KEMELUT KERAJAAN MANCU : JILID-01


Matahari memuntahkan panasnya melalui cahayanya yang membakar seluruh permukaan bumi. Cuaca menjadi amat cerah, langit bersih seolah semua awan ketakutan menyingkir dari cahaya matahari.

Tetapi Sungai Kuning (Huang-ho) seolah tidak merasakan teriknya matahari. Di sepanjang sungai dan kedua tepinya yang berhiaskan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan subur itu tampak hijau dan sejuk. Seolah sungai yang lebar itu menyerap semua hawa panas yang mengandung kehidupan itu.

Burung-burung dan binatang lain mencari perlindungan di antara daun-daun dan di bawah pohon-pohon yang sejuk. Bahkan para nelayan yang biasanya menjala atau memancing ikan, pada siang hari yang sangat terik itu pergi mengaso, tidak kuat menahan panasnya sinar matahari. Pada siang hari itu Huang-ho (Sungai Kuning) tampak sepi.

Tiba-tiba dari kejauhan tampak meluncur seorang wanita di atas air sungai. Jika ada yang melihatnya pada saat itu, tentu dia akan tercengang keheranan, mungkin lari ketakutan dan mengira bahwa wanita itu adalah setan yang dapat berjalan di atas air! Akan tetapi kalau dilihat dari jarak agak dekat, tentu dia akan mengira bahwa yang meluncur di atas air itu adalah seorang Dewi atau Bidadari!

Ia memang cantik jelita. Rambutnya yang digelung ke atas agak terurai karena hembusan angin hingga beberapa gumpalan anak rambut bermain-main di dahi dan pipinya. Rambut yang hitam lembut panjang dan agak berikal.

Mukanya berbentuk bulat telur, sepasang matanya mencorong tajam dan memiliki daya tarik yang memikat, hidungnya mancung dan mulutnya bersaing indah dengan matanya, mempunyai daya pikat yang akan menimbulkan gairah dalam hati setiap orang pria yang melihatnya. Apa lagi di kanan kiri mulutnya terdapat lesung pipi yang amat manis. Kulitnya putih bersih dan kini kedua pipinya kemerahan karena panas matahari.

Ia bukanlah seorang dewi apa lagi setan penunggu sungai. Ia seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh tahun, bertubuh sintal denok dan berwajah cantik jelita. Pakaiannya dari sutera putih dan kalau ia tampak seperti orang yang berjalan di atas air, sesungguhnya ia sedang meluncur dengan cepat di atas air! Bukan berdiri di atas kedua kakinya, tetapi ia menggunakan terompah papan selancar.

Dengan ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang sudah tinggi tingkatnya, ia dapat berdiri di atas papan, kemudian dengan pengerahan khikang ia dapat mendorong kedua kaki yang menginjak papan itu sehingga ia meluncur dengan cepat di atas air!

Gadis itu bernama Ciu Thian Hwa, seorang pendekar wanita yang selain cantik jelita juga sangat lihai. Dia malang melintang di dunia kang-ouw, membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dengan keras sehingga ia terkenal dengan julukan Huang-ho Sian-li (Dewi Sungai Kuning).

Sesudah mengalami banyak hal yang menimbulkan kepahitan dan kekecewaan hati yang membuat hatinya terasa sedih, akhirnya dia mengambil keputusan untuk mencari gurunya yang sekaligus menjadi kakek angkatnya. Gurunya adalah Thian Bong Sianjin yang dulu sebelum bertobat menjadi pendeta, berjuluk Huang-ho Sui-mo (Setan Air Sungai Kuning).

Thian Hwa makin mempercepat luncuran papan selancarnya di atas air. Dia mulai merasa gembira setelah kembali berada di atas Sungai Huang-ho. Sedikit demi sedikit lenyaplah segala kekecewaan dan kepahitan yang dideritanya.

Ia merasa sudah kembali ke tempat yang sesuai dan cocok baginya, yaitu Sungai Huang-ho dan karena ia tahu bahwa ia seolah kembali di sungai itu, dan ibu kandungnya lenyap pula di situ, maka ia merasa seolah-olah kini ia berada dekat dengan ibunya. Dia merasa seakan-akan sudah mendapatkan kembali ibunya, yakni sungai dengan airnya yang luas itu!

Ia meluncur dan memandang permukaan air dengan hati terharu, dan dengan cekatan ia membungkuk untuk menggunakan tangannya menyendok air kemudian air ia siramkan ke mukanya! Angin Sungai Huang-ho meniup wajahnya sehingga terasa segar dan nyaman. Lenyaplah segala kesedihannya!

Ketika aliran Sungai Huang-ho mulai sulit ditempuh karena banyak terdapat air terjun dan kadang-kadang penuh dengan batu-batuan, Thian Hwa segera mendarat lalu berlari cepat menyusuri Lembah Sungai Huang-ho. Setiap kali bertemu dusun nelayan, ia lalu bertanya barang kali ada yang melihat Thian Bong Sianjin. Beberapa kali dia mendapat keterangan bahwa kakek itu menuju ke hulu Sungai Huang-ho, yaitu ke arah barat. Maka ia pun lalu melanjutkan perjalanan menyusuri pantai ke hulu, daerah yang belum pernah ia jelajahi.

Sesudah melakukan perjalanan selama sebulan lebih, pada suatu hari tibalah ia di sebuah dusun di tepi sungai. Dusun itu cukup ramai dihuni oleh para petani dan nelayan sebanyak sekitar lima puluh rumah atau keluarga. Di dusun ini Thian Hwa mendengar bahwa tiga hari yang lalu seorang kakek membasmi gerombolan perampok yang mengganggu dusun itu.

Hatinya girang bukan main mendengar bahwa kakek itu berusia sekitar lima puluh enam tahun, mengenakan pakaian pendeta To serba putih, mukanya tanpa kumis atau jenggot, dan di punggungnya tergantung sebatang pedang. Gambaran itu adalah gambaran kong-kongnya!

Dia segera mencari keterangan ke mana kakek itu pergi. Salah seorang penduduk dusun menuturkan bahwa dia melihat kakek penolong mereka itu tinggal di sebuah kuil tua yang tidak terpakai lagi, di puncak sebuah bukit kecil di tepi sungai.

Thian Hwa cepat mendaki bukit itu dan merasa kagum melihat keindahan pemandangan alam di atas bukit itu. Melihat keadaan bukit yang tanahnya subur dan hawanya sejuk itu, ia merasa betah dan senang sekali. Apa lagi ketika ia menemukan kuil kosong di puncak bukit dan melihat Thian Bong Sianjin duduk bersila di atas sebuah batu depan kuil!

“Kong-kong...!” Ia berseru dan berlari cepat menghampiri.

Thian Bong Sianjin memandang gadis itu dan tersenyum dengan wajah berseri.

“Aha, Thian Hwa, akhirnya engkau datang juga! Bagaimana hasilnya dengan penyelidikan selama beberapa bulan ini?”

Ditanya demikian, Thian Hwa teringat akan semua pengalamannya. Dia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas tanah di depan kakek itu, dan tidak dapat menahan diri lagi menangis terisak-isak!

“Aih, inikah cucuku yang biasanya gembira, pemberani, keras hati dan jujur itu? Mengapa kini menjadi cengeng?”

Kakek itu lalu turun dari atas batu dan membungkuk, mengelus rambut kepala Thian Hwa. Gadis itu bangkit berdiri dan merangkul, menangis di atas dada kakek yang selama ini dia anggap sebagai pengganti orang tuanya itu.

Thian Bong Sianjin membiarkan gadis itu menangis hingga air matanya membasahi jubah bagian dadanya, hanya mengelus kepala gadis yang sangat dikasihinya itu. Dia maklum bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk melepaskan himpitan duka di dalam hati adalah melalui cucuran air matanya.

Setelah tangis Thian Hwa mereda, kakek itu berkata halus, “Tenangkan hatimu, Cucuku. Duduklah di atas batu di depanku ini dan ceritakan semuanya kepadaku. Tak ada perkara apa pun di dunia ini yang tidak dapat kita atasi, asalkan kita menerimanya sebagai suatu kenyataan yang wajar. Tidak ada masalah di dalam hidup ini, kecuali kalau kita menerima suatu peristiwa sebagai masalah. Kita sendiri yang membuat masalah dan kita pula yang mengakhiri masalah itu.”

Thian Hwa sudah menumpahkan semua ganjalan hati melalui air matanya. Kini dadanya terasa lapang dan ia memperoleh kembali ketenangannya. Ia menggunakan sehelai sapu tangan untuk mengusap sisa-sisa air mata dari mata dan mukanya sampai kering, baru ia menaati ucapan kakeknya dan duduk bersila di atas sebuah batu di depan kakek itu yang kini sudah duduk kembali di tempat semula.

“Nanti dulu, Kong-kong,” katanya, sekarang suaranya sudah tenang dan biasa kembali. “Sebelum aku menceritakan semua pengalamanku, aku ingin tahu lebih dulu apa maksud Kong-kong ketika mengatakan bahwa tidak ada masalah di dalam hidup ini. Bagaimana mungkin tidak ada masalah kalau dalam kehidupan ini banyak terjadi peristiwa menimpa kita yang mendatangkan kekecewaan, penasaran, dan kedukaan?”

Kakek itu tersenyum ramah, matanya yang bersinar tajam tapi lembut itu menatap wajah cucunya dengan penuh pengertian. “Hidup ini sendiri akan menjadi masalah apa bila kita menerimanya sebagai masalah. Peristiwa apa pun yang terjadi pada diri kita merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah pula. Kenyataan apa adanya itu adalah suatu kewajaran. Biasanya nafsu yang mengaku-aku dan selalu mementingkan diri sendiri, yang mengejar kesenangan diri sendiri, itulah yang menimbulkan penilaian terhadap apa yang terjadi, lalu timbul apa yang disebut menyenangkan atau menyusahkan. Kalau merugikan, lalu dianggap sebagai suatu masalah yang menimbulkan rasa khawatir, takut, penasaran, kecewa, benci atau duka.”

Thian Hwa mengerutkan alisnya, merasa bingung. “Kong-kong, tolong diberi contoh agar aku tidak menjadi bingung.”

“Misalnya hujan lebat turun. Peristiwa yang menimpa kita ini adalah satu kenyataan yang tak dapat diubah oleh siapa pun juga. Apakah peristiwa ini baik? Ataukah buruk? Menjadi masalah ataukah suatu kewajaran? Tergantung bagaimana kita menerimanya. Kalau kita terima sebagai hal yang merugikan kita, timbullah kekecewaan dan kedukaan. Kalau kita terima sebagai kenyataan apa adanya, suatu kewajaran, maka timbullah kebijaksanan di dalam batin kita sehingga kita bisa mengatasinya, misalnya dengan berteduh, malah bisa memanfaatkan peristiwa itu dengan membuat bendungan kemudian menyalurkan airnya dan sebagainya. Demikian sebaliknya kalau hari panas sekali. Kita dapat berlindung dari sengatan sinar matahari dan dapat memanfaatkan sinar yang panas itu untuk menjemur dan sebagainya, bukan menerimanya sebagai sebuah masalah yang menimbulkan nafsu marah, kecewa, penasaran, takut yang mendatangkan duka. Mengertikah engkau, Thian Hwa?”

Thian Hwa diam sejenak, lalu mengangguk-angguk perlahan. “Ah, kini aku mulai mengerti, Kong-kong. Jadi, apa pun yang menimpa diri kita, dari yang paling menyenangkan sampai yang paling tidak menyenangkan, misalnya penyakit dan kematian, adalah suatu hal yang wajar dan tak dapat diubah lagi, suatu kenyataan sehingga kita harus menerimanya tanpa menjadikannya suatu masalah. Begitukah? Tapi bagaimana mungkin manusia dapat hidup tanpa dipengaruhi segala macam perasaan, terutama susah senang itu? Manusia hidup tanpa perasaan menjadi seperti mati!”

“Bukan demikian, Cucuku. Manusia hidup memang tidak mungkin dapat mematikan atau menghilangkan nafsu. Nafsu menjadi peserta manusia dalam hidupnya di alam fana ini. Yang terpenting adalah keseimbangan, menjaga agar nafsu jangan memperhamba kita, melainkan menjadi peserta dan pembantu kita. Ada pelajaran dari Guru Besar Khong Cu yang bijaksana dalam Kitab Tiong Yong, begini bunyinya: HI NOU AI LOK CI BI HOAT, WI CI TIONG. HOAT JI KAI TIONG CIAT, WI CI HO. Artinya: Sebelum perasaan Girang Marah Duka dan Suka timbul, batin berada dalam keadaan Tegak Lurus. Jika berbagai perasaan itu timbul tetapi mengenal batas (dapat dikendalikan), maka batin berada dalam keadaan selaras (seimbang).”

Gadis itu mengangguk-angguk. “Sekarang aku mengerti, Kong-kong.”

“Nah, sekarang ceritakanlah apa saja yang kau alami sehingga engkau hampir kehilangan keseimbanganmu.”

Dengan lancar dan tabah Thian Hwa lalu menceritakan semua pengalamannya. Betapa ia bertemu dengan Cui Sam atau yang sebutannya Lo Sam, kakeknya atau ayah dari ibunya yang kini bekerja sebagai pelayan Pangeran Cu Kiong. Dari kakeknya ini dia mengetahui bahwa ibunya bernama Cui Eng yang menjadi selir Pangeran Ciu Wan Kong, kemudian ketika melahirkan anak perempuan, yaitu dirinya, ibunya itu diusir oleh keluarga Pangeran Ciu Wan Kong. Menurut cerita kakeknya, kakek Cui Sam dan Cui Eng hendak kembali ke kampung halaman mereka di selatan. Akan tetapi ketika menyeberangi Sungai Huang-ho, perahu mereka terbalik sehingga Cui Sam, Cui Eng, dan bayinya hanyut.

“Kakek Cui Sam dapat menyelamatkan diri, akan tetapi dia kehilangan ibu dan aku yang dia sangka tentu tewas tenggelam,” kata Thian Hwa melanjutkan ceritanya. “Aku merasa sakit hati sekali kepada Pangeran Ciu Wan Kong. Sebab itu pada suatu malam kudatangi gedungnya, akan kubunuh dia untuk membalaskan kematian ibu kandungku. Akan tetapi ketika tiba di kamarnya dan melihat ia berduka cita sambil mengamati gambar ibuku, aku menjadi tidak tega. Apa lagi ketika dia melihat aku dan mengira bahwa aku adalah ibuku. Dia... dia... tertawa menangis seperti orang gila!”

“Siancai...! Kekuasaan Thian (Tuhan) Yang Maha Adil tak pernah berhenti bekerja. Setiap manusia tidak akan terhindar dari akibat perbuatannya sendiri. Siapa menanam, dia akan memetik buahnya. Hukum ini berlaku di seluruh alam semesta dan sudah wajar dan adil! Lanjutkan ceritamu, Thian Hwa.”

Thian Hwa melanjutkan ceritanya, betapa sebelumnya dia juga telah menolong Pangeran Ciu Wan Kong yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri itu dari serangan ular air. Kemudian betapa ia terlibat perkara dengan Pangeran Leng Kok Cun yang merencanakan pemberontakan. Akhirnya ia ketahuan bahwa ia hanya seorang penyelundup sehingga dia dikeroyok para jagoan dan harus melarikan diri berlindung ke gedung Pangeran Cu Kiong yang dianggap saingan Pangeran Leng Kok Cun.

“Hemm, ternyata sedang terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran! Ha-ha-ha, penyakit lama itu selalu terdapat dalam setiap pemerintahan kerajaan. Agaknya Kerajaan Mancu tidak terkecuali, diam-diam terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka sendiri. Lalu bagaimana, Thian Hwa?”

“Setelah mengalami guncangan akibat pertemuanku dengan ayah kandungku itu, kembali aku mengalami guncangan kedua yang amat menyakitkan hati, Kong-kong. Pangeran Cu Kiong yang masih muda, tampan dan halus budi bahasanya itu amat baik padaku, bahkan ia mengaku cinta kepadaku dan hendak memperisteri aku. Aku bodoh sekali, Kong-kong, aku terpikat dan tertarik padanya. Aku percaya padanya. Baru kemudian aku mendengar dia berbicara dengan tujuh orang pengawalnya, yaitu Kam-keng Chit-sian, dan baru aku ketahui bahwa dia hanya ingin mempergunakan tenagaku. Dia bermaksud mengambil aku sebagai seorang selirnya, kemudian memanfaatkan tenagaku untuk membantu dia dalam perebutan kekuasaan itu. Aihh, Kong-kong, perasaanku sakit sekali. Bahkan ketika aku hendak pergi meninggalkan dia, Pangeran Cu Kiong langsung menahanku dengan paksa, mengerahkan tujuh orang pengawalnya untuk mengeroyok dan menangkap aku. Aku lalu melawan akan tetapi nyaris saja aku celaka di tangan tujuh orang yang cukup tangguh itu kalau saja tidak muncul Bun-ko yang membantuku.”

“Ahh, jadi Yan Bun menyusulmu dan dapat menolongmu?”

“Benar, Kong-kong. Dengan bantuan Bun-ko akhirnya kami dapat merobohkan empat dari tujuh orang Kam-keng Chit-sian itu. Kemudian kami meninggalkan gedung Pangeran Cu Kiong dan aku lalu pergi mencari Kong-kong.”

“Hemmm, lalu bagaimana dengan Pangeran Cu Kiong? Engkau tidak melakukan apa-apa terhadap dirinya?”

Thian Hwa menghela napas panjang lantas menggeleng kepalanya. “Aku tidak tega untuk membunuhnya.”

“Hemm, engkau masih mencintanya, Thian Hwa?” tanya kakek itu dengan alis berkerut.

Thian Hwa menghela napas lagi. “Aku memang mencintanya, Kong-kong, akan tetapi aku juga membencinya!”

“Siancai...! Kasihan, Cucuku mulai menjadi permainan cinta. Dan bagaimana dengan Yan Bun? Setelah dia menolongmu, lalu di mana dia?”

“Kami berpisah, Kong-kong. Dan Bun-ko... dia pun berterus terang bahwa dia dan Paman Ui Hauw mengharapkan supaya aku menjadi jodohnya. Akan tetapi aku menolak, karena selain aku sama sekali tidak mempunyai perasaan lain terhadap Bun-ko, kecuali merasa dia sebagai kakakku, juga aku merasa muak kepada laki-laki yang cintanya palsu seperti kutemui pada diri Ayah kandungku sendiri dan pada Pangeran Cu Kiong! Aku merasa jera untuk jatuh cinta lagi, Kong-kong!”

Sejenak kakek itu mengangguk-angguk. “Aku dapat memahami perasaanmu, Thian Hwa. Dikecewakan dalam hubungan cinta memang amat menyakitkan sehingga membuat kita merasa jera. Akan tetapi perasaan itu sama sekali tidak benar, karena aku sendiri sudah merasakan. Karena jera akibat cinta gagal, aku membujang selama hidup dan akibatnya, aku tidak mempunyai keturunan. Untung aku menemukan engkau, jika tidak, pada masa tuaku ini aku akan hidup sebatang kara dan bukan tidak mungkin bila matiku nanti akan terlantar karena tidak ada keluarga yang merawat.”

“Kong-kong! Jadi Kong-kong juga pernah gagal dalam cinta? Bagaimana kisahnya, Kong-kong? Siapa wanita yang pernah engkau cinta?”

Kakek itu menghela napas panjang. “Sebetulnya cerita lama itu sudah tak pernah kuingat lagi, Thian Hwa. Akan tetapi agar dapat engkau jadikan bahan pertimbangan, boleh juga kau ketahui. Dua puluh tahun lebih yang lalu, aku pernah saling mencinta dengan seorang pendekar wanita yang lihai. Ilmu silatnya setingkat denganku, dan kami telah sama-sama berjanji untuk menjadi suami isteri.”

“Siapakah nama pendekar wanita itu, Kong-kong?”

“Namanya? Aih, kenapa engkau menanyakan namanya segala? Baiklah, namanya Souw Lan Hui, dia murid Bu-tong-pai dan di dunia kang-ouw dia mendapat julukan Sin-hong-cu (Burung Hong Sakti).”

“Wih! Tentu dia secantik burung Hong!”

Thian Bong Sianjin menghela napas. “Siancai! Ia memang cantik dan pada waktu itu aku merasa bangga dan bahagia sekali. Akan tetapi segala sesuatu tidak pernah abadi. Pada suatu hari kami bertemu dengan seorang pangeran muda. Begitu bertemu, mereka saling tergila-gila dan kami pun berpisah. Ia menikah dengan pangeran itu!”

“Ihh! Kenapa begitu? Cintanya kepada Kong-kong ternyata hanya palsu!” seru Thian Hwa penasaran. “Siapa sih pangeran itu? Hemm, tidak urung dia pun akan disia-siakan seperti halnya ibu kandungku!”

“Tak perlu kau ketahui siapa pangeran itu, tetapi dugaanmu keliru. Siapa orangnya berani mempermainkan Si Burung Hong Sakti? Kalau pangeran itu berani mengambil seorang selir saja, pasti dia akan menjadi korban siang-kiam (sepasang pedang) Souw Lan Hui! Apa lagi sampai berani menyia-nyiakan! Dan mengenai kepalsuan cinta, Cucuku, semua cinta yang dimiliki manusia dan yang didorong nafsu semuanya itu berpamrih, semuanya itu palsu. Engkau tahu sekarang, bukan hanya laki-laki saja yang suka mempermainkan cinta, kaum wanita pun ada. Jadi jangan menganggap semua laki-laki itu adalah tukang mempermainkan cinta dan wanita! Sudahlah, sekarang engkau masih sangat muda, baru delapan belas tahun. Kelak engkau akan mengerti sendiri. Sekarang kita membicarakan orang tuamu. Pangeran Ciu Wan Kong itu jelas adalah ayah kandungmu, jadi engkau juga bermarga Ciu, keturunan seorang pangeran!”

“Aku tidak sudi memakai marga pangeran yang jahat dan yang mengusir ibu kandungku, menyebabkan kematian Ibuku!” Thian Hwa berkata ketus.

“Nanti dulu, Thian Hwa. Melihat dia masih berduka dan masih mengingat ibumu, berarti dia mencinta ibumu. Perlu kau ketahui dulu mengapa ibumu dahulu diusir dan siapa yang mengusirnya. Mungkin Cui Sam, kakekmu itu dapat menceritakannya. Selain itu, belum tentu pula kalau ibumu sudah mati.”

“Ehh? Apa maksudmu, Kong-kong?”

“Dulu, pada saat aku menemukan engkau yang masih bayi, kupikir tentu ada orang-orang dewasa yang hanyut pula. Mungkin orang tuamu. Sebab itu aku telah berusaha mencari, akan tetapi tidak menemukan satu pun mayat terapung. Bukan mustahil kalau ibumu juga berhasil menyelamatkan diri seperti kakekmu itu, atau mungkin juga diselamatkan orang, seperti engkau kuselamatkan.”

“Ahh...!” Wajah gadis itu berseri, matanya bersinar-sinar penuh harapan. “Kalau begitu, aku akan mencarinya, Kong-kong!”

“Tenang dulu, Thian Hwa. Untuk menyelidiki tentang ibumu, agaknya engkau harus mulai dari kota raja, menemui kakekmu dulu. Dan mengingat akan pengalamanmu di kota raja, di situ tengah terjadi pertentangan dan persaingan dalam memperebutkan kekuasaan dan di situ terdapat orang-orang pandai yang mungkin akan mengancam keselamatanmu, oleh karena itu, sebelum kau pergi lagi, perlu sekali engkau memperdalam ilmu kepandaianmu. Akan kuajarkan semua ilmu yang kukuasai agar kepandaianmu meningkat sehingga tidak mudah engkau tertimpa bencana.”

Thian Hwa tidak berani membantah dan dia memang maklum bahwa di kota raja banyak terdapat orang pandai yang jahat, maka dia perlu membekali diri dengan kepandaian yang tinggi. Maka mulai hari itu dia tekun memperdalam ilmunya di bawah gemblengan Thian Bong Sianjin yang amat mengasihinya…..

********************

Sejak jaman kuno sekali, Cina memang memiliki kebudayaan yang sangat tinggi. Maka tidak mengherankan apa bila bangsa-bangsa yang pernah menjajah Cina, seperti bangsa Kin dan bangsa Mongol dahulu, sesudah menjajah Cina mereka itu malah terseret oleh kebudayaan Cina.

Para penjajah itu tidak mungkin dapat mengubah kebudayaan dan tradisi dari rakyat Cina yang jumlahnya berpuluh kali lipat lebih banyak dari pada jumlah rakyat penjajah. Karena kebudayaan Cina memang lebih tinggi, lagi pula untuk dapat menyesuaikan diri sehingga dapat menarik hati dan menguasai rakyat Cina dengan baik, para penjajah itu mengubah diri menjadi Cina, baik budayanya, adat istiadat, sastra dan bahasanya, bahkan namanya!

Demikian pula dengan bangsa Mancu. Biar pun bangsa Mancu telah menguasai sebagian besar daratan Cina bagian utara, yaitu dengan perbatasan mulai Sungai Yang-ce ke utara, sedangkan bagian selatan Sungai Yang-ce masih dikuasai sisa pendukung Kerajaan Beng yang dipimpin oleh Wu Sam Kwi di barat daya dengan ibu kota Yunnan-hu dan dua orang pemimpin rakyat lain yang tak begitu besar kekuatannya, tapi tetap saja penjajah Mancu juga ikut menyesuaikan diri dengan tata-cara hidup bangsa pribumi Han. Bahkan terkenal ejekan di antara para pendekar pejuang pribumi Han bahwa para pangeran, bangsawan dan pembesar tinggi penjajah Mancu itu malah menjadi ‘lebih Cina dari pada pribumi Cina sendiri’! Tapi siasat penjajah Mancu ini memang berhasil, karena dengan membaurkan diri dengan pribumi Han, Kerajaan Ceng (Mancu) dapat menarik simpati orang-orang Han.

Kerajaan Ceng menghargai orang-orang pribumi yang memiliki kepandaian tinggi, memberi mereka kedudukan penting. Pemerintah Mancu memang mengharuskan rakyat yang laki-laki untuk memelihara rambut yang dikuncir, namun mereka sendiri, para pangeran dan bangsawan, juga menggunakan kebiasaan ini sehingga rakyat Han tidak merasa terhina. Pula, para bangsawan itu sengaja mengubah nama Mancu menjadi nama Cina sehingga sukarlah diketahui apakah seorang pembesar itu berdarah Mancu ataukah Han, apa lagi karena orang-orang Mancu itu juga memakai bahasa Han dan menjalani tata-cara hidup dan kebudayaan Han!

Pada waktu kisah ini terjadi, yang menjadi kaisar Kerajaan Ceng (Mancu) adalah Kaisar Shun Chi (1644-1661). Ketika Thian Hwa sedang memperdalam ilmu-ilmunya di atas bukit di Lembah Huang-ho, pada waktu itu Kaisar Shun Chi sudah tua.

Kaisar ini memang berwatak lemah sehingga dia mudah dipengaruhi oleh para Thaikam (Sida-sida, orang kebiri), yang menjadi pengurus terpercaya dalam istana. Kaisar Shun Chi bagaikan boneka dan jalannya pemerintahan seolah dikendalikan para Thaikam. Pada masa itu Kepala Thaikam yang menjadi penasehat utama kaisar adalah seorang sida-sida bernama Boan Kit yang berusia lima puluh tahun.

Boan Kit yang biasa disebut Boan Thaijin (Pembesar Boan) adalah seorang yang sangat cerdik. Dia pandai membawa diri, bersikap merendah dan menjilat di depan Kaisar Shun Chi, akan tetapi bersikap agung dan berwibawa di depan para pembesar sehingga mereka semua segan dan tunduk padanya. Selain pandai dan cerdik, Boan Kit yang peranakan Mancu Han ini adalah seorang ahli silat yang amat lihai dan juga dia memiliki kemampuan ilmu sihir. Karena pengaruh sihirnya itulah maka Kaisar Shun Chi menjadi semakin tunduk dan percaya padanya.

Kaisar Shun Chi menjadi semakin lemah dan tak lagi mengacuhkan urusan pemerintahan ketika dia makin tertarik dengan pelajaran Agama Buddha. Ia menganggap bahwa semua urusan dunia hanya menyeretnya ke dalam pertentangan, keterikatan dan duka nestapa. Yang lebih sering dilakukan hanyalah berdoa dan bermeditasi.

Inilah sebab utama terjadinya persaingan di antara para pangeran untuk memperebutkan tahta kerajaan. Kaisar Shun Chi lemah dan tidak mempedulikan, bahkan agaknya pernah mengatakan siapa yang akan menggantikannya. Kekuasaan sebenarnya berada di tangan para Thaikam, atau lebih tepat lagi, di tangan Thaikam Boan atau Boan Thaijin!

Thaikam Boan Kit bukan seorang yang bodoh. Tidak. Dia cerdik bukan main. Tentu saja dia maklum bahwa sebagai seorang Thaikam, tak mungkin dia akan dapat menggantikan kedudukan Kaisar. Apa bila dia merampas kedudukan Kaisar, semua pangeran pasti akan mengeroyok dan menumpasnya. Maka dia harus mengadakan pilihan, siapa kiranya yang patut dijagokannya sebagai pengganti kaisar yang sudah tua itu, tentu saja seorang kaisar baru yang akan dapat dia kuasai pula!

Dan sudah sejak beberapa bulan dia menjatuhkan pilihannya kepada Pangeran Leng Kok Cun! Pangeran Leng Kok Cun yang berusia empat puluh tahun itu adalah putera seorang selir kaisar yang ke tujuh. Menurut urut-urutan para pangeran, tak mungkin dia yang akan diberi hak menggantikan ayahandanya kelak.

Pangeran Leng Kok Cun berambisi besar untuk kelak menggantikan kedudukan kaisar, maka tentu saja dia menjadi semakin bersemangat ketika Thaikam Boan Kit mengulurkan tangan untuk mengadakan kerja sama. Tentu saja dengan perjanjian kelak Thaikam Boan Kit yang akan menjadi penasehat utama atau istilahnya Kok-su (Guru Negara) yang akan mengatur semua politik yang dikeluarkan kaisar yang berkuasa!

Dengan penuh semangat Pangeran Leng Kok Cun lalu mengerahkan segala daya untuk memperkuat diri. Dia bahkan mengundang orang-orang yang sakti untuk membantunya, dan menyerahkan kepada Pat-chiu Lo-mo untuk menghubungi para jagoan itu.

Selain Pangeran Leng Kok Cun, yang ingin sekali dapat mewarisi tahta kerajaan adalah Pangeran Cu Kiong, putera dari selir ke tiga dari Kaisar Shun Chi. Tidak seperti Pangeran Leng Kok Cun yang tidak mempunyai harapan untuk menjadi kaisar kecuali ia melakukan pemberontakan atau merebut dengan kekerasan, Pangeran Cu Kiong punya harapan yang lebih banyak. Saingannya hanya seorang saja, yaitu Pangeran Kang Shi, putera Kaisar Shun Chi dari permaisuri.

Akan tetapi saingan utamanya ini, yang tentu saja berhak menjadi putera mahkota, baru berusia sembilan tahun! Sedangkan selir ke dua hanya mempunyai seorang puteri. Maka dia mempunyai harapan besar, setidaknya menjadi penjabat kaisar atau untuk sementara mewakili kaisar yang masih belum cukup umur! Karena itu, Pangeran Cu Kiong berusaha sebisa mungkin untuk menyenangkan hati ayahandanya, Kaisar Shun Chi, dan tentu saja dia menentang gerakan Pangeran Leng Kok Cun!

Ada pun Pangeran Kang Shi yang berusia sembilan tahun itu sejak berusia lima tahun oleh Kaisar Shun Chi telah diserahkan kepada adiknya untuk dididik. Kaisar mengenal adiknya, Pangeran Bouw Hun Ki yang kini berusia sekitar lima puluh dua tahun, sebagai seorang pangeran yang jujur, ahli sastra dan tata-negara, juga saling mengasihi dengan dia. Selain itu, Pangeran Bouw Hun Ki memiliki seorang putera yang terkenal sebagai seorang ahli silat yang amat tangguh sehingga tidak pernah ada orang-orang jahat berani mengganggu Pangeran Bouw Hun Ki sekeluarga.

Putera Pangeran Bouw Hun Ki bernama Bouw Kun Liong, berusia sekitar dua puluh tiga tahun dan orang-orang mengenalnya sebagai Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw). Semua orang segan dan menghormatinya karena meski pun pemuda ini terkenal lihai, akan tetapi sikapnya ramah dan lembut.

Walau pun dia sendiri lemah dan tidak mengacuhkan pemerintahan, agaknya Kaisar Shun Chi merasa bahwa di antara para pangeran sudah terjadi pertentangan secara diam-diam. Sebagai seorang ayah dia dapat merasakan hal ini. Untuk urusan pemerintahan memang dia lebih condong menuruti nasehat Thaikam Boan Kit. Akan tetapi untuk urusan keluarga dia lebih percaya kepada adiknya, yaitu Pangeran Bouw Han Ki.

Pada suatu malam diam-diam dia mengundang Pangeran Bouw Hun Ki datang ke istana dan diajak berbicara empat mata di dalam kamarnya. Di dalam kamar itu, tanpa didengar atau dilihat orang lain, Kaisar Shun Chi memesan wanti-wanti kepada adiknya itu supaya membimbing, melindungi dan membela Pangeran Kang Shi sebagai putera mahkota yang kelak berhak penuh untuk menggantikan dia sebagai kaisar.

Dalam kesempatan ini Pangeran Bouw Hun Ki bersumpah setia akan menaati perintah kaisar. Setelah meninggalkan pesan ini, barulah hati Kaisar Shun Chi menjadi tenang.

Pangeran Ciu Wan Kong adalah adik Kaisar Shun Chi dan adik Pangeran Bouw Hun Ki pula. Walau pun kini Pangeran Ciu Wan Kong tidak mau memegang jabatan dan tampak lemah, namun dia juga seorang pangeran yang setia kepada Kaisar Shun Chi.

Beberapa kali Pangeran Leng Kok Cun mencoba untuk membujuknya agar pamannya itu suka menjadi pendukungnya seperti beberapa orang pangeran dan bangsawan lain yang dapat dia pengaruhi. Dukungan Pangeran Ciu Wan Kong tentu saja amat penting, karena sebagai adik kaisar, tentu saja suara pangeran ini mempunyai pengaruh yang cukup kuat. Namun Pangeran Ciu Wan Kong bukan saja menolak keras bujukan itu, bahkan dia sering menegur keponakannya yang ambisius itu. Tentu saja hal ini membuat Pangeran Leng Kok Cun membenci pamannya itu dan menganggap bahwa Pangeran Ciu Wan Kong merupakan seorang di antara mereka yang menjadi penghalang ambisinya…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner