu bajak yang terbesar lalu berdirilah dua orang yang bertubuh tinggi besar.

Seorang di antara mereka adalah Ma Tek San yang berpakaian serba hitam dengan golok besar di tangan, sedangkan di sebelahnya berdiri seorang hwesio gundul yang matanya jelalatan ke sana kemari dan mulutnya tersenyum menyeringai. Biar pun kedua orang ini kagum juga melihat pertunjukan ginkang yang luar biasa ini, akan tetapi mereka tidak mau memperlihatkan kekagumannya seperti anak-anak buah mereka.

“Hai, anak-anak muda yang berada di depan, apakah kalian utusan dari Ui Hauw Si Ular Air?” terdengar Ma Tek San membentak dengan sombong.

“Kami memang utusannya,” jawab Yan Bun, tetapi Thian Hwa lalu menambahkan cepat-cepat.

“Kami datang mewakili Ui-pehpeh untuk menyeret buaya kecil yang mengotorkan perairan Huang-ho!”

Kata-kata ini disambut oleh luncuran enam batang tombak ke arah kedua anak muda itu dari kanan kiri!

“Bagus!” seru Thian Hwa dan Yan Bun berbareng.

Dan Yan Bun segera miringkan tubuh berkelit dari serangan sebatang tombak, kemudian menangkap tombak yang ke dua, sedangkan tombak yang ke tiga disampoknya dengan tangan kanan sehingga jatuh ke dalam air!

Akan tetapi Thian Hwa tidak mau berlaku sungkan. Gadis ini menggunakan kedua tangan menangkap dua batang tombak dan tombak ke tiga yang menyerang perutnya ia tendang hingga terpental ke atas dan ketika tombak itu meluncur turun, langsung dia sabet dengan tombak yang terpegang olehnya hingga meluncur cepat kembali ke tempat ia dilepas dan menancap ke sebuah perahu dengan kencangnya!

Tentu saja ketangkasan kedua anak muda itu tak tersangka-sangka oleh mereka semua, maka kembali dari mulut para anak buah bajak itu terdengar seruan kagum.

“Dan kau yang berbaju hitam apakah buaya kecil she Ma?” Thian Hwa balas bertanya.

Ma Tek San mengangkat dada lantas berkata, “Aku adalah Tiat-thou-kim-go Ma Tek San dan ini adalah suheng-ku Lauw Kang Hwesio!”

Kata-kata ini disambut oleh Yan Bun dan Thian Hwa dengan lontaran tombak di tangan mereka. Yan Bun melontarkan tombaknya ke arah perahu yang memuat pelontar tombak yang menyerangnya tadi, sedangkan Thian Hwa mempergunakan sebatang tombak untuk mengirim kembali kepada penyerangnya tadi.

Lemparan mereka jauh lebih cepat dan hebat dari pada tadi, juga gerakan mereka sangat cepat sehingga tidak terduga, maka segera terdengar teriakan-teriakan ngeri dari kedua perahu itu yang menyatakan bahwa serangan itu mendatangkan korban!

Bukan main marahnya Ma Tek San melihat hal ini. Dia perintahkan orangnya mendayung maju perahunya dan sambil menggunakan golok untuk menuding ia pun berseru, “Bangsat kecil tak tahu diri! Kalau belum mampus kalian kena golok ini aku belum akan puas!”

“Kau bangsat besar yang bermulut besar pula! Terimalah tombak ini!” dengan keras Thian Hwa melempar tombaknya ke arah orang she Ma itu.

Tapi Buaya Emas Kepala Besi itu ternyata tangkas dan kuat juga. Dengan goloknya yang berat dan besar dia tangkis tombak itu hingga meleset ke pinggir dan masuk ke dalam air. Melihat kepala mereka mulai beraksi, semua perahu bajak bergerak cepat dan mengurung kedua anak muda itu.

“Bangsat-bangsat kecil, sebelum darahmu mengalir bersama air Sungai Huang-ho, hayo beri-tahukan dulu nama kalian!” teriak Ma Tek San.

Yan Bun menjawab dengan sikap tenang, “Aku adalah Ui Yan Bun, putera dari Ui Hauw dan aku datang mewakili Ayahku. Dan ini...”

Tetapi Thian Hwa segera mendahuluinya. “Dan aku adalah Huang-ho Sian-li, Dewi Sungai Huang-ho yang datang hendak menangkap buaya kecil berkepala busuk!”

“Perempuan rendah, kau akan kubunuh lebih dahulu!” teriak Ma Tek San dengan marah sekali.

Dari sampokan ketika menangkis lontaran tombak Thian Hwa tadi, Yan Bun yang sifatnya lebih berhati-hati sudah tahu bahwa kepala bajak itu ternyata memiliki tenaga besar dan kepandaian yang luar biasa juga. Maka dia merasa bahwa mereka tak akan leluasa kalau harus melayani pengeroyokan itu di atas papan terompah air. Karena itu dia lalu berkata kepada Thian Hwa,

“Thian-moi, marilah kita mendarat saja.”

Sebenarnya gadis itu tidak jeri sama sekali walau pun harus melayani mereka semua di atas papan terompah air, tetapi karena ia maklum bahwa Yan Bun memang belum mahir seperti dia menggunakan kepandaian itu, dan untuk membantahnya ia takut kalau-kalau membikin malu Yan Bun, maka ia lalu berkata keras,

“Hei, bajak-bajak kecil, kalau mau tahu kegagahan kami, kalian naiklah ke darat!”

“Kalian sudah terkurung, bagaimana hendak mendarat?” Ma Tek San tertawa mengejek kemudian memberi isyarat untuk menyerbu. Maka perahu-perahu itu meluncur datang dan ujung-ujung senjata mereka digerakkan untuk menyerang Thian Hwa dan Yan Bun.

Kedua anak muda itu telah bersiap dan mereka sudah mencabut pedang masing-masing. Hanya dengan beberapa gerakan pedang saja, Yan Bun dan Thian Hwa sudah membuat empat orang bajak tercebur ke dalam air.


Maka kedua anak muda itu lalu menggerakkan tubuh dan melompati perahu yang sudah kosong itu untuk melepaskan diri dari kepungan, lalu dengan enak sekali mereka menuju ke tepi!

Dengan marah Ma Tek San mengejar ke tepian bersama suheng-nya. Ketika kepala bajak itu dan suheng-nya serta orang-orangnya telah berada di tepi sungai, mendadak seorang anak buah bajak menunjuk ke arah perahu Thian Bong Sianjin.

Ma Tek San yang memang berwatak curang dan licin segera memberi perintah kepada orang-orangnya, “Tangkap orang tua itu dan bawa dia ke sini, tapi jangan lukai dia!”

Kepala bajak she Ma ini sudah bisa menduga bahwa sepasang anak muda utusan dari Ui Hauw itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat, maka ia sudah mengambil keputusan akan mengeroyoknya jika dia dan suheng-nya kalah. Tetapi orang tua di dalam perahu itu mungkin akan kabur lantas memberi laporan kepada Ui Hauw sehingga datang bala-bantuan. Karena itu lebih baik orang tua itu ditawan lebih dulu!

Mendengar perintah Ma Tek San ini, beberapa orang bajak dalam tiga buah perahu kecil segera mendayung perahu ke arah perahu kecil di mana Thian Bong Sianjin masih duduk berpeluk tangan tak bergerak. Ui Yan Bun dan Thian Hwa melihat hal ini hanya tersenyum saja dan saling pandang.

Para bajak segera mengurung kedua anak muda itu dengan membentuk lingkaran besar, sedangkan kedua anak muda itu berdiri di tengah-tengah dengan sikap tenang sekali. Ma Tek San lalu maju dan membentak.

“Apakah kalian masih berkeras kepala dan ingin mampus di sini?!”

Ui Yan Bun pun maju dan berkata sabar, “Orang muda she Ma! Kau ini benar-benar tidak memakai peraturan dan kesopanan sesama kaum sungai telaga! Tanpa alasan dan sebab kau telah memusuhi ayahku, bahkan kau sudah membunuh dua orang kami yang sedang mencari ikan. Bukankah hal ini sangat merendahkan namamu?”

“Memang aku sengaja membunuh orangmu, lalu kau mau apa?!” kata Ma Tek San ketus, sedangkan suheng-nya dan para anak buahnya terkekeh menertawakan.

“Perbuatanmu itu berarti kau menantang pihak kami, maka sekarang aku mewakili ayahku datang ke sini hendak mencoba sampai di mana kekuatanmu sehingga kau berani berlaku sewenang-wenang. Apakah kau akan melakukan pengeroyokan atau kau berani melayani aku secara laki-laki?”

Marahlah Ma Tek San mendengar tantangan ini. “Eh, bocah sombong, jangan kau sangka kepandaianmu sudah tidak ada lawannya dengan hanya memiliki ginkang dan permainan kanak-kanak di atas air itu saja! Majulah kau kalau hendak berkenalan dengan Tiat-thou-kim-go!” Sesudah berkata demikian orang she Ma itu lalu mencabut golok besarnya yang berkilauan karena tajamnya.

Tetapi sebelum kedua musuh itu bertempur, mendadak terdengar suara ramai-ramai dari arah sungai. Mereka semua memandang dan terkejut melihat bahwa yang ramai-ramai itu adalah beberapa orang anak buah bajak yang datang sambil memikul biduk kecil di atas mana Thian Bong Sianjin masih saja duduk bersedakap tak bergerak sambil memejamkan mata!

“Eh, mengapa kalian berbuat segila ini?” Ma Tek San membentak kepada seorang bajak yang berjalan paling depan.

Bajak itu segera minta maaf kepada pemimpinnya kemudian menceritakan bahwa dia dan kawan-kawannya tak sanggup mengeluarkan kakek itu dari perahunya! Telah dicoba oleh banyak orang, akan tetapi tak seorang pun sanggup menggerakkan tubuh yang bagaikan membatu itu keluar dari perahu. Maka untuk mentaati perintah Ma Tek San, dia bersama kawan-kawannya lalu menggusur saja biduk itu ke tepi lalu mengangkat kakek itu dengan perahunya!

Yan Bun dan Thian Hwa tertawa geli, sementara Ma Tek San marah sekali lalu mendekati Thian Bong Sianjin di dalam perahunya yang sekarang telah diletakkan di atas tanah. “He, orang tua, siapakah engkau sebenarnya?”

Perlahan-lahan Thian Bong Sianjin membuka matanya dan menjawab dengan tak acuh, “Namaku Thian Bong, kalian hendak membawaku ke manakah?”

Thian Hwa dengan keras berkata, “Orang she Ma, ketahuilah, dahulu kakekku ini disebut orang Huang-ho Sui-mo!”

Kagetlah Ma Tek San mendengar ini, juga semua anak buah bajak. Lebih-lebih para bajak yang tadi memaksa Thian Bong Sianjin mendarat, mereka ini menggigil dan wajah mereka pucat sekali, bahkan tiga orang anak buah bajak yang telah lama menjalankan pekerjaan itu dan cukup kenal dengan nama Huang-ho Sui-mo, segera maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Bong Sianjin sambil mengangguk-anggukkan kepala minta ampun!

Melihat lagak tiga orang bajak itu Lauw Keng Hwesio menjadi sangat sebal dan dia yang belum pernah mendengar nama Huang-ho Sui-mo segera memajukan kaki lalu mendadak kedua tangannya memukul ke arah kepala Thian Bong Sianjin dari kanan kiri! Lauw Keng Hwesio hendak memamerkan kepandaiannya dan ingin sekali memukul mati kakek yang agaknya terkenal dan ditaati itu, maka datang-datang dia langsung mengirimkan serangan maut dalam gerak tipu Dewa Mabuk Menuangkan Arak!

Tetapi kakek tua yang tampak tenang-tenang saja itu tiba-tiba mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah tangan Lauw Keng Hwesio yang meluncur maju dan tepat sekali ujung lengan bajunya menyambar ke arah jalan darah di pergelangan lengan hwesio itu!

Bukan main terkejutnya Lauw Keng Hwesio sehingga ia buru-buru menarik kembali kedua tangannya, karena kalau diteruskan, belum sampai kepalannya mendarat di kepala lawan, dia akan tertotok lebih dulu. Dia tahu betapa hebat ujung lengan baju itu, karena anginnya telah terasa kuat dan membuat urat tangannya kesemutan. Diam-diam dia mengeluarkan keringat dingin karena maklum bahwa kakek itu benar-benar berilmu tinggi sekali.

Thian Bong Sianjin tersenyum sabar dan berkata perlahan, “Eh, hwesio, kau mau apa?”

Lauw Keng Hwesio meloncat mundur dengan malu. Pada saat itu pula Thian Hwa sudah maju dan memakinya. “Bangsat gundul, jangan kau berani mengganggu kakekku!”

Kepala gundul itu menjadi marah. Dia segera melepaskan sabuknya yang ternyata terbuat dari pada baja lemas dan merupakan joan-pian yang kuat. Tanpa banyak kata lagi dia lalu menyerang Thian Hwa yang sudah siap dengan pedang di tangan. Dan pada saat itu juga, Ma Tek San juga sudah mulai bertempur dengan Ui Yan Bun.

Ma Tek San dan Lauw Keng Hwesio memang memiliki kepandaian yang tinggi dan ganas, ditambah lagi tenaga mereka amat besar. Tapi kini mereka menghadapi dua orang muda gemblengan Thian Bong Sianjin yang sudah menurunkan ilmu silat tinggi kepada kedua muridnya itu, maka baru bertempur beberapa puluh jurus saja keduanya sudah terdesak hebat oleh pedang Thian Hwa dan Yan Bun!

Ketika mendapat kenyataan bahwa kedua lawannya itu betul-betul lihai, Ma Tek San yang selalu berpikir jahat segera berseru kepada anak buahnya yang masih berdiri mengelilingi lapangan pertempuran itu.

“Hayo kamu semua lekas bantu menangkap dua setan ini!”

Suara Ma Tek San yang keras terdengar berpengaruh dan tidak seorang pun di antara anak buahnya yang berani menentang atau pun mengabaikan perintah ini, karena mereka telah mengenal kekejaman Ma Tek San. Dengan senjata-senjata tajam di tangan, mereka bergerak maju untuk mengeroyok.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras sekali. “Kalian semua mundur!”

Inilah bentakan Thian Bong Sianjin yang masih duduk di dalam perahunya. Suaranya lebih keras dan nyaring dibanding suara Ma Tek San sehingga para bajak menjadi terkejut dan sebagian besar mundur. Tapi sebagian lagi tetap maju karena mereka lebih takut kepada pimpinan mereka yang kejam.

“Mundur kalian! Kalau tidak, tangan Huang-ho Sui-mo akan ikut berbicara!”

Ancaman ini berhasil juga, karena lebih dua puluh orang yang pernah mendengar nama ini segera mundur dan melihat ke arah orang tua itu dengan hormat, tetapi masih ada juga yang berani maju dengan maksud mengeroyok Thian Hwa dan Yan Bun. Tapi Thian Bong Sianjin cepat mengangkat tangan dan mengayunkan tangannya ke arah mereka dan pada saat itu juga beberapa orang bajak berteriak-teriak sambil melepaskan senjata mereka.

Ternyata sambil duduk di perahunya kakek itu sudah meraup segenggam pasir kasar lalu mempergunakan pasir itu sebagai senjata rahasia! Dan ternyata pasir kasar yang hampir menyerupai kerikil itu sudah memecahkan kulit tubuh mereka yang tersambit sehingga mengeluarkan darah dan rasanya perih sekali! Melihat kelihaian orang tua itu, para bajak menjadi ketakutan dan tidak berani maju lagi.

Sementara itu Thian Hwa yang memainkan pedangnya secara cepat sekali telah berhasil mengurung Lauw Keng Hwesio sehingga hwesio itu hanya mampu menangkis saja tanpa dapat membalas sedikit pun juga.

“Thian Hwa, jangan membunuhnya!” Thian Bong Sianjin berteriak.

Thian Hwa lantas mengubah gerakan pedangnya dengan secepat kilat! Dia menggunakan ujung pedang untuk menusuk ke arah jalan darah di tenggorokan lawan dengan gerak tipu Burung Kepinis Mematuk Ikan.

Karena gerakan ini cepat bukan main, maka Lauw Keng Hwesio hampir saja tidak dapat mengelakkan diri. Akan tetapi dia masih ingat untuk melempar diri ke belakang sehingga dia terjengkang namun terhindar dari maut.

Ketika dia belum dapat memperbaiki kedudukannya, sepasang kaki Thian Hwa bergerak cepat dan joan-pian-nya segera terlempar oleh tendangan kaki kiri Thian Hwa, sedangkan ujung sepatu kanan gadis itu mampir di pundaknya menendang jalan darahnya sehingga dia berteriak keras dan merasa betapa pundaknya sakit sekali sampai meresap ke ulu hati!

Masih untung bagi Lauw Keng Hwesio bahwa Thian Bong Sianjin dalam saat yang tepat telah mencegah cucunya untuk menghabiskan nyawa hwesio itu sehingga gadis itu tidak menggunakan ujung sepatu untuk menendang tempat kematian, maka hwesio itu hanya menderita luka dalam dan patah tulang pundak saja. Tapi rasa sakit itu cukup membuat dia roboh pingsan!

Sementara itu, Ui Yan Bun juga berhasil merobohkan lawannya. Pemuda ini merasa sakit hati dan marah sekali kepada Ma Tek San yang telah berlaku kejam membunuh dua orang anak buah ayahnya, maka dia tidak mau memberi hati sedikit pun. Dia mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat dan mendesak terus sehingga lawannya bertempur sambil mundur berputar-putar.

Napas Ma Tek San telah terengah-engah dan wajahnya sudah menjadi pucat. Pada saat yang tepat, Yan Bun memutar pedangnya sedemikian rupa dalam gerak tipu Air Ombak Menampar Karang dan serangan yang dahsyat serta ganas ini datang bergulung-gulung bagaikan ombak samudera sehingga tidak dapat ditangkis lagi oleh Thiat-thou-kim-go Ma Tek San.

Dengan diiringi teriakan menyeramkan kepala bajak yang jahat itu roboh terguling setelah dadanya tertembus pedang Yan Bun! Maka binasalah orang she Ma ini.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner