SIN TIAUW HIAP LU : BAB-007


BELAJAR HA-MO-KANG

Mereka berdua buru2 menuju ke tempat kebakaran. Setibanya di sana, perumahan2 yang terbakar itu sudah menjadi puing, hanya di antara sisa2 gundukan api terdapat beberapa mayat yang sudah hangus dengan bau yang sangit busuk.

“Engkoh Ceng, kukira dalam kejadian ini terdapat sesuatu yang aneh,” demikian kata Oey Yong pada sang suami.

“Kenapa?” tanya Kwe Ceng.

“Ya, ingat saja Liok Tian-goan adalah seorang Enghiong yang namanya gilang-gemilang. kabarnya sang isteri Ho Wan-kun juga seorang pendekar wanita pada jaman ini, apa bila hanya kebakaran biasa saja, mustahil tiada seorang pun di antara keluarganya yang bisa menyelamatkan diri. Aku menduga tentu musuhnya yang tangguh telah datang menuntut balas padanya!” demikian pendapat Oey Yong.

Kwe Ceng pikir betul juga pendapat isterinya ini. Ia adalah golongan manusia yang berbudi luhur dan suka menolong, meski sekarang usianya sudah menanjak, pengalamannya pun banyak bertambah, tetapi hatinya yang bajik dan mulia itu sedikit pun tidak berkurang dari pada waktu mudanya.

Oleh karenanya segera ia menyatakan akur.

“Betul pendapatmu itu. Marilah kita periksa, coba lihat siapakah musuhnya, kenapa turun tangan secara begini keji?”

Mereka berdua kemudian mengitari perkampungan yang terbakar itu, namun sedikit pun tiada tanda2 mencurigakan yang mereka dapat. Tetapi mata Oey Yong yang jeli tiba-tiba tertarik pada sesuatu, lalu sekonyong-konyong ia berteriak sambil menuding pada dinding rumah yang tinggal separuh itu.

“Lihat, apakah itu?” serunya.

Kwe Ceng memandang ke arah yang ditunjuk dan tampaklah di atas dinding itu terdapat bekas lima cap tangan. Karena baru saja tergarang asap, maka cap tangan itu kelihatan bertambah seram.

Seperti diketahui, cap tangan yang berada di dinding itu semuanya ada sembilan buah, namun karena dinding temboknya sudah ambruk separoh, maka yang masih ketinggalan hanya lima buah.

Kwe Ceng kaget ketika mengenali tanda telapak tangan itu.

“Jik-lian Sian-cu!” tanpa terasa ia menyebut nama orang.

“Ya, benar dia,” sahut Oey Yong, “Sudah lama kita mendengar bahwa Jik-lian Sian-cu Li Bok-Chiu dari Hunlam memiliki ilmu silat yang maha hebat, caranya pun sangat keji tiada taranya dan tidak kalah dengan Se-tok Auyang Hong dahulu. Kalau dia berani menginjak Kanglam sini, kita boleh coba2 ukur tenaga padanya.”

“Ya, tetapi iblis ini sangat ulet dan tidak gampang dilawan,” sahut Kwe Ceng memanggut. “Paling baik kalau kita bisa ketemukan Gakhu (mertua).”

“He, semakin berumur, nyalimu jadi semakin kecil!” goda Oey Yong dengan tertawa.

“Memang,” sahut Kwe Ceng. ”Kalau ingat dahulu, betapa tanpa mengenal tingginya langit dan tebalnya bumi kita berani naik ke Hoa-san untuk berebut gelar jago silat nomor satu di kolong langit ini, jika seperti aku sekarang ini, sekali pun aku digotong kesana dengan joli delapan orang, pasti aku tidak berani pergi.”

“Huuh! Harus digotong pakai joli segala?” goda sang isteri.

Begitulah, sambil besenda-gurau tapi dalam hati mereka diam2 berlaku waspada, mereka terus memeriksa, akhirnya di pinggir sebuah kolam mereka melihat dua buah jarum Peng-pek-gin-ciam yang beracun. Ujung sebuah jarum di antaranya terendam air, oleh karena itu beberapa ratus ikan piaraan yang berada di dalam kolam itu sama mati dengan perut terbalik ke atas, suatu tanda betapa jahat racun yang terdapat pada jarum itu.

Oey Yong melelet lidahnya. Dari buntalannya ia lantas keluarkan sepotong baju, ia lempit beberapa kali, dengan dialingi kain baju ini ia jemput jarum perak itu, ia bungkus baik2 dan dimasukkan ke dalam kantong rangselnya.

Habis ini mereka berdua tak bicara lagi melainkan mempercepat memeriksa dan mencari jejak orang pula. Akhirnya di belakang pohon Liu tadi mereka dapatkan sepasang burung rajawali dan ketemu pula si anak tanggung itu.

Dari rajawali yang menclok di atas pundak mereka, tiba2 Oey Yong mencium bau yang aneh, sesudah berapa kali ia sedot, segera dadanya menjadi sesak dan rasanya menjadi mual.

Kwe Ceng pun mencium bau busuk itu, bau yang seperti datang dari tempat yang sangat dekat dengan hidungnya. Waktu ia men-cari2 dari mana datangnya bau busuk itu, tiba2 ia melihat pada kaki kedua burungnya terdapat luka lecet dan ketika ia dekatkan hidungnya, betul saja bau busuk itu datangnya dari luka ini.

Suami-isteri ini terkejut, lekas2 mereka periksa luka burung2 itu dengan teliti. Meski luka itu sebenarnya hanya lecet kulit saja, tetapi sudah menimbulkan bengkak, pula sebagian kulit daging kakinya sudah mulai busuk.

“Luka apakah ini, mengapa begini lihay?” demikian Kwe Ceng berpikir sambil menunduk Tiba-tiba pula ia lihat tangan kiri si anak muda tadi telah berubah menjadi hitam semua, keruan ia kaget pula.

“Kau pun terkena racun ini?” serunya kuatir.

Dengan cepat Oey Yong mendekati anak muda itu. Dia angkat tangannya dan diperiksa, habis ini cepat2 ia gulung lengan bajunya, ia keluarkan pula sebuah pisau kecil. Dengan senjata ini ia sayat tangan orang sebelah bawah, lantas dengan kuat ia pencet agar darah yang berbisa mengalir keluar.

Akan tetapi ia menjadi heran sekali ketika melihat darah yang menetes keluar dari tangan anak muda itu ternyata berwarna merah segar, padahal telapak tangannya je!as2 sudah berubah hitam seluruhnya, tapi kenapa darah yang mengucur keluar tidak beracun?

Nyata dia tidak tahu bahwa sesudah si anak muda mendapatkan ilmu ajaib ajaran orang aneh yang suka menjungkir itu, sekarang darah berbisa dalam tubuhnya sudah didesak ke ujung jari dan untuk sementara tidak akan menjalar.

Sesudah ragu2 sejenak, kemudian Oey Yong keluarkan sebutir pil ‘Kiu-hoa-giok-lo-wan’, obat pil yang terbuat dari sari sembilan macam bunga2-an.

“Kunyah dan telan ini,” katanya sambil memberikan pil itu pada si anak

Anak muda itu tidak menolak, ia terima pemberian pil itu terus masukkan ke dalam mulut, rasanya manis dan harum.

Lalu Oey Yong keluarkan pula empat pil dan dibagikan kepada kedua burung rajawalinya yang terluka itu.

Setelah berpikir sejenak, tiba2 Kwe Ceng bersiul panjang. Suara siulan ini berkumandang jauh sekali, begitu keras suaranya hingga menggema lembah pegunungan sampai dahan pohon Liu yang menjulur ikut tergoncang.

Belum lenyap suara siulan pertama, menyusul Kwe Ceng menggembor dengan suaranya yang amat keras, begitu hebat suara teriakan itu susul menyusul hingga membikin seluruh lembah gunung penuh dengan suara sahut-menyahut yang menggelegar.

Karena teriakan ini sama sekali di luar dugaan, si anak muda tadi dibikin kaget sehingga tanpa tertahan air mukanya berubah hebat karena belum pernah mendengar suara yang luar biasa ini.

Sebaliknya Oey Yong mengerti maksud dan tujuan sang suami. Ia tahu dengan suara itu suaminya bermaksud menantang tanding kepada Li Bok-chiu. Ketika pekikan ketiga sang suami dilontarkan, segera pula ia kumpulkan tenaga dan menyusuli dengan teriakannya.

Bila suara pekikan Kwe Ceng agak rendah tetapi kuat, maka suara Oey Yong sebaliknya tinggi tetapi nyaring sekali. Perpaduan suara yang hebat ini makin lama semakin jauh dan semakin keras, saling susul menyusul tiada putusnya, seakan-akan satu sama lain tidak ingin ketinggalan.

Kiranya Kwe Ceng dan Oey Yong telah berlatih diri di Tho-hoa-to dengan giat, kini tenaga dalam mereka telah terlatih sampai di puncaknya kesempurnaan, dengan suara pekikan yang berkumandang jauh ini, orang2 yang berada dalam jarak belasan li sama terkejut dan ter-heran2 tidak mengerti suara aneh ini datang dari mana.

Sementara itu suara pekikan hebat ini telah didengar oleh beberapa orang tertentu. Demi mendengarnya, orang aneh yang suka berjungkir balik itu telah ‘tancap gas’ mempercepat larinya.

Sebaliknya orang aneh berjubah hijau yang memondong Thia Eng segera tertawa waktu mendengar suara “Ha-ha, mereka sudah datang juga, aku harus menyingkir jauh supaya tidak banyak rewel.”

Dalam pada itu Li Bok-chiu sambil mengempit Liok Bu-siang sedang lari dengan cepatnya. Ketika mendadak mendengar suara siulan pertama, sekonyong-konyong dia berhenti, dia ayun kebutnya dan memutar tubuh.

“Hm, nama Kwe-tayhiap telah menggoncangkan Bu-lim, aku justru ingin membuktikannya apakah namanya bukan bikinan belaka,” demikian katanya dengan ketawa dingin.

Tetapi tiba2 pula di antara suara pekikan panjang tadi diselingi pula dengan suara siulan nyaring yang menimpali suara yang duluan hingga menambah keangkeran suara2 itu.

Hati Li Bok-chiu langsung menjadi jeri. Teringat olehnya bahwa Kwe Ceng dan Oey Yong suami-isteri selama berkelana selalu berdampingan dan bahu-membahu, sebaliknya dia hanya sebatang-kara. Seketika perasaannya menjadi hampa dan putus asa, ia menghela napas panjang, habis ini dengan mencengkeram punggung Liok Bu-siang terus bertindak pergi.

Pada saat itu pula Bu-sam-nio tengah memayang sang suami yang terluka dan membawa kedua puteranya pergi jauh setelah berpisah dengan Kwa Tin-ok.

Sesudah mengalami pertarungan sengit tadi, kuatir kalau Li Bok-chiu balik kembali untuk mencelakai Kwe Hu, maka lekas2 Kwa Tin-ok membawa lari dara cilik ini dengan maksud mencari satu tempat untuk bersembunyi, tetapi dia keburu mendengar suara siulan Kwe Ceng dan Oey Yong yang keras itu, maka hatinya menjadi girang.

“He, ayah, ibu!” Kwe Hu berseru juga ketika mengenali suara orang tuanya.

Habis ini segera ia angkat kaki terus lari menuju ke arah datangnya suara, Tetapi tiba2 ia berpikir pula: “Aku sudah ngeluyur keluar, tentu nanti akan didamperat ayah, bagaimana baiknya ini?”

Dalam bingungnya ia tarik-tarik lengan baju Kwa Tin-ok, ia coba membujuk orang tua ini: “Kongkong, nanti kalau bertemu dengan ayah, katakanlah kau yang bawa aku keluar buat bermain, ya?” demikian ia memohon.

“Tidak, aku tak mau berbohong untuk kau!” sahut Kwa Tin-ok dengan menggeleng kepala.

Tetapi Kwe Hu tidak kurang akal, tiba-tiba ia meloncat dan merangkul leher si orang tua, dengan kata-kata halus ia membujuk lagi: “Kongkong, sekali ini sayanglah padaku, untuk seterusnya aku tak akan nakal lagi.”

Namun masih tetap Kwa Tin-ok geleng2 kepala.

“Baiklah, jika begitu biar aku minggat pergi,” teriak Kwe Hu tiba2 sambil lompat turun dari rangkulannya. “Selamanya aku tidak akan menjumpai kau lagi, juga tidak akan menemui ayah-bunda.”

Mendengar kata2 ini, Tin-ok menjadi kaget dan kuatir. Ia kenal watak dara cilik ini berani berkata berani berbuat pula, sedangkan dirinya buta, kalau sampai si kecil ini pergi maka susah lagi untuk mencarinya.

“Baik, baik, kululuskan keinginanmu,” terpaksa ia menyerah.

Kwe Hu ketawa senang dengan kemenangannya ini.

“Memang aku sudah tahu kau bakal meluluskan, tidak mungkin kau tega membiarkan aku diomeli ayah dan ibu,” kata si nakal ini.

Maka dua sejoli, satu tua dan satu bocah ini kemudian berlari ke tempat beradanya Kwe Ceng dan isteri. Sesudah dekat, dengan serta-merta Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam pelukan ibunya dengan laku aleman.

“Bu, Kongkong yang membawa aku ke sini mencari kalian, engkau tentu senang bukan?” demikian si nakal ini berkata pada sang ibu.

Akan tetapi kepintaran Oey Yong tiada bandingannya, sebab itu hanya sedikit permainan sandiwara sang puteri ini mana bisa mengelabui dia. Cuma bisa bertemu anaknya di sini, sesungguhnya dia memang senang juga, maka ia hanya tertawa saja, lalu bersama sang suami mereka menjalankan penghormatan pada Kwa Tin-ok dan tanyakan kesehatan si orang tua.

Kwe Hu masih kuatir kalau disemprot ayahnya, maka sesudah menyapa sekali, lantas ia tarik tangan si anak muda tadi menyingkir pergi.

“Pergilah kau memetik bunga, buatkanlah mahkota bunga untukku,” demikian pintanya.

Pemuda itu tidak menolak, ia ikut pergi bersama. Perawakan Kwe Hu ternyata jauh lebih pendek, tingginya hanya sedada orang, maka dengan mudah saja ia bisa melihat telapak tangan pemuda itu yang hitam. Mendadak sontak ia kipatkan tangan orang yang tadinya dia gandeng.

“Hiiii, tanganmu kotor, aku tidak mau bermain dengan kau,” demikian ia meng-olok2.

Watak pemuda itu ternyata tidak gampang mengalah, ia pun tinggi hati, maka kontan ia jawab dengan ketus: “Siapa pingin bermain dengan kau?”

Habis berkata dengan langkah lebar ia lantas bertindak pergi sendiri

“Eh, eh, saudara cilik, jangan pergi dulu, sisa racun di dalam tubuhmu masih belum hilang seluruhnya, kalau sampai kambuh pasti akan luar biasa lihaynya,” seru Kwe Ceng ketika melihat si anak muda ini hendak pergi.

Anak itu paling benci kalau orang katai dia jelek, oleh karena itu olok2 Kwe Hu tadi sudah menusuk perasaannya, maka dengan tegang leher ia masih jalan terus tanpa menggubris teriakan Kwe Ceng.

Tabiat Kwe Ceng memang welas-asih, maka buru-buru ia menguber. “Cara bagaimanakah kau terkena racun?” demikian ia bertanya pula, “Marilah kami sembuhkan kau dulu.”

“Aku toh tidak kenal kau, peduli apa dengan kau?” sahut anak muda itu dengan ketusnya. Berbareng itu dia percepat langkahnya dan bermaksud menerobos lewat di samping Kwe Ceng.

Sekilas Kwe Ceng dapat melihat wajah si anak muda yang menunjukkan rasa marah ini, di antara mata-alisnya tertampak sangat mirip seseorang, tiba2 hatinya tergerak.

“Ehh, saudara cilik, kau she apa?” segera ia tanya.

Namun pemuda itu tidak menjawab, sebaliknya ia memelototi orang, lalu tubuhnya sedikit miring dengan maksud hendak menerobos lewat, Di luar dugaan secepat kilat Kwe Ceng sudah mencekal sebelah tangannya.

Dalam kagetnya si anak muda itu pun menjadi gusar, ia me-ronta2 beberapa kali, setelah tak berhasil mendadak ia angkat tangan kirinya terus menggenjot perut Kwe Ceng.

Kwe Ceng tidak urus pukulan ini. Dia membiarkan perutnya kena dihantam dengan mulut tersenyum saja.

Ketika anak muda itu bermaksud menghantam lagi, tahu2 kepalannya ambles di-tengah2 perut orang, meski dia tarik2 bagaimana pun juga tetap tak bisa melepaskan diri. Dia tidak putus asa, masih terus ia tarik2, saking keras ia keluarkan tenaga hingga mukanya merah padam, tetapi tangannya seperti melengket saja di perut Kwe Ceng, sebaliknya ia rasakan lengan sendiri kesakitan karena di-betot2.

“Nah, beri-tahu kepadaku kau she apa dan segera kulepaskan kau,” dengan tertawa Kwe Ceng tanya lagi.

Akan tetapi si anak muda memang amat kepala batu. Ia pikir tidak nanti aku mau omong, kalau mau, akan kusebutkan she palsu dan nama bikinan saja, oleh karenanya dia lantas menjawab: “Aku she Cin dan bernama Coa-ji, si anak ular. Lekas lepaskan aku.”

Di lain pihak, demi mendengar nama orang ini Kwe Ceng merasa kecewa sekali. Ia lantas kendorkan tenaga perutnya yang menyedot kepalan pemuda itu.

Setelah tangannya terlepas, pemuda itu pandang Kwe Ceng dengan luar biasa kagumnya atas kepandaian orang tadi.

Di sebelah situ Kwe Hu sedang asyik menceritakan pengalaman selama berpisah dengan ibunya. Akhirnya dia ceritakan tentang bagaimana sepasang rajawalinya berkelahi dengan seorang wanita jahat, kemudian datang seekor burung merah kecil yang telah membantu rajawali2nya.

Mendengar “burung merah kecil” itu, Oey Yong jadi ketarik sekali.

“Apakah Koko (kakak) kecil ini yang membawa burung merah kecil itu datang?“ dia tanya dengan cepat.

“Ya,” sahut Kwe Hu, “Burung merah kecil itu menotol biji wanita jahat itu hingga buta, tapi sayang burung itu pun kena digaplok mati oleh dia.”

Mendengar penuturan ini, Oey Yong tidak ragu-ragu lagi, segera dia melompat maju dan memegang pundak si anak muda tadi dengan kedua tangannya, dengan tajam ia pandang orang.

“Kau she Yo bernama Ko, ibumu yang she Cin, ya bukan?” demikian ia menegas sekata demi sekata.

Pemuda ini memang benar she Yo dan bernama Ko. Ketika tiba-tiba saja nama aslinya disebut Oey Yong, darah di dalam rongga dadanya menaik ke atas hingga hawa racun di tangannya se-konyong2 menjalar kembali. Ia merasa kepala puyeng dan pikiran menjadi butek, akhirnya ia jatuh pingsan.

Dalam kejutnya lekas2 Oey Yong memegang tubuh orang supaya tidak sampai roboh.

“Dia... dia kiranya putera adikku Yo Khong,” kata Kwe Ceng terkejut bercampur girang.

Sementara itu kelihatan Oey Yong mengkerut alis. Ia lihat racun menjalar terlalu hebat di tubuh Yo Ko dan ia kuatir, karena sesungguhnya ia sendiri tidak punya sesuatu pegangan untuk menyembuhkan orang.

“Marilah kita cari tempat pondokan dulu, kemudian kita cari pula beberapa racikan obat,” ajaknya kemudian dengan suara terharu.

Kwe Ceng lantas pondong Yo Ko, lalu bersama Kwa Tm-ok, Oey Yong dan si nakal Kwe Hu serta membawa pula sepasang burung Tiau mereka mencari hotel di kota. Bahan obat yang mereka perlukan ternyata sukar dicari, biar pun sudah dikumpulkan akhirnya masih kurang juga empat macam.

Melihat keadaan Yo Ko yang masih tak sadar, Kwe Ceng merasa sedih dan kuatir sekali, sampai Oey Yong beberapa kali memanggilnya ternyata tidak didengarnya.

Oey Yong cukup mengerti perasaan hati sang suami waktu itu. Sejak terbinasanya Yo Khong (tentang lelakon Kwe Ceng, Oey Yong dan hubungannya dengan Yo Khong telah diceritakan tersendiri) pikirannya selalu sedih dan menyesal, maka dengan sendirinya kini luar biasa girangnya demi bisa ketemukan anak keturunan saudara angkatnya itu, tetapi anak ini justru terkena racun dan belum bisa diketahui bakal mati atau hidup.

“Ceng-koko, marilah kita coba keluar mencari pelengkapnya obat,” ia mengajak.

Kwe Ceng sendiri mengerti juga sifat2 Oey Yong. Dia tahu bila ada sedikit harapan dapat mengobati, pasti sang isteri sudah menghibur padanya. Kini nampak wajah isterinya amat prihatin, maka hatinya makin tak tenteram. Segera ia pesan Kwe Hu jangan sembarangan ngeloyor pergi, lalu mereka suami-isteri keluar buat mencari obat2an.

Dalam pingsannya Yo Ko masih terus tertidur, meski hari sudah gelap masih belum juga sadar.

Beberapa kali Kwa Tin-ok masuk kamar memeriksanya, akan tetapi orang tua ini pun tak berdaya. Ia pun kuatir kalau si nakal Kwe Hu ngeluyur pergi, maka tiada hentinya ia bujuk dara cilik ini lekas tidur.

Entah sudah lewat berapa lama, dalam keadaan remang2 tiba2 Yo Ko merasa ada orang me-mijat2 dan meng-urut2 dadanya, sebab itu perlahan2 pikirannya jernih kembali. Waktu ia membuka matanya, ia lihat dalam kegelapan ada berkelebat satu bayangan entah apa meloncat keluar jendela dengan cepat.

Meski rasanya masih lemas, Yo Ko paksakan diri buat berdiri. Dia coba melongok keluar jendela, dan tertampaklah olehnya di atas emper rumah berdiri satu orang dengan kepala menjungkir di bawah, siapa lagi kalau bukan orang aneh yang siang tadi menerima dirinya sebagai anak angkat itu.

Kepala orang aneh yang menyanggah badannya itu ternyata ada separohnya menempel di luar emper, tubuhnya yang tegak terbalik ke atas itu kelihatan ber-goyang2, tampaknya setiap waktu bisa terbanting jatuh ke bawah.

“He, kau!” seru Yo Ko kaget tercampur girang.

“Kenapa tidak panggil ayah?” tegur orang aneh itu.

Karenanya Yo Ko lantas memanggil: “Ayah!” akan tetapi lagu suara panggilannya sangat dipaksakan.

Namun orang aneh itu sudah kegirangan. “Naiklah sini,” katanya.

Yo Ko menurut. Dia lalu merangkak ke ambang jendela untuk kemudian meloncat ke atas payon.

Akan tetapi karena badannya masih lemah, tenaganya menjadi tak cukup, maka sebelum tangannya memegang emper rumah dia pun sudah terjungkal ke bawah. Dalam kagetnya sampai ia berteriak.

Orang aneh itu tadinya berjungkir di atas payon, tetapi begitu nampak Yo Ko terjungkal, mendadak tubuhnya roboh ke bawah laksana batang kayu yang terbanting saja, hanya kepalanya masih tetap melekat di atas emper rumah.

Dengan demikian secepat kilat tangannya berhasil menjambret punggung Yo Ko, habis ini tubuhnya kembali menegak lagi ke atas, dengan enteng saja Yo Ko diletakkannya di atas payon.

Dan selagi ia hendak bicara, tiba-tiba ia dengar di kamar sebelah barat ada suara orang meniup memadamkan api. Ia tahu jejaknya telah diketahui orang, maka tanpa ayal lagi ia pondong Yo Ko dan melangkah pergi dengan cepat, hanya sekejap saja beberapa deretan rumah penduduk sudah ia lintasi.

Waktu itu Kwa Tin-ok melompat ke atas rumah, tapi di sekelilingnya sudah sepi nyenyak.

Setelah Yo Ko dibawa sampai pada sebuah tempat sunyi di luar kota, orang aneh itu baru menurunkannya.

“Coba kau gunakan cara yang pernah kuajarkan padamu itu, hawa berbisa dipaksa keluar lagi sedikit,” demikian ia memberi petunjuk pada Yo Ko.

Pemuda ini menurut, maka tidak antara lama, dari ujung jarinya menetes keluar beberapa titik darah hitam, berbareng rasa sesak di dadanya pun menjadi lega.

“Sungguh kau ini anak pintar, sekali tunjuk lantas paham, jauh lebih cerdas dibandingkan almarhum putera kandungku dulu,” kata orang aneh itu. Teringat pada puteranya sendiri itu, tiba2 ia meratap: “O, anakku, anakku…”

Air matanya lantas berlinang juga karena terkenang puteranya sendiri yang sudah mati, ia elus2 kepala Yo Ko sambil menghela napas perlahan.

Yo Ko sendiri sejak belum lahir sudah ditinggal bapaknya, ibu pun tewas oleh pagutan ular berbisa di kala ia baru berumur lima tahun, dan selama 8-9 tahun paling belakang ini dia terluntang-lantung sebatang kara di Kangouw, di mana2 dihina orang sehingga tabiatnya menjadi eksentrik, benci pada sesama manusia serta cemburu pada keadaan sekitarnya, Kini meski orang aneh ini belum pernah kenal dia, namun ternyata demikian baik terhadap dirinya, ini boleh dikatakan belum pernah terjadi selama hidupnya.

Karena darah keturunan ayah-bundanya, maka watak Yo Ko luar biasa pula anehnya. Bila mana dia sudah baik pada seseorang, maka dia bela mati2an tanpa pikirkan jiwa sendiri. Sebaliknya jika ada orang lain menghina dan memandang rendah padanya, maka selama hidup akan dia ingat2 terus dan dendam, dia pasti berusaha dengan segala daya-upaya untuk menuntut balas.

Kini si orang aneh itu mengunjuk rasa kasih sayang murni padanya, hati pemuda ini luar biasa terharunya sehingga dia melompat terus merangkul leher orang sambil berulang kali memanggil, “Ayah, ayah!”

Sejak Yo Ko berumur 2-3 tahun dia sudah berharap mempunyai seorang ayah yang akan cinta dan melindungi dia. Bahkan dalam mimpi kadang2 mendadak muncul seorang ayah yang gagah perkasa yang dia cintai, tetapi begitu terjaga dari tidurnya, ayah khayalan itu langsung hilang lagi tak berbekas, oleh karenanya sering kali ia suka menangis sendirian dengan sedih.

Kini harapan yang sudah lama ia impikan itu tiba2 terwujud, dua kali panggilan tadi keluar dari lubuk hatinya yang penuh cinta kasih seorang anak kepada bapaknya.

Kalau hati Yo Ko terharu sekali, maka dalam hati orang aneh itu ternyata jauh lebih girang dari pada Yo Ko. Waktu mereka mula2 bertemu di mana Yo Ko dipaksa memanggil ayah, di dalam hati anak muda itu sesungguhnya seribu kali tidak sudi, tetapi kini dua hati telah kontak seperti ayah dan anak kandung.

“Oh, anak baik, anak manis, coba panggil ayah sekali lagi!” demikian kata orang aneh itu dengan bergelak ketawa.

Betul juga Yo Ko lantas memanggil ayah, bukan hanya satu kali, malahan dia panggil lagi dua kali, lalu ia menggelendot di badan orang dengan laku yang aleman.

“Aha, anak baik, marilah kuajarkan kau ilmu silatku yang paling aku banggakan selama hidup ini,” dengan tertawa orang aneh itu berkata pula.

Sambil berkata lantas ia berjongkok, dari mulutnya terdengar suara “kuk-kuk-kuk” tiga kali, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan, maka terdengarlah suara gemuruh yang keras, setengah tembok pagar yang berada di depannya telah ambruk seketika sehingga debu dan batu berhamburan.

Nampak orang memiliki ilmu silat selihay ini, girang sekali hati Yo Ko. “Ayah, ilmu apakah itu, dapatkah aku mempelajarinya?” dengan cepat ia tanya.

“Ini namanya Ha-mo-kang (ilmu weduk kodok),” sahut orang itu, “Asal kau mau berlatih dengan giat, tentu kau dapat mempelajarinya.”

“Setelah aku pandai, apakah tiada orang lain lagi yang berani menganiaya diriku?” tanya Yo Ko lagi.

“Tentu saja,” sahut orang aneh itu sambil menarik alis “Siapakah yang berani menghina puteraku, biar kupatahkan tulangnya dan kubeset kulitnya.”

Kiranya orang aneh yang sangat kosen ini bernama Auwyang Hong yang namanya telah disinggung di bagian atas tadi.

Sejak Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di atas Hoa-san (salah satu gunung yang tersohor di daerah propinsi Siamsay), Auwyang Hong kena diakali oleh Oey Yong hingga otaknya rada miring. Selama belasan tahun ini ia terluntang-lantung di daerah sunyi, yang selalu dia pikirkan adalah: “Siapakah aku ini sebenarnya?”

Tetapi tahun2 terakhir ini, sesudah dia berlatih Kiu-im-cin-keng, maka Lwekang-nya sudah ada banyak kemajuan, otaknya juga banyak lebih terang, walau pun kelakuannya masih tetap tidak beres dan suka gila2an.

Tetapi banyak kejadian lama perlahan2 dan satu persatu sudah mulai dia ingat, cuma saja tentang “siapakah dirinya sendiri” inilah yang tetap belum dia ingat. Tentang Hoa-san-lun-kian serta mengapa Auwyang Hong bisa diakali Oey Yong hingga menjadi gila dan sebab apa dia berlatih ilmu Kiu-im-cin-keng secara terbalik, bacalah cerita Sia Tiauw Eng Hiong.

Begitulah, maka Auwyang Hong lantas mengajarkan Yo Ko dasar2 permulaan ilmu Ha-mo-kang.

Hendaklah diketahui bahwa Ha-mo-kang yang menjadi ilmu kebanggaan Auwyang Hong ini terhitung ilmu silat kelas satu di dalam dunia persilatan. Dahulu meski putera kandung sendiri belum pernah Auwyang Hong mengajarkan padanya, tetapi kini karena guncangan perasaannya, tanpa pikir segalanya lagi diajarkannya pada anak angkatnya yang baru dia terima ini.

Ha-mo kang ini amat sulit dan dalam sekali. Yo Ko sendiri masih belum punya landasan, meski dia coba baik-baik semua apa yang diuraikan Auwyang Hong, tetapi sama sekali ia tidak paham akan arti yang terkandung dalam rahasia ilmu yang dia terima itu.

Oleh karena itu, sesudah hampir setengah hari Auwyang Hong mengajar, tetapi ia lihat Yo Ko masih ngawur saja kalau ditanya, sama sekali belum paham dasar yang diajarkannya, akhirnya Auwyang Hong menjadi keki dan dalam dongkolnya ia hendak menampar anak muda itu.

Namun sebelum tangannya menyentuh pipi orang, di bawah cahaya sang dewi malam ia lihat muka Yo Ko yang putih bersih dengan matanya yang jeli menarik itu, ia menjadi tidak tega menghajarnya.

“Sudahlah, kau tentu sudah letih, pulang saja sekarang, besok aku mengajarkan kau lagi,” katanya kemudian dengan menghela napas.

Tak tahunya, sejak Yo Ko dikatai Kwe Hu bahwa tangannya kotor, terhadap anak dara itu sudah timbul rasa benci di dalam hatinya, maka demi mendengar dirinya disuruh kembali kepada Kwe Ceng, ia menjadi sedih.

“Tidak, ayah, aku ikut kau saja, aku tak mau pulang ke sana,” katanya.

Siapa dirinya sendiri hingga sekarang soal ini bagi Auwyang Hong masih belum jelas, tapi mengenai urusan umum pikirannya sudah cukup terang dan jernih, maka atas permintaan Yo Ko itu dia menjawab: “Jangan. Otakku masih rada kurang beres, aku kuatir kau nanti ikut menderita. Kau pulang saja dahulu, nanti kalau aku sudah dapat bikin terang sesuatu soal barulah kita berkumpul untuk selamanya.”

Kata2 Auwyang Hong yang penuh kasih sayang ini meresap sekali ke lubuk hati Yo Ko, boleh dikatakan sejak ibunya mangkat belum pernah ia mengenyam rasa simpatik seperti sekarang ini, maka dengan cepat ia merangkul orang.

“Kalau begitu harap lekas kau datang menjemput aku, ayah,” katanya.

“Jangan kuatir, nak, sementara diam2 senantiasa akan kuikuti kau, kemana pun kau pergi pasti aku mengetahuinya,” sahut Auwyang Hong manggut2. Kemudian ia membopong Yo Ko lagi dan diantar pulang ke dalam hotel…..

********************


Pilih BabPILIH JUDULBab Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner