SIN TIAUW HIAP LU : BAB-012


MENINGGALKAN THO-HOA-TO

Ketika Kwe Ceng menoleh, tampak olehnya di belakang gundukan pasir situ menggeletak dua orang puIa. Lekas ia melompat ke sana buat memeriksanya, ia dapatkan pula peta yang digambar kedua orang itu.

“He, Yong-ji, lekas sini!” serunya pada sang isteri.

Segera Oey Yong melepaskan Yo Ko dan mendekati Kwe Ceng, di belakang gundukan pasir itu mereka berembuk dengan suara perlahan sampai lama.

Dalam pada itu kejadian ini sudah diketahui Kwa Tin-ok juga, orang ini pun menyusul tiba, maka mereka lantas berunding bertiga orang.

Sesudah bicara agak lama, kemudian Kwe Ceng lebih dahulu melepaskan puterinya dari ringkusan musuh tadi, habis ini ia berkata pada Yo Ko: “Ko-ji, kau kurang cocok tinggal di pulau ini, biar aku antar kau ke Tiong-yang-kiong di Cong-lam-sam, dan di sana kau bisa belajar silat di bawah petunjuk Tiang-jim-cu Khu-cinjin dari Coan-cin-kau.”

Keputusan yang diambil Kwe Ceng secara tiba-tiba ini, seketika membuat Yo Ko menjadi bingung se-akan2 kehilangan sesuatu, maka ia hanya mengangguk perlahan saja.

Besok paginya, sesudah membekal perlengkapan seperlunya kemudian mohon diri pada Oey Yong serta Kwe Hu dan kedua saudara Bu, maka berangkatlah Kwe Ceng bersama Yo Ko. Mereka berlayar menuju pantai timur daerah Ciatkang.

Sesudah mendarat, Kwe Ceng membeli dua ekor kuda kemudian melanjutkan perjalanan ke utara bersama Yo Ko.

Selamanya belum pernah Yo Ko menunggang kuda, tetapi karena Lwekang yang dia latih sudah ada dasarnya, maka setelah berlari beberapa hari sudah cukup pandai dan dapat menguasai binatang tunggangannya, Bahkan karena hati-mudanya, setiap hari dia malah melarikan kudanya di depan Kwe Ceng.

Tidak seberapa hari, sesudah menyeberangi Hong-ho (Huangho, sungai Kuning), mereka telah memasuki daerah Siamsay.

Tatkala itu negeri Kim (Chin) sudah dibasmi oleh bangsa Mongol (Jengis Khan bersama putera-puteranya), maka di utara Hong-ho boleh dikatakan merupakan dunianya bangsa Mongol.

Di masa mudanya Kwe Ceng sendiri pernah menjabat sebagai panglima dalam pasukan Mongol (dia pernah diangkat menjadi menantu Temujin yang kemudian terkenal sebagai Jengis Khan). Dia kuatir kalau-kalau kesamplok dengan bekas bawahannya dan mungkin akan mendatangkan kesulitan, sebab itu dia lantas tukarkan kuda mereka dengan keledai yang kurus dan jelek, dia ganti pakaian pula dengan baju yang terbuat dari kain kasar, dia menyamar seperti orang desa atau kaum petani saja.

Berlainan dengan Yo Ko yang berhati muda. Sesungguhnya dalam hati ia seribu kali tidak sudi memakai baju yang berbau kampungan seperti Kwe Ceng itu, namun selamanya dia tak berani membantah kata-kata sang paman, maka terpaksa ia mengenakan baju kasar, kepalanya dibelebat pula dengan ikat kain biru. dan menunggang keledai yang kurus jelek.

Justru keledai yang ia tunggangi ini buruk pula wataknya, sudah jalannya lambat, berulang kali masih ngambek lagi, maka sepanjang jalan selalu Yo Ko cekcok saja dengan binatang tunggangannya ini.

Hari itu mereka telah sampai di daerah Hoan-joan, tempat ini indah permai pemandangan alamnya. Karena hatinya mendongkol, sejak meninggalkan Tho-hoa-to hingga selama ini Yo Ko tidak pernah menyebut lagi tentang pulau bunga Tho. Tapi melihat keindahan alam semesta yang menarik ini, kini tanpa tertahan ia membuka suara.

“Kwe-pepek, tempat ini hampir mirip dengan Tho-hoa-to kita,” demikian dia bilang kepada Kwe Ceng.

Hati Kwe Ceng memang luhur dan berbudi, mendengar anak ini bilang “Tho-hoa-to kita”, tanpa terasa ia jadi terharu.

“Ko-ji,” sahutnya kemudian, “Cong-lam-san sudah tidak jauh lagi dari sini, ilmu silat Coan-cin-kau adalah ilmu kepandaian yang terkemuka di bumi ini, selanjutnya kau harus belajar secara baik2. Beberapa tahun lagi tentu aku akan datang lagi buat menjemput kau pulang ke Tho-hoa-to.”

Mendengar kata2 terakhir ini, cepat Yo Ko melengos.

“Tidak, selama hidupku ini tidak akan kembali lagi ke Tho-hoa-to,” katanya kemudian.

Sama sekali diluar dugaan Kwe Ceng bahwa anak semuda Yo Ko ini bisa mengucapkan kata2 yang begitu ketus dan tegas, maka dia tertegun, seketika tiada kata2 lain yang bisa dia ucapkan.

“Apa kau marah pada Kwe-pekbo (bibi)?” tanyanya kemudian.

“Mana Tit-ji (keponakan) berani?” sahut Yo Ko. “Malahan Tit-ji selalu membikin Kwe-pekbo marah.” jawaban yang tajam ini bikin Kwe Ceng bungkam, memangnya dia tidak pandai bicara, maka ia tidak menyambung lagi.

Perjalanan selanjutnya mulai menanjak. Pada waktu lohor mereka sudah sampai di suatu kelenteng di atas bukit. Saat Kwe Ceng mendongak, ia lihat papan nama yang tergantung di atas pintu kelenteng itu tertulis tiga huruf besar ‘GU THAU SI’ atau kelenteng kepala kerbau.

Mereka tambat keledai pada satu pohon di luar kelenteng, mereka masuk ke dalam untuk minta sedekah sekedar untuk mengisi perut.

Di dalam kelenteng itu ternyata ada tujuh-delapan paderi. Melihat dandanan Kwe Ceng yang sederhana dan kotor, mereka mengunjuk sikap dingin, maka sedekah yang diberikan hanya dua mangkok bubur dingin serta beberapa potong kue.

Namun Kwe Ceng menerima saja sedekah makanan seperti itu. Bersama Yo Ko mereka lantas duduk di atas bangku batu di bawah pohon cemara untuk makan. Pada saat lain, ketika Kwe Ceng berpaling tiba2 ia lihat ada pilar batu di belakang pohon yang sebagian besar tertutup oleh rumput alang2 yang lebat, samar2 hanya nampak dua huruf ‘TIANG JUN’ pada pilar batu itu.

Kwe Ceng tergerak hatinya oleh tulisan itu. Dia mendekati dan memeriksanya lebih jelas dengan menyingkap rumput alang2 yang menutupi batu itu, kemudian baru dia ketahui di permukaan batu itu terukir sebuah syair gubahan Tiang-jun-cu Khu Ju-ki, salah satu tokoh terkemuka angkatan kedua dari Coan-cin-kau yang hendak didatanginya sekarang ini.

Syair itu menyesalkan kehancuran negara yang terjatuh di tangan bangsa lain, Karenanya Kwe Ceng terbayang kembali pada kejadian di gurun Mongol belasan tahun yang lalu. Ia terharu, sambil meraba pilar batu itu ia ter-mangu2 saja. Ketika teringat tak lama lagi bisa bertemu dengan Khu Ju-ki maka hatinya rada terhibur dan bergirang.

“Kwe-pepek, apakah maksud syair di atas batu ini?” demikian Yo Ko tanya.

“lni adalah syair buah karya kau punya Khu-cosu (kakek guru), Murid kesayangan Khu-cosu dahulu bukan lain adalah mendiang ayahmu,” sahut Kwe Ceng sambil menjelaskan sekedarnya arti yang terkandung pada syair itu. “Mengingat ayahmu, tentu Khu-cosu akan melayani kau baik2, maka kau harus belajar dengan giat pula agar kelak besar gunanya untuk nusa dan bangsa.”

“Kwe-pepek, maukah kau beri-tahukan satu hal padaku?” tiba2 Yo Ko berkata pula.

“Hal apa?” tanya Kwe Ceng.

“Cara bagaimana meningggalnya ayahku?” kata Yo Ko.

Muka Kwe Ceng berubah seketika oleh pertanyaan ini, teringat olehnya peristiwa di dalam kelenteng Thi-cio-bio di Kahin di mana Yo Khong - yaitu ayah Yo Ko - telah tewas, maka tubuhnya gemetar sedikit dan ia tidak menjawabnya.

“Siapakah sebenarnya yang menewaskan ayah?” tanya Yo Ko pula.

Tetapi Kwe Ceng tetap tidak menjawab.

“Kau dengan Kwe-pekbo yang menewaskan dia, ya bukan?” seru Yo Ko tiba-tiba dengan bernapsu.

Kwe Ceng menjadi gusar, ia mengangkat tangannya lalu menggablok sekerasnya sambil membentak: “Tutup mulut, siapa yang suruh kau sembarang omong?!”

Tenaga dalam Kwe Ceng sekarang entah sudah betapa lihaynya, maka gablokan dalam keadaan gusar itu seketika membikin pilar batu yang kena digebuk itu berantakan, batu kerikil pun berhamburan.

Kelihatan sang paman naik darah, Yo Ko jadi mengkeret.

“Ya, Tit-ji mengaku salah, selanjutnya tak berani sembarangan omong lagi, harap paman jangan marah,” lekas2 ia minta maaf dengan kepala menunduk.

Sesungguhnya Kwe Ceng sangat sayang kepada anak ini. Kini demi mendengar dia mau mengaku salah, segera amarahnya lenyap. Dan selagi dia hendak menghibur Yo Ko agar jangan takut, tiba2 terdengar di belakang ada suara tindakan kaki yang perlahan, waktu ia menoleh, dilihatnya ada dua To-su (imam penganut Tao-isme) setengah umur berdiri di ambang pintu sedang memperhatikan gablokannya di pilar batu tadi, tentu perbuatannya tadi telah dilihat oleh kedua imam ini.

Sesudah saling pandang sekejap, cepat kedua To-su itu keluar meninggalkan kelenteng itu.

Tindakan dua imam yang cepat dan gesit itu dapat dilihat Kwe Ceng dengan jelas, terang ilmu silat kedua orang itu tidak lemah. Kwe Ceng pikir letak Tiong-yang-kiong dari gunung Cong-lam-san itu tidak jauh dari kelenteng di mana dia berada ini, maka ia menduga dua imam ini pasti orang dari Tiong-yang-kiong. Kalau melihat umur keduanya sudah kira-kira empat puluhan, maka besar kemungkinannya mereka adalah anak murid Coan-cin-chit-cu (tujuh tokoh dari Coan-cin-kau), itu aliran persilatan yang paling terkemuka dan disegani di kalangan Bu-lim.

Memang sudah lama sekali Kwe Ceng tinggal di Tho-hoa-to tanpa saling memberi kabar dengan Ma Giok bertujuh, (Ma Giok adalah orang pertama dari Coan-cin-chit-cu), karena itu anak murid Coan-cin-kau hampir tidak dikenal seluruhnya. Ia hanya tahu bahwa paling belakang ini penganut Coan-cin-kau semakin banyak dan maju dengan pesat.

Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ju-it cu, banyak menerima anak murid yang berbakat maka nama Coan-cin-kau di kalangan Bu-lim makin lama semakin cemerlang, tak ada satu pun orang kalangan Kangouw yang tidak menaruh hormat bila menyebut nama Coan-cin-kau.

Begitulah, karena Kwe Ceng pikir dirinya toh akan naik ke atas gunung untuk menemui Khu Ju-ki, Khu-cin-jin (cinjin adalah sebutan pada imam Taoisme yang berilmu), maka ia merasa kebetulan bisa berjalan bersama dengan kedua imam tadi.

Karena itu segera ia percepat langkahnya berlari keluar kelenteng. Ia melihat kedua imam tadi dengan langkah secepat terbang sudah berlari sejauh beberapa puluh tombak, sama sekali mereka tidak menoleh lagi.

“Hai, kedua Toheng (saudara yang berilmu) yang di depan itu harap berhentilah dahulu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan,” demikian Kwe Ceng teriaki mereka.

Suara Kwe Ceng memang lantang, apa lagi tenaga dalamnya sangat hebat, maka sekali menggembor suaranya se-akan2 menggetar lembah gunung.

Kedua imam itu rada terkejut mendengar suara ini, tetapi bukannya berhenti, sebaliknya mereka berlari lebih cepat.

“Eh, apa kedua orang ini tuIi?” demikian pikir Kwe Ceng.

Sekali dia tutul kakinya, tiba2 ia melayang ke depan, hanya beberapa kali naik-turun saja tahu2 ia sudah mendahului di depan kedua imam itu.

“Baik2kah kedua To-heng,” Kwe Ceng menyapa sambil bersoja (memberi hormat dengan mengepal kedua tangan) dan membungkuk pula.

Nampak gerak tubuh yang begini cepat, kedua imam itu kaget. Ketika melihat Kwe Ceng membungkuk memberi hormat, mereka mengira orang akan menyerang dengan tenaga dalam, maka dengan cepat pula mereka berkelit ke kanan dan kiri.

“Apa kau lakukan?!” demikian mereka membentak berbareng.

“Apa kalian adalah To-heng dari Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san?” tanya Kwe Ceng.

“Kalau ya mau apa?” sahut salah satu imam itu dengan menarik muka.

“Cayhe (aku yang rendah) adalah kenalan lama Tiang-jun-cinjin Khu-totiang, dan maksud kedatanganku justru ingin ke atas gunung buat menemuinya, maka diharap Toheng suka menunjukkan jalannya,” kata Kwe Ceng pula.

“Kalau kau berani pergi sana sendiri! Hayo menyingkir!” sahut imam satunya yang pendek gemuk. Habis ini mendadak sebelah tangannya menyapu dari samping.

Serangan ini luar biasa cepatnya dan terpaksa Kwe Ceng harus berkelit ke kanan. Di luar dugaan, imam satunya yang kurus itu segera menyerang pula, berbareng ia memukul dari sebelah kanan. Dengan demikian Kwe Ceng jadi tergencet di tengah.

Kedua serangan yang dilontarkan ini disebut ‘Tay-kwan-bun-sik’ atau gerakan menutup pintu, yaitu tipu serangan yang lihay dari Coan-cin-pay, dengan sendirinya Kwe Ceng bisa mengetahuinya, cuma yang dia tidak mengerti ialah mengapa kedua imam ini mendadak menyerangnya dengan tipu yang mematikan, inilah yang bikin dia bingung.

Sebab itu dia tidak patahkan serangan mereka, juga tidak menghindar, maka terdengarlah suara “plak-plok” yang keras, kedua telapak tangan imam itu kena menghantam di bawah bahunya, tetapi rasanya seperti kena menghantam karung kosong saja.

Dengan menerima gebukan ini, segera Kwe Ceng dapat mengukur tinggi rendahnya ilmu silat lawan. Ia pikir kalau bicara tentang kepandaian, kedua imam ini memang betul adalah anak murid Coan-cin-chit-cu dan masih terhitung seangkatan dengan dirinya pula.

Tadi dia sudah mengumpulkan tenaga untuk menahan pukulan kedua orang itu. Dia bisa menggunakan tenaga dalamnya dengan tepat sekali, dia bikin diri sendiri sedikit pun tidak terluka juga tidak sakit, sebaliknya dia pentalkan kembali tenaga pukulan lawan sehingga tangan kedua imam itu terasa sakit dan bengkak.

Keruan kedua imam itu terkejut tidak kepalang, sebab dengan keuletan silat mereka yang sudah dilatihnya lebih dua puluh tahun, ternyata pukulan mereka tadi hanya seperti kena di tempat kosong saja. Maka mereka tidak berani ayal lagi, sekali teriak mereka langsung menerjang bersama, dua pasang kaki mereka segera menyambar mengarah dada Kwe Ceng.

Pembawaan Kwe Ceng memang sabar dan peramah, tidak gampang dia naik darah atau menjadi gusar. Melihat kedua imam ini seruduk sini dan terjang sana tanpa sebab, diam2 ia menjadi heran, “Coan-cin-chit-cu semuanya adalah imam berilmu, mengapa anak murid mereka bisa bersikap kasar?” demikian ia membatin.

Dalam pada itu tendangan orang secara berantai dengan lihay sudah dekat tubuhnya, tapi Kwe Ceng masih tetap tidak bergerak seperti tak menggubris, Maka terdengarlah segera “plak-plok, plak-plok” berulang sampai belasan kali, di dadanya bertambah debu kotoran bekas kaki.

Kalau Kwe Ceng tetap anggap sepi saja, sebaliknya kedua imam itu entah berlipat berapa kali ngerinya dari pada tadi demi melihat tendangan mereka tidak membuat orang goyah sedikit pun, bahkan tendangan mereka sama saja seperti mengenai karung pasir.

“Orang ini sebenarnya manusia atau setan? Meski tingkatan guru dan paman2 guru kami pun tidak mempunyai kepandaian setinggi ini?” demikian mereka berpikir dengan jeri.

Waktu mereka meng-amat2i orang, terlihat Kwe Ceng yang bermata besar, alisnya tebal, mukanya kotor penuh debu, pakaiannya terbikin dari kain kasar, serupa saja seperti orang udik, sedikit pun tidiik nampak sifat2 istimewa, keruan mereka menjadi kesima tanpa bisa bersuara.

Di lain pihak, Yo Ko yang menyaksikan pamannya digebuk dan ditendang kedua imam itu, sedangkan Kwe Ceng sama sekali tidak membalas, diam2 ia menjadi gusar.

“Hai, kalian imam busuk ini kenapa memukuli pamanku?” segera ia membentak.

“Ko-ji, tutup mulut,” cepat Kwe Ceng mencegah anak ini mencaci maki lebih ianjut, “Lekas kemari dan memberi hormat kepada Totiang ini.”

Mendengar kata2 Kwe Ceng ini, Yo Ko tercengang dan penasaran. “Kwe-pepek sungguh aneh, masa takut pada mereka?” pikirnya.

Dalam pada itu kedua imam tadi agaknya belum kapok. Sesudah saling pandang sekejap, mendadak mereka lolos pedang, dengan cepat mereka menyerang, imam yang pendek menusuk ke bagian bawah Kwe Ceng dengan tipu ‘tam-hai-to-liong’ atau menjelajahi laut membunuh naga, sedang imam yang kurus membacok kaki Yo Ko dengan gerakan ‘King-hong-sau-yap’ atau angin lesus menyapu daun.

Sebenarnya Kwe Ceng masih pandang enteng serangan2 orang ini, tetapi demi melihat Yo Ko yang tidak berdosa ikut diserang juga dengan tipu yang cukup keji, mau tidak mau hatinya jadi dongkol juga, “Anak ini toh tiada permusuhan dengan kalian, mengapa harus diserang dengan tipu yang ganas ini? Dengan bacokanmu ini apa kakinya takkan menjadi buntung?” demikian ia pikir dengan gemas.

Karena itu segera ia tolong dulu Yo Ko yang terancam itu. Ia mengegos tubuh sedikit ke samping, berbareng ini dengan gerak tipu ‘sun-cui-tui-du’ atau menurut arus air menyurung perahu, dengan tangan kiri ia tempel batang pedang imam pendek yang menyerangnya tadi, lalu dengan perlahan ia dorong ke kiri. Dengan demikian imam pendek itu tak mampu memegang kencang senjatanya sehingga memutar balik, pedang yang membalik ini saling beradu dengan pedang kawannya sendiri, si-imam kurus, maka terdengarlah suara “trang” yang nyaring. Dengan demikian tanpa ditangkis pun tipu serangan imam kurus itu sudah kena digagalkan temannya sendiri.

Tentu saja kedua imam itu merasakan tangan mereka kaku kesemutan. Kembali mereka memandang Kwe Ceng dengan mata melotot, dalam hati mereka lagi-lagi tidak kepalang terkejutnya, tetapi juga kagum atas kepandaian orang yang tinggi itu. Meski demikian, toh mereka masih penasaran, dengan berteriak kembali mereka merangsak maju.

Melihat gerak serangan orang, diam2 Kwe Ceng berpikir: “Kepandaian kalian ini sungguh pun terhitung Kiam-hoat yang hebat tetapi kalian hanya berdua, lagi pula latihanmu belum matang, apa gunanya kalian pamer di hadapanku?”

Tapi karena kuatir Yo Ko akan keserempet senjata mereka, maka sambil menghindarkan sabetan pedang lawan, segera pula ia menyambar tubuh Yo Ko.

“Cayhe adalah kenalan lama Khu-cinjIn, hendaklah kalian jangan bergurau lagi,” seru Kwe Ceng.

Akan tetapi kedua imam itu ternyata tidak kenal aturan.

“Kau bilang kenal Ma-cinjin juga percuma,” kata imam yang kurus.

“Ya, memang Ma-cinjin pernah juga mengajarkan kepandaian kepada Cayhe,” sahut Kwe Ceng.

Imam yang kate tadi wataknya paling berangasan. Segera ia mendamperat lagi.

“Bangsat, jangan kau asal ngoceh, jangan2 nanti kau bilang Tiong-yang Cosu kami juga pernah ajarkan kepandaian padamu?” teriaknya murka, Menyusul ini, dengan sekali tusuk, ujung pedangnya mengarah dada Kwe Ceng puIa.

Kwe Ceng yang berpikiran sederhana jadi tidak habis mengerti. Sudah terang kedua imam ini adalah anak murid Coan-cin-kau, tetapi mengapa dia dianggap sebagai musuh besar saja?

Tetapi karena Kwe Ceng memang berbudi luhur, lagi pula ia pikir Yo Ko bakal belajar silat di Tiong-yang-kiong, maka sedapat mungkin jangan sampai menyakiti hati imam2 itu, oleh karenanya terus menerus dia hanya berkelit saja atas serangan lawan dan tidak pernah balas menyerang.

Oleh karena tipu serangan mereka tetap tidak mampu mengenai sasarannya, akhirnya kedua imam tadi menjadi kewalahan sendiri. Mereka menjadi gelisah, mereka insaf ilmu silat Kwe Ceng jauh di atas mereka, kalau hendak melukainya jelas tidak gampang, maka mereka lantas ganti siasat, tiba2 mereka ubah Kiam-hoat yang dimainkan tadi, be-runtun2 beberapa kali sasaran tusukan mereka dialihkan kepada diri Yo Ko.

Melihat kekurang-ajaran orang, sungguh pun Kwe Ceng orang sabar, akhirnya rada naik darah juga.

Sementara itu dia melihat imam yang kate sedang menusuk dengan gerakan yang cukup ganas, mendadak Kwe Ceng ulur tangan kanannya, dengan dua jarinya menjepit senjata orang, habis ini dia sodok batang hidung lawan dengan sikutnya.

Ketika senjata dijepit jari orang, imam pendek itu menarik2 sekuatnya, tapi tidak berhasil, sebaliknya tahu2 sikut orang sudah menyodok tiba. Ia insaf kalau sampai mukanya dicium sikut orang, kalau tidak mampus sedikitnya akan luka parah juga, oleh karena itu terpaksa ia lepaskan senjatanya dan melompat mundur.

Kepandaian Kwe Ceng pada waktu ini boleh dikatakan sudah di taraf yang tiada taranya. Ia bisa berbuat apa maunya, setiap kali tangannya bergerak atau kakinya melayang tentu kena sasaran dengan tepat dan hebat, maka ketika dengan perlahan ia menyentil dengan kedua jarinya, dengan mengeluarkan suara “creng” yang nyaring, tiba2 pedang yang dia rampas tadi menegak dan mental ke atas.

Dalam pada itu imam yang kurus sedang mengayunkan pedangnya menusuk ke leher Yo Ko, karena itu ujung pedangnya sudah kena ditumbuk oleh pedang yang disentil oleh Kwe Ceng ini, demikian keras benturan itu hingga si imam kurus merasakan tangannya panas pedas, tubuhnya pun ikut tergetar, maka dia pun terpaksa melepaskan senjatanya terus melompat mundur.

“Maling cabul ini memang sangat lihay, lekas lari!” seru kedua imam itu berbareng.

Baru kini mereka merasa kapok, segera mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu.

Mendengar cacian orang, semula Kwe Ceng tertegun sejenak, namun segera dia menjadi gusar. Selama hidupnya memang sering ia dimaki orang seperti ‘tolol’, ‘goblok’, ‘bangsat’, ‘jahanam’, dan macam2 lagi, tetapi kata2 ‘maling cabul’ selamanya belum pernah orang memaki padanya.

Dalam marahnya, ia pun tidak turunkan Yo Ko lagi, sambil menggendong anak ini segera ia mengudak dengan langkah cepat.

Sesudah menyusul sampai di belakang kedua imam itu, begitu kakinya menutul, segera tubuhnya melayang lewat di atas kepala kedua To-su atau imam itu dan dalam keadaan masih terapung di udara segera ia membentak: “He, tadi kalian memaki apa padaku?!”

Kedua imam itu terperanjat luar biasa. Begitu melihat kelihayan orang, walau pun dalam hati imam pendek itu merasa jeri, namun mulutnya ternyata belum mau kalah, dia masih berani balas membentak.

“Bukankah kau ingin memiliki itu perempuan hina she Liong? Lalu untuk apa kau datang ke Ciong-lam-san?” demikian damperatnya.

Meski keras di mulut, tapi kuatir kalau Kwe Ceng menghajarnya, maka tanpa terasa dia malah mundur ke belakang.

Mendengar damperatan orang yang tak keruan juntrungnya ini, seketika Kwe Ceng hanya melongo, “Aku ingin memiliki perempuan hina she Liong? Siapakah perempuan she Liong itu? Kenapa aku ingin memiliki dia?” demikian serentetan pertanyaan timbul dalam hatinya hingga dia bingung sendiri.

Melihat orang ter-mangu2 seperti orang linglung, kedua imam itu pikir kesempatan bagus janganlah disia-siakan. Maka, sesudah saling memberi tanda, segera mereka menyerobot lewat di samping Kwe Ceng dengan langkah cepat terus lari pula ke atas gunung.

Melihat Kwe Ceng masih ter-mangu2, Yo Ko lantas meronta turun dengan perlahan dari gendongannya.

“Kwe-pepek, kedua imam busuk itu sudah lari,” kata Yo Ko.

Karena itu Kwe Ceng mengiakan sekali seperti orang baru sadar dari mimpi.

“Tadi mereka bilang aku ingin memiliki itu perempuan she Liong, siapakah dia itu?” kata Kwe Ceng kemudian dengan masih bingung.

“Tit-ji pun tidak tahu,” sahut Yo Ko. “Tetapi melihat kedua imam itu tanpa membedakan merah atau putih lantas menyerang kita, agaknya mereka telah salah wesel.”

“Ya, ya, tentu begitu,” ujar Kwe Ceng dengan ketawa geli sendiri, “Kenapa aku tidak pikir sampai disitu, Marilah kita naik ke atas gunung!”

Waktu Yo Ko mengambil kedua pedang yang ditinggalkan kedua imam tadi, Kwe Ceng melihat pada batang pedang masing2 terukir tiga huruf kecil ‘TIONG JANG KIONG’.

Mereka lantas mendaki ke atas gunung. Setelah lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di puncak ‘Bo-cu-giam’ atau puncak ibu gendong anak. Sesuai dengan namanya, puncak ini menonjol seperti seorang wanita yang sedang membopong seorang anak.

Di puncak ini mereka duduk mengaso.

“Apa kau letih, Ko-ji?” tanya Kwe Ceng.

Yo Ko tersenyum. “Tidak,” sahutnya kemudian dengan geleng kepala.

“Baiklah kalau begitu, mari kita naik ke atas lagi,” kata Kwe Ceng.

Maka mereka lantas melanjutkan lagi perjalanan. Tidak antara lama, tampak oleh mereka di depan terdapat sebuah batu cadas yang sangat besar dengan corak yang seram, batu cadas raksasa ini setengah menggelantung di udara bagai seorang nenek yang sedang membungkuk melongok ke bawah.

Saking seramnya hati Yo Ko terasa agak takut.

Dalam pada itu, tiba2 terdengar beberapa kali suitan kecil, lalu dari belakang batu besar itu melompat keluar empat Tosu atau imam, di tangan mereka masing2 terhunus pedang dan menghadang di tengah jalan, tetapi semuanya bungkam saja.

“Cayhe adalah Kwe Ceng dari Tho-hoa-to dan ingin naik ke atas gunung untuk menjumpai Khu-cin-jin,” demikian kata Kwe Ceng sambil maju memberi hormat.

Untuk sementara tiada satu pun dari empat imam itu yang menjawab. Kemudian satu di antaranya yang berperawakan jangkung lantas melangkah maju.

“Hmm, Kwe-tayhiap namanya dikenal di seluruh jagat, dia adalah menantu Oey-locianpwe dari Tho-hoa-to, mana bisa dia begini tak kenal malu seperti kau ini, lekaslah kau enyah turun gunung saja.” demikian kata imam itu dengan tertawa dingin.

“Aneh, dalam hal apakah aku tidak kenal malu?” demikian Kwe Ceng membatin. Namun dia coba sabarkan diri, lantas berkata lagi: “Cayhe betul2 Kwe Ceng adanya, harap kalian memberi jalan, soal ini tentu akan menjadi jelas kalau sudah berhadapan dengan Khu-cin-jin.”

Namun imam jangkung ini masih tidak mau mengerti, bahkan ia membentak.

“Hmm, kau berani main gila dan pamer kepandaian ke Cong-lam-san sini, mungkin kau sudah bosan hidup,” damperatnya. “Hm, kalau kau tidak diberi sedikit rasa, mungkin kau menyangka semua imam yang tinggal di Tiong-yang-kiong adalah manusia2 tak berguna semua.”

Ia mendamperat orang dengan kata2 yang juga menyindir kedua imam pendek dan kurus tadi. Sesudah berkata, segera ia melangkah maju, pedangnya bergerak dengan tipu hun-hoa-hud-liu atau memetik bunga mengebut pohon Liu, tiba2 ia tusuk pinggang Kwe Ceng.

Melihat orang tanpa sebab dan tanpa alasan terus menyerang, diam2 Kwe Ceng merasa aneh.

“Sudah belasan tahun aku tidak berkecimpung di kalangan Kangouw, semua peraturan rupanya sudah berubah?” demikian ia heran. Berbareng pula ia menghindar tusukan tadi, ia pikir berkelit saja dahulu untuk kemudian ajak orang bicara secara baik2.

Di luar dugaan, ketiga imam lainnya segera mengerubut maju juga, mereka kepung Kwe Ceng dan Yo Ko di tengah2.

“Apakah yang Si-wi (tuan berempat) inginkan? Cara bagaimana baru mau percaya bahwa Cayhe betul2 adalah Kwe Ceng?” seru Kwe Ceng sebelum balas serangan orang.

“Kecuali kalau kau mampu merebut pedang di tanganku ini!” bentak imam jangkung tadi. Sambil berkata, kembali dia menusuk pula, sekali ini dia mengarah dada Kwe Ceng, cara menyerangnya seenaknya saja se-akan2 tidak pandang sebelah mata pada lawannya.

Tentu saja akhirnya Kwe Ceng marah juga, “Untuk merebut pedangmu, apa susahnya?” demikian ia pikir.

Dalam pada itu pedang orang telah menusuk sampai di depan dadanya, cepat Kwe Ceng papaki senjata musuh dengan sekali jentikan jarinya. Sungguh hebat sekali tenaga jarinya ini, dengan mengeluarkan suara “creng” yang nyaring, tiba2 imam jangkung itu merasakan genggamannya terguncang, tahu2 pedangnya telah mencelat ke udara. Dalam kaget dan gugupnya lekas2 ia melompat keluar kalangan pertempuran.

Di lain pihak, tidak sampai menunggu pedangnya jatuh ke bawah, terdengar suara nyaring tiga kail lagi, susul menyusul Kwe Ceng telah menjentik, maka pedang ketiga Imam yang lain senasib pula dengan imam jangkung tadi, semua kena disentil terbang ke angkasa.

“Bagus!” teriak Yo Ko kegirangan oleh kepandaian sang paman ini. “Nah, sekarang kalian mau bercaya tidak?” demikian ia tegur para imam itu.

Sebenarnya setiap Kwe Ceng bergebrak dengan orang selalu memberi kelonggaran dan berlaku murah hati pada pihak lawan, tetapi kini karena marah pada imam jangkung yang menyerang dengan kiam-hoat yang sifatnya rendah, maka ia telah unjuk tenaga sentilan jari yang lihay.

Ilmu kepandaian menjentik dengan jari ini sesunguhnya adalah kepandaian tunggal yang sangat dirahasiakan oleh Oey Yok-su, ayah Oey Yong. Namun Kwe Ceng sudah tinggal beberapa tahun di Tho-hoa-to bersama bapak mertua itu, maka ia sudah mewarisi seluruh kepandaiannya, ditambah pula tenaga Kwe Ceng yang telah terlatih sedemikian tingginya, sudah tentu tenaga sentilannya tadi bukan main hebatnya.

Sebaliknya meski pedang sudah terpental dari tangan mereka, keempat imam tadi masih belum tahu pihak lawan menggunakan ilmu silat apa.....


Pilih BabPILIH JUDULBab Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner